Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 20 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Irene Purnamawati
"Latar Belakang: Sepsis merupakan masalah kesehatan global dan memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Rasio neutrofil-limfosit merupakan pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan di fasilitas terbatas dan tidak memerlukan biaya besar, tetapi belum ada studi yang meneliti perannya dalam memprediksi mortalitas 28 hari pada pasien sepsis, menggunakan kriteria sepsis-3 yang lebih spesifik.
Tujuan: Mengetahui peran rasio neutrofil-limfosit dalam memprediksi mortalitas 28 hari pada pasien sepsis.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif terhadap pasien sepsis yang dirawat di RSCM pada tahun 2017. Data diambil dari rekam medis pada bulan Maret-Mei 2018. Nilai rasio neutrofil-limfosit yang optimal didapatkan menggunakan kurva ROC. Subjek kemudian dibagi menjadi dua kelompok yang di bawah dan di atas titik potong. Kedua kelompok kemudian dianalisis menggunakan analisis kesintasan dengan program SPSS.
Hasil: Dari 326 subjek, terdapat 12 subjek loss to follow-up. Rerata usia sampel 56,4 + 14,9 tahun, dengan fokus infeksi terbanyak di saluran napas (59,8%), dan penyakit komorbid terbanyak adalah keganasan padat (29,1%). Nilai titik potong rasio neutrofil-limfosit yang optimal adalah 13,3 (AUC 0,650, p < 0,05, sensitivitas 63%, spesifisitas 63%). Pada analisis bivariat menggunakan cox regression didapatkan kelompok dengan nilai rasio neutrofil-limfosit> 13,3 memiliki crude HR sebesar 1,84 (IK 95% 1,39-2,43) dibandingkan dengan kelompok yang nilai rasio neutrofil-limfosit < 13,3. Setelah menyingkirkan kemungkinan faktor perancu, didapatkan adjusted HR untuk kelompok dengan nilai rasio neutrofil-limfosit tinggi adalah 1,60 (IK 95% 1,21-2,12).
Simpulan: Nilai rasio neutrofil-limfosit memiliki akurasi lemah dalam memprediksi mortalitas 28 hari pasien sepsis dengan nilai titik potong optimal 13,33. Kelompok dengan nilai rasio neutrofil-limfosit > 13,3 memiliki risiko mortalitas 28 hari yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok nilai rasio neutrofil-limfosit < 13,3.

Background: Sepsis is a global health problem with high morbidity and mortality. Neutrophil to lymphocyte ratio is a simple test which can be done in limited facility, but there is no study conducted to know its potential in predicting 28-day-mortality in septic patients, using the more specific sepsis-3 criteria.
Objectives: To investigate neutrophil to lymphocyte ratio as a predictor of 28-day-mortality in septic patients.
Methods: A retrospective cohort study was conducted using medical records in Cipto Mangunkusumo Hospital for septic patients who were admitted in 2017. Neutrophil to lymphocyte ratio cut off was determined using ROC curve, then subjects were divided into two groups according to its neutrophil to lymphocyte ratio value. The groups were analyzed using survival analysis with SPSS.
Result: From 326 subjects, 12 subjects were loss to follow-up. Age mean was 56.4 + 14.9 years. Lung infection (59.8%) was the most frequent source of infections and solid tumor (29.1%) was the most frequent comorbidities. The optimal cut off value for neutrophil to lymphocyte ratio was 13.3 (AUC 0.650, p < 0.05, sensitivity 63%, specificity 63%). Bivariate analysis using cox regression showed that group with neutrophil to lymphocyte ratio > 13.3 had greater risk for 28-day-mortality than group with neutrophil to lymphocyte ratio < 13.3 with crude HR 1.84 (95% CI 1.39-2.43). After adjustment for possible confounding, adjusted HR for group with higher neutrophil to lymphocyte ratio was 1.60 (95% CI 1.21-2.12).
Conclusion: Neutrophil to lymphocyte ratio had poor accuracy in predicting 28-day-mortality in septic patients with 13.3 as the optimal cut off value. Group with neutrophil to lymphocyte ratio > 13.3 had greater significant risk for mortality in 28 days than group with neutrophil to lymphocyte ratio < 13.3.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T58572
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nicholas Kristanta Sandjaja
"Latar Belakang. Pneumonia komunitas merupakan masalah kesehatan global dan memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Rasio neutrofil-limfosit merupakan petanda inflamasi yang sederhana, cepat dan murah serta dapat dilakukan di fasilitas terbatas. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa RNL saat awal perawatan dapat digunakan sebagai prediktor mortalitas, lama rawat inap dan kemungkinan kejadian sepsis, tetapi belum ada studi yang meneliti perannya dalam memprediksi kesembuhan dalam 7 hari pada pasien dengan pneumonia komunitas.
Tujuan. Mengetahui peran rasio neutrofil-limfosit dalam memprediksi kesembuhan dalam 7 hari pada pasien dengan pneumonia komunitas.
Metode. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif terhadap pasien pneumonia komunitas yang dirawat di RSCM dari periode 1 November 2017-31 Desember 2018. Data neutrofil, limfosit dan leukosit serta RNL pada awal perawatan diambil dari rekam medis. Kriteria kesembuhan dalam 7 hari berupa perbaikan keluhan, pemeriksaan fisik, tanda vital yang stabil sesuai panduan IDSA/ATS dan atau perbaikan rontgent toraks. Nilai rasio neutrofil-limfosit yang optimal didapatkan menggunakan kurva ROC. Analisis variabel perancu dilakukan dengan regresi logistik.
Hasil. Terdapat 195 subjek penelitian yang dianalisis. Median usia sampel 65 tahun (21-90), dengan penyakit komorbid terbanyak adalah diabetes melitus (49,7%), terdapat 1 pasien yang mendapatkan antibiotik sebelum perawatan, dan 72,1% pasien dengan skor CURB-65 ≥ 2. Dari kurva ROC didapatkan nilai AUC 0,554 (IK95%: 0,473-0,635) dengan p>0,05. Analisa regresi logistik dan analisis subgrup menunjukkan CURB-65 skor 2 merupakan effect modifier.
Kesimpulan. Rasio neutrofil-limfosit pada awal perawatan tidak dapat digunakan sebagai prediktor untuk memprediksi kesembuhan dalam 7 hari pada pasien dewasa pneumonia komunitas yang dirawat

Background. Community acquired pneumonia is a global health problem and has a high morbidity and mortality. The neutrophil to lymphocyte ratio is a simple, rapid, inexpensive marker of systemic inflammation and can be done in a limited facility. Other studies had shown that neutrophil to lymphocyte ratio can be used to predict mortality, length of stay and sepsis, but there are no studies that investigate its role in predicting cure within 7 days in patients with community acquired pneumonia.
Aim. To investigate neutrophil to lumphocyte ratio as a predictor of cure within 7 days in patients with community acquired pneumonia.
Method. A retrospective cohort study was conducted using medical records in Cipto Mangunkusumo Hospital for community acquired pneumonia patients who were admitted from the period 1st November 2017-31st December 2018. Neutrophil, lymphocytes and neutrophil to lymphocyte ratio was obtained upon admittance. Criteria for cure within 7 days include improvement of clinical symptoms, physical examination, stable vital signs according to IDSA / ATS guidelines and or improvement of chest X-ray. Neutrophil to lymphocyte cut off was determined using the ROC curve. Confounding factors was analysed using logistic regression.
Results. There were 195 subjects. Median age was 65 years (21-90). Diabetes mellitus (49.7%) was the most frequent comorbid. There were one patients treated with antibiotics prior to admission and 72.1 % of patients with a CURB-65 score ≥ 2. ROC curve showed that AUC 0.554 (95%CI: 0.473-0.635 ) with p>0.05. Logistic regression analysis and subgroup analysis showed that CURB-65 2 was an effect modifier.
Conclusion. Neutrophil to lymphocyte ratio upon admittance cannot be used as a predictor of cure within 7 days in adult patients with community acquired pneumonia."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fathia Amalia Faizal
"Latar belakang: Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) merupakan penyakit paru yang menyebabkan 60% kematian di Indonesia. Terjadi peningkatan prevalensi frailty pada pasien PPOK hingga dua kali lipat dibandingkan pada pasien tanpa PPOK. Frailty merupakan sindrom lansia terkait perubahan fisiologis dan morfologis pada berbagai sistem tubuh akibat penuaan. Pada PPOK terjadi inflamasi sistemik yang ditandai dengan penanda inflamatori. Rasio neutrofil-limfosit (RNL) merupakan penanda inflamatori yang cukup stabil, terjangkau, dan banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan RNL dengan frailty pada pasien lansia dengan PPOK. Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang. Penilaian frailty dilakukan berdasarkan kuesioner FRAIL dan hitung jenis darah perifer melalui data rekam medis RSCM dari bulan Oktober 2021–Oktober 2022. Hasil: Terdapat 103 subjek dengan prevalensi yang mengalami frail sebanyak 63 orang (61,2%). Pada analisis bivariat, didapatkan hasil bahwa RNL memiliki hubungan yang signifikan dengan frailty (p = 0,017). Median RNL pada kelompok frail sebesar 2,30 (1,27 – 7,03) dan kelompok non-frail sebesar 2,01 (0,72 – 4,56). Pada analisis kelompok kuartil, didapatkan hasil yang signifikan antara RNL dengan frailty (p = 0,009). Sebanyak 33,3% pasien frail berada pada kuartil keempat (> 3,060) dan sebanyak 42,2% pasien non-frail berada pada kuartil kesatu (<1,870). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara RNL dengan frailty pada pasien lansia dengan PPOK.

Introduction: Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is a lung disease that causes 60% of deaths in Indonesia. There was an increase in the prevalence of frailty in COPD patients up to two times compared to patients without COPD. Frailty is an elderly syndrome related to physiological and morphological changes in various body systems due to aging. In COPD, there is systemic inflammation characterized by inflammatory markers. Neutrophil to Lymphocyte ratio (NLR) is an inflammatory marker that is relatively stable, affordable, and widely used. This study aims to determine the relationship between NLR and frailty in elderly patients with COPD. Method: This cross-sectional study was conducted on elderly patients with COPD. Subjects performed frailty assessment based on the FRAIL questionnaire and peripheral blood type count through RSCM’s patient medical record from October 2021 – October 2022. Result: There were 103 subjects with a prevalence of frailty in 63 patients (61.2%). In bivariate analysis, results found that RNL had a significant relationship with frailty (p = 0.017). The median RNL in the frail group was 2.30 (1.27 – 7.03), and the non-frail group was 2.01 (0.72 – 4.56). In the quartile group analysis, RNL and frailty obtained significant results (p = 0.009). A total of 33.3% of frail patients were in the 4th quartile (> 3.060), and 42.2% of non-frail patients were in the 1st quartile (<1.870). Conclusion: There is a significant relationship between NLR and frailty in elderly patients with COPD. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Anggraeni
"Penularan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang mudah membuat perkembangan penyakit tersebut sangat cepat di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Penelusuran riwayat kontak dan metode deteksi cepat dapat digunakan untuk mencegah dan mengendalikan penularan COVID-19. Rapid Test antibodi merupakan metode deteksi cepat yang banyak digunakan, namun akurasi Rapid Test antibodi tidak 100%. Parameter hematologi berupa Rasio Neutrofil Limfosit (RNL) diketahui dapat memberi gambaran terkit inflamasi sistemik di awal infeksi. Telah dilakukan penelitian mengenai gambaran RNL pada pasien suspek COVID-19 dengan hasil Rapid Test antibodi nonreaktif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi gambaran rasio RNL dalam upaya mengidentifikasi peran RNL pada populasi suspek dengan hasil Rapid Test antibodi nonreaktif. Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan hasil pemeriksaan darah mahasiswa dan karyawan yang tinggal di Asrama UI. Sebanyak 70 sampel darah dikumpulkan, kemudian diberlakukan Rapid Test antibodi dan pemeriksaan hematologi lengkap menggunakan hematology Analyzer untuk mendapatkan nilai RNL. Seluruh hasil Rapid Test antibodi yang dilakukan menunjukkan hasil nonreaktif. Hasil dari pemeriksaan hematologi lengkap menunjukkan 65 subjek penelitian memiliki nilai RNL di dalam kisaran normal (1,88 ± 0,57) dan 5 subjek penelitian memiliki nilai RNL lebih tinggi dari nilai normal (4,2 ± 1,31). Hasil penelitian ini mengindikasi bahwa Rapid Test antibodi yang dilakukan pada pasien suspek menghasilkan persentase true nonreactive sebesar 92,8% dan false nonreactive sebesar 7,14%. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa RNL potensial untuk membantu melengkapi dan menerangkan hasil nonreaktif dari Rapid Test antibodi.

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) is a highly contagious disease which makes it easier to spread around the nation, even the world. Contact tracing and rapid detection methods for COVID-19 is the schemes to prevent and control the spread. Rapid antibody test is one of the rapid detection methods, but the accuracy is under 100%. Hematology parameter such as Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) is one of the easy and rapid way to fit up the accuracy of rapid antibody test, since NLR is able to picture the systemic inflammation of early infection. The study regarding representation of NLR on COVID-19 suspect patients with nonreactive result of Rapid Antibody Test is conducted. The aim of the study is to evaluate the NLR ratio in order to identificate role of NLR on suspect populations with nonreactive result of Rapid Antibody Test. This study is using medical record data from student and employees who stayed at Asrama UI. As much as 70 blood samples were collected and proceeded to do the Rapid Antibody Test and complete blood count using hematology analyzer to determine NLR. All samples showed nonreactive results to Rapid Antibody Test. The complete blood count showed that 65 objects had NLR value in the normal range (1,88 ± 0,57) and 5 objects had NLR value higher than normal range (4,2 ± 1,31). The results of this study indicate that the Rapid Antibody Test performed resulted in the percentage of true nonreactive of 92.8% and false nonreactive of 7.14%. To be concluded, NLR was potential as a supporting data to complete and describe the nonreactive result of Rapid Antibody Test."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maylin Krey
"Malnutrisi seringkali didapatkan pada pasien dengan penyakit akut dan kronis. Penyebab malnutrisi pada pasien sakit kritis bersifat multifaktorial, salah satu penyebabnya adalah inflamasi yang tinggi. Inflamasi merupakan penyebab malnutrisi yang dapat menyebabkan anoreksia, berkurangnya asupan makan, katabolisme otot, dan resistensi insulin yang akan merangsang keadaan katabolik. Respon inflamasi terhadap pembedahan, trauma, atau kondisi medis parah lainnya menyebabkan gangguan metabolisme (misalnya katabolisme protein) pada pasien yang dirawat di ICU. Rasio neutrofil limfosit (RNL) adalah indikator yang sangat sensitif terhadap infeksi, peradangan dan sepsis, yang telah divalidasi dalam banyak penelitian. Selain inflamasi, malnutrisi pada pasien sakit kritis disebabkan oleh kesulitan mencapai target nutrisi yang optimal dan membuat pasien menghadapi risiko malnutrisi atau memperburuk kondisi malnutrisi yang sudah ada sebelumnya. Oleh karena itu penting untuk melakukan penilaian status gizi dalam rangka mengidentifikasi malnutrisi dan mengevaluasi hasil terapi gizi yang diberikan. Beberapa pengukuran komposisi tubuh untuk melihat massa otot dapat menggunakan beberapa pemeriksaan tervalidasi seperti magnetic resonance imaging (MRI), CT scan, DXA dan bioelectrical impedance analysis (BIA). Beberapa pemeriksaan antropometri untuk memprediksi massa otot dapat dilakukan, diantaranya lingkar lengan atas dan lingkar betis dapat dilakukan sebagai pemeriksaan pengganti karena sederhana, murah, tidak invasif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kadar RNL dengan perubahan lingkar betis pada pasien ICU.

Malnutrition is common in patients with acute and chronic illnesses. The causes of malnutrition in critically ill patients are multifactorial, one of which is high inflammation. Inflammation is a cause of malnutrition that can lead to anorexia, reduced food intake, muscle catabolism, and insulin resistance that will stimulate a catabolic state. The inflammatory response to surgery, trauma or other severe medical conditions leads to metabolic disturbances (e.g. protein catabolism) in patients admitted to the ICU. The ratio of neutrophil lymphocytes (NLR) is a highly sensitive indicator of infection, inflammation and sepsis, which has been validated in many studies. In addition to inflammation, malnutrition in critically ill patients is caused by difficulty achieving optimal nutritional targets and puts patients at risk of malnutrition or worsens pre-existing malnutrition conditions. Therefore, it is important to assess nutritional status in order to identify malnutrition and evaluate the results of nutritional therapy. Several validated body composition measurements such as magnetic resonance imaging (MRI), CT scan, DXA and bioelectrical impedance analysis (BIA) can be used to assess muscle mass. Some anthropometric examinations to predict muscle mass can be done, including upper arm circumference and calf circumference can be done as a substitute examination because it is simple, cheap, non-invasive. This study aims to determine the correlation between RNL levels and changes in calf circumference in patients in the ICU."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Edward Faisal
"ABSTRAK
Latar Belakang. Konstipasi idiopatik kronik adalah masalah yang cukup banyak terjadi, dan berhubungan dengan proses inflamasi. Proses inflamasi yang diwakili oleh rasio neutrofil limfosit merupakan marker inflamasi yang cukup stabil dan banyak digunakan, dan diduga ada hubungannya dengan terjadinya gejala depresi.
Tujuan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan rasio neutrofil limfosit dengan gejala depresi pada konstipasi idiopatik kronik.
Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang melibatkan pasien konstipasi idiopatik kronik berusia 18-59 tahun di populasi. Di saat bersamaan, dinilai gejala depresi dengan menggunakan Beck Depression Inventory-II kemudian diambil sampel darah untuk menilai rasio neutrofil limfosit. Uji hipotesis dilakukan dengan uji korelasi Pearson.
Hasil. Sebanyak 73 subyek didapatkan rerata (SB) usia adalah 40,29 (11,2) tahun, dengan proporsi perempuan 90,4%. Median RNL (min-maks) adalah 1,72 (0,27-7,18). Hasil analisis korelasi didapatkan hasil koefisien korelasi (r) = 0,028 (p = 0.811).
Kesimpulan. Rasio neutrofil limfosit tidak berhubungan dengan gejala depresi pada konstipasi idiopatik kronik.

ABSTRACT
Background. Chronic idiopathic constipation is a problem that is quite common and is related to the inflammatory process. Inflammation marker is represented by neutrophil lymphocyte ratio that is quite stable and widely used and is thought to have something to do with the occurrence odd depressive symptoms.
Objectives. This study was aimed to determine relationship between neutrophil lymphocyte ratio and depressive symptom in chronic idiopathic constipation.
Methods. This was a cross sectional study involving chronic idiopathic constipation patients aged 18-59 years old in population. At the same time depressive symptoms were assessed using the Beck Depression Inventory-II and blood sample were taken to assess the neutrophil lymphocyte ratio. Pearson correlation test was done for hypothesis testing.
Results. From total of 75 subjects, the mean (SB) age is 40.29 (11.2) years and the proportion of women is 90.4%. The median RNL (min-max) is 1.72 (0.27-7.18). The results of correlation coefficient obtained from correlation analysis is (r) = 0.028 (p= 0.811).
Conclusion. The neutrophil lymphocyte ratio is not associated with depressive symptom in chronic idiopathic constipation."
2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irsan Hasan
"

Peran Th17 dalam keganasan, khususnya karsinoma sel hati, masih menjadi perdebatan. Sel Th17, sel penghasil IL-17, dilaporkan berhubungan dengan efek protumor dan antitumor sekaligus. Di lain sisi, sel Th1 yang menyekresikan IFN-γ memiliki sifat antitumor. Kemoembolisasi transarterial / transarterial chemo-embolization (TACE) diketahui dapat menyebabkan nekrosis tumor, namun peran TACE dalam memengaruhi sel Th17, Th1, IL-17, IFN-γ, dan rasio neutrofil limfosit (RNL) masih belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perubahan Th17, Th1, IL-17, IFN-γ, dan nilai RNL pada pasien KSH yang menjalani TACE.

Penelitian ini dilakukan sepanjang Juni 2015–Januari 2019 di RSCM dan beberapa rumah sakit jejaring di Jakarta. Desain potong lintang digunakan untuk membandingkan respons imun pasien KSH dengan sirosis hati. Desain kohort prospektif diterapkan untuk menilai hubungan respons imun dengan keberhasilan TACE. Pengambilan darah dilakukan sebelum dan 30 hari setelah tindakan TACE pada pasien KSH dan satu kali pada pasien sirosis. Nilai Th17 dan Th1 dianalisis menggunakan teknik flowcytometry, sedangkan nilai IL-17 dan IFN-γ diukur dengan teknik enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Nilai RNL dihitung dari pembagian kadar neutrofil dengan limfosit yang diperoleh dari pemeriksaan hitung jenis. Respons terhadap TACE dievaluasi berdasarkan kriteria mRECIST.

Sebanyak 40 pasien sirosis dan 41 pasien KSH berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebanyak 12 pasien dan 29 pasien termasuk ke dalam kelompok respons dan nonrespons, secara berurutan. Penurunan kadar AFP dan ukuran tumor secara bermakna ditemukan pada kelompok respons. Pada kelompok ini, juga ditemukan peningkatan bermakna kadar Th1, Th17, dan sel T CD4+/IFN-γ+/IL-17+ setelah TACE. Nilai IL-17, IFN-γ, dan RNL tidak berhubungan dengan respons TACE. Di samping itu, didapatkan peningkatan bermakna kadar CD4+/IFN-γ+/IL-17- pada kelompok nonrespons.

Simpulan: Peningkatan kadar Th1 dan Th17 dalam darah perifer yang diiringi dengan peningkatan sel T CD4+/IFN-γ+/IL-17+ didapatkan pada pasien KSH yang berespons baik terhadap TACE.

 


The role of Th17 cells in malignancy, especially hepatocellular carcinoma, remains controversial. Th17 cells, IL-17 producing cells, were reported to be associated with both protumor and antitumor effects. On the other hand, Th1 cells, IFN-γ producing cells, had antitumor properties. Transarterial chemoembolization (TACE) is known for its potency to cause tumor necrosis, but its impact on Th17, Th1, IL-17, IFN-γ, and neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) is still unclear. This study aims to determine the changes in Th17, Th1, IL-17, IFN-γ, and NLR levels in HCC patients treated with TACE.

This study was conducted from June 2015 to January 2019 at Cipto Mangunkusumo National General Hospital dan several affiliated hospitals in Jakarta. A cross-sectional study design was used to compare the immune response between HCC and liver cirrhotic patients. A prospective cohort study design was applied to assess the relationship between immune response and tumor response to TACE. Plasma sampling was obtained from HCC and cirrhotic patients that fulfilled the inclusion and exclusion criteria. Blood samples were collected immediately before and 30 days after TACE. Th17 and Th1 levels were measured using flowcytometry technique, while IL-17 and IFN-γ levels were quantified by using enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). The value of NLR was calculated by dividing the neutrophil count by the lymphocyte count. Responses to TACE were evaluated based on mRECIST.

A total of 40 cirrhotic and 41 HCC patients participated in this study. As many as 12 and 29 patients were included in the response and nonresponse group, respectively. In the response group, there were significant reduction of AFP levels and tumor size, as well as significant increase of Th1, Th17 and CD4+/IFN-γ+/IL-17+ T cells levels after TACE. Furthermore, there was an increase of CD4+/IFN-γ+/IL-17- levels in the non-response group. The values of IL-17, IFN-γ, and NLR were not related to TACE response.

Conclusion: Patients with good response to TACE had increased levels of circulating Th1, Th17, and CD4+/IFN-γ+/IL-17+ T cells.

"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ikrar Syahmar
"Latar belakang: Derajat inflamasi dikaitkan dengan progresivitas kanker payudara metastasis berdasarkan subtipenya terutama Triple Negatif (TN). NLR yang menunjukkan derajat inflamasi dan subtipe kanker payudara metastasis juga dikaitkan dengan kesintasan pasien. Data yang ada saat ini terkait hubungan NLR dan subtipe kanker payudara metastasis masih terbatas.
Tujuan: Mengetahui perbedaan nilai NLR pasien kanker payudara metastasis triple negatif dan non triple.
Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada pasien kanker payudara metastasis yang berobat di RSCM pada 2017-2023. Pasien yang memiliki kanker ganda, penyakit akut, dan pansitopenia yang berhubungan dengan sebaran tulang luas diekslusi pada penelitian ini. Data sekunder diambil dari rekam medis secara konsekutif. Uji non parametrik Kruskal-Wallis dilakukan untuk melihat hubungan nilai NLR saat terdiagnosis kanker payudara metastasis dengan subtipe molekular TN dan non TN.
Hasil: Dari 242 subjek penelitian, terdapat 14,5% pasien kanker payudara metastasis yang memiliki subtipe TN, sedangkan subtipe non-TN secara berturut HER2 dan luminal sebesar 11,2% dan 74,4%. Perbandingan NLR antara subtipe TN dan non-TN tidak berbeda secara bermakna pada pasien kanker payudara metastasis (p = 0,457). Faktor klinikopatologi yang ditemukan berhubungan dengan nilai NLR adalah metastasis otak (p <0,001) dan status performa (p = 0,001).
Kesimpulan: Nilai NLR tidak berbeda antar subtipe TN dan non-TN pada kanker payudara metastasis.

Background: The degree of inflammation was associated with the progressivity of metastatic breast cancer based on its subtypes especially triple-negative breast cancer (TNBC). NLR indicating the degree of inflammation and subtype of metastatic breast cancer is also associated with patient survival. Current data on the relationship between NLR and metastatic breast cancer subtypes is limited.
Objective: To investriplete the difference in NLR between triple-negative and non-triple-negative metastatic breast cancer patients.
Method: A cross-sectional study was conducted on metastatic breast cancer patients who received treatment at RSCM from 2017 to 2023. Patients who had multiple cancers, acute illness, and pancytopenia associated with extensive bone distribution were excluded from this study. Secondary data were consecutively taken from medical records. A non-parametric (Kruskal-Wallis) test was performed to see the association of NLR value at diagnosis of metastatic breast cancer with molecular subtype TN and non-TN.
Results: Of the 242 study subjects, 14.5% of patients had TN subtypes, while non-TN subtypes were HER2 and luminal at 11.2% and 74.4%, respectively. NLR was not significantly associated with the molecular subtype (p = 0.457). Clinicopathologic factors found to be associated with NLR values were brain metastasis (p < 0.001), and performance status (p = 0.001).

Conclusion: NLR was not associated with the molecular subtype of metastatic breast cancer.

"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Krishna Adi Wibisana
"Latar Belakang : Penyakit arteri perifer PAP ekstremitas bawah merupakan salah satu komplikasi makrovaskular DM tipe 2 yang memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Proses inflamasi telah diketahui berperan dalam terjadinya PAP pada penyandang DM tipe 2. Rasio neutrofil limfosit atau neutrophil lymphocyte ratio NLR telah digunakan sebagai penanda inflamasi kronik. Sejauh penelusuran kepustakaan yang dilakukan, belum didapatkan studi yang meneliti hubungan antara NLR dengan kejadian PAP ekstremitas bawah pada penyandang DM tipe 2.
Tujuan : Mengetahui hubungan antara NLR dengan kejadian PAP ekstremitas bawah pada penyandang DM tipe 2.
Metodologi : Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan subjek penyandang DM tipe 2 yang menjalani pemeriksaan ankle brachial index ABI di poliklinik divisi Metabolik Endokrin RSCM periode Oktober 2015 ndash; September 2016. Didapatkan 249 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dilakukan pengambilan data sekunder dari rekam medis mengenai data ABI, NLR, data demografik serta faktor perancu. Subjek dinyatakan menderita PAP ekstremitas bawah jika memiliki nilai ABI le; 0,9 dengan pemeriksaan probe Doppler. Data NLR kemudian dikategorikan berdasarkan median nilai NLR dan dicari hubungan nilai NLR dengan kejadian PAP ekstremitas bawah. Uji chi square digunakan untuk analisis bivariat dan regresi logistik digunakan untuk analisis multivariat.
Hasil : Penyakit arteri perifer ekstremitas bawah ditemukan pada 36 subjek 14,5. Didapatkan nilai median NLR total sebesar 2,11. Nilai median NLR didapatkan lebih tinggi pada kelompok PAP daripada tanpa PAP 2,46 vs 2,04. Terdapat hubungan yang bermakna antara nilai NLR ge; 2,11 dengan kejadian PAP ekstremitas bawah pada penyandang DM tipe 2 PR 2,46, 95 IK 1,23 ndash; 4,87; p=0,007. Dengan menggunakan uji regresi logistik, diketahui bahwa hipertensi merupakan variabel perancu.
Simpulan : Terdapat hubungan antara rasio neutrofil limfosit dengan kejadian penyakit arteri perifer ekstremitas bawah pada penyandang DM tipe 2.

Background : Lower extremity peripheral artery disease PAD is one of diabetic macrovascular complication which has high rate of morbidity and mortality. Chronic inflammation has been known to have a role in the pathogenesis of PAD in diabetic patient. Recently, neutrophil lymphocyte ratio NLR has been used as a marker of chronic inflammation. To the best of our knowledge, there are no prior studies about the relationship between NLR and PAD in type 2 diabetic patients.
Aim : To determine the relationship between neutrophil lymphocyte ratio and lower extremity peripheral artery disease in type 2 diabetic patient.
Methods : This was a cross sectional study on 249 patients with type 2 diabetes mellitus who underwent ankle brachial index ABI examination at Metabolic and Endocrinology Divison in Cipto Mangunkusumo Hospital between October 2015 ndash September 2016. The data were retrospectively collected from medical record. Lower extremity peripheral artery disease was defined as having ABI value le 0,9 by probe Doppler. Neutrophil lymphocyte ratio were categorized based on the median value and the relationship with lower extremity PAD were determined. Chi square test was used for bivariate analysis and logistic regression was used for multivariate analysis against confounding variables.
Result : Lower extremity peripheral artery disease was found in 36 subject 14,5. Median of NLR was 2,11. The median value of NLR was found higher in subjects with lower extremity PAD than without PAD 2,46 vs 2,04. There was an association between NLR value ge 2,11 and lower extremity PAD in type 2 diabetic patient p 0,007 PR 2,46 and 95 CI 1,23 ndash 4,87. By using logistic regression, it was known that hypertension was the confounding variable.
Conclusion : There is a relationship between neutrophil lymphocyte ratio and lower extremity peripheral artery disease in type 2 diabetic patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mutiara Ramadhanty
"Angka kejadian kanker payudara di Indonesia dan di dunia masih tinggi begitu pula dengan angka kekambuhan kanker payudara pada pasien yang telah menjalani pengobatan, saat ini diperlukan prediktor yang dapat dijadikan dasar untuk memperkirakan apakah kanker payudara dapat kambuh kembali setelah ditata laksana. Oleh karena itu penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan inter-rasio NLR/PWBR terhadap rekurensi kanker payudara apakah dapat dijadikan prediktor rekurensi kanker payudara. Penelitian dilakukan menggunakan metode cohort retrospektif minimal 3 bulan sampai 7 tahun dengan melihat rekam medis pasien kanker payudara yang telah mendapatkan terapi untuk mengambil data hasil pemeriksaan darah tepi. Selanjutnya data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan program SPSS. Dari 106 sampel yang memenuhi kriteria seleksi, ditemukan 53 pasien dengan NLR/PWBR rendah dengan 23 kejadian rekurensi dan dari 53 pasien dengan NLR/PWBR tinggi dengan 13 kejadian rekurensi (RR=1,77, CI 95% 1,0070 – 3,1083, p=0,065). Dari pasien dengan hormonal positif, ditemukan 21 kejadian rekurensi pada kelompok NLR/PWBR rendah, dan 9 kejadian rekurensi pada kelompok NLR/PWBR tinggi (RR=2,05, CI 95%=1,088 – 3,857, p=0,035).

Incidence rates of breast cancer are still high in Indonesia and in the World. So as the rate of recurrence breast cancer in patients who have undergone treatment. Now needed predictor that can be used as a standard for estimating whether breast cancer can recur after treatment. This research was done to investigate the association between NLR/PWBR inter-ratio to breast cancer recurrence.This research was conducted using a retrospective cohort method by looking at the peripheral blood tests in medical records with minimal 3 months until maximal 7 years observation. The data were analyzed using the Chi Square test with the SPSS software. From 106 patients there were 53 patients with lower NLR/PWBR with 23 breast cancer reccurrence, and from 53 patient with higher NLR/PWBR with 13 breast cancer recurrence (RR=1,77, CI 95%=1,0070 – 3,1083, p=0,065). From patients with hormonal potive, there were 21 breast recurrence from lower NLR/PWBR, and 9 from higher NLR/PWBR (RR=2,05, CI 95%=1,088 – 3,857, p=0,035)."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>