Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rizka Nur Fadila
"Beban tuberkulosis di Indonesia termasuk lima tertinggi di dunia. Temuan
kasus dan pengobatan adalah pilar utama program penanggulangan tuberkulosis.
Survei nasional menunjukkan peningkatan penggunaan rejimen
tidak standar dari 16,8% (2010) menjadi 55,6% (2013). Peningkatan penggunaan
rejimen tidak standar diduga berpengaruh terhadap ketidakpatuhan
berobat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari ketidakpatuhan berobat
pada orang dengan tuberkulosis yang menerima rejimen tidak standar dan
rejimen standar. Penelitian menggunakan data sekunder Riset Kesehatan
Dasar 2010. Analisis logistik multivariabel dilakukan pada sampel 971 orang
dengan tuberkulosis yang selesai mendapatkan pengobatan. Hasil penelitian
menunjukkan ada kecenderungan orang dengan tuberkulosis yang
menerima rejimen tidak standar memiliki ketidakpatuhan berobat lebih tinggi.
Hasil penelitian juga menunjukkan odds untuk tidak menyelesaikan
pengobatan lebih tinggi pada orang yang menerima rejimen tidak standar
dibandingkan orang yang menerima rejimen standar, yaitu odds ratio
terkontrol 2,4 (95% CI odds ratio: 1,7-3,5). Dalam upaya menjamin
kepatuhan berobat tuberkulosis, mutu program pengobatan perlu ditingkatkan;
di antaranya adalah ketersediaan rejimen standar, penyetaraan
standar pengobatan antara fasilitas pelayanan kesehatan swasta dan publik,
serta sistem pemantauan minum obat.
Indonesia is one of five highest tuberculosis burden countries. Case finding
and treatment are the main pillars of tuberculosis control program. National
survey reported that the usage of nonstandarized regimen is increased from
16,8% (2010) to 55,6% (2013). Increase use of nonstandarized regimen is
associated with poor adherence tuberculosis treatment. This study purposed
to compare the poor adherence of tuberculosis treatment among
people who received standarized regimen and people who received nonstandarized
regimen. The study used secondary data of National Health
Survey 2010. Analysis used multivariable logistic through 971 people who
completed tuberculosis treatment. This study found that people who received
nonstandarized regimen had higher poor adherence of tuberculosis
treatment than people who received standarized regimen. The result also
showed that the odds of not to complete the treatment was higher in people
who received nonstandarized regimen than who received standarized
regimen, adjusted OR was 2,4 (95% CI OR: 1,7-3,5). To assure the adherence
to tuberculosis treatment is to strengthen tuberculosis treatment program;
such as the availability of standarized regimen, the equality of standard
tuberculosis treatment among public and private health services, and
the system of observed treatment."
Universitas Indonesia, 2014
PDF
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ekky Fajar Frana
"ABSTRACT
Di Indonesia, angka keberhasilan pengobatan pasien TB resistan obat sejak tahun 2013-2015 masih rendah yaitu sebesar 52,4%. Upaya yang dilakukan adalah dengan diterapkannya metode baru yaitu metode standar jangka pendek pada tahun 2107. Seiring diterapkannya metode baru, metode standar konvensional tetap terus dilakukan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pengobatan antara metode standar standar konvensional dan metode standar jangka pendek. Data yang digunakan adalah data pasien TB MDR yang memulai pengobatan antara Januari-Desember 2017 yang teregister dalam e-TB Manager. Hasil pengobatan yang baik pada metode standar konvensional adalah 39,8% dan pada metode standar jangka pendek adalah 48,9%. Hasil analisis uji chi square terhadap perbedaan hasil antara metode konvensional dan jangka pendek adalah tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p-value = 0,067). Dan hanya faktor umur 45 tahun dan interval inisiasi pengobatan 30 hari yang perbedaan hasil pengobatannya signifikan (p-value = 0,005 dan 0,047).

ABSTRACT
In Indonesia, the success rate of treatment of drug-resistant TB patients from 2013-2015 is still low at 52.4%. The efforts made were to implement a new method, namely the standard short-term method in 2107. As new methods were implemented, conventional standard methods continued. This study used a cross sectional design aimed to determine differences in treatment outcomes between conventional standard standard methods and short-term standard methods. The data used is data on MDR TB patients who started treatment between January-December 2017 registered in e-TB Manager. The good treatment results in the conventional standard method are 39.8% and in the standard short term method is 48.9%. The results of the chi square test analysis of the differences in results between conventional and short-term methods there is no significant difference (p-value = 0.067). And only age factors 45 years and treatment initiation intervals 30 days for which the difference in results was significantly different (p-value = 0.005 and 0.047)."
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adelia Trinita
"Tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis pada paru-paru dan organ tubuh lain. TB menjadi permasalahan global yang hanya dapat disembuhkan dengan pengobatan yang teratur sehingga diperlukan kepatuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat pengetahuan pasien dan menganalisis hubungannya terhadap kepatuhan pengobatan pasien di tiga Puskesmas dengan prevalensi TB tertinggi di Kota Depok. Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Metode perolehan sampel dilakukan dengan teknik total sampling dengan menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitas, kartu pengobatan pasien (TB.01), kartu identitas pasien (TB.02), dan SITB. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder dengan total 82 sampel dan dianalisis menggunakan IBM®SPSS® versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien (50%) memiliki tingkat pengetahuan yang sedang mengenai penyakit dan pengobatan TB, sedangkan hanya 23 pasien (28%) yang memiliki tingkat pengetahuan yang buruk dan 18 pasien (22%) dengan tingkat pengetahuan baik. Tingkat kepatuhan pasien TB paru di tiga puskesmas menunjukkan bahwa sebanyak 60 pasien (73,2%) sudah patuh sementara 22 pasien lainnya (26,8%) tidak patuh dalam menjalankan pengobatan. Analisis statistik inferensial menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara pengetahuan pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien (p=0,000; R=0,652). Semakin baik pengetahuan pasien, semakin patuh pasien dalam menjalankan pengobatan. Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan sangat penting dalam mengedukasi pasien TB agar dapat meningkatkan kepatuhannya.

Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis infection in the lungs and other body organs. TB is a global problem that can only be cured with regular treatment, so patient’s adherence is required. This study aims to assess the level of patient knowledge and discuss patient treatment adherence at three Community Health Centers with the highest TB prevalence in Depok City. The design of this research was cross-sectional. The sample acquisition method was carried out using a total sampling technique using a questionnaire that had been tested for the validity and reliability, patient treatment cards (TB.01), patient identity cards (TB.02), and SITB. The data collected were primary data and secondary data with a total of 82 samples and analyzed using IBM®SPSS® version 27. The results showed that the majority of patients (50%) had a moderate level of knowledge regarding TB disease and treatment, while only 23 patients (28%) who had a poor level of knowledge and 18 patients (22%) with a good level of knowledge. The compliance level of pulmonary TB patients in the three health centers showed that 60 patients (73.2%) were compliant while 22 other patients (26.8%) were not compliant in carrying out treatment. Inferential statistical analysis shows that there is a strong correlation between patient knowledge and the level of patient compliance (p=0.000; r=0.652). The better the patient's knowledge, the more compliant the patient will be in carrying out treatment. Therefore, the role of health workers is very important in educating TB patients in order to increase their compliance"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuliyani
"Latar Belakang: Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan jumlah penderita Tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia. Jawa barat tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus TB tertinggi yang dilaporkan. Rumah Sakit Paru dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) adalah layanan kesehatan yang melaporkan kasus TB tertinggi pada kabupaten Bogor, dengan angka keberhasilan pengobatan kurang dari target nasional.
Tujuan: Memperoleh informasi mendalam mengenai keberhasilan program penanggulangan TB menggunakan model Donabedian di RSPG tahun 2022.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dilaksanakan pada bulan Mei-Juli 2022, dengan 23 informan.
Hasil: Secara umum, penelitian ini menemukan bahwa kualitas pelayanan TB di RSPG kurang optimal. Komponen struktur dan proses yang kurang baik serta belum dilaksanakan sesuai standar pelayanan TB, merupakan faktor yang mungkin dapat menghambat keberhasilan pengobatan. Ketersediaan sumber daya yang berkaitan dengan ruangan tunggu terpisah untuk pasien TB dan non TB, ruangan pemeriksaan yang menjamin privasi pasien, ruangan dan kursi tunggu yang nyaman, serta ruangan poliklinik Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) sesuai standar belum tersedia. Demikian halnya dengan kemudahan untuk menemukan dan mencapai lokasi tempat pemeriksaan penunjang, keterjangkauan geografis, ketepatan waktu kehadiran dokter, informasi yang memadai tentang TB, penggunaan media Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), serta ketanggapan petugas yang dinilai kurang baik. Meskipun demikian, penelitian ini menemukan bahwa petugas kesehatan mempunyai keahlian dan sikap yang baik dalam memberikan pelayanan, kebersihan seluruh ruangan dan toilet, kelengkapan sarana prasarana, serta pemeliharaan peralatan kesehatan.
Kesimpulan: RSPG harus memaksimalkan potensi yang sudah baik dan memperbaiki aspek-aspek yang kurang baik, untuk meningkatkan kualitas pelayanan serta mendukung keberhasilan program penanggulangan TB.

Background: Indonesia is ranked second as the country with the highest number of Tuberculosis (TB) sufferers in the world. West Java was recorded as the province with the highest number of reported TB cases. Pulmonary Hospital dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) is a health service that reports the highest TB cases in Bogor district, with treatment success rates less than the national target.
Purpose: Obtain in- depth information on the success rate of TB control programs using the Donabedian model at the RSPG in 2022.
Method: This research is a qualitative research, conducted in May-July 2022, with 23 informants.
Results: In general, this study found that the quality of TB services at RSPG was less than optimal. Structural components and processes that are deficient and have not been implemented according to TB service standards, are factors that may hinder the success of treatment. Availability of resources related to separate waiting rooms for TB and non-TB patients, examination rooms that ensure patient privacy, comfortable waiting rooms and chairs, and standardized Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) polyclinic rooms are not yet available. Likewise with the ease of finding and reaching the location of the supporting examination, geographical accessibility, doctor’s attendance, adequate information about TB, use of Educational Information Communication (KIE) media, and the response of officers who are considered deficient. However, this study found that health workers have good skills and attitudes in providing services, cleanliness of all rooms and toilets, completeness of infrastructure, and maintenance of health equipment.
Conclusion: RSPG must maximize the potential that is already good and improve deficient aspects, to improve service quality and support the success of TB control programs.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadazaira Alifia Ramadhianisa
"Pada tahun 2022, diperkirakan ada sekitar 1.060.000 kasus tuberkulosis di Indonesia, menjadikan Indonesia dengan jumlah estimasi kasus TB tertinggi kedua di dunia. Kota Depok, Jawa Barat mengalami penurunan keberhasilan pengobatan sejak tahun 2019 sampai 2022. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain kohort retrospektif menggunakan data sekunder yang bersumber dari SITB Kota Depok dan bertujuan untuk mengetahui determinan keberhasilan pengobatan pada pasien dewasa TB paru sensitif obat di Kota Depok tahun 2022. Sebanyak 2259 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan SPSS Statistics 25. Diperoleh angka keberhasilan pengobatan pada pasien dewasa TB paru SO sebesar 84,2%. Variabel umur, jenis kelamin, riwayat pengobatan TB, status HIV, dan lama konversi sputum ditemukan memiliki hubungan dengan keberhasilan pengobatan. Ditemukan tiga determinan keberhasilan pengobatan, yakni variabel umur, jenis kelamin, dan riwayat pengobatan TB dengan variabel riwayat pengobatan TB memiliki pengaruh paling besar. Diperlukan adanya intervensi pada kelompok umur lansia, jenis kelamin laki-laki, riwayat pengobatan TB ulangan, positif HIV, dan lama konversi sputum lebih dari 2 bulan untuk dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan TB.

In 2022, it is estimated that there were approximately 1,060,000 tuberculosis cases in Indonesia, making it the country with the second highest estimated TB cases in the world. Depok City, West Java, has experienced a decline in treatment success rates from 2019 to 2022. This research is a quantitative study with a retrospective cohort design using secondary data from SITB aimed at determining the factors influencing treatment success in adult patients with drug-sensitive pulmonary TB in Depok City in 2022. A total of 2,259 samples that met the inclusion and exclusion criteria were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate methods with SPSS Statistics 25. The treatment success rate for adult patients with drug-sensitive pulmonary TB was found to be 84.2%. Variables such as age, gender, history of TB treatment, HIV status, and duration of sputum conversion were found to be associated with treatment success. Three determinants of treatment success were identified: age, gender, and history of TB treatment, with the history of TB treatment having the most significant impact. Interventions are needed for elderly age groups, males, those with a history of repeated TB treatment, HIV-positive individuals, and those with sputum conversion lasting more than 2 months to improve TB treatment success rates."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dimas Panduasa
"Konversi pada pengobatan penderita TB paru merupakan tanda keberhasilan pengobatan dan pencegahan penyebaran kuman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh merokok terhadap kegagalan konversi penderita TB Paru.
Penelitian ini menggunakan disain kasus kontrol. Kasus adalah penderita yang mengalami kegagalan konversi Sedangkan kontrol adalah penderita yang mengalami konversi. Hasil akhir didapatkan penderita dengan riwayat merokok sebelum pengobatan mendapatkan rasio odds 4,92 kali (CI95% 1,6-14,51) terjadi kegagalan konversi dan penderita yang merokok pada saat pengobatan tuberkulosis mendapatkan rasio odds 13,77 kali (CI 95% 4,6-41,01) terjadi kegagalan konversi setelah dikontrol umur, keteraturan berobat, penyakit diabetes melitus. Maka penderita tuberkulosis perlu berhenti merokok selama pengobatan.

Conversions is a sign of the success of the treatment and prevention of the spread of germs. This study aimed to determine the effect of smoking on conversion failure patients with pulmonary TB. This study used a case-control design. Cases were patients who experienced failure of conversion while controls were patients who experienced conversion. The final results obtained patients with a history of smoking prior to treatment to get an odds ratio of 4.92 times (CI95% 1.67 to 14.51) conversion failure and patients who smoked at the time of treatment for tuberculosis getting odds ratio 13.77 times (95% CI 4 0.62 to 41, 01) conversion failure after controlling age, regularity of treatment, disease diabetes mellitus. So tuberculosis patients have to stop smoking during tuberculosis treatment."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bayu Seno Aji
"Berdasarkan data SITB per 2 Februari 2022, terdapat 8306 kasus TB-RR/MDR terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Keberhasilan pengobatan TB MDR di Indonesia tahun 2021 belum mencapai target dan termasuk rendah dibandingkan dengan global yaitu sebesar 45%. Penelitian bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan pasien TB MDR di RSUP Persahabatan tahun 2019. Penelitian ini menggunakan desain studi kohort retrospektif. Penelitian menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien TB MDR yang berobat di RSUP Persahabatan tahun 2019 yang dilihat sejak awal pengobatan hingga didapatkan hasil akhir pengobatan. Terdapat 273 sampel yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics 25 dengan uji chi-square, dengan RR untuk mengetahui derajat hubungan antar variabel dan dan p < 0,05 sebagai batas kemaknaan. Pada hasil analisis diketahui umur (p=0,000; RR=1,603 95CI% 1,251–2,055), jenis kelamin (p=0,749; RR=1,045 95CI% 0,798–1,369), pendidikan (p=0,165; RR=1,228 95CI% 0,929–1.634), pekerjaan (p=0,298; RR=0,893 95CI% 0,8723–1,103), status pernikahan (p=0,000; RR=1,932 95%CI 1,318–2,833), wilayah tempat tinggal (p=0,092, RR=1,288 95%CI 0,933–1,779), hasil pemeriksaan sputum awal (p=0,272; RR=1,126 95%CI 0,911–1,191), interval inisiasi pengobatan (p=0,021; RR=0,698 95%CI 0,494–0,986). Faktor yang memiliki hubungan signifikan secara statistik dengan keberhasilan pengobatan adalah umur, status pernikahan, dan interval inisiasi pengobatan.Based on SITB data as of February 2, 2022, there were 8306 confirmed cases of RR/MDR TB through laboratory tests. The success of MDR TB treatment in Indonesia in 2021 has not reached the target and is low compared to global, which is 45%. This study aims to identify factors associated with successful treatment of MDR TB patients at Persahabatan Hospital in 2019. This study used a retrospective cohort study design. The study used secondary data from the medical records of MDR TB patients who were treated at the Friendship Hospital in 2019 which were seen from the beginning of treatment until the final results of treatment were obtained. There were 273 samples that met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using IBM SPSS Statistics 25 with chi-square test, with RR to determine the degree of relationship between variables and p < 0.05 as the limit of significance. The results of the analysis showed that age (p=0.000; RR=1.603 95CI% 1.251–2.055), gender (p=0.749; RR=1.045 95CI% 0.798–1.369), education (p=0.165; RR=1.228 95CI% 0.929– 1.634), occupation (p=0.298; RR=0.893 95CI% 0.8723–1.103), marital status (p=0.000; RR=1.932 95%CI 1.318–2.833), area of ​​residence (p=0.092, RR=1.288 95%CI 0.933–1.779), results of initial sputum examination (p=0.272; RR=1.126 95%CI 0.911–1.191), treatment initiation interval (p=0.021; RR=0.698 95%CI 0.494–0.986). Factors that had a statistically significant relationship with treatment success were age, marital status, and treatment initiation interval."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ida Ayu Kadek Ratih Prisma Laksmi
"ABSTRAK
Berdasarkan hasil Riskesdas 2013, DKI Jakarta memiliki prevalensi paru-paru tertinggi Tuberkulosis di antara provinsi lain di Indonesia yaitu 0,06%. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati gambaran umum pelaksanaan program pengendalian Tuberkulosis di Mampang Puskesmas Kecamatan Prapatan 2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode wawancara mendalam kepada informan yang terkait dengan kontrol Tuberkulosis Program di Puskesmas Mampang Prapatan 2018. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi penemuan pasien TB telah dilakukan oleh TB karyawan secara pasif atau aktif, seperti kegiatan konseling, penyaringan pasien dengan
investigasi kontak rumah, skrining pasien dengan gejala Tuberkulosis. Itu kegiatan pengobatan untuk TBC dilakukan setelah pemeriksaan dahak, diagnosis dan pengobatan OAT dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan pasien dan selama pengendalian perawatan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan pengendalian TB Program telah dilakukan melalui beberapa cara dan sumber daya yang memadai. Itu
kesadaran dan stigma di masyarakat menjadi tantangan dalam melakukan pasien TB ' penemuan dan perawatan TBC.

ABSTRACT
Based on the results of Riskesdas 2013, DKI Jakarta has the highest lung prevalence of Tuberculosis among other provinces in Indonesia, which is 0.06%. This study aims to observe an overview of the implementation of the Tuberculosis control program in Mampang Puskesmas Prapatan District 2018. This study uses a qualitative approach, with in-depth interviews with informants related to Tuberculosis Program control at the Mampang Prapatan Puskesmas 2018. The results of this study indicate that the implementation of patient discovery TB has been done by TB employees passively or actively, such as counseling activities, screening patients with home contact investigations, screening of patients with symptoms of tuberculosis. The treatment activities for tuberculosis are carried out after sputum examination, diagnosis and treatment of OAT at a dosage that is appropriate to the patient's needs and during care control. The conclusion of this study is that the application of the TB control program has been carried out through several means and adequate resources. That
awareness and stigma in the community become a challenge in conducting TB patients' discovery and treatment of tuberculosis.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuliyani
"ABSTRAK
Pengobatan TB merupakan pengobatan jangka panjang dan dapat menimbulkan berbagai efek samping. Pengendalian klien TB Paru terhadap penyakitnya dipengaruhi oleh kondisi fisik dan psikologis, sehingga diperlukan suatu sistem pendukung baik dari luar maupun dari dalam diri klien sendiri. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah mempertahankan efikasi diri klien sehingga dapat mencapai kesembuhan. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan karakteristik dan tahap pengobatan dengan efikasi diri klien TB Paru. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel dengan purposive sampling untuk menentukan 161 klien TB Paru di poliparu RSP X Kabupaten Bogor. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki efikasi diri baik (68,3%). Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan bermakna antara pendidikan dengan efikasi diri (p:0,039, α:0,05), pekerjaan dengan efikasi diri (p:0,035, α:0,05), pendapatan dengan efikasi diri (p:0,004, α:0,05) dan tahap pengobatan dengan efikasi diri (p:0,003, α:0,05). Pendidikan kesehatan yang terstruktur disarankan diberikan secara efektif.

ABSTRACT
Tuberculosis treatment is a long term treatment and can cause side effects. Controling clients with pulmonary tuberculosis influence by physical and psychological condition and need a support system from outside and the client with pulmonary tuberculosis itself. One of the efforts is the self efficacy to defined and measured to maintain the achieve healing. The objective of this study were to identify the relation of characteristic and stage of treatment with the self efficacy of the clients with pulmonary tuberculosis. This research use a cross sectional design. The Sampling by purposive sampling to determine 161 clients of Pulmonary Tuberculosis at pulmonary polyclinic RSP X Kabupaten Bogor. The results showed the majority of respondents have a good self efficacy till 68,3%. By using chi square test showed there was a significant correlation between education with self efficacy (p:0,039, α:0,05), works with self efficacy (p:0,035, α:0,05), revenue with self efficacy (p:0,004, α: 0.05) and treatment stage with self efficacy (p: 0.003, α:0.05). Structured health education is recommended to be given effectively."
2017
S67950
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakaria
"ABSTRAK
Tingginya angka TB di Puskesmas Dramaga menyebabkan di perlukannya penelitian kualitatif mengenai hal-hal dalam kepatuhan minum obat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan dan ketidak berhasilan pengobatan TB Paru. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mengacu pada teori Health Belief Model (HBM). Pengambilan data dilakukan pada 11 orang dari pasien TB Paru, keluarga, dan petugas kesehatan dengan metode wawancara mendalam. Keberhasilan pengobatan TB dalam kepatuhan minum obat dipengaruhi oleh persepsi informan terhadap kerentanan, keparahan, manfaat dan hambatan yang dialami selama menjalani pengobataan TB. Selain itu juga pengaruh dari besarnya dukungan keluarga dan pemberian informasi TB yang lengkap kepada pasien dan keluarga.

ABSTRACT
The high rate of TB in Puskesmas Dramaga led to the need for qualitative research on matters in medication adherence. This study aims to see what factors influence the success and failure of pulmonary tuberculosis treatment. This research is a qualitative research that refers to the theory of Health Belief Model (HBM). Data were collected on 11 people from TB patients, family, and health care workers with in-depth interview method. The success of TB treatment in medication adherence is influenced by informants' perceptions of the susceptibility, severity, benefits and constraints experienced during TB treatment. It also influences the extent of family support and the provision of complete TB information to patients and families.
"
2017
S69545
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>