Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Tasya Khalida Hanum
"Geowisata merupakan pariwisata dengan konsep konservasi berkelanjutan yang memadukan tiga keragaman alam, yaitu keragaman geologi, hayati, dan budaya. Daerah Dlingo dan Playen, Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul terletak di dalam Zona Pegunungan Selatan dengan bentang alam yang didominasi oleh perbukitan karst dan vulkanik yang memiliki potensi menarik sebagai destinasi geowisata. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan berupa pemetaan geologi dan asesmen kelayakan daerah penelitian yang mencakup nilai ilmiah, nilai edukasi, nilai pariwisata, dan nilai resiko degradasi. Stratigrafi daerah penelitian tersusun atas 4 satuan, yaitu Satuan Tuff berumur Miosen Awal, Satuan Breksi Andesit berumur Miosen Awal-Tengah, Satuan Batugamping berumur Miosen Tengah-Pliosen, dan Endapan Aluvial berumur Kuarter. Hasil asesmen kelayakan menunjukkan dari 60 stasiun pengamatan, terdapat 9 stasiun dengan kategori rendah dan 51 stasiun kategori sedang. Lalu 20 stasiun terbaik dipilih sebagai rekomendasi situs geologi.

Geotourism is tourism with a sustainable conservation concept that combines three natural diversities, i.e. geological, biological and cultural diversity. Dlingo and Playen areas, Bantul and Gunung Kidul Regencies are located within the Southern Mountains Zone with a landscape dominated by karst and volcanic hills that have good potential as geotourism destinations. This research uses field research methods in the form of geological mapping and feasibility assessment which includes scientific value, educational value, tourism value, and degradation risk value. The stratigraphy of the study area is composed of 4 units, namely the Early Miocene Tuff Unit, the Early-Middle Miocene Andesitic Breccia Unit, the Middle Miocene-Pliocene Limestone Unit, and the Quaternary Alluvial Deposits. The results of the feasibility assessment showed that of the 60 observation stations, there were 9 stations in the low category and 51 stations in the medium category. Then the 20 best stations were selected as recommendations for geological sites."
Depok: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andrea Mutiara Listanti
"Lokasi penelitian berada pada Formasi Cinambo wilayah Daerah Jatinunggal, Sumedang Jawa Barat. Pada lokasi ini, tersingkap dengan baik beberapa singkapan sepanjang Anak Sungai Ci Jaweu pada Desa Cibuyung dan Desa Cimanintin yang terbagi menjadi dua lintasan. Litologi penyusunnya adalah feldspathic wacke, allochemic mudstone, foraminiferal-packstone, foraminiferal-wackestone, dan batulanau. Porositas batuannya memiliki rentang poor – excellent (>25%). Berdasarkan pengamatan lapangan, pengukuran stratigrafi, dan analisis petrografi, lokasi penelitian tersusun atas Kelompok Fasies B, C, D, dan G yang terbagi lagi menjadi 7 anggota litofasies. Kelompok-kelompok fasies yang saling berasosiasi kemudian dikelompokan menjadi 3 asosiasi fasies yaitu Sandy-silt lobe distal, distal levee, dan distal silt-mud lobe. Analisis mikrofosil yang dilakukan, menunjukan lapisan pada lokasi penelitian memiliki umur Miosen Tengah/Miosen Akhir dan terendapkan pada lingkungan upper-lower bathyal. FormasiCinambo yang tersingkap pada daerah ini diinterpretasikan berada pada lingkungan kipas laut dalam bagian tengah (middle fan).

The research location is in the Cinambo Formation in the Jatinunggal Region, Sumedang, West Java. At this location, several outcrops along the Ci Jaweu River in Cibuyung Village and Cimanintin Village are well exposed and are divided into two tracks. Its constituent lithologies are feldspathic wacke, allochemic mudstone, foraminiferal-packstone, foraminiferal-wackestone, and siltstone. The rock porosity ranges from poor to excellent (>25%). Based on field observations, stratigraphic measurements, and petrographic analysis, the study site is composed of Facies B, C, D, and G which are further divided into 7 lithofacies. Facies groups that are associated with each other are then grouped into 3 facies associations namely distal Sandy-silt lobe, distal levee, and distal silt-mud lobe. The microfossil analysis performed showed that the layers at the study site are Middle Miocene/Lower Miocene and were deposited in an upper-lower bathyal environment. The Cinambo Formation exposed in this area is interpreted to be in the middle fan environment."
Depok: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syarifa Amira Satrioputri
"Sungai Ciliwung adalah sungai besar yang sangat identik dengan permasalahan banjir di Jakarta. Ketika sungai Ciliwung mengaliri Jakarta, sungai ini membawa material sedimen alami maupun antropogenik ke kawasan urban tersebut. Sedimen antropogenik tersebut tidak lain ialah sampah dari Jakarta maupun wilayah sebelumnya. Problematika ini dilengkapi lagi dengan aktivitas antropogenik yang terjadi di Jakarta, salah satunya adalah aktivitas Pintu Air Manggarai yang merupakan percabangan sungai Ciliwung di Jakarta. gangguan rezim fluvial di sungai Ciliwung berupa sampah yang bertumpang tindih dengan fitur antropogenik inilah yang akan menjadi fokus dalam penelitian ini. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari fitur geomorfologi urban di pintu air Manggarai, karakter sedimen Sungai Ciliwung di berbagai titik area pengendapan di kawasan Pintu Air Manggarai, dan bagaimana relasi langsung antara sedimen alami dengan sampah. Dengan metode granulometri, sampel sedimen yang tergabung dengan sampah diidentifikasi karakteristik litologinya, serta sampah diklasifikasikan berdasarkan jenis dan ukurannya. Penelitian ini menghasilkan data berupa keadaan geomorfologi urban di Kawasan Pintu Air Manggarai juga keterhubungan antara properti sampah tertentu dengan sedimen yang terendapkan bersamanya.

The Ciliwung River is a large river that is very synonymous with flooding problems in Jakarta. When the Ciliwung river flows through Jakarta, this river carries natural and anthropogenic sediment material into the urban area. This anthropogenic sediment is none other than rubbish from Jakarta and previous areas. This problem is further complemented by anthropogenic activities that occur in Jakarta, one of which is the activity of the Manggarai Sluice Gate which is a branch of the Ciliwung river in Jakarta. The disturbance of the fluvial regime in the Ciliwung River in the form of waste that overlaps with anthropogenic features is what will be the focus of this research. This research is aimed at studying the urban geomorphological features at the Manggarai Water Gate, the character of the Ciliwung River sediment at various points in the deposition area in the Manggarai Water Gate area, and the direct relationship between natural sediment and waste. Using the granulometric method, sediment samples combined with waste are identified for their lithological characteristics, and the waste is classified based on type and size. This research produces data in the form of urban geomorphological conditions in the Manggarai Water Gate Area as well as the relationship between certain waste properties and the sediment deposited with them."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zahra Nurul Fauzi
"Perubahan dalam lingkungan oleh aktivitas manusia dapat berasosiasi dengan akumulasi logam berat dan berpotensi meninggalkan jejak antropogenik dalam rekaman sedimen laut. Penelitian akan kondisi kemostratigrafi dilakukan untuk menentukan pengaruh aktivitas antropogenik di Perairan Banggai, yang dinilai tinggi karena fungsinya sebagai wilayah penangkapan ikan dan berdekatan dengan Pulau Taliabu, kepulauan agrikultural dengan potensi tambang yang tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan penanggalan umur (dating) dengan isotop 210Pb, analisis logam berat, distribusi ukuran butir, dan kandungan TOC untuk menganalisis dan merekonstruksi perubahan lingkungan. Penanggalan menggunakan isotop 210Pb dilakukan menggunakan spektrometer alfa (AAS), logam berat dianalisis menggunakan spektrometri emisi optikal (ICP-OES), distribusi ukuran butir dianalisis menggunakan difraksi laser (LDS), dan kandungan TOC dianalisis menggunakan LOI. Hasil analisis menunjukkan bahwa distribusi konsentrasi logam berat dalam sedimen core BC-06 menghasilkan nilai geo-accumulation index dan enrichment factor yang rendah, dan menunjukkan bahwa sumber logam berat yang ditemukan merupakan campuran alamiah dan antropogenik. Jejak logam berat dengan pengaruh antropogenik dalam sedimen core BC-06 dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu: (I) 1831-1927 AD, (II) 1927-1994 AD, dan (III) 1994-2022 AD, yang diinterpretasi berhubungan dengan ekspansi militer pada zaman pemerintahan Hindia-Belanda dan perkembangan berbagai sektor perekonomian Indonesia modern.

Changes in the environment by human activities is associated with heavy metal accumulation and can potentially leave anthropogenic traces in marine sediment records. Research focusing on the chemostratigraphic condition was done to determine the impacts made by anthropogenic activities in Banggai Waters, that are considered high because of its function as fishing grounds and is located near Taliabu Islands, which are agricultural lands with high mining potential. This research was done by Pb-210 dating, heavy metal, grain size distribution, dan TOC content analyses, to analyse and reconstruct environmental changes. Pb-210 dating was conducted by alpha spectrometer (AAS), heavy metal analysis was conducted by optical emission spectrometry (ICP-OES), grain size distribution analysis was conducted by laser diffraction (LDS), and TOC content analysis was conducted by the LOI method. Results show that heavy metal concentration distribution in sediment core BC-06 yield low values for geo-accumulation index (Igeo) and enrichment factor (EF), and showed that the metals found has a mixed source of natural and anthropogenic. Heavy metal traces with anthropogenic influence can be divided into three periods, such as: (I) 1831-1927 AD, (II) 1927-1994 AD, dan (III) 1994-2022 AD, which are interpreted as related to the military expansion during The Dutch’s colonialism, alongside the development of various economic sectors in modern Indonesia."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zul Fiqri
"Sambungmacan memiliki banyak temuan fosil organisme, seperti manusia purba (Homo erectus) dan fauna vertebrata. Fosil – fosil ini banyak ditemukan di tepi Bengawan Solo yang termasuk dari Kabupaten Sragen. Fosil vertebrata tersebut dapat memberikan informasi lingkungan purbanya berdasarkan faunal assemblage dan ekomorfologinya. Ekomorfologi merupakan adaptasi yang terkait dengan parameter ekologi atau habitat tertentu yang mempengaruhi morfologi fungsional pada tulang organisme semasa mereka hidup, sehingga pendekatan ini dapat digunakan untuk merekonstruksi habitat mereka. Ekomorfologi pada hewan vertebrata menggunakan komponen tulang yang berhubungan dengan pergerakan, yaitu femur, metapodial, astragalus, dan phalanges (tulang jari). Sedangkan faunal assemblage merupakan kumpulan seluruh hewan atau fauna yang dulunya hidup pada lapisan atau formasi tersebut. Berdasarkan komposisi fauna yang terkandung pada sebuah lapisan/formasi, maka kumpulan organisme tersebut dapat merefleksikan kondisi dan komposisi lingkungan hidup pada zaman itu. Penelitian ini menunjukkan bahwa daerah Sambungmacan berumur Pleistosen Tengah ini dulunya merupakan lingkungan alam yang cenderung terbuka dengan perairan air tawar dan tutupan hutan di sebagian tempat.

Sambungmacan has many fossil findings of living creatures, such as early humans (Homo erectus) and vertebrate fauna. Many of these fossils are found on the banks of the Bengawan Solo, which belongs to Sragen Regency. These vertebrate fossils can provide information on their ancient environment based on ecomorphological principles and their faunal assemblages. Ecomorphology is an adaptation related to certain ecological or habitat parameters that affect the functional morphology of the bones of organisms while they are alive, so this approach can be used to reconstruct their habitat. Ecomorphology in vertebrate animals uses bone components related to movement, namely the femur, metapodial, astragalus, and phalanges. Meanwhile, the faunal assemblage is a collection of all animals or fauna that used to live in that layer or formation. This research shows that the Middle Pleistocene Sambungmacan area used to be a natural environment that tended to be open environment with freshwater waters and forest cover in some places."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library