Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sitti Rumaisyah Hannan Syafura
Abstrak :
Kopi adalah salah satu komoditas ekspor utama Indonesia, dan memiliki banyak varietas di setiap wilayah. Salah satu kopi spesial Indonesia yaitu kopi luwak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kesadaran Usaha Mikro Kecil Menengah Indonesia: Kopi Luwak Cikole. Asal-usul luwak berasal dari Indonesia, kopi yang diproduksi oleh luwak sendiri menjadi salah satu warisan kami yang perlu dilindungi. Penelitian ini juga bermaksud untuk meningkatkan kesadaran wirausaha sosial (sociopreneur) terhadap masyarakat, yang berkontribusi terhadap sosial dan melestarikan kode kesejahteraan hewan adalah inti dari bisnis ini. Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam, observasi dan kuesioner kepada pemilik, karyawan dan pelanggan Kopi Luwak Cikole untuk menyediakan data yang dibutuhkan. Untuk meningkatkan kesadaran merek dan sociopreneur, rekomendasinya adalah untuk mengembangkan program pariwisata pendidikan dan menggunakan media sosial untuk mempromosikannya, yang terbukti efektif di era digital ini. ...... Coffee is one of the main export commodities of Indonesia, and it has a lot of varieties in every region. One of Indonesia specialty coffee which is coffee luwak. The purpose of this research is to enhance the awareness of the Indonesia’s Micro Small Medium Enterprises: Kopi Luwak Cikole brand. The origins of luwak is from Indonesia, the coffee that produced by luwak itself are becoming one of our heritage which needs to be protected. This research also intends to improving social entrepreneur (sociopreneur) awareness towards society, which is contributing to social and preserving the animal welfare codes are the core of this business. This research using in-depth interview, observations and questionnaires method to the owner, employees and the customers of Kopi Luwak Cikole to provide the data that are needed. To increase the awareness of the brand and the sociopreneur, the recommendation is to develop the education tourism program and using social media for promoting it, which is proven to be effective in this digital era.
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2017
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ellyna Chairani
Abstrak :
Kopi luwak dikenal sebagai kopi spesialti Indonesia karena aromanya yang lebih harum dan rasa yang unik. Produksinya menggunakan Coffea arabica yang membutuhkan syarat tumbuh ketinggian dan iklim tropis; serta luwak (Paradoxurus hermaphroditus) yang hidup di wilayah tropis. Mayoritas lahan kopi nasional adalah perkebunan rakyat yang produktivitasnya rendah karena kopi ditanam pada kelas kesesuaian lahan yang kurang tepat. Hal ini mengakibatkan petani sulit mencapai keberlanjutan produksi. Hal lain adalah dalam pengelolaan kopi luwak selama ini lebih fokus pada pendekatan sektoral dan kurang menyeluruh dalam memadukan kesepakatan stakeholders untuk pengelolaan produksi dengan konservasi lingkungan. Tujuan umum riset adalah melakukan sintesis keberlanjutan pengelolaan kopi luwak di lanskap riset. Sedangkan tujuan khusus meliputi  analisis kesesuaian lahan untuk kopi, habitat luwak dan pengelolaan kopi luwak Arabika; serta menilai dampak aspek lingkungan, sosial dan ekonomi untuk menentukan keberlanjutan dari 6 model pengelolaan kopi luwak di 3 kabupaten (Bandung, Bandung Barat dan Bangli). Metodologi riset meliputi analisis multi-kriteria dan pemetaan tumpang susun dengan sistem informasi geografis untuk menentukan sebaran kesesuaian lahan; serta metode Life Cycle Analysis (LCA), Life Cycle Costing (LCC), Social Life Cycle Analysis (SLCA) dan Life Cycle Sustainability Assessment (LCSA) untuk menilai keberlanjutannya. Hasil riset kesesuaian lahan kopi luwak Arabika tertinggi ditemukan di Bandung (75,24%), sedangkan terkecil di Bangli (40,39%). Pada permasalahan lingkungan berdasarkan kriteria pemanasan global, pengelolaan kopi luwak melalui penangkaran memberikan dampak yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengelolaan secara liar. Aspek keekonomian produksi kopi luwak liar lebih menguntungkan dibanding dengan pengelolaan secara kandang atau tangkar. Sedangkan hasil riset aspek sosial tidak dibedakan karena semuanya memberikan kontribusi terhadap masyarakat lokal dan konsumen. Secara umum tingkat keberlanjutan model luwak liar lebih baik dibandingkan dengan model luwak yang dikandangkan. Walaupun demikian, Model Kandang Bangli-3 memiliki tingkat keberlanjutan paling tinggi diantara 6 model pengelolaan yang diriset. ......Civet Arabica coffee (kopi luwak) is an Indonesian prominent specialty coffee for its aroma and unique taste. The coffee production involves Coffea arabica that requiring growing conditions of altitude and tropical climate; and civet (Paradoxurus hermaphroditus) that lives in the tropical belts. The majority of the Country coffee plantation is owned by smallholder farmers. The issue of low productivity leads to the difficulty in achieving coffee production sustainability. Moreover, the management of civet coffee has been more focused on sectoral approach and less comprehensive in integrating stakeholder agreements on productivity and environmental conservation. The research aims to synthesis the sustainability of civet coffee management in the landscape of research. Furthermore, the objectives include analyzing land suitability of Coffea Arabica, civet habitat, and civet Arabica coffee; and to assess its impact on environment, economic, and social/community. The research employed the methods of multi-criteria analysis, and combined with weighted overlaying techniques for mapping land suitability; and Life Cycle Assessment (LCA), Life Cycle Costing (LCC), Social Life Cycle (SLCA), and Life Cycle Sustainability Assessment (SLCA) of 6 management models in 3 districts (Bandung, West Bandung and Bangli). The research results reveal that Bandung area has the highest suitability for kopi luwak Arabica (75.24%) and the smallest is in Bangli (40.39%). On the environmental impact, caged models produce higher global warming than that of wild models. The economic aspect of wild models earned bigger profit than caged system. On the social impact, the entire models positively contribute to local community and consumer. It is, however, Model of caged Bangli-3 is the most sustainable among the others.
Jakarta: Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, 2017
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library