Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 142 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Pramudjo Abdulgani
"ABSTRAK
Dalam upaya meningkatkan sensitifitas dan spesifisitas hasil uji Iatih jantung dengan beban (ULJB ), beberapa peneliti menghitung kemiringan ST/laju jantung (LJ) maksimal ('maximal ST/HR slope'), yaitu nilai B dari persamaan Y = B (X - Xo). Y : depresi segmen ST, X = laju jantung dan Xo : laju jantung saat mulai akan
timbul depresi segmen ST. Tujuan penelitian ini yaitu meneliti peranan kemiringan ST/LJ maksimal (SLOPE) Serta meneliti adakah peranan Xo dalafn memprediksi berat penyakit jantung koroner(PJK). Penelitian bersifat prospektif pads 23 sukarelawan, yang diIakukan angiografi koroner dan ULJB di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, antara 1 Desembar 1988 sampai dengan 28 Februari
1989. Sebagian penderita dilakukan ULJB dengan metode Bruce (n=7), sedang sisanya dengan modifikasi Bruce (n=16). Semua penderita adalah laki-laki, berumur 38-55 (rata-rata 52, 1_+6,4) tahun. Dua pulun penderita dengan riwayat infark, 2 dengan angina pektoris dan 1 asimtomatis. Bila penderita minum obat (antagonis
kalsium, penghambat reseptor beta) pada saat ULJB, obat tidak dihentikan. Penghitungan SLOPE dilakukan menurut Cara Kligfield. Derajat iskemi miokard diukur menurut skor dari Green Land Hospital (GLH). Tiga penderita tidak dapat dihitung nilai SLOPEnya (13%). Ditemukan korelasi positif antara nilai SLOPE dengan skar GLH(r=0,83 : p<0,00001),yang dapat dinyatakan dengan persamaan :
skor GLH = 2,28 + 0,8 SLOPE. Rata-rata nilai SLOPE pada ke empat kelompok penderita (?normal', 1, 2, 3 penyakit pembuluh darah), berturut-turut adalah 1,04 _+ 0,63 uV/denyut/menit; 2,84 _+ 1,27
UV/denyut/menit; 5, 46 _+ 3,76 uV/denyut/menit; dan 10,62 _+ 2,60 UV/denyut/menit. Secara statistik perbedaan rata-rata dari ke 4 kelompok ini bermakna (p < 0,0005). Sedangkan nilai Xo tidak mempunyai korelasi dengan skor GLH.
Dari penelitian ini kami menyimpulkan bahwa nilai SLOPE
mempunyai nilai prediksi terhadap berat ringan PJK, sedangkan nilai Xo tidak."
1989
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Rehabilitasi jantung pada klien pasca bedah pintas koroner sangat penting, yang dilakukan sedini mungkin sejak awal perawatan, dilanjutkan setelah pulang dari RS. Program latihan fase II dimulai sejak klien keluar dari RS hingga 4-8 minggu. Tujuan penelitian adalah mengidentiiikasi tingkat kemarnpuan fisik klien pasca CABG setelah mengikuti program latihan fase II. Metoda penelitian menggunakan deskripsi sederhana dengan mengidentifikasi kapasitas fungsional yang dinilai melalui subyektif (kuesioner) ada tidaknya keluhan, kemampuan aktivitas, latihan, dan kapasitas aerobik melalui uji latih beban. Responden adalah pasien pasca CABG 85 orang, laki~
laki dan wanita, yang telah mengikuti Iatihan fase II dan telah dilakukan uji latih beban setelah 12 kali Iatihan. Hasil penelitian menunjukkan klien terbanyak 57,5% berusia 50-S9 tahun, laki-laki lebih banyak 96,4% , tidak ada keluhan 80%, kegiatan yang mampu dilakukan dalam kategori sedang (5-7 METS) 68%, kapasitas aerobik 2 6 METS 90,6%, dan belum kembali bekerja 80%.
Tingkat kemampuan fisik klien pasca CABG setelah mengikuti program fase II bervariasi tetapi pada umumnya memenuhi sasaran program yaitu 68% mampu melakukan aktivitas 6 METS, berjalan lebih 3 km/30 menit, tidak ada keluhan dan dapat mencapai kapasitas aerobik 2 6 METS."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2004
TA5425
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Siswantoro
"ABSTRAK
Menurut SKRT 1986, penyakit kardiovaskuler masih merupakan penyebab nomor 2 kematian di Indonesia. Diantara penyakit kardiovaskuler tersebut, penyakit jantung koroner adalah penyebab terbanyak. Penelitian ini bertujuan untuk menilai berapa besar pengaruh faktor risiko hipertensi, hiperkolesterolemia, hiperglikemia, obesitas, merokok dan kurang olah raga serta seberapa besar manfaat pengendalian faktor risiko tersebut terhadap timbulnya penyakit jantung koroner.
Jenis penelitian adalah observasional dengan disain kasus kontrol, pada pengunjung Rumah Sakit Umum Kabupaten Dati II Tulungagung yang berumur 35 tahun keatas. Kasus adalah penderita penyakit jantung koroner bagian UPF Penyakit Dalam sedang kontrol adalah pengunjung lain dari UPF Bedah dan Unit Gawat Darurat.
Analisis statistik dengan regresi logistik multivariabel digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh setiap faktor risiko yang diteliti dengan mengendalikan semua faktor lain yang mempengaruhi hubungan tersebut.
Dari 97 kasus dan 184 kontrol yang dianalisa dapat diketahui bahwa hipertensi dan hiperkolesterolemia berpengaruh bermakna terhadap timbulnya penyakit jantung koroner. Besarnya pengaruh hipertensi adalah 5.90 kali lebih besar dari normotensi. Sedang besar pengaruh hiperkolesterolemia adalah 1.99 kali lebih besar dibanding yang kolesterol normal. Umur merupakan variabel konfonding positip terhadap variabel hipertensi.
Pengendalian terhadap kedua faktor risiko tersebut diatas belum terbukti menurunkan pengaruhnya terhadap timbulnya penyakit jantung koroner. Disarankan pengkajian kembali terhadap pengendalian/pengobatan terhadap kedua faktor risiko diatas."
1992
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
cover
Basuki Hardjojo
"ABSTRAK
Tesis ini membahas perubahan tingkat pengetahuan dan sikap pegawai Universitas
Terbuka (UT) yang berpotensi penyakit jantung koroner setelah mendapat
penyuluhan Penyakit Jantung Koroner. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif
dengan desain quasi experimental. Metode intervensi yang dipilih adalah ceramah,
tanya jawab dan konsultasi. Hasil intervensi penyuluhan menunjukkan bahwa
tingkat pengetahuan meningkat secara bermakna α<0,05 dengan p.value 0,000
dibanding sebelum penyuluhan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah intervensi
penyuluhan Penyakit Jantung Koroner berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan
pegawai Universitas Terbuka yang berpotensi penyakit jantung koroner, tetapi tidak
merubah sikap sehingga disarankan manajemen UT untuk mengadakan intervensi
lagi untuk mendapatkan perubahan sikap pegawai UT yang berpotensi penyakit
jantung koroner.

Abstract
The thesis was to discuss the changes in knowledge level and attitudes of the
Indonesian Open University (UT) employees who potentially coronary heart
disease after receiving education of coronary heart disease. The research is a
quantitative study with a quasi experimental design. Intervention method chosen is
lecture, discussion and consultation. Results indicate that counseling intervention
significantly increased knowledge level of α <0.05, p.value=0.000 compare with
before the extension. The conclusion of this research is the extension of coronary
heart disease intervention effect on knowledge level of the UT's employees
potentially coronary heart disease, but did not change the attitude, so it is
recommended to UT's management to hold intervene again to get a UT's employee
attitude changes that potentially coronary heart disease."
2012
T30321
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Zahra Zetira Muchtar
Depok: Universitas Indonesia, 2010
S26611
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Betriza
"Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan adanya hubungan antara stenosis arteri koroner dan ketebalan intima media arteri karotis pada populasi umum. Ketebalan intima media arteri karotis ini pada penderita DMTTI lebih tebal dibandingkan pada penderita yang tanpa diabetes. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah berat dan luasnya stenosis arteri koroner secara angiografi pada penderita PJK dengan DMTTI mempunyai korelasi dengan makin tebalnya intima media arteri karotis. Telah dilakukan pemeriksaan ketebalan intima media arteri karotis komunis, bifurkasio-bulbus, arteri karotis interna dan eksterna kanan dan kiri pada 30 orang penderita PJK dengan DMTTI yang terdiri dari 25 laki-laki dan 5 perempuan, berumur rata-rata 58 ± 8,5 tahun (44 - 74 tahun). Dari hasil angiografi koroner terdapat 2 orang dengan 1 VD, 11 orang dengan 2VD dan 17 orang dengan 3VD. Terdapat penebalan intima media arteri karotis pada semua penderita dengan rata-rata ketebalan intima media arteri karotis yaitu 2,6 ± 1,1 mm (1 - 6 mm), ini menunjukkan adanya korelasi antara ketebalan intima media arteri karotis dan stenosis arteri koroner, namun tidak didapatkan korelasi yang bermakna secara statistik antara 1 VD, 2 VD dan 3 VD dengan ketebalan intima media arteri karotis yang lebih tebal meskipun ada kecenderungan bahwa makin banyak pembuluh darah koroner yang mengalami stenosis makin tebal intima media arteri karotis."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
T57268
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zubaidah
"Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian : ?Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan pola eliminasi; konstipasi pada klien post operasi CABG (Coronary Artery Bypass Graft)?. Desain penelitian yang di gunakan adalah metode deskriptif sederhana, dengan responden sebanyak 30 orang klien post operasi CABG. Alat pengumpulan data berupa angket/ kuesioner yang dibuat sendiri oleh peneliti, dengan menyediakan 4 pilihan jawaban untuk masing-masing pertanyaan. Penelitian dilakukan pada bulan April dan Mei 2002 di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta Angket yang memenuhi syarat untuk di lakukan pengolahan data sebanyak 30 orang klien Dari hasil pengolahan data penelitian temyata pola eliminasi buang air besar pada klien berubah yang sebelum operasi sekali sehari menjadi tiga hari bahkan lebih setelah operasi bam bisa buang air besar. Faktor penyebab dari hal tersebut antara Iain: mobilisasi klien post operasi sangat terbatas, pola diet jumlah serat dan intake makanan kurang, konsumsi cairan perhari tidak adekuat, dan pengaruh usia lanjut."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>