Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dewi Intan Oktarina
"Metode pengenalan sidik jari semakin berkembang pesat don banyak digunaknn saat ini. Baik untuk bidang keamunan ataupun untuk pembuatan kartu identitas lainnya. Tetapi kadangkala pada proses pangenalan jari tidak tepat peletakannya di scanner. Ketidaktepatan ini dapat berupa jari tidak benar-benar lurus pada bidang scanner (jari membentuk sudut terhadap sumbu y), atau pengguna meletakkan jarinya terbalik pada scanner. Berbagai metode telah dikembangkan untuk mengatasinya diantaranya metode yang menggunakan indeks grayscale untuk mengenalinya.
Pada skripsi ini metode pengenalan diuji untuk mengetahui sampai berapa jauh sidik jari dapat bergeser don masih dapat dikenali dengan baik. Pergeseran ini dinyatakan dalam satuan derajat (sudut). Untuk menyesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya, pada system ini juga diuji nilai hasil korelasinya jika terdapat noise.
Dari hasil pengujian diperoleh bahwa sidik jari masih dapat dikenali dengan baik dan benar hanya sampal pergeseran maksimum 7.5°. Lebih besar dari 7.5° sidik jari masih dapat dikenali. Tetapi unluk beberapa image yang memiliki susunan warna yang rapat, sudah tidak dapat dikenali lagi."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2002
S39768
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cindy Lorenza
"Latar Belakang: Bone loss merupakan kondisi yang terjadi seiring penuaan akibat berbagai faktor risiko. Pemeriksaan densitas tulang dapat dilakukan dengan melihat grayscale value tulang kanselus mandibula pada radiograf panoramik digital. Tujuan: Mengetahui perbandingan rerata grayscale value tulang kanselus mandibula menurut jenis kelamin, usia, dan besar arus listrik pada radiograf panoramik digital. Metode: Penelitian ini menggunakan 294 sampel radiograf panoramik digital pria dan wanita berusia 31-75 tahun di RSKGM FKG UI. Rerata grayscale value didapatkan dari pengukuran menggunakan Software I-Dixel Morita© di tulang kanselus mandibula kiri atau kanan daerah apikal regio premolar. Analisa statistik dilakukan 2 kali dengan atau tanpa mempertimbangkan variasi kondisi besar arus(mA). Analisa pertama melibatkan seluruh 294 sampel dengan rentang besar arus 3,3-8 mA. Analisa kedua melibatkan 60 sampel dengan rentang besar arus 5,7-6,4 mA. Hasil: Hasil analisa statistik pertama menunjukkan rerata grayscale value kelompok pria sebesar 113,52±14,88 dan kelompok wanita sebesar 109,98±14,08. Rerata Grayscale value kelompok usia 31-45 tahun sebesar 112,38±13.39, kelompok usia 46-60 tahun sebesar 111,76±13.75, dan kelompok usia 61-75 tahun sebesar 111,11±16.49. Hasil analisa statistik kedua menunjukkan rerata grayscale value kelompok pria sebesar 116,66±13,75 dan kelompok wanita sebesar 105,58±13,55. Rerata grayscale value kelompok usia 32-53 tahun sebesar 115,42±10,89 dan kelompok usia 54-75 tahun sebesar 106,81±16,72. Kesimpulan: Rerata grayscale value tulang kanselus mandibula antar jenis kelamin dan kelompok usia tidak berbeda bermakna (3,3-8 mA). Rerata grayscale value tulang kanselus mandibula antar jenis kelamin serta antar kelompok usia berbeda bermakna (5,7-6,4 mA).

Background: Bone loss is a condition that occurs during aging due to various factor risk. Bone density examination can be performed by measuring grayscale value at the mandibular cancellous bone on a digital panoramic radiograph. Objective: To obtain comparison of mean grayscale value of mandibular cancellous bone by gender, age, and tube current on digital panoramic radiograph. Method: This study utilizing secondary data, totally 294 digital panoramic radiograph of men and women age 31-75 years old at RSKGM FKG UI. Mean grayscale value is obtained by measurement using Software I- Dixel Morita© in the left or right mandibular cancellous bone in the apical area of the premolar region. Two alternative statistical analysis were carried out, with or without considering the variation in tube current condition (mA). The first analysis involved all 294 samples with tube current condition range from 3,3-8 mA. The second analysis involved 60 samples with tube current condition range from 5,7-6,4 mA. Result: First statistical analysis showed that mean grayscale value of the men group is 113,52±14,88 and women group is 109,98±14,08. Mean grayscale value of the 31-45 years old group is 112,38±13.39, 46-60 years old group is 111,76±13.75, and 61-75 years old group is 111,11±16.49. Result from second statistical analyses shows mean grayscale value of the men group is 116,66±13,75 and women group is 105,58±13,55. Mean grayscale value of the 32-53 years old group is 115,42±10,89 and 54-75 years old is 106,81±16,72. Conclusion: Mean grayscale value mandibular cancellous bone by gender and age group are not statistically different (3,3-8 mA). Mean grayscale value mandibular cancellous bone by gender and age group are statistically different (5,7-6,4 mA)."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arnando Ferdian
"ABSTRAK
Sistem pendeteksian wajah pada citra telah berkembang pesat sampai saat ini.
Tujuan dari deteksi wajah adalah untuk mengindentifikasi dan menempatkan
wajah manusia dengan pasisi. skala,oarientasi dan kondisi pencahayaan tertentu. Berbagai metode telah diajukan sampai saat ini. Salah satu pengembangan lebih lanjutnya adalah dengan menggunakan jaringan syaraf tiruan (neural network). Pada paper ini dibahas sistem deteksi wajah berdasarkan jaringan syaraf tiruan dengan metode training propagasi balik dengan momentum. Jaringan syaraf tiruan menguji setiap window dari citra, dan memmtukan apakah setiap window berisi wajah atau tidak. Setelah itu sistem menentukan window terbaik, yang akan disimpulkan sebagai wajah. Sistem inl dapat mendeteksi wajah frontal pada citra grayscale dengan latar belakang yang kompleks dan skala yang bervariasi. Agar dapat menguji citra masukan untuk ukuran wajah yang berbeda-beda, maka dilakukan metode piramida terhadap citra masukan.
Pada skripsi ini, ststem deteksi dengan jaringan syaraf tiruan diuji dengan perubahan pada parameter jumlah lapisan tersembunyi dan jumlah epoch yang dilakukan pada proses training. Sistem akan dianalisa kinerjanya berdasarkan lamanya waktu deteksi serta ketepatan hasil proses deteksi. Dari hasil pengujian didapatkan waktu deteksi sangat dipenganthi oleh ukuran citra, dan ketepatan proses deteksi sangat dipengaruhi oleh jumlah lapisan tersembunyi dan banyaknya epoch pada proses training, serta karakteristik dari citra masukan

"
2001
S39932
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christiana Rahayuningsih
"ABSTRAK
Wajah manusia mengandung banyak informasi dan antarmuka yang jelas dalam inleraksi antara manusia dan komputer. Hal ini telah memotivasi penelitian aktif di bidang pengenalan wajah, face tracking, pose estimation, pengenalan ekspresi, dan pengenalan mimik. Akan tetapi, sebagian besar metode tersebut mengasumsikan bahwa wajah manusia dalam suatu citra atau urutan citra telah diidentifikasi dan dilokalisasi. Untuk membangun suatu system otomatis sehingga kerja manusia dapat sepenuhnya ditangani oleh mesin, sangatlah penting untuk membangun algoritma yang handal dan efisien untuk mendeteksi wajah manusia.
Tujuan dari deteksi wajah adalah untuk mengidentifikasi dan menempatkan wajah manusia dengan posisi, skala, orientasi, dan kondisi pencahayaan tertentu. Dalam tugas skripsi ini, ditampilkan suatu algorilma deteksi wajah untuk grayscale image dengan latar belakang yang kompleks dan skala yang bervariasi. Agar dapat menangani citra masukan dengan skala yang berbesa-beda, dilakukan metode pyramid terhadap citra masukan. Metode yang digunakan dalam proses deteksi dikembangkan dari metode Principal Component Analysis (PCA) dengan pembobotan yang optimum untuk menghasilkan error criterion yang terbaik. Simulasi dil akukan dengan MATLAB versi 5.3.

"
2001
S39101
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad Gian Falah
"Interna dan Tulang Normal terhadap Nilai Lower Extremity Functional Scale pada Fraktur Nonunion dengan Defek Tulang di Ekstremitas Bawah.
Latar belakang: Proses evaluasi kalus di bidang radiologi untuk menentukan fraktur tersebut sudah menyatu atau belum menyatu (nonunion) masih bersifat kualitatif. Kalus memberikan gambaran radiologi yang radioopak pada proses penyembuhan fraktur yang baik dan radiolusen untuk hal sebaliknya, Sistem radiografi saat ini sudah dalam bentuk digital dimana setiap piksel dapat dikuantifikasi dalam bentuk grayscale. Penelitian ini bertujuan untuk mencari korelasi antara nilai grayscale tersebut dengan status fungsional pasien. Metode: Studi korelasi dengan desain cross sectional. Studi ini menggunakan whole sampling pada sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Rata-rata nilai grayscale kalus kemudian dibagi dengan rata - rata nilai grayscale fiksasi interna pasien dan tulang normal masing-masing untuk normalisasi sehingga didapatkan rasio densitas optik radiologi. Kedua rasio tersebut kemudian dikorelasikan dengan status fungsional pasien tersebut dalam bentuk kuesioner Lower Extremity Functional Scale (LEFS). Hasil: Terdapat 29 sampel dengan rerata rasio densitas optik radiologi kalus/fiksasi interna 0,68 (± 0,13), rasio densitas optik radiologi densitas optik radiologi kalus/tulang normal 0,94 (± 0,20) dan Rerata nilai LEFS 53,06 (±12,66). Terdapat korelasi lemah yang bermakna secara statistik antara rasio densitas optik radiologi kalus/fiksasi interna dengan nilai LEFS (r = 0,44, p = 0,018). Terdapat korelasi sangat lemah yang tidak bermakna secara statistik antara rasio densitas optik radiologi kalus/tulang normal dengan nilai LEFS (r = 0,19, p = 0,327).
Kesimpulan: Studi ini dapat menunjukkan korelasi lemah yang bermakna secara statistik antara rasio densitas optik radiologi kalus/fiksasi interna dengan nilai LEFS. Studi ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut dalam kuantifikasi kalus sebagai nilai tambah evaluasi fraktur atau penelitian serup

Background: The radiological process to evaluate callus to determine whether a fracture is classified as union or nonunion is still qualitative in nature. A callus will show an opaque radiological appearance in a fracture that heals well, on the contrary, it will show a radio-lucent appearance. The current radiographical system is digitalized, in which each pixel can be quantified in a grayscale value. This study aims to find correlation between the grayscale value and the patient’s functional status.
Method: Correlation study with cross-sectional design. This study uses whole sampling on samples which fulfil the inclusion criteria. The mean grayscale value of callus is divided by the mean grayscale value of patients’ internal fixation and normal bone for normalization. Therefore, optical radiological density ratio will be obtained. Both will be correlated with patients’ functional status in the form of Lower Extremity Functional Scale (LEFS) questionnaire.
Result: There are 29 samples with mean optical radiological density ratio of callus / internal fixation of 0.68 (+ 0.20) and mean LEFS score 53.06 (+ 12.66). There is a statistically significant weak correlation between radiological optical density ratio of callu /fixation with LEFS score (r = 0.44, p = 0.018). There is a not statistically significant, very weak correlation between radiological optical density ratio of callus/normal bone with LEFS score (r = 0.19, p = 0.327).
Conclusion: This study shows statistically significant weak correlation between radiological optical density ratio of callus/ internal fixation with LEFS score. Hopefully, this study will be a basis for further studies in quantification of callus as an additional scoring for fractur evaluation or similar studies which require quantification in the subject of radiology.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sitepu, Malemta
"Permasalahan utama dalam kompresi gambar adalah bagaimana mendapatkan PSNR (Peak Signal to Noise Ratio) dan Rasio Kompresi (RK) yang baik (tinggi) secara bersamaan serta gambar hasil kompresi yang masih dikenali oleh manusia serta waktu pemrosesan yang relatif cepat. Rasio kompresi yang tinggi menunjukkan penurunan nilai derajat keabuan (grayscale) dalam bit per piksel dan PSNR yang tinggi berhubungan dengan kwalitas gambar rekonstruksi yang diperoleh pada penerima. Proses kompresi dilakukan dengan mengkuantisasi koefisien-koefisien wavelet yang sangat beragam menjadi nilai dan tingkat tertentu. Nilai ini ditentukan oleh proses iterasi untuk mendapatkan distorsi minimal. Pemrosesan dengan ukuran sel yang sering digunakan yaitu 4x4 walaupun mempunyai PSNR yang tinggi namun mempunyai kelemahan rasio kompresi yang rendah serta waktu pengalahan yang relatif lama. Untuk itu digunakn ukuran sel (N) lain yaitu 8x8, 16x16 dan 32x32 kemudian dilakukan proses iterasi (k) untuk mencari distorsi minimum dan penambahan jumlah tingkat kwantisasi (M). Kedua hal terakhir ini adalah untuk menaikkan PSNR, sehingga walaupun ukuran sel diperbesar namun PSNRnya masih dapat dipertahankan. Dari nilai PSNR dan rasio kompresi yang diperoleh serta karakteristiknya diperoleh titik optimal yaitu pada ukuran sel ditambah proses iterasi don jumlah tingkat kwantisasi. Hasilnya adalah sel ukuran 32x32 dapat digunakan untuk mendapatkan rasio kompresi tertinggi dengan M=4, k=0 atau M=2, k=0 atau sel ukuran 16x16 untuk mendapatkan PSNR yang baik.

The main problem on image compression is how to achieve value both Compression Ratio (CR) and Peak Signal to Noise Ratio (PSNR) simultaneously high, a recognized reconstructed image and relatively small time processing. Compression ratio deals with decreasing grayscale value of an original image and PSNR deals with the quality of an image. In short word, the compression process is conducted by quantizing the various values to certain values and levels of wavelet coefficients. These values are determined by adding on iteration process to get minimum distortion in a cell. The cell size used is usually 4x4 that has the high PSNR, low compression ratio and high time processing. To dissolve such things, 8x8, 16x16 and 32x32 (N) of cell sizes are in use, iterate (k) and add of quantization level (M). The last two things are to enhance PSNR but to decrease compression ratio in contrast as well. From value of PSNR and CR as well as the characteristic, the optimum point is then to find out. The result is that 32x32 cell size is suitable to achieve the highest compression ratio with combining M=4 with k=O or M=2, k=O or 16x16 cell size to achieve good PSNR.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2000
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library