Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Shania Nursiah Hasri
"Tesis ini membahas yang sudah berjalan yaitu integrasi Posyandu Lansia dan Posbindu PTM di Kota Depok. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif dan konfirmasi dan eksplorasi data dengan penelitian kualitatif melalui telaah dokumen dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menemukan sumber pendanaan, kompentensi kader dan petugas kesehatan, dan sistem insetif kader memengaruhi aspek proses dalam pemenuhan ketersediaan materi edukasi ataupun buku monitoring FR PTM dan buku kesehatan lansia. Selain itu, pada aspek outcome diketahui masih ada hasil triwulan 1 pada Standar Pelayanan Masyarakat (SPM) lanjut usia, hipertensi, diabetes mellitus, dan usia produktif masih belum mencapai dari beberapa puskesmas. Oleh sebab itu, peningkatan kompetensi kader, upaya penyusunan sistem insentif kader kesehatan yang layak, dan alternatif media edukasi yang lebih terjangkau menjadi saran dalam penelitian ini sehingga besar harapan dapat meningkatkan mutu program intgerasi posyandu.

This thesis discusses the quality of the posyandu integration program in terms of programs that are already running, namely the integration of Posyandu for the Elderly and Posbindu for PTM in Depok City. This research is quantitative research with a descriptive design and confirmation and data exploration with qualitative research through document review and in-depth interviews. The research results found that funding sources, competency of cadres and health workers, and the cadre incentive system influenced aspects of the process in fulfilling the availability of educational materials or FR PTM monitoring books and elderly health books. Apart from that, in the outcome aspect, it is known that there are still quarter 1 results on Community Service Standards (SPM) for the elderly, hypertension, diabetes mellitus, and productive age that have not yet been achieved by several health centers. Therefore, increasing cadre competency, efforts to develop an appropriate health cadre incentive system, and alternative educational media that are more affordable are suggestions in this research so that there is great hope of improving the quality of the posyandu integration program."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nida Amalina
"ABSTRAK
Meningkatnya penduduk lansia mengakibatkan penaikan pada UHH dari 70,2
tahun menjadi 72 tahun di tahun 2014 .Berdasarkan Hasil Susenas tahun 2012
jumlah lansia yang bergantung dengan orang lain sebesar 934505 jiwa sedangkan
di Kota Depok sebesar 15.369 jiwa. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menilai
dan mengetahui faktor faktor ysng mempengaruhi kemandirian lansia di Posbindu
Kota Depok tahun 2012.Penelitian ini menggunakan data sekunder dari laporan
bulanan kegiatan pelayanan lansia di Posbindu pada bulan desember tahun
2012.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain ekologi . Prevalensi
lansia yang mandiri sebesar 99%, prevaleni hipertensi sebesar 16 %, prevalensi
obesitas sebesar 13,1%, prevalensi gangguan mental sebesar 9% dan prevalensi
lansia yang mengikuti penyuluhan sebesar 27,5%.Tidak ada hubungan yang
signifikan antara prevalensi mandiri dengan prevalensi hipertensi,gangguan
mental,obesitas dan penyuluhan.

ABSTRACT
The increasing elderly population resulting in the increase of the life expectancy
of 70.2 years to 72 years in 2014. Based on the results Susenas in 2012 the
number of elderly who depend on others for life 934 505 while in Depok for 15
369 inhabitants. The purpose of this study was to assess and determine the factors
affecting the independence of the elderly arrives in Depok Posbindu 2012.This
research using secondary data from the monthly reports of activities at Posbindu
elderly services in December 2012.Yhis research using ecological design. The
prevalence of independent elderly at 99%, 16% prevalence hypertension, obesity
prevalence of 13.1%, the prevalence of mental disorders was 9% and the
prevalence of elderly who followed the extension of 27.5%. There was no
significant association between the prevalence of self-prevalence hypertension,
mental disorders, obesity, and counseling."
Universitas Indonesia, 2014
S53661
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Rahmawaty
"Posbindu lansia merupakan pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan para lansia. Keterampilan kader merupakan salah satu kunci keberhasilan pelayanan di posbindu lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kader dalam pemanfaatan posbindu lansia. Jenis penelitian yaitu deskriptif analitik dengan metode kualitatif. Informan utama adalah 17 orang kader dan informan kunci yang terdiri dari 1 orang Kepala Puskesmas Bantargebang Bekasi, 1 orang Pemegang Program Lansia, dan 3 orang Lansia yang memanfaatkan posbindu lansia di wilayah kerja Puskesmas Bantargebang Bekasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kader belum berperan besar dalam pemanfaatan posbindu lansia di wilayah kerja Puskesmas Bantargebang sehingga diperlukan adanya upaya pelatihan dan pembinaan untuk petugas kesehatan dan kader posbindu lansia, serta sosialisasi kepada seluruh sasaran posbindu lansia. Penyediaan fasilitas posbindu lansia yang lengkap diharapkan dapat memaksimalkan peran kader dalam usaha pemanfaatan posbindu lansia. Komunikasi sesama kader juga harus dibangun agar mereka dapat bertukar informasi dan pengalaman mengenai peran mereka dalam pemanfaatan posbindu lansia.

Elderly's integrated health care is health services which aims to improve the health status of the elderly. Skills of cadres is one of the keys to success in elderly's integrated health care. This study aims to analyze the role of cadres in the use elderly's integrated health care. This research is descriptive analytic with qualitative method. The main informants were 17 cadres and key informants consisting of 1 chief of Bantargebang Public Health Care Bekasi, 1 holder of elderly programs, and 3 elderly peoples who utilize elderly's integrated health care in Bantargebang Public Health Care Bekasi working area.
The results showed that the cadres have not played a major role in the utilization of elderly's integrated health care in Bantargebang Public Health Care Bekasi working area thus efforts are required in training and coaching for health workers and cadres elderly's integrated health care, and socialization to all elderly's integrated health care target. Provision of complete elderly's integrated health care facilities is expected to maximize the role of cadres in the utilization of it. Communication fellow cadres should also be constructed so that they can exchange information and experiences regarding their role in the utilization of elderly's integrated health care.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
T42111
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fina Nurillah
"Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab dari 35% kematian di Indonesia dan penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab dominan. Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki prevalensi PJK yang tinggi. PJK dipengaruhi oleh faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi terkait dengan gaya hidup dan perilaku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan PJK pada penduduk usia ³ 15 tahun di Jawa Barat tahun 2019. Penelitian ini merupakan studi cross sectional dengan menggunakan data Posbindu PTM Jawa Barat 2019. Dari 174302 responden diperoleh prevalensi PJK sebesar 1,5%. Usia (p = 0,000; POR 2,961; 95% CI = 2,696 – 3,253), riwayat PJK pada keluarga (p = 0,000; POR 10,583; 95% CI = 9,697 – 11,550), peningkatan tekanan darah (p = 0,000; POR 1,860; 95% CI: 1,720 – 2,011), peningkatan gula darah (p = 0,000; POR 1,736; 95% CI: 1,539 – 1,959), kurang aktivitas fisik (p = 0,000; POR 1,702; 95% CI: 1,562 – 1,855), kurang konsumsi sayur dan buah (p = 0,000; POR 1,480; 95% CI: 1,363 – 1,606), dan obesitas (p = 0,000; POR 1,225; 95% CI: 1,134 – 1,324) merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan PJK. Faktor risiko yang berhubungan dengan PJK dalam penelitian ini menyimpulkan perlu peningkatan upaya preventif dan promotif untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat PJK dan juga membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor penyebabnya.

Cardiovascular disease is the cause of 35% of deaths in Indonesia and coronary heart disease (CHD) is one of the dominant causes. West Java is one of the provinces in Indonesia which has a high prevalence of CHD. CHD is influenced by non-modifiable risk factors and modifiable risk factors linked to lifestyle and behavior. This study aims to determine risk factors associated with CHD in population aged ³ 15 years in West Java 2019. This study was a cross sectional study using West Java Posbindu PTM data 2019. From 174302 respondents, the prevalence of CHD was 1,5%. Age (p = 0,000; POR 2,961; 95% CI = 2,696 – 3,253), family history of CHD (p = 0,000; POR 10,583; 95% CI = 9,697 – 11,550), high blood pressure (p = 0,000; POR 1,860; 95% CI: 1,720 – 2,011), high blood sugar (p = 0,000; POR 1,736; 95% CI: 1,539 – 1,959), physical inactivity (p = 0,000; POR 1,702; 95% CI: 1,562 – 1,855), low consumption of vegetable and fruit (p = 0,000; POR 1,480; 95% CI: 1,363 – 1,606), and obesity (p = 0,000; POR 1,225; 95% CI: 1,134 – 1,324) were risk factors associated with CHD. Risk factors associated with CHD in this study infers a need to increase preventive and promotive efforts to reduce morbidity and mortality due to CHD and also requires further studies to find out the causative factors."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Depok: Department of Health Administration and Policy, Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, 2018
610 IHPA
Majalah, Jurnal, Buletin  Universitas Indonesia Library
cover
Parinduri, Siti Khodijah
"ABSTRAK
By 2015, 68% of deaths in Indonesia are due to non-communicable diseases (NCD) and are forecast to increase to 74% by 2030. Riskesdas data of 2013 show that 69.6% of cases of diabetes mellitus and 63.2% of cases of hypertension have not been diagnosed. The government has been trying to proactively make efforts to prevent NCD through the implementation of Posbindu (Integrated Health Post) NCD, but visit Posbindu NCD in the work area of Pasir Mulya Puskesmas, Bogor City is very diverse. The purpose of this study is to analyze the factors of management, communication, partnership, and innovation in the implementation of Posbindu NCD and determinants of the implementation of Posbindu NCD. We conducted in-depth interviews, focus group discussions, document review and observation at two Posbindu NCD with the highest number of visits and the lowest in Gunung Batu Village, Bogor City in 2017. We interviewed 15 informants, consisting of cadres, in charge of NCD Puskesmas, in charge of Puskesmas Pembantu and supervisor of Posbindu NCD. This research found 4 factors, namely management (human resources, fund, and facilities), innovation, communication and partnership that influence the result of Posbindu implementation. Therefore, to run effectively the Posbindu NCD program, then 4 of those factors need to be optimized.
ABSTRAK
Pada tahun 2015 sebanyak 68% kematian di Indonesia disebabkan penyakit tidak menular (PTM) dan diproyeksi meningkat menjadi 74% tahun 2030. Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa 69,6% kasus diabetes melitus dan 63,2% kasus hipertensi belum terdiagnosis. Pemerintah proaktif melakukan upaya pencegahan PTM melalui
pelaksanaan Posbindu PTM. Data kunjungan Posbindu PTM di wilayah kerja Puskesmas Pasir Mulya, Kota Bogor menunjukkan jumlah yang sangat beragam. Tujuan penelitian adalah menganalisis faktor manajemen, komunikasi, kemitraan, dan inovasi dalam pelaksanaan Posbindu PTM dan faktor penentu pelaksanaan Posbindu PTM. Disain
penelitian adalah studi kualitatif dengan metode wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), telaah dokumen, dan observasi di dua Posbindu PTM dengan jumlah kunjungan tertinggi dan terendah di Kelurahan Gunung Batu, Kota Bogor tahun 2017. Informan penelitian sebanyak 15 orang yang terdiri dari kader, penanggung jawab program PTM Puskesmas, penanggung jawab Puskesmas Pembantu dan pembina Posbindu PTM. Penelitian menemukan terdapat perbedaan manajemen (SDM, dana, dan sarana), inovasi, komunikasi dan kemitraan antara Posbindu RW 1 dan RW 7 yang memengaruhi hasil pelaksanaan Posbindu PTM. Keempat faktor tersebut pada Posbindu dengan kunjungan terbanyak berjalan lebih optimal dibandingkan dengan Posbindu dengan kunjungan terendah. Agar program Posbindu
PTM dapat berjalan efektif maka perlu optimalisasi faktor manajemen, inovasi, komunikasi dan kemitraan."
Depok: Department of Health Administration and Policy, Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, 2018
610 IHPA 3:1 2018
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Thifal Kiasatina
"Prevalensi kejadian diabetes melitus tipe 2 di Indonesia, terutama pada kelompok PNS/TNI/POLRI/BUMN semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan hubungan faktor risiko penyakit diabetes melitus tipe 2 pada peserta Posbindu PTM Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2017 - 2018. Data yang digunakan adalah data sekunder surveilans Posbindu PTM, jumlah sampel sebanyak 222. Desain penelitian yang digunakan adalah studi cross-sectional. Analisis pada data dilakukan hingga tingkat multivariat regresi logistik ganda dengan model prediksi. Hasil yang didapatkan yakni model akhir yang berhubungan signifikan terhadap kejadian diabetes melitus tipe 2 yaitu usia (p = 0,031; POR= 6,31; 95% CI 1,18 - 33,68) dan riwayat DM keluarga (p = 0,003; POR = 25,6; 95% CI 3,02 - 217, 82). Ditemukan variabel kurang konsumsi sayur dan buah termasuk variabel confounding (p= 0,179; POR = 0249; 95% CI = 1,89). Faktor dominan yang didapatkan yakni riwayat diabetes melitus pada keluarga. Sehingga diharapkan penelitian ini dapat menjadi dasar untuk penguatan program Posbindu PTM dalam mengendalikan dan mencegah risiko diabetes melitus tipe 2 pada pegawai Kementerian Kesehatan RI.

The prevalence of type 2 diabetes mellitus in Indonesia, especially in the PNS / TNI / POLRI / BUMN groups is increasing. This study aims to determine the description and relationship of risk factors for type 2 diabetes mellitus in Posbindu PTM participants of the Ministry of Health of Indoneesia in 2017 - 2018. The data used is secondary surveillance data of Posbindu PTM, the number of samples are 222. The design study is cross-sectional study. Data was analyzing by multivariate multiple logistic regression with prediction models. Variables that was significantly associated with the incidence of type 2 diabetes mellitus, there age (p = 0.031; POR = 6.31; 95% CI 1.18 - 33.68) and diabetes family history (p = 0.003; POR = 25.6; 95% CI 3.02 - 217, 82). Variables in vegetable and fruit less consumption is confounding variable (p = 0.179; POR = 0249; 95% CI = 1.89). The dominant factor is diabetes family history. This study is expected to be the basis for strengthening the Posbindu PTM program in controlling and preventing the risk of type 2 diabetes mellitus in employees of the Ministry of Health Republic of Indonesia.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Loli Adriani
"ABSTRAK
Skripsi ini memetakan faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (FR-PJPD) di Wilayah Kerja Puskesmas Bogor Utara Kota Bogor tahun 2012, dengan satuan unit yaitu Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu). Gambaran yang diberikan antara lain distribusi proporsi dari pengunjung yang memiliki gaya hidup tidak sehat, stres, dan hipertensi, kemudian tingkat risiko FR-PJPD pada posbindu, ketersediaan kader posbindu, dan tingkat kerawanan FR-PJPD di Posbindu. Masing-masing variabel di kelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu rendah, sedang dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata seluruh posbindu memiliki tingkat risiko sedang, meskipun dengan faktor risiko yang berbeda-beda. Kemudian terdapat dua posbindu yang kekurangan kader, yaitu Posbindu Mekar Sari dan Posbindu Mawar 5. Tingkat kerawanan posbindu yang dilihat berdasarkan tingkat risiko dan jumlah kader, menunjukkan Posbindu Mekar Sari merupakan posbindu paling rawan. Dengan hasil penelitian, penulis menyarankan agar prioritas intervensi diberikan kepada Posbindu yang paling rawan, dan memiliki tingkat risiko lebih besar. Intervensi dapat berupa penyuluhan, pengobatan, ataupun pelatihan kader disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing posbindu. Selain itu juga perlu peningkatan sosialisasi program deteksi dini FR-PJPD kepada masyarakat.

ABSTRACT
This thesis is maping cardiovascular diseases risk factors in Region of Bogor Utara Primary Health Care (PHC), in Bogor, 2010, and the units are Integrated Maintenance Posts (IMP). The picture given are distribution of the proportion of visitors who have an unhealthy lifestyle, stress, and hypertension, also the risk level of the cardiovascular diseases risk factors in each IMPs, availability cadres in IMP, and the level of susceptibility of the cardiovascular diseases risk factors in each IMPs. Each of these variables can be classified into three categories, they are low, medium and high. The results showed most of IMPs have a modium risk level, although every IMP have different risk factors. And there are two IMPs that lack of cadres, they are Mekar sari dan Mawar 5. Level of vulnerability in IMP that viewed based on risk level and the number of cadres, showing Mekar Sari is the most vulnerable IMP. Based on results of this study, the authors suggested that priority interventions should be given to the most vulnerable IMP, and also have a greater degree of risk. Interventions may include counseling, treatment, or training of cadres, it?s given based on what IMP needs. Socialization of cardiovascular diseases risk factors early detection programme also should be increased to public."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Safhira Dwidanitri
"Prevalensi diabetes melitus di Indonesia terus meningkat terutama pada kelompok usia produktif. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terbaru 2018 menunjukkan bahwa DKI Jakarta sebagai provinsi dengan prevalensi DM tertinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan DM Tipe 2 pada penduduk usia produktif di DKI Jakarta dengan menggunakan data Posbindu PTM tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Jumlah sampel yang didapat yaitu 22.515 orang. Analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu hingga analisis multivariat dengan uji regresi logistik prediksi model ganda. Hasil penelitian didapat ada hubungan antara usia (POR 4,16; 95% CI 3,75 - 4,62), jenis kelamin (POR 0,75; 95% CI 0,67 - 0,84), riwayat keluarga DM (POR 4,83; 95% CI 4,35 - 5,37), pendidikan (POR 1,68; 95% CI 1,51 - 1,86), obesitas (POR 0,86; 95% CI 0, 77 - 0,97), obesitas sentral (POR 1,35; 95% CI 1,2 - 1,53), hipertensi (POR 1,42; 95% CI 1,28 - 1,57), konsumsi sayur dan buah (POR 1,32; 95% CI 1,18 - 1,48), dan merokok (POR 0,57; 95% CI 0,49 - 0,67) dengan DM Tipe 2. Aktivitas fisik tidak memiliki hubungan yang berhubungan dengan DM Tipe 2. Riwayat keluarga DM merupakan faktor risiko dominan DM Tipe 2 pada penelitian ini. Setelah adanya penelitian diharapkan untuk orang yang memiliki risiko tinggi DM untuk rutin memeriksakan kesehatannya dan menerapkan pola hidup sehat.
The prevalence of diabetes mellitus (DM) in Indonesia continues to increase, especially in the productive age group. The latest Basic Health Research (Riskesdas) data in 2018 data shows that DKI Jakarta is the province with the highest DM prevalence. This study aims to determine the risk factors associated with Type 2 Diabetes Mellitus among the productive age population in DKI Jakarta using Posbindu PTM data in 2019. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The number of samples obtained was 22,515 people. The analysis used in this study is until multivariate analysis with multiple logistic regression tests of predictive models. The results obtained that age (POR 4.16; 95% CI 3.75 - 4.62), sex (POR 0.75; 95% CI 0.67 - 0.84), family history of DM (POR 4, 83; 95% CI 4.35 - 5.37), education (POR 1.68; 95% CI 1.51 - 1.86), obesity (POR 0.86; 95% CI 0.77 - 0.97 ), central obesity (POR 1.35; 95% CI 1.2 - 1.53), hypertension (POR 1.42; 95% CI 1.28 - 1.57), consumption of vegetables and fruit (POR 1, 32; 95% CI 1.18 - 1.48), and smoking (POR 0.57; 95% CI 0.49 - 0.67) were significantly associated with Type 2 Diabetes Mellitus. Physical activity does not have a significant relationship with Type 2 Diabetes Mellitus. Family history of DM is the dominant risk factor for Type 2 DM in this study. After this research is expected for people who have a high risk of DM to regularly check their health and adopt a healthy lifestyle."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Edwin Rohadi
"Salah satu Penyakit Tidak Menular yang terus mengalami peningkatan adalah hipertensi. Hipertensi merupakan tantangan besar di Indonesia karena hipertensi paling sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer. Hasil Riskesdas Tahun 2013 menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 25,8%, penderita hipertensi yang terdiagnosis hanya 36,8%, sedangkan yang tidak terdiagnosis sebanyak 63,2 %. Salah satu faktor risiko hipertensi adalah pola makan. Pola makan tinggi lemak, tinggi natrium, kurang serat dan rendah kalium dapat berisiko menyebakan terjadinya hipertensi. Menjaga pola makan dari kebiasaan makan berisiko dapat mencegah terjadinya hipertensi.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan pola makan berisiko dengan kejadian hipertensi grade 1 di posbindu ptm pada 5 Puskesmas di Kota Banjarmasin. Desain penelitian ini adalah cross sectional ,menggunakan data primer dengan jumlah sampel sebanyak 326 orang. Subjek penelitian ini peserta posbindu ptm pada 5 Puskesmas di Kota Banjarmasin berusia ≥ 20 tahun keatas. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2018. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara kebiasaan konsumsi lemak, natrium, kalium dan serat dengan kejadiah hipertensi grade 1.
Hasil analisis multivariat pola makan berisiko yaitu konsumsi serat dengan kejadian hipertensi grade 1 didapatkan nilai PR sebesar 1,05 (95% CI 0,756–1,484) setelah dikontrol variabel umur. Kesimpulan Masyarakat perlu membiasakan pola konsumsi makanan beragam dan bergizi seimbang serta mengaplikasikan perilaku CERDIK dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah dan mengendalikan penyakit tidak menular seperti hipertensi melalui wadah posbindu ptm.

One of the non communicable diseases that continues to increase is hypertension. Hypertension is a big challenge in Indonesia because hypertension is most often found in primary health care. The results of the 2013 Riskesdas showed that the prevalence of hypertension in Indonesia was 25.8%, hypertensive patients diagnosed were only 36.8%, while those who were not diagnosed were 63.2%. One risk factor for hypertension is diet. A diet high in fat, high in sodium, lack of fiber and low in potassium can risk causing hypertension. Maintaining a diet from risky eating habits can prevent hypertension.
The purpose of this study was to determine the association of risky food patterns with the incidence of grade 1 hypertension at posbindu ptm in 5 health centers in the city of Banjarmasin. The design of this study was cross sectional, using primary data with a total sample of 326 people. The subjects of this study were posbindu ptm participants in 5 Puskesmas in Banjarmasin City aged ≥ 20 years and above. The study was conducted in May-June 2018.
The results showed no association between fat consumption habits, sodium, potassium and fiber with grade 1 hypertension prizes. The multivariate analysis of risk dietary patterns of fiber consumption with the incidence of grade 1 hypertension obtained a PR value of 1,05 (95% CI 0.756–1.484) after adjusted age variable. Conclusion The community needs to familiarize them with a variety of balanced and nutritious food consumption patterns and to apply CERDIK behavior in their daily lives to prevent and control noncommunicable diseases such as hypertension through Posbindu non-communicable disease.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T52034
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library