Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 153 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rambe, Adrianus
"Distribusi Beta-Pareto merupakan distribusi kontinu yang dapat memodelkan data yang unimodal dan heavy-tailed. Distribusi Beta-Pareto merupakan hasil pengkombinasian antara distribusi Pareto dan distribusi Beta menggunakan distribusi Beta-Generated. Pada tugas akhir ini akan dibahas mengenai pembentukan distribusi Beta-Pareto, fungsi kepadatan probabilitas, dan karakteristik-karakteristik distribusi Beta-Pareto lainnya. Penaksiran parameter dari distribusi Beta-Pareto menggunakan metode maksimum likelihood. Sebagai ilustrasi, akan digunakan data debit aliran air sungai Sunter selama setahun pada tahun 1995 yang akan dimodelkan dengan distribusi Beta-Pareto.

Beta-Pareto distribution is a continuous distribution which can model unimodal and heavy-tailed data. Beta-Pareto distribution is derived from Pareto distribution and Beta distribution using the Beta-Generated distribution. It will be explained how to construct the Beta-Pareto distribution, probability density function, and other characteristics of Beta-Pareto distribution. Maximum likelihood method is used for estimating Beta-Pareto?s parameters. Discharge rates of the Sunter River in 1995 are used to illustrate the applicability of Beta-Pareto distribution."
2016
S62728
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sari Dewi Rosady
"Infeksi HIV menghasilkan radikal bebas yang merusak sel dan berbagai organ tubuh. Antioksidan berperan penting untuk mengatasi kerusakan akibat radikal bebas. Penelitian dengan desain potong lintang ini merupakan bagian dari penelitian bersama untuk mengetahui korelasi kadar antioksidan (beta karoten, vitamin C, E dan seng) dengan kadar SOD pada penderita HIV/AIDS di Pokdisus AIDS FKUI/RSUPNCM, Jakarta. Pengumpulan data dilakukan sejak akhir bulan Februari 2013 sampai Maret 2013 dengan metode consecutive sampling, didapatkan 52 orang subyek memenuhi kriteria penelitian. Hasil penelitian menunjukkan median usia subyek 33 (24-40) tahun dengan 51,9% laki-laki. Sebanyak 94,2% subyek mendapatkan terapi anti retrovirus. Nilai median jumlah limfosit T CD4+ adalah 245 (50-861) sel/µL dan 63,5% subyek berada pada kelompok CDC II. Status gizi 84,6% subyek normal dan lebih dengan nilai median 21,4 (14,4-32,4) kg/m2. Nilai rerata asupan energi subyek 1850,8±454,6 kkal/hari, 76,9% subyek memiliki asupan energi kurang dari kebutuhan total harian. Nilai Median asupan lemak subyek 51,4 (22-129,4) gram/hari dan 63,5% subyek memiliki asupan lemak kurang dari energi total. Semua subyek memiliki asupan serat yang kurang dari angka kecukupan serat, nilai rerata asupan serat subyek adalah 8,6±3,6 gram. Nilai rerata asupan beta karoten subyek 10,92±4,37 mg/hari, 88,5% memiliki asupan beta karoten cukup. Nilai median kadar beta karoten subyek 0,21 (0,01-0,72) µmol/L dan 76,9% subyek memiliki kadar beta karoten rendah. Rerata kadar SOD subyek sebesar 1542,1±281 U/gHb dan 53,8% subyek memiliki kadar SOD normal. Tidak didapatkan korelasi bermakna antara kadar beta karoten dengan SOD pada penderita HIV/AIDS (r=-0,174, p=0,217).

Free radicals formed on the course of HIV infection can cause cellular and multiple organ damage. Antioxidants play an important role to minimize damage caused by these free radicals. This research is done using cross sectional design and is part of a joint study to assess the correlation between antioxidants (beta-carotene, vitamin C, E, and zinc) and SOD levels in HIV/AIDS patients at Pokdisus AIDS FKUI/RSUPNCM, Jakarta. The study is done from late February 2013 to March 2013 using consecutive sampling method, 52 subjects matched the study’s criteria. Study shows the age median value is 33 (24-40) years old, with 51.9% male. As much as 94.2% subjects were receiving anti retroviral therapy. Median value of CD4+ T lymphocyte count is 245 (50-861) cell/µL, 63.5% subjects belong in the CDC II category. Nutritional status for 84.6% subjects was normal and overweight with median value of 21.4 (14.4-32.4) kg/m2. Mean score for energy intake is 1850.8±454.6 kcal/day and as much as 76.9% subjects have energy intake less than total daily requirement. Median value of fat intake is 51.4 (22-129.4) grams/day and 63.5% subjects have fat intake less than total energy. All subjects were found to have fiber intake less than individual fiber requirement with mean score of 8.6±3.6 grams. Subjects’ mean score for beta-carotene is 10.92±4.37 mg/day and 88.5% of the subjects have adequate beta-carotene intake. Median value of beta-carotene level is 0.21 (0.01-0.72) µmol/L and 76.9% subjects have low beta-carotene level. SOD level mean score is 1542.1±281 U/gHb, 53.8% subjects had normal SOD level. This study found no significant correlation between beta-carotene and SOD levels in HIV/AIDS patients (r=-0.174, p=0.217)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yoza Ananda
"Penelitian dalam karya akhir ini akan membahas mengenai pengaruh pergerakan indikator ekonorai, seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kurs Rupiah (IDR) terhadap US Dollar (USD), terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Sektoral yang kemudian dilanjutkan dengan pengukuran lime varying beta industri di Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode Januari 1996 - Desember 2001. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder harian yang diperoleh dari informasi yang terdapat di Bursa Efek Jakarta, meliputi Indeks Harga Saham Sektoral dan Indeks Harga Saham Gabungan , serta data mengenai kurs IDR terhadap USD yang diperoleh di Bank Indonesia, Data diawali pada tahun 1996 - 2001 dengan maksud untuk mengetahui fenomena resiko yang akan terjadi dalam resiko investasi saham di pasar modal Indonesia khususnya Bursa Efek Jakarta- Dengan demikian, perbedaan keadaan yang terjadi dapat diketahui dengan jelas pada saat sebelum terjadinya krisis ekonomi, pada saat Indonesia mengalami puncak krisis ekonomi tahun 1998 dan pada saat setelah terjadinya puncak krisis ekonomi.
Penelitian ini pun akan mencoba untuk membuat persamaan mengenai pengaruh faktor-faktor tersebut dengan memperhatikan nilai error I residu persamaan, karena residu tidak selamanya bersifat konstan sepanjang waktu (homoscedastic) tetapi residu juga dapat bersifat tidak konstan (heteroscedastic). Dengan memperhatikan pergerakan vofatilitas residu yang ada, maka hal tersebut dapat menjelaskan pergerakan tingkat resiko dimasa yang lalu yang selanjutnya akan digunakan untuk memperkirakan tingkat resiko di masa yang akan datang.
Selanjutnya dalam pengukuran time varying beta, interval yang akan digunakan adalah mingguan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah adanya efek diskontinuitas serta mengurangi noise yang terjadi. Model conditional beta dapat bekerja dengan baik apabila didukung oleh kesuksesan dalam membangun model pada conditional volatility dari serial return pada data yang akan diteliti. Untuk menghitung conditional time varying beta, hal yang harus dilakukan terlebih dahulu yaitu menghitung conditional covariance antara IHSS dan IHSG, conditional variance dari masing-masing sektor industri, dan conditional variance dari IHSG.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran signifikansi faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Sektoral menunjukkan bahwa IHSG secara keseluruhan memiliki pengaruh yang cukup berarti dalam pergerakan IHSS pada periode penelitian. Sedangkan kurs rupiah terhadap US dollar kurs hanya mampu mempengaruhi pergerakan IHSS pada beberapa sektor industri saja seperti agriculture, finance, infrastructure, mining, miscellaneous industry, dan property. Sedangkan faktor lag juga turut mempengaruhi masing-masing sektor industri hanya pada periode tertentu saja. Selanjutnya jika dilihat dari hasil penelitian, terbukti bahwa beta industri mingguan pada sektor industri secara umum memang bersifat time varying of risk dan mampu menjelaskan mengenai kemungkinan adanya perbedaan resiko, dan resiko yang conditional terhadap informasi sebelumnya. Beta industri yang tidak terbukti bersifat time varying of risk paling banyak terjadi pada tahun pada tahun 1996, sedangkan pada tahun 1997, seluruh industri memiliki beta yang bersifat time varying of risk. Kinerja yang baik terhadap pembuktian terhadap pemodelan conditional beta ini sangat dipengaruhi oleh suksesnya penggunaan model GARCH(1,1) dalam menjelaskan conditional volatility dalam serial return data yang ada."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2002
T717
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Teta Taufik Rijal
"Pada portofolio investasi yang kompisisinya sebagian besar terdiri dari ekuitas saham, akan membutuhkan fokus yang lebih besar untuk melihat pergerakan return saham. Dalam penelitian mi akan dikaji mengenai volatilitas return reksa dana saham dan kinerjanya. Pengukuran volatilitas dilakukan melalui pendekatan model GARCH pada 18 Reksa Dana saham yang telah aktif paling tidak 3 tahun. Pergerakan dan sensitivitas dari reksa dana saham tentu saja dapat diduga oleh beberpa faktor beta selain beta dari indeks pasar. Dalam hal mi dasar dari pemodelan disini merupakan turunan dari Multfrictor Model (APT). Namun pendekatan variabel independentnya (faktor makro) di proxy dengan vaniabel yang berbeda. Faktor-faktor yang dijadikan vaniabel independet tersebut adalah return indeks harga saham gabungan (IHSG) , return kurs rupiáh terhadap US.Dollar dan return JIBOR. Variabel independent yang tidak signifikan akan dihilangkan dari model barn setelah itu dibuat pemodelan volatilitasnya melalui mean process dan variance process. Berdasarkan sensitivitas yang dapat dilihat dari model, sebagiai besar reksa dana masih menjadikan faktor IHSG sebagai penduga resiko. Terdapat tiga reksa dana yang memiliki proxy faktor tambahan lain yaitu DR. Reksa dana tersebut adalah Manulife Dana Saham, Panin Dana Maksima dan Si Dana Saham. Berdasarkan pemodelan volatilitas dengan pendekatan model GARCH didapatkan 17 reksa dana memiliki gejala (heteroscedastic). Namun 4 diantaranya masih kurang kuat jika volatilitasnya dijelaskan dengan menggunakan pendekatan GARCH. Reksa dana tersebut diantaranya Bahana Dana Prima, Maestrodinamis, Platinum Saham dan Scbroder Dana Prestasi Plus. Sedangkan 1 reksa dana lagi ditemukan memiliki vanians yang konstan (homoscedastic). Pada pengkuran kinerja akan dipilih 3 reksa dana urutan teratas. Berdasarkan indeks sharpe : Manulife Dana Saham, Trim Kapital, Fortis Ekuitas. Berdasarkan Indeks Treynor yaitu ; Fortis Ekuitas, Panin Dana Maksima dan Trim Kapital. Sedangkan pada Indeks Jensen yaitu Fortis Ekuitas, Panin Dana Maskima dan Trim Kapital."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
T23473
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Susatyo
"Pada kondisi tertentu, harga saham dapat mengalami fluktuasi yang cukup tajam (lompatan). Jika model harga saham tidak memperhatikan kemungkinan terjadinya lompatan, prediksi harga saham kurang dapat mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Karena itu dibutuhkan model Jump-Diffusion (JD) yang dapat menangkap lompatan tersebut. Salah satu model JD adalah model Pareto-Beta Jump- Diffusion (PBJD). Model yang diusulkan oleh C.A Ramezani dan Y. Zeng (1998) ini merupakan perluasan model Merton Jump-Diffusion (MJD) (1976). Waktu muncul lompatan ke atas dan ke bawah masing-masing direpresentasikan oleh suatu proses Poisson, sedangkan besar lompatan ke atas berdistribusi Pareto(ηu), dan besar lompatan ke bawah berdistribusi Beta(ηd,1). Model PBJD memiliki koefisien difusi s konstan yang menyatakan volatilitas model. Pada tesis ini volatilitas konstan s diganti menjadi volatilitas stokastik mengikuti model Heston (1993). Model PBJD dengan volatilitas stokastik selanjutnya disebut sebagai model PBJDVS, dan model PBJDVS ini berbentuk sebuah sistem Persamaan Diferensial Stokastik (PDS). Tesis ini membahas bagaimana menentukan solusi analitik model PBJDVS. Berdasarkan solusi analitik tersebut, ditentukan probability density function (pdf) log-return saham satu periode model PBJDVS. Selain itu, berdasarkan solusi analitik, dilakukan simulasi lintasan (sample path) harga saham dan simulasi bentuk pendekatan kurva pdf log-return saham satu periode model PBJDVS. Hasil simulasi lintasan harga saham model PBJDVS dengan parameter tertentu dapat menunjukkan adanya lompatan.

In certain conditions, stock price can fluctuate highly (jump). If a stock price model ignores the possiblity of jump, the stock price prediction can?t adequately reflect the real condition. That is why Jump-Diffusion (JD) model that can catch the jump is needed. One of the JD models is Pareto-Beta Jump-Diffusion (PBJD) model. The model, proposed by C.A Ramezani and Y. Zeng (1998), is an extension of Merton Jump-Diffusion (MJD) (1976) model. Each of the up and down jump occurence times are represented by a Poisson process, while the up-jump magnitudes are distributed Pareto(ηu), and the down-jump magnitudes are distributed Beta(ηd,1). PBJD model has constant diffusion coeficient s that means volatility of the model. In this thesis the constant volatility s is replaced by a stochastic volatility following Heston model (1993). PBJD model with stochastic volatility will be called PBJDVS model, and this PBJDVS model has the form of Stochastic Differential Equation (SDE) system. This thesis discusses how to determine analytic solution of PBJDVS model. Based on this analytic solution, probability density function (pdf) for one-period stock log-returns of PBJDVS model is determined. In addition, based on analytic solution, sample path of stock price and approximate curve of pdf for one-period stock log-returns of PBJDVS model are simulated. The simulation of sample path of stock price with certain parameters can show jump."
Depok: Universitas Indonesia, 2010
T28834
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmatullah Irfani
"ABSTRAK
Latar Belakang: Beta Defensin-1 saliva merupakan salah satu peptida anti mikroba yang mempunyai peranan penting dalam pertahanan imun bawaan terhadap serangan mikroba oral. Aktifitas merokok dapat menyebabkan perubahan profil saliva dan profil kesehatan rongga mulut yang dapat mempengaruhi kadar Beta Defensin-1 saliva. Penelitian sebelumnya mengenai kadar Beta Defensin-1 saliva pada perokok dengan periodontitis kronis dan belum ada penelitian mengenai penilaian kadar Beta Defensin-1 pada perokok dikaitkan dengan profil merokok dan profil kesehatan rongga mulut.
Tujuan: Mengetahui profil saliva dan profil kesehatan rongga mulut serta pengaruhnya terhadap perubahan kadar Beta Defensin-1 saliva pada perokok dan bukan perokok, dikaitkan dengan profil merokok partisipan, yang terdiri dari jenis rokok, durasi merokok, dan frekuensi merokok serta kondisi kesehatan rongga mulut.
Metode: Sebanyak 68 partisipan, yang dibagi menjadi 2 kelompok: 44 (64,7%) perokok dan 24(35,5%) bukan perokok. Data dikumpulkan dari anamnesis, status klinis (gigi, mukosa rongga mulut, dan saliva), dan pemeriksaan laboratorium. Sampel saliva non-stimulasi dengan metode pengumpulan spitting dan disimpan pada -80°C. Analisis kadar Beta defensin-1 dengan menggunakan kit Beta Defensin-1 (Elabscience®, USA), dengan uji ELISA.
Hasil Penelitian: Kadar Beta Defensin-1 saliva perokok dibandingkan dengan pada bukan perokok secara statistik terdapat perbedaan signifikan (p< 0,05). Profil merokok (jenis, durasi dan frekuensi) tidak mempengaruhi kadar Beta Defensin-1, namun kadar Beta Defensin-1 saliva pada perokok jenis kretek cenderung lebih tinggi dibanding perokok non-kretek. Keberadaan lesi rongga mulut tidak berpengaruh terhadap kadar Beta Defensin-1 saliva. Profil saliva pada perokok khususnya pH lebih rendah dan berbeda secara statistik dibandingkan dengan bukan perokok (p< 0,05). Laju Alir Saliva pada perokok lebih tinggi dibandingkan bukan perokok. Nilai OHIS dan DMF-T pada kelompok bukan perokok cenderung lebih baik dibandingkan dengan perokok.
Kesimpulan: Aktifitas merokok berpengaruh terhadap peningkatan kadar Beta Defensin-1 saliva. Terdapat perbedaan bermakna pada kadar Beta Defensin-1 antara perokok dan bukan perokok. Peningkatan kadar Beta Defensin-1 cenderung terjadi pada rongga mulut yang terdapat lesi. Perokok lebih rentan mengalami karies dan penurunan pH saliva dibandingkan dengan bukan perokok. Profil kesehatan bukan perokok lebih baik jika dibandingkan dengan perokok.

ABSTRACT
Background: Salivary Human Beta Defensin-1 (SHBD-1) is one of the anti-microbial peptides that has an important role in innate immune defense against oral microbial attacks. Smoking activity can cause changes in saliva profile and health profile of the oral cavity that can affect levels of SHBD-1. The previous studies were focused on SHBD-1 levels in smokers with chronic periodontitis, but there are no studies to assess the SHBD-1 levels in smokers and associated with smoking profiles and oral health profile.
Objective: To compare the salivary profile and health profile of the oral cavity and its effect on changes in SHBD-1 levels in smokers and nonsmokers. The alteration of SHBD-1 levels was associated with smoking profiles of the participants, which consist of the type of cigarette, duration of smoking, and frequency of smoking and oral health conditions.
Methods: A total of 68 participants were divided into 2 groups: 44 (64.7%) smokers and 24 (35.5%) non-smokers. Data were collected from interviews, clinical examination (teeth, oral mucosa, and saliva), and laboratory examination. The unstimulated salivary flow rate was collected by spitting method and stored at -80 ° C. SHBD-1 level was analyzed by ELISA test using Human Beta Defensin-1 kit (Elabscience®, USA).
Results: The smoker's SHBD-1 levels was compared with non-smokers, and there were statistically significant (p <0.05). The smoking profile (type, duration and frequency) did not affect the SHBD-1 levels, but the SHBD-1 levels in kretek smokers tended to be higher than non-clove cigarette smokers. The presence of oral lesions did not affect the SHBD-1 levels. The saliva profile in smokers typically in lower pH was statistically different with nonsmokers (p <0.05). Salivary Flow Rate (SFR) for smokers is higher than for nonsmokers. OHIS and DMF-T indexes in nonsmokers tend to be better than smokers.
Conclusion: Smoking effected the increasing levels of SHBD-1. There were significant differences in SHBD-1 levels between smokers and nonsmokers. Increasing SHBD-1 levels tend to occur in the oral cavity with lesions. Smokers are prone to have caries and the decrease of salivary pH compared to nonsmokers. The health profile of non-smokers is better than smokers."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2019
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Raudhatul Hidayah
"Beta pasar adalah ukuran sensitivitas secara umum suatu saham atas gejolak pasar. Karel dan Sackley (KS, 1993) mengemukakan bahwa perbedaan beta pasar antara berbagai perusahaan dipengaruhi secara signifikan oleh faktor-faktor khusus perusahaan yang dapat diukur dengan informasi akuntansi.
Dengan informasi akuntansi dapat dihitung beta akunting. Beta akunting adalah cara lain yang dapat digunakan dalam menentukan risiko. Penelitian ini dimaksudkan untuk menguji korelasi antara beta pasar dengan beta akunting pada perusahaan perbankan Indonesia yang telah go public di Bursa Efek Jakarta. Jika beta akunting merupakan estimator yang baik dalam menentukan beta pasar maka beta akunting dapat menggantikan peran beta pasar.
Selain itu penulis juga menguji korelasi antara beta pasar dengan beberapa rasio keuangan pada perusahaan perbankan Indonesia yang termasuk dalam sampel. Risiko yang dihitung dengan rasio keuangan ini mempunyai korelasi yang tinggi dengan risiko pasar. Penentuan korelasi antara beta akunting dan rasio keuangan dengan beta pasar diterapkan pada perusahaan perbankan secara individual.
Pada perbankan secara individual terdapat hubungan yang signifikan antara beta akunting dengan beta pasar. Dan semua variabel yang diuji, beta akunting berdasarkan ROA, beta akunting berdasarkan ROE, GRO (tingkat pertumbuhan) dan CAP (rasio nilai buku modal terhadap total harta) mempunyai hubungan signifikan dengan beta pasar.
Korelasi antara beta pasar dengan beta akunting berdasarkan ROE memperlihatkan tanda koefisien regresi yang tidak konsisten dengan prediksi semula. Beta akunting berdasarkan ROE mempunyai koefisien yang negatif. Hubungan beta akunting berdasarkan ROE negatif terhadap beta pasar ini kemungkinan karena tingkat keuntungan yang diperoleh dari total equity tidak besar, bahkan banyak bank yang mengalami kerugian yang sangat besar. Karena koefisien regresi yang tidak konsisten dengan prediksi semula maka berdasarkan penelitian ini, beta akunting berdasarkan ROE tidak dapat menggantikan peran beta pasar.
Sementara itu beta akunting berdasarkan ROA memiliki hubungan negatif pula dengan beta pasar. Hubungan beta akunting berdasarkan ROA yang negatif terhadap beta pasar ini mengindikasikan bahwa tingkat keuntungan yang diperoleh dari total aktiva tidak besar. Bank-bank dalam penelitian ini rata-rata memiliki ROA yang kurang dari rata-rata tingkat bunga deposito. Beta ROA negatif kemungkinan disebabkan oleh ROA yang negatif pada hampir semua bank. Ini dapat diartikan bahwa hampir seluruh perusahaan mengalami kerugian mulai dari tahun 1997 sampai tahun 1999 atau mass krisis moneter. ROA bertanda negatif sangat besar, terjadi hampir pada seluruh perusahaan. Hal ini berarti perusahaan pada umumnya mengalami kerugian sangat besar.
DP (dividend payout) berpengaruh negatif terhadap beta pasar yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi DP akan semakin rendah beta pasar. Sebaliknya, semakin rendah DP akan semakin tinggi beta pasar.
GRO (tingkat pertumbuhan) berpengaruh positif terhadap beta pasar yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi GRO akan semakin tinggi pula beta pasar
Penelitian ini menemukan adanya korelasi yang signifikan antara ranking
yang dibuat berdasarkan beta pasar dengan ranking yang dibuat berdasarkan beta akunting (ROA)."
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2001
T20167
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hervee Novelda
"Red palm oil (RPO) mengandung antioksidan yang larut dalam lemak seperti karotenoid (α dan β-karoten, likopen), vitamin E (dalam bentuk α, β, dan δ tokotrienol dan tokoferol), dan ubikuinon. Red palm oil (RPO) dapat digunakan sebagai upaya mencegah stunting dan kekurangan gizi karena nilai gizi yang jauh lebih tinggi daripada minyak goreng yang beredar di pasaran. Akan tetapi, belum terdapat banyak studi mengenai pemanfaatan red palm oil (RPO) dalam hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula emulsi dari red palm oil (RPO). Sediaan emulsi red palm oil (RPO) dibuat menggunakan 5% sukrosa ester palmitat untuk mengemulsifikasi 5% (F1), 10% (F2), dan 15% (F3) red palm oil (RPO) dengan madu untuk menambah kestabilan, kemudian dilakukan karakterisasi fisik untuk mengetahui stabilitas emulsi selama 12 minggu. Hasil menunjukkan bahwa selama 12 minggu ketiga formula emulsi stabil berdasarkan parameter organoleptis, pH, homogenitas viskositas, ukuran partikel, dan zeta potensial. Hasil uji hedonis pada 30 orang responden menunjukkan bahwa formula F1 paling disukai para responden. Dengan demikian, dalam penelitian ini formula F1 menghasilkan hasil uji yang paling baik.

Red palm oil (RPO) contains fat-soluble antioxidants such as carotenoids (α and β-carotene, lycopene), Vitamin E (in the form of α, β, and δ tocotrienols and tocopherols), and ubiquinone. Red palm oil (RPO) can be used as an effort to prevent stunting and nutritional deficiencies due to its significantly higher nutritional value compared to cooking oils available in the market. However, there haven't been many studies regarding the utilization of red palm oil (RPO) in this matter. This study aims to obtain an emulsion formula from red palm oil (RPO). The red palm oil (RPO) emulsion preparations were made using 5% sucrose ester palmitate to emulsify 5% (F1), 10% (F2), and 15% (F3) red palm oil (RPO) with honey to enhance stability. Subsequently, a physical characterization was conducted to determine the emulsion's stability over a period of 12 weeks. The results showed that all three emulsion formulas remained stable over the 12-week period based on organoleptic parameters, pH, viscosity homogeneity, particle size, and zeta potential. Hedonic testing results from 30 respondents indicated that Formula F1 was the most preferred by the respondents. Therefore, in this study, Formula F1 yielded the best test results."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aditra Wiratama
"Kehadiran behavioral finance telah dirasakan dalam aspek keuangan dan ekonomi, terutama dalam hal herding behavior. Semakin overconfident investor terkait pandangan mereka terhadap market outlook, semakin besar kemungkinan beta herding akan terjadi akibat bias persepsi investor. Penelitian ini menyelidiki return aset menggunakan konsep beta herding yang mengukur varians cross-sectional dalam beta akibat dari perubahan kepercayaan investor terhadap market outlook di pasar saham Indonesia. Penelitian ini menggunakan saham-saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2015 – 2019. Beta herding diukur menggunakan beta herd measure yaitu varians cross-sectional dari beta lalu dihitung dengan coefficient standard error sehingga menghasilkan standardized beta. Kemudian analisis regresi linier berganda dilakukan untuk menyelidiki pengaruh faktor-faktor makroekonomi terhadap beta herd measure. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan bukti faktor-faktor makroekonomi memengaruhi beta herd measure secara signifikan dan beta herd measure tidak dapat dijelaskan dengan baik oleh faktor-faktor makroekonomi. Sehingga, disimpulkan bahwa faktor-faktor makroekonomi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengukuran beta herd measure di pasar saham Indonesia selama tahun 2015 – 2019.

The presence of behavioral finance has been felt in numerous aspects, such as financial and economic, especially in herding behavior. The more overconfident investors are about their views regarding market outlook, the more likely beta herding will occur due to investors’ biased perceptions. This study aims to investigate asset returns using the concept of beta herding which measures the cross-sectional variance in beta due to changes in investors’ confidence on market outlook in the Indonesian stock market. This study was conducted using stocks listed in the Indonesia Stock Exchange (IDX) using time series data for 5 years from 2015 – 2019. Furthermore, beta herding was measured using the cross-sectional variance of beta and calculated by its adjusted standard error which resulted in standardized beta. Then, a multiple linear regression analysis was conducted to investigate the effects of macroeconomic factors on beta herd measure. The results of this study indicate that there is no evidence that the macroeconomic factors significantly affect the beta herd measure. In addition, it was found that the beta herd measure could not be explained well by macroeconomic factors. Thus, it can be concluded that macroeconomic factors variable did not significantly affect the beta herd measure variable in the Indonesian stock market during 2015 – 2019."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>