Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Anindya Hana Iradhati
"Griseofulvin merupakan obat antifungi yang memiliki kelarutan yang buruk serta dapat memberikan efek samping apabila digunakan secara oral dalam jangka panjang; seperti proteinuria, nefrosis, leukopenia, dan hepatitis. Griseofulvin dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan mikroemulsi untuk meningkatkan kelarutannya. Tujuan penelitian ini adalah membuat dan mengevaluasi formulasi mikroemulsi gel untuk penggunaan topikal sehingga meningkatkan kelarutan dan keamanan griseofulvin. Formula mikroemulsi yang didapatkan dari hasil optimasi mengandung 5% asam oleat sebagai fase minyak, 25% tween 80 sebagai surfaktan, dan 20% etanol (96%) sebagai kosurfaktan. Pengamatan organoleptis menunjukkan mikroemulsi memberikan warna kuning dan transparan, sementara mikroemulsi gel memberikan warna kuning dan agak keruh. Sediaan mikroemulsi dan mikroemulsi gel yang dihasilkan memiliki ukuran globul 158.0 nm dan 226.0 nm dan stabil pada penyimpananpada temperatur 4°C ± 2°C, 25°C ± 2°C, dan 40°C ± 2°C.

Griseofulvin is an antifungal drug with low solubility and several serious side effects that could occur when used orally for long period of time, such as proteinuria, nephrosis, leucopenia, and hepatitis. Griseofulvin solubility could be enhanced by formulating it into microemulsion. The main objective of this research is to make and evaluate the formulationof griseofulvon microemulsion gel for topical use to increase the solubility and safety of the drug. The optimized microemulsion formula contains 5% oleic acid as oil phase, 25% tween 80 as surfactant, and 20% etanol (96%) as cosurfactant. Organoleptic observation of microemulsion showed clear and transparent yellowish color, while the microemulsion gel showed hazy yellowish color. Both microemulsion and microemulsion gel have alcoholic smell. The globule size of microemulsion and microemulsion gel are 158.0 nm and 226.0, respectively. Griseofulvin microemulsion gel was stable at temperature 4°C ± 2°C, 25°C ± 2°C, and 40°C ± 2°C."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2016
S65328
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Isa Bella
"Pendahuluan: Pasien yang dirawat di ICU berisiko tinggi terserang kandidiasis invasif. Pemberian antijamur empirik dini dapat memperbaiki kondisi klinis pasien dan menurunkan angka kematian. Candida Score dari Leon mempunyai sensitifitas dan spesifisitas yang baik untuk menggolongkan pasien ICU yang memang benar membutuhkan terapi empirik antijamur. Penelitian ini menganalisis kesesuaian kriteria Candida Score dan hasil kultur darah dengan pemberian antijamur pada pasien sepsis di ICU RSCM.
Metodologi: Studi potong lintang dilakukan pada pasien sepsis di ICU RSCM pada Maret 2015-Oktober 2015. Dilakukan kultur pada spesimen darah, urin, dan sekret saluran nafas, selanjutnya dibiakkan. Karakteristik pasien dan riwayat klinisnya dicatat. Candida Score dihitung pada setiap pasien kemudian diuji asosiasinya dengan terapi yang didapatkan.
Hasil: Dari 100 pasien 57 pasien mendapatkan antijamur. Proporsi pasien yang mendapat antijamur yaitu 50 , 17 , 57 , 83 , dan 100 pada kelompok pasien dengan Candida score 0-4 berturut-turut. Dalam penelitian ini tidak kami dapatkan pasien dengan Candida score=5. Hasil kultur darah positif Candida didapatkan pada 4 orang pasien dengan angka kematian sebesar 100 . Tiga pasien kandidemia dengan Candida score >3 mendapatkan antijamur setelah hasil kultur darah positif Candida.
Kesimpulan: Terdapat asosiasi bermakna antara kriteria Candida score dengan pemberian antijamur pada pasien sepsis di ICU RSCM p3 tidak mendapatkan terapi empirik.

Introduction Prompt empirical antifungal therapy is essential for controling invasive candidiasis and has been shown to reduce mortality. Candida Score, established by Leon, has a good sensitivity and specivicity to distinguish critically ill patients whose invasive candidiasis is highly probable. This study analyzed the conformity between candida score criteria and blood culture results with the antifungal administration in patients with sepsis at the ICU of Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital RSCM
Methods A cross sectional study was conducted from March October 2015 at the ICU of RSCM. Critically ill patients who exhibited sepsis were included in this study. The urine, blood, and respiratory secrete were collected and were cultured in the microbiology laboratory. Each patient rsquo s characteristics and medical history were also recorded. The candida score was calculated and then tested for their association with treatment obtained.
Results Of the 100 patients, 57 patients received antifungal therapy, with the proportion of 50 , 17 , 57 , 83 , and 100 in the patients group broken by the Candida Score of 0 to 4 respectively. There rsquo s no patient with Candida Score of 5. Candida positive blood culture results candidaemia were observed in 4 patients, with a mortality rate of 100 . Three of which had the score of 3 but received antifungal therapy after the positive blood culture results were obtained.
Conclusion There is a significant association between Candida Score criteria with antifungal administration in septic patients in the ICU of RSCM p 3 did not get empiric antifungal therapy. "
Depok: Universitas Indonesia, 2016
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Agusdini Banun Saptaningsih
"Telah dilakukan penellUan aktivitas antibakteri dari getah tumbuhan EtLphorba ant iquorvin. Linn terhadap kuman Pseticloraon.as aer-ugnosa ATCC 27853 dan Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan
antijamur terhadap jamur Tr?Lcophyton rubrvJrL. dan Cand?Lda aLbtcans,
yaitu dengan menentukari aktivitas anti bakteri dan antijamur
dengan metoda cakram serta menentukan kadar hambat minimal dengan
metoda pengenceran tabung.
Dalam penelitian mi diunakan getah segar dan getah yang
di k er I ngk an. Penyar I an dli ak uk an dengan menggunak an sothl et
dengan pelarut petroleum benzefi, kloroform, etanol dan air.
Hasil penelitlan menunjukkan báhwa getah segar, sari etanol
95°% dan sari air menunjukkan aktivitas antibakteni terhadap kuman
Pseudoraonas aeruetnosa ATCC 27853 dan StaphyLococcvs avreus ATCC
26923 dan aritijamur terhadap jamur Tricophyton rubrwn, sedangkan
sari petroleum benzen dan sari kloroform tidak mempunyai
aktivitas antlbakteri dan antijamur terhadap kuman dan jamur uji.
Dari seiuruh sari dan getah segar E'uphorbiLa ant iquoruin Linn
yang diuji, kadar hambat minimal yang terendah adalah 488,28
g,/cc., yaltu dari sari etanol dan getah segar terhadap
Staphylococcus aureus dan getah segar terhadap TriLcophyton
rubrum.. Kadar hambat minimal yang ten ti nggi adal ah 31,25 mgVcc
yaltu kadar hambat minimal getah segar, sari ètanol 95°% dan sari
air dari getah EuphorbiLa ant Lquorvia Linn terhadap Psezidomonas
aerunosa ATCC 27853."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1991
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library