Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 147 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yurita Amarya S
"Kosmetik yang digumakan harus aman, bermutu dan bermanfaat, untuk itu kosmetik hams dibuat sesuai dengan aspek CPKB (Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik). Industri kosmetik banyak terdapat di Jakarta, namun belum semua menerapkan CPKH. Disinilah diharapkan peran Badan POM untuk meningkatkan kcpatuhan industri kosmetik dalam penerapan CPKB. Penelitian ini menggunakan metode kualitatifl Sumber data berasal dari sumber data primer yaitu hasil wawancara mendalam dengan pejabat di Badan POM, Balai Besar POM dan penanggungjawab produksi pada industri kosmetik. Sumber data sekunder yaitu buku literatur, peraturan perundang-1mdangan,_lapomn, dan arsip, intemct. Setelah data dipercleh lalu dilakukan analisis data kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan maka disimpulkan bahwa pengawasam Badan POM terhadap kepatuhan penerapan CPKB, tidak lepas dengan kebijakan lintas sektor. Sedangkan rendahnya kepatuhan pencrapan CPKB industri kosmetik dapat ditingkatkan dengan pembinaan tidak hanya tentang CPKB tapi perlu juga tcntang bagaimana pengembangan usahanya.
The use of cosmetic must be safe, qualified and have bene5ts, for that the cosmetics must be manufactured in accordance with the CPKB (Good Manufacturing Procedure of Cosmetic). There are many cosmetics industries in Jakarta, but not all of them apply the CPKB. In this regard interference of The National Agency of Drug and Food Control (NADFC) is expected to increase compliance of cosmetics industrie in applying the CPKB. The research used the qualitative method. 'l'he source of data obtaind from the primer data as the result of performed in interviewing the The National Agency of Drug and Food Control (NADFC) oiiicial, Provincial NADFC and cosmetics production Manager. Source for the secondary data as liturature, regulation of the constitution, report and file, internet. After obtaining data’s followed by performing the qualitative analysis. Based on examination result and the completion of the data’s analys is therefor con eluded that The National Agency of Drug and Food Control (NADFC) supervision regarding the compliance in applying the CPKB is related with the other institution concem. Where as decreasing in compliance to apply CPKB in cosmetics industries can be increased by development not only about the CPKB but also needed how to develop their business."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
T34359
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Schroeder, Wen
Gundersen Drive: Alluredbooks,
646.72 SCH s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Winter, Ruth
"Take the guesswork out of choosing safe and effective cosmetics and cosmeceuticals.
You wouldn’t eat something without knowing what it was. Don’t you want to take the same care with what you put on your face, hair, and body? Find out what’s in your health and beauty products with Ruth Winter’s A Consumer’s Dictionary of Cosmetic Ingredients . This updated and expanded sixth edition gives you all the facts you need to protect yourself and your family from possible irritants, confusing chemical names, or exaggerated claims of beauty from gimmick additives.
Virtually every chemical found in toiletries, cosmetics, and cosmeceuticals—from body and face creams to toothpaste, hand lotion, shaving cream, shampoo, soap, perfume, and makeup—is evaluated in this book, including those ingredients marketed as being all-natural, for children, and for people of color. The alphabetical arrangement makes it easy to look up the ingredients in the products you use.
With new substances popping up in products we utilize every day—and with the continuing deregulation of the cosmetics industry— A Consumer’s Dictionary of Cosmetic Ingredients is more indispensable than ever."
New York: Three Rivers Press, 1999
668.55 WIN a
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sjarif M. Wasitaatmadja
Jakarta: UI-Press, 1997
613.488 SJA p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sara Dwiyanti
"Penelitian mengenai budaya konsumen dan permasalahan jati diri kaum perempuan Jepang dalam masyarakat kontemporer, dengan latar belakang gejala maraknya pemanfaatan praktek bedah kosmetik. Penelitian difokuskan kepada kaum perempuan (tanpa pembedaan usia) yang tinggal di perkotaan di Jepang, dengan latar belakang kurun waktu tahun 1990-an hingga tahun 2003. Konsep dan teori dalam penelitian ini mengacu pada paham posmodern. Tujuannya untuk melihat latar belakang maraknya bisnis bedah kosmetik dilihat dari konsep budaya konsumen serta hubungannya dengan pandangan mengenai jati diri yang berlaku dalam masyarakat di kota-kota besar di Jepang dan pengaruhnya terhadap kaum perempuan.Penelitian dilakukan dengan metode kepustakaan. Data empiris yang digunakan berupa artikel-artikel dan ikian-iklan dari majalah Jepang tahun 2000-2003 mengenai bisnis bedah kosmetik.
Kesimpulan yang didapat adalah bahwa maraknya bisnis bedah kosmetik terbukti didukung oleh budaya konsumen, melalui sikap konsumsi perempuan Jepang di perkotaan yang memiliki kebebasan dalam memilih produk, memiliki gaya hidup konsumtif, dan memiliki kekuatan mikro ekonomi. Faktor pendukung yang lain adalah komodifikasi bedah kosmetik yang dengan gencar menjadikan bedah kosmetik sebagai suatu komoditas yang begitu mudah dijangkau dan dapat diperoleh dengan biaya relatif terjangkau. Pandangan masyarakat kontemporer Jepang mengenai pentingnya penampilan menyebabkan adanya segmentasi kelompok sosial berdasarkan penampilan fisik. Akibatnya muncul hasrat dari sebagian kaum wanita Jepang yang merasa kurang dalam penampilan fisiknya untuk mengubah bentuk tubuh mereka melalui bedah kosmetik, agar mereka dapat memperoleh kepercayaan diri untuk memasuki kelompok sosial yang mereka inginkan.
Berdasarkan konsep jati diri dan presentasi tubuh dalam posmodernisme, cara mengkonsumsi bedah kosmetik dengan tujuan memenuhi kepuasan batin dan mendapatkan kedudukan sosial yang mereka inginkan merupakan suatu ekspresi diri menuju proses penemuan jati diri. Dengan dimulai dengan memperbaiki bentuk tubuh, harapan yang ada adalah bahwa hal itu juga dapat memperbaiki pandangan akan karakter mereka."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2003
S13682
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lindawati Kurniawan
"ABSTRAK
Skripsi ini menggambarkan bagaimana pengenaan, perhatian, dan interpretasi khalayak terhadap iklan kosmetik Avon, sehingga dapat terbentuk suatu pengetahuan. Gambaran tersebut diperoleh dengan melakukan studi kuantitatif terhadap 100 mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara, angkatan 1988. Melalui kerangka pemikiran yang didasarkan atas teoriteori mengenai efek komunikasi, pengetahuan mahasiswi ini dilihat dari unsur pengenaan, perhatian, dan interpretasi terhadap iklan tersebut. penelitian, diketahui bahwa secara umum pengenaan media pada responden relatif tinggi, yang ternyata diikuti pula dengan pengenaan iklannya, dimana sebagian besar responden menaruh perhatian pada iklan-iklan yang di majalah Femina dan Kartini. Dari hasil juga ada Secara khusus, iklan-iklan kosmetik baik iklan Avon ataupun iklan kosmetik lainnya ternyata mampu menarik perhatian responden. Adanya perhatian responden terhadap iklan Avon antara lain dikarenakan tingginya frekuensi penampilan iklan sehingga frekuensi untuk melihat iklan pun semakin besar. Interpretasi responden terhadap iklan Avon tersebut, relatif sesuai dengan apa yang diinginkan pengik1an. Pengenaan, perhatian, dan interpretasi terhadap iklan kosmetik Avon ini, memberi pengetahuan yang cukup baik. Responden dapat mengingat unsur ilustrasi dengan baik , namun untuk unsur copy, sebagian besar responden hanya mampu mengingat headline iklan. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa ternyata responden yang menggunakan produk kosmetik, cenderung memiliki pengetahuan yang relatif lebih baik dibanding yang tidak menggunakan."
1992
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2001
S9260
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Howard, George
Leckhampton: Stanley Thornes, 1987
646.72 HOW p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Begoun, Paula
"Women spend an extraordinary amount of money on cosmetics--$45 billion a year in the U.S. alone. Now in its fourth edition, Don't Go to the Cosmetics Counter Without Me strikes fear in cosmetics-counter consultants everywhere. First off, Begoun has deconstructed ingredient lists. Ever wonder what methylparaben, propylparaben, and butylparaben are doing in your mascara? And what is diazolidinyl urea? All four are potential irritants, and the latter is a preservative that can release formaldehyde, a class A carcinogen. Buyer beware. Begoun also lists which companies are cruelty-free and which continue to conduct animal testing. The majority of the book--and that's nearly 800 pages--is devoted to reviews of thousands of cosmetics, from cleansers, foundations, alpha-hydroxy acids, and moisturizers to lip liners, eye shadows, and concealers, all of which Begoun has personally tested. (There are no hair care products listed, as that warrants another book Don't Go Shopping for Hair Care Products Without Me.)She's perfectly frank and tells it like it is. (On Revlon's ColorStay "goes far beyond the claim of 'It won't come off on him.' It won't come off when you want it to.") You'll learn how to tell when you're being boondoggled by a salesperson, what's overpriced and overhyped, as well as what's overlooked. More than 200 brands are included, along with a helpful summary at the end that lists the best products for each cosmetic category. It should be noted that not only is Begoun a fine consumer advocate, she's also a self-esteem she mentions time and again that even the best cosmetics won't necessarily improve your life, and that's a point well taken."
Washington: Beginning Press, 1998
668.55 BEG d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sijabat, Eunike Natalia Marsaulina
"ABSTRAK
Jumlah penjualan kosmetik di Indonesia terus bertambah tiap tahunnya. Sejak tahun 2009 tercatat penjualan kosmetik telah mencapai Rp 7,56 triliun dan naik menjadi Rp 11,2 triliun pada tahun 2013. Dapat terlihat peningkatan yang signifikan dalam penjualan kosmetik di Indonesia, yang disebabkan oleh budaya kecantikan telah meningkat dan melekat di kehidupan wanita Indonesia. Hal ini memicu adanya persaingan yang ketat di antara pemain di industri kecantikan yang ada di Indonesia. Sebanyak 760 perusahaan kosmetik tersebar di seluruh pelosok Indonesia, dan pada tahun 2015 omzetnya diperkirakan mencapai Rp 20 triliun dengan nilai ekspor sebesar Rp 16 triliun. Namun industri kosmetik di Indonesia ternyata tidak dikuasai oleh merek-merek lokal. Dikatakan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Basis Industri Manufaktur (BIM) Kemenperin Indonesia bahwa, kosmetik impor membanjiri Indonesia. Jika diakumulasikan, persentasenya mencapai 55%, dan sisanya yaitu 45% merupakan kosmetik lokal.
Tujuan dari penulisan penelitian ini adalah untuk menganalisa apa saja faktor yang mempengaruhi brand loyalty dalam perilaku pembelian kosmetik di Indonesia. Terdapat enam faktor yang mempengaruhi brand loyalty, yaitu brand name, cosmetic design, cosmetic quality, cosmetic price, promotion, dan service quality. Kuesioner disebarkan pada 505 pengguna kosmetik yang tersebar di wilayah Indonesia. Penulisan ini menggunakan metode penelitian deskriptif serta analisis regresi berganda dengan SPSS 17.0. Penemuan penelitian ini adalah bahwa brand name, cosmetic quality, cosmetic price, dan service quality mempengaruhi brand loyalty secara signifikan.

ABSTRACT
Number of cosmetic products sale increases each year. Since 2009, cosmetic product sales recorded to be 7.59 billion rupiahs followed by increase in 2013 to be 11,2 billion rupiahs. We can see a significant change of sales number here caused by this new culture of beauty that has been a major topic here in Indonesia. This legit increase in this industry has led a tight competition in the market. There are currently 760 beauty products companies in Indonesia and the sum of revenue was about 20 billion rupiahs and worth of export products to be 16 billion rupiahs. Director of BIM (Basis industri Manufaktur) said that Cosmetic products industry is not controlled by local products but mostly by import products. The numbers are 55% of industry belongs to import products and the rest of 45% belongs to local products.
The main purpose of this writing is to analyze the factors that contribute in customer?s loyalty of cosmetic products in Indonesia. There are six factors identified, as factors of brand loyalty, there are brand name, cosmetic design, cosmetic quality, cosmetic price, promotion, and service quality. To get a valid information, I conducted 505 questionnaire spread out throughout all of Indonesia as a source of information of this writing. This research is using descriptive method, with multiple analysis using SPSS 17.0 program. The result of this research is that brand name, cosmetic quality, cosmetic price, and service quality affect brand loyalty significantly.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>