Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 30 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Melinda Hariyanti Rustana Kusharto
"Kaufman Assessment Battery for Children (K-ABC) merupakan alat ukur yang mengukur inteligensi dan prestasi untuk anak usia 2 tahun 6 bulan sampai 12 tahun 5 bulan. Tes ini pertama kaii dibuat oleh Kaufman & Kaufman (1933) di Amerika Serikat, dan telah memenuhi persyaratan alat ukur yang baik. Sebagai battery tes, K-ABC mengukur taraf inteligensi berdasarkan teori yang berorientasi proses dan mengukur taraf prestatif untuk melihat level pemfungsian kemampuan intelektual anak.
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan adaptasi tes K-ABC skala prestatif untuk usia 6 sampai 7 tahun 11 bulan, sehingga tes ini sesuai dengan latar belakang budaya dan pendidikan anak di Indonesia. 2 metode pengujian yang digunakan adalah validitas mengikuti cara skoring berdasarkan Item Response Theory dan Criterion Validity dengan menggunakan Kriteria Penilaian Guru.
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian "payung" tes K-ABC skala prestatif terhadap 122 anak (usia 4 sampai l2 tahun 5 bulan), dengan 31 sampel usia 6 sampai 7 tahun 11. Pemilihan sampel dilakukan tersebar pada 4 daerah DK1 Jakarta dan Depok dari Sekolah Dasar Negeri dan Swasta. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode. IRT dengan software Acer Quest, sedangkan pengujian criterion validity dilakukan melalui perhitungan korelasi Pearson dengan software SPSS 10.
Hasil analisa menunjukkan bahwa item-item pada setiap subtes skala prestatif belum tersusun berdasarkan derajat kesukarannya. Pembahasan secara kualitatif dilakukan berdasarkan teori-teori perkembangan dan kurikulum pendidikan anak usia 6 Sampai 7 tahun 11 bulan. Hasil perhitungan reliabilitas menurut konsep IRT membuktikan adanya indeks relibilitas yang tinggi untuk keenam subtes. Sedangkan hasil uji validitas menunjukkan adanya korelasi signifikan pada subtes Berhitung dan Membaca, Mengeja & Mengkode, sedangkan korelasi tidak signifikan pada subtes Ragam Kata, Wajah & Tempat, Menebak, dan Membaca & Memahami.
Saran berdasarkan hasil penelitian yaitu penelitian lanjutan diharapkan lebih memperhatikan penilaian praktisi pendidikan dan latar bclakang sosial ekonomi serta budaya anak dalam pengadaptasian alat, perbaikan kriteria dalam uji validitas, penggunaan teknik sampling yang lebih baik dengan populasi yang lebih luas, dan memperhatikan kegiatan belajar-mengajar dalam pengambilan data."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T16809
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mira Aliza Rachmawati
"Alat tes Kaufman Assessment Battery for Children (K-ABC) yang dikembangkan oleh Alan Kaufman dan Nadeen Kaufman merupakan alat tes psikologi yang dikembangkan di Amerika pada tahun 1983. Alat tes K-ABC ini dibuat berdasarkan pada teori yang berorientasi pada proses dan digunakan untuk mengukur inteligensi dan prestasi pada anak dengan rentang usia 2-6 sampai dengan 12-5 tahun. Melalui suatu proses penelitian yang cukup lama dan melalui proses yang panjang diperoleh hasil bahwa alat tes ini memiliki validitas, reliabilitas dan susunan item yang baik.
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan adaptasi tes K-ABC khususnya skala prestasi usia 4 - 5 tahun 11 bulan. Adapun metode pengolahan data yang digunakan adalah metode modem yaitu [RT untuk mendapatkan tingkat kesukaran item serta reliabilitas dan metode klasik yang digunakan untuk mencari validitas dalam penelitian ini.
Penelitian ini merupakan penelitian payung yang terbagi menjadi empat kelompok usia dan melibatkan 122 subyek penelitian usia 4 sampai dengan 12,5 tahun. Adapun usia 4 - 5 tahun 11 bulan sebanyak 30 subyek yang duduk di bangku TK dan tinggal di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Depok. Pengambilan data dilakukan secara individual kepada masing-masing subyek penelitian. Hasil yang telah diperoleh diolah secara kuantitatif maupun kualitatif Adapun pengolahan secara kuantitatif menggunakan metode IRT untuk 122 subyek dan secara kualitatif terhadap subyek yang berjumlah 30 orang. Sedangkan kofisien validitas diperoleh dengan cara mengkorelasikan skor estimasi kemampuan siswa pada masing-masing subtes skala prestasi dengan penilaian guru (teacher rating) yang dikembangkan dari definisi operasional masing-masing subtes dalam skala prestasi.
Berdasarkan hasil diperoleh bahwa item hasil adaptasi belum memiliki susunan item berdasarkan tingkat kesukarannya. Dari reliabilitas diperoleh hasil reliabilitas item estimate dan relibilitas case estimate mendekati 1. Sedangkan hasil validitas menunjukkan bahwa dari seluruh subyek yang berjumlah 122 subyek hanya subtes membaca dan memahami yang tidak valid. Sedangkan untuk usia 4 - 5 tahun ll bulan terdapat tiga subtes yang tidak valid yaitu subtes wajah dan tempat, menebak, membaca, mengeja, dan mengkode sebab tidak berkorelasi dengan penilaian guru (teacher rating).
Dai hasil dapat disarankan untuk mengganti gambar yang kurang familiar, mengganti gambar yang kurang tajam, mempertimbangkan anak-anak di daerah pedesaan, menambah jumlah sampel dalam penelitian, mempertimbangkan kendala teknis dalam perrnohonan ijin dan pengambilan data, serta menambah karakteristik dari subyek penelitian."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T16808
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fitri Arlinkasari
"Pada beberapa fakultas di Universitas Indonesia, salah satu prasyarat penyusunan skripsi adalah dengan telah mengikuti seluruh rangkaian tugas akademik seperti kerja praktik. Pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ditemukan bahwa kerja praktik dilaksanakan dalam satu semester yang sama dengan waktu untuk memulai penyusunan skripsi bagi mahasiswanya, yakni di semester 8. Penyusunan skripsi dan pelaksanaan kerja praktik dalam satu waktu yang bersaman bukanlah hal mudah untuk dijalani mahasiswa, terlebih jika keduanya harus dikerjakan di luar Pulau Jawa, tempat dimana mereka biasa tinggal dan menjalani aktivitas keseharian. Dalam O'Keefe dan Berger (1999), aspek-aspek dalam selfmanagement seperti afeksi, tingkah laku, dan kognisi diarahkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Afeksi, tingkah laku, dan kognisi saling berinteraksi dan saling mempengaruhi pada aktivitas kerja praktik dan skripsi yang dijalani oleh mahasiswa. Peneliti menggali lebih dalam bagaimana mahasiswa yang menyusun skripsi sambil kerja praktik di luar Pulau Jawa melakukan self-management agar mereka dapat mencapai tujuannya. Penelitian dilakukan terhadap dua mahasiswa FKM UI melalui pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam. Pikiran bahwa skripsi dan kerja praktik sebagai dua hal yang penting merupakan pemicu utama yang mempengaruhi perasaan dan perilaku di dalam interaksi ABC sehingga mendorong mahasiswa untuk melakukan self management agar dapat menyelesaikan keduanya dengan baik.

In some faculties of University of Indonesia found one of pre-conditions before writing theses is already have conducting an internship and its report. In Public Health Faculty of Indonesia University, found that time for internship is conducted at the same time for theses writing. Writing theses and conducting an internship at the same time are not easy things to do for students. Moreover if those activities proceed out of Java Island, place where students living and do their daily activities. In O'Keefe and Berger (1999,) aspects of self management like affection, behavior and cognition are directed to reach student's purpose. Affection, behavior and cognition have some interactions and affecting each other on student's activities, both writing theses and internship. By self management students can organize their action priority, time and role in order to manage their activities well. Reseacher were want to know more about student who writing theses and conducting an internship in context of their self management to reach their purposes. This research participated by two undegraduate students of public health faculty of Indonesia University and used qualitative approach with depth interview methode. Cognition about theses and internship as important things affects their affection and behavior in ABC interaction, which drives students to do self management to accomplish both activites as good as they could."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
658.3 ARL s
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kartinka Rinaldhy
"Penelitan ini didasari teori Furman & Lantheir (1996) dan berbagai hasil penelitian mengenai saudara dari anak berkebutuhan khusus. Pentingnya membahas saudara kandung dari anak yang tunaganda-netra karena hubungan antara saudara (sibling relationship) adalah hubungan yang unik. Jika salah satu saudaranya tunaganda-netra maka hubungan jangka panjang yang terjalin dapat mengubah perkembangan satu sama lain. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif melalui wawancara terhadap tiga orang (dua perempuan dan satu laki-laki) remaja akhir dalam rentang usia 18-21 tahun yang memiliki saudara tunaganda dengan salah satu ketunaannya gangguan penglihatan.
Temuan penelitian memperlihatkan bahwa ketiga partisipan menunjukkan kehangatan dalam sibling relationship yang disebabkan interaksi positif yang biasa dilakukan oleh anak tunaganda-netra seperti berpelukan, mencium dan tersenyum. Tekanan lingkungan dan konflik akibat kesulitan mengatur anak tunaganda-netra adalah dua faktor yang lebih besar mewarnai dinamika sibling relationship. Keberadaan saudara yang tunaganda-netra memberikan pengaruh positif terhadap saudaranya yaitu meningkatnya toleransi terhadap perbedaan. Pada diskusi, menemukan ketika ketiga partisipan yang saat ini telah mencapai tahap penerimaan didasari atas kekuatan spiritual, mempengaruhi keseluruhan cara memandang proses sibling relationship secara positif. Salah satu saran praktis yang diajukan adalah memanfaatkan potensi saudara melalui pembentukan program sibling as therapists dan sibling support group.

Research done based on Furman & Lantheir (1996) theory and a number of exceptional children studies. Because the sibling relationship is unique, and important that sibling influence each other and play important roles in each other?s lives. When this relationship is affected by a sibling's disabilities, the long-term benefits of the relationship may be altered. This study adopts a qualitative method by interviewing three (2 females and 1 male) selected adolescence sibling include range of 18 -21 years old and have multiple disabilities and a visual impairment (MDVI) sibling.
The findings suggest that three participant has warmth on their sibling relationship causes by positive interaction such as hug, kiss and smile. Experience embarrassment on public image and burdened on child care demands are two factor that show bigger impact on sibling relationship. Companionship of MDVI sibling had give positive impact on sibling such tolerance with differences. Finding highlight when participant reach acceptance level that based on spiritual power, influence the way them saw a hole process of sibling relationship as positive view. The research suggestion to underutilized sibling potential on training sibling as therapists and sibling support group programs.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
306.875 RIN g
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
M. Rizki Farabi
"Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran harapan ibu terhadap masa depan anaknya yang tunaganda-netra. Kompleksnya permasalahan yang dimiliki oleh anak tunaganda dalam menjalani kehidupan sehari-harinya dan harapan orang tua akan masa depan yang lebih baik pada anaknya yang tunaganda (terutama dalam hal pendidikan lanjutan, lapangan pekerjaan, kemandirian dan partisipasi anak dalam masyarakat, dan kualitas hidup anak kelak) merupakan alasan peneliti melakukan penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus. Pengambilan data menggunakan metode wawancara mendalam, dengan menggunakan pedoman umum. Karakteristik subjek pada penelitian ini adalah ibu dari anak tunaganda-netra berklasifikasi mampu didik. Pada penelitian ini dilakukan pengambilan sampel berdasarkan teori, yaitu orang tua dan tunaganda secara umum. Subjek berjumlah dua orang.
Hasil dari penelitian ini adalah bentuk harapan utama kedua subjek berbeda-beda, ada yang mempunyai harapan akan pendidikan lanjutan anaknya, ada juga yang mempunyai harapan akan kemandirian anaknya. Kedua subjek memiliki goal yang positif dan memiliki keinginan untuk meningkatkan goal yang sudah ada karena menganggap goal yang ada sudah tercapai. Keduanya sama-sama berpola campuran, mempunyai pathway yang lebih lemah daripada agency-nya. Barrier yang dirasakan masing-masing subjek adalah hambatan yang berasal dari dalam dirinya sendiri dan hambatan yang berasal dari luar.

The aim of this study to give description about mother's hope on the future of their MDVI child. Children with MDVI are having a complex problem on their daily live and parent's hope for a better future of their children specially on their child's postsecondary education, vocation, independent living and community participation, and overall quality of life. Based on these problems, this study focused on how mother's hope on the future of their multiple disabilities children. This case study is based on qualitative method, using semi-structured interview. Subject in this study is mother whose having multiple disabilities child with light to moderate diagnose of MDVI. Two subjects is interviewed in this study, whose based on theoritical criteria about parents and about multiple disabilities.
The results of this study are: the first subject emphasize hope on postsecondary education of her child and having external barrier, while the second subject emphasize hope on the independent living of her child and having internal barrier. Both subjects are share the same view about positive goal, which they have, and trying to increase the goal, because they've already gain their original goal. Both subjects also have mixed pattern, which their pathways is weaker than their agency."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
155.916 FAR g
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yulan Fitriani
"Kegiatan matematika dihadapi oleh setiap individu setiap hari. Sejak masa kanak-kanak hingga usia lanjut, tiap individu pasti berhubungan dengan matematika. Matematika sudah mulai dipelajari oleh anak ketika ia berada di lingkungan rumah. Setelah itu, ia akan mempelajarinya lebih dalam di jenjang pendidikan (sekolah). Matematika hanyalah satu di antara pengetahuan dan ketrampiian yang dipelajari di sekolah. Untuk mempelajari suatu pengetahuan atau ketrampiian, diperlukan kesiapan individu yang bersangkutan yaitu, kematangan, pengalaman, relevansi mated dan metode instruksional, serta sikap emosional.
Matematika seringkali dianggap sebagai 'momok' yang menakutkan oleh anak-anak. Hal ini tidak terlepas dad pengaruh banyak hal, di antaranya orangtua, kelompok, dan kesan mengenai guru matematika yang menakutkan. Perhatian terhadap usaha pembentukan sikap positif terhadap matematika masih dirasakan kurang. Padahal, sikap positif terhadap matematika perlu ditanamkan sedini mungkin. Apabila murid tertinggal dalam penguasaan matematika maka akan berpengaruh pada kelangsungan pendidikan pada jenjang berikutnya.
Sekolah yang berbeda dalam menggunai;an fasilitas untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, akan memberikan pengalaman yang berbeda bagi anak didiknya. Pengalaman yang berbeda dapat membentuk sikap yang berbeda pula. Pengalaman yang diterima oleh anak di sekolah akan berbeda antara satu dan lainnya, demikian pula halnya dalam pelajaran matematika. Oleh karena itu ingm diketahui bagaimanakah sikap anak kelas 1 SD terhadap matematika. Selain itu ingin juga diketahui apakah ada perbedaan sikap terhadap matematika antara dua sekolah yang berbeda yaitu sekolah yang menggunakan fasilitas alam (Sekolah Alam) dan sekolah yang tidak menggunakan fasilitas alam (SD Perguruan Cikini).
Subyek dalam penelitian ini sebanyak 13 anak, 5 subyek berasal dari Sekolah Alam dan 6 subyek berasal dari SD Perguruan Cikini. Metode pengukuran sikap yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Metode ini dipilih karena merupakan metode yang cocok untuk digunakan pada anakanak. Dalam wawancara ini terdapat 13 aitem pertanyaan inti yang digolongkan ke dalam 4 kelompok besar yaitu suasana belajar di sekolah, kegiatan bermain, kegiatan sehari-hari, dan suasana belajar di rumah. Selain itu juga terdapat 3 aitem tambahan.
Pertanyaan diajukan dengan menggunakan alat bantu gambar sebanyak 13 buah. Penggunaan gambar dilakukan agar perhatian anak dapat tetap terfokus pada jalannya penelitian. Pertanyaan yang diajukan mempunyai dua altematif pilihan jawaban {fixed-altemative items). Jawaban yang didapatkan kemudian dikategorikan menjadi positif dan negatif. Jawaban positif terhadap suatu aitem menandakan bahwa subyek mendukung aitem tersebut dan mempunyai sikap yang positif terhadap aitem itu. Untuk mengetahui ada/tidaknya perbedaan sikap, dilakukan perhitungan dengan menggunakan persentase.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa subyek yaitu anak kelas 1 SD memiliki sikap yang positif terhadap matematika. Berdasarkan pengelompokkan aitem pertanyaan, sebagian besar memiliki jawaban yang positif dan diasumsikan memiliki sikap yang positif. Apabila dilihat perbandingan antara subyek yang belajar di sekolah yang menggunakan fasilitas alam (Sekolah Alam) dan yang tidak (SD Perguruan Cikini), tidak ada perbedaan sikap terhadap matematika. Namun ada perbedaan yang cukup mencolok di dalam aitem-aitem pertanyaan kelompok 3 yaitu kegiatan sehari-hari. Subyek di Sekolah Alam dapat dengan lebih baik menerapkan pengetahuannya ke dalam kegiatan sehari-hari.
Peneliti menyarankan dilalcukannya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab teijadinya pembentukan sikap yang sama. Peneliti juga manyarankan supaya penelitian yang sejenis mempertimbangkan lebih lanjut pilihan jawaban yang tersedia serta jumlah pertanyaan. Hal ini tentu saja hams disesuaikan dengan karakteristik subyek yang dipilih. Selain itu alat bantu gambar juga perlu diperhatikan, apakah memang diperlukan dan alat bantu apakah yang paling sesuai untuk digunakan. Hal ini untuk mencegah pengamh gambar terhadap jawaban yang diberikan oleh subyek. "
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1999
S2489
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Martina Dwi Mustika
"Penelitian mengenai sikap orang tua dan siswa SLTP Tarakanita I terhadap Pemberian Pendidikan Seksualitas untuk Remaja di Sekolah ini dilakukan dengan alasan berkembangnya kebutuhan masyarakat akan pendidikan seksualitas untuk remaja. Kebutuhan ini muncul dengan makin maraknya kejahatan seksual yang alaupun meningkatnya kehamilan di luar nikah yang dialami remaja. Meskipun masih ada pro dan kontra di kalangan masyarakat tentang pentingnya pendidikan seksualitas untuk remaja, namun para ahli berpandangan b^wa pemberian pendidikan seksualitas untuk remaja merupakan salah satu cara yang tepat untuk mengurangi fenomena negatif, seperti kehamilan di luar nikah, pelecehan seksual, di kalangan remaja. Dengan mengetahui sikap orang tua dan siswa, dapat dicari jalan keluar untuk mengatasi pro dan kontra, sehingga pendidikan seksualitas dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan remaja dan keinginan orang tua.
Dengan menggunakan metode purposive sampling, responden penelitian yang dipakai dalam penelitian ini beijumlah 102 orang, yang terdiri dari 51 orang responden orang tua dan 51 orang responden siswa yang merupakan pasangan orang tua dan anak. Semua responden diambil pada SLTP Tarakanita 1, Jakarta, dimana anak duduk di kelas 3 SLTP yang telah mendapatkan pendidikan seksualitas di kelas 2 SLTP. Alat ukur yang digunakan adalah seperangkat kuesioner yang terdiri dari 20 pernyataan. Data yang diperoleh diukur dengan menggunakan metode Likert, dan dengan menggunakan SPSS 11.0 menghitung mean, A NOVA dan Hesl untuk menggambarkan sikap responden serta membandingkan antar komponen sikap yang diukur.
Dari data yang diperoleh, gambaran hasil penelitian dapat diuraikan secara singkal sebagai berikut; secara umum, responden orang tua adalah wanita yang berusia antara 35 hingga 50 tahun, memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dengan pendidikan terakhir adalah SMU keatas. Sedangkan responden siswa, sebagian besar berusia 14 hingga 15 tahun, dan perbandingan antara pria dan wanita hampir seimbang. Sedangkan sebagian besar responden berasal dari daerah Jawa. Dari hasil perhitungan mean, didapatkan bahwa hampir seluruh responden bersikap positif terhadap pemberian pendidikan seksualitas di sekolah. Artinya responden setuju dengan pemberian pendidikan seksualitas di sekolah.
Hasil perhitungan t-test, untuk membandingkan mean antar komponen sikap yang diukur, didapatkan hasil bahwa ada perbedaan yang signifikan antar komponen yang diukur. Hal ini berarti masing-masing komponen sikap hal yang sesuai dengan pengertiannya.
Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian diatas adalah sikap responden, baik responden orang tua maupun siswa, terhadap pemberian pendidikan seksualitas di sekolah adalah positif meskipun tidak ada perbedaan yang signifikan antar kelompok responden. Saran yang dapat diberikan terbagi menjadi dua, yaitu saran untuk penelitian dan saran untuk pihak sekolah.
Saran untuk penelitian ditujukan agar pada penelitian lebih lanjut, peneliti dapat mengubah dan memperhatikan hal-hal tertentu, seperti item-item pemyataan, metode penelitian, sehingga hasil atau data dapat lebih akurat dan mewakili populasi yang sebenamya. Sedangkan saran untuk pihak sekolah lebih ditujukan agar pihak sekolah dapat mengadakan pendidikan seksualitas yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi orang tua dan siswa. "
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004
S2872
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yanthi Haryati
"Pelanggaran disiplin sekolah menjadi masalah yang kerapkali dilakukan oleh remaja. Bentuk peianggaran disiplin sekolah yang dilakukan dapat berupa: agresi fisik, contohnya pemukulan, perkelahian, dan perusakan; kesibukan berteman saat guru mengajar, mencari perhatian, seperti mengedarkan tulisan, atau gambar-gambar dengan maksud mengalihkan perhatian dari pel^aran; menentang wibawa guru, misalnya tidak mau menurut, memberontak, memprotes dengan kasar, dan mencari perselisihan dengan mengkritik, menertawakan dan mencemooh, merokok, datang terlambat, membolos, kabur dari kelas, mencuri, menipu, berpakaian tidak sesuai dengan ketentuan, memeras, minum minuman keras dan menggunakan obat-obat terlarang (Kooi dan Schutx dalam Sukadji 2000).
Bahkan masalah yang berhubungan dengan sekolah menjadi salah satu masalah besar dalam rentang masa remaja selain obat-obatan terlarang, kehamilan remaja, dan delinkuensi. Banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya peianggaran disiplin sekolah, salah satunya adalah sejauh mana kesesuaian perilakunya dengan keterampilan-keterampilan kecerdasan emosi menurut Goleman. Begitu juga menurut Gunarsa & Gunarsa (2003) dan Sarwono (2003) yang menyatakan bahwa faktor pribadi merupakan salah satu dari penyebab terjadinya permasalahan remaja. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kuantitatif terhadap 100 orang siswa SXM yang berada di wilayah Depok, Jawa Barat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signitikan antara kecerdasan emosi dan peianggaran disiplin sekolah. Arah hubungannya negatif, artinya semakin tinggi kecerdasan emosi semakin rendah peianggaran disiplin sekolah. Beberapa ranah dalam kecerdasan emosi yang berhubungan dengan peianggaran disiplin sekolah adalah kemampuan mengenali emosi diri, mengelola emosi dan kemampuan mengenali emosi orang lain. Sedangkan unluk ranah kemampuan memotivasi diri dan membina hubungan dengan orang lain tidak ada hubungan dengan peianggaran disiplin sekolah.
Saran yang diberikan adalah perlu adanya peningkatan keterampilan kecerdasan emosi pada siswa sehingga dengan demikian remaja dapat terbantu dalam mencapai tugas-tugĀ£is perkembangannya dan turut membantu terciptanya kegiatan belajar yang baik. Perlu diperhatikan pula hal-hal lain yang menjadi faktor penyebab terjadinya pelanggaran disiplin sekolah misal faktor keluarga, faktor pengaruh peer-group, faktor sosial ekonomi dan faktor lingkungan, sehingga para remaja sebagai harapan bangsa dapat mencapai identitas diri yang positif dan mereka akan tiba di masa dewasa yang dapat memberi kontribusi yang mulia untuk kesejahteraan bangsanya."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004
S2878
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuni Santi Nurani
"ABSTRAK
Akhir-akhir ini banyak perdebatan di kalangan para pemerhati pendidikan
prasekolah (TK) tentang perlu tidaknya memberikan kemampuan belajar membaca,
menulis dan berhitung pada anak TK, sementara kebutuhan anak yang utama adalah untuk
melakukan aktivitas bermain. Pemberian kemampuan membaca, menulis dan berhitung
tersebut didorong oleh timbulnya suatu trend baru dalam masyarakat yang menghendaki
anak-anak usia prasekolah dapat menguasai kemampuan-kemampuan tersebut sebagai
bekal untuk masuk sekolah dasar. Akibatnya tidak sedikit TK yang memberikan kegiatan
belajar membaca, menulis dan berhitung yang menyimpang dari aturan-aturan Depdikbud
dalam GBPKB-TK 1994, walaupun ada juga sebagian TK yang tetap melaksanakan aturan-
aturan tersebut dengan patuh. Dengan demikian timbul dan kecenderungan kegiatan belajar
mengajar dan sasaran hasil belajar dalam pendidikan TK, yaitu kegiatan belaiar mengajar
yang lebih menekankan kegiatan bermain dan sasaran hasil belajar dalam ranil afektii
sertakegiatan belajar mengjar yang lebih menekankan kegiatan belajar dan sasaran hasil
belajar dalam ranah kognitif. Kegiatan belajar mengajar yang lebih menekankan kegiatan
bermain dan sasaran hasil belajar dalam ranah afektifvadalah kegiatan-kegiatan di TK yang
memberikan kebebasan bagi anak untuk bermain sambil belajar dalam suasana yang
menyenangkan, dengan tujuan utama menimbulkan sikap positif dan peraasaan suka terhadap
dunia sekolah. Sedangkan kegiatan belajar mengajar yang lebih menekankan kegiatan
belajar dan sasaran hasil belajar dalam ranah kognitif adalah kegiatan-kegiatan di TK yang
memfokuskan perhatian pada pengajaran kemampuan-kemampuan tertentu, dengan tujuan
utama adalah agar anak menguasai kemampuan-kemampuan tersebut.
Bagaimana sikap orang tua terhadap kegiatan belajar mengajar dan sasaran hasil
belajar yang berbeda tersebut ?. Hal itu akan diungkap dalam penelitian ini. TK yang
dijadikan sampel penelitian adalah dua TK yang memiliki karaktersitik berbeda, disebut
sebagai TK ?Ideal? dan TK ?Tidak Ideal?. TK 'Ideal' adalah TK yang melaksanakan
aturan-aturan Depdikbud dengan sebagaimana mestinya, sedangkan TK ?Tidak Ideal?
adalah TK yang menyimpang dari aturan-aturan Depdikbud. Adakah perbedaan sikap orang tua terhadap kegiatan belajar mengajar dan sasaran hasil
belajar dalam dua TK tersebut?.Hal inilah yang akan diungkap melalui penelitian ini.
Instrumen yang digunakan adalah skala Likert dengan subdimensi kegiatan
belajar mengajar yang lebih menekankan kegiatan bermain dan sasaran hasil belajar dalam
rumah afektif (bermain/afektif), serta kegiatan belajar mengajar yang lebih menekankan
kegiatan belajar dan sasaran hasil belajar dalam rumah kognitif (belajar/kognitif).
Sedangkan komponen sikap yang digunakan adalah komponen afektif; kognitif dan konasi.
Kemudian perbedaan sikap antara kedua kelompok dinyatakan dalam uji perbedaan mean
dengan menggunakan t test.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan sikap terhadap
kegiatan belajar mengajar dan sasaran hasil belajar dalam pendidikan TK, antara orang tua
yang menyekolahkan anaknya di sekolah TK ?Ideal? dengan orang tua yang menyekolahkan
anaknya di sekolah TK ?Tidak Ideal?. Orang tua memiliki harapan agar anak dapat
menguasai kemampuan membaca, menulis dan berhitung sejak di TK, karena kemampuan-
kemampuan tersebut diperlukan untuk masuk ke sekolah dasar. Tetapi orang tua juga
menghendaki kegiatan bermain sebagai kegiatan utama di TK, agar kebutuhan bermain
dalam diri anak dapat tersalurkan dengan baik.
Dengan demikian, pemberian kegiatan belajar membaca, menulis dan berhitung
pada anak TK itampkanya menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindari lagi dalam tuntutan
zaman yang semakin tingi, walaupun sebaiknya tetap dilakukan melalui kegiatan bermain.
Saran yang dapat diberikan sehubungan hasil penelitian ini adalah agar guru TK lebih
memperhatikan perancangan dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dalam kemampuan
membaca, menulis dan berhitung agar tidak mengesampingkan kebutuhan bermain pada diri
anak. Untuk itu mungkin perlu diadakan penataran khusus untuk guru kelas, dalam
kelompok-kelompok kecil denga seorang instruktur sebagai pelatih."
1998
S2898
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Linggawati Haryanto
"Self-esteem berperan banyak dalam perkembangan mental yang sehat dari seorang anak. Dengan memiliki rasa penghargaan diri yang positif, seorang anak akan bisa meraih kondisi optimal dari perkembangan mentalnya dan mencapai kebahagiaan hidup. Sebagaimana anak yang normal, seorang anak tuna grahita ringan juga membutuhkan self-esteem yang positif untuk perkembangan yang optimal dalam keterbatasan yang dimiliki. Untuk bisa memiliki self-esteem yang positif, seorang anak tuna grahita sangat membutuhkan dukungan yang positif pula dari ibunya.
Walaupun harapan akan dukungan ibu dalam pembentukan self-esteem yang positif pada anak tuna grahita ringan sangat dibutuhkan, ternyata kondisi kelainan pada anak dapat menimbulkan sikap yang negatif dari ibu. Hal ini disebabkan kondisi anak tuna grahita tidak sesuai dengan harapannya akan anak yang ideal. Padahal teori mengatakan bahwa sikap ibu akan mempengaruhi perlakuan ibu terhadap anak dan hubungan di antara mereka. Karena itu maka dirasa perlu untuk meneliti hubungan antara sikap ibu terhadap anaknya yang menyandang tuna grahita dan dukungan ibu dalam pembentukan self-esteem yang positif dari anaknya tersebut.
Pencarian data dalam penelitian ini dilakukan dengan pemberian kuesioner kepada ibu-ibu yang anaknya bersekolah di SLB-C. Kuesioner yang diberikan ada dua buah yaitu kuesioner sikap ibu dan kuesioner dukungan ibu dalam bentuk skala Likert. Perhitungan reliabilitas dilakukan dengan teknik koefisien Alpha Cronbach. Dari analisa reliabilitas terhadap kedua kuesioner didapat nilai alpha sebesar 0,7124 untuk kuesioner sikap ibu dan alpha 0,8471 untuk kuesioner dukungan ibu.
Hasil dari pengumpulan data menunjukkan rata-rata skor kelompok yang cukup tinggi pada kedua skala yaitu skala sikap ibu dan skala dukungan ibu. Perhitungan korelasi antara dua variabel yaitu variabel sikap dan dukungan menunjukkan indeks korelasi sebesar 0,538 yang signifikan pada LOS 0,01. Dengan demikian dapat dinyatakan adanya hubungan antara sikap ibu terhadap anaknya yang menyandang tuna grahita ringan dan dukungan ibu dalam pembentukan self-esteem yang positif dari anaknya tersebut. Untuk penelitian yang akan datang disarankan untuk melihat adanya social desirability pada kuesioner terutama untuk kuesioner yang membahas hal-hal yang sensitif seperti masalah sikap dan pengasuhan ibu."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2001
S3004
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>