Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aziza Aulia Irfa
"Prevalensi penyakit kardiovaskular di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan Riskesdas 2007 yaitu 8,1% untuk penyakit jantung dan 12,5? untuk penyakit stroke. Prevalensi ini melebihi prevalensi nasional yaitu 7,2% untuk penyakit jantung dan 8,3? untuk penyakit stroke. Penyakit kardiovaskular merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan pendeteksian dini, salah satunya melalui skoring risiko kardiovaskular. Melihat belum adanya penelitian yang membahas prevalensi dan analisis risiko penyakit kardiovaskular berdasarkan data Riskesdas 2007, maka penelitian ini bertujuan untuk melihat prevalensi dan risiko kardiovaskular pada penduduk dewasa di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dan melakukan analisis risiko berdasarkan Skor Kardiovaskular Jakarta. Kriteria sampel yaitu responden yang berusia ≥ 25 tahun, total sampel yang dianalisis yaitu 8548 responden.
Hasil penelitian mendapatkan prevalensi penyakit kardiovaskular pada penduduk dewasa di Provinsi DKI Jakarta yaitu 12,5%. Persentase penyakit kardiovaskular tertinggi pada responden perempuan (13,5%), usia ≥60 tahun (21,3%), cerai mati (20,3%), tidak sekolah (20,3%), tidak bekerja (20,3%), mantan perokok (20%), aktivitas fisik ringan (17,5%), sering mengkonsumsi makanan berlemak atau jeroan (16,4%), penderita DM (33,2%), hipertensi tingkat 3 (19,7%), dan IMT ≥30 (14%). Berdasarkan analisis risiko penyakit kardiovaskular, penduduk dewasa di Provinsi DKI Jakarta sebagian besar masih berisiko rendah penyakit kardiovaskular dengan persentase 50,2%, diikuti berisiko tinggi dengan persentase 23,6% dan berisiko sedang dengan persentase 22,6%.

Prevalence of cardiovascular disease in Province of DKI Jakarta based on National Basic Health Research 2007 were 8,1% for heart disease and 12,5? for stroke. These prevalence were higher than national prevalence, 7,2% for heart disease and 8,3? for stroke. Cardiovascular disease could be prevented by early detection, for example by scoring risk of cardiovascular disease. Purpose of this study was to describe prevalence and risk of cardiovascular disease in adults of DKI Jakarta. This study used cross sectional design and analyzed risk of cardiovascular disease adopted by Jakarta Cardiovascular Score. Criteria of sample were respondents aged ≥ 25 years. Total samples analyzed were 8548 respondents.
The result of this study shown prevalence of cardiovascular disease in adults of DKI Jakarta was 12,5%. The highest percentages of cardiovascular disease were women (13,5%), age ≥ 60 years (21,3%), widowed (20,5%), no educational background (20,3%), unemployed (20,3%), ex-smoker (20%), doing light physical activity (17,5%), often consuming high fat meals (16,4%), diabetic (33,2%), hypertension grade 3 (19,7%), and BMI ≥30 (14%). Based on risk of cardiovascular disease 50,2% adults of DKI Jakarta had low risk cardiovascular disease, 23,6% had high risk cardiovascular disease, and 22,6% had medium risk cardiovascular disease."
Depok: Universitas Indonesia, 2011
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fenny Febrianita Z.
"Stroke tercatat sebagai salah satu penyebab kematian utama yang mengakibatkan sekitar 15,4% dari seluruh kematian di Indonesia. Stroke merupakan penyakit gangguan fungsi otak akibat kelainan vaskuler yang bersifat multikausal atau memiliki banyak faktor risiko. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi dan gambaran kejadian stroke berdasarkan faktor risikonya pada penduduk berusia ≥ 35 tahun di Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari data Riskesdas 2007 yang menggunakan desain studi cross-sectional. Sampel dari penelitian ini adalah penduduk Provinsi Sumatera Barat berusia ≥ 35 tahun yang memiliki data variabel penelitian yang lengkap. Hasil penelitian ini menunjukkan, prevalensi stroke di Sumatera Barat adalah sebesar 2,0%. Prevalensi stroke tertinggi ditemukan pada penduduk berusia > 74 tahun (4,9%); menderita hipertensi (9,6%), DM (9,7%), dan penyakit jantung (6,5%); tidak pernah mengonsumsi makanan berisiko (3,7%); memiliki berat badan kurang (3,0%); kurang aktivitas fisik (4,0%); mantan perokok (5,5%); berstatus cerai mati (3,6%); tidak pernah sekolah (3,3%); dan tidak bekerja (2,8%). Untuk variabel jenis kelamin, pola makan sayur dan buah, serta pola konsumsi alkohol, tidak terdapat perbedaan prevalensi stroke antara kelompok berisiko dan tidak berisiko.

Stroke is one of leading causes of death in Indonesia, which is 15.4% of entire mortality cases. Stroke is a multicausal disease that refers to the damage of brain caused by vascular disorders. This study aims to estimate the prevalance and to describe the stroke cases due to its risk factor in population of ≥ 35 years old in Sumatera Barat. This study is a secondary data analysis of Riskesdas 2007, which uses cross-sectional survey as study design. The participants were member of population of ≥ 35 years old in Sumatera Barat who had complete variable data needed. The result showed 2% of participants were proved to have a stroke. Stroke prevalance was higher among participant aged > 74 (4,9%); having hypertension (9,6%), diabetes mellitus (9,7%), and heart disease (6,5%); never consumed of salty and fatty food (3,7%); underweight (3,0%); having low level of physical activity (4,0%); widow (3,6%); never went to school (3,3%); and not working (2,8%). For variable of gender, consumption of fruits and vegetables, and alcohol intake, there was no significant different of stroke prevalence between risk and unrisk group."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
S56084
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nur Fadhilah Sari
"Stroke ialah salah satu penyebab kematian dan kecacatan neurologis utama di Indonesia. Stroke merupakan penyakit serebrovaskular yang setiap tahun meningkat jumlahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio Low Density Lipoprotein LDL terhadap High Density Lipoprotein HDL dengan kejadian stroke pada penduduk usia dewasa. Penelitian ini menggunakan data dari studi kohort PTM penyakit tidak menular tahun 2011. Sampel dalam penelitian ini ialah penduduk usia dewasa yang menjadi responden penelitian studi kohort faktor risiko PTM di kota Bogor tahun 2011 yang berjumlah 1506 dan dianalisis menggunakan uji regresi logistik dengan signifikansi statistik di lihat berdasarkan interval kepercayaan 95. Prevalensi sampel pada penduduk usia dewasa di kota Bogor yang menderita stroke sebesar 1,26, responden dengan rasio LDL terhadap HDL yang tinggi sebesar 35,66. Responden dengan usia 46 tahun sebesar 34,26 dengan prevalensi jenis kelamin terbanyak pada perempuan sebesar 53,45 dan yang berpendidikan rendah sebesar 54,58, responden yang obesitas sebesar 27,42, responden dengan kadar kolesterol total tinggi sebesar 38,45 serta responden dengan kadar trigliserida tinggi sebesar 17,07. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara rasio LDL terhadap HDL dengan kejadian stroke dengan adjusted prevalens odds rasio 3,909 95 CI 1,346-11,354. Rasio LDL terhadap HDL yang tinggi berisiko terhadap kejadian stroke pada penduduk usia dewasa.

Stroke is one of the main causes of death and neurological disability in Indonesia. Stroke is a cerebrovascular disease which increases in number every year. This study aims to determine the effect of the ratio of Low Density Lipoprotein LDL to High Density Lipoprotein HDL with the incidence of stroke in the adult population. This study used data from the PTM (non-communicable disease) cohort study risk factor in 2011. The sample in this study was adult population 25-65 years who were respondents to the PTM cohort study in Bogor in 2011 which numbered 1506 and analyzed using regression tests logistics with statistical significance are seen based on 95 confidence intervals. Sample prevalence in adult population in the city of Bogor who suffered a stroke of 1.26, respondents with a high ratio of LDL to HDL were 35.66. Respondents with a age of sebesar46 years were 34.26 with the highest prevalence of sex in women amounting to 53.45 and those with low education were 54.58, respondents who were obese were 27.42, respondents with high total cholesterol levels were 38, 45 and respondents with high triglyceride levels of 17.07. The results showed that there was a significant relationship between the ratio of LDL to HDL and the incidence of stroke with an adjusted prevalence odds ratio of 3.909 95 CI 1.346-11.354. The high ratio of LDL to HDL is at risk for the incidence of stroke in the adult population."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T53859
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Masitoh
"Penyakit infeksi pada balita merupakan masalah kesehatan yang perlu ditangani karena menjadi penyebab langsung kematian balita dan stunting. Salah satu penyebab tidak langsung dari penyakit infeksi balita adalah kerawanan pangan. Meskipun beberapa bukti saat ini menunjukkan ada hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi pada balita tetapi masih sedikit bukti yang meneliti hubungan ini di negara berpenghasilan sedang dan rendah seperti di Indonesia. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi pada balita di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang menggunakan data SSGI Tahun 2021. Hubungan antara kerawanan pangan dengan penyakit infeksi dikontrol oleh variabel kovariat. Analisis multivariat dilakukan menggunakan uji multiple multinomial logistic untuk memperoleh nilai OR adjusted. Hasil penelitian menunjukkan balita dari rumah tangga dengan rawan pangan ringan berisiko 1,367 kali, rawan pangan sedang berisiko 1,490 dan pada rawan pangan berat 1,500 kali. Begitu juga risiko untuk menderita lebih dari satu penyakit infeksi. Balita dari rumah tangga dengan rawan pangan ringan berisiko 1,685 kali, pada rawan pangan sedang 2,418 kali dan rawan pangan berat 2,596 kali. Dapat disimpulkan risiko balita untuk menderita satu penyakit infeksi maupun lebih dari satu penyakit infeksi semakin meningkat seiring dengan level kerawanan pangan rumah tangga.

Infectious diseases in toddlers are a health problem that needs to be addressed because they are a direct cause of toddlers deaths and stunting. One of the indirect causes of infant infection is food insecurity. Although some current evidence shows that there is a relationship between food insecurity and infectious diseases in toddlers, there is still little evidence examining this relationship in middle and low income countries such as Indonesia. Therefore this study aims to determine the relationship between food insecurity and infectious diseases in toddlers in Indonesia. The research was conducted with a cross-sectional design using SSGI data for 2021. The relationship between food insecurity and infectious diseases was controlled by covariate variables. Multivariate analysis was performed using the multiple multinomial logistic test to obtain an adjusted OR value. The results showed that toddlers from households with mild food insecurity had a risk of 1,367 times, moderate food insecurity had a risk of 1,490 and in severe food insecurity 1.500 times. Likewise, the risk of children suffering from more than one infectious disease. Toddlers from households with mild food insecurity have a risk of 1,685 times, in moderate food insecurity 2,418 times and severe food insecurity 2,596 times. It can be concluded that the risk of toddlers suffering from one infectious disease or more than one infectious disease increases along with the level of household food insecurity."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alana Arumsari Pramono
"Latar belakang: Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyakit tidak menular. Faktor risiko penyakit jantung koroner antara lain hipertensi, merokok, kolesterol tinggi, obesitas, dan rendahnya konsumsi buah dan sayuran. Menurut data Riskesdas pada tahun 2013, prevalensi penyakit jantung koroner dengan diagnosa dokter adalah sebesar 0,5%.Sedangkan pada tahun 2018 prevalensi penyakit jantung koroner dengan diagnosa dokter adalah sebesar 1,5%. Maka terjadi peningkatan oleh responden yang menderita penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner disebabkan oleh penumpukan plak di dinding arteri yang memasok darah ke jantung dan bagian tubuh lainnya. Plak tersebut terdiri dari deposit kolesterol dan zat lain di arteri. Penumpukan plak menyebabkan bagian dalam arteri menyempit dari waktu ke waktu, yang sebagian atau seluruhnya dapat menghalangi aliran darah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan efek gabungan hipertensi dan obesitas dengan kejadian penyakit jantung koroner
Metode: Pada analisis ini menggunakan analisis univariat untuk mengetahui proporsi dari varibel penelitian, analisis bivariat untuk mengetahui adanya hubungan pada variabel, analisis stratifikasi untuk mengetahui adanya confounding dan efek modifikasi. Analisis multivariat untuk mengetahui model akhir. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional.
Hasil: didapatkan variabel penyakit jantung koroner 1,44%, hipertensi dan obesitas 9,77%, hipertensi dan tidak obesitas 9,64%, tidak hipertensi dan obesitas 22,04%, tidak hipertensi dan tidak obesitas 58,55%. Dan hubungan hipertensi dan obesitas terhadap penyakit jantung koroner setelah dikontrol oleh variabel usia dan jenis kelamin.
Kesimpulan: Hubungan dari efek gabungan hipertensi dan obesitas dengan kejadian penyakit jantung koroner setelah dilakukan kontrol oleh variabel usia dan jenis kelamin

Background: Coronary heart disease is a non-communicable disease. Risk faktors for coronary heart disease include hypertension, smoking, high cholesterol, obesity, and low consumption of fruits and vegetables. According to Riskesdas data in 2013, the prevalence of coronary heart disease with a doctor's diagnosis was 0.5%. Meanwhile, in 2018 the prevalence of coronary heart disease with a doctor's diagnosis was 1.5%. Then there is an increase in respondents who suffer from coronary heart disease. Coronary heart disease is caused by the buildup of plaque on the walls of the arteries that supply blood to the heart and other parts of the body. The plaque consists of deposits of cholesterol and other substances in the arteries. Plaque buildup causes the inside of the arteries to narrow over time, which can partially or completely block blood flow. The purpose of this study was to determine the relationship between the combined effect of hypertension and obesity with the incidence of coronary heart disease
Methods: This analysis uses univariate analysis to determine the proportion of research variables, bivariate analysis to determine the relationship between variables, stratification analysis to determine the presence of confounding and modification effects. Multivariate analysis to determine the final model. This study used a cross sectional design.
Results: found coronary heart disease variables 1.44%, hypertension and obesity 9.77%, hypertension and not obesity 9.64%, not hypertension and obesity 22.04%, not hypertension and not obesity 58.55%. And the relationship of hypertension and obesity to coronary heart disease after being controlled by age and sex variables.
Conclusion: The relationship of the combined effect of hypertension and obesity with the incidence of coronary heart disease after being controlled by age and sex variables.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Taufik Azis
"ABSTRAK Pada tahun 2010, hipertensi menjadi salah satu faktor risiko kematian secara global dan
diperkirakan telah menyebabkan 9,4 juta kematian Di Indonesia, Berdasarkan data IFLS
5 tahun 2014 prevalensi hipertensi derajat 1 pada usia ≥18 tahun sebesar 15,59%. Suku
Banjar yang mayoritas berdomisili di Kalimantan Selatan (65%) berpotensi menderita
hipertensi derajat 1 dengan mengacu pada data Riskesdas tahun 2013 memiliki prevalensi
hipertensi sebesar 30,8%. Begitupula prevalensi hipertensi di Provinsi Bali sebesar
19,9%, yang ditempati oleh mayoritas Suku Bali (84%). Perbedaan prevalensi tersebut
mendorong peneliti untuk mengetahui perbedaan faktor risiko hipertensi derajat 1 pada
Suku Banjar dan Suku Bali. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Data dari
IFLS 5 tahun 2014. Sebanyak 765 responden Suku Banjar dan 1.087 responden Suku Bali
umur ≥18 tahun menjadi sampel penelitian ini. Data dianalisis dengan menggunakan uji
cox regression. Hasil penelitian Prevalensi hipertensi derajat 1 Suku Banjar dan Suku
Bali masing-masing sebesar 17,3% dan 10,8%. Faktor risiko hipertensi derajat 1 pada
Suku Banjar yaitu obesitas, PR=2,726 (95%CI; 1,913-3,886), umur ≥45 tahun, PR=2,146
(95%CI;1,482-3,107) dan laki-laki PR=1,641 (95%CI;1,149-2,344). Faktor risiko pada
Suku Bali yaitu obesitas, PR=2,971 (95%CI;2,025-4,362), Umur ≥45 tahun, PR=2,144
(95%CI;1,465-3,136), laki-laki PR=1,985 (95%CI;1,341-2,938), pendidikan rendah
PR=1,585 (95%CI;1,076-2,334) dan domisili di perkotaan PR=1,525 (95%CI;1,051-
2,212).Perlunya pengoptimalan kegiatan pencegahan dan deteksi dini untuk mengurangi
prevalensi hipertensi pada Suku Banjar dan Suku Bali.

ABSTRACT
In 2010, hypertension was one of the risk factors for death globally and it estimated to
have caused 9.4 million deaths. In Indonesia, based on data from IFLS 5, in 2014 the
prevalence of hypertension stage 1 at the age of ≥18 years was 15.59%. The majority of
Banjar Ethnic who are domiciled in South Kalimantan (65%) have the potential to suffer
from hypertension stage 1 with reference to the Riskesdas 2013 which has a prevalence
of hypertension of 30.8%. The prevalence of hypertension in Bali Province is 19.9%,
which is occupied by the majority of the Bali Ethnic (84%). This difference in prevalence
encouraged researchers to find out the differences in risk factors for hypertension stage 1
in the Banjar and Bali Ethnic. This study used a cross sectional design. Data from IFLS
5 in 2014. A total of 765 respondents from the Banjar ethnic and 1,087 respondents from
the Bali ethnic aged ≥18 years were sampled in this study. Data were analyzed using cox
regression test. Prevalence hypertension stage 1 in Banjar Ethnic and Bali Ethnic are
17,3% and 10,8%, respectively. Risk factors of hypertension stage 1 in Banjar Etnic are
obesity (PR=2,726; 95%CI; 1,913-3,886), age ≥45 years (PR=2,146; 95%CI;1,482-
3,107) and male (PR=1,641; 95%CI;1,149-2,344). Risk factors of hypertension stage 1 in
Bali Ethnic are obesity (PR=2,971; 95%CI;2,025-4,362), age ≥45 years (PR=2,144;
95%CI;1,465-3,136), male (PR=1,985; 95%CI;1,341-2,938), low education (PR=1,585;
95%CI;1,076-2,334) and urban (PR=1,525; 95%CI;1,051-2,212). The need for
optimization of prevention and early detection activities to reduce the prevalence of
hypertension in the Banjar and Bali Ethnic.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T51792
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aprizal Satria Hanafi
"ABSTRAK
Hubungan obesitas dan merokok terhadap kejadian hipertensi sudah banyak diketahui
namun masih jarang dilakukan penelitian untuk melihat efek gabungan obesitas dan
merokok dalam menyebabkan hipertensi derajat 1. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi efek gabungan obesitas dan merokok dalam menyebabkan hipertensi
derajat 1. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional menggunakan data
Indonesian Family Life Survey-5 (IFLS-5) tahun 2014. Sampel yang dianalisis pada
penelitian ini berjumlah 13.487 setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis
multivariat menggunakan uji cox regresi digunakan untuk mengetahui besar risiko
obesitas dan merokok dalam menyebabkan hipertensi derajat 1. Hasil penelitian
didapatkan prevalensi hipertensi derajat 1 sebesar 23,50%. Analisis multivariat
menunjukkan bahwa orang yang obesitas dan merokok memiliki risiko 2,86 kali untuk
mengalami hipertensi derajat 1 (PR=2,86), orang obesitas dan tidak merokok memiliki
risiko 1,64 kali untuk mengalami hipertensi derajat 1 (PR=1,64), orang tidak obesitas
dan merokok memiliki risiko 1,32 kali untuk mengalami hipertensi derajat 1 (PR=1,32).
Risiko untuk mengalami hipertensi derajat 1 meningkat 48% akibat interaksi obesitas
dan merokok. Perlu adanya adanya skrining lebih ketat untuk mencegah hipertensi
terutama pada orang obesitas dan merokok pada umur ≥18 tahun misalnya dengan
pengkuran tekanan darah secara rutin di rumah. Selain itu perlu adanya peningkatan
kualitas pelaksanaan Posbindu PTM dari pemerintah untuk pemantauan faktor risiko
serta deteksi dini PTM.

ABSTRACT
The relationship of obesity and cigarette smoking to the incidence of hypertension was
well known, but study is still rare to see the joint effects of obesity and smoking in
causing hypertension grade 1. This study aimed to evaluate the joint effect of obesity
and cigarette smoking on causing hypertension grade 1. This study used a crosssectional
design using data from Indonesian Family Life Survey-5 (IFLS-5) in 2014.
The samples analyzed in this study amounted to 13,487 after fulfilling the inclusion and
exclusion criteria. Multivariate analysis using the cox regression test was use to
determine the risk of obesity and smoking in causing hypertension grade 1. The results
showed that the prevalence of hypertension grade 1 is 23.50%. Multivariate analysis
showed that people who were obese and smoking had a risk of 2.86 times for having
hypertension grade 1 (PR = 2.86), obese and non-smoking people have a risk of 1.64
times to have hypertension grade 1 (PR = 1.64), people who were not obese and
smoking have a risk of 1.32 times for having hypertension grade 1 (PR = 1.32). The risk
of developing hypertension grade 1 increased by 48% due to the interaction of obesity
and smoking. There needs to be more rigorous screening to prevent hypertension,
especially in obese and smoking people at age ≥18 years, for example by measuring
blood pressure regularly at home. In addition, there is a need to improve the quality of
the implementation of NCDs Integrated Development Post (Posbindu) from the
government for risk factor monitoring and early detection of NCDs.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fariha Ramadhaniah
"Indonesia memiliki beban yang serius terhadap penyakit kardiovaskular, terutama PJK. Di Asia Tenggara, Indonesia memiliki angka kematian tertinggi akibat penyakit jantung. Prevalensi PJK berbasis diagnosis dokter tidak mengalami kenaikan, meski begitu, berdasarkan data Riskesdas 2013-2018, terjadi kenaikan terhadap prevalensi faktor risiko PJK. Beberapa faktor risiko PJK yang terjadi bersamaan menyebabkan sindrom metabolik, prevalensinya cukup tinggi di Indonesia dan meningkatkan risiko PJK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besar risiko sindrom metabolik terhadap terjadinya PJK di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif, dengan median masa pengamatan 6,8 tahun, data skunder IFLS4 tahun 2007 dan IFLS5 tahun 2014 pada 6.571 responden usia 40-69 tahun. Hasil penelitian mendapatkan prevalensi sindrom metabolik 20%, berdasarkan kriteria Joint Interim Statement. Kasus baru PJK 2,72%, dengan insiden rate 34 per 100.000 orang tahun. Analisis multivariat dengan uji cox regression mendapatkan HR 2,16 (95%CI 1,564-2,985), bahwa seseorang dengan sindrom metabolik memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami PJK dibanding tanpa sindrom metabolik setelah mengontrol variabel jenis kelamin, umur, status merokok, dan aktivitas fisik.

Indonesia has a serious burden of cardiovascular disease, especially CHD. In Southeast Asia, Indonesia has the highest death rate from heart disease. The prevalence of CHD based on doctor's diagnosis did not increase, however, based on the Riskesdas 2013-2018, there was an increase in the prevalence of CHD risk factors. Several risk factors for CHD that occur together cause metabolic syndrome, the prevalence is quite high in Indonesia and increases the risk of CHD. The purpose of this study was to determine the risk of metabolic syndrome on the incidence of CHD in Indonesia. This retrospective cohort study, was followed up for a median of 6.8 years, secondary data from IFLS4 in 2007 and IFLS5 in 2014, population study 6,571 respondents, aged 40-69 years. The results of the study found that the prevalence of metabolic syndrome was 20%, based on the Joint Interim Statement criteria. New cases of CHD are 2.72%, with an incidence rate of 34 CHD per 100,000 person years. Multivariate analysis with cox regression test found HR 2.16 (95% CI 1.564-2.985), that someone with metabolic syndrome had a twice higher risk of developing CHD after adjusting gender, age, smoking status, and physical activity."
Depok: Fakultas Kesehatan dan Masyarakat Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahpien Yuswani
"Obesitas merupakan salah satu faktor dominan terjadinya penyakit degeneratif khususnya penyakit jantung koroner PJK Penelitian ini merupakan analisislanjut dari data baseline studi kohor faktor risiko penyakit tidak menular PTM tahun 2011 yang bertujuan untuk mengetahui besar hubungan Obesitas denganKejadian Penyakit Jantung Koroner di Usia Lebih atau Sama Dengan 40 Tahunpada Kelompok Orang yang Memiliki Keluarga Riwayat Diabetes Melitus setelahdikontrol variabel konfounding dislipidemia tekanan darah penyakit DiabetesMelitus DM riwayat PJK di keluarga umur jenis kelamin pendidikan pekerjaan konsumsi alkohol kebiasaan merokok dan aktivitas fisik danmengetahui besar POR Prevalence Odds Ratio obesitas dengan kejadian PJK Desain studi penelitian ini adalah kasus kontrol 1 2 dengan analisis multivariatregresi logistik ganda Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 54 kasus dan113 kontrol Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi pada obesitas danpenyakit DM Setelah dikontrol dengan dislipidemia dan pendidikan maka orangyang obesitas dan sakit DM mempunyai nilai odds 3 97 95 CI 1 76 8 94 ataumempunyai risiko sebesar 80 untuk terkena PJK di usia lebih atau sama dengan40 tahun dibanding orang yang tidak obesitas dan tidak sakit DM pada kelompokorang yang memiliki keluarga riwayat DM Kata kunci obesitas PJK keluarga riwayat DM;Obesitas merupakan salah satu faktor dominan terjadinya penyakit degeneratif, khususnya penyakit jantung koroner (PJK). Penelitian ini merupakan analisis lanjut dari data baseline studi kohor faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) tahun 2011 yang bertujuan untuk mengetahui besar hubungan Obesitas dengan Kejadian Penyakit Jantung Koroner di Usia Lebih atau Sama Dengan 40 Tahun pada Kelompok Orang yang Memiliki Keluarga Riwayat Diabetes Melitus setelah dikontrol variabel konfounding (dislipidemia, tekanan darah, penyakit Diabetes Melitus (DM), riwayat PJK di keluarga, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik) dan mengetahui besar POR (Prevalence Odds Ratio) obesitas dengan kejadian PJK. Desain studi penelitian ini adalah kasus kontrol (1:2) dengan analisis multivariat regresi logistik ganda. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 54 kasus dan 113 kontrol. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi pada obesitas dan penyakit DM. Setelah dikontrol dengan dislipidemia dan pendidikan maka orang yang obesitas dan sakit DM mempunyai nilai odds 3,97 (95% CI 1,76-8,94) atau mempunyai risiko sebesar 80% untuk terkena PJK di usia lebih atau sama dengan 40 tahun dibanding orang yang tidak obesitas dan tidak sakit DM pada kelompok orang yang memiliki keluarga riwayat DM.

Obesity is one of the dominant factors of degenerative diseases particularlycoronary heart disease CHD This study is a further analysis of the baselinecohort study of risk factors for non communicable diseases in 2011 Aims of thisresearch are to know how big the relationship between obesity and the incidenceof CHD at age more or equal to 40 years to the group people who have familyhistory of diabetes mellitus DM after controlled variable confounding dyslipidemia blood pressure diabetes disease family history of CHD age gender education occupation alcohol consumption smoking habits and physicalactivity and large know POR Prevalence Odds Ratio of obesity on the incidenceof CHD The design of this research is case control 1 2 with multiple logistic regressionmultivariate analysis The number of sample in this research is 54 cases and 113controls The results showed an interaction on obesity and DM diseases Aftercontrolled with dyslipidemia and education the people who have obesity and DModds value of 3 97 95 CI 1 76 to 8 94 or by 80 at risk for developing CHD inage more or equal to 40 years than those who are not obese and are not DM in thegroup of people who have a family history of DM Keyword obesity CHD Family history of diabetes mellitus DM ;Obesity is one of the dominant factors of degenerative diseases, particularly coronary heart disease (CHD). This study is a further analysis of the baseline cohort study of risk factors for non-communicable diseases in 2011. Aims of this research are to know how big the relationship between obesity and the incidence of CHD at age more or equal to 40 years to the group people who have family history of diabetes mellitus (DM) after controlled variable confounding (dyslipidemia, blood pressure, diabetes disease, family history of CHD, age, gender, education, occupation, alcohol consumption, smoking habits, and physical activity) and large know POR (Prevalence Odds Ratio) of obesity on the incidence of CHD. The design of this research is case-control (1:2) with multiple logistic regression multivariate analysis. The number of sample in this research is 54 cases and 113 controls. The results showed an interaction on obesity and DM diseases. After controlled with dyslipidemia and education, the people who have obesity and DM odds value of 3.97 (95% CI 1.76 to 8.94) or by 80% at risk for developing CHD in age more or equal to 40 years than those who are not obese and are not DM in the group of people who have a family history of DM."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Kristanti
"Hipertensi tidak terkontrol merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting karena berkaitan dengan kesakitan ataupun kematian akibat penyakit kardiocerebrovaskular. Salah satu penyebab terjadinya hipertensi tidak terkontrol adalah peningkatan berat badan/IMT. Penelitian longitudinal mengenai pengaruh peningkatan IMT terhadap kejadian hipertensi tidak terkontrol masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran dan trend prevalensi hipertensi tidak terkontrol selama 6 tahun, dan pengaruh peningkatan IMT terhadap kejadian hipertensi tidak terkontrol. Menggunakan desain longitudinal pada data Studi Kohor Faktor Risiko Tidak Menular tahun 2011-2018. Populasi adalah kelompok usia 25-65 tahun yang telah mengalami hipertensi pada awal penelitian, kemudian dipantau setiap tahun selama 6 tahun. Sampel berjumlah 924 pada awal penelitian, dengan respond rate 75% – 88%. Analisis data menggunakan GEE. Hasil penelitian didapatkan bahwa dalam periode pemantauan selama 6 tahun, prevalensi hipertensi tidak terkontrol pada orang dewasa di Kota Bogor adalah sebesar 62,7% pada tahun pertama 67,6% pada tahun kedua, 64,2% pada tahun ketiga, 63,3% pada tahun keempat, 71% pada tahun kelima, dan 73,6% pada tahun keenam. Terjadi kecenderungan peningkatan kejadian hipertensi tidak terkontrol pada beberapa tahun terakhir pemantauan. Dari hasil analisis GEE pada semua kelompok subjek, risiko terjadinya hipertensi tidak terkontrol sebesar 1.163 kali (OR 1.163; 95% CI: 0.970-1.394) pada subjek yang mengalami peningkatan IMT ≥ 1 kg/m2 dalam satu tahun dibandingkan subjek yang tidak mengalami peningkatan IMT, setelah dikontrol oleh umur, status merokok dan tahun pemantauan. Sedangkan pada kelompok dengan status gizi normal dan berlebih yang kemudian mengalami peningkatan IMT ≥ 1 kg/m2 dalam satu tahun, memiliki risiko lebih besar untuk mengalami hipertensi tidak terkontrol, dengan OR 1,513 (95% CI: 1.020-2.244) dan OR 1,968 (95% CI: 0,963 –3.754) dibandingkan dengan kelompok yang sama yang tidak mengalami peningkatan IMT. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi program pengendalian hipertensi di Indonesia.

Uncontrolled hypertension is an important health problem because it is associated with morbidity and mortality due to cardiocerebrovascular disease. One of the causes of uncontrolled hypertension is an increase in body weight/BMI. Longitudinal studies regarding the effect of increasing BMI on the incidence of uncontrolled hypertension are still limited. This study aims to obtain an overview and trend of prevalence of uncontrolled hypertension for 6 years, and the effect of increasing BMI on the incidence of uncontrolled hypertension. Using longitudinal data on the Cohort Study of NCD Risk Factors in 2011 - 2018. The population was the age group 25-65 years who have experienced hypertension at the start of the study, then monitored every year for 6 years. The sample amounted to 924 at the beginning of the study, with a respond rate of 75%-88%. Analysis data with GEE. The results showed that in the 6-year monitoring period, the prevalence of uncontrolled hypertension on adults in Bogor City was 62.7% in the first year; 67.6% in the second year, 64.2% in the third year, 63.3% in the fourth year, 71% in the fifth year, and 73.6% in the sixth year. There was a trend that the incidence of uncontrolled hypertension increased in the last few years of monitoring. From the results of GEE analysis in all groups of subjects, the risk of uncontrolled hypertension was 1.163 times (OR 1.163; 95% CI: 0.970-1.394) in subjects who experienced an increase in BMI ≥ 1 kg/m2 in one year compared to subjects who did not experience an increase in BMI, after being controlled by age, smoking status and year of monitoring. Whereas in the group with normal and overweight who then experienced an increase in BMI ≥ 1 kg/m2 in one year, had a greater risk of developing uncontrolled hypertension, with OR 1.513 (95% CI: 1.020-2.244) and OR 1,968 (95 % CI: 0,963 –3.754) compared to the same group that did not experience an increase in BMI. The results of this study are expected to be an input for hypertension control programs in Indonesia."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T52838
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>