Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 29 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Oke Ila Lia Yuliyanti
"Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian postur kerja, peralatan kerja, dan workstation yang menyebabkan pada keluhan gejala MSDs pada pekerja pengguna komputer head office PT X. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Data yang dikumpulkan dari penelitian ini berasal dari data primer hasil observasi berupa postur kerja, peralatan kerja, keluhan yang dirasakan pekerja, dan workstation. Hasil penelitian menunjukan terdapat ketidaksesuaian pada beberapa postur kerja dari pekerja saat bekerja, peralatan kerja yang digunakan, serta workstation. Hasil penilaian keluhan gejala MSDs menggunakan metode ROSA menunjukan hasil yang bervariasi, yaitu skor akhir ROSA 1-4 (tindakan perbaikan tidak diperlukan sesegera mungkin) dan 5-10 (tindakan perbaiakn diperlukan sesegera mungkin). Hasil obseravasi keluhan gejala MSDs menunjukan 92 (87%) responden merasakan keluhan pada minimal satu area tubuhnya. Area tubuh yang paling banyak dikeluhkan adalah leher bagian atas (67%), pinggang (62%), dan leher bagian bawah (53%). Disarankan untuk melakukan penyesuaian peralatan kerja dengan pekerja, melakukan peregangan di sela-sela pekerjaan, dan sosialisasi pentingnya ergonomi pada pekerja.

This study aims to analyze approprietness of work posture, work equipment, and workstation that cause the symptoms of MSDs complaints of computer users Head Office PT X. Design study is cross sectional. All of the data collected in these study are derived from primary data of observation results in the form of workm posture, work equipment, and workstation. The results study showed there were discrepancies in some of work posture while work, work equipment used, and workstation. The results of the symptoms MSDs complaints use ROSA methods showed variying results, that are the ROSA final score 1-4 (further assessment not immediately required) and 5-10 (further assessment required as soon as possible). The observation resluts of the symptoms MSDs complaints showed 92 (87%) of respondents feel there are complaints at one area of the body. Many areas of the body most complaints are upper neck (67%), lumbar (62%), and lower neck (53%). It is recommended to make adjustments of work equipment by workers, doing stretching on the side lines job, and socialization importance of ergonomics to workers."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2015
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abdul Mutholib
"Perkembangan manusia mengalami kemajuan yang sangat pesat ketika manusia sudah menemukan mesin uap. Titik tersebut merupakan titik revolusi industri bagi peradaban manusia. Revolusi industri membuat manusia semakin sering berinteraksi dengan mesin-mesin produksi untuk mempermuda dan mempercepat produksi industri. Namun dalam interaksi antara manusia, mesin dan lingkungan tempat kerja terdapat berbagai risiko yang dapat menimbulkan penyakit akibat kerja (PAK) ataupun kecelakaan bagi manusia. Salah satu penyakit akibat kerja yang kerap diderita oleh pekerja adalah penyakit yang berkaitan dengan otot serta rangka, atau lebih dikenal dengan Musculoskeletal Disorders (MSDs). Penelitian ini dilakukan pada pekerja produksi pemurnian perak PT Antam Persero Tbk UBPP Logam Mulia tahun 2014. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor risiko ergonomi dan gejala MSds yang dialami oleh pekerja di bagian produksi pemurnian perak.
Metode penelitian ini adalah semi kuantitatif dengan desain cross sectional. Responden berjumlah 14 orang pekerja produksi yang berada di lokasi pemurnian perak. Tingkat risiko ergonomi dinilai dengan menggunakan Quick expossure Checklist (QEC). Penilaian menggunakan QEC mendapatkan hasil dalam 3 kategori yaitu kategori risiko sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Nordic Body Map (NBM) digunakan untuk mengetahui keluhan MSDs yang dirasakan pekerja dan didapatkan hasil 100% pekerja mengeluhkan mengalami gejala MSDs.

Human development is progressing very rapidly when humans have invented the steam engine. The point is the point of the industrial revolution for human civilization. The industrial revolution made people increasingly often interact with machines to rejuvenate and accelerate the production of industrial production. However, the interaction between human, machine and environment workplace there are various risks that may cause accidents or occupational diseases to humans. One of the occupational diseases that often suffered by workers is a disease associated with muscle and frame, or better known as Musculoskeletal Disorders (MSDs). This research was carried out on the production worker refining silver PT Antam Tbk UBPP Precious Metals Limited 2014. Study aimed to look at the ergonomic risk factors and symptoms of MSDs experienced by workers in the production of silver refining.
This research method is semi-quantitative cross-sectional design. Respondents amounted to 14 production workers at the scene refining silver. Ergonomic risk level assessed using expossure Quick Checklist (QEC). Assessment using the QEC get results in 3 risk categories, medium, high, and very high. Nordic Body Map (NBM) is used to determine the perceived grievances of workers and MSDs showed 100% of workers complained of experiencing symptoms of MSDs.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
S55980
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ita Kurniawati
"Sistem kerja di industri tekstil memiliki risiko terjadinya gangguan muskuloskeletal. Penelitian bertujuan untuk melihat gambaran faktor risiko ergonomi dan keluhan subjektif MSDs pada pekerja pabrik proses finishing di Departemen PPC PT SCTI Ciracas Jakarta Timur tahun 2009. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Sampel dalam penelitian berjumlah 21 orang (10 orang inspeksi kain, 6 orang pembungkusan, dan 5 orang pengepakan). Penilaian tingkat risiko ergonomi digunakan metode REBA, sedangkan gambaran keluhan MSDs digunakan kuesioner nordic body map. Hasilnya adalah tingkat risiko ergonomi tertinggi pada proses pengepakan. Bagian tubuh yang memiliki risiko MSDs terbesar adalah punggung pada proses pengepakan, lengan atas kiri pada proses pemeriksaan kain, serta lengan atas dan punggung pada proses pembungkusan. Seluruh responden (100%) mengalami keluhan gejala MSDs di hampir semua bagian tubuh. Bagian tubuh yang paling banyak dikeluhkan adalah punggung, lengan atas, lengan bawah, pinggang dan kaki. Untuk meminimalkan risiko MSDs, pekerja harus memperbaiki metode kerja, peralatan dan desain tempat kerja.

Textile industry's work systems has musculoskeletal disorders? risk factors. The objectives of this research are to describe ergonomic risk factors and subjective complaints of MSDs among factory workers at PPC Department PT SCTI, Ciracas, East Jakarta at 2009. This research used cross sectional design study. Total sample in this research is 21 workers consist of 10 workers in material inspection, 6 workers in material covering, and 5 workers in packing . REBA assessment method is used to assess ergonomic risk level and nordic body map questionnaire is used to get description of MSDs? subjective complaints among workers.. Activity which has the highest ergonomic risk level is packing process. The parts of body which have the major MSDs risk are in back area at packing process, left upper arm area at material inspection process, back and upper arm area at material covering process. All respondent (100%) have MSDs subjective complaints in almost all their body. The most parts of body which have MSDs complaints among workers are in back, upper arm, lower arm, wrist and leg area. To reduce MSDs risk, workers should change their work methods, equipment and workstation."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2009
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Fadilah Dewi
"Penelitian terhadap gambaran risiko ergonomi di Rumah Sakit Tria Dipa lebih difokuskan pada Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan melakukan pengamatan lapangan secara langsung dan melakukan pengukuran risiko ergonomi untuk mengetahui tingkat risiko atau seberapa besarkah risiko MSDs pada perawat IGD. MSDs terjadi karena akumulasi cidera atau kerusakan kecil pada sistem musculoskeletal akibat trauma berulang sehingga membentuk kerusakan yang dapat menimbulkan rasa sakit. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengukuran risiko terjadinya MSDs dengan menggunakan metode OWAS (Ovako Working Postur Analysis System).
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pekerjaan perawat pada shift pagi dan sore mempunyai risiko terjadinya MSDs. Pekerjaan yang dilakukan perawat yang mendominasi adanya postur janggal dengan frekuensi yang berulang-ulang dan durasi yang lama pada setiap shift adalah pada aktifitas menjahit luka, ganti perban, memasang infus, mendorong pasien, EKG dan memberikan nebulizer. Tingkat risiko ergonomi tertinggi adalah ketika perawat sedang menjahit luka. Hal yang paling mendasar adalah bahwa perawat bekerja dengan postur janggal karena kurangnya pengetahuan dan ketrampilan tentang ergonomi dan tingginya beban kerja perawat di IGD. Sehingga rumah sakit perlu melakukan evaluasi terhadap perawat dengan memonitor sistem kerja dan beban kerja yang dapat mengakibatkan risiko MSDs serta membuat dan melaksanakan program pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang ergonomi bagi perawat."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hanna Dwi Chrismastuty
"Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan terhadap pekerja kusen di UD X Tangerang Selatan untuk mengetahui tingkat risiko ergonomi pada pekerja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penulisan cross sectional yang bersifat deskriptif analitik. Penulis melakukan observasi dan analisis risiko MSDs menggunakan metode REBA. Hasilnya, tahapan aktivitas pekerjaan pembuatan kusen, daun pintu dan daun jendela di UD X Tangerang Selatan memiliki tingkat risiko MSDs sedang sampai tinggi sehingga harus segera dilakukan tindakan perbaikan. Hal ini terjadi karena kombinasi beberapa faktor yang ada dalam pekerjaanya, yaitu postur janggal, frekuensi, durasi, dan beban kerja.

This research is conducted on the sills workers in UD X South Tangerang to determine the ergonomic risk level on the workers. This research is a quantitative research with a cross sectional descriptive analytical design. Authors conducted observations and MSDs risk analysis using REBA method. The result, the sills, doors, and shutters making activity stages in UD X South Tangerang have a level of moderate to high risk of MSDs so the corrective action must be done immediately. This happens because there is a combination of several factors at work, which is awkward postures, frequency, duration, and workload."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kartika Dani Lestari
"Gangguan otot rangka akibat kerja (gotrak) menjadi salah satu masalah kesehatan serius di berbagai industri yang diderita oleh pekerja. Walau tidak fatal gotrak cenderung mengurangi efisiensi kerja dan kualitas hidup. Keluhan gotrak yang dialami pekerja railway maintenance umumnya dirasakan pada bagian leher, punggung dan lutut, dimana keluhan tersebut disebabkan oleh postur janggal, bekerja di tempat yang sempit, berat beban dll. Pekerjaan railway maintenance memiliki faktor risiko yang dapat berpengaruh terhadap keluhan gotrak yaitu faktor risiko individu, fisik, psikososial, lingkungan dan organisasi. PT X merupakan BUMD di bidang perkeretaapian yang diantaranya mencakup pekerjaan railway maintenance. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko dari pekerjaan railway maintenance yang berpengaruh terhadap keluhan gotrak pekerja. Penelitian ini berjenis kuantitatif menggunakan desain cross sectional. Jumlah sampel menggunakan total populasi pada pekerja railway maintenance khususnya pada departemen yang menangani rolling stock maintenance (Departemen RSM dan Departemen RSIT) berjumlah 109. Departemen RSM mencakup light maintenance, sedangkan Departemen RSIT mencakup heavy maintenance. Manajemen data menggunakan SPSS 25, analisa data mengunakan analisa deskriptif, bivariat (uji chi square dan uji regresi logistik sederhana) dan multivariat menggunakan metode enter (uji regresi logistik ganda). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitas dan lembar Rapid Entire Body Assesment (REBA). Hasil menunjukkan gambaran aktivitas pekerjaan di Departemen RSM terdiri dari pekerjaan di bagian rooftop, carbody, interior, underfloor dan di dalam kantor. Sedang pada Departemen RSIT terdiri dari pekerjaan di bagian carbody, pantograf, valve, brake, air compressor, motor traksi, bogie, elektrikal, AC, dan didalam kantor. Keluhan gotrak dirasakan oleh 62 pekerja railway maintenance di PT X (63.9%), dimana keluhan yang paling banyak dirasakan pada bagian leher, punggung bawah, kedua bahu, pergelangan tangan kanan dan punggung atas. Tingkat risiko ergonomi dari pekerjaan railway maintenance pada 2 departemen tersebut bervariasi mulai dari diabaikan hingga sangat tinggi, dimana penyumbang skor disebabkan oleh adanya postur janggal pada bagian leher, punggung, lengan atas, kedua kaki, dan berat objek. Faktor risiko yang berpengaruh terhadap keluhan gotrak yaitu dukungan sosial (OR 3.39, 95% CI 1,29-8.88). Intervensi yang dilakukan untuk mengurangi tingkat risiko ergonomi dari pekerjaan tersebut menggunakan hierarki pengendalian, sedangkan untuk mencegah keluhan gotrak yang berasal dari faktor risiko psikososial Upaya berfokus pada pengurangan tenaga manusia saat bekerja, peningkatan reward, peningkatan kepuasan kerja dan pengelolaan distres di tempat kerja.

Musculoskeletal Disorders (MSDs) are one of the serious health problems in various industries suffered by workers. Although not fatal, MSDs tends to reduce work efficiency and quality of life. Complaints experienced by railway maintenance workers are generally felt in the neck, back and knees, where the complaints are caused by awkward posture, working in narrow places, heavy loads etc. Railway maintenance work has risk factors that can affect MSDs complaints, namely individual, physical, psychosocial, environmental and organizational risk factors. PT X is a BUMD in the field of railway which includes railway maintenance work. This study aims to determine the risk factors of railway maintenance work that affect MSDs workers complaints. This study was quantitative using a cross sectional design. The number of samples using the total population of railway maintenance workers, especially in departments that handle rolling stock maintenance (RSM Department and RSIT Department) amounted to 109. The RSM Department covers light maintenance, while the RSIT Department covers heavy maintenance. Data management using SPSS 25, data analysis using descriptive analysis, bivariate (chi square test and simple logistic regression test) and multivariate using enter method (multiple logistic regression test). The instruments used in this study were questionnaire sheets that had been tested for validity and reliability and Rapid Entire Body Assessment (REBA) sheets. The results show a picture of work activities in the RSM Department consisting of work on the rooftop, carbody, interior, underfloor and inside the office. While in the RSIT Department consists of work in the carbody, pantograph, valve, brake, air compressor, traction motor, bogie, electrical, air conditioning, and in the office. MSDs complaints were felt by 62 railway maintenance workers at PT X (63.9%), where the most complaints were felt in the neck, lower back, both shoulders, right wrist and upper back. The level of ergonomic risk of railway maintenance work in the 2 departments varies from negligible to very high, where the contributor to the score is caused by awkward posture on the neck, back, upper arms, both legs, and the weight of the object. Risk factors that influence gotrak complaints are social support (OR 3.39, 95% CI 1.29-8.88). Interventions carried out to reduce the level of ergonomic risk of the work use a hierarchy of control, while to prevent complaints of fatigue derived from psychosocial risk factors Efforts focus on reducing human labor while working, increasing rewards, increasing job satisfaction and managing stress at work."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Endah Budi Astuti
"Salah satu usaha sektor informal yang berpotensi terhadap musculoskeletal disorders (MSDs) adalah usaha jahitan karena karakteristik pekerjaannya mengandung faktor risiko MSDs. Penelitian ini bertujuan untuk melihat factor risiko MSDs pada tubuh bagian atas dan gejala MSDs yang dialami pekerja di Butik LaMode, Depok Lama. Metode penelitian ini adalah semi kuantitatif dengan desain cross sectional yang melibatkan semua pekerja sebanyak 22 responden. Penilaian dilakukan dengan RULA untuk melihat faktor risiko pekerjaan dan kuesioner NMQ untuk melihat keluhan MSDs.
Hasil penilaian berdasarkan RULA menunjukkan bahwa postur leher, punggung, lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan berisiko menimbulkan MSDs. Posisi statis dalam durasi yang lama berisiko terhadap MSDs pada punggung dan leher, sedangkan gerakan repetitif berisiko terhadap MSDs pada tangan dan pergelangan tangan. Beban tidak berisiko menimbulkan MSDs. Secara umum diperlukan investigasi dan perubahan secepatnya pada kegiatan di butik LaMode. Berdasarkan kuesioner NMQ 86,36% responden mempunyai keluhan MSDs. Keluhan pada tubuh bagian atas yang paling banyak dialami (≥ 50% responden) terjadi pada leher, punggung, pinggang, bahu, dan lengan atas dengan tingkat keparahan sedang yang terjadi kadang-kadang ketika bekerja ataupun setelah beristirahat.

One of informal sector that potentially to Musculoskeletal Disorders (MSDs) is boutique sector, because characteristic of this work contain of MSDs risk factors. The purpose of this study is to observe upper extremity work risk factors and MSDs symptoms complaint among LaMode boutique workers in Depok Lama. Cross sectional study by semi qualitative method was conducted in this study and involved 22 respondents or whole workers. RULA method was using to observe work risk factors and Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ) was using to observe MSDs symptoms complaint.
RULA scores indicate neck, back, upper arms, lower arms and wrists postures are potentially bring on MSDs. Static position on long duration is potentially bring on MSDs for neck and back, whereas repetitive motion is potentially bring on MSDs for arms and wrists. Force is not potentially bring on MSDs. Generally, activities in LaMode boutique need further investigation and change soon. 86,36% respondents have MSDs complaint based on NMQ result. The most upper extremity complaints (≥ 50 respondent) had been around on neck, back, waist, shoulders, and upper arms in moderate level that emerge sometimes when working or after the rest.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2009
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Karuniasih
"Keluhan MSDs pada pengemudi kendaraan, pada intinya disebabkan oleh mengendarai mobil dalam waktu yang lama dengan postur yang statis. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor risiko dan keluhan subjektif terhadap timbulnya MSDs pada pengemudi, serta menilai gambaran tingkat risiko ergonomi dengan menggunakan metode REBA. Penelitian ini bersifat kuantitatif observasional dan menggunakan desain penelitian cross sectional. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa 90,4% responden, yaitu 45 dari 52 responden, pernah mengalami keluhan MSDs. Berdasarkan faktor risiko MSDs yang diteliti, didapat bahwa keluhan MSDs banyak dirasakan oleh kelompok responden dengan umur 30-50 tahun, masa kerja 1-2 tahun, pengalaman mengemudi 5-10 tahun, tinggi badan 160-170 cm, IMT >25, tidak memiliki kebiasaan merokok, tidak memiliki kebiasaan olah raga, durasi mengemudi >8 jam, pola kerja 2:1 dan 2:2, dan melakukan aktivitas manual handling dengan beban 1-5 kg. Keluhan MSDs yang banyak dirasakan responden adalah rasa pegal pada bagian punggung bawah dan leher. Hasil tertinggi penilaian REBA yang didapat pada aktivitas mengemudi adalah 4, yang artinya berisiko sedang, yaitu pada aktivitas memutar kemudi dan pada postur dominan mengemudi. Untuk mengurangi keluhan MSDs akibat mengemudi, pengemudi hendaknya memperhatikan postur dalam mengemudi dan melakukan peregangan otot setelah mengemudi.

Driving activity can cause MSDs. It is likely emerged by long hours driving and staying on static posture. The aims of this research are to describe the risk factors and the subjective complaints of MSDs among drivers. This research also assesses level of ergonomic risk by REBA method. This is a quantitative method with a cross sectional research design. The result of this research shows that 90,4% respondents (45 of 52 respondents) have subjective MSDs complaints. Based on risk factors of MSDs in this research, most respondents who have subjective MSDs complaints are respondents in group of: age 30-50, work-period 1-2 years, work-experince 5-10 years, height 160-170 cm, BMI >25, no smoking habits, no exercise habit, driving duration >8 hours, work-shift 2:1 and 2:2, and manual handling activity with 1-5 kilograms load. Most respondents complaints stiffness on their lower back and neck. Driving activities assessment by REBA method in this research shows score 4 as the highest, they are while turning the wheel steering activity and dominan driving posture activity. This score means medium level of risk. To reduce the MSDs complaints, driver should pay attention on their posture driving and do some stretching after driving."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2009
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Tambun, Madschen Sia Mei Ol Siska Selvija
"Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui risiko ergonomi pekerjaan tenun ulos yang dilakukan dan hubungannya dengan keluhan MSDs pada pekerjaan tenun ulos di Kelurahan Martimbang dan Kelurahan Kebun Sayur Kota Pematang Siantar. Penelitian ini merupakan penelitian observasional. Penelitian ini dilakukan pada 42 orang pekerja tenun ulos. Tingkat risiko ergonomi per bagian tubuh terkait postur, beban, durasi dan frekuensi menggunakan REBA serta tingkat keluhan MSDs per bagian tubuh yang dirasakan oleh pekerja menggunakan kuesioner Nordic Body Map.
Hasil analisis risiko ergonomi dengan metode REBA terhadap tahapan pekerjaan tenun ulos memiliki tingkat risiko ergonomi paling tinggi pada tahap menarik kayu. Hasil kuesioner Nordic Body Map, paling banyak merasakan keluhan MSDs pada pinggang belakang (79%), bahu kanan (71%), bahu kiri (62%), pantat (62%), lengan atas kanan (50%) dan betis kanan (50%). Distribusi keluhan MSDs berdasarkan umur paling banyak pada pekerja umur 30 s/d 45 tahun, berdasarkan jenis kelamin paling banyak pada perempuan, berdasarkan masa kerja paling banyak pada pekerja dengan masa kerja lebih dari 10 tahun dan berdasarkan kebiasaan olah raga paling banyak pada pekerja yang tidak terbiasa berolah raga.

The pupose of this study was to determine the risk of weaver ulos who carried out the work ergonomics and its relationship with symptons of MSDs in Martimbang and Kebusn Sayur Village Pematang Siantar City. This was an observational study. The population amounting to 42 people. The level of ergonomics risk related to the body posture, weight, duration and frequency using REBA tool, and the level of MSDs complaints that is felt by workers per part of the body using Nordic Body Map questionnaire.
Ergonomics risk analysis results using the method of REBA according to the stages of weaving ulos that pull timber is the highest one. Nordic Body Map Questionnaire results about MSDs complaints were many who complained on the waist (79%), right shoulder (71%), left shoulder (62%), bottom (62%), right upper arm (50%) and right calf (50%). Distribution of MSDs based on age mostly occur on workers aged 30 until 45 years, based on sex mostly occur on female workers, based on working experience mostly occur on workers which has been worked for more than 10 years and based on sport habit mostly occur on workers whish have no habit of working out sports.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
T31762
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Abbas Zavey Nurdin
"ABSTRAK
Latar Belakang: Prevalensi dan Insidensi kecelakaan kerja dan penyakit berhubungan pekerjaan sangat tinggi sehingga meningkatkan biaya kesehatan. Salah satu program BPJS Ketenagakerjaan adalah program kembali bekerja yang dipengaruhi oleh motivasi intrinsik pekerja. Salah satu instrumen yang dapat menilai hal tersebut adalah kuesioner Intrinsic Motivation Inventory (IMI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas kuesioner IMI untuk Indonesia
Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang yang diawali dengan translasi dan penyesuaian budaya terhadap kuesioner IMI dengan teknik translate back translate oleh penerjemah tersumpah. Pengambilan sampel secara consecutive sampling sebanyak 72 responden yang merupakan pekerja yang ingin kembali kerja. Hasil pengisian data dilakukan uji validasi dan reliabilitas dengan reliability analysis.
Hasil: Didapatkan kuesioner Intrinsic Motivation Inventory-Return to Work (IMIRTW) yang sesuai untuk Indonesia dengan 36 pernyataan yang memiliki nilai Cronbach?s alpha 0,837 serta Corrected item total correlation lebih dari 0,3. Kuesioner IMI-RTW yang valid bisa digunakan menilai motivasi intrinsik berdasarkan subskala minat atau kesenangan, kompetensi yang dirasakan, upaya atau kepentingan, tekanan, pilihan yang dirasakan, nilai dan keterkaitan.

ABSTRACT
Background: The prevalence and incidence of work accidents and work related diseases is high and its steadily increasing healthcare costs. One of BPJS?s program is return to work which will be influenced by intrinsic motivation of the worker. One of the instruments that can be used to assess it is the Intrinsic Motivation Inventory (IMI) questionnaire. The aims of this study are to determine the validity and reliability of the IMI questionnaire for Indonesia.
Methode: This study used cross sectional design and started with translation and cultural adjustment of IMI questionnaire with translate back translate technique performed by a sworn translator. Total sample selected using consecutive sampling were 72 workers who want to return to work. Result of data collection, was used to test the validity and reliability using reliability analysis.
Results: A valid Intrinsic Motivation Inventory-Return to Work (IMI-RTW) Questionnaire could be obtained for Indonesia with 36 statements that have Cronbach's alpha value 0.837 and Corrected item total correlation more than 0.3. This IMI-RTW questionnaire can be used to assess intrinsic motivation of worker based on interest and enjoyment, perceived competence, effort or importance, pressure or tension, value or usefulness and relatedness subscale.
Conclusion: Intrinsic Motivation Inventory-Return to Work (IMI-RTW) questionnaire obtained are valid and reliable for Indonesia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>