Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dinayah Fitriany Sukma Putri
"Penelitian ini menganalisis pengaruh kolektivisme pada fenomena demam pendidikan di Korea Selatan. Kolektivisme merujuk pada kecenderungan masyarakat untuk mengutamakan kepentingan kelompok daripada individu. Pada masyarakat yang menganut budaya kolektivisme, individu cenderung memiliki konstruksi diri interdependen yang berfokus pada hubungan sosial terutama ingroup. Dalam konteks pendidikan Korea Selatan yang sangat kompetitif, kolektivisme memiliki peran yang signifikan dalam membentuk pola perilaku siswa, tekanan akademik, dan norma sosial terkait pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana budaya kolektivisme diterapkan dalam masyarakat Korea Selatan dan bagaimana perannya dalam unsur-unsur fenomena pendidikan, seperti respons siswa, orang tua, masyarakat, serta sistem pendidikan yang ada. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya kolektivisme memengaruhi sekaligus mendasari sikap dan respons siswa, orang tua, dan masyarakat secara keseluruhan dalam fenomena demam pendidikan.

This study analyzes the influence of collectivism in the education fever phenomenon in South Korea. Collectivism refers to a society's tendency to prioritize the interests of the group over the individual. In societies that embrace a culture of collectivism, individuals tend to have interdependent self-constructions that focus on social relationships, especially the ingroup. In the highly competitive context of South Korean education, collectivism has a significant role in shaping student behavior patterns, academic pressures, and social norms related to education. This research aims to explain how the culture of collectivism in South Korean society and how it plays a role in elements of educational phenomena, such as the response of students, parents, society, and the existing education system. The author uses a qualitative method with a literature study approach. The results of this study show that collectivist culture influences and underlies the attitudes and responses of students, parents and society as a whole in the phenomenon of education fever."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Ratnasari Kusumawardani
"ABSTRAK
Jurnal ini membahas tentang budaya minum kopi yang sedang menjadi tren di kalangan masyarakat Korea. Kehadiran Starbucks di Korea pada akhir tahun 1990-an menjadi pemicu berkembangnya budaya minum kopi, khususnya di kafe. Dengan menggunakan metode kepustakaan bersifat deskriptif, tujuan jurnal ini adalah untuk menganalisis peran kolektivisme sehubungan dengan gaya hidup minum kopi dalam masyarakat Korea. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya hidup minum kopi di kafe sangat berkembang di Korea karena adanya latar belakang kolektivisme yang kuat dalam masyarakat Korea.

ABSTRACT
This journal discusses the coffee culture which is becoming a trend among South Korean society since Starbucks presence in the end of 1990. By using text review and descriptive review, this study is purposed to analize the role of collectivism and its relation with the coffee culture in Korean society. This journal concludes that the growing of coffee culture in Korea because of the cultural backgrounds along with strong collectivism in Korean society."
2017
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Azkiah Nurfiana
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh sumber kritik terhadap respons penerimaan kritik, ketika kritik berasal dari ingroup dibandingkan ketika kritik tersebut berasal dari outgroup. Penelitian ini juga ingin mengetahui perbedaan pengaruh stereotip etnis target terhadap respons dalam menerima kritik, ketika kritik yang disampaikan ditujukan langsung kepada kelompok, dibandingkan ketika ditujukan kepada individu yang merupakan bagian dari kelompok yang dilihat dari beberapa dimensi pengukuran intergroup sensitivity effect.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan respons penerimaan kritik berdasarkan sumber kritik pada dimensi likeability, agreement, dan jarak sosial. Dan, terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan terhadap respons penerimaan kritik berdasarkan stereotip etnis target pada dimensi likeability, constructiveness, dan negativity.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kritik yang berasal dari outgroup mendapat respon lebih sensitif dari kritik yang diberikan oleh ingroup untuk dimensi likeability, constructiveness, agreement, need for reform, dan jarak sosial. Dan, kritik yang ditujukan kepada kelompok mendapat respons yang lebih sensitif dibandingkan dengan kritik yang ditujukan kepada individu yang merupakan bagian dari kelompok pada dimensi likeability dan jarak sosial.

This study examined the differences in the effect of sources of criticism to the response in accepting criticism when the criticism comes from ingroup than when it derived from outgroup. This study would also like to know the differences in the effect of ethnic stereotypes to the response against the target of criticism, when the criticism were addresed directly to the intended group, compared when it was addressed to an individual who was part of the group which is seen from several dimensions of measurement of intergroup sensitivity effect.
These findings show that, there is a significant difference of main effect on the response acceptance of criticism based on the sources of criticism on likeability, agreement, and social distance dimension. And, there is a significant difference of main effect on the response acceptance of criticism based on the target ethnic stereotype on likeability, constructiveness, and negativity dimension.
The results also show that criticism from outgroup received more sensitive response from criticisms given by ingroups for likeability, constructiveness, agreement, need for reform, and social distance dimensions. And, critics addressed to the group received more sensitive response compared when it was addressed to an individual who was part of the group on likeability and social distances dimension.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2017
T47980
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cahyaning Widhyastuti
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran audience dan kompetisi antar kelompok sebagai variabel moderator dalam memengaruhi hubungan antara identifikasi kolektif dan ingroup criticism. Partisipan penelitian berjumlah 182 anggota Aremania (159 laki-laki), kelompok suporter klub sepak bola Arema, dengan rentang usia 14-42 tahun. Analisis data untuk menguji pengaruh moderasi menggunakan Process MACRO model 2 yang dikembangkan oleh Hayes dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi identifikasi kolektif baik dengan audience maupun dengan kompetisi antar kelompok, sehingga dapat dikatakan bahwa audience dan kompetisi antar kelompok dalam penelitian ini tidak mempengaruhi hubungan antara identifikasi kolektif dengan ingroup criticism. Namun ketika audience dan kompetisi antar kelompok  muncul bersamaan ditemukan hasil yang signifikan pada kondisi audience outgroup dan terdapat kompetisi antar kelompok, artinya partisipan dengan identifikasi kolektif tinggi akan semakin banyak menuliskan kritik terhadap ingroup ketika mengetahui bahwa kritik yang ditulis akan dibaca oleh outgroup dan kondisi ada kompetisi antar kelompok yang muncul.

The purpose of this study is to determine the moderating role of audience and intergroup competition in the relationship between collective identification and ingroup criticism. The participants of this study were 182 Aremanias (159 men), Arema fans club, with ages between 14-42 years. The data analysis used to test the moderation effect using Hayes’ PROCESS Macro model 2 on SPSS program. The results revealed that there was no interaction between collective identification with the audience and intergroup competition, it can be said that the audience and intergroup competition in this study did not affect the relationship between collective identification and ingroup criticism. However, when audience and intergroup competition appear together, significant results are found in the outgroup audience conditions and there is intergroup competition. It means that participants with high collective identification will write more ingroup criticism when they know that the criticism will be read by outgroup and there is intergroup competition."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
T52007
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cahyaning Widhyastuti
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kompetisi antar kelompok dalam memoderasi hubungan antara identifikasi kolektif dan kesediaan anggota kelompok mengkritik ingroup (ingroup criticism) khususnya pada kelompok suportersepak bola. Partisipan penelitian ini berjumlah 159 laki dengan rentang usia antara 14 sampai 42 tahun (M 21,53, SD 4,18) yang merupakan anggota dari suatu kelompok suporter sepak bola di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan memanipulasi kompetisi antar kelompok (ada kompetisi vs tidak ada kompetisi) dengan menggunakan narasi. Analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis moderasi model 1 dalam Process MACRO yang dikembangkan Hayes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi yang signifikan antara identifikasi kolektif dan kompetisi antar kelompok dengan ingroup criticism, sehingga dapat dikatakan bahwa kompetisi antar kelompok dalam penelitian ini tidak memengaruhi interaksi identifikasi kolektif terhadap ingroup criticism. Namun, ada pengaruh langsung yang signifikan dari baik identifikasi kolektif maupun kompetisi antar kelompok terhadap ingroup criticism."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI, 2019
150 JPS 17:1 (2019)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ramadhan Safari
"Efek audiens menyatakan bahwa kinerja seseorang mungkin dipengaruhi oleh kehadiran orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesa bahwa individu lebih canggung tampil dalam kondisi outgroup (orang yang tidak dikenal) dan akan kurang canggung dalam kondisi di dalam kelompok yang dikenal. Penelitian ini berfokus pada aspek model evaluation apprehension dari efek audiens. Penelitian ini memiliki hipotesis bahwa peserta dalam kondisi ingroup akan menunjukan performa yang lebih baik dibandingkan saat bersama orang yang tidak dikenal, kondisi sendirian akan berkinerja lebih baik daripada kondisi bersama orang yang tidak dikenal, dan kondisi sendirian akan menunjukan performa lebih buruk daripada kondisi di dalam kelompok. tiga puluh peserta yang bersedia mengikuti penelitian ini dibagi dalam tiga kelompok eksperimen (masing-masing N=10) dengan kondisi yang berbeda (bekerja sendiri, bersama orang asing, bersama ingroup). Peserta dari setiap kelompok diminta untuk mengerjakan tugas pencarian kata dalam batas waktu yang ditentukan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap kinerja seorang individu di tiga kondisi.

Audience effects state that an individual's performance might be affected by the presence of another. This study aims to confirm a study which focuses on how individuals were more embarrassed performing in an outgroup condition and would be less embarrassed in an ingroup condition. This study focuses on evaluation apprehension model aspect of audience effect. This study’s hypotheses that participants in ingroup condition will perform better than the stranger condition, the alone condition will perform better than the stranger condition, and alone condition will perform worse than the ingroup condition. Thirty participants were chosen to be in the experiment, where they were divided into groups of 10 across conditions (alone, ingroup, and stranger), and asked to perform a word search task within a time limit. The result showed no significant effect on performance across three conditions. In conclusion, the results did not support the hypotheses."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Laura Deasty
"Fenomena "anak emas" yang kemungkinan dapat dijumpai di dunia kerja merupakan salah satu bentuk perbedaan sikap atasan terhadap bawahannya. Menurut Leadear Member Exchange (LMX), perbedaan sikap atasan terhadap bawahan ini dapat membagi bawahan menjadi dua kelompok yaitu in dan out. Kelompok in mempunyai intensitas pertemuan dan kesempatan yang lebih tinggi dengan atasan sementara kelompok out mempunyai kesempatan pertemuan yang sedikit dengan atasannya.
Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara sikap atasan terhadap bawahan dengan komitmen bawahan terhadap organisasi (Truckenbrodt, 2000). Di perusahaan X peran atasan hanya pada promosi jabatan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan sikap atasan terhadap bawahan dengan komitmen bawahan terhadap organisasi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah subyek pertama sebanyak 10 orang atasan yang menilai masing-masing 10 orang bawahannya dan subyek kedua sebanyak 100 orang bawahan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variabel sikap dan variabel terikat adalah variabel komitmen organisasi.
Hasil penelitian menggunakan korelasi Spearman untuk melihat hubungan atasan terhadap bawahan dengan komitmen bawahan terhadap organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak dimana tidak ada hubungan yang signifikan antara sikap atasan terhadap bawahan dengan komitmen bawahan terhadap organisasi.

The possible phenomenon of "golden son" which can be identified within the working environment is one of the leader's attitudes toward the follower. Referring to the Leader Member Exchange (LMX), this type of attitude can be divided into two groups: in and out. Unlike the out-group, the in-group has a greater intensity of seeing the leader during the day-to-day activities.
The research before identified that there is a relationship between the leader's attitudes toward the follower in accordance with the follower's commitment to the organization (Truckenbrodt, 2000). At Company X , the leader's function is only for the staff's promotion. This research is therefore conducted to identify the relationship of a leader's attitude toward the follower in accordance with the follower?s organizational commitment.
The quantitative approach of this research portrays ten leaders as subject, each appraising ten immediate follower and one hundred subordinates. The independent variable applied in this research is attitude and dependent variable is organizational commitment. The research analysis is applied Spearman's correlation in order to identify leader's individual attitude toward the follower's organizational commitment.
The result of this research shows that null hypotheses are applied. This research showed that there is no significant relationship between the leader?s attitudes toward the follower in accordance with the follower's commitment to the organization."
Depok: Universitas Indonesia, 2007
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yasmin Dwi Larasati
"Idiom Barat populer seperti there is strength in numbers bersama prinsip dasar di psikologi sosial menyarankan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang mudah terpengaruhi oleh kelompok-kelompok di lingkungannya. Penelitian ini menguji perspektif tersebut kepada intergroup sensitivity effect ISE, yang mengemukakan bahwa kritik dari seorang outgroup cenderung ditolak dibandingkan kritik yang datang dari seorang ingroup. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui apakah jumlah orang yang memberi sebuah kritik dapat secara langsung mengurangi sikap defensif terhadap kritik yang timbul dari luar kelompok. Dengan menggunakan desain 2x3 between subject, 162 partisipan dari Australia diberikan wacana berisi kritik tentang masyarakat Australia. Kritik tersebut akan diberi oleh seorang individu, tiga individu atau satu kelompok orang Australia atau orang yang tidak berasal dari Australia. Penelitian ini menemukan bahwa kritik yang diberi oleh orang non-Australia cenderung ditolak dibanding kritik yang diberi oleh orang Australia, walaupun isi dari kritik tersebut sama. Intergroup sensitivity effect nampaknya tidak terpengaruh oleh jumlah pemberi kritik, dimana kritik yang bersumber dari anggota outgroup memiliki kemungkinan kecil untuk diterima oleh sebuah kelompok.

The popular idiom there is strength in numbers embodies the central idea in social psychology that groups are more powerful and more influential than a lone individual. The current study tested this perspective on the intergroup sensitivity effect ISE, which dictates that people are more resistant to criticism made by an outgroup than if it came from an ingroup, and aimed to assess whether the number of people making the criticism would reduce the defensiveness towards outgroup critics. In a 2x3 between groups design, 162 Australians were exposed to criticisms about Australians from either an individual, a group or from multiple individuals who were either Australian or non Australian. Results revealed that criticisms from non Australians aroused more defensiveness than if the same criticism was made by Australians and that the effect was not changed by whether the criticism was made by one person or multiple people. Perhaps the lure of social pressure and group influence do not apply to the ISE as criticism is distinct from other forms of persuasion. Theoretical implications and direction for future research are also discussed.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Narindra Pradhani Prabowo
"ABSTRAK
Kritik terhadap sebuah kelompok cenderung ditanggapi negatif apabila kritik tersebut muncul dari luar dibandingkan dari dalam kelompok tersebut. Fenomena ini disebut intergroup sensitivity effect. Penelitian ini dilakukan untuk melihat dampak dari sumber dan jumlah dari kritik terhadap intergroup sensitivity effect. Partisipan dalam penelitian ini merupakan warga Negara Australia N = 162 yang diberikan naskah berupa kritik terhadap Australia. Kritik dalam naskah tersebut bersumber dari individu berwarga Negara Australia kritik ingroup atau individu berwarga Negara selain Australia kritik outgroup . Kritik tersebut berasal dari individual, beberapa individu, atau satu kelompok. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kritik outgroup ditanggapi lebih negatif dibandingkan kritik ingroup. Jumlah kritik tidak memengaruhi cara kelompok menanggapi kritik ingroup maupun kritik outgroup. Keterbatasan dan saran untuk penelitian selanjutnya didiskusikan dalam pembahasan.

ABSTRACT
Criticisms towards a group often receives negative response when the criticism comes from outgroup members than when it comes from ingroup members. This is called the intergroup sensitivity effect. The present study examined whether the number and source of criticisms affect the intergroup sensitivity effect. Australian participants N = 162 were given scripts consisted of criticisms of their country from either another Australians ingroup critics or non-Australians outgroup critics . Additionally, the critiques were either given by an individual, multiple individual, or a group. Results showed that outgroup critics were perceived more negatively than the ingroup critics. Furthermore, the number of criticisms did not affect how the criticisms were perceived in both ingroup and outgroup conditions. Limitations and suggestions for further research are also discussed. "
2018
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
"The purpose of this article is to describe the dynamics of radicalism among the Indonesia, radicalism is mostly induced by the Moslems depressed and threatened feeling due to their being marginalized in political life and individually brainwashed by the religion teachers through dogmatic teaching....."
150 PJIP 1:1 (2009)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>