Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 15 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ibupertiwi
"Penyakit TB Paru usia 0-14 tahun di Jakarta Timur tahun 2003 merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius dengan jumlah kasus yang tertinggi di antara 5 wilayah di Propinsi DKI Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru usia 0-14 tahun.
Desain penelitian menggunakan studi kasus kontrol. Kasus adalah pasien usia 0-14 tahun yang.berkunjung ke Puskesmas dan diagnosa dokter/perawat berdasarkan gambaran Minis dan rontgen dada (+), sedangkan kontrol adalah tetangga kasus yang berusia 0-14 tahun dengan gejala batuk, tidak mempunyai gambaran Minis TB Paru serta rontgen dada (-). Kasus diambil dari data dari register TB 01 Puskesmas.. Jumlah kasus dan kontrol diambil berdasarkan proporsi penderita TB Paru di 10 Puskesmas Kecamatan Jakarta Timur dengan perincian kasus 80 dan kontrol 80.
Faktor risiko yang diteliti adalah lingkungan fisik rumah, meliputi ventilasi rumah, cahaya rumah, kelembaban rumah dan suhu rumah, sedangkan karakteristik individu meliputi umur, status BCG, gizi, kontak penderita, pengetahuan, perilaku dan penghasilan. Data dikumpulkan melalui pengukuran, observasi dan wawancara.
Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa 5 variabel faktor risiko lingkungan fisik rumah yang berhubungan dengan kejadian TB Paru usia 0-14 tahun, yaitu ventilasi rumah OR = 2,053 (95% CI:1,087-3,875), hunian rumah OR = 2,149 (95% CI:1,140-4,051), human kamar OR = 2,170 (95% CI:1,146-4,107), cahaya rumah OR = 2,542 (95% CI:1,309-4,937), kelembaban rumah OR = 3,092 (95% CI:1,465-6,525). Sedangkan 3 variabel faktor risiko karakteristik individu menunjukan hubungan bermakna dengan kejadian TB Paru usia 0-14 tahun, yaitu gizi OR = 2,371 (95% CI:1,257-4,471), kontak penderita OR = 2,931 (95% CI:1,542-5,572) dan penghasilan OR= 0,023 (95% CI: 1,179-4,885).
Selanjutnya analisis multivariat menunjukan bahwa faktor yang paling dominan adalah kontak penderita berturut-turut diikuti oleh gizi, pencahayaan rumah dan penghuni rumah.
Dari hasil penelitian ini maka disarankan penyuluhan tentang rumah sehat dan hygiene dengan melibatkan tokoh masyarakat, alim ulama serta lintas sektoral Iainnya, sehingga keluarga penderita TB Paru usia 0-14 tahun dan masyarakat dapat mencegah penularan TB Paru usia 0-14 tahun serta segera mungkin memeriksakan diri ke petugas kesehatan apabila terdapat gejala klinis TB Paru usia 0-14 tahun.

In 2003, pulmonary tuberculosis (TB) in children under 14 years old in East Jakarta was a serious health problem, marked by the high rate of cases found among five districts of DKI Jakarta province. Therefore, this study aims to determine the factors related to incidence of pulmonary TB in children under 14 years old in East Jakarta.
Design of study in control case study. Case samples are children under 14 years old diagnosed by a doctor or nurse with pulmonary TB based on clinical symptoms and positive chest X-ray scan result. The control samples are neighbors of those being the case samples who are also under 14 years old and show symptoms of coughing but do not show clinical symptoms of pulmonary TB and have a negative chest X-ray scan result. Potential case samples were identified from registration data in local public health centers in East Jakarta district.
The risk factors being studied are the physical environment of the house, such as house ventilation, the amount of light entering the house, humidity, and temperature, while the individual characteristics studied include age, BCG status, nutritional, contact with TB sufferer, knowledge, behavior, and income. Data were colleted through measurement, observation, and interview.
Bivariate analysis shows there are six variables of the physical environment of the house that are related to incidence of pulmonary TB in children under 14 years old, namely house ventilation OR = 2.053 (95% CI;1.087-3.875), density of house occupants OR = 2.149 (95% CI; 1.140-4.051), density of occupants in a room OR = 2.170 (95% CI;1.146-4107), the amount of light entering the house OR = 2.542 (95% CI;1.309-4.937), house humidity OR = 3.092 (95% CI; 1.465-6.525). As for the individual characteristics, there are three variables showing a significant relation to incidence pulmonary TB in children under 14 years old, namely nutritional OR = 2.371 (95% CI; 1.257-4.471), contact with TB sufferer OR = 2.931 (95% CI; 1.542-5.572), and income OR = 0.023 (95% CI; 1.179-4.885). The multivariate analysis shows that the most dominant factor in contact with TB sufferer, followed by nutritional status, the amount of light entering the house, and density of occupants in the house.
Several recommendations can be derived from this study in order to minimize the incidence of pulmonary TB among children. One is a need for improvement in the quality of housing. There is also a need for improvement of the people's behavior in order to minimize the spread of pulmonary TB among children under 14 years old.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2004
T13123
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sinta Hasan
"Indonesia menduduki urutan nomor tiga dunia untuk penyakit TB setelah India dan Cina, sementara untuk merokok, Indonesia menduduki urutan nomor lima dunia. Di Indonesia hampir 300 orang meninggal setiap hari akibat penyakit TB. sedangkan sekitar 141,44 juta jiwa (70% jumlah penduduk Indonesia) adalah perokok. Tujuan peneIitian irii: teridentifikasi kebiasaan merokok (lamanya merokok, jumlah konsumsi rokok, frekuensi merokok), teridentifikasi angka kejadian TB, hubungan kebiasaan merokok dengan angka kejadian TB. Desain penelitian deskriptif korelatif Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Beji dengan responden sebanyak 37 orang, dengan uji Chi square. Hasilnya tidak ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok (frekuensi merokok, lamaya merokok, jumlah rokok yang dihisap) dengan angka penyakit TB paru dengan P value 0,402. Rekomendasi penelitian ini adaIah agar dapat dilakukan penelitian Iebih dalam terkait faktor-faktor yang mempengaruhi angka kejadian penyakit TBC paru dengan memperbanyak responden.

Indonesia sit on sequence for TB number three in the world for TR desease after india and china, while for smoke, Indonesia sit on sequence number five in the world. In indonesia almost 300 people death everyday caused by TB desease, while almost 141,44 million people, (715% amount indonesian people ) is smoker, Jakarta, Depok and Bogor, there is 11.809 people with TB desease Objective this research is: to identifcation responden smoke habit ( term smoking, amount smoke consumption, smoke frequency ), the identification number of case TB, relationship smoke habit with number case TB, this research is doing in Puskesmas ( community health center ) Beji with responden almost 37 people. The statistic test with using Chi square test the result is there no significant relation smoke habits (smoke frequency, term of smoking, number of smoke consumption) with TB disease with P value 0,402. Recommendation this research in order to be able continue more seurious to find influence factors number of case lung TB desease with get more responden."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2009
TA5797
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mohamad Riza El Anshori
"Pendahuluan: Adekuasi pengobatan TB praoperasi merupakan sebuah dilema dikalangan Spesialis bedah yang mengharapkan morbiditas dan mortalitas pascaoperasi yang rendah. Belum adanya data tentang morbiditas dan mortalitas pascaoperasi abdeomen penderita TB di RSCM dan RS Persahabatan menunjukkan perlunya dilakukan penelitian untuk mengetahui adekuasi pemberian OAT praoperasi pada penderita TB berhubungan denngan morbiditas berupa fistel enterokutan, obstruksi usus, infeksi daerah operasi (IDO) dan mortalitas pascaoperasi abdomen.
Metode: Desain studi ini adalah cross sectional yang bersifat deskriptif analitik yang dilakukan di RSUPN Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Umum Pusat Persahabtan (RSP) dari September-Desmber 2107. Dengan metode total sampling , Jumlah sampel didapatkan 59 subjek penderita TB yang menjalani operasi abdomen dan dirawat di RSCM dan RSP yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisa Bivariate dengan SPSS dilakukan untuk menentukan hubungan antara adekuasi OAT dengan mortalitas dan mobiditas pascaoperasi.
Hasil :Terdapat 46 subjek (78%) tidak mendapat terapi OAT praoperasi secara adekuat. Morbiditas pada studi ini adalah 29 subjek (49.25%) yang didapatkan hubungan signifikan dengan adekuasi OAT (p=0.030). Dari tiga morbiditas (IDO, Fistel enterokutan, dan obstruksi usus) , hanya IDO yang berhubungan signifikan dengan Adekuasi OAT (p=0.048) . Hubungan yang tidak signifikan didapatkan terhadap mortalitas (p=0.564). Pada Operasi emergensi didapatkan insidensi Morbiditas (OR = 1.62; 95% CI 0.58 - 4.53) dan IDO (OR = 2.02; 95% CI 0.63 - 6.46) yang lebih tinggi dibandingkan dengan operasi elektif. Pada jenis operasi kotor dibandingkan operasi bersih didapatkan IDO yang signifikan (p=0.030). Pada analisa multivariate menunjukkan adekuasi OAT dan tipe operasi merupakan faktor risiko terjadinya morbiditas pascaoperasi (p=0,025).
Kesimpulan: Pemberian OAT yang adekuat praoperasi penderita tuberkulosis yang menjalani operasi abdomen menurunkan morbiditas pascaoperasi yang berupa infeksi daerah operasi, namun pemberian obat anti tuberkulosis yang adekuat pada penderita tuberkulosis yang menjalani operasi abdomen tidak berpengaruh terhadap morbiditas berupa fistel enterokutan, obstruksi usus serta tidak berpengaruh terhadap mortalitas pascaoperasi.

Background: The adequacy of tuberculosis treatment before abdominal surgery is a dilemma faced by surgeons who aims for low risk of morbidity and mortality. In addition, there is no data on morbidity and mortality post abdominal operation on TB patients in RSCM and RS Persahabatan. Therefore, this research aims to show the correlation between the adequacy of preoperative TB treatment and postoperative morbidity (fistula enterocutaneous, obstruction, and surgical site infection) and mortality.
Method: This study is a descriptive-analytic cross-sectional study done in Cipto Mangunkusumo Hospital dan Persahabatan Hospital using total sampling method, a total of 59 subjects with TB and had undergone abdominal operation and was admitted from January 2011 to August 2017,that fulfilled the criteria of this study. Bivariate and multivariate analysis using SPSS was done to analyse the correlation between TB treatment adequacy and postoperative morbidity and mortality.
Results: 46 subjects (78%) did not receive adequate preoperative TB treatment. The morbidity rate in this study is 29 subjects 49.25% with significant correlation with the adequacy of preoperative TB treatment (p=0.030). From the three morbidities in this study (fistula enterocutaneous, obstruction, surgical site infection), only surgical site infection (SSI) has significant correlation with TB treatment adequacy (p=0.048). There is no significant correlation with postoperative mortality (p=0.564). Compared to elective surgery, emergency surgery has higher morbidity (OR = 1.62; 95% CI 0.58 - 4.53) and SSI (OR = 2.02; 95% CI 0.63 - 6.46) incidence. A significant difference in the incidence of SSI between clean and dirty surgery wound was found (p=0.030). Multivariate analysis showed that both adequacy of antituberculosis treatment and surgery type are independent risk factors for morbidity (p=0,025).
Conclusion: Adequate preoperative TB treatment lowers the postoperative morbidity such as surgical site infection. There is no significant correlation between adequate preoperative TB treatment and mortality, and other morbidities such as fistula enterocutaneous and obstruction. Morbidity and SSI are more likely to happen in emergency surgery than elective surgery. Both adequacy of antituberculosis treatment and surgery type are independent risk factors for morbidity
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T55530
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amatul Firdaus Ramadhan
"Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis dan masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat serta bagi tenaga kesehatan Indonesia. Data TBC yang berkaitan dengan dokter gigi di Indonesia belum tersedia, bahkan di Jakarta sebagai ibu kota negara. Hingga saat ini belum ada data tingkat pengetahuan, sikap, praktik TBC serta kesediaan dokter gigi dalam merawat pasien dengan riwayat TBC. Penelitian ini akan mendeskripsikan tingkat pengetahuan, sikap, praktik serta kesediaan dokter gigi dalam merawat pasien dengan riwayat TBC. Kuesioner yang digunakan sebagai instrumen penelitian ini diterjemahkan dan dilakukan adaptasi lintas budaya kuesioner. Kuesioner disebarkan secara daring kepada dokter gigi dan dokter gigi spesialis yang berpraktik di Jakarta. Sebanyak 209 responden yang terdiri dari 119 dokter gigi umum dan 90 dokter gigi spesialis. Responden memiliki tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik yang rendah terkait TBC, tetapi mayoritas responden bersedia merawat pasien dengan riwayat TBC. Dokter gigi di Jakarta perlu mendapatkan pelatihan terkait TBC sehingga nantinya akan memiliki kemampuan yang baik dalam memberikan pelayanan pasien dengan riwayat TBC.

Tuberculosis (TB) is a disease caused by Mycobacterium tuberculosis and a threat to the public, especially to Indonesian health workers. TB data related to dentists in Indonesia is not yet available, even in Jakarta, the nation's capital. There is also no data related to knowledge, attitudes, TB practices, and the willingness of dentists to treat patients with a history of TB. This study will describe the level of knowledge, attitude, practice, and willingness of dentists to treat patients with a history of TB. The questionnaire used as the research instrument was translated and cross-cultural adaptation of the questionnaire was carried out. Cross-sectional questionnaires were distributed online to dentists and dental specialists working in Jakarta. A total of 209 participated in this study, 119 general dentists and 90 specialist dentists. Respondents had low levels of knowledge, attitudes, and practice regarding TB, but the majority of respondents were willing to treat patients with a history of TB. Dentists in Jakarta need to receive training related to TB so that later they will have good skills in providing services to patients with a history of TB."
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Dokumentasi  Universitas Indonesia Library
cover
Katili, Amalia K.M.
"Masalah TB adalah masalah kesehatan masyarakat yang merebak keseluruh dunia sehingga WHO mencanangkannya sebagai "global emergency" tahun 1993. Ini meliputi Indonesia yang menempati peringkat ke tiga sedunia. Di Rumah sakit Cibinong terdapat masalah yang berkaitan dengan TB yakni lemahnya kemampuan ketajaman diagnostik pelayanan medis, lemahnya sistem informasi medis yang berkaitan dengan sifat epidemiologis, tampilan klinis dan aspek sosial ekonomi TB, bersamaan dengan keharusan rumah sakit mengembangkan fungsi pelayanan rujukan dan pembinaan institusi lain di wilayah cakupan RS. Selain itu juga terdapat perbedaan dan variasi penanganan antar spesialisasi yang terkait dengan TB.
Dan hal tersebut diatas diperlukan upaya komprehensif dan terkoordinasi berupa pengorganisasian penanggulangan TB yang berdasarkan komitmen internal rumah sakit dan ditindaklanjuti dengan penetapan misi dan tujuan serta penetapan struktur dan rancangan organisasi. Penelitian tentang upaya pengorganisasian ini adalah penelitian partisipatif kualitatif untuk memperoleh pemikiran, pendapat dan pandangan para pelaku organisasi RSUD Cibinong terhadap pembentukan organisasi penanggulangan TB. Seluruh informasi dan data dikelompokkan dan dianalisis secara deskriptif atas pola-pola yang meliputi pemrosesan satuan, tema dan kategorisasi serta penafsiran data yang memunculkan rumusan kesimpulan.
Hasil yang diperoleh menunjukkan hampir semua jawaban responden memenuhi tema misi dan tujuan pengorganisasian secara umum yang sejalan dengan tujuan jangka pendek nasional penanggulangan TB. Tujuan khusus menggambarkan komitmen internal menjadikan rumah sakit Cibinong adalah rumah sakit rujukan untuk kasus TB dan puskesmas di wilayah Bogor. Strategi dasar adalah upaya terpadu dan komrehensif disertai pendidikan dan penyuluhan internal rumah sakit. Rancangan struktur organisasi P2TB didasarkan pada produk yakni manajemen kasus TB, berdasarkan suatu proses yang memungkinkan pengembangan derajat keahlian yang lebih baik dengan penekanan pada output. Rancangan juga berdasarkan orientasi pada masalah pasien yang lebih spesifik yakni tipe kasus. Organisasi P2TB berada di dalam wadah Komite Medik, terintegrasi dengan komponen Komite Medik yang lain. Model organisasi divisualisasikan melalui dokumen yang terdiri dari penjabaran misi dan tujuuan, administrasi dan pengelolaan, staff dan pimpinan, fasilitas dan peralatan, kebijakan dan prosedur, pengembangan staf dan pendidikan serta evaluasi dan pengendalian mutu.
Saran yang diajukan adalah SMF Paru diharapkan dapat memberi masukan yakni pendapat dan pengarahan dalam perencanaan tujuan, prosedur operasional dan cara terbaik melaksanakan suatu keputusan berbagai masalah penanggulangan yang menghubungkan kerjasama rawat berbasis klinis pada organisasi rumah sakit dengan yang berbasis kesehatan masyarakat di puskesmas dalam wilayah cakupan RS.

Development of TB Care Organization in Cibinong District Hospital Tuberculosis (TB) is a community health problem that spread over the world so WHO put its condition as "global emergency" in 1993. This part's included Indonesia that rose the third grade of the world. Cibinong Hospital believes that many problems of ineffective global action, which relates to TB endemic. They are representing a diagnostic sharpness of medical service ability, the weakness of medical information system and report's registration that have to do with epidemiological-clinical appearance and TB's social economic aspect, along with the obligation to construct improving the referral and educational function in hospital's area.
Beside that, there are also differences and various ways to handle, among parts of specialization connected to TB. From several things above. we need a comprehensive and coordinated exert that appear as TB's preventive organizing based on hospital's internal commitment and continue with mission, purpose confirmation and organizational structure and design. This participatory qualitative research's constructed to get several opinion, thinking and vision of organization's staff of Cibinong Hospital to create TB care and preventive organization. All information and data's being grouped and analyzed descriptively in patterns containing unity, theme, categorization and interpretation resulting of conclusion.
The results show that almost all respondents' answers granted the general organizing missions and purposes, along with National short time purposes of TB prevention. The particular is the drawing of internal commitment makes Cibinong Hospital becomes referral center for TB cases and public health facility in Bogor area. The basic strategies are coordinated and comprehensive expedients along with internal hospital's education and instruction. The structural design of TB care organizations based on product. That's the management of TB cases, constructed on a process that allows the improvisation of a better ability, forced on outcome. The design also based on orientation inside more specific patient's problem, the type of case. TB care and prevention organization is inside the medical committee, integrated with other component. The types of organization's being visualized by document consist of explanation such factors as missions and purposes, administrations and management, staff and leader, facilities and instruments, ability and action, staff improvement and education also evaluation and quality control.
It was suggested to conduct another continuing research on the developing of collaborative care organization for all of case management. We hope pulmonary staff medical becomes a director in planning, operational procedure and to make a decision in any kinds of TB prevention problem that contain of clinical-base collaborative care on hospital organization with the ones that based on community health in hospital's area.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T3740
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
F.X. Agus Budiyono
"Tuberkulosis merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, dan tersebar merala di seluruh daerah. Pada tahun 1995, diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 9 juta penderita baru TB dengan kematian 3 juta orang, sedangkan di negara-negara berkembang kematian akibat TB merupakan 25% dari seluruh kematian, yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara berkembang, 75% penderita TB adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). (WHO, 1997).
Pemberantasan TB Paru dengan strategi DOTS di Kota Jakarta Timur telah dilaksanakan sejak tahun 1995, tetapi penderita baru tetap ditemukan dan dari tahun ketahun mengalami peningkatan, Penyakit TB Paru menduduki urutan ke-tiga kelompok penyakit menular. Hal ini menunjukkan bahwa TB Paru masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di wilayah Kota Jakarta Timur.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru di Jakarta Timur. Jenis penelitian adalah observasional dengan desain 7 kasus kontrol, Kasus adalah penderita TB Paru BTA (+) dan sebagai kontrol adalah masyarakat yaitu tetangga kasus yang tidak sedang menderita TB Paru atau tidak sedang menderita batuk 3 minggu atau lebih. Jumlah sampel sebanyak 88 kasus dan 88 kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru adalah adalah umur, adanya kontak dengan sumber penular, lamanya kontak, status pengobatan sumber penular, ventilasi kamar dan cahaya matahari masuk rumah.
Dari faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru BTA (+), ternyata adanya sumber penular yang tidak berobat merupakan faktor risiko yang paling erat hubungannya dengan kejadian TB Paru.
Dari hasil penelitian, disarankan penemuan penderita secara dini dan mengobati dengan paduan OAT yang tepat dengan didampingi pengawas menelan obat, meningkatkan pelaksanaan strategi DOTS, memperluas jangkauan pelayanan, melaksanakan pemeriksaan kontak dan pengobatan pencegahan bagi balita.
Daftar pustaka : 36 (1979 - 2002)

Related Factors to Pulmonary Tuberculosis (Tb) in East Jakarta City in year 2003 The tuberculosis (TB) remains a serious public health problem in Indonesia and spread to countrywide. WHO has estimated that 9 million of new cases was occurred yearly, of which some 3 million deaths. In developing countries there are 25% deaths by tuberculosis. It is estimated 95% TB cases were occurred in developing countries, which some 75% cases preventable occurring in the 15-50 age group, the most productive segment of the population.
TB control program activities with DOTS strategy has been implemented since 1995 in East Jakarta City. Due to the increasing of case finding activities the new AFB (+) patients increased, so tuberculosis still remaining as major public health problem.
The objective of the research is to identify the related factors to pulmonary tuberculosis in East Jakarta City. The design of research is case-control. The case is the AFB (+) tuberculosis patients, while the control is the neighbor of cases as community based control, were not coughing for 3 weeks and more at the time of the interview. Total cases are 88 cases, and the control are 88 respondents.
The result of the study reveals that related factors to pulmonary tuberculosis are age, source of infection, duration of contact with source of infection, the source of infection who were not treated, room ventilation, and sunlight into the house.
Based on the result of the study, it is identified that a contact with untreated source of infection is the closely related to the tuberculosis. Therefore, it is recommended to improve the case finding, providing early treatment with patent drugs, increasing of DOTS strategy implementation, program expanding. contact examination and treatment prevention to child.
References: 36 (1979 - 2002)
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T12715
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kus Sularso
"ABSTRAK
Penyakit Tb paru terdapat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Upaya pemberantasan penyakit Tb paru di Indonesia telah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda, yaitu pada tahun 1908 oleh suatu perkumpulan ( CVT ), yang selanjutnya menjadi yayasan ( SCUT ). Setelah kemerdekaan dilakukan oleh pemerintah, pada tahun 1952 programnya terdiri atas vaksinasi BCG dengan didahului test Mantoux, pengobatan penderita dan penyuluhan kesehatan .
Pemerintah mengharapkan pada akhir Pelita V prevalensi penyakit Tb paru di Indonesia menjadi 2,4 per 1000 penduduk, dan pada tahun 2000 menjadi 2 per 1000 penduduk. Kenyataannya pada awal Pelita V penyakit Tb paru masih dinyatakan sebagai masalah kesehatan di Indonesia.
Secara umum tujuan penelitian ini adalah : Mendapatkan informasi tentang pengaruh faktor risiko terhadap kejadian Tb paru BTA + dalam rangka meningkatkan kegiatan Program Pemberantasan Penyakit Tb Paru di Kotamadya Surakarta. Secara Khusus yang diteliti adalah pengaruh tinggal serumah dengan tersangka penderita Tb paru, kontak dengan tersangka penderita Tb paru yang tidak berobat, tinggal dirumah yang berventilasi kurang , tinggal dikamar yang berventilasi kurang, tinggal dikamar yang masuknya cahaya matahari kurang, tinggal dirumah yang padat penghuni, pengaruh tinggal dalam kamar yang padat penghuni, kontak lama dengan tersangka penderita Tb paru, pengaruh tinggal dalam kamar yang lenmbab, merokok, terhadap terjadinya kasus Tb paru BTA + di Kotamadya Surakarta.
Penelitian dilakukan dengan metode kasus kontrol. Sebagai kasus dipilih penderita TB Paru BTA + yang berobat ke pelayanan kesehatan dibawah pengawasan Dinas Kesehatan Kotamadya Surakarta. Kontrol diambil dari tetangga terdekat penderita Tb paru BTA +. Cara pemilihan kontrol dilakukan secara acak dengan mengundi diantara penghuni serumah, yang berumur diatas 14 tahun. Data dikumpulkan dengan menggunakan daftar pertanyaan dan isian. Ditentukan kasus sejumlah 202 orang dan kontrol 202 orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Faktor risiko yang terbukti mempunyai hubungan dengan terjadinya penderita Tb paru BTA + adalah kontak dengan tersangka penderita Tb paru. Orang yang kontak dengan tersangka penderita Tb paru mempunyai kemungkinan 3,027 ( 1,24 - 7,39 ) kali terkena Tb paru dibanding dengan orang yang tidak kontak dengan tersangka penderita Tb paru Tak ada interaksi antara kontak dengan tersangka penderita
Tb paru dengan faktor risiko tinggal dirumah yang berventilasi kurang , tinggal dikamar yang berventilasi kurang, tinggal dikamar yang masuknya cahaya matahari kurang, tinggal dirumah yang padat penghuni, tinggal dalam kamar yang padat penghuni, tinggal dalam kamar yang lembab, dan merokok.
Faktor risiko ventilasi kamar dan kepadatan penghuni serumah menjadi konfonding antara faktor risiko kontak dengan tersangka penderita Tb paru dengan terjadinya penderita Tb paru BTA +.
Berdasarkan hasil penelitian ini diusulkan untuk mengadakan penelitian dengan mengambil kontrol sedemikian rupa sehingga dapat diketahui faktor lingkungan apakah yang berpengaruh terhadap terjadinya penderita Tb paru BTA +.
Sambil menunggu penelitian yang lebih baik dapat, ditingkatkan penanganan kepada penderita dan kontak serumah , serta ventilasi kamar, dan kepadatan penghuni serumah dalam usaha mengurangi penularan Tb paru di Kotamadya Surakarta sesuai dengan hasil penelitian ini.
Daftar Pustaka : 60 ( 1974 -- 1992 )"
1994
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maela Holipah
"Kondisi lingkungan perkotaan yang padat dan polusi udara di perkotaan dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti TB paru. TB paru merupakan penyakit kronis dengan pengobatan lama yang dapat menimbulkan ansietas bagi penderitanya. Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk melaporkan hasil asuhan keperawatan klien ansietas dengan TB paru. Implementasi keperawatan yang dilakukan selama lima hari meliputi, teknik relaksasi napas dalam, hipnosis lima jari, distraksi dan spiritual.
Hasil dari penerapan intervensi ini didapatkan bahwa pasien dapat mengontrol atau mengatasi ansietasnya, yaitu dengan menunjukan tanda-tanda ansietass berkurang. Penanganan masalah psikososial ansietas yang dimulai dari mengenal ansietas sampai pilihan teknik mengontrol ansietas, seperti relaksasi napas dalam, hypnosis lima jari, distraksi dan spiritual perlu dikembangkan di unit keparawatan lainnya.

Urban environment condition are dense and many air pollution that can cause health problems such as pulmonary tuberculosis (TB). TB is a chronic disease with a long treatment which can cause anxiety for the patient . This purpose of this final scientific nurse paper is to illustrate family nursing care on anxiety related to TB. Nursing implementation was applied for 5 days including deep breath relaxation technique, five fingers hypnosis, distraction and spiritual.
The result of this intervention is patient can control her anxiety, with the decreasing sign and symptom of anxiety. Management of anxiety start from knowing what the anxiety until thecnique to control the anxiety such as deep breathing relaxation, five finger hypnosis, distraction and spiritual need to be developed on another nursing care unit.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2016
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ezra Pradipta Hafidh
"ABSTRAK
Tuberculosis TB masih menjadi salah satu masalah utama kesehatan di dunia. Masalah penyakit TB menjadi lebih rumit karena munculnya penyakit Multidrug Resistant Tuberculosis MDR-TB . Masalah kontrol optimal pada pengontrolan penyebaran penyakit TB dan MDR-TB dilakukan dengan memberikan intervensi berupa pemberian vaksin BCG u1 , pengobatan OAT lini pertama u2 , dan pengobatan OAT lini kedua u3 . Tujuan dari masalah kontrol optimal pada skripsi ini adalah untuk meminimalkan jumlah individu terinfeksi sekaligus meminimalkan biaya dari setiap intervensi kesehatan yang diberikan. Kontrol optimal diperoleh dengan menerapkan prinsip minimum Pontryagin, kemudian diselesaikan secara numerik dengan metode gradient descent. Dilakukan simulasi numerik untuk beberapa skenario. Hasil simulasi numerik menunjukkan bahwa kombinasi dari ketiga intervensi yang diberikan dapat mengurangi jumlah individu terinfeksi serta meminimumkan biaya intervensi yang diberikan pada semua skenario.

ABSTRACT
Tuberculosis TB remains one of top world rsquo s health problem. Problem of TB becomes more complicated because of the presence of Multidrug Resistant Tuberculosis MDR TB . Optimal control problem on controlling TB and MDR TB transmission with giving intervention, namely BCG vaccination u1 , treatment with first line anti TB drug u2 , and treatment with second line anti TB drug u3 . Optimal control problem aims to minimize the number of infected individuals also minimize cost of the interventions that given. Optimal control derived using Pontryagin minimum principle and then solved numerically using the gradient descent method. Numerical simulations are performed for some scenarios. The results from numerical simulation show that the combination of the three interventions given can reduce the number of infected individuals and minimize the cost of the interventions given in all of scenarios."
2017
S70140
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
David Gordon
"Study Case For Control of The Use of Health Service By BTA Lung Tuberculosis Sufferers at Kapuas Hulu Regency Community Health Centers in The Year of 2000.
Up to now, lung tuberculosis (Tb) is a major community health problem. It is estimated that one third of the world population are the victims of the disease. Most of them (95 %) come from the developing countries. The low discovery of lung Tb sufferers (33%) has caused the disease transmission chain very difficult to broken causing approximately 8 millions of the world population to suffer from the disease, and 3 millions of them die each year. Indonesia is one of the developing countries with approximately 450,000 Tb cases (prevalence rate 0.22 %) and 175,000 Tb death each year, making is the third largest Tb contributor in the world.
Kapuas Hulu Regency (West Kalimantan Province) has 200,000 population. Although DOTS Strategy has been implemented gradually in the area since 1996 and adopted by all of the community health centers since 1999, there are only 33 % of estimated Tb cases can be discovered. This condition reflecting the phenomenon of community behavior towards the use of health service facility, especially the community health centers at Kapuas Hulu Regency. Thus, it induces questions about factors affecting the use of health service at the community health center by lung Tb patients.
In identifying the problem, since there are many factors affecting the use of community health center, this research used case control design with Green Theory approach (1980). Cases in this research were the BTA (+) lung Tb sufferers who were encountered through field survey during the research. While controls consisted of BTA (+) lung Tb sufferers who were listed in the Tb registry of the health centers.
Bipartite analysis shows that variables related to the use of health service in community health center are education with Odds Ratio 1.91, knowledge with OR 2.16, cost with OR 2.30, distance with OR 2.24, Transportation facility with OR 8.10, Health information OR 2.46, and service by health person with OR 2.41.
Multivariate analysis with logistic regression shows that variables related to the use of community health center by the BTA (+) lung Tb patients based on the contribution of transportation facility, knowledge, and health information, with its logistic equation : fog it (use of health service) - 2.876 + 2.547 (transportation) + 1.180 (knowledge) + 1.083 (health information).
In conclusion, knowledge, education, cost, transportation facility, distance. health information and service by health person can affect the behavior of lung Tb suffers in utilizing health service facility at the community health center. Above all, the availability of transportation facility is the most dominant factor.
Result from the study recommend that the community health centers and regency health service need to increase the frequency of health education regarding lung Tb to the community, using more understandable and simple methods. The regency government is advised to build facilities to increase community access to the health service. Health service approaching to the community is the easiest way to do for the community health center.
Library : 23 (1979-1999).

Penyakit tuberkulosis paru sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi penyakit tuberkolosis paru ini. Sebagian besar (95 %) dari penderita tersebut berada pada negara berkembang. Rendahnya penemuan penderita Tb paru (33%) membuat rantai penularan semakin sulit diputuskan, sehingga diperkirakan terdapat 9 juta penduduk dunia diserang Tb paru dengan kematian 3 juta orang pertahun. Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang, diperkirakan setiap tahunnya terjadi 583.000 kasus Tb (prevalence rate 0,22 %) dan 140 ribu meninggal setiap tahunnya, sehingga menyumbang Tb paru terbesar ketiga.
Kabupaten Kapuas Hulu yang terletak pada Propinsi Kalimantan Barat dengan penduduk lebih kurang 200.000 jiwa, baru dapat menemukan penderita Tb paru sekitar 33 %, walaupun sejak tahun 1996 strategi DOTS sudah digunakan secara bertahap dan tahun 1999 seluruh puskesmas sudah mengadopsinya.
Rendahnya penemuan penderita Tb paru ini merupakan gambaran fenomena perilaku masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan khususnya puskesmas di Kabupaten Kapuas Hulu. Oleh karena itu menjadi pertanyaan faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh penderita Tb paru di puskesmas.
Untuk mengidentifikasi hal tersebut, penelitian ini menggunakan disain kasus kontrol dengan pendekatan teori Green (1984), mengingat bahwa banyak faktor - faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh penderita Tb paru di puskesmas. Kasus dalam penelitian ini adalah penderita Tb paru BTA (+) yang ditemukan melalui survei lapangan pada saat penelitian dilakukan. Sedangkan kontrol adalah pcnderita Tb paru BTA (+) yang ditemukan dalam register pengobatan Tb paru jangka pendek.
Analisis bivariat menunjukkan bahwa variahel yang herhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas adalah pendidikan dengan Odds Rasio (OR) 1,91 , pengetahuan dengan OR 2,16 , biaya dengan OR 2,30 , jarak dengan OR 2,24 , sarana transportasi dengan OR 8,10 , penyuluhan dengan OR 2,46 , dan pelayanan petugas dengan OR 2,41.
Analisis multivariat dengan regresi logistik mcnunjukkan bahwa variabel yang herhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh penderita Tb paru BTA (+) di puskesmas berdasarkan kontribusinya secara berurutan adalah Sarana transportasi, pengetahuan, dan penyuluhan dengan model persamaan logistiknya : Logit (pemanfaatan pelayanan kesehatan) = - 2,876 + 2,547 (transportasi) + 1,180 (pengetahuan) + 1,083 (penyuluhan).
Sebagai kesimpulannya adalah faktor pengetahuan, pendidikan, biaya, transportasi, jarak, penyuluhan, dan pelayanan petugas dapat mempengaruhi perilaku penderita Tb paru dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas, dan ketersediaan sarana transportasi merupakan faktor yang paling dominan.
Disarankan kepada puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten untuk meningkatkan frekuensi penyuluhan tentang Tb paru kepada masyarakat dengan menggunakan metoda yang mudah dimengerti masyarakat. Juga kepada Pemerintah Daerah disarankan untuk membangun sarana dan prasarana yang memudahkan akses masyarakat kepada pelayanan kesehatan. Mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat merupakan alternatif yang paling mudah dilakukan oleh puskesmas.
Kepustakaan : 23 ( 1979 - 1999 )"
2001
T2091
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>