Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 202 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Viko Esa Bintang Alfarrel
"Penelitian ini mengkaji dinamika sosial dan ekonomi di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dengan menerapkan perspektif arkeologi industri dan teori Marxisme. Mulai diterapkannya sistem tanam paksa oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1836 telah mengubah struktur ekonomi dan sosial di Jawa, khususnya dengan pendirian pabrik gula yang berbasis pada eksploitasi tenaga kerja lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana infrastruktur industri tebu dan pabrik gula berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi regional sekaligus menciptakan ketimpangan sosial antara kaum borjuis Eropa dan kaum proletar lokal. Melalui analisis artefak, dokumentasi historis, dan sisa-sisa material industri, penelitian ini menyelidiki bagaimana relasi antara majikan dan buruh di pabrik mencerminkan kondisi sosial yang lebih luas dan bagaimana prasarana produksi gula serta dokumentasi terkait pekerja mencerminkan dinamika ekonomi dan sosial masa itu. Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya memberikan wawasan baru mengenai sejarah industri gula di Banyumas tetapi juga menyoroti pentingnya teknologi dan produksi material sebagai pendorong perubahan sosial dalam masyarakat.

This study examines the social and economic dynamics at the Kalibagor Sugar Factory in Banyumas by applying industrial archaeology perspectives and Marxist theory. The implementation of the forced cultivation system by the Dutch East Indies Government in 1836 significantly altered the economic and social structure in Java, particularly through the establishment of sugar factories based on the exploitation of local labor. This research aims to uncover how the infrastructure of the sugarcane industry and sugar factories contributed to regional economic growth while also creating social disparities between the European bourgeois and the local proletarians. Through the analysis of artifacts, historical documentation, and remnants of industrial materials, this study investigates how the relationship between employers and workers at the factory reflects broader social conditions and how the infrastructure of sugar production and related worker documentation reflect the economic and social dynamics of the time. The results of this research are expected to not only provide new insights into the history of the sugar industry in Banyumas but also highlight the importance of technology and material production as drivers of social change in society."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Luki Wijayanti
"Perpustakaan perguruan tinggi sebagai salah satu unit pelaksana teknis suatu perguruan tinggi, mempunyai tugas dan kewajiban untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan informasi bagi sivitas akademika di lingkungannya. Tugas ini berkaitan erat dengan misi perguruan tinggi yakni Tridharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan/pengajaran, penelitian, serta pengabdian pada masyarakat. Sejauh ini belum diketahui dengan jelas cara pencarian informasi yang dilakukan oleh staf pengajar di lingkungan Fakultas Sastra UI untuk memenuhi kebutuhan informasi guna mendukung pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Pada penelitian ini penulis melakukan penelitian mengenai perilaku pencarian informasi staf pengajar Fakultas Sastra UI. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
a. Mengetahui perilaku pencarian informasi staf pengajar Fakultas Sastra UI dalam menunjang pelaksanaan kegiatan pendidikan/pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat.
b. Alasan pemilihan sumber-sumber informasi
c. Cara pemenuhan kebutuhan informasi dengan mengetahui urutan tempat/cara pemenuhan kebutuhan informasi, waktu yang dihabiskan untuk mencari informasi, serta seberapa jauh peran pustakawan di lingkungan Perpustakaan Fakultas Sastra UI dalam membantu staf pengajar FakuItas Sastra UI dalam mencari informasi yang diperlukan. Penelitian ini bersifat deskriptif dan metode penelitian yang digunakan adalah metode survai. Yang menjadi populasi penelitian ini adalah 251 staf pengajar tetap di Fakultas Sastra UI, dengan sampel berjumlah 117 responden, dengan metode pengambilan sampel simple random sampling. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan penyebaran kuesioner. Hasil penelitian ini adalah bahwa:
- Sumber informasi yang dianggap penting dan sangat diminati responden semua strata pendidikan dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan/pengajaran adalah buku teks terbitan dalam negri, buku teks terbitan luar negri, majalah ilmiah terbitan luar negri, majalah ilmiah terbitan dalam negri, tesis/disertasi serta buku pegangan.
- Sumber informasi penting untuk mendukung kegiatan penelitian, menurut responden adalah majalah ilmiah terbitan dalam negri, majalah ilmiah terbitan luar negri, serta buku teks terbitan luar negri.
- Hubungan dengan sesama staf pengajar FSUI merupakan sumber informasi yang dianggap penting dalam mendukung kegiatan pengabdian pada masyarakat.
- Alasan utama akan pemilihan sumber informasi adalah kemudahan akses dan mudah digunakan, sedangkan alasan ketepatan merupakan alasan yang paling sedikit dipilih.
- Sebagian besar responden meluangkan waku anara 5 - 10 jam setiap minggu untuk mencari informasi.
- Prioritas cara pemenuhan kebutuhan informasi adalah koleksi pribadi, menyusul kemudian koleksi Perpustakaan jurusan. Bagi responden sarjana konsultasi dengan senior merupakan pilihan ke tiga, sedangkan responden magister dan doktor akan pergi ke toko buku sebagai pilihan ke tiga.
- Perpustakaan FSUI belum menjadi pilihan penting bagi responden untuk memenuhi kebutuhan informasinya.
- Pustakawan Perpustakaan jurusan dinilai sangat membantu responden semua strata pendidikan dalam mencari informasi yang dibutuhkannya, sedangkan pustakawan Perpustakaan fakultas dianggap cult-up nembantu responden sarjana maupun doktor, sedangkan responden magister menyatakan tidak pernah minta bantuan pustakawan Perpustakaan fakultas. Responden dari semua strata pendidikan menyatakan bahwa pustakawan UPT Perpusakaan Pusat UI cukup membantu mereka dalam menemukan informasi.
- Perilaku pencarian informasi staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Indonesia dipengaruhi oleh strata pendidikan serta akifitas yang dilakukan (pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat).
- Perpustakaan FSUI belum menjadi pilihan penting bagi responden untuk memenuhi kebutuhan informasinya.
- Pustakawan Perpustakaan jurusan dinilai sangat membantu responden semua strata pendidikan dalam mencari informasi yang dibutuhkannya, sedangkan pustakawan Perpustakaan fakultas dianggap cult-up nembantu responden sarjana maupun doktor, sedangkan responden magister menyatakan tidak pernah minta bantuan pustakawan Perpustakaan fakultas. Responden dari semua strata pendidikan menyatakan bahwa pustakawan UPT Perpusakaan Pusat Ul cukup membantu mereka dalam menemukan informasi.
- Perilaku pencarian informasi staf pengajar Fakultas Sasra Universitas Indonesia dipengaruhi oleh strata pendidikan serta akifitas yang dilakukan (pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat)."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2000
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Afdol Tharik Wastono
"Konsep kehomoniman sebagai pertalian makna antara dua atau lebih leksem yang sama bentuk merupakan gejala semesta bahasa (language universal). Konsekuensi logis munculnya gejala kehomoniman adalah ketaksaan ujaran atau kalimat yang disampaikan oleh pembicara kepada pendengar/lawan bicara. Akibat lebih jauh yang disebabkan oleh munculnya gejala kehomoniman adalah, di samping ketaksaan ujaran atau kalimat, terjadinya distorsi pesan yang ingin disampaikan. Pemahaman yang baik terhadap kehomoniman suatu bahasa, khususnya bahasa Arab, dapat menghindari ketaksaan dan distorsi pesan yang terkandung dalam ujaran atau kalimat. Kajian kehomoniman dalam bahasa Arab masuk pada pokok bahasan Al-mustarak Al-lafzi (relasi makna), di samping kajian kepoliseman. Dengan memakai pendekatan teori Lyons (1996) penelitian ini memperoleh formulasi klasifikasi homonimi bahasa Arab yang terdiri atas: (i) homonimi mutlak (absolute homonymy), dan homonimi sebagian (partial homonymy). Dalam menganalisis data, penelitian ini memanfaatkan juga pendekatan analisis komponen atau medan semantik. Homonimi mutlak ditemukan pada semua kelas kata, baik nomina (al-ism), verba (fi `il) , maupun partikel (al-harf). Homonimi sebagian diperoleh berdasarkan perbedaan lingkungan gramatikal dari leksem-leksem yang homonimis, dan subklasifikasi homonimi sebagian ini terdiri atas (i) perbedaan infleksi aspektual (perfektif - imperfektif), (ii) perbedaan derivasi, (iii) perbedaan kategori gender (maskulin - feminin), dan (iv) perbedaan kategori jumlah (tunggal - jamak)."
Depok: Fakultas Ilmu Pengatahuan Budaya Universitas Indonesia, 2000
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Mustakim
"ABSTRACT
Language Attitude Towards Indonesian New Words among College People in Jakarta. This study is focused on language attitude towards Indonesian new words among college people in Jakarta with respect to the acceptability of the new words. The data were collected by means of questioner as primary instrument and interview as secondary instrument. This research aims at describing language attitude among college people and the degree of acceptability of new words.
To achieve the aims, this research makes use two approaches: sociolinguistics and psycholinguistics approaches. The sociolinguistics approach--in this case language planning--is used in this research because this study is concerned with corpus planning that is the corpus of the Indonesian language. Corpus planning is part of language planning which deals with the development of language code in order to make language capable of being effectively and efficiently used to express various modem concepts. The psycholinguistics approach is used in this research because this study is concerned with language speakers' attitude, the field of social psychology.
This study reveals that college people in Jakarta tend to have a positive attitude towards Indonesian new words and its development. This attitude can be seen not only in its cognitive components, but also in its affective and cognitive component. This study also shows that this language attitude is highly correlated with the acceptability of Indonesian new words although the acceptability of Indonesian new words is also determined by the characteristics of the new words, i.e. clarity of meanings, economy of word forms, beauty of sounds, and usefulness. The characteristics of the new words are found to have correlation with the acceptability of new words. But the social variables, i.e. gender, job, education, age, and the first language of the respondents do not seem to contribute to the attitude towards, and acceptability of the new words."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aldy Putra Pratomo
"Video game sebagai media hiburan telah berkembang pesat selama tiga dekade terakhir. Tren dalam penjualan video game belakangan ini adalah membuat para pemain tetap fokus dan tenggelam dalam bermain video game. Hal ini disebut sebagai imersivitas atau momen imersif. Tentunya tren ini membuat para pengembang video game fokus untuk membuat video game ciptaannya menjadi lebih memikat bagi pemain. Dengan motif ini, pengembang video game dapat menciptakan pengalaman di mana pemain mampu menampilkan dirinya dalam video game. Konsekeunsi dari tren ini adalah pemain, pengembang video game, dan jurnalis video game membuat istilah imersif hanya pada beberapa genre di video game dan term ini bisa mendiskreditkan video game yang tidak dalam kategori yang sama. Penulis memproposisikan bahwa semua video game mampu membuat pengalaman imersif dengan melihat bagaimana realitas di dunia video game diciptakan dan dalam relasi seperti apa manusia bisa tenggelam dalam dunia video game.
Video games as an entertainment medium have rapidly developed over the past three decades. Recent trends in video game sales focus on keeping players engaged and immersed in gameplay. This phenomenon is referred to as immersivity or immersive moments. Naturally, this trend has led game developers to prioritize making their games more captivating for players. With this motive, game developers can create experiences where players can project themselves into the game. The consequence of this trend is that players, game developers, and video game journalists tend to label only certain genres of video games as immersive, potentially discrediting games that do not fall into these categories. The author proposes that all video games have the potential to create immersive experiences by examining how the reality within video games is constructed and what relationship in which humans can become absorbed in the world of video games."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Maria Immaculatus Djoko Marihandono
"Sejak VOC menguasai wilayah Hindia Timur, banyak masalah tidak pernah ditangani secara tuntas oleh pemerintah. Masalah-masalah itu antara lain pemberantasan korupsi, penyuapan kepada penguasa dengan dalih pemberian hadiah, atau penyelewengan lain yang merugikan pemerintah. Masalah itu seakan telah mengakar dan "membudaya", sehingga sulit untuk diatasi. Upaya mengatasi penyelewengan itu pernah dilakukan. Namun, sejak kapan upaya untuk mengatasi masalah-masalah itu pernah dilakukan, merupakan pertanyaan yang dapat dijawab oleh sejarawan, khususnya yang mempelajari sejarah kolonial.
Berkaitan dengan upaya menertibkan sistem administrasi pemerintahan pada masa kolonial, diketahui bahwa pembenahan itu pernah dilakukan dan dimulai pertama kali oleh Gubemur Jenderal Herman Willem Daendels (selanjutnya disebut Daendels) yang menjabat Gubernur Jenderal di wilayah koloni Hindia Timur dari tanggal 14 Januari 1808 hingga 16 Mei 1811 (3 tahun 4 bulan). Daendels melakukan upaya itu dalam rangka melaksanakan perintah yang diberikan oleh Napoleon Bonaparte kepadanya, yang saat itu menguasai Belanda.
Daendels disebut sebagai "orang asing" oleh orang Eropa yang bertugas di Batavia. Hal ini disebabkan karena sebelum kedatangannya di Jawa, ia belum pemah bekerja atau bahkan belum pernah mengunjungi wilayah koloni ini. Daendels tidak memiliki pengalaman karir kolonial. Padahal, telah menjadi kebiasaan di koloni Hindia Timur, yang menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Timur adalah para pejabat Eropa yang telah bertugas di wilayah ini, khususnya kelompok penguasa di Batavia. Mereka itu biasanya menjadi sumber bakal calon Gubernur Jenderal dan Gubernur.
Selain disebut sebagai "orang asing", Daendels juga disebut sebagai seorang "revolusioner" oleh para sejarawan. Sebutan itu diberikan kepadanya karena sebelum ditugaskan menjadi Gubernur Jenderal, ia menjadi bagian dari penganut paham Revolusi Prancis yang sangat dikaguminya. Ia adalah pemimpin patriot, bahkan bersama dengan pasukan Prancis, ia menyerbu Belanda dan berhasil menggulingkan Republik Belanda Bersatu (Republiek der Verenigde Nederlanden) yang dianggap bersekutu dengan pihak Inggris dan Prusia Daendels juga membantu upaya Prancis dalam mendirikan Republik Bataf di Belanda (Ong Hok Ham 1991:107)
Ong Hok Ham juga menyatakan bahwa Republik Bataf memiliki ciri pemerintahan yang sentralistis dan birokratis. Dikatakan sentralistis karena semua hal yang berkaitan dengan kenegaraan diatur oleh pusat, sementara disebut birokratis karena pemerintahan dijalankan oleh pegawai pemerintah yang memiliki hirarki dan jenjang jabatan. Dengan pemerintahan seperti ini, Belanda dan Prancis dianggap sebagai dua negara pertama di Eropa yang menerapkan birokrasi modern. Belanda meniru Republik Prancis yang baru, khususnya setelah kemenangan kelompok Unitaris, yang menggunakan sistem pemerintahan yang sentralistis dan demokratis.
Pada tahun 1806, Republik Bataf dibubarkan. Sebagai gantinya, didirikan pemerintahan kerajaan di bawah kekuasaan Raja Belanda Louis Napoleon, adik kandung Napoleon Bonaparte. Ia menjadi Raja Belanda dari tahun 1806 hingga 1810. Setelah penandatangan kesepakatan Rembouillet (Juli 1810), negara Belanda dijadikan bagian dari kekaisaran Prancis di bawah kekuasaan Napoleon Bonaparte.
Konflik antara Prancis dan Inggris tidak dapat dilepaskan dari sejarah kedua bangsa Eropa itu. Konflik yang sering diikuti dengan perang bermula dari abad XIV, sejak Prancis diperintah oleh raja Charles VII (1403-1461). Konflik antardua negara ini terus berlangsung sarnpai masa Napoleon Bonaparte berkuasa. Bahkan hingga akhir abad XX, hubungan kedua negara itu masih sering menemui kendala. Oleh karena itu, untuk memahami pembenahan yang dilakukan oleh Daendels dan kebijakannya di Hindia Timur dari tahun 1808-1811 hal itu hanya bisa dipahami dalam konteks sejarah Eropa pada awal abad MX."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
D544
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syahla Ifany Isgiana
"Lagu "All You Need Is Love" oleh The Beatles merangkum semangat Summer of Love di tahun 1967, sebuah periode yang ditandai dengan gerakan kontra budaya yang kuat yang mengadvokasi perdamaian, cinta, dan kebebasan. Studi ini menggunakan metodologi visual ganda, mengacu pada kerangka kerja analisis konten dan interpretasi komposisi Gillian Rose, untuk menggali lirik lagu dan pertunjukan videonya. Dengan mengkontekstualisasikan analisis dalam lingkungan sosial budaya tahun 1967, dengan fokus pada Summer of Love dan gerakan kontra budaya, studi ini menjelaskan bagaimana "All You Need Is Love" berfungsi sebagai seruan untuk perubahan sosial dari norma konvensional ke masyarakat yang lebih terbuka dan inklusif. Lebih lanjut, studi ini meneliti dampak lagu tersebut, mengeksplorasi bagaimana lagu tersebut dikonsumsi sebagai bentuk protes dan representasi cinta dan damai di tengah lanskap sosial-politik yang penuh gejolak, khususnya sebagai tanggapan terhadap isu-isu seperti Perang Vietnam dan gerakan hak sipil. Temuan penelitian ini menggarisbawahi relevansi dan dampak abadi dari pesan cinta dan damai The Beatles, yang bergema lintas generasi. Namun, keterbatasan ketersediaan data dan subjektivitas inheren dari interpretasi visual memerlukan interpretasi hasil yang hati-hati. Kedepannya, penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi metodologi visual tambahan untuk memperkaya pemahaman tentang signifikansi budaya lagu tersebut dan perannya dalam membentuk kesadaran kolektif.
 

The Beatles' "All You Need Is Love" encapsulates the spirit of the Summer of Love in 1967, a period marked by a powerful counterculture movement advocating for peace, love, and freedom. This study employs a dual visual methodology, drawing on Gillian Rose's frameworks of content analysis and compositional interpretation, to delve into the song's lyrics and its video performance. By contextualizing the analysis within the socio-cultural milieu of 1967, with a focus on the Summer of Love and the counterculture movement, this study sheds light on how "All You Need Is Love" served as a rallying cry for societal change from conventional norms to a more open, inclusive society. Furthermore, the study examines the song's impact, exploring how it was consumed as a form of protest and a representation of love and peace amidst the tumultuous socio-political landscape, particularly in response to issues like the Vietnam War and civil rights movements. The findings of this study underscore the enduring relevance and impact of The Beatles' message of love and peace, resonating across generations. However, limitations in data availability and the inherent subjectivity of visual interpretation warrant cautious interpretation of the results. Moving forward, future research could explore additional visual methodologies to enrich the understanding of the song's cultural significance and its role in shaping collective consciousness.
 
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Fijar Lazuardi
"Kajian ini menjelaskan mengenai lingkungan dan pembangunan jalan Semarang-Kedu-Yogyakarta oleh masyarakat sepanjang tahun 1830 sampai dengan 1856. Ketiadaan sungai sebagai sarana transportasi dari Semarang dan pedalaman membuat jalan menjadi satu-satunya sarana bagi masyarakat pada abad ke-19. Dengan menerapkan metode sejarah, penelitian ini menganalisis informasi dari sumber-sumber primer koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia yang terdiri dari arsip laporan umum tahunan dari Semarang, Kedu, dan Yogyakarta, serta laporan survei seputar jalan pedalaman Jawa bagian tengah. Studi ini menggunakan pendekatan hubungan struktural–agensi yang menjelaskan hubungan antara habitus dan modal yang berbeda dengan struktur atau arena dapat menghasilkan tindakan berbeda juga. Hasil penelusuran arsip menunjukkan bahwa masyarakat Jawa membentuk jaringan jalan desa dan sistem pemeliharaan jalan sendiri untuk menyesuaikan kondisi lingkungan geografis, seperti teknik perawatan jalan dan penanaman pohon di sisi jalan. Kondisi geografis pegunungan juga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai mata pencaharian dengan penyewaan jasa kuli angkut dan penyewaan kuda. Di sisi lain, administrasi kolonial membuat sistem pembangunan serta perawatan jalan dan jembatan untuk mengoptimalkan pengangkutan hasil pertanian. Beberapa teknik pembangunan jalan dan jembatan diterapkan untuk mengatasi berbagai kondisi lingkungan yang ada di sepanjang jalan Semarang, Kedu, dan Yogyakarta.

This study discusses the ecology of Semarang-Kedu-Yogyakarta road construction by the people during the period 1830 to 1856. The unavailability of navigable rivers for transportation between Semarang and the hinterland left the road as the only option for people. This research utilised the historical method with primary sources from the Arsip Nasional Republik Indonesia, consisting of annual reports archieves from Semarang, Kedu and Yogyakarta, as well as inland roads survey reports of central Java. This study applied a structural-agency approach referred to as the field. Pierre Bourdieu explains that the relationship between different agencies in the same field may generate different practices. Thus, the geographical environment prompted Javanese people to build village road networks and establish their own road maintenance systems, such as preservation techniques and plantation of trees on the side of the road. The mountainous geographical landscape was also utilised by the villagers for livelihoods by providing porters and horse rental service. While the colonial administration instituted a system of constructing and maintaining roads and bridges to optimise the transport of agricultural products. Several road and bridge construction engineering works were applied to overcome the various environmental conditions that existed along the Semarang, Kedu, and Yogyakarta roads."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rizki
"Imperatif digunakan tidak hanya untuk komando (perintah) dalam bahasa Rusia. Imperatif juga digunakan untuk menunjukkan permintaan, dorongan bertindak, tuntutan, nasihat, dan rekomendasi. Penelitian ini mengkaji ragam imperatif yang terdapat pada dialog film Дорога На Берлин (Doroga Na Berlin) ‘Dalam Perjalanan Menuju Berlin’. Teori yang digunakan adalah teori morfologi Kuz’mina (2017), Kuznecova (2010), dan Maltzoff (1994). Tujuan dari penelitian adalah menunjukkan ragam-ragam imperatif. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil penelitian ini adalah lima dari enam ragam imperatif, yaitu komando, dorongan bertindak, permintaan, tuntutan, dan nasihat yang ditemukan pada 69 variasi imperatif ; dan ragam imperatif komando (perintah) mendominasi karena konteks percakapan didominasi oleh prajurit dalam situasi perang.
Imperatives are applied not only for commands in Russian language. Imperatives can be applied for requests, inducements to an action, demands, advices, and suggestions. This research studies the variety of imperatives presented in the dialogues of the film Дорога На Берлин (Doroga Na Berlin) ‘On the Road to Berlin’. The theories used are the morphological theories by Kuznecova (2010), Kuz’mina (2017) and Maltzoff (1994). The aim of this research is to show varieties of imperatives. The method used in this research is the descriptive method. The results are five out of six varieties of imperatives, which are commands, inducements to an action, requests, demands, and advices are applied in 69 varieties of imperatives; and the commands dominates since the context is the soldiers in a war situation."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Keisar Natanael
"Tulisan ini mengangkat tentang bagaimana musik dapat menjadi medium untuk menyingkap eksistensi subjek dengan menggunakan sudut pandang teori fenomenologi ontologi dari Martin Heidegger. Musik sendiri bukan hanya dikenal sebagai objek seni yang mampu menghibur, namun juga berkontribusi dalam sejarah. Musik berperan sebagai penanda waktu dan kultur di seluruh dunia sejak dahulu kala hingga saat ini, dan signifikansinya terhadap peradaban manusia sudah diakui oleh banyak budaya. Penulis menggunakan metode fenomenologi dengan mengkaji analisis dengan menggunakan sudut pandang fenomenologi Heidegger untuk mencari relevansi antara musik dan juga dampaknya untuk menjadi medium bagi seorang individu menyingkap eksistensinya. Dengan mengacu pada karya-karya Heidegger, penulis berusaha melihat bagaimana Heidegger melihat seni dan juga bagaimana ia menjelaskan eksistensi manusia dan bagaimana melalui teori Dasein, Heidegger menjabarkan cara untuk seorang individu menghidupi dirinya secara sepenuhnya. Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan bahwa dengan menerapkan konsep fenomenologi ontologis Heidegger dalam konteks musik, musik dapat menyediakan pengalaman eksistensial yang mendalam dan menghubungkan manusia dengan realitas ontologis.
This paper examines how music can be a medium to reveal the existence of a subject by using Martin Heidegger's ontological phenomenological point of view. Music itself is not only known as an art object that can entertain, but also contributes to history. Music has served as a marker of time and culture from the dawn of time to now, all around the world, and its significance to human civilization has been recognized by many cultures. The author uses a phenomenology method by examining the analysis using Heidegger's phenomenological viewpoint to discover the connection between music and also its path to become a medium for an individual to reveal his existence. By referring to Heidegger's works, the writer tries to see how Heidegger sees art and also how he explains human existence and how, through Dasein's theory, Heidegger describes how an individual can fully support himself. Through this paper, the writer would like to convey that by applying Heidegger's ontological phenomenological concept in the context of music, music can provide a deep existential experience and connect humans with ontological reality."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>