Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Duhita Pangesti Putri
"PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya merupakan pembangkit listrik terbesar di Indonesia dengan total kapasitas terpasang 8978 MW. Keseluruhan unit-unit pembangkitan tersebut menghasilkan tenaga listrik hamper 41000 GWh yang memasok lebih dari 50 % kebutuhan listrik Jawa Bali. Dilihat dari proses produksi dan operasinya (dimulai dari pembongkaran batubara-pengangkutan melalui conveyor-penggilingan/pembakaran yang akhirnya menjadi uap) dimana harus memenuhi kapasitas total produksi sebesar 30000 ton/hari, faktor manusia (tenaga kerja) sangat berperan didalamnya Kegiatan di unit operasi khususnya operator alat besar selalu menggunakan aktivitas fisik dalam melakukan pekerjaannya dan posisi kerja yang statis untuk mengoperasikan alat besar seperti dozer, wheel louder, dan lainnya sehingga memungkinkan tenaga kerja akan mengalami kelelahan kerja.
Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui hubungan faktor internal (usia, status gizi, kondisi kesehatan) dan faktor eksternal (beban kerja, variasi kerja, shift kerja) terhadap kelelahan pada operator alat besar PT. Indonesia Power Periode Tahun 2008. Tujuan khusus dari penelitian adalah mengetahui gambaran tingkat kelelahan kemudian mengetahui hubungan variabel-variabel seperti usia, status gizi, kondisi kesehatan, beban kerja, variasi kerja, dan shift kerja terhadap kelelahan.
Desain studi penelitian ini adalah cross sectional dengan pendekatan kuantitatif observasional dimana hasil dari penelitian ini disajikan secara deskriptif analitik. Sampel pada penelitian ini sama dengan jumlah populasi pekerja di unit operasi alat besar PT. Indonesia Power yaitu sebanyak 27 operator. Data dari penelitian ini didapatkan dari observasi, wawancara, pemeriksaan nadi kerja, pengisian kuesioner 30 item gejala kelelahan umum. Kemudian data yang telah terkumpul, diolah dan dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan software komputer.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dari 27 operator alat besar, sebanyak 18,5% tidak mengalami kelelahan, 48,1% operator mengalami kelelahan ringan, 33,3% operator mengalami kelelahan sedang, dan tidak ada yang mengalami kelelahan berat. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil bahwa dari enam variabel internal dan eksternal yaitu usia, status gizi, kondisi kesehatan, beban kerja, variasi kerja, dan shift kerja terdapat empat variabel yang menunjukkan tingkat kemaknaan dengan variabel depepnden kelelahan (p value < 0,05). Variabel tersebut antara lain : usia dengan p = 0,030 dan nilai OR = 15,00 (95% CI : 1,5 ? 150,4) ; status gizi dengan p = 0.009 dan nilai OR = 25,333 (95% CI : 2,1 ? 310,8) ; variasi kerja dengan p = 0,047 dan nilai OR = 10,667 (95% CI : 1,0 ? 115,7) ; shift kerja dengan p = 0,004 dan nilai OR = 40,000 (95% CI : 2,9 ? 554,7)."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Rustiati, Sri
"Ruang lingkup dan metodologi penelitian : Penggunaan komputer sebagai alat bantu aktivitas kerja sudah sangat luas karena kemampuannya yang sangat tinggi, namun komputer juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada operatornya. Masalah gangguan kesehatan yang paling sering dikeluhkan oleh operator komputer adalah gangguan mata, yang meliputi 67% dari semua jenis gangguan kesehatan akibat penggunaan komputer. Diantara beberapa jenis gangguan mata tersebut, kelelahan mata merupakan keluhan yang terutama ditemukan. Bagian perangkat komputer yang paling berpengaruh terhadap kesehatan mata pemakai komputer adalah monitor komputer. Hal tersebut terjadi karena mata operator komputer menatap monitor, yang merupakan objek yang mengeluarkan cahaya berwarna secara terus menerus untuk jangka waktu tertentu. Penelitian ini merupakan suatu studi intervensi untuk mengetahui adanya kelelahan mata dan faktor yang mempengaruhinya. pada operator komputer serta upaya untuk mengatasinya. Intervensi dilakukan dengan pemberian istirahat selama 15 menit tidak menatap layar monitor komputer setelah 1 {satu} jam bekerja, dan penyuluhan tentang cara menggunakan komputer dengan baik. Sampel untuk penelitian ini diambil secara purposive dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 13 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, pemeriksaan fisik, pengukuran amplitude akomodasi, serta penerangan dan kesilauan di tempat kerja.
Hasil penelitian dan kesimpulan : Terdapat kelelahan mata subyektif dan obyektif setelah 2 jam bekerja menggunakan komputer pada semua responden. Umur dan tingkat pendidikan tidak tampak mempengaruhi terjadinya kelelahan mata. Jenis kelamin, lama kerja, tingkat penerangan dan kesilauan tempat kerja turut mempengaruhi terjadinya kelelahan mata. Intervensi pemberian istirahat tampaknya dapat mengurangi terjadinya kelelahan mata dan intervensi pemberian penyuluhan dapat meningkatkan pengetahuan responden tentang cara kerja yang baik menggunakan komputer.

Scope and Methodology : Computer as human's working assisting device has been widely utilized because of its high capability. However, computer can also cause health problems to the operators. Eye problem is the most common problem found among the computer workers (i.e. 67%) of all health problems caused by computer operation. Eye strain is the most commonly found amongst the eye problems. The part of computer hardware which has the highest effect on eyes health was the computer screen. It happens as the operator's eyes gaze at the object which emits colorful lights. This study intervention objective is to identify the prevalence of eye strain and its affecting factors on computer workers and the remedy efforts through interventions of fifteen minute rest (break) by not watching the computer monitor during one working hour, and improving the behavior of computer use. A number of thirteen computer operators were purposively selected, among the computer workers at PT NK. The study was undertaken through interview, physical examination, amplitude accommodation as the objective measurement of eye strain and working environment factors (i.e. illumination and glare).
Result and conclusion: The study revealed that subjective and objective of eye strain occurred on all subject after two hours working with computer. Sex, working time with computer, the levels of illumination and glare in working place were also contributing factors for the occurrence of eye strain. Age and education were show as non contributing factors for the occurrence of eye strain. Intervention by giving working rest can reduce the recurrence of eye strain. It was also show that education increased the knowledge of the respondent how to use the computer on the right way.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cesie Nadia
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kelelahan kerja. Jenis penelitian bersifat deskriptif analitik dengan disain studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 58 pekerja di gerbang tol Cililitan PT. Jasa Marga cabang CTC yang dibatasi inklusi dan eksklusi. Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner, data sekunder, observasi, dan pengukuran denyut nadi. Hasil penelitian didapatkan 56,9% pekerja mengalami kelelahan tingkat ringan dan 43,1% mengalami kelelahan tingkat sedang. Variabel yang diteliti yaitu durasi kerja, pola shift kerja, beban kerja, waktu istirahat, lama tidur, kondisi kesehatan, dan gambaran workstation. Hasil analisis bivariat didapatkan ada hubungan signifikan antara beban kerja, waktu istirahat, dan lama tidur dengan kelelahan kerja. Disarankan untuk pihak perusahaan melakukan fatigue management guna mencegah dampak dari timbulnya kelelahan.

This study aims to determine the relationship factors that may influence the occurrence fatigue at work. Types of research is descriptive analytical with cross sectional study design. The sample in this study amounts to 58 workers at the toll collectors Cililitan gate PT. Jasa Marga CTC branch office that restricted inclusion and exclusion. Data were collected by questionnaires, secondary data, observation, and pulse measurement. The results showed that 56.9% of workers experienced low fatigue level and 43.1% experienced moderate fatigue level. The variable are duration of work, work shift patterns, work load, rest periods, length of sleep, health condition, and workstations. Results of bivariate analysis found there is significant relationship between work load, rest periods, and length of sleep with fatigue at work. Recommended for the company is created fatigue management in order to prevent the impact of the onset of fatigue."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2011
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Veronica Desyariani
"Kelelahan merupakan suatu bentuk mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Kelelahan diatur secara central oleh otak. Pada susunan syaraf pusat terdapat sistem aktivasi (bersifat simpatis) dan inhibasi (bersifat parasimpatis). Kondisi lelah biasanya menunjukan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, namun semuanya bermuara pada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh seseorang. PT. X adalah perusahaan penghasil beton campuran pertama dan terbesar di Indonesia. PT. X menggunakan Truk Mixer dalam proses pengiriman beton campuran ke lokasi-lokasi yang melakukan pemesanan. Maka dari itu proses kerja lebih banyak dilakukan dalam perjalanan.
Berdasarkan proses kerja yang terjadi pada di PT. X, dapat diketahui bahwa angka kecelakaan kerja yang terjadi lebih banyak di jalan. Itu artinya pekerja yang memiliki potensi kecelakaan lebih besar adalah pekerja yang mengendalikan alat transport/truk di jalan, yaitu pengemudi truk mixer. Hasil dari data sekunder yang diperoleh di dapatkan bahwa tingkat pengalaman, jumlah Over time dan jumlah waktu tempuh perjalanan pada pengemudi truk mixer di PT. X sangat bervariasi dan melampaui batas over time yang di izinkan menurut UU Tenaga Kerja Tahun 2003 Pasal 78 ayat 2. Dimana ketiga variabel tersebut termasuk salah satu faktor yang memberi kontribusi terjadinya kelelahan yang mengakibatkan suatu kecelakaan, yaitu dalam kelompok klasifikasi intensitas dan lamanya kerja fisik.
Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah relasi atau hubungan antara waktu tempuh dan Over Time pengemudi PT. X dengan frekuensi kelelahan pada tahun 2008 dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif.
Dari hasil analisis data dan wawancara mendalam pada pengemudi, Senior Driver, dan beberapa staff yang terkait dalam Departement Trasnportasi di PT. X, diperoleh hasil bahwa tingkat pengalaman pengemudi kurang dari 2 tahun yang mengalami kelelahan dengan frekuensi kadang-kadang sebesar 76,5 %, rata-rata waktu tempuh lebih dari atau sama dengan 2 jam yang mengalami kelelahan dengan frekuensi munculnya kadang-kadang 65,2 %, dan rata-rata waktu over time lebih dari atau sama dengan 3 jam mengalami kelelahan dengan frekuensi munculnya kadangkadang sebanyak 59, 1 %.
Kesimpulan diperoleh bahwa rata-rata over time sudah melampaui batas yang ditentukan, namun memang kelelahan muncul dengan frekuensi kadang-kadang, artinya kelelahan itu muncul 1-2 hari dalam seminggu pada pengemudi truck mixer PT. X.
Dalam rangka mengurangi frekuensi munculnya gejala kelelahan, sebaiknya perusahaan membatasi jumlah over time pada pengemudi, memberikan sosialisasi perlunya peregangan otot dilakukan saat pengemudi sedang proses kerja di Proyek konsumen, membuat shift kerja yang lebih teratur, dan menyediakan pompa yang dapat disewakan pada Proyek yang memindahkan campuran beton secara manual."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Liazul Kholifah
"ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan pada perawat di RS X Jakarta Timur yang memiliki aktivitas berisiko mengalami stres kerja dan kelelahan kerja. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kelelahan kerja dan stres dengan melihat faktor risiko fisik, psikososial dan lingkungan. Penelitian dilakukan pada 87 responden dengan menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan melakukan observasi, pengisian kuisioner, melakukan pengujian aktivasi enzim amylase dalam saliva dengan alat Cocorometer (Nipro Cocoro), pengukuran waktu reaksi dengan aplikasi smartphone Sleep 2 Peak (S2P) dan pencahayaan dengan Luxmeter. Faktor karakteristik individu (usia, jenis kelamin, status gizi, status pernikahan, dan masa kerja), faktor risiko fisik (punggung statis, punggung dinamis, bahu/lengan, pergelangan tangan dan leher), faktor psikososial (beban kerja, shift kerja, perkembangan karir, dukungan sosial, peran di organisasi, dan kepuasan kerja) dan lingkungan kerja (pencahayaan) menjadi faktor independen penelitian terhadap stres dan kelelahan kerja. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Quick Exposures Checklist untuk menilai faktor risiko fisik, NIOSH Generic Job Stress untuk menilai faktor risiko psikososial dan stres kerja. Kelelahan kerja diukur dengan menggunakan kuesioner Sweedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI). Hasil penelitian responden berjenis kelamin perempuan (70,1%), sudah menikah (83,9%), dengan usia 36 tahun dan masa kerja selama 134 bulan (11 tahun). Menggunakan uji Chi-Square terdapat hubungan yang bermakna antara status pernikahan dengan kelelahan Pvalue <0,05 (OR=4,20), masa kerja dengan terjadinya kelelahan Pvalue<0,05 (OR=3,26), faktor risiko fisik (punggung bergerak) dengan terjadinya stres kerja dengan Pvalue <0,05 (OR=4,37), faktor risiko fisik (bahu/lengan) dengan terjadinya stres kerja dengan Pvalue <0,05 (OR=2,90), beban kerja dengan terjadinya kelelahan kerja dengan Pvalue <0,05 (OR=3,85) dan terdapat hubungan yang bermakna antara kepuasan kerja dengan terjadinya kelelahan dengan Pvalue (OR=0,24)



ABSTRACT
The object of this study is nurses in RS X East Jakarta who are at risk having work related stress and fatigue due to their task. The purpose of this study is to identify the physical factors, psychosocial factors and environment factor of work related stress and fatigue. Population of the study is 149 people, and the sample is 87 responded. The design used in this study is cross-sectional design by conducting the observation, sharing questionnaires and do the test of Salivary Amylase Activation (SAA) with Cocorometer (Nipro Cocoro), the test of time reacting with Sleep 2 Peak application on a mobile phone and environment factor (lighting) with Luxmeter. The tools used in this study are Quick Exposure Checklist to assess physical factors, NIOSH Generic Job Stress to assess psychosocial factors and Salivary Amylase Activation teststo assess work related stress and fatigue among nurses. Fatigue subjective measurement uses tools from Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI). Physic factors (back static, back movement, shoulder/arm, wrist/hand and neck), psychosocial factors (job demand, shift work, career development, social support, role in the organization, and job satisfaction) and environment factor (lighting) are the independent variables of work related stress and fatigue which are the dependent variable in this study. The result of this study is female (70,1%), married (83,9%), average age 36 years old and working period for 134 months (11 years). The result of this study shows that risk factor (married) has a correlation with fatigue Pvalue 0,05 (OR=4, 20), years of service has correlation with fatigue Pvalue0, 05 (OR=3, 26). Physic factors (back movement) have correlation with stress Pvalue 0,05 (OR=4, 37), Physic factors (shoulder/arm) has a correlation with stress Pvalue 0,05 (OR=2, 90), job demand has correlation with fatigue Pvalue 0,05 (OR=3, 85) psychosocial factors (job satisfaction) have correlation with fatigue Pvalue (OR=0, 24).

 

"
2018
T50895
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Khaerani Suci Lestari
"ABSTRAK
Operator Heavy Duty Dump Truck (HD) adalah salah satu pekerjaan yang berisiko tinggi untuk mengalami kelelahan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kelelahan pada operator HD di PT X Jobsite Y. Faktor yang diteliti yaitu faktor risiko terkait pekerjaan (shift kerja, suhu kabin, pencahayaan, masa kerja, dan napping) dan faktor tidak terkait pekerjaan (usia, indeks massa tubuh, waktu perjalanan, kuantitas tidur, kualitas tidur, tempat tinggal dan status perkawinan) terhadap kelelahan. Desain studi cross-sectional digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan kuesioner Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) pada 165 responden yang bekerja sebagai operator HD. Hasil penelitian diketahui sebanyak 70,9% operator HD mengalami kelelahan ringan dan 29,1% operator HD mengalami kelelahan sedang. Selain itu, dari keseluruhan variabel yaitu suhu kabin, masa kerja, kuantitas tidur, kualitas tidur dan status perkawinan memiliki hubungan yang signifikan secara statistik terhadap kelelahan.

ABSTRACT
Heavy Duty Dump Truck (HD) operator is one of the high-risk occupations in experiencing fatigue. This study aims to determine factors associated with fatigue on HD operator at PT X Jobsite Y. Factors studied were work-related factors (shift work, cabin temperature, lighting, work period, and napping) and non-work-related factors (age, body mass index, commuting time, sleep quantity, sleep quality and marital status) to fatigue. A cross-sectional study was conducted using questionnaires Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) on 165 respondents who worked as HD operator. The results of the study known as much as 70,9% HD operator experiencing mild fatigue and 29,1% HD operator experiencing medium fatigue. In additional, all variabel namely cabin temperature, work period, sleep quantity, sleep quality, and marital status had a statistically significant relationship to fatigue."
Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Dokumentasi  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Putri Wulandari Cahyaningtyas
"ABSTRAK
Pengemudi kendara sewa dan antar jemput karyawan memiliki faktor risiko
kelelahan. PT. X belum memiliki program pengendalian kelelahan. Kelelahan
pengemudi bisa menyebabkan penyakit akibat kerja ataupun kecelakaan kerja.
Penelitian ini dilakukan dengan desain kualitatif untuk melihat gambaran
kelelahan serta faktor risiko pada pengemudi kendara sewa dan antar jemput
karyawan PT. X pada tahun 2011. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pengemudi mengalami kelelahan ringan dan sedang. Faktor yang berperan pada
pengemudi antar jemput adalah waktu tidur dan shift kerja, pada pengemudi
kendara sewa adalah durasi kerja.

ABSTRACT
Rental car and employees shuttle car drivers at PT. X have risk factors of fatigue.
PT. X hasn’t had program fatigue management. Driver fatigue may cause
occupational health and accident. This study was conducted with qualitative
design to see the overview of fatigue and its risk factors at rental car and
employees shuttle car drivers year 2011. The result of this study indicate that the
driver suffered mild or moderate fatigue. Factors which could lead to fatigue in
employees shuttle car drivers are quantity of sleep and workshift, and in rental car
drivers is work duration.
"
2011
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Euis Fety Fatayaty
"Masalah di lingkungan kerja di industri garmen adalah iklim kerja yang panas dan lembab, alat kerja (setrika Iistrik/boiler) yang dapat menghasilkan paparan panas dan kelelahan yang dialami pekerja setrika setelah bekerja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara lingkungan kerja panas dengan kelelahan pekerja setrika di PT Hansung Garmindo Mulia (PT HGM).
Pendekatan penelitian bersifat kualitatif dan kuantitatif. Metode yang digunakan adalah survei dengan Cross Sectional. Populasi dan sampel yaitu semua pekerja setrika di PT HGM berjumlah 16 orang. Langkah Penelitian dengan cara mengukur Index Suhu Bola Basah (ISBB) di 5 titik di area finishing memakai alat Dues Temp Heat Stress Monitor, mengukur denyut nadi pekerja sebelum dan sesudah bekerja, pengisian kuesioner oleh pekerja dan pengamatan Iangsung oleh peneliti.
Hasil penelitian ISBB di 5 area lingkungan kerja PT HGM adalah: 26,9" C; 27,TC; 27,9°C; 29,2?'C; dan 29,7"C, jadi semuanya berada di area slightly warm (di Iuar comfortable) Hasil pengukuran denyut nadi dalam % Cardio Vasculer Load (%CVL) dan pengisian kuesioner temyata semua pekerja setrika di PT HGM mengalami kelelahan setelah me!akukan pekerjaan dengan tingkat kelelahan ringan sampai berat. Data ISBB dan % CVL yang diperoleh dianalisis dengan Korelasi Spearman dengan (di = 15, a = 0,05), r hitung 0,577 sedangkan r tabel 0,522.
Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara lingkungan kerja panas dengan kelelahan pekerja setrika di PT Hansung Garmindo Mulia, dengan tingkat hubungan sedang. Saran diletakkan local exhaust, posisi tabung boiler dijauhkan jaraknya dari pekerja, desain meja setrika harus antropometri, pekerja minum air (ditambah gula & garam) 1 galas (150 ml) setiap 20 menit, posisi kerja bergantian (duduk dan berdiri) dan supervisi medic secara berkala untuk pekerja."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2007
T20779
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>