Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 48 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Keluarga, terutama pasangan merupakan individu yang sangat dekat (selalu kontak) dan
memegang peranan penting bagi kehidupan keluarganya. Tingkat pengetahuan pasangan
klien TB paru tentang pencegahan dan penularan TB paru sangat penting untuk
mencegah tertular penyakit TB, yang diderita oleh pasangannya. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan pasangan klien TB paru tentang
pencegahan dan penularan penyakit TB paru. Desain yang di gunakan dalam penelitian
ini adalah deskriptif sederhana. Sampel yang digunakan adalah pasangan klien TB pam
dalam ikatan perkawinan yang sah. Peneiitian ini dilakukan di Puskesmas Kecamatan
Cempaka Putih Jakarta Pusat, pada tangga 1 dan 6 Mei 2002. Pengumpulan data
dilakukan pada 27 responden (n=27),dengan menggunakan kuesioner dan dengan teknik
berdasarkan quota yang berisi data demografi yang meliputi nama (inisial), usia,
pendidikan, pekerjaan (pasangan), agama, dan Iamanya menderita TB (pasangan), serta
pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk mengetahui sejauhmana tingkat
pengetahuan tentang pencegahan dan penularan TB paru, sebayak 17 penanyaan. Data
diolah dengan menggunakan metode statistik tendensi sentral yaitu mean, median, dan
modus. Analisa data dalam penelitian ini hanya menggunakan mean dan modus. Hasil
perhitungan diperoleh rata-rata tingkat pengetahuan tentang penularan adalah 5,22 dan
termasuk dalam kriteria tingkat pengetahuan sedang ( berkisar antara 4-6). Sedangkan
tingkat pengetahuan tentang pencegahan diperoleh rata-rata 4,82 dan termasuk dalam
kriteria tingkat pengetahuan sedang (berkisar antara 3-5). Jadi kesimpulannya adalah
rata-rata tingkat pengetahuan pasangan klien TB paru tentang pencegahan dan penularan
penyakit TB paru di Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih Jakarta Pusat adalah tingkat
pengetahuan sedang."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5185
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
David Gordon
"Study Case For Control of The Use of Health Service By BTA Lung Tuberculosis Sufferers at Kapuas Hulu Regency Community Health Centers in The Year of 2000.
Up to now, lung tuberculosis (Tb) is a major community health problem. It is estimated that one third of the world population are the victims of the disease. Most of them (95 %) come from the developing countries. The low discovery of lung Tb sufferers (33%) has caused the disease transmission chain very difficult to broken causing approximately 8 millions of the world population to suffer from the disease, and 3 millions of them die each year. Indonesia is one of the developing countries with approximately 450,000 Tb cases (prevalence rate 0.22 %) and 175,000 Tb death each year, making is the third largest Tb contributor in the world.
Kapuas Hulu Regency (West Kalimantan Province) has 200,000 population. Although DOTS Strategy has been implemented gradually in the area since 1996 and adopted by all of the community health centers since 1999, there are only 33 % of estimated Tb cases can be discovered. This condition reflecting the phenomenon of community behavior towards the use of health service facility, especially the community health centers at Kapuas Hulu Regency. Thus, it induces questions about factors affecting the use of health service at the community health center by lung Tb patients.
In identifying the problem, since there are many factors affecting the use of community health center, this research used case control design with Green Theory approach (1980). Cases in this research were the BTA (+) lung Tb sufferers who were encountered through field survey during the research. While controls consisted of BTA (+) lung Tb sufferers who were listed in the Tb registry of the health centers.
Bipartite analysis shows that variables related to the use of health service in community health center are education with Odds Ratio 1.91, knowledge with OR 2.16, cost with OR 2.30, distance with OR 2.24, Transportation facility with OR 8.10, Health information OR 2.46, and service by health person with OR 2.41.
Multivariate analysis with logistic regression shows that variables related to the use of community health center by the BTA (+) lung Tb patients based on the contribution of transportation facility, knowledge, and health information, with its logistic equation : fog it (use of health service) - 2.876 + 2.547 (transportation) + 1.180 (knowledge) + 1.083 (health information).
In conclusion, knowledge, education, cost, transportation facility, distance. health information and service by health person can affect the behavior of lung Tb suffers in utilizing health service facility at the community health center. Above all, the availability of transportation facility is the most dominant factor.
Result from the study recommend that the community health centers and regency health service need to increase the frequency of health education regarding lung Tb to the community, using more understandable and simple methods. The regency government is advised to build facilities to increase community access to the health service. Health service approaching to the community is the easiest way to do for the community health center.
Library : 23 (1979-1999).

Penyakit tuberkulosis paru sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi penyakit tuberkolosis paru ini. Sebagian besar (95 %) dari penderita tersebut berada pada negara berkembang. Rendahnya penemuan penderita Tb paru (33%) membuat rantai penularan semakin sulit diputuskan, sehingga diperkirakan terdapat 9 juta penduduk dunia diserang Tb paru dengan kematian 3 juta orang pertahun. Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang, diperkirakan setiap tahunnya terjadi 583.000 kasus Tb (prevalence rate 0,22 %) dan 140 ribu meninggal setiap tahunnya, sehingga menyumbang Tb paru terbesar ketiga.
Kabupaten Kapuas Hulu yang terletak pada Propinsi Kalimantan Barat dengan penduduk lebih kurang 200.000 jiwa, baru dapat menemukan penderita Tb paru sekitar 33 %, walaupun sejak tahun 1996 strategi DOTS sudah digunakan secara bertahap dan tahun 1999 seluruh puskesmas sudah mengadopsinya.
Rendahnya penemuan penderita Tb paru ini merupakan gambaran fenomena perilaku masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan khususnya puskesmas di Kabupaten Kapuas Hulu. Oleh karena itu menjadi pertanyaan faktor - faktor apa saja yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh penderita Tb paru di puskesmas.
Untuk mengidentifikasi hal tersebut, penelitian ini menggunakan disain kasus kontrol dengan pendekatan teori Green (1984), mengingat bahwa banyak faktor - faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh penderita Tb paru di puskesmas. Kasus dalam penelitian ini adalah penderita Tb paru BTA (+) yang ditemukan melalui survei lapangan pada saat penelitian dilakukan. Sedangkan kontrol adalah pcnderita Tb paru BTA (+) yang ditemukan dalam register pengobatan Tb paru jangka pendek.
Analisis bivariat menunjukkan bahwa variahel yang herhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas adalah pendidikan dengan Odds Rasio (OR) 1,91 , pengetahuan dengan OR 2,16 , biaya dengan OR 2,30 , jarak dengan OR 2,24 , sarana transportasi dengan OR 8,10 , penyuluhan dengan OR 2,46 , dan pelayanan petugas dengan OR 2,41.
Analisis multivariat dengan regresi logistik mcnunjukkan bahwa variabel yang herhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh penderita Tb paru BTA (+) di puskesmas berdasarkan kontribusinya secara berurutan adalah Sarana transportasi, pengetahuan, dan penyuluhan dengan model persamaan logistiknya : Logit (pemanfaatan pelayanan kesehatan) = - 2,876 + 2,547 (transportasi) + 1,180 (pengetahuan) + 1,083 (penyuluhan).
Sebagai kesimpulannya adalah faktor pengetahuan, pendidikan, biaya, transportasi, jarak, penyuluhan, dan pelayanan petugas dapat mempengaruhi perilaku penderita Tb paru dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas, dan ketersediaan sarana transportasi merupakan faktor yang paling dominan.
Disarankan kepada puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten untuk meningkatkan frekuensi penyuluhan tentang Tb paru kepada masyarakat dengan menggunakan metoda yang mudah dimengerti masyarakat. Juga kepada Pemerintah Daerah disarankan untuk membangun sarana dan prasarana yang memudahkan akses masyarakat kepada pelayanan kesehatan. Mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat merupakan alternatif yang paling mudah dilakukan oleh puskesmas.
Kepustakaan : 23 ( 1979 - 1999 )"
2001
T2091
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wayan Apriani
"Program Pemberantasan TB Paru bertujuan untuk memutuskan rantai penularan penyakit TB Paru. Salah satu upaya dalam pemutusan rantai penularan adalah menemukan dan mengobati penderita BTA (+) sampai sembuh, dengan menggunakan obat yang adekuat dan dilakukan pengawasan selama penderita minum obat.
Kegiatan pemberantasan TB Paru dengan strategi DOTS di Kabupaten Donggala telah dilaksanakan sejak tahun 1995, tetapi penderita baru tetap ditemukan dan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Hal ini dapat disebabkan adanya kesadaran masyarakat untuk mencari pengobatan atau memang dimasyarakat TB Paru masih banyak ditemukan.
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru di Kabupaten Donggala. Jenis disain yang digunakan adalah kasus kontrol dengan menggunakan 2 jenis kontrol. Kasus adalah penderita TB Paru BTA (+), kontrol-1 yang merupakan kontrol yang berasal dari sarana pelayanan kesehatan yaitu adalah tersangka TB Paru dengan hasil pemeriksaan BTA (-) dan tidak diobati dengan obat anti tuberkulosis serta pada saat wawancara tidak sedang menderita batuk 3 minggu atau lebih dan kontrol-2 berasal dari masyarakat yaitu tetangga kasus dengan criteria tidak sedang menderita batuk 3 minggu atau lebih. Jumlah sampel yang diwawancarai sebanyak 270 kasus dan 540 kontrol.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru pada kasus dan kontrol-1 adalah umur, adanya sumber penular, cahaya matahari dalam rumah, kepadatan penghuni rumah, interaksi antara sumber penular dan cahaya matahari dalam rumah, dan sumber penular tidak berobat.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru pada kasus dan kontrol-2 adalah jenis kelamin, status vaksinasi BCG, keeratan kontak, lama kontak, sumber penular tidak berobat dan kepadatan penghuni rumah.
Dari basil penelitian ditemukan bahwa adanya kontak dengan penderita TB yang tidak berobat merupakan faktor risiko yang erat hubungannya dengan kejadian TB, sehingga disarankan untuk meningkatkan penemuan dan pengobatan penderita sedini mungkin hingga penderita sembuh dan dilakukan penyuluhan secara terus menerus untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar segera mencari pengobatan.

The objective of Pulmonary Tuberculosis Control Programme is to reduce TB transmission. In order to reduce the transmission, the first priority is to decrease the risk of infection by case finding, treatment and cure of AFB (+) tuberculosis patients with adequate regimens and proper supervision during the treatment.
TB Control Programme activities with DOTS strategy in Donggala District has been implemented since 1995. Due to the increasing of case finding of new AFB (+) patients, tuberculosis still remain as public health problem. This is caused by the awareness of community to get the treatment or the existence of Pulmonary Tuberculosis in the community.
The research aim is to identify the related factors to Pulmonary Tuberculosis in Donggala District. The case-control method had been used with two different controls. The case is the new AFB (+) tuberculosis patients while the first control is the TB suspect with the result of the examination is negative as facilities based control and the second is the neighbor of cases as community based control. Both controls were not coughing for last 3 weeks at the time of the interview. 270 cases and 540 control had been interviewed as the respondents.
The result of the research reveals that related factors to Pulmonary Tuberculosis with facilities based control are age, source of infection, house lighting, house density, interaction of house lighting and source of infection, and the source of infection who were not treated.
Related factors to the incidence of Pulmonary Tuberculosis with community based control are sex, BCG vaccination status, contact closeness, duration of contact, the source of infection who were not treated and house density.
Based on the result of the study, it is identified that a contact with TB patients who were not treated is the risk factor that closely relates to the Tuberculosis. Therefore, it is recommended to improve the case finding, early treatment and cure the patients. In addition, it is necessary to provide continuous health education in order to improve the awareness of community to seek the treatment.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T622
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Katili, Amalia K.M.
"Masalah TB adalah masalah kesehatan masyarakat yang merebak keseluruh dunia sehingga WHO mencanangkannya sebagai "global emergency" tahun 1993. Ini meliputi Indonesia yang menempati peringkat ke tiga sedunia. Di Rumah sakit Cibinong terdapat masalah yang berkaitan dengan TB yakni lemahnya kemampuan ketajaman diagnostik pelayanan medis, lemahnya sistem informasi medis yang berkaitan dengan sifat epidemiologis, tampilan klinis dan aspek sosial ekonomi TB, bersamaan dengan keharusan rumah sakit mengembangkan fungsi pelayanan rujukan dan pembinaan institusi lain di wilayah cakupan RS. Selain itu juga terdapat perbedaan dan variasi penanganan antar spesialisasi yang terkait dengan TB.
Dan hal tersebut diatas diperlukan upaya komprehensif dan terkoordinasi berupa pengorganisasian penanggulangan TB yang berdasarkan komitmen internal rumah sakit dan ditindaklanjuti dengan penetapan misi dan tujuan serta penetapan struktur dan rancangan organisasi. Penelitian tentang upaya pengorganisasian ini adalah penelitian partisipatif kualitatif untuk memperoleh pemikiran, pendapat dan pandangan para pelaku organisasi RSUD Cibinong terhadap pembentukan organisasi penanggulangan TB. Seluruh informasi dan data dikelompokkan dan dianalisis secara deskriptif atas pola-pola yang meliputi pemrosesan satuan, tema dan kategorisasi serta penafsiran data yang memunculkan rumusan kesimpulan.
Hasil yang diperoleh menunjukkan hampir semua jawaban responden memenuhi tema misi dan tujuan pengorganisasian secara umum yang sejalan dengan tujuan jangka pendek nasional penanggulangan TB. Tujuan khusus menggambarkan komitmen internal menjadikan rumah sakit Cibinong adalah rumah sakit rujukan untuk kasus TB dan puskesmas di wilayah Bogor. Strategi dasar adalah upaya terpadu dan komrehensif disertai pendidikan dan penyuluhan internal rumah sakit. Rancangan struktur organisasi P2TB didasarkan pada produk yakni manajemen kasus TB, berdasarkan suatu proses yang memungkinkan pengembangan derajat keahlian yang lebih baik dengan penekanan pada output. Rancangan juga berdasarkan orientasi pada masalah pasien yang lebih spesifik yakni tipe kasus. Organisasi P2TB berada di dalam wadah Komite Medik, terintegrasi dengan komponen Komite Medik yang lain. Model organisasi divisualisasikan melalui dokumen yang terdiri dari penjabaran misi dan tujuuan, administrasi dan pengelolaan, staff dan pimpinan, fasilitas dan peralatan, kebijakan dan prosedur, pengembangan staf dan pendidikan serta evaluasi dan pengendalian mutu.
Saran yang diajukan adalah SMF Paru diharapkan dapat memberi masukan yakni pendapat dan pengarahan dalam perencanaan tujuan, prosedur operasional dan cara terbaik melaksanakan suatu keputusan berbagai masalah penanggulangan yang menghubungkan kerjasama rawat berbasis klinis pada organisasi rumah sakit dengan yang berbasis kesehatan masyarakat di puskesmas dalam wilayah cakupan RS.

Development of TB Care Organization in Cibinong District Hospital Tuberculosis (TB) is a community health problem that spread over the world so WHO put its condition as "global emergency" in 1993. This part's included Indonesia that rose the third grade of the world. Cibinong Hospital believes that many problems of ineffective global action, which relates to TB endemic. They are representing a diagnostic sharpness of medical service ability, the weakness of medical information system and report's registration that have to do with epidemiological-clinical appearance and TB's social economic aspect, along with the obligation to construct improving the referral and educational function in hospital's area.
Beside that, there are also differences and various ways to handle, among parts of specialization connected to TB. From several things above. we need a comprehensive and coordinated exert that appear as TB's preventive organizing based on hospital's internal commitment and continue with mission, purpose confirmation and organizational structure and design. This participatory qualitative research's constructed to get several opinion, thinking and vision of organization's staff of Cibinong Hospital to create TB care and preventive organization. All information and data's being grouped and analyzed descriptively in patterns containing unity, theme, categorization and interpretation resulting of conclusion.
The results show that almost all respondents' answers granted the general organizing missions and purposes, along with National short time purposes of TB prevention. The particular is the drawing of internal commitment makes Cibinong Hospital becomes referral center for TB cases and public health facility in Bogor area. The basic strategies are coordinated and comprehensive expedients along with internal hospital's education and instruction. The structural design of TB care organizations based on product. That's the management of TB cases, constructed on a process that allows the improvisation of a better ability, forced on outcome. The design also based on orientation inside more specific patient's problem, the type of case. TB care and prevention organization is inside the medical committee, integrated with other component. The types of organization's being visualized by document consist of explanation such factors as missions and purposes, administrations and management, staff and leader, facilities and instruments, ability and action, staff improvement and education also evaluation and quality control.
It was suggested to conduct another continuing research on the developing of collaborative care organization for all of case management. We hope pulmonary staff medical becomes a director in planning, operational procedure and to make a decision in any kinds of TB prevention problem that contain of clinical-base collaborative care on hospital organization with the ones that based on community health in hospital's area.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T3740
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Ike Silviana
"Latar belakang: Penyakit TB Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Lebih dari 90% kasus TB Paru ditemukan di negara berkembang. Di Indonesia penyakit TB Paru masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat. Di Kabupaten Muaro Jambi jumlah penderita TB Paru pada tahun 2003 adalah 61.84 per 100.000 meningkat menjadi 106.16 per 100.000 penduduk pada tahun 2004. Peranan faktor lingkungan fisik dalam rumah menentukan penyebaran penyakit TB Paru, sehingga dalam penanggulangan TB Paru yang komprehensif harus melibatkan faktor lingkungan fisik dalam rumah. Pada tahun 2004, cakupan rumah sehat di Kabupaten Muaro Jambi hanya 36.9%, hal ini di duga memperbesar timbulnya penularan TB Paru.
Tujuan: Penelitian ini untuk melihat hubungan lingkungan fisik dalam rumah dengan kejadian TB Paru BTA (+) di Kabupaten Muaro Jambi tahun 2005.
Metode: Desain studi kasus kontrol dengan 95 kasus yang diambil dari penderita TB Paru BTA (+) dari 18 Puskesmas di wilayah Kabupaten Muaro Jambi dan 95 kontrol yang diambil dari tetangga kasus dengan BTA (-).
Hasil: Analisis multivariat lingkungan fisik dalam rumah yang berhubungan dengan kejadian TB Paru BTA (+) adalah: kelembaban rumah <40% atau >70% (OR:4,87;95%CI:1,58-15,04),ventilasi kamar <10% (OR:3,83 ; 95%C1:1,23-11,93), pencahayaan rumah <60 Iuks (OR;2,47;95%CI:0,55-11,16), ventilasi dapur <10% (OR:2,21;95% CI:0,8-6,13), ventilasi rumah <10% (OR:2,2;95% CI:0,63-7,81), dan pencahayaan kamar <60 Iuks (OR:1,61;95% CI:0,37-7).
Saran: Kerjasama lintas sektaral dalam penataan desain dan konstruksi rumah sehat bila ada penataan ulang serta penyuluhan mengenai rumah sehat.

Background: Pulmonary TB, is an infective-contagious disease caused by Mycobacterium Tuberculosis. More than 90% of global pulmonary TB cases occur in the developing countries. TB remains an important public health problem in Indonesia. The occurrence of pulmonary TB in Muaro Jambi District in the year of 2003 is 61,84 per 100.000 population and increased to 106,16 per 100.000 population in 2004. Physical Environment condition of the house is one factor that playing important role in Pulmonary TB spreading, especially the coverage of healthy housing in Muaro Jambi District only 36,9% in 2004.
Objectives: to investigate the relation between physical environment of the house with occurrence of pulmonary TB in Muaro Jambi District.
Methods: This case-control study design used 95 cases and 95 controls. Those respondents had been taken from 18 Primary Health Centers in Muaro Jambi District.
Results: Based on multivariate analysis housing conditions that influenced the risk of pulmonary TB are : the level of humidity of the house less than 40% or more than 70% (OR:4,87;95%Cl: 1,58-15,04), bedroom ventilation less than 10% (OR;3,83;95% CI:1,23-11,93), house with low level of light exposure / less than 60 luks (OR:2,47;95%CI:0,55-11,16), kitchen ventilation less than 10% (OR:2,21;95%CI:0,8-6,13), house ventilation less than 10% (OR:2,2;95%C1:0,63-7,81), and bedroom with low level of light exposure/less than 60 luks (OR:1,61;95% CI: 0,37-7).
Suggestion: TB control program in Muaro Jambi District should coordinates with other departments to improve housing designs and give health promotion activities about healthy house.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2006
T19113
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuyun Ayunah
"Penyakit Tuberkulosis saat ini masih menjadi masalah kesehatan dunia, menurut WHO 9 (sembilan) juta orang penduduk dunia setiap tahunnya menderita TB Paru. Diperkirakan 95% penderita TB Paru berada di negara berkembang. Indonesia merupakan penyumbang TB Paru terbesar setelah India dan Cina. Kematian akibat TB Paru di Indonesia 25% dari kematian akibat lainnya. Di Kecamatan Cilandak jumlah penderita TB Paru tahun 2007 adalah 224 kasus sebagai penyumbang kasus TB Paru BTA (+) cukup banyak. Resiko terjadinya penularan tuberculosis paru dipengaruhi kedaan rumah yang tidak memenuhi syarat. Pencapaian program tentang Peningkatan Kualitas Lingkungan Permukiman (PKLP) dari 27.923 rumah yang ada di wilayah kecamatan Cilandak hanya 500 rumah yang diperiksa atau sekitar 1.79%, hal ini diduga memperbesar timbulnya penularan TB Paru BTA (+).
Tujuan Penelitian ini untuk melihat hubungan kualitas lingkungan fisik rumah dengan kejadian Tuberkulosis Paru BTA positif di Kecamatan Cilandak Kota Administarsi Jakarta Selatan tahun 2008. Metode penelitian ini menggunakan disain studi kasus kontrol perbandingan 1:1 dengan 50 kasus penderita TB Paru BTA (+) dan 50 kontrol penderita TB Paru BTA (-). Kasus kontrol diperoleh dari Puskesmas Kecamatan Cilandak. Hasil Analisis bivariate lingkungan fisik dalam rumah yang berhubungan dengan kejadian TB Paru BTA (+) adalah ventilasi dalam rumah < 20 % (OR = 9,333, 95% CI = 1.121 - 77.7041. p=0,031). Sedangkan faktor resiko yang lain adalah kebiasaan /perilaku penghuni didalam rumah antara kelompok kasus dan kontrol semuanya membuang dahak sembarangan diperoleh nilai p=0,000 artinya perilaku buruk tersebut merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya penyakit TB Paru
Kesimpulan yang dapat diambil yaitu lingkungan fisik rumah yang berhubungan dengan kejadian TB Paru BTA (+) di Kecamatan Cilandak Kotif Jakarta Selatan tahun 2008 adalah ventilasi rumah dan perilaku membuang dahak. Oleh karena itu saran peneliti bagi Suku Dinas Kotif Jakarta Selatan, Dinas PU dan Dinas tenaga kerja adanya kerjasama lintas sektoral dan lintas program dalam penataan desain dan kontruksi rumah sehat bila ada penataan ulang perumahan. Bagi Puskesmas Kecamatan Cilandak melakukan upaya penyuluhan mengenai rumah sehat dan kebiasaan yang sehat (PHBS)."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Aruan, Reagan Paulus Rintar
"Latar Belakang: Pasien TB-HIV yang mengalami lost to follow-up dapat menjadi sumber penularan, resistensi obat, meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas. Dibutuhkan data tentang proporsi lost to follow-up pasien TB-HIV, serta faktor-faktor yang memengaruhi.
Tujuan : Mengetahui profil lost to follow-up pasien TB-HIV dan faktor-faktor yang memengaruhi.
Metode: Desain penelitian menggunakan kohort retrospektif terhadap pasien TB-HIV rawat jalan di RSCM tahun 2015-2017. Analisis univariat untuk mendapatkan data profil pasien TB-HIV. Analisis bivariat dan multivariat untuk mengetahui besar pengaruh faktor-faktorr terkait lost to follow-up pasien TB-HIV. Analisis multivariat untuk mendapatkan Odds Ratio (OR) dari setiap faktor.
Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan proporsi lost to follow-up pasien TB-HIV sebesar 39% dengan karakteristik sebagai berikut, laki-laki (74,4%), usia ≥30 tahun (76,9%), jumlah penghasilan dibawah upah minimum regional Jakarta (87,2%), status fungsional ambulatory-bedridden (51,3%), frekuensi ganti transportasi 2 kali (51,3%), lama menunggu pengobatan ≥ 2jam (87,2%), jumlah obat <12 (56,4%), tempat tinggal di Jakarta (92,3%), mengalami efek samping obat (56,4%) dan status imunodefisiensi berat (84,6%). Lost to follow-up TB-HIV paling banyak terjadi pada bulan ke-2 pengobatan TB. Hasil analisis multivariat menunjukkan jumlah penghasilan dibawah upah minimum regional Jakarta (OR 6,58; IK 95%(2,27-19,08); nilai p=0,001) paling berpengaruh terhadap lost to follow-up pasien TB-HIV.
Kesimpulan : Proporsi lost to follow-up pasien TB-HIV sebesar 39%. Lost to follow-up TB-HIV paling banyak terjadi pada bulan ke-2 pengobatan TB. Jumlah penghasilan dibawah upah minimum regional Jakarta menjadi faktor paling memengaruhi lost to follow-up pasien TB-HIV

Background. TB-HIV patients whose lost to follow-up can be followed up for transmission, drug resistance, patients and mortality. We required data for proportion of lost to follow up TB-HIV, factors associated within.
Aim.To find out the profile of lost to follow-up in TB-HIV patients and influencing factors.
Methods. The study design used a retrospective cohort of outpatient TB-HIV patients at the RSCM in 2015-2017. Univariate analysis to obtain profile data for TB-HIV patients. Bivariate and multivariate analysis to determine the effect of factors related to lost to follow-up of TB-HIV patients. Multivariate analysis to get Odds Ratio (OR) from each factor.
Results. The results of univariate analysis were the proportion of lost to follow-up TB-HIV patients by 39%. The basic characteristics of each patient lost to follow-up TB-HIV were: Men (74.4%), age ≥30 years (76.9%), total income under the regional minimum wage of Jakarta (87.2%), functional status of ambulatory bedridden (51.3%), frequency of change transportation twice (51.3%), long waiting for treatment ≥2 hours (87.2%), number of drugs <12 (56.4%), place of residence in Jakarta (92.3%), experiencing drug side effects (56 , 4%), severe immune status (84.6%). Most lost during the second month of TB treatment. The results of multivariate analysis of income under the minimum regional of Jakarta (OR 6.58; IK 95%(2.27-19.08)) most influence the lost to follow-up of TB-HIV patients.
Conclusion. The proportion of lost to follow-up for TB-HIV patients was 39%. Most were lost on the second month of TB treatment. Total income of under the minimum regional of Jakarta was the most influential factor in lost to follow-up of TB-HIV patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ibupertiwi
"Penyakit TB Paru usia 0-14 tahun di Jakarta Timur tahun 2003 merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius dengan jumlah kasus yang tertinggi di antara 5 wilayah di Propinsi DKI Jakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru usia 0-14 tahun.
Desain penelitian menggunakan studi kasus kontrol. Kasus adalah pasien usia 0-14 tahun yang.berkunjung ke Puskesmas dan diagnosa dokter/perawat berdasarkan gambaran Minis dan rontgen dada (+), sedangkan kontrol adalah tetangga kasus yang berusia 0-14 tahun dengan gejala batuk, tidak mempunyai gambaran Minis TB Paru serta rontgen dada (-). Kasus diambil dari data dari register TB 01 Puskesmas.. Jumlah kasus dan kontrol diambil berdasarkan proporsi penderita TB Paru di 10 Puskesmas Kecamatan Jakarta Timur dengan perincian kasus 80 dan kontrol 80.
Faktor risiko yang diteliti adalah lingkungan fisik rumah, meliputi ventilasi rumah, cahaya rumah, kelembaban rumah dan suhu rumah, sedangkan karakteristik individu meliputi umur, status BCG, gizi, kontak penderita, pengetahuan, perilaku dan penghasilan. Data dikumpulkan melalui pengukuran, observasi dan wawancara.
Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa 5 variabel faktor risiko lingkungan fisik rumah yang berhubungan dengan kejadian TB Paru usia 0-14 tahun, yaitu ventilasi rumah OR = 2,053 (95% CI:1,087-3,875), hunian rumah OR = 2,149 (95% CI:1,140-4,051), human kamar OR = 2,170 (95% CI:1,146-4,107), cahaya rumah OR = 2,542 (95% CI:1,309-4,937), kelembaban rumah OR = 3,092 (95% CI:1,465-6,525). Sedangkan 3 variabel faktor risiko karakteristik individu menunjukan hubungan bermakna dengan kejadian TB Paru usia 0-14 tahun, yaitu gizi OR = 2,371 (95% CI:1,257-4,471), kontak penderita OR = 2,931 (95% CI:1,542-5,572) dan penghasilan OR= 0,023 (95% CI: 1,179-4,885).
Selanjutnya analisis multivariat menunjukan bahwa faktor yang paling dominan adalah kontak penderita berturut-turut diikuti oleh gizi, pencahayaan rumah dan penghuni rumah.
Dari hasil penelitian ini maka disarankan penyuluhan tentang rumah sehat dan hygiene dengan melibatkan tokoh masyarakat, alim ulama serta lintas sektoral Iainnya, sehingga keluarga penderita TB Paru usia 0-14 tahun dan masyarakat dapat mencegah penularan TB Paru usia 0-14 tahun serta segera mungkin memeriksakan diri ke petugas kesehatan apabila terdapat gejala klinis TB Paru usia 0-14 tahun.

In 2003, pulmonary tuberculosis (TB) in children under 14 years old in East Jakarta was a serious health problem, marked by the high rate of cases found among five districts of DKI Jakarta province. Therefore, this study aims to determine the factors related to incidence of pulmonary TB in children under 14 years old in East Jakarta.
Design of study in control case study. Case samples are children under 14 years old diagnosed by a doctor or nurse with pulmonary TB based on clinical symptoms and positive chest X-ray scan result. The control samples are neighbors of those being the case samples who are also under 14 years old and show symptoms of coughing but do not show clinical symptoms of pulmonary TB and have a negative chest X-ray scan result. Potential case samples were identified from registration data in local public health centers in East Jakarta district.
The risk factors being studied are the physical environment of the house, such as house ventilation, the amount of light entering the house, humidity, and temperature, while the individual characteristics studied include age, BCG status, nutritional, contact with TB sufferer, knowledge, behavior, and income. Data were colleted through measurement, observation, and interview.
Bivariate analysis shows there are six variables of the physical environment of the house that are related to incidence of pulmonary TB in children under 14 years old, namely house ventilation OR = 2.053 (95% CI;1.087-3.875), density of house occupants OR = 2.149 (95% CI; 1.140-4.051), density of occupants in a room OR = 2.170 (95% CI;1.146-4107), the amount of light entering the house OR = 2.542 (95% CI;1.309-4.937), house humidity OR = 3.092 (95% CI; 1.465-6.525). As for the individual characteristics, there are three variables showing a significant relation to incidence pulmonary TB in children under 14 years old, namely nutritional OR = 2.371 (95% CI; 1.257-4.471), contact with TB sufferer OR = 2.931 (95% CI; 1.542-5.572), and income OR = 0.023 (95% CI; 1.179-4.885). The multivariate analysis shows that the most dominant factor in contact with TB sufferer, followed by nutritional status, the amount of light entering the house, and density of occupants in the house.
Several recommendations can be derived from this study in order to minimize the incidence of pulmonary TB among children. One is a need for improvement in the quality of housing. There is also a need for improvement of the people's behavior in order to minimize the spread of pulmonary TB among children under 14 years old.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2004
T13123
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Priyanti Zuswayudha Soepandi
"Pengobatan TB-MDR memerlukan waktu yang lama, yakni sekitar 18-24 bulan dan biaya yang sangat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pengobatan dan variabel-variabel biaya pengobatan TB-MDR/XDR. Penelitian ini merupakan penelitian operasional dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Sampel dalam penelitian adalah semua pasien TB-MDR/XDR yang mulai diobati pada bulan Agustus 2009 sampai 31 Desember 2010 yang berjumlah 104 orang. Penelitian ini membuktikan bahwa keberhasilan pengobatan TB MDR jauh lebih baik (80,9%) dibandingkan dengan keberhasilan pengobatan TB XDR yang hanya mencapai 42,9%. Angka keberhasilan ini jauh lebih tinggi dari angka keberhasilan di dunia. Biaya pasien sampai sembuh pada pasien TB-XDR adalah Rp 91.704.767,33, dan untuk pasien TB MDR, biaya pengobatan adalah sebesar Rp 72.260.081,73. Biaya pasien TB-XDR yang meninggal Rp 63.246.069,00 dan ini lebih tinggi dari biaya pasien TB-MDR yang sebesar Rp 34.142.692,44. Hal ini juga terjadi pada total biaya pengobatan TB-XDR dengan efek samping ringan yang lebih tinggi biayanya dari pada pasien TB-MDR. Penambahan lama pengobatan berpeluang peningkatan biaya sebesar Rp 115.205,00 per hari. Pasien TB-XDR laki-laki yang bertempat tinggal di Jakarta Timur dengan lama pengobatan kurang dari 569 hari memiliki peluang kesembuhan 1.7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien TB-XDR perempuan, yang bertempat tinggal di daerah dengan lama pengobatan yang sama."
Depok: Pusat kajian administrasi kebijakan kesehatan (FKM_UI), 2014
351 JARSI 1:1 (2014)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>