Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 59 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jakarta: LP3ES , 1990
330.959 8 IND
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Arndt, Heinz Wolfgang, 1915-2002
Jakarta: LP3ES, 1983
338.09 ARN p
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Dhurorudin
"Sejak berakhirnya rezim Orde Baru (pimpinan Soeharto) spektrum politik Indonesia diwarnai oleh pergulatan elit politik yang terpilah dalam banyak kelompok. Hal ini terutama terefleksi dari bermunculannya puluhan partai politik yang masing-masing terpilah akibat perbedaan visi dan mini atau bahkan spektrum ideologi. Kelompok Islam dan atau yang memakai simbol-simbol Islam merupakan salah satu dari sekian kelompok yang ikut andil dalam "pertarungan" politik tadi.
Bahkan, kubu Islam sendiri terfragmentasi pula dalam beberapa kelompok (varian) yang kadangkala bersaing bahkan bertentangan. Munculnya belasan partai Islam adalah bukti konkrit dari fragmentasi kubu Islam tadi. Bahkan, selain partai-partai politik Islam, ternyata masih muncul pula kekuatan-kekuatan politik Islam non-partai seperti terefleksi dari munculnya berbagai milisi (seperti Front Pembela Islam, Front Hizbullah, Laskar Jihad dan lain-lain) yang banyak diantaranya tak punya afiliasi -apalagi koordinasi- dengan partai politik Islam tadi.
Yang pasti, setiap varian kekuatan politik Islam tadi ternyata masing-masing mengklaim sebagai representasi dari aspirasi ummat. Masing-masing memakai bermacam simbol dan berbagai idiom Islam guna menarik simpati massa, bahkan cukup sering menggerakkan massa untuk tujuan politik mereka.
Sebenarnya, fragmentasi politik Islam di Indonesia bukanlah fenomena baru. Pada Era Orde Lama misalnya, kekuatan politik Islam juga mengalami fragmentasi dalam beberapa partai semisal Masyumi, Nahdlatul Ulama (NU), Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII), dan Persatuan Tarbiah Indonesia (Perti). Era Orde Baru kendati kekuatan politik Islam difusikan dalam satu kekuatan bernama Partai Persatuan Pembangunan, namun fragmentasi antar unsur tetap terjadi, yang bermuara pada peristiwa penggembosan PPP oleh NU tahun 1984. Ketika Orde Baru berakhir, fragmentasi politik Islam kembali terjadi, bahkan dalam wujud yang lebih fulgar, dimana keterbelahan politik Islam mengkristal dalam wujud belasan partai Islam.
Jika dicermati, fragmentasi politik kaum santri di Indonesia ini tak terlalu mengherankan mengingat akar-akarnya telah lama tertanam dalam wujud khilafiah-fiqhiah (perbedaan pemahaman nilai), yang pada akhirnya berpengaruh pada interpretasi pemaknaan kebijakan politik. Selain itu adanya kepentingan politik dari setiap kelompok kaum santri juga ikut menjadi benih bagi tumbuhnya fragmentasi. Berbagai perbedaan penyebab fragmentasi politik santri pasca Orde Baru ternyata bertambah variasinnya dibanding era sebelumnya. Memang, antara subkultur modern dan tradisional (yang menjadi trade-mark utama era Orde Lama) sebenarnya telah melakukan dialog panjang dan proses pendekatan, sehingga jurang pembeda antara dua kultur tadi relatif menyempit.
Namun, realitas perbedaan antara dua sub kultur terutama dalam konteks akar rumput (grass root) bahkan dalam pola hubungan elit dan basis massa tampaknya masih eksis (ada) dan tak mungkin untuk diabaikan. Fakta inilah yang menyebabkan keterbelahan politik Wasik yang berpijak pada dua sub kultur tadi tetap ada, kendati tak setajam era sebelumnya. Bahkan, pasca Orde Baru berkembang pula fenomena lain dalam politik kaum santri (terutama telah dimulai era Orde Baru) yakni perbedaan antara penganut pemikiran Islam kultural (kaum substansialis) dan Islam politik (kaum formalis). Fenomena baru ini telah pula meramaikan keterbelahan politik di lingkungan santri.
Fragmentasi politik Islam dengan segala penyebabnya tadi tentu saja potensial menumbuhkan konflik intra ummat, bahkan dapat melebar menjadi konflik antar ummat. Namun, perlu dipaharni bahwa politik dalam perspektif Islam hakekatnya merupakan pentakwilan sosial atas ajaran Islam. Sebagai pentakwilan pluralitas akhirnya merupakan sebuah kewajaran, sebagai sebuah kekayaan pemikiran yang seharusnya berguna untuk mencapai kemajuan. Hal yang justru tak wajar adalah bila fragmentasi disikapi dengan cara ekstrim, anti pluralitas, yakni : pertama, bahwa di tengah perbedaan (pluralitas) seolah tak ada sesuatupun yang dapat menyatukan (menjembatani) untuk mencipta kebersamaan. Pemikiran ini dapat menimbulkan sikap ekstrim bahwa kelompok berbeda mesti diperangi, dinihilkan, dihancurkan, karena pihak pesaing akan mengganggu sebuah kemapanan (status quo). Kedua, bahwa pluralitas dipandang sebagai ancaman bagi keharmonisan dan oleh karena itu secara antusias berusaha menciptakan sebuah uniformity dengan mengabaikan realitas perbedaan.
Dua pemikiran dan sikap ekstrim tadi akhirnya akan berpengaruh negatif pada stabilitas, integrasi dan atau ketahanan nasional, karena pola pikir dan sikap seperti itu pada akhirnya dapat menimbulkan perlawanan yang tak kalah ekstrimnya. Terjadi atau tidaknya implikasi negatif dari pluralitas dan atau fragmentasi politik Islam tadi tergantung pada kapabilitas (kemampuan) elit-elit politik Islam dalam menformulasikan managemen konflik antar mereka. Selain itu campur tangan pemerintah dalam tingkat tertentu untuk mengelola konflik agar tak melebar dan tak mengarah pada pembusukan politik juga menjadi penting. Namun efektifitas peran pemerintah untuk mengelola konflik antar elemen politik di masyarakat tentu sangat tergantung pada kredibilitas independensi pemerintah terhadap elemen-elemen politik yang terfragmentasi tadi."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2002
T11658
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Endang Retnowati
"Permasalahan yang dirumuskan dalam disertasi ini adalah bagaimana memahami corak pemerintahan di masa kepemimpinan Soeharto dan bagaimana memahami wacana politik Orde Baru yang terekspresi melalui teks pidato kenegaraan Soeharto 1985-1997 yang dijelaskan dengan teori-teori Paul Ricoeur, teori Anthony Giddens, teori Karl Mannheim, filsafat Jawa, yang memaknai metode hermeneutika fenomenologi."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
D606
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Prima Rafika
"Kajian mengenai sikap DDII mengenai penerbitan buku PMP tahun 1980-1982. (Di bawah bimbingan Abdurakhman, M. Hum dan Dr. Soeharto). Program Studi Ilmu Sejarah; Pengutamaan Sejarah Indonesia. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, tahun 2009. xv + 83 halaman; 2 halaman indeks; 14 halaman lampiran; daftar pustaka: 1 arsip pemerintah, 4 surat kabar, 47 buku, 2 tesis dan artikel. Penelitian mengenai sikap DDII terhadap penerbitan buku PMP tahun 1980-1982 bertujuan melengkapi penelitian mengenai Islam dan Orde Baru. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yang terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini menggunakan sumber-sumber tertulis, baik yang bersifat primer maupun sekunder.
Dalam penelitian ini penulis mengkaji mengenai alasan DDII melakukan penolakan terhadap buku-buku PMP untuk tingkat SD, SLP, dan SLA. DDII beranggapan bahwa dalam buku-buku tersebut terdapat upaya pendangkalan agama. Selain itu, dalam buku-buku juga dianggap mengkonfrontasi agama dengan Pancasila. Hal ini dikhawatirkan akan merusak akidah anak-anak. DDII menghimbau agar buku-buku tersebut dilakukan revisi secara menyeluruh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak melakukan revisi secara menyeluruh seperti yang dikehendaki oleh DDII juga beberapa organisasi Islam lainnya. Penerbitan buku-buku ini sebagai salah satu upaya menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Selain itu, pemerintah juga melakukan upaya indoktrinasi terhadap murid-murid sekolah melalui penerbitan buku ini.

Study on the attitudes about the publication of books DDII PMP years 1980-1982. (Under the guidance Abdurakhman, and Dr M. Hum. Soeharto). History of Science Program; History Pengutamaan Indonesia. Faculty of Cultural Sciences, University of Indonesia, in 2009. xv + 83 pages, 2 page index, 14 page appendix; list of libraries: 1 government regulations, 4 newspapers, 47 books and articles. Research on attitudes towards publishing books DDII PMP years 1980-1982 aimed to complete research on Islam and the New Order. Research was conducted using a historical approach that consists of four phases, namely heuristik, criticism, interpretation, and historiografi. This study uses written sources, whether they are primary or secondary.
In this study the authors review the reasons for the rejection of the conduct DDII books PMP for primary schools, SLP, and SLA. DDII thought that in the books there are efforts pendangkalan religion. In addition, in the books is also considered mengkonfrontasi religion with Pancasila. It is feared this will damage the faith of children. DDII urge that the books be revised thoroughly. Results of this research show that the government does not revise comprehensively as desired by DDII several other Islamic rganizations. Publication of these books as one of the efforts made Pancasila as the basic state. In addition, the government also make efforts to rainwashing school students through the publication of this book."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2009
S12766
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996
320 959 58 MEN
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Nasution, Abdul Haris, 1918-2000
Jakarta: [Publisher not identified], 1974
328.91 ABD t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Balai Pustaka, 1985
320.095 98 TER
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Suyatno Prayitno
Jakarta: Institut Studi Arus Informasi, 2003
959.8 SUY k
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Endah Uswatie
"Penelitian mengenai peran serta Nahdlatul Ulara dalam menegakkan kepemimpinan Orde Baru dilakukan sejak Maret 1990 hingga Desember 1990, dilanjutkan dengan penyusunan bab perbab sejak Januari-Juni 1991. Sejalan dengan penelitian dilakukan beberapa kali konsultasi dengan pembimbing agar tersusun karya ilmiah yang baik. Penelitian dalam rangka mengumpulkan sumber-sumber yang obyektif dilakukan di berbagai perpustakaan seperti di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Lembaga Arsip NAsional RI, Lakpesdam NU, Perpustakaan Nasional dan lain-lain, serta dilakukan dengan wawancara. Dari hasil penelitian penulis, peran serta NU dalam menegakkan kepemimpinan Orde Baru dilakukan sejak mulai terlihat adanya usaha PKI dalam mengganggu kestabilan nasional dengan jalan melakukan aksi-aksi sepihaknya dan mencapai puncaknya pada peristiwa G-30-S/ PKI tahun 1965. NU bersama ormas-ormasnya turut serta berpartisipasi dalam usaha mempertahankan keutuhan negara dari usaha PKI. Usaha NU ikut mempertahankan keutuhan negara dilakukan terus meskipun PKI telah dinyatakan sebagai partai terlarang. Usaha itu dilakukan dalam rangka meuujudkan kembali pemerintahan negara yang baik. Peran serta NU terlihat mulai menurun atau dipersempit sejak pemerintahan Orde Baru yang ikut diperjuangkannya secara gigih, mengeluarkan berbagai kebijaksanaan pemerintah yang umumnya ditujukan untuk memperkokoh posisi pemerintah baru dan di lain pihak mempersempit ruang gerak partai-partai politik termasuk NU. Dan pada akhirnya tokoh-tokoh NU di berbagai lembaga negara tidak dapat dengan leluasa memperjuangkan segala aspirasi pendukungnya dan rakyat Indonesia pada umumnya."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1991
S12305
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6   >>