Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yusriana
"Penurunan fungsi tubuh dan kemampuan tubuh lansia membuat pemenuhan kebutuhan dasar menjadi tidak adekuat. Masalah yang paling sering disebabkan oleh hal tersebut adalah penurunan kualitas hidup lansia. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi hubungan pemenuhan kebutuhan dasar dengan kualitas hidup lansia di Kelurahan Srengseng Sawah Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan.
Desain penelitian ini adalah studi korelasi dengan jenis penelitian analitic correlation melalui pendekatan cross sectional study dengan jumlah sampel 111. Pengambilan sampel dilakukan dengn cara purposive sampling. Uji bivariat dengan spearman rank, Multivariat dengan uji regresi linear ganda terhadap konfounding yaitu karaktersitik.
Didapatkan hasil karakteristik umur (median=67,00), jenis kelamin perempuan (75,7%) dan pendapatan rendah (71,2%) merupakan konfounding dengan masing-masing nilai untuk umur p=0,00, jenis kelamin p=0,057, dan pendapatan p=0,130. Pemenuhan kebutuhan dasar dengan kualitas hidup mempunyai hubungan yang signifikan.
Disarankan agar perawat dalam meningkatkan kualitas hidup lansia yang mengalami kelamahan atau kemunduran secara fisik sehingga tidak mampu dalam pemenuhan kebutuhan dasar adalah dengan cara menurunkan dan mengatasi gejala yang dialami lansia serta meningkatkan persepsi positif terhadap lansia.

The decrease function and ability of the older persons body make the fulfillment of basic needs in adequate. One of the most factors is caused by quality of life decrease. When the older persons feels perceived physical weakness as limitation, so the perception of health will decrease too. This study aims to identify the correlation of fulfillment of basic needs with older persons quality of life in Srengseng Sawah South Jakarta.
Analytic correlation was used as design of this research with cross sectional study approach. This study used 111 samples, where as purposive sampling is applied in sample collection. In multivariate, paired linear regression is used to know characteristics confounding.
The result wereage, sex and income as confounding with p value 0.00 for age, sex with p value 0.057 and p value for income 0.130. There is correlation with fulfillment the basic needs and quality of life in older persons.
This study suggest to increase quality of life in weakness or physical decrease in elderly by overwhelming the symptoms and positive improvement of older persons perception.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2016
T46004
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Emilia Siswadi Naland
"Salah satu masalah yang dapat timbul dalam bubungan suami isteri adalah perselingkuhan di mana suami atau isteri terlibat dalam hubungan seksual dan terikat secara emosional dengan orang lain yang bukan pasangannys. Perselingkuhan meaimbulkan hetbsgai dampsk negatif dalam kehldupan berkeluarga karena suami atau isteri yang herselingkuh akan membagi babkan mengalihkan cinta kasih, perhatian, dana dan kebutuban keluarga yang lain dari pasangannya dan anak-anaknya, kepada orang ketiga yang menjadi pasangan selingkuhnya. Akibatnya kehldupan keluarga menjadi terganggu, suami-isteri kehilangan kepeccayaan tecbadsp pasangannya dan hubungan keduanya menjadi tidak harmonis. Perselingkuhan menurut catatan beheraps penelitian lebih banyak dilskukan oleh suami daripada baeri dan menimbulkan dampak lebih buruk pada isteri karena isteri memandang makna perselingkuhan dari sisi kesalahan ataupun kekurangan di dalam dirinya. Isteri akan merasa dirinya tidak berharga, kehilangan kasih sayang, perharian dan dulrungan dari suami sehingga mereka mudah menjadi depresi. Akibat lebih lanjut, isteri mungkin menjadi kurang mampu menjalankan fungsi-fungsi psilrologisnya dengan baik. Ia sendiri kurang dapat melihar kebaikan dirinya, enggan membina hubungan yang akrab dan bangat dengan orang lain, kurang mampu mengambil keputusan sendiri, sulit mengatur berbagai aktivitas yang hams dilakukannya, kehilangan minat untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, bahkan dapat kehilangan makna dan tujuan hidupnya sehingga dapat dikatakan merasa tidak sejahtera secara psikologis. Penelitian ini mengkaji kesejahteraan paikologis isteri yang mempunyai pengalaman suami berseelingkuh dengan membedakan isteri usia dewasa muda dan isteri usia dewasa madya, mengingat karakteristik dan tugas perkembangan kedua tahapaa usia tersebut berhada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Pada awal perselinglroban terungkap, kesejahteraan psikologis isteri terganggu baik pada isteri usia dewasa madya atau muda. Namun demikian, kesejahteraan psikologis dapat pulib kembali setelah mereka dapat menerima kenyataan yang terjadi, mengambil keputusan mangenai kelanjulan kehidupan perkawinan dan menyesuaikan diri dengan 'kehidupannya yang baru' yaitu tetap mempertahankan perkawinan alan bereerai. Empat responden dewasa madya dalam penelitian ini terdiri dari 2 responden yang telah bercerai dan 2 respnnden yang mempertahankan perkawinan merasa sejahtera secara psikologis Kedua responden dewasa madya yang memutuskan bercerai, secara umum memiliki kesejahteraan psikologis lebih baik dibandingkan dengan dua responden dewasa madya yang mempertahankan perkawinan. Hal ini antara lain disebabkan karena kedua responden yang mempertahankan perkawinan. belum dapat menyelesaikan masalah parselingkuhan suarni secara tuntas. Seorang responden, suarninya tetap berselingkuh dan seorang. yang Jain mempunyai anak di luar perkawinan mereka. Kadua responden dewasa muda merasa tidak sejahtera secara psikologis. Mereka berdua merasa kurang dapat menerima diri mereka dengan baik dan lebih banyak melihat kekurangan diri. Keduanya belum dapat mengambil keputusan mengenai kelanjutan parkawinan mereka apakah akan dipertahankan atau bereerai dan sedang mempertimbangkan berbagai konsekuensi yang menyenainya. Beberapa karakteristik dan tugas perkembangan dewasa madya tampaknya Jebih memudahkan untuk merasa sejahtera. Hal ini antara lain disebabkan karena semua responden dewasa madya mandiri secara ekonomi, mereka mempunyai peeghasilan atau pekerjaan yang dapat diandalkan. Dalam menjalankan peran sebagai orang tua atau ibu, dewasa madya khususnya mereka yang mempunyai anak sudah cukup besar tidak Jagi banyak disibukkan oleh tugas-tugas mengurus dan merawat anak sehingga mereka dapet melakukan berbagai aktivitas sebagaimana dibutuhkannya, termssuk bekerja tanpa banyak mengalami konflik peran. Selain itu, sebagian respondan dewasa madya mempunyai anak-anak yang sudah berusia remaja atau dewasa muda sehingga dapat memberikan dukungan kepada ibunya dalam bentuk saran, kerja sama dan saling tolong menolong memenuhi berbagai kebutuhan atau mengatasi kesulitan. Selanjutnya dikemukakan saran agar penelitian ini dapat dikembangkan dengan menambah responden yang bentda dalam kondisi lebih bervariasi. Seperti misalnya, panting ditelaah kesejabteraan psikologis responden dewasa madya yang tidak mempunyai pekerjaan atau penghasilan yang dapat diandalkan, responden dewasa muda yang bercerai agar dapat dipelajari cara mereke mengatasi masalah finansial dan kesibukan mengurus anak tetapi tetap mampu merasa sejahtera secara psikologis. Hasil penelitian akan lebih kaya apabila dilakukan pula penelitian terhadap kesejahteraan psikologis suami yang isterinya berselingkuh agar dapat diketabui pengaruh dari peran jender Selanjutnya dikemukakan juga saran praktis untuk isteri yang mempunyai pengalaman suarni berselingkuh agar tidak berlarut-Iarut tenggelarn dalarn depresi dengan membuka diri dalarn mengatasi berbagai masalah yang mungkin timbul dan segera menata diri kembali dengan kebidupan yang baru bersama atau tanpa suami. Isteri dewasa muda yang belum bekerja dapat segera membekali diri dengan ilmu dan keterampilan agar dapat memberdayakan diri dan tidak seterusnya bergantung kepada suarni, terutama hila perkawinan tidak dapat dipertabakankan Mendekatkan diri kepada Tuhan akan menambah ketegaran serta memberikan pengharapan dalam mengatasi kesulitan yang mungkin dihadapi."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2001
T37885
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raya Maliska Azmi
"Perubahan yang terjadi pada lansia selama proses penuaan memunculkan berbagai permasalahan sehingga lansia sulit melakukan aktivitas kesehariannya. Kesulitan lansia dalam melakukan aktivitas ini membuat lansia bergantung pada orang lain. Tujuan: mengidentifikasi tingkat kemandirian lansia dan mengidentifikasi tingkat kemandirian lansia menurut karakteristiknya. Metode: penelitian ini merupakan studi deskriptif. Responden berjumlah 110 orang dan pengambilan data menggunakan kuesioner Care Dependency Scale. Hasil: karakteristik lansia menunjukkan bahwa 55,5% berjenis kelamin laki-laki, 78,2% berusia 60-74 tahun, 67.3% berpendidikan rendah, 69.1% telah tinggal selama 1-5 tahun, dan 55.5% memiliki masalah kesehatan. Kategori kemandirian lansia menunjukkan 80.9% mandiri, 19.1% dikategorikan tergantung. Sebagian besar lansia yang mandiri berada pada rentang usia 60-74 tahun, berjenis kelamin laki-laki, tingkat pendidikan yang rendah, telah tinggal selama 1-5 tahun, dan memiliki masalah kesehatan. Saran: pihak panti dan instansi terkait lebih memperhatikan kemandirian lansia dalam memenuhi kebutuhan dasarnya guna meningkatkan kesejahteraan lansia.

Changes that occur in the elderly during the aging process raises various problems so that the elderly have difficulty doing daily activities. The difficulty of the elderly doing daily activities makes them dependent on others. Aim: To identify the elderly independence level and describe the independence level based on the characteristics of the elderly. Method: the research is a descriptive study. The number of respondents is 110 people of the elderly using the Care Dependency Scale questionnaire. Result: the characteristics of the elderly show that 55.5% are male, 78.2% aged 60-74 years old, 67.3% have low education, 69.1% have lived for 1-5 years, and 55.5% have health problems. The category of independence level shows that 80.9% are independent, 19.1% are dependent. Meanwhile, most of the independent elderly are male, aged 60-74 years old, have low education, have lived for 1-5 years, and have health problems. Suggestion: the related institutions pay more attention to the independence of the elderly to fulfill their basic needs to improve elderly welfare.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ketut Desy Pramita
"Kinerja karyawan merupakan hal esensial bagi kesuksesan suatu organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh harmonious passion dan obsessive passion terhadap kinerja karyawan serta peranan basic psychological needs satisfaction sebagai mediator pada hubungan tersebut. Responden dalam penelitian ini merupakan 267 karyawan dari berbagai organisasi. Penelitian ini menggunakan metode survei self-rating dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harmonious passion berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, dan basic psychological needs satisfaction berperan sebagai mediator pada hubungan tersebut. Sementara itu, obsessive passion berhubungan secara tidak langsung dengan kinerja melalui mediator basic psychological needs satisfaction.

Job performance is an essential factor for organization success. The aim of the present study is to examine the effect of harmonious passion and obsessive passion on job performance, and to investigate the mediating role of basic psychological needs satisfaction on work passion job performance relationship. Data were collected from 267 employees working in various organization. Results indicated that harmonious passion was significantly related to job performance and basic psychological needs satisfaction partially mediated this relationship. Furthermore, obsessive passion was indirectly related to job performance through basic psychological needs satisfaction."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2017
S69263
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bijak Aditia Hutomo
"Kondisi prasejahtera merupakan salah satu faktor kontekstual yang berdampak pada efikasi diri keputusan karier mahasiswa. Dilain pihak, pemenuhan kebutuhan dasar psikologis yang dirasakan mahasiswa juga dapat memengaruhi efikasi diri keputusan kariernya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran moderasi pemenuhan kebutuhan dasar psikologis pada hubungan dukungan kontekstual dan hambatan kontekstual terhadap efikasi diri keputusan karier mahasiswa yang berasal dari keluarga prasejahtera. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 512 mahasiswa prasejahtera yang tersebar pada 18 Provinsi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan tiga instrumen, yaitu Career Decision-Making Self-Efficacy Short Form (CDSE-SF), Contextual Support and Barrier Scale (CSB), dan Basic Psychological Needs Satisfaction in General Scale (BPNS-G). Analisis data dilakukan dengan tiga analisis, yaitu analsisi deskriptif, korelasi, dan regresi moderasi dengan menggunakan Hayes Process Macro ver.4.2 dalam aplikasi SPSS. Hasil analisis moderasi pada model 1 menemukan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar psikologis memoderasi hubungan dukungan kontekstual terhadap efikasi diri keputusan karier. Meskipun demikian pemenuhan kebutuhan dasar psikologis tidak memoderasi hubungan hambatan kontekstual dengan efikasi diri keputusan karier. Implikasi dari penelitian ini menemukan pentingnya dukungan kontekstual terhadap efikasi diri keputusan karier pada mahasiswa prasejahtera, khususnya dari aspek orang tua, teman sebaya, dosen, dan institusi. Hambatan kontekstual pada mahasiswa prasejahtera juga perlu diperhatikan, khususnya pada hambatan finansial. Pemberian beasiswa pada mahasiswa prasejahtera dapat membantu mahasiswa dalam mendapatkan dukungan kontekstual dan meminimalisir hambatan kontekstual.

Underprivileged conditions are one of the contextual factors that impact career decision self-efficacy. On the other hand, students' basic psychological needs satisfaction can also influence their career decision self-efficacy. This research examines the moderation role of basic psychological needs satisfaction on the effect of contextual support and contextual barriers on the career decision-making self-efficacy of students from underprivileged families. Participants in this research were 512 underprivileged students spread across 18 provinces in Indonesia. This research used three instruments, namely Career Decision-Making Self-Efficacy Short Form (CDSE-SF), Contextual Support and Barrier Scale (CSB), and Basic Psychological Needs Satisfaction in General Scale (BPNS-G). Data analysis was carried out using three analyses, namely descriptive analysis, correlation, and moderated regression using Hayes Process Macro ver.4.2 in the SPSS. The results of the moderation analysis found that basic psychological needs satisfaction moderates the effect of contextual support on career decision self-efficacy. However, basic psychological needs satisfaction does not moderate the effects of contextual barriers on career decision-making self-efficacy. The implications of this research reveal the importance of contextual support for career decision self-efficacy in underprivileged students, especially from the aspects of parents, peers, lecturers, and institutions. Contextual barriers for underprivileged students also need to be considered, especially financial ones. Providing scholarships to underprivileged students can help students to get contextual support and minimize contextual barriers.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Safira
"Mahasiswa yang berada di tahap emerging adulthood kerap kali menghadapi tantangan-tantangan perkuliahan dan kehidupan yang dapat berdampak buruk terhadap Kesejahteraan Psikologis. Berdasarkan tinjauan literatur, ditemukan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar psikologis (PKDP) dan penggunaan internet bermasalah (PIB) berperan dalam Kesejahteraan Psikologis pada mahasiswa. Belum terdapat penelitian yang meneliti dinamika hubungan PKDP, PIB, dan Kesejahteraan Psikologis pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran PKDP dan PIB dalam memprediksi Kesejahteraan Psikologis serta hubungan PKDP dan PIB pada mahasiswa. Penelitian ini melibatkan 243 partisipan mahasiswa (Mage=21,2, Nperempuan=179) . Pengukuran variabel menggunakan alat ukur Ryff Psychological Well Being Scale (RPWBS), Basic Psychological Need Satisfaction Scale (BPNSS), dan Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa PIB dapat memediasi hubungan antara PKDP dan Kesejahteraan Psikologis secara parsial (β = 9,1906, 95% CI [7,8382, 10,5430]). Temuan dari penelitian dapat digunakan untuk pertimbangan dalam menyusun intervensi meningkatkan Kesejahteraan Psikologis pada mahasiswa di tahap emerging adulthood =melalui PIB.

Students who are in the emerging adulthood stage often face challenges in college and life that could have a negative impact on psychological well-being (PWB). Based on a literature review, it was found that basic psychological need satisfaction (BPNS) and problematic internet use (PIU) played a role in PWB for university students. Previous research in Indonesia have not investigated the dynamic BPNS, PIU, and PWB in university students yet. This research aimed to look at the role of PIU in mediating the relationship between BPNS and PWB. This research involved 243 student participants (Mage=21,2, Nwoman=179)) and live in Indonesia. Variable measurements used the Ryff Psychological Well Being Scale (RPWBS), Basic Psychological Need Satisfaction Scale (BPNSS), and Generalized Problematic Internet Use Scale 2 (GPIUS 2). The research results show that PIU partially mediated the relationship between BPNS and PWB (β = 9,1906, 95% CI [7,8382, 10,5430]). The findings from the research can be used as a consideration when arranging intervention to increase university students PWB in the emerging adulthood stage through PIB."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yenny Tandi
"Pasien kanker stadium lanjut pada fase paliatif mengalami masalah ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Caregiver terlibat dalam seluruh aspek perawatan pasien memainkan peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan dasar pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap caregiver dengan pemenuhan kebutuhan dasar pasien kanker stadium lanjut. Penelitian ini merupakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional, yang melibatkan 83 caregiver pasien kanker stadium lanjut yang dipilih dengan teknik purposive sampling.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan pemenuhan kebutuhan dasar (p value=0,000), sementara variabel sikap, usia, lama merawat, status perkawinan, relasi dengan pasien, dan jenis kelamin caregiver tidak memiliki hubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Analisis multivariat menunjukkan faktor yang paling berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar adalah pengetahuan. Perawat diharapkan dapat mengkaji dan mengedukasi caregiver untuk meningkatkan kualitas perawatan yang diberikan oleh caregiver.

Patients with advanced cancer in the palliative phase have incapabilities in fulfilling their daily basic needs. Caregivers involved in all aspects of patients care and play important roles in the fullfillment of patients basic needs. This study aims to investigate the relationship between cargivers knowledge and attitude in the fulfillment of the basic needs of patients with advanced cancer. This study was a descriptive correlational design with cross-sectional method involving 83 caregivers of patient with advancedstage cancer, recruited by purposive sampling technique.
The results of the study showed that there is a significant correlation between knowledge and basic needs fulfillment (p value = 0,000), while attitude, age, length of care,marital status, relationship with patients, and gender of caregivers variables have no relation with basic needs fulfillment. Multivariate analysis showed that the most dominant factor related to the fulfillment of basic needs is knowledge. Nurses are expected to be able to assess and educate caregivers to improve their quality of care.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2018
T49229
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library