Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Gita Ruryatesa
"Latar Belakang: Preeklampsia - eklampsia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi di dunia khususnya negara-negara sedang berkembang dengan insidensi
di Indonesia berkisar 8,6%. Pemberian aspirin diharap dapat menjadi solusi pencegahan preeklampsia bagi ibu hamil dengan risiko tinggi untuk menurunkan terjadi persalinan prematur, berat badan bayi yang rendah, serta turut meningkatkan angka mortalitas dan morbiditas perinatal. Tujuan: Mengetahui keluaran penggunaan aspirin dosis rendah pada ibu hamil dengan risiko tinggi preeklampsia. Metode: Studi ini merupakan kohort retrospektif. Melibatkan 695 subjek ibu hamil dengan risiko tinggi preeklampsia yang dibagi menjadi dua kelompok dengan terapi aspirin dosis rendah dan tanpa terapi. Hasil: Angka kejadian preeklampsia pada kelompok aspirin lebih rendah (8.9%) secara bermakna (odds ratio 0.37; 95% confidence interval, 0.26 hingga 0.54; P = <0.001) dibandingkan kelompok kontrol (14.8%). Pada kelompok aspirin penurunan angka kejadian preeklampsia lebih rendah secara bermakna pada pasien luaran kehamilan kurang dari 34 minggu dibanding luaran kehamilan > 34 minggu (odds ratio 0.117; 95% confidence interval, 0.048 hingga 0.282; P = <0.001). Kesimpulan: Pada studi ini, pemberian aspirin dosis rendah pada ibu dengan risiko tinggi preeklampsia terjadi penurunan insiden preeklampsia secara bermakna dan penurunan luaran kehamilan kurang dari 34 minggu

Background: Preeclampsia - eclampsia is the main cause of maternal and infant morbidity and mortality in the world, especially developing countries such as Indonesia with incident about 8.6%. We hoped that aspirin can be a solution to prevent preeclampsia for pregnant women with a high risk of preeclampsia to reducing preterm labor, low birth weight, and also increasing perinatal mortality and morbidity. Objective: To determine the output of using low-dose aspirin in pregnant women with a high risk of preeclampsia. Method: This study was a retrospective cohort. Involves 695 pregnant women with a high risk of preeclampsia and divided into two groups with low-dose aspirin therapy and without therapy. Results: The incidence of preeclampsia in the aspirin group was significantly lower (8.9%) (odds ratio 0.37; 95% confidence interval, 0.26 to 0.54; P = <0.001) compared to the control group (14.8%). In the aspirin group the decrease in the incidence of preeclampsia was significantly lower in patients with pregnancy outcomes less than 34 weeks compared with pregnancy outcomes more than 34 weeks (odds ratio 0.117; 95% confidence interval, 0.048 to 0.282; P = <0.001). Conclusion: In this study, administration of low-dose aspirin to women with a high risk of preeclampsia resulted in a significant decrease in the incidence of preeclampsia and a reduction in pregnancy outcomes of less than 34 weeks."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Makbruri
"ABSTRAK
Preeklampsia merupakan sindrom sistemik yang terjadi pada 3-5 % kehamilan wanita yang disebabkan oleh gangguan faktor migrasi dan faktor seluler  yang berdampak pada gangguan diferensiasi dan invasi trofoblas yang penting dalam proses perkembangan plasenta dan mempertahankan kehamilan. Protein Cullin-1 merupakan salah satu kandidat protein yang berperan dalam proses mempertahankan kehamilan, perkembangan dan invasi trofoblas di dalam  plasenta. Hingga saaat ini belum ada penelitian yang menghubungkan ekspresi Cullin-1 pada pasien preeklampsia dengan waktu terminasi kehamilan. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan analisis ekspresi Cullin-1 pasien preeklampsia dan hubungannya dengan waktu terminasi kehamilan. Sampel plasenta diambil dari pasien preeklampsia yang terdiri dari tiga kelompok usia kehamilan, kemudian dilakukan perwarnaan imunohistokimia untuk dilihat dinamika ekspresi dan distribusi Cullin-1 pada berbagai kelompok usia kehamilan dan hubungannya dengan waktu terminasi kehamilan. Cullin-1 terekspresi pada sinsitiotrofoblas dan  sitotrofoblas. Kadar Cullin-1 terendah didapatkan pada kelompok usia kehamilan very preterm, dan paling tinggi didapatkan di kelompok usia kehamilan moderate preterm. Terdapat perbedaan bermakna antara ekspresi optical density (OD) Cullin-1 dengan   waktu terminasi  kehamilan, dan terdapat perbedaan bermakna  (OD) Cullin-1 pasien preeklampsia usia kehamilan very preterm dengan usia kehamilan moderate preterm. Disimpulkan bahwa Cullin-1 terekspresi pada sinsitiotrofoblas dan sitotrofoblas dan berhubungan dengan waktu terminasi kehamilan.

ABSTRACT
Preeclampsia is a systemic syndrome that occurs in 3-5% of female pregnancies caused by disorders of migration factors and cellular factors that have an impact on the disruption of trophoblast differentiation and invasion that is important in the process of developing the placenta and maintaining pregnancy. Protein Cullin-1 is one candidate protein that plays a role in the process of maintaining pregnancy, development and trophoblast invasion in the placenta. Until now there have been no studies linking the expression of Cullin-1 in preeclamptic patients with the timing of pregnancy termination. Therefore in this study an analysis of Cullin-1 expression in preeclamptic patients and their relationship to the timing of pregnancy termination was carried out. Placental samples were taken from preeclampsia patients consisting of three gestational age groups, then immunohistochemical staining was performed to see the dynamics of expression and distribution in each age group of pregnancy and to find out their relationship with  the timing of pregnancy termination. Cullin-1 was expressed in syncytiotrophoblasts and cytotrophoblasts. The lowest Cullin-1 level was obtained in the very preterm age group, and the highest was found in the moderate preterm gestational age group. There was a significant difference between Cullin-1 optical density (OD) expression and termination time of pregnancy, and there was a significant difference (OD) in Cullin-1 preeclamptic patients with very preterm gestational age with moderate preterm gestational age. It was concluded that Cullin-1 was expressed both in syncytiotrophoblasts and cytotrophoblasts and was associated with the timing of pregnancy termination.
"
2019
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Isdoni
"Ruang Lingkup dan Cara Penelitian. Magnesium telah lama digunakan dan diketahui, sebagai terapi medis yang efektif pada preeklampsi. Kuat dugaan magnesium dapat mengurangi vasokonstriksi pembuluh darah pada penderita preeklampsi, dengan bekerja sebagai kalsium antagonis, baik di membran sel otot polos pembuluh darah maupun di dalam sel. Preeklampsi merupakan salah satu gangguan utama pada kehamilan, dengan satu dari gejala utamanya adalah tingginya tekanan darah. Tingginya tekanan darah terjadi karena adanya vasokonstriksis dan resistensi perifer. Vasokonstriksi pembuluh darah terjadi karena kontraksi otot polos pembuluh darah. Kontraksi ini dirangsang oleh adanya peningkatan kadar kalsium bebas intrasel. Peningkatan kadar kalsium bebas intrasel dapat terjadi, melalui rangsangan yang meningkatan aktivitas biolistrik membran sel dan melalui rangsangan yang menyebabkan terjadinya pelepasan kalsium dari tempat penyimpanannya di dalam sel.
Penelitian ini merupakan studi analitis eksperimental untuk melihat pengaruh pemberian magnesium terhadap amplitudo kegiatan biolistrik vena umbilikalis dari penderita preeklampsi, yang dirangsang dengan angiotensin II. Sepuluh potong umbilikus dari wanita hamil normal dan sepuluh potong dari penderita preeklampsi, yang melahirkan di Rumah Sakit Budi Kemulian pada bulan Februari 1998, digunakan dalam penelitian Sebelum dilihat aktivitas biolistrikya, vena umbilikalis diinkubasi dalam larutan risiologis `cord buffer', yang diaerasi dengan carnpuran, 02 95% dengan CO2 5%, pada suhu 37° C selama 60 menit. Amplitudo kegiatan biolistrik vena umbilikalis dilihat dan direkam dengan poligraf, setelah dirangsang dengan angiotensin II dan kemudian diberi magnesium.
Pemberian magnesium dapat menurunkan amplitudo kegiatan biolistrik vena umbilikalis yang dirangsang dengan angiotensin II baik yang berasal dari penderita preeklampsi, maupun dari wanita hamil normal (p<0.01). Dari penelitian ini juga diperoleh hasil bahwa amplitudo kegiatan biolistrik vena umbilikalis yang dirangsang dengan angiotensin II pada waktu 2.5, 5 dan 7.5 detik setelah pemberian magnesium tidak berbeda nyata (p > 0.05)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
T3156
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Pada preeklampsia terjadi peningkatan kadar VEGF (vascular endothelial growth factor). Selain mempunyai aktivitas mitotik dan meningkatkan permeabilitas membran sel endotel, VEGF dilaporkan dapat menginduksi produksi molekul sel adhesi oleh sel endotel. Molekul sel adhesi mempunyai fungsi merangsang perlekatan sel makrofag ke dinding pembuluh darah dalam proses inflamasi. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh VEGF dalam serum preeklampsia pada produksi sVCAM-1 (soluble vascular cell adhesion molecule) oleh sel endotel dalam kultur. Duabelas sampel serum preeklampsia dan 11 serum kehamilan normal (kontrol) dengan konsentrasi 20% dipajankan pada kultur sel endotel normal (HUVEC) selama 24 jam Semua subjek setuju berpartisipasi dalam penelitian ini dan menanda-tangani informed consent. Pengukuran kadar sVCAM-1 pada supernatan dilakukan dengan ELISA. Hasil menunjukkan kadar VEGF dalam serum preeklampsia cenderung lebih tinggi dari serum ibu dengan kehamilan normal. Kadar produksi VCAM-1 oleh sel endotel yang dipajankan pada serum preeklampsia lebih tinggi secara bermakna dari yang dipajankan oleh serum kontrol (p<0,05). Tidak ada korelasi antara kadar VEGF dalam serum preeklampsia dan kontrol terhadap produksi sVCAM-1 oleh kultur sel endotel. (Med J Indones 2004; 14: 3-6)

Serum concentrations of VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor) are elevated in preeclampsia. In addition to inducing mitosis and increase permeability of endothelial cells, VEGF was reported to activate endothelial cells to produce cell adhesion molecules. Cell adhesion molecules play an important role in the inflammation process by inducing adherence of leukocytes in blood stream to the endothelial cells. The aim of this study is to investigate the effect of VEGF in serum from preeclamptic patients on sVCAM-1 (soluble vascular adhesion molecules-1) production in endothelial cell culture. Twelve sera from women with preeclampsia and 11 from women with normal pregnancy (controls) in 20% concentration were added to human umbilical vein endothelial cell culture (HUVEC) and incubated for 24 hours. All subjects have agreed to participate in this study and signed the informed consent form. sVCAM-1 concentration in the supernatant was measured by ELISA. VEGF concentration tends to be higher in preeclamptic serum than control, but the difference is not stastitically significant. The production of sVCAM-1 by endothelial cells exposed to preeclamptic serum was significantly higher than the production by endothelial cells exposed to serum from control (p<0.05). No correlation was found between the difference in VEGF concentrations in preeclamptic and control sera, and sVCAM-1 production by endothelial cell culture. (Med J Indones 2004; 14: 3-6)"
Medical Journal of Indonesia, 14 (1) January March 2005: 3-6, 2005
MJIN-14-1-JanMar2005-3
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Rahayuningsih Dharma Setiabudy
"Preeklampsia merupakan penyulit kehamilan yang ditandai dengan hipertensi, edema dan proteinuria. Berdasarkan tanda-tanda tersebut, diduga disfungsi endotel memegang peranan dalam patogenesis kedua penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pada preeklampsia terjadi disfungsi endotel dengan memeriksa kadar sVCAM-1, vWF dan fibrin monomer sebagai petanda aktivasi koagulasi. Juga ingin diketahui apakah terdapat hubungan antara disfungsi endotel dengan beratnya penyakit. Desain penelitian potong lintang. Subyek penelitian adalah 30 orang wanita hamil 24 - 42 minggu dengan diagnosis preeklampsia yang bersedia ikut dalam penelitian dan kelompok kontrol terdiri atas wanita hamil aterm. Pemeriksaan kadar sVCAM-1 dikerjakan dengan cara ELISA dengan reagen dari R&D system. Kadar vWF ditentukan dengan cara enzyme linked fluorescent assay (ELFA) dengan reagen dari VIDAS bioMerieux. Fibrin monomer diperiksa dengan cara ethanol gelation test. Rerata dan simpang baku kadar sVCAM-1 pada preeklampsia dan kontrol berturut-turut adalah 576,4 ng/mL dan 58,3 ng/mL serta 375,7 ng/mL dan 43 ng/mL (p<0,05). Sedang rerata dan simpang baku kadar vWF pada preeklampsia dan kontrol berturut turut 305,3% dan 107,4% serta 162,4% dan 33% (p,0,05). Didapatkan korelasi sedang antara kadar sVCAM-1 dengan tekanan sistolik maupun diastolik (r=0,71) dan (r=0,65). Demikian pula antara kadar vWF dengan tekanan sistolik dan diastolik didapatkan korelasi sedang (r=0,67) dan (r=0,77). Fibrin monomer positif didapatkan pada 28 dari 30 penderita preeklampsia sedang pada kelompok kontrol hanya 1 orang yang positif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada preeklampsia terjadi disfungsi endotel. Pada preeklampsia terdapat korelasi antara petanda disfungsi endotel dengan tingginya tekanan darah.

Endothelial Dysfunction In Preeclampsia. Preeclampsia is a complication of pregnancy characterized by hypertension, edema, and proteinuria. Based on these signs, it is suggested that endothelial dysfunction plays a role in the pathogenesis of preeclampsia. The aims of this study were to know whether endothelial dysfunction occur in preeclampsia by measuring the level of sVCAM-1, von Willebrand factor, and fibrin monomer. The relationship between markers of endothelial dysfunction and blood pressure would also be sought. In this cross-sectional study, 30 women at the 24-42 weeks of pregnancy with preeklampsia, were enrolled and control group comprised of fullterm pregnant women. The level of sVCAM-1 was determined by ELISA method using reagents from R&D system, while vWF level was measured by enzyme linked fluorescent assay (ELFA) using reagent from VIDAS bioMerieux, and fibrin monomer was detected by ethanol gelation test. The mean of sVCAM-1 level in the preeklampsia group and in the control group were 576.4 ng/mL, and 375.7 ng/mL, respectively while the standard deviation were 58.3 ng/mL, and 43 ng/mL, respectively. The mean of vWF level in the preeklampsia group and in the control group were 305.3% and 162.4%, respectively while the standard deviation were 107.4% and 33%, respectively. Moderate correlation were found between sVCAM-1 as well as vWF level with both systolic and diastolic pressure. Fibrin monomer was found in 28 out of 30 subjects of preeclampsia group, but only 1 out of 31 subjects in the control group. The results of this study indicated that endothelial dysfunction occurred in preeclampsia."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Helda
"Preeklampsia/eklampsia merupakan salah satu komplikasi persalinan yang berdampak pada ibu dan bayi. Sekalipun diobati prognosis preeklampsia umumnya kurang baik. Mereka yang selamat atau bertahan hidup kemungkinan mengalami gangguan kronis dan menetap, seperti kelumpuhan, kebutaan, tekanan darah tinggi atau kerusakan ginjal. Bayi yang dilahirkan akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. 40% bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami preeklampsia/eklampsia berakibat kelahiran prematur dan iatrogenic.
Penelitian ini mengkaji faktor yang berhubungan dengan kejadian PETE pada ibu hamil. Faktor yang diteliti riwayat abortus, usia gestasi, umur, paritas, pendidikan, pekerjaan, layanan antenatal, dan jenis kelamin bayi. Penelitian ini berlangsung ini di RSU Tangerang dengan waktu pengamatan dari Januari 1999-Desember 2000.
Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional, dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis ibu hamil di RSU Tangerang dari Januari 1999 Desember 2000. Analisis dilakukan dengan sampel sebanyak 206.
Kajian data menunjukkan faktor yang berhubungan dengan preeklampsia/eklampsia adalah riwayat abortus dan pendidikan. Faktor umur, pendidikan, pekerjaan, paritas, usia gestasi, layanan antenatal, dan jenis kelamin bayi tidak berhubungan dengan PETE.
Disarankan pada RSU Tangerang untuk meningkatan layanan antenatal, melaksanakan penyuluhan tentang PETE dan melengkapi data rekam medis. Pada Dinas Kesehatan Tangerang disarankan memasukkan faktor riwayat abortus dan pendidikan pada program screening.

Factors Related to Preeclampsia/eclampsia in Pregnant Mothers in General Hospital of Tangerang from January 1999-December 2000Preeclampsia/eclampsia is one of the complications of birth delivery that affects mothers and infants. Even though it is treated, preeclampsia is not healthy. Those that survived or remain alive probably will experience recurring and permanent disturbances, such as cripple, blindness, high blood pressure or kidney damage. The born baby will experience growth disorder. Forty percent of the baby born from mother that experience preeclampsia/eclampsia will experience premature and iatrogenie birth.
This research is intended to study factors related to PETE occurrence in pregnant mothers. The factors studied are abortion record, gestation period, age, parity, education, occupation, antenatal service, and sex of the baby. This research took place in General Hospital of Tangerang with observation period from January 1999-December 2000.
This research uses cross-sectional design by using secondary from medical record of pregnant mothers in Public Hospital of Tangerang from January 1999 - December 2000. The analysis is done towards 206 samples. The data processing indicates that the factor related to preeclampsia/eclampsia is history of abortion and education. Age, education, occupation, parity, gestation period, antenatal service, and sex of the baby do not have relationship with PE/E.
It is suggested that General Hospital of Tangerang to improve its antenatal service, perform counseling of PETE and provide medical record. It is suggested that Tangerang Health Office to include history of abortus and education in screening.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T2749
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurfitri Bustamam
"ABSTRAK
Ruang Lingkup dan Cara Penelitian: Preeklampsi adalah penyakit pada kehamilan dengan gejala: hipertensi, proteinuria, dan edema. Salah satu teori yang dapat menjelaskan penemuan Minis pada penderita preeklampsi adalah kerusakan sel endotel akibat peroksidasi lipid yang tidak terkontrol. Kerusakan sel endotel pada penderita preeklampsi menyebabkan rendahnya kadar NO, suatu vasoaktif yang penting pada kehamilan. Serum preeklampsi banyak mengandung peroksida lipid dan bersifat merusak kultur sel endotel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian vitamin E terhadap produksi NO pada kultur sel endotel yang dipapar dengan serum preeklampsi. Pada penelitian ini, sel-sel endotel yang diisolasi dari vena umbilikalis bayi lahir aterm normal dari ibu dengan kehamilan normal dikultur hingga confluence. Selanjutnya, kultur sel endotel diinkubasi dalam medium yang mengandung vitamin E sebelum dipapar dengan 10% serum preeklampsi. Produksi NO kultur sel endotel diukur dalam bentuk nitrit yang terdapat dalam medium kultur. Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis, dilanjutkan dengan uji Pembandingan Berganda.
Hasil dan Kesimpulan: Dan penelitian ini diperoleh (1) produksi NO pada kultur sel endotel yang dipapar dengan serum preeklampsi cenderung lebih tinggi daripada produksi NO pada kultur sel endotel yang dipapar dengan serum ibu hamil normal, namun perbedaan hasil tersebut secara statistik tidak bermakna (p > 0,05), (2) pemberian vitamin E mempertahankan produksi NO dalam kisaran normal pada kultur sel endotel yang dipapar dengan serum ibu hamil normal (p < 0,05), dan (3) pemberian vitamin E diduga menetralkan faktor "toksik" dalam serum preeklampsi yang mengaktivasi kultur sel endotel, sehingga produksi NO pada kultur sal endotel tersebut tidak berbeda bermakna jika dibandingkan dengan kontral (p 0,05)"
1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Aisyah Budi Hartati
"Preeklampsia masih menimpakan penyakit obstetrik peringkat atas di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta. Penatalaksanaan preeklampsia meliputi pemberian obat, diet dan istirahat. Prinsip diet preeklampsia antara lain tinggi energi dan tinggi protein. Telah dilaporkan bahwa asupan energi dan protein pasien preeklampsia masa antenatal yang dirawat adalah Kurang dari kebutuhan dan ternyata tidak berhubungan dengan perubahan albumin darah dan kejadian edema. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kehutuhan energi dan protein, serta mengetahui hubungan antara asupan energi dan protein dengan albumin darah dan kejadian edema.
Metoda: Jenis disain penelitian adalah cross sectional dengan populasi dan sampel adalah ibu hamil dengan preeklampsia yang dirawat dan besar sampel 90. Semua sampel mendapat diet preeklampsia sesuai standar RSCM. Asupan makanan sebelum dirawat menggunakan metoda Semi quantitative food frequency dan selama dirawat dengan metoda penimbangan. Analisa zat gizi menggunakan program Food Processor 2. Dilakukan pemeriksaan albumin darah, proteinuria dan kejadian edema Analisa data secara univariat.bivariat dan multivariat menggunakan program Epi info 6, dengan menggunakan uji perbedaan t dan regresi multiple.
Hasil dan pembahasan: Rerata kebutuhan energi responder adalah 1852 kalori dan kebutuhan protein 61.5 gram. Sebelum dirawat, rerata asupan energi dan protein masih dahlia batas normal yaitu 110.6% dan 94.5% .Ternyata tidak ada hubungan antara asupan energi dan protein dengan albumin darah sebelum dirawat yang kemungkinan disebabkan karena jumlah subyek terbatas dan homogen, serta perbedaan tingkat kerusakan endotel pembuluh darah Selma dirawat rerata asupan energi dalam batas normal (91.2% kebutuhan) dan protein termasuk defisit kurang (86.3%). Faktor gangguan fisik berhubungan dengan asupan energi dan protein tetapi faktor pengetahuan gizi tidak berhubungan. Kejadian edema dan tingkat proteinuria tidak berhubungan dengan asupan energi dan protein. Diperlukan standar diet preeklarnpsia berdasarkan tinggi badan yang dilengkapi dengan suatu pedoman untuk kemudahan pemesanan dan distribusinya. Parameter pre albumin dapat digunakan untuk melihat penibahan status protein selama perawatan 2 - 3 hari.
Saran: Preskepsi diet dapat dikelompokkan rnenjadi 1700 kalori, 1900 kalori dan 2100 kalori. Anggota tim kesehatan perlu meningkatkan motivasi kepada pasien, baik dalam penyuluhan maupun pemberian bantam saat makan. Sedangkan parameter prealbumin dapat digunakan untuk menentukan kasus dan control dalam penelitian lebih lanjut."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Jauhari Puspitasari
"Latar belakang: Preeklampsia/eklampsia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal di Indonesia. Preeklampsia juga menyebabkan pertumbuhan janin terhambat dan kelahiran prematur. Etiologi preeklampsia belum jelas, diduga berhubungan dengan penurunan perfusi plasenta yang menyebabkan hipoksia plasenta. Hipoksia ini menginduksi aktivitas angiogenesis pada plasenta yang bertujuan untuk memperbaiki mikrosirkulasi plasenta.
Tujuan: Menilai aktivitas angiogenesis pada plasenta preeklampsia dan dibandingkan dengan plasenta ibu hamil normal.
Rancangan penelitian: Merupakan studi komparatif potong lintang. Dua belas plasenta preeklampsia dan 13 plasenta ibu hamil normal sebagai kontrol diperoleh dari ibu bersalin yang mendonorkan plasenta di satu rumah sakit. Aktivitas angiogenesis dinilai dengan pemeriksaan migrasi sel-sel endotel Untuk menganalisis perbedaan aktivitas angiogenesis antar kelompok digunakan tes Mann-Whitney.
Hasil: Aktivitas angiogenesis pada plasenta preeklampsia lebih tinggi bermakna secara statistik dibanding dengan plasenta ibu hamil normal (p<0.05).
Kesimpulan: Hipoksia plasenta meningkatkan aktivitas angiogenesis pada plasenta preeklampsia. Pada penelitian k d respons lokal tidak optimal dalam meningkatkan mikrosirkulasi, karena terdapat 2 kasus berat bayi lahir rendah pada kelompok preeklampsia.

Angiogensesis Activity Of Preeclamptic PlacentaBackground: Preeclampsia/eclampsia is a major cause of maternal morbidity and mortality in Indonesia. Preeclampsia also a major cause of fetal growth retardation and premature delivery. The etiology of preeclampsia is unclear. It is suggested that reduce placental perfusion leads to placental hypoxia, and then induced placental angiogenic activity. The purpose of the activity enhances the placental vascular bed.
Objective: To study angiogenic activity in preeclamptic placentas and compare those with placenta from normal pregnant women.
Study design: Comparative cross sectional study was used. Mothers who were delivered their baby in the same hospital donated their placentas. Twelve placentas from preeclampsia and 13 from controls were examined. The angiogenic activity was assayed using an endothelial cell migration assay. Differences in placental angiogenic activity between two groups were analysed using the Mann Whitney test.
Result: The angiogenic activity in the placenta from women with preeclampsia were significantly greater than that from women with normal pregnat. (p<0.05).
Conclusion: Placental hypoxia increased angiogenic activity in the placenta from women with preeclampsia. In this study, the local respons is not optimal in enhacing vascular bed, because 2 low birth weight babies was delivered in preeclampsia group.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T 13642
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pramita Iriana
"TUJUAN: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kadar tromboksan B2 pada kultur jaringan plasenta penderita preeklampsia dengan plasenta wanita hamil normal sebagai pembanding.
RANCANGAN PENELITIAN: Penelitian ini merupakan studi cross-sectional. Kultur jaringan plasenta penderita preeklampsia (n=13) dan plasenta wanita hamil normal (n=12) dengan usia dan umur kehamilan tidak berbeda bermakna secara statistic. Kultur plasenta menggunakan medium M199 dari sigma dengan 20 % serum menggunakan metode tabung menurut Rand dan dikultur selama 72 jam. Kadar tromboksan B2 diukur dengan spektrofotometri pada panjang gelombang 405 nm. Sebagai petanda bahwa plasenta yang dikultur masih memilik viabilitas set yang baik diukur melalui pemeriksaan human chorionic gonadotropin (hCG).
HASIL: Kedua sel baik dari jaringan plasenta penderita preeklampsia maupun dari jaringan plasenta hamil normal memiliki viabilitas sel yang baik. Kadar tromboksan B2 yang terlarut dalam supematan kultur jaringan plasenta penderita preklampsia (887.88± 26.07 pglml) lebih tinggi secara bermakna (P<0.05) dibanding wanita hamil normal (849.82± 24.61 pglml)
KESIMPULAN: Kadar Tromboksan B2 pada penderita preeklampsia lebih tinggi dibandingkan pada wanita hamil normal, peningkatan ini bertanggung jawab terhadap terjadinya vasokonstriksi pembuluh darah pada plasenta dan maternal.

Enhanced Tromboxane B2 (TXB2) Production In Placental Culture In Preeclampsia
OBJECTIVE: To determine tromboxane B2 production in placental culture in preeclampsia
STUDY DESIGN: The study was a crosssectional study. Placentas were obtained from having woman with normal (n=12) and woman with preeclampsia (n=13) with the same age and gestational age. Placenta tissues were incubated in M199 sigma medium with 20 % serum for 72 hour using the with tube method from Rand. Samples were analyzed spectrophotometrically and with absorbtion at 405 nm for tromboxane B2. hCG was also determined as a marker for cell viability.
RESULT : The placentas of women will preeclampsia and from normal pregnanly were viable. The concentration of tromboxane B2 from placental of preeclampsia cultured for 72 hour (887.88±26.07 pg/ml) was significantly higher (p<0.05) than from placental of normal pregnanly (849.83±24.60 pg/ml).
CONCLUSION : The concentration of tromboxane B2 from cultures of placental preeclampsia was significantly higher than from cultures of placental of normal pregnanly. The increased tromboxane B2 production in placental culture could be responsible for increased placental and maternal blood vessel vasoconstriction."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T13652
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>