Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query
cover
R. Wiryanto Dewobroto
"ABSTRAK
Analisa struktur non-linier dengan Metoda Elemen Hingga (M.E.H), merupakan alternatif lanjutan untuk mengenal keterbatasan analisa struktur elastik linier. Salah satu keterbatasannya yaitu: deformasi yang dihasilkan harus relatif kecil sedemikian sehingga dapat dianggap bahwa geometri struktur sebelum dan sesudah dibebani tidak mengalami perubahan. Kondisi tersebut hanya cocok digunakan dalam proses desain, tetapi untuk proses analisis dalam memprediksi perilaku dan kekuatan struktur detail sampai runtuh, yang pada umumnya didahului oleh terjadinya deformasi yang besar, maka analisa struktur dengan cara elastik linier sudah tidak akurat lagi.
Terjadinya deformasi yang besar merubah lokasi dan distribusi beban, sehingga persamaan keseimbangan harus disusun lagi dengan mempertimbangkan geometri struktur setelah berdeformasi, yang belum dapat diketahui sebelumnya. Penggunaan analisa struktur dengan cara elastik linier tidak tepat sehingga oleh karena itu diperlukan analisa struktur elastik yang dapat mengantisipasi kondisi non-liner tersebut.
Pada tesis ini akan dibahas non-linier geometri dengan aplikasi untuk struktur rangka batang ruang. Jenis-jenis non-linier yang lain, misalnya non-linier material (elastik-plastik, creep ) maupun non-linier kontak (perubahan kondisi Batas akibat deformasi yang terjadi) tidak dibahas secara mendetail dan hanya seperlunya saja.
Pada analisa non linier geometri akan dijumpai problem tekuk (buckling), yang berbeda dengan tinjauan tekuk secara linier. Tinjauan pasca-tekuk non-liner dengan Metoda Elemen Hingga memberikan permasalahan tersendiri yang menarik untuk dibahas. Umumnya analisa non-linier pra-tekuk dapat diselesaikan dengan cara iterasi numerik mengandalkan algoritma Newton-Raphson (NR) atau Modified Newton-Raphson (M-NR), sedangkan tinjauan pasca tekuk memerlukan tambahan algoritma khusus yaitu metode kontrol lendutan atau yang lebih canggih yaitu metode arc length.
Program komputer PCFEAPtz2J akan dipergunakan sebagai platform dasar untuk penerapan analisa M.E.H non-linier. Program tersebut mempunyai kemampuan standar untuk menangani problem non-linier sampai dengan kasus pra-tekuk dengan tersedianya algoritma NR dan Modified NR, tetapi untuk kasus pasta tekuk belum ada. Dengan penelitian ini, maka program tersebut dapat dikembangkan sedemikian sehingga mempunyai kemampuan melacak perilaku struktur rangka batang ruang baik pre-tekuk atau pasca-tekuk, dengan anggapan bahwa materialnya masih dalam perilaku elastik.
Walaupun pembahasan pada tesis ini dibatasi pada struktur rangka batang ruang, akan tetapi algoritma tambahan yang dikembangkan pada program PCFEAP, dapat bersifat umum untuk menyelesaikan analisa non-linier geometri dengan M.E.H pada struktur type lain, yaitu dengan menyusun matrik KL yang sesuai.
"
1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Santi Budi Handayani
"Pertumbuhan sektor industri Indonesia selain menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, juga menimbulkan ekstemalitas negatif bagi lingkungan hidup berupa kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan dan pencemaran. Pencemaran udara adalah salah satunya. Saat ini pencemaran udara di Indonesia, khususnya di kota besar, telah mencapai taraf yang cukup memprihatinkan. Pencemaran akan menurunkan kualitas sumber daya alam dan juga manusia, sehingga pada akhirnya akan mengurangi laju pertumbuhan ekonomi.
Studi ini dilakukan untuk menganalisis struktur perekonomian Indonesia, menganalisis keterkaitan antara output perekonomian dengan tingkat pencemaran udara secara sektoral untuk menentukan arah kebijakan ekonomi yang berwawasan lingkungan. Selain itu, studi ini bermaksud untuk mengetahui:
1. dampak diperkenalkannya kegiatan pembersihan polusi terhadap output dan
tingkat emisi polusi.
2. dampak penurunan subsidi listrik terhadap harga output dan biaya polusi.
Metodologi dalam studi ini menggunakan model Input-Output Leontief dan pengembangannya yaitu model Input-Output yang diperbesar (Augmented Leoinfief Model) dan model harga 1-0 (Price Model). Analisis struktur ekonomi menunjukkan bahwa saat ini yang menjadi sektor unggulan di Indonesia adalah sektor manufaktur karena memiliki nilai pengganda output dan indeks keterkaitan yang besar. Adapun sektor-sektor yang berbasis sumber daya alam ternyata tidak lagi mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi walaupun porsinya terhadap PDB masih cukup besar.
Sementara itu, berdasarkan total polusi sektoral diketahui 3 sektor penyumbang polusi udara terbesar di Indonesia yaitu: sektor bangunan; sektor transportasi dan komunikasi; serta sektor listrik, gas dan air minum. Sektor transportasi dan sektor listrik menjadi pencemar udara terbesar karena keduanya sangat terkait dengan penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosii sebagai inputnya. Namun demikian sektor-sektor yang memiliki pengganda polusi tertinggi (dan karenanya berpotensi paling besar dalam meningkatkan polusi jika perrnintaan akhir terhadap sektor-sektor ini meningkat) adalah: sektor pupuk dan pestisida; sektor listrik, gas dan air minum; serta sektor industri semen. Adapun sektor yang memiliki angka total polusi udara maupun pengganda polusi kecil biayanya merupakan sektor yang tergolong dalam pertanian.
Jika kita mengklasifikasi sektor-sektor berdasarkan indeks keterkaitan ke belakang (yang juga merupakan indeks pengganda output) dan indeks polusi maka, dengan kriteria indeks pengganda output besar dan indeks polusi kecil, kita dapat menentukan sektor-sektor yang dapat menjadi prioritas dalam pembangunan. Sektor-sektor yang memenuhi kriteria ini adalah: petemakan; industri makanan dan tembakau; produk kayu; pulp dan kertas; industri kimia; industri manufaktur lainnya; restoran dan hotel; serta sektor jasa jasa lainnya.
Simulasi pembersihan polusi menghasilkan dua hal panting. Pertama, adanya kegiatan ini menyebabkan angka pengganda polusi untuk setiap jenis polutan di setiap sektor turun. Artinya, dengan adanya kegiatan pembersihan polusi menyebabkan peningkatan polusi akibat kenaikan permintaan akhir tidaklah sebesar jika tidak ada kegiatan ini. Penurunan pengganda polusi ini juga dapat diartikan sebagai diterapkannya teknologi baru dalam pembuangan polusi yang lebih ramah lingkungan. Kedua, kegiatan pembersihan polusi ternyata tidak berdampak besar terhadap total output.
Sementara itu dari simulasi penurunan subsidi listrik sebesar 50% jugs dapat ditarik dua kesimpulan. Pertama, sebagian besar sektor mengalarni peningkatan harga output yang kurang signifikan. Kedua, biaya polusi juga meningkat walaupun jugs tidak terlalu tinggi. Untuk membersihkan 1 ton CO2 biayanya hanya naik sebesar 0,45%. Untuk membersihkan 1 ton S02 kenaikan biayanya adalah sebesar '1,56%. Adapun biaya pembersihan setiap ton polusi NOx hanya naik sebesar 2,89%."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T20373
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Sarah Solihat
"ABSTRAK
Peneliti melihat sebuah teknik foto tidak hanya sebagai komposisi dalam
foto, tetapi merupakan sebagai bentuk tanda dalam memberika sebuah pesan.
Pesan disampaikan sebagai kritik dalam sebuah masalah sosial. Peniliti ingin
melihat bagaimana kritik sosial dibagun dalam Kompas, dan kepada siapa kritik
ditujukan. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis, pendekatan
kualitatif, strategi penelitian analisis semiotika, dan sifat penelitian deskriptif.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kebanyakan foto, dalam penelitian ini
menggunakan foto halaman utama Kompas, bermain dalam ranah sudut pandang,
lensa, dan juga jarak pengambilan. Ketiga teknik tersebut, memberikan tanda-
tanda tersendiri dalam foto yang ditampilkan untuk menunjukkan kritik sosial
yang ingin disampaikan. Masalah yang sering diangkat dalam foto headline
Kompas adalah masalah kurangnya perhatian kepada masyarakat menengah
kebawah.

ABSTRACT
I have seen that a technical photography is not only determined as the
composition inside it, but also as a sign to deliver a message. That message has
been delivered as a critical towards social issues. I would like to see further how
social critical has been built in KOMPAS daily newspaper, and to whom this
critical is dedicated. This research is using constructivist paradigm, a qualitative
approach, semiotic analyze as research strategy, and descriptive research
tendency. The final result shows that mostly photographs, which in this research
are using the headline photo of KOMPAS, have masquerade into point of view,
lens, and shooting distance. Those three techniques give certain signs inside its
photograph, which has been published to deliver a social critical instead. The
main issue or problem that recently becomes KOMPAS headline photograph is
the lake of attention towards middle low class society."
2010
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ismiwanto Cahyono
"Pelayanan rujukan sebagai salah satu strategi pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan secara berjenjang sudah dikembangkan lebih 30 (tiga puluh) tahun yaitu sejak dikeluarkannya keputusan Menteri Kesehatan nomor 032/Birhub/1972 tentang Sistem Rujukan (Referral System) temyata belum dapat berjalan sebagimana mestinya. Hal ini dapat dilihat dari indikator tenaga kesehatan dimana rasio jumlah tenaga kesehatan dibandingkan jumlah penduduk yang masih rendah. Seperti rasio dokter terhadap penduduk 1:5000, perawat 1.2850 dan bidan 1.2500 (Depkes, SKN, 2004).
Indikator penting lainnya adalah jumlah sarana kesehatan sebagai pelaksana rujukan yang belum Memadai. Jumlah Puskesmas di Indonesia sebanyak 7.237 unit, Puskesmas Pcmbantu scbanyak 21.267 unit, Puskesmas Kel'ua r g sebanyak 6.392 unit, rumah sakit 1.215 unit sementara jumlah penduduk Indonesia sebanyak 201.701537 (BPS 2001). Kedua indikator tersebut tentunya memerlukan p~rhatian untuk diperkecil kesenjangannya karena sangat berpengaruh terhadap mute (quality), keterjangkauan (affordability) dan keterc.apaian (accessibility) pelayanan rujukan.
Permasalahan yang diajukan untuk dilakukan penelitian adalah ingin mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan terlaksananya rujukan yang efektif di RSUD Cianjur dilihat dan aspek pengirim rujukan yaitu masalah sarana, petugas kesehatan dan prosedur rujukan. Aspek keterjangkauan (affardibiliv) meliputi masalah penghasilan pasien, pola bayar dan biaya pelayanan. Aspek ketercapaian (accessibility) meliputi masalah jarak, waktu, kendaraan dan biaya transportasi dan aspek mute (quality) pelayanan peneri a rujukan meliputi masalah keadaan fisik yang dapat dirasakan langsung dan nyata (tangible) dan empati (empathy).
Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan Crass-Sectional yaitu mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, variabel-variabel yang terrnasuk faktor resiko dan efek diobservasi secara sekaligus dan bersamaan selama satu bulan sejak tanggal 28 Juni sampai dengan 27 Juli 2004 di Unit Rawat .nap dan Rawat Jalan RSUD Cianjur Jawa Barat dengan pengumpulan data menggunakan instrunien kuesioner clan telaah dokumen.
Populasi adalah seluruh pasien rujukan dan Puskesmas yang dirawat di 12SUD Cianjur dan sampelnya sebanyak 96 orang dengan kriteria pasien mampu menjawab pertanyaan dan bersedia men jawab tanpa ada unsur paksaan.
Dan hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa dan sampel 96 orang terdapat 54 prang (56,3% pasien beranggapan bahwa peiayanan rujukan di RSUI) Cianjur sudah efektif, sedangkan 42 orang lainnya (43,7 %) beranggapan pelayanan rujukan belum efektif. Ke mudiain terdapat hubungan yang bermakna antara sarana, tenaga kesehatan, prosedur rujukan, penghasilan pasien, pola hayar, biaya pelayanan, jarak, waktu yang ditempuh pasien, bukti langsung dan nyata daa empati petugas terhadap terlaksananya rujukan yang efektif di RSUD Cianjur.
Dan variabel-variabel yang mempunyai huhungan bermakna dengan variabel terikat, terdapat variabel independen yang paling dominan berhubungan dengan variabel terikat yaittu variabel sarana.
Berdasar basil penelitian maka saran yang diajukan peneliti dan aspek sarana berupa audit kelengkapan sarana di Puskesmas oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur serta menambah kelengkapan penunjang seperti peralatan komunikasi dan ambulans, dari aspek prosedur berupa membuat aturan tertuiis mengenai prosedur penanganan rujukan dan mensosialisasikan kepada petugas serta menyempumakan prosedur pencatatan dan pelaporan, dan aspek bukti fisik berupa penambahan sarana tempt duduk dan dan aspek empati berupa peningkatan kemampuan komunikasi petugas melalui pelatihan customer service.

Analyze Factors Which Deal With The Reference Effectiveness In UD Regency of Cianjur 2004Strive to improve the awareness, willingness and healthy life ability for every people to be existed by degree of optimal health by majoring healthy behavior and in healthy environment, owning ability to reach the certifiable health service fairly and flatten at five the last year experience of the challenge which enough heavily.
Reference service as one of governmental strategy in giving gradually health service have been developed more 30 years since releasing of Health Minister Decree of 032Birhub11972 about Reference System in the reality not yet ambulatory. This matter is visible from indicator of health energy where ratio sum up the health worker compared to population amount which still lower. Like doctor ratio to population 15000, nurse 1:2850 and midwife 1:2600 (Depkes, SKN, 2004).
Other important indicator is amount of health medium as reference executor which not yet adequate. Sum up the puskesmas in Indonesia as much 7.237 unit, ministrant puskesmas as much 21.267 unit, puskesmas circle as much 6.392 unit, hospital 1.215 unit whereas amount of Indonesia resident as much 201.703.537 (BPS 2001). Both of indicators need the attention to be minimized its difference because having an effect on quality, affordability and accessibility of reference service.
Problems raised to be conducted by a research is wishing to know the factors which deal with executing of effective reference in RSUD Regency of Cianjur seen from aspect of reference consignor that is medium problem, worker of health and reference procedure. Aspect of affordability cover the problem of patient income, pattern of paying and service expense. Aspect of accessibility cover the problem of distance, lime, vehicles and expense of transportation and quality aspect of reference receiver cover the real and direct evidence (tangible), responsiveness and empathy_
Research done use the quantitative approach with the device Cross-Sectional that is learn the correlation dynamics between risk factors with the effect, variables which is the inclusive of factor of risk and observation effect at once and at the same time during one month from 28 June up to 27 July 2004 in Unit Take care of to Lodge and Take Care Of RSUD Regency of Cianjur West Java with the data collecting use the instrument questioner and analyze document
Population is entire of reference patient from puskesmas which taken care of RSUD Regency of Cianjur and its sampling as much 96 people with the patient criterion able to reply the question and ready to reply without constraint element_
Description from each accurate to be researched variable conducted by analysis univariate and for knowing link of dependent variables with the independent variable done bivariate analysis through test of statistic Chi Square because data in this research in the form of categorical data Later done analysis multivariate by using doubled test regretion logistics to know the most dominant independent variable relate to the dependent variable.
From research result obtained description that from sampling 96 people of 54 people (56,3%) patient of opinion that reference service in RSUD Regency of Cianjur have effective, while its 42 others (43,7 %) of opinion reference service not yet effective. Later there are relation of meaning among medium, health energy, reference procedure, patient production, pattern of paying, service expense, distance, time, real and direct evidence and worker empathy to executing of effective reference in RSUD Regency of Cianjur.
From variable having relation of meaning with the dependent variable, there are most dominant independent variable relate to the dependent variable that is medium variable.
Based on research result hence suggestion raised by researcher from medium aspect in the form of assessment of medium equipment in puskesmas by Public Health Service of Regency of Cianjur and also add the supporter equipment like equipments of communications and ambulance, from procedure aspect in the form of making order written to hit the procedure of reference handling and socialize to worker and also complete the procedure of record-keeping and reporting, from aspect of physical evidence in the form of addition of seat medium and from empathy aspect in the form of make-up of ability of worker communications through training of customer service.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2004
T 12841
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sari Novrianti
"Proyek konstruksi bangunan memiliki ciri sebagai proyek yang kompleks dan melibatkan banyak disiplin ilmu. Pada siklus proyeknya, proyek konstruksi melibatkan semua pihak atau peserta yang berkepentingan dan terlibat dalam penyelenggaraan dan hasil proyek. Kontraktor sebagai bagian tim proyek konstruksi memiliki peranan dalam menentukan kesuksesan proyek. Dimana setiap anggota tim kontraktor memiliki tanggung jawab, tugas, dan wewenang masing-masing diharapkan dapat bekerja secara terpadu dan efektif pada tahap-tahap proyek konstruksi. Efektivitas kerjasama tim merupakan pendekatan yang efektif untuk mencapai efektivitas suatu organisasi.
Tujuan dari pnelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan faktor yang efektivitas tim yang paling berpengaruh terhadap kinerja biaya pada tahap pelaksanaan proyek konstruksi bangunan bertingkat.
Penelitian dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada anggota tim proyek yang terlibat langsung di dalam tim pelaksanaan proyek. Selanjutnya data primer yang diperoleh dianalisis dengan analisis Nonparametris yaitu analisis komparatif dan analisis asosiatif atau hubungan.
Berdasarkan analisis komparatif diperoleh tidak ada perbedaan yang signifikan anggota tim dalam menentukan tingkat efektivitas tim berdasarkan jabatan dan pengalaman responden. Hasil analisis asosiatif atau korelasi diperoleh bahwa efetivitas tim memiliki korelasi positif yaitu efektivitas yang tinggi maka kinerja biaya yang dicapai semakin meningkat.
Faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kinerja biaya diantaranya adalah setiap anggota mengetahui dan memahami jadwal waktu pelaksanaan proyek, kebebasan anggota tim untuk mengekspresikan ide atau pendapat, dan kepemimpinan dengan kredibilitas dan reputasi yang baik."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
T16879
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Himmatul Aliyah
"Kebijakan pemerintah di bidang pendidikan Nasional yang senantiasa mengundang kontroversi sejak diluncurkan adalah kebijakan ujian nasional. Kontroversi ini salah satunya disebabkan perbedaan interpretasi terhadap Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi landasan bagi penyelenggaraan Ujian Nasional. Pemerintah mengeluarkan kebijakan ujian nasional sebagai salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan di tanah air. Mutu pendidikan Indonesia sendiri dilaporkan berkualitas rendah. Laporan PISA tahun 2003 menyatakan siswa Indonesia berkualitas rendah dalam kemampuan Baca, matematika, dan IPA untuk rata-rata usia 15 tahun (SLTP dan SLTA). Menurut lembaga penelitian internasional ini Indonesia masih rnenduduki urutan terendah dari 41 negara di dunia.
Kebijakan ujian nasional mengundang banyak protes dan kritikan. Media massa sebagai saluran informasi masyarakat turut andil dalam polemik dan kontroversi yang terjadi. Dengan pemberitaan yang dikonstruksikan oleh media, masyarakat mendapatkan gambaran mengenai kebijakan ujian nasional dari proses konstruksi realitas yang dibangun media massa dengan menggunakan strategi pengemasan berita. Penggambaran media itu dapat dilihat dari berita yang ditampilkan semisal korban ujian nasional yang tidak lulus, demo menentang ujian nasional dan ekses lain dari ujian nasional baik positif maupun negatif.
Salah satu media massa yang berperan aktif dan konsisten dalam pemberitaan mengenai kebijakan ujian nasional adalah Surat Kabar Kompas. Dalam penelitian ini yang menjadi obyek penelitian adalah teks pemberitaan di surat kabar Kompas. Bentuk teks yang tersaji kepada khalayak tentunya sudah mengalami proses konstruksi sesuai dengan kebijakan media tersebut.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif penelitian ini berfokus pada observasi data berupa teks dan wacana pemberitaan kebijakan ujian nasional serta dilakukan wawancara mendalam dengan wartawan peliput UN dalam memperoleh gambaran produksi suatu berita. Berpijak pada paradigma konstruktivisme dan perspektif konstruksi realitas sosial dari Berger dan Luckmann juga ringkasan mengenai konstruksi realitas dari Littlejohn, penelitian ini bertujuan menggambarkan konstruksi realitas yang ditampilkan media massa dalam mewacanakan kebijakan ujian nasional.
Untuk membantu membedah konstruksi yang dibangun media terhadap pemberitaan atau wacana kebijakan ujian nasional digunakan salah satu metode dari analisis wacana yaitu model analisis framing dari Pan dan Kosicki yang mempunyai perangkat struktur seperti sintaksis, skrip, tematik dan retorik.
Dari hasil analisis ditemukan kecenderungan keberpihakan surat kabar Kompas terhadap pihak yang kontra terhadap ujian nasional. Dalam menentukan narasumber kompas cenderung memberikan porsi kepada partai politik tertentu dalam setiap skema beritanya. Pembingkaian terhadap ujian nasional yang dilakukan Kompas cenderung menampilkan ekses negatif dari kebijakan ujian nasional. Dalam wawancara mendalam dengan salah satu wartawan peliput ujian nasional, ditemukan sikap pribadi yang kontra terhadap kebijakan pemerintah tersebut, ditemukan pula proses pembentukan pemberitaan sehingga tersaji untuk khalayak.
Penelitian ini bukan untuk menyalahkan apa yang sudah dilakukan media tersebut dan menyalahkan apa yang dilakukan pemerintah, tetapi hanya untuk menggambarkan proses konstruksi realitas yang dilakukan oleh media massa terhadap kebijakan ujian nasional serta untuk menemukan pola pembingkaian dan kecenderungan ideologi dibalik konstruksi realitas yang disajikannya.
Hasil penelitian ini diharapkan berimplikasi praktis pada pekerjaan yang berhubungan dengan media massa diantaranya pekerjaan Public Relation, selain itu diharapkan memberikan manfaat akademik dan manfaat praktik bagi masyarakat, media dan pemerintah dalam komunikasi melalui media massa."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
T22399
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Budi Santosa
"Kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden merupakan peristiwa yang pertamakalinya bagi bangsa Indonesia. Dalam kampanye itu aktor politik berupaya untuk menciptakan citra dan opini yang posisif dimasyarakat melalui media massa, TVRI merupakan salah satu aiternatif media yang dapat dipergunakan sebagai media dalam pemberitaan kampanye. Pembentukan ctra itu sangat penting sebab tidak ada tindakan tanpa didasari citra. Citra merupakan unsur-penentu dalam tindakan (Nimmo, 2001: 4-5); Dengan demikian; persoalan penelitian ini adalah, sebagai apakah bangun citra kandidat presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikonstruksikan oleh TVRI?
Sesuai dengan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah mengetahui bangunan citra kandidat presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemberita.an TVRI selama mass kampanye pemilihan presiden putaran pertama Sesuai dengan metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Analisis framing yang mengadopsi model Gamson dan Modigliani (1989:2) maka paradigma penelitian ini konstruktivisme.
Sesuai dengan tema yang diangkat pasangan calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan calon wakil presiden Jusuf KalIa yaitu: menciptakan Indonesia yang aman, adil dan sejahtera. Bagi masyarakat Jawa, kondisi itu hanya bisa dicapai jika penguasa sejati, dimana memiliki kekuatan batin yang tangguh, memiliki sifat alus (halus). Halus dalam tutur kata, mampu mengendalikan emosi, selalu sopan. Penguasa demikian ini dalam mitologi jawa, dijuluk Satrio Piningit.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bangun citra kandidat presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pemeberitaan TVRI adalah Satrio Piningit. Package Satrio Piningit terbentuk dari berbagai elemen yang membentuk bingkai ini tersebut. Beberapa diantaranya dapat disebutkan disini, yaitu ketika kandidat presiden SBY berdialog dengan seorang pedagang, ia menggunakan bahasa jawa halus (kromo inggil). Dan ketika menanggapi issu negatif yang dialamatkan kepadanya, ia tetap sopan dan toleran. Kesediaan kandidat SBY menjenguk pasien di rumah sakit yang menderita akibat terkena ledakan balon gas, mengesankan bahwa kandidat ini memiliki sikap empati. Dengan demikian bagi kandidat Presiders SBY, hubungan antar manusia bersifat inter subyektif, orang lain tidak dianggap sebagai sarana untuk mencapai tujuannya. Sifat hubungan demikian merupakan hubungan manusiawi.
Secara akademis, khususnya bagi media televisi dalam pembingkaian berita perlu disesuaikan dengan praksis sosial budaya yang berlaku dimana pesan hendak disampaikan. Selain itu, perlu mendapatkan perhatian dalam pengajaran pengambilan gambar untuk mendapatkan kesan tertentu."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2005
T22657
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gurning, Berman Asbudin
"In frastruktur fisik, terutama jaringan jalan, sebagai pembentuk struktur ruang nasional memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah maupun sosial budaya kehidupan masyarakat. Dalam konteks ekonomi, jalan sebagai modal sosial masyarakat merupakan tempat bertumpu perkembangan ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi sulit dicapai tanpa ketersediaan memadai.
Setelah pembaharuan mengenai peraturan mengenai jalan tol, dengan digantikannya UU No. 13 Tahun 1980 dengan UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan. Dalam UU Jalan yang baru diatur pembagian kewenangan penyelenggaraan jalan yang tegas memenuhi tuntutan otonomi; penyelenggaraan jalan tol yang tidak monopolistik; peran masyarakat yang lebih nyata dalam penyelenggaraan jalan. Hal ini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2005 mengenai jalan tol, serta dibentuknya Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) melalui Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 295/PRT/M/2005 tanggal 28 Juni 2005, merupakan dorongan terwujudnya percepatan penyelenggaraan jalan tol dengan melibatkan partisipasi aktif Pemerintah Daerah dan Badan Usaha.
Di Indonesia saat ini terdapat 500 km jalan tol yang dioperasikan oleh PT. Jasa Marga serta sekitar 100 km yang dioperasikan oleh pihak swasta. Secara total, jumlah jalan tol
di Indonesia masih jauh dibanding Malaysia, Korea atau Jepang. Sesuai dengan rencana pemerintah untuk membangun jalan tol sepanjang 1,600 km mulai tahun 2005 sampai dengan tahun 2209 membutuhkan dana sekitar 153 trilliun rupiah serta sekitar 95 trilliun diharapkan merupakan investasi dari pihak swasta
Physical infrastructure, especially the road network, as the shaper of the national spatial structure has a very strong relationship with the economic growth of a region as well as the socio-cultural life of the community. In the economic context, roads as social capital for the community are a place to rely on economic development, high economic growth is difficult to achieve without adequate availability.
After the renewal of regulations regarding toll roads, with the replacement of Law no. 13 of 1980 with Law no. 38 of 2004 concerning Roads. The new Road Law regulates the division of authority for road administration that strictly fulfills the demands of autonomy; non-monopolistic toll road operation; a more tangible role of the community in road management. This is reinforced by Government Regulation Number 15 of 2005 concerning toll roads, as well as the establishment of the Toll Road Management Agency (BPJT) through the Decree of the Minister of Public Works of the Republic of Indonesia Number 295/PRT/M/2005 dated June 28, 2005, which is the impetus for the realization of the acceleration of toll road operations. by involving the active participation of the Regional Government and Business Entities.
In Indonesia, there are currently 500 km of toll roads operated by PT. Jasa Marga and about 100 km operated by private parties. In total, the number of toll roads in Indonesia is still far from Malaysia, Korea or Japan. In accordance with the government's plan to build a 1,600 km toll road from 2005 to 2209, it requires funds of around 153 trillion rupiah and around 95 trillion is expected to be an investment from the private sector.
"
Depok: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2008
T24372
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Arief Akbar
"Investasi dalam saham dinilai mempunyai risiko lebih besar dibanding investasi bentuk lain seperti obligasi, tabungan dan deposito. Hal ini disebabkan return yang diharapkan dari saham tidak pasti, di mana return saham diperoleh dari dividen dan capital gain. Kesanggupan perusahaan untuk membayar dividen ditentukan oleh kemampuan perusahaan menghasilkan laba sedangkan capital gain ditentukan oleh fluktuasi harga saham (perbedaan harga beli dan harga jual).
Price earning ratio adalah model valuasi yang sering digunakan para analis untuk menentukan harga saham. Perbandingan antara harga saham dan earning per share yang ditunjukkan dengan price earning ratio adalah pertumbuhan dividen yang berarti laba. Semakin tinggi pertumbuhan dividen maka semakin tinggi price earning ratio (Husnan 1996, h. 279-280).
Penelitian ini mencoba melihat berbagai faktor fundamental yang mempengaruhi price earning ratio perusahaan. Faktor-faktor tersebut diwakili oleh price hook value, dividend pay out, leverage ratio, operating profit margin, return on equity, return on asset dan current ratio. Perusahaan yang dijadikan sample adalah perusahaan yang konsisten di sektor Jakarta Islamic Index, Bursa Efek Jakarta tahun 2004.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut secara bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat price earning ratio dan variabel price book value mempunyai pengaruh yang paling dominan.
Dengan demikian keputusan untuk melakukan investasi dalam saham perusahaan dengan berpedoman pada price earning ratio hendaknya juga memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi price earning ratio.

Stock investment is predicted has bigger risk than investment in other form such as saving account, saving bond, and bank deposit, because we can not certainly expected the return of the stock which gained from dividend and capital gain. The capability of a company to pay dividend is determined by provitoutcome of company itself, while capital gain is determined by fluctuation of stockrate (differentiation of buying and selling price).
Price earning ratio is valuation model which is often used by the analyst to determine of stock price. The comparison between the stockrate and earning per share which is showed by Price Earning Ratio, is the growth of dividend - means profit. The higher the growth it gains, the higher price earning ratio too (Husnaa - 19%, h 279 - 280).
Through this research I try to see various fundamentally factors that influence Price Earning Ratio of a company. The factors are price book value, dividend pay out, return on asset, return on equity, current ratio, leverage ratio don operating profit margin. As the sample of this research is the company who consist in Jakarta Islamic Index sector, at Jakarta Stock Exchange period 2004.
According to the result of this research showed that the factors in the same times influenced to once earning ratio, meanwhile variable price hook value has bigger influence.
It means that the decision of doing investment in stock company which is based on price earning ratio, it will be better to pay attention the factors that influence of price earning ratio.
"
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2005
T15215
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nasution, Fadil Azmi
"Ideologi bekerja melalui bahasa oleh karena itu mempelajari ideologi berarti mempelajari cara-cara di mana makna (pemberi makna) secara terus menerus menjalankan relasi dominasi. Hassan Hanafi menyebut teks sebagai praktik ideologi, dalam hal ini teks pun bersifat arbiter karena merupakan pilihan penulisnya pada satu maksud tertentu dari keragaman fenomena yang ia hadapi untuk sesuatu di masa mendatang. Tujuan penulisan teks tidak lain bersifat etis dan ideologis, disebut etis karena penulisan suatu momentum sejarah ke dalam teks berkaitan dengan keinginan memberi petunjuk tertulis kepada generasi mendatang, sementara ideologis karena teks merupakan sarana efektif untuk mewariskan kekuasaan. Bahasa kebijakan dalam Undang-undang pars dicurigai sebagai sebuah teks yang mengalami dinamika kepentingan antara kepentingan penguasa, kepentingan pemilik media dan kepentingan publik. Penelitian ini menyandarkan diri pada paradigma konstruktivisme. Alasannya adalah sebuah bahasa kebijakan, baik itu Undang-undang Pokok Pers No.21 Tahun 1982 dan Undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999 merupakan hasil dari proses pembentukan realitas. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Metode yang digunakan dalarn penelitian ini adalah Hermeneutika Habermas. Hermeneutika memberikan fokus pada teks, pembacaan, pemahaman, tujuan penulisan, konteks, situasi historis, dan kondisi psikologis pembaca maupun pengarang teks. Adapun Hermeneutika Habermas merupakan hermeneutika kecurigaan karena berkepentingan untuk menyingkap tabir-tabir ideologis dibalik sebuah teks. Penelusuran data maupun analisis dilakukan pada tiga level pemahaman: Pemahaman langsung terhadap alam material dengan menginterpretasikan isi teks kebijakan, Pemahaman Manusia lain dengan meneliti pemahaman para penafsir terhadap teks kebijakan dan Pemahaman atas kebudayaan dengan meneliti fenomena regulasi kebijakan dikaitkan dengan situasi dan kondisi sosial dan ekonomi politik yang berlaku pada saat pembuatan teks kebijakan. Dari seluruh proses penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pemaknaan terhadap Undang-undang Pokok Pers No. 21 Tahun 1982 dan Undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999 tidak terlepas dari sejumlah faktor individu dan faktor sosial dalam dimensi situasi dan zaman yang melingkupinya. Pada Undan-gundang Pokok Pers No. 21 Tahun 1982, kekuasan terhadap kebebasan pers sepenuhnya tergantung kepada pemerintah, tidak hanya terhadap makna kebebasan pers itu sendiri, tapi juga undang-undang ini memberikan "kekuasaan penuh" kepada pemerintah untuk membuat peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kehidupan pers serta penempatan para birokrasi pada lembaga-lembaga yang berfungsi untuk mengontrol kehidupan pers. Pada Undang-undang Pers No. 40 tahun 1999, terlihat kuatnya "ideologi Pasar" pada kehidupan pers. Kekuasaan terhadap pers sepenuhnya tergantung pada pasar, kuat dugaan kehidupan pers menjadi monopoli konglomerasi media, pers lebih banyak menyajikan berita-berita yang di inginkan masyarakat dibandingkan berita-berita yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pada kondisi ini, pers belum mampu menjalankan fungsinya sebagai ruang publik dalam proses demokratisasi yang dinamis. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Undang-undang Pers No.40 tahun 1999, bukan merupakan UU lex specialis derogat lex generalis terhadap undang-undang lain seperti yang di kemukakan sebagian kalangan pers, dikarenakan undang-undang ini hanya mengatur tiga hal yang dapat dituduhkan terhadap pelanggaran jurnalistik yakni norma-norma agama, rasa kesusilaan masyarakat dan asas praduga tidak bersalah, di luar ketiga haI ini Undang-undang ini membuka diri diberlakukannya Undang-undang lain, di samping itu juga Undang-undang ini tidak memenuhi syarat untuk menjadikan dirinya sebagai lex specialis, yakni Rezim hukumnya tidak sama dan serumpun dengan undang-undang yang mau di lex specialrs-km, tidak adanya satu perbuatan dilarang oleh dua aturan yang berbeda dan tidak ada ancaman hukum dari lex specialis yang jauh lebih berat dari lex generalis. Kebebasan kehidupan pers, pada akhirnya merupakan keinginan semua pihak agar ruang publik sebagai wahana pengimplementasian kehidupan demokratis yang dinamis dapat berjalan, tetapi tentu saja kebebasan ini tidak boleh hanya sebatas kebebasan yang dimonopoli oleh segelintir orang, tetapi harus dibumikan menjadi kenyataan yang memberikan realitas kesempatan bagi semua elemen masyarakat dalam mengakses seluruh informasi yang dibutuhkannya. Kepentingan publik harus menjadi prioritas media massa, karenanya kebebasan pers harus didasarkan pada paradigma etis, norma hukum dan profesionalisme para jurnalis dalam menyajikan pemberitaannya."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
T21522
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>