Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 97 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sinta Lusiyani
"Instagram merupakan media sosial yang populer di kalangan generasi milenial. Salah satu fitur Instagram yaitu multiple account berfungsi untuk mengakses lebih dari satu akun secara bersamaan. Kemudian fitur ini memunculkan akun kedua atau second account. Jika pada akun pertama identik dengan menampilkan foto atau video yang lebih tertata dan diatur, sebaliknya di akun kedua menampilkan foto atau video yang menonjolkan jati diri sesungguhnya.
Penulisan ini berdasarkan pada teori dramaturgi, pengelolaan kesan, dan presentasi diri dari Goffman. Penulis tertarik membahas bagaimana pengguna akun kedua Instagram tanpa sadar juga melakukan pencitraan diri berdasarkan panggung depan dramaturgi, layaknya pencitraan diri yang dilakukan pada akun Instagram utama. Dalam konteks panggung depan dramaturgi pada kedua akun Instagram tersebut hanya dibedakan pada penerima atau khalayaknya.

Instagram is a popular social media among millennials. One of Instagram's features is that multiple accounts function to access more than one account simultaneously. Then this feature brings up a second account. If the first account is identical to displaying photos or videos that are more organized and organized, the opposite on the second account shows photos or videos that showcase who you really are.
This writing is based on dramaturgy theory, impression management, and self-presentation from Goffman. The author is interested in discussing how the users of the second Instagram account unknowingly also do self-imaging based on the dramaturgy front stage, like self-imaging done on the main Instagram account. In the context of the front stage dramaturgy on the two Instagram accounts only differed from the recipient or the audience."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
PRAYOGI ANUGRAHADI
"Media seperti video games memiliki efek positif dan negatif. Jenis game yang tepat dapat membantu penggunanya meningkatkan kemampuan sosial dan memecahkan masalah, akan tetapi video games juga membawa dampak negatif terutama bagi remaja dan anak yang masih rentan. Pergeseran pola hidup anak dan remaja yang tidak lagi bermain bersama peer group diluar rumah dan menjadi ketergantungan terhadap gadget membuat mereka sulit untuk membedakan antara dunia maya dan nyata. Interaktivitas dalam game yang menuntut penggunanya untuk aktif menjalani perannya dapat merubah persepsi remaja yang masih rentan. Adegan kekerasan baik fisik dan verbal juga terdapat di dalam game, bahkan di game yang mendapat rating ā€œEā€ (everyone) yang seharusnya aman dimainkan oleh segala usia. Lantas apakah sistem rating yang diberikan badan Entertainment Software Rating Board (ESRB) dari Amerika Serikat cocok dengan Indonesia?

Media like video games have positive and negative effects. Game that suitable for the users can help them to improve their social and solving problem skills, but some video games especially for adolescence and child that still on developing stage have more negative effects. Changing life style from playing with peer group outdoor to become gadget dependency make them hard to differenciate between real and cyber world. Interactivity on games which lead the user to have a full role to their character makes change their perception of life. Violence scene like physical and verbal violence, even in E-rated (Everyone) games which should be safe for every age. Then, is the rating system which given from Entertainment Software Rating Board (ESRB) from United States suitable for Indonesian?"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 2014
Jurnal-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Zahira Verhana Aljufri
"Pornografi hari ini masih terus berkeliaran di ruang media digital sehingga dapat dikonsumsi oleh remaja yang tidak seharusnya mengonsumsinya. Pornografi tentu menjadi berbahaya jika dikonsumsi remaja karena berpotensi memberikan dampak yang tidak diinginkan. Dampaknya yakni mulai dari yang ringan seperti kecanduan, hingga yang parah yaitu melakukan apa yang dilihatnya dalam pornografi. Tujuan kajian ini yaitu untuk melihat fenomena terpaan pornografi, fase-fase dampak yang dirasakan, bagaimana pornografi menjadi role model di kalangan remaja, hingga bagaimana pornografi dapat berpengaruh terhadap gaya dan perilaku dalam hubungan romansa atau percintaan remaja. Kajian ini menggunakan metode kajian literatur untuk melihat berbagai fakta dan data terkait fenomena dan dampak terpaan pornografi di ruang media digital terhadap remaja. Terdapat empat pola pembahasan yang ditemukan dalam kajian ini, yaitu: (1) Terpaan Pornografi terhadap Remaja di Ruang Digital, (2) Dampak Terpaan Pornografi: terjadi secara bertahap, (3) Pornografi sebagai Role Model: pandangan terhadap seks dan kecenderungan berperilaku seksual, dan (4) Gaya Berpacaran Tidak Sehat sebagai Akibat Pornografi.

Today's pornography still roams the digital media space so that it can be consumed by adolescents who shouldn't be consuming it. Pornography certainly becomes dangerous if adolescents consume it because it can potentially have unwanted effects. The impact ranges from mild, such as addiction, to severe, namely, doing what is presented in pornography. This study aims to look at the phenomenon of pornography exposure, the phases of the perceived impact, how pornography becomes a role model among adolescents, and how pornography can affect the style and behavior in romantic relationships or adolescent romance. This study uses the literature review method to look at various facts and data related to the phenomenon and impact of pornography exposure in the digital media space on adolescents. There are four patterns of discussion found in this study, namely: (1) Exposure to Pornography on adolescents in the Digital Space, (2) The Impact of Exposure to Pornography: occurs gradually, (3) Pornography as a Role Model: views on sex and sexual behavior tendencies, and (4) Unhealthy Dating Style as a Result of Pornography."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia;, 2022
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Massaile, Funna Maulia
"Dewasa ini konsepsi kecantikan didefinisikan dalam berbagai cara, seseorang mengatakan konsepsi cantik itu adalah yang berwajah mulus bebas jerawat dan memiliki rambut panjang, Lainnya mengatakan cantik itu adalah jika memiliki tubuh yang kurus dan langsing, dengan payudara yang besar. Jawaban setiap orang akan berbeda, akan tetapi konsepsi kecantikan masa kini ditentukan oleh media massa, definisi-definisi yang beragam tersebut (kemudian) memang sudah diterima secara umum karena begitulah yang sering ditampilkan oleh media massa demi kepentingan penjualan produknya yang lebih sering ditampilkan seolah-olah demi kepentingan wanita. Sehingga kemudian menjadi pertanyaan yang cukup penting adalah bagaimana konsepsi kecantikan yang ditampilkan di media massa modern.
Menggunakan majalah Cosmopolitan sebagai obyek dari penelitian ini, alasan pemilihan majalah Cosmopolitan adalah karena majalah ini di Indonesia simbol dari majalah wanita modern, simbol modern ini dikarenakan majalah ini adalah majalah lisensi asing dan secara historis merupakan majalah lisensi asing pertama yang masuk ke Indonesia, dan secara ekonomis, sebagaimana seperti di negara asalnya Amerika, majalah ini menjadi best-selling. Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kosepsi kecantikan yang dihadirkan di media massa dan menggambarkan bagaimana majalah cosmopolitan membingkai konsep kecantikan, selain itu juga untuk menguak ideologi apa yang ada dibalik konsep kecantikan yang dihadirkan media.
Kerangka pemikiran yang melandasi penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan feminis dan kritis, kajian kritis berupaya membongkar realitas dari budaya kapitalis yang berasal dari pemikir dari aliran frankfurt school sedangkan pendekatan feminis yang digunakan adalah feminis sosialis yang menganggap bahwa penindasan terhadap perempuan bukan hanya didominasi patriarki tetapi juga kapitalis. Paradigma yang digunakan adalah paradigma kritis yang bersifat kualitatif dengan dengan metode analisis critical discourse analysis Norman Fairclogh yang terbagi menjadi tiga dimensi: analisa teks, analisa wacana dan analisa konsumsi teks. Adapun didalam analisa intertekstualnya digunakan konsep framing Gamson dan Modigliani.
Framing Gamson dan Modigliani dilakukan pada berita yang menampilkan konsepsi kecantikan. Setelah dilakukan pengamatan menyeluruh terhadap majalah Cosmo edisi 200-2003 maka dipilih berita isu kecantikan yang sering dimunculkan sebanyak tujuh buah, semuanya berasal dari rubrik tetap majalah Cosmopolitan.
Kesimpulan yang didapat adalah bahwa konsepsi kecantikan yang ditampilkan oleh media massa modern adalah dengan eksploitasi tubuh. Tubuh dijadikan komoditi dan dicitrakan sebagai sempurna, konsep kecantikan di majalah cosmo dibingkai dengan nilai-nilai sensualitas dan dalam rangka promosi produk, kecantikan pada majalah Cosmo adalah pelayanan terhadap konsumerisme akan produk kecantikan yang berasal dari luar negeri.
Perspektif feminis sosialis melihat bahwa karena majalah melayani kepentingan wanita pembaca dan kepentingan bisnis, maka majalah modern yang tadinya alih-alih membantu mengangkat posisi wanita justru malah sebaliknya menyebabkan wanita terdorong kedalam posisi yang lebih tertindas lagi didalam budaya patriarki, wanita disibukkan urusan mempercantik diri yang tujuannya hanya sebagai pajangan, disamping itu pembodohan ini dimanfaatkan oleh kapitalis, wanita sudah tidak lagi berpikir untuk terjun kedunia publik dikarenakan kesibukan berbelanja produk kapitalis."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T14321
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diah Agung Esfandari
"Penelitian ini dilakukan terhadap tenaga didik dan guru pembimbing yang tepat bagi peserta didik, khususnya yang memiliki single parent. Menurut Amato (1999) peserta didik yang memiliki single parent (karena perceraian, perpisahan atau salah satu diantara orang tua kandungnya yang telah meninggal dunia) lebih banyak mengalami masalah dalam berperilaku, lebih rendah nilai akademisnya, sering kesulitan dalam bersosialisasi dan memiliki self-concept yang buruk dibanding peserta didik yang memiliki non-single parent.
Oleh sebab itu, untuk dapat membantu peserta didik yang single parent dalam menghadapi berbagai permasalahnnya dan menjalin hubungan ataupun komunikasi yang baik dengan mereka dibutuhkan tenaga didik dan guru pembimbing yang tepat. Dalam pencarian tersebut, peneliti akan membahas kemampuan self-disclosure (pengungkapan diri) seluruh peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP) Madania dan guru pembimbing mereka sehingga pada akhirnya dapat diketahui tipe tenaga didik dengan kategori mana yang paling tepat dan disukai oleh mereka. Apakah tenaga didik itu berjenis kelamin laki-laki atau perempuan? Apakah berusia tua atau muda? SMP Madania dipilih sebagai objek studi karena sekolah ini sangat menekankan pentingnya hubungan personal guru dan peserta didik bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain. Iklim komunikasi antar guru dan peserta didik selalu ditenkankan menyenangkan, supportive dan aman sehingga memberikan kenyamanan pada seluruh anak didiknya terutama pada mereka yang bermasalah dan berasal dari keluarga single parent.
Metode yang digunakan untuk meneliti kemampuan self-disclosure peserta didik terhadap kategori tenaga didik dan guru pembimbing adalah Analysis of Varians (ANOVA) sebab metode tersebut digunakan untuk mengetahui perbedaan antara beberapa variabel yang diukur dengan satu atau lebih faktor tertentu. Pada penelitian ini ada empat buah variabel yang diukur berdasarkan faktor peserta didik. Selain ANOVA, akan digunakan pula uji lanjutan yang dapat mengukur taraf perbedaan antara keempat variabel yaitu uji Duncan. Dengan begitu, kita dapat mengetahui kategori tenaga didik dan guru pembimbing mana yang paling disukai peserta didik.
Secara keseluruhan, peserta didik SMP Madania yang mempunyai single parent menyukai tenaga didik dan guru pembimbing yang usianya antara 20-30 tahun. Hal itu disebabkan adanya kepercayaan bahwa tenaga didik dan guru pembimbing yang usianya "masih muda" dapat memahami permasalahan mereka dengan lebih baik. Selain itu, perbedaan jenis kelamin tenaga didik dan guru pembimbing tidaklah terlalu dipermasalahkan oleh peserta didik karena mereka dianggap memiliki potensi yang sama.
Hasil penelitian ini memberikan kontribusi teoritis pada perkembangan teoriteori self-disclosure sebelumnya yang menegaskan bahwa individu sangat selektif dalam memilih orang dimana ia dapat mengungkapkan diri (Pearce dan Sharp, 1973), juga self-disclosure lebih banyak ditemukan pada hubungan dyadic dari dua orang yang mempunyai umur dan jenis kelamin yang sama. Untuk peserta didik SMP Madania yang memiliki iklim komunikasi kondusif maka hanya perbedaan umur saja yang berpengaruh. Sedangkan perbedaan jenis kelamin dan selektifitas tidak berperan.

This research focuses toward teachers and school counselors in dealing with students, especially the single parent students. According to Amato (1999) single parent students (whether due to parental divorce, break up, or one of them already passed away) exhibit greater behavioral problems, lower academic achievements, additional social difficulties, and poorer self-concepts than non-single parent students.
Henceforth, to help the single parent students in coping with their problems and in establishing healthy relationships with them, schools need the right teachers and school counselors. By studying junior high school students' competency of self-disclosure toward teachers in Madania, the result will reveal the characteristics of teachers that students prefer the most. Will it be a male or a female teacher? Will he or she be young or old?
Madania Junior High School has been chosen as a field of research because it emphasizes the importance of building healthy relationships between teachers and students more than any other schools. In other words, Madania tries its best to create a supportive, warm, and happy climate so that every students can feel comfortable, especially those who have problems and come from single parent families.
This research uses Analysis of Variance (ANOVA) method because it is usually used to see the variance between several variables through more than one factor. In this case, there are four variables (the categories for teachers and advisors) and one factor (the students). In addition to ANOVA, this research also uses another test called the Duncan test. By applying the Duncan test, we are able to see which of the teachers and advisors that the students prefer the most.
Overall, the result shows that students with single parents prefer teachers that are between 20 - 30 years old. The reason is because they believe "young" teachers understand their problems better. Moreover, students with single parents do not make an issue of the teachers' gender because they believe both male and female teachers have the same ability.
This research's result gives a theoretical contribution toward previous self-disclosure theories, which explain that people are very selective in choosing the person they want to self-disclose to (Pearce and Sharp, 1973:147). In addition, the result also reveals that self-disclosure is found in a dyadic relationship between two people who are of the same age and gender. In reference to Madania Junior High School, which provides a supportive atmosphere, only teachers' age becomes a significant variable while gender does not.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T14327
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marmaung, Mutiara
"Semua perusahaan harus bisa dan mampu dikenal oleh orang banyak (publik). Untuk mampu bersaing dan bersanding dengan perusahaan-perusahaan lainnya setiap perusahaan harus memiliki instrumen yang lengkap untuk berkomunikasi. Salah satu medium dalam berkomunikasi ini adalah Public Relations. Perkembangan teknologi modern pada kenyataannya menghasilkan alat-alat yang memungkinkan komunikasi bisa diperluas, contohnya internet yang tidak bisa dipisahkan dari dunia bisnis. E -public relations merupakan kegiatan kehumasan yang memanfaatkan teknologi internet sebagai sarana publisitasnya.
Dalam mengkaji studi humas ini dipergunakan konsep﷓ konsep dasar public relations yang mendukung sedangkan penelitian untuk e-public relations dikaitkan dengan ketiga aspek praktek teknologi Pacey yaitu aspek teknis, aspek organisasi dan aspek kultural. Untuk mengetahui secara konkrit kinerja humas sebuah perusahaan maka dilakukan penelitian dengan metode deskriptif terhadap sebuah perusahaaan yang sudah berhumas lewat internet. Kegiatan kehumasan yang memanfaatkan teknologi internet memang membawa keuntungan: publik yang bertambah banyak, komunikasi menjadi interaktif, respon yang cepat dan biaya relatif murah.
Penerapan teknologi internet di kehumasan perusahaan berimplikasi terhadap ketiga aspek praktek teknologi Pacey yaitu aspek teknis, aspek organisasi dan aspek kultural. Kinerja e-public relations perusahaan yang memanfaatkan internet juga menunjukkan kinerja yang cukup efektif diukur dari website perusahaan dan e-mail. Pada website dinilai dari jumlah yang mengakses, siapa pengakses, kedalaman content, perubahan perilaku publik, dan adanya interaktifitas. Sedangkan pada e-mail dinilai dari jumlah publik yang melakukan respon terhadap perusahaan lewat e-mail. Akan tetapi kegiatan kehumasan tetap tidak bisa lepas dari media konvensional."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
T22445
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Dewi Hatri
"Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menjelaskan bagaimana komitmen bekerja yang ada di PT. Pasaraya Nusakarya (PNK) sesuai dengan iklim komunikasi yang berkembang di perusahaan ini. Dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa kondisi perusahaan Pasaraya yang sedang mengalami krisis sedikit banyak mempengaruhi individu untuk tetap bertahan atau meninggalkan pekerjaannya. lklim komunikasi yang terjadi pada saat krisis turut mempengaruhi interaksi komunikasi dalam menunjang atau memperlemah komitmen bekerja paxa karyawan. Hal ini ditandai dengan tingginya tingkat perputaran karyawan (turn over) yang cukup tinggi di saat krisis terjadi.
Iklim komunikasi dipandang sebagai suatu kualitas pengalaman yang subyektif yang timbul dari persepsi karyawan terhadap interaksi dalam organisasi. Dimensi dalam iklirn komunikasi organisasi adalah dukungan, kepercayaan dan keterbukaan, tujuan kinerja tinggi dan partisipasi dalam keputusan (Redding, 1988). Sedangkan komitmen berorganisasi merupakan keadaan psikologis yang memberi ciri hubungan karyawan dengan organisasi tempatnya bekerja dan berimplikasi pada pengambilan keputusan untuk melanjutkan atau tidak keanggotaannya dalam organisasi. Allen dan Meyer menggolongkan komitmen berorganisasi ke dalam. tiga komponen yaitu, komitmen afektzf yaitu komitmen yang mengacu pada kedekatan emosional, keterlibatan dan identifikasi diri individu terhadap organisasi; komitmen berkesinambungan yaitu, komitmen yang didasarkan pada persepsi individu terhadap kerugian yang diasosiasikan oleh individu jika meninggalkan organisasi; komitrnen normatif yaitu komitmen yang mengacu pada perasaan kewajiban untuk tetap berada pada organisasi. Ketiga komponen ini merefleksikan keadaan psikologis tertentu (want to, need to dan ought to) dimana seorang individu dapat berada dalam keadaan psikologis yang berbeda derajat kekuatannya pada masing-masing komponen tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengamatan berperan serta (participant observation) yang berlokasi di Pasaraya Grande, salah satu toko ritel serba ada di Jakarta. Menggunakan paradigma interpretif untuk melihat bagaimana individu yang terlibat dalam organisasi mengartikan proses komunikasi yang terjadi di ruang lingkup kerjanya, sehingga dapat dilihat komitmen berorganisasi yang ada merupakan hasil dari proses interaksi komunikasi tersebut. Penelitian ini memfokuskan bagaimana iklim komunikasi pada saat krisis di perusahaan dapat membentuk suatu komitmen para anggota, yaitu untuk bertahan atau memutuskan keluar dari PT. Pasaraya Nusakarya.
Data primer diperoleh dan wawancara mendalam (in depth interview) dan pengamatan (obeservation) terhadap lima informan para eksekutif tingkat menengah di PT. Pasaraya Nusakarya. Pemilihan informan ini didasarkan pada kriteria yaitu eksekutif menengah yang sudah bekerja minimal lima tahun, kinerj a karyawan tidak pernah bermasalah terhadap perusahaan, telah mengikuti pelatihan minimal tiga kali sehingga internalisasi nilai terwujud baik dan dapat memberikan keterangan yang pasti dan terinci sehingga dapat menunjukkan bukti-bukti atas apa yang dilakukannya. Pemilihan informan ini disebabkan karena sebagian besar karyawan non eksekutif adalah karyawan kontrak dan pekerja paruh waktu sehingga hal yang lumrah jika perputaran karyawan non eksekutif lebih tinggi dibanding eksekutif.
Dari hasil penelitian, didapati bahwa komitmen berkaitan erat dengan nilai organisasi dan iklim komunikasi yang terjalin di antara anggota organisasi. Dari lima informan yang diwawancarai dan diamati, terbagi menjadi tiga kelompok komitmen, yaitu kelompok pertama, informan yang berkomitrnen afektif yang mendasarkan komitmennya pada kenyamanan dan mempunyai pemahaman nilai organisasi yang rendah. Kedua, adalah kelompok informan yang berkomitmen berkesinambungan yang mendasarkan komitmen pada kesempatan, mereka akan berkomitrnen jika ada sesuatu yang bisa diharapkan dan diperoleh dari organisasi dengan atau tanpa internalisasi nilai organisasi. Ketiga, kelompok informan dengan komitmen normatif, yaitu mereka yang tetap memegang teguh komitraen karena faktor keharusan dan atas kebanggaan diri dalam diri mereka. Nilai organisasi cenderung tertanam kuat sebagai akibat dari internalisasi nilai yang cukup lama.
Interaksi komunikasi yang terbuka dan suportif juga mempengaruhi individu dalam meneruskan komitmennya pada perusahaan, terutanna dan aspek lingkungan dan rekan sekerja. Hal ini membentuk iklim komunikasi yang mendorong individu untuk dapat menikmati keanggotaannya dalam organisasi walaupun kondisi krisis terjadi dalam perusahaan dimana hal ini mampu meningkatkan komitmen mereka untuk tetap bertahan di suatu organisasi."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
T22161
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Juni Alfiah Chusjairi
"Etnis Cina di Indonesia sudah beberapa generasi tinggal di Indonesia. Namun kehadirannya hingga hari ini masih belum sepenuhnya dianggap sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Era reformasi tampaknya membawa angin baru bagi etnis Cina di Indonesia. Berbeda dengan jaman Orde Baru yang cenderung membatasi gerak mereka kecuali di bidang ekonomi. Di era reformasi berbagai peraturan yang diskriminatif mulai dicabut. Termasuk juga bahasa dan budaya Cina tidak dilarang lagi. Sikap pemerintah yang melunak terhadap etnis Cina membawa perubahan juga pada media. Selain ada stasiun televisi yang menyiarkan siaran berita dalam bahasa Mandarin, televisi juga menayangkan film/sinetron tentang kehidupan etnis Cina. Film-film ini ditayangkan dalam menyambut Imlek, Tahun Baru etnis Cina.. Penelitian ini hendak meneliti tentang konstruksi identitas etnis Cina di Indonesia melalui film-film Wo Ai Ni Indonesia, Jangan Panggil Aku Cina dan Ca Bau Kan.
Penelitian ini melibatkan empat orang informan yang pernah menonton ketiga film tersebut diatas. Mereka adalah orang etnis Cina yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, namun saat ini tinggal di Jabotabek. Informan tersebut juga mencakup generasi 20130-an, 40-an, 50-an .Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan perspektif fenomenologi dan menggunakan paradigma kritis. Data dalam penelitian diperoleh dari wawancara dengan informan tersebut diatas. Analisis data kemudian dilakukan dengan methods of agreement dan methods of difference.
Teori utama yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini adalah encoding/decoding dari Stuart M. Ada tiga konsep yang dinyatakan oleh Hall yaitu preffered/dominant hegemonic position. Posisi ini terjadi bila pembuat dan pembaca teks mempunyai ideologi yang sama dalam memaknai teks. Kedua negotiated code/position. Posisi ini merupakan sebuah kompromi terhadap teks. Ideologi pembaca yang lebih menonjol berperan dalam memakai teks yang kemudian dinegosiasikan oleh ideologi yang dibawa oleh teks. Ketiga oppositional code/position. Pesan yang dibaca oleh khalayak akan dimaknai secara berseberangan atau berbeda dengan pembuat teks. Selain itu penelitian ini juga mengacu pada konsep identitas yang mencakup self sameness dan solidarity dari Paul Gilroy dalam konsep cultural studiesnya.
Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan pergaulan yang kemudian ditunjang oleh nilai-nilai budaya yang kuat mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk identitas ke Cinaan seseorang Orang yang bergaul serta berada di lingkungan Cina terus dari kecil hingga dewasa akan menimbulkan sikap eksklusif dan identitas ke Cinaannya cenderung kuat. Hal ini juga berpengaruh terhadap pemaknaan seseorang terhadap ketiga film tersebut yang cenderung negotiated dan oppositional. Berbeda dengan mereka yang lingkungannya pribumi saja atau yang lingkungannya campur antara pribumi dengan etnis Cina. Mereka yang berada di lingkungan pribumi saja atau campur antara pribumi dengan etnis Cina akan cenderung lebih permisif dan adaptif. Pemaknaan terhadap film-film tersebut cenderung dominant/preffered reading."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2005
T21660
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Adibah
"Karnaval adalah kajian penting dalam pemikiran ilmu komunikasi. Konsep ini sayangnya tenggelam dalam perdebatan komunikasi di Indonesia, dan di beberapa Negara lain yang didominasi oleh tradisi transmisi komunikasi. Tradisi ini banyak berkembang di Amerika Serikat dan sayangnya mendominasi studi ilmu komunikasi di Indonesia sampai saat ini. Karnaval sendiri sesungguhnya bukan peristiwa acing di mata masyarakat Indonesia. Nyaris setiap peristiwa politik dan kebudayaan, karnaval selalu tampil mengambil bagian di dalamnya. Misalnya dalam konteks dinamika politik Orde Baru, karnaval dikembangkan sebagai upaya pemerintah untuk mengkarnpanyekan dan mempopulerkan gagasan-gagasan pembangunan nasional.
Pasca Orde Baru karnaval ternyata masih relevan menjadi media penting untuk mengekspresikan sikap "politik dan kebudayaan" tertentu. Dalam pemikiran Michel Bahtin misalnya, karnaval dapat dilihat sebagai suatu proses sosial dialogis yang didalamnya menyelipkan ide mengenai perlawanan (resistensi); Perlawanan atas dominasi kebudayaan yang berpihak kepada kepentingan kekuasaan yang sentripetal. Berdasarkan atas inspirasi Bahtin ini, penulis melihat fenomena menarik dalam peristiwa Jember Fashion Camaval (JFC) sebagai peristiwa karnaval. Hubungan kekuasaan yang terjadi antara penyelenggara, audiens (penonton) dan Negara (kekuasaan birokrasi) menggambarkan suatu hubungan kompleks yang salah satunya merepresentasikan suatu ilustrasi "resistensi". Resistensi dalam konteks ini dilakukan oleh sekelompok panitia yang didominasi orang muda sebagai subkultur atas kebudayaan dominan di kota Jember, dan sekaligus perlawanan atas hegemoni kebudayaan oleh Negara. Penonton sendiri dalam peristiwa JFC berhasil mengekspresikan did sebagai subyek barn yang sebelumnya hanya menjadi pelengkap penderita dalam konstelasi kekuasaan antara Negara vis a vis masyarakat di masa Orde Baru. Peserta bahkan dituntut bekerjasama dengan baik dengan penyelenggara dan menjadi subyek penting bagi proses kamaval (JFC), karena merekalah yang menentukan kesuksesan kamaval tahunan ini.
Studi ini melihat fesyen dalam JFC dengan menggunakan semiotika Roland Barthes. Sedangkan ritual karnaval dengan pendekatan Michail Baktin. Pendekatan ini diterjemahkan oleh Alan Swingwood sama halnya dengan pendekatan yang dilakukan oleh Clifford Geerz dalam melihat arena sabung ayam di Bali. Geerz melakukan pendekatan etnografi dan semiotika."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
T21906
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mery Safarwathy
"Dalam media massa, termasuk internet, perempuan seringkali ditampilkan sebagai sosok yang pasif dan hanya layak berperan dalam ranah domestik. Hal ini tentunya juga tidak terlepas dari adanya ideologi yang ada di balik produksi teks dan wacana yang ada dalam intemet itu sendiri. Ideologi gender diduga turut mempengaruhi dan bekerja di balik teks dan wacana yang ada di dalam internet, termasuk website KOWANI. Inilah yang kemudian dikaji dalam penelitian ini. Selain itu, penelitian ini juga ingin mengungkapkan wacana feminisme yang tertuang dalam website perempuan, serta mengungkapkan kognisi sosial pengelola website perempuan sebagai kesadaran mentalnya yang turut mempengaruhi proses pembentukan teks dalam website perempuan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan teori Culture Studies dari Stuart Hall tentang media sebagai alat ideologi kekuasaan, ideologi gender dalam wacana feminisme, perempuan dan teknologi serta internet sebagai media komunikasi massa. Sedangkan metodologi penelitian yang digunakan adalah paradigma kritis dengan pendekatan kualitatif, yang memanfaatkan metode analisis wacana kritis Teun Van Dijk. Wacana yang dijadikan unit analisis adalah kumpulan berita yang dimuat dalam website KOWANI mulai dari tanggal 30 Desember 2004 sampai dengan 20 September 2006, dimana akhimya terpilihlah sembilan (9) berita untuk dianalisis dalam penelitian ini.
Hasil penelitian melalui analisis teks, kognisi sosial dan analisis sosial, menunjukkan bahwa masih terjadi bias gender dalam berita-berita yang dimuat dalam website KOWANI tersebut karena pihak penulis/pengelola website KOWANI masih menempatkan perempuan dalam ranah domestik, dimana kesuksesan dan kebahagiaan perempuan hanya terletak pada peranan tradisional mereka sebagai istri dan ibu. Perempuan yang berhasil mengurus keluarganya dan mengutamakan kepentingan keluarganya, dalam hal ini adalah suami dan anak-anaknya, meskipun ia memiliki karir yang baik di ranah publik ataupun memiliki status sosial ekonomi yang tinggi. Hasil penelitian ini telah memperkuat analisis ideologi gender pada aliran pemikiran feminis liberal dan juga teori Culture Studies dari Stuart Hall tentang penggunaan media massa yakni intemet (website KOWANI) sebagai alat ideologi gender kekuasaan (kaum Iaki-laki) dalam mempertahankan status quo-nya dalam budaya patriarki di Indonesia.
Hasil penelitian memberikan implikasi teoritis dan praktis. Adapun implikasi teoritis dari penelitian ini bagi perkembangan ilmu Komunikasi adalah memberikan pemahaman tentang bagaimana media komunikasi massa dalam hal ini internet (website) menjadi alat ideologi kekuasaan (kaum Iaki-Iaki) yang secara tidak sadar telah dihegemonikan oleh pihak Kowani. Selain itu, penelitian ini juga memberikan pemahaman bagaimana ideologi gender melatarbelakangi wacana yang dikonstruksikan oleh media, dikaitkan dengan kajian feminis dalam kegiatan komunikasi massa, terutama pada pola pemberitaannya. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan memperkaya studi analisis wacana dengan paradigma kritis yang membahas masalah ideologi gender, khususnya di media massa internet.
Implikasi praktis dari penelitian ini adalah bahwa website Kowani sebagai media informasi dan komunikasi bagi masyarakat umum, khususnya organisasi anggota Kowani dan jaringannya, tentunya menjadi sarana yang penting bagi pengkonstruksian realitas sosial yang ada di masyarakat selama ini, termasuk ideologi gender yang cenderung melemahkan posisi tawar perempuan. Tanpa disadari, berita-berita yang ada dalam website Kowani yang cenderung bias gender akan semakin memperkokoh ideologi patriarkhi yang selama ini ada di masyarakat, dimana hal itu justru memarginalkan perempuan pada peran domestiknya.
Kendati demikian, dengan adanya penelitian ini diharapkan menjadi langkah awal bagi penelitian sejenis yang diharapkan dapat menjadi salah satu gerakan affirmative action yang akan merubah peran perempuan dan memperkuat posisi tawar perempuan terutama di ranah publik.
Menyadari akan adanya kekurangan dan kelemahan dalam penelitian ini, maka dari hasil penelitian ini, direkomendasikan agar nantinya dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan memperbanyak jumlah website perempuan di Indonesia yang diamati. Dengan demikian diharapkan dapat dilakukan elaborasi yang lebih baik dan mendalam terhadap keberlakuan teori Culture Studies dari Stuart Hall yang mengatakan bahwa media merupakan alat ideologi kekuasaan (kaum laki-laki) yang terjadi di Indonesia dan juga untuk mengetahui keberlakuan ideologi gender yang ada pada website-website perempuan lainnya."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
T22447
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>