Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 40322 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Evelin Sabrina
"Arsitek berperan dalam memenuhi kebutuhan manusia melalui keterlibatannya membentuk lingkungan binaan bagi manusia. Lingkungan therapeutic adalah salah satu lingkungan binaan yang diciptakan oleh arsitek yang dapat memberikan kontribusi terhadap kesehatan manusia. Skripsi ini membahas kehadiran lingkungan therapeutic bagi kelompok manusia lanjut usia. Manusia dalam perkembangan hidupnya akan mencapai tahap tua dan kondisinya akan mengalami kemunduran dalam hal fisik dan psikologis. Pada lansia, kemunduran yang dialaminya dapat membuat mereka jarang berkegiatan di luar tempat tinggalnya. Tempat tinggal menjadi tempat dimana lansia banyak menghabiskan waktu didalamnya. Skripsi ini mengkaji tentang peranan tempat tinggal sebagai lingkungan therapeutic bagi lansia.
Peranan tempat tinggal sebagai lingkungan therapeutic dapat dilihat melalui dua peran yang dimilikinya yaitu sebagai fasilitator dan simbol kualitas. Peran sebagai fasilitator berkaitan dengan fungsi tempat tinggal dalam mendukung kegiatan lansia baik aktivitas fisik maupun interaksi sosial. Peran sebagai simbol kualitas berkaitan dengan informasi dan stimulasi dari lingkungan dalam mendukung pemenuhan psikologis lansia.
Dari studi kasus dapat dilihat sejauh mana tempat tinggal lansia dapat berperan sebagai lingkungan therapeuticc. Studi kasus dilakukan pada dua tempat tinggal yang dimiliki oleh lansia dan ditempati bersama keluarganya. Tempat tinggal yang dimiliki tidaklah dirancang khusus untuk lansia. Beberapa elemen dalam tempat tinggal memang berperan esensial sebagai sarana terapi karena ruang-ruang dan fasilitas yang ada mampu mendukung dan membantu kondisi lansia. Tetapi juga diperlukan sejumlah peningkatan untuk lebih memaksimalkan perannya sebagai lingkungan therapeutic. Peran lingkungan fisik tempat tinggal sebagai lingkungan therapeutic juga tidak lepas dari peran anggota keluarga lainnya yang tinggal bersama lansia.

Architects plays a part in fulfilling humans needs by its involvement in making a man made environment to humans. The therapeutic environment is one of the man made environments that is created by the architect that can give contributions to the human health. This thesis is about the presence of the therapeutic environment for the group of elderly people. Humans that is in a state of development will reach the elderly phase, which will decrease their physical and psychological abilities. To the elderly, this decrease of their abilities that they experience will make them do less activities outside their homes. Houses will be their place to do all sorts of indoor activities. This thesis will dig deeper to the role that houses play as the therapeutic environment to the elderly.
The role that houses play as a therapeutic environment can be seen as two roles that is as a facilitator and a quality symbol. The role as a facilitator is related with the function of houses that support the elders activities both in physical activites and in social interactions. The role as a quality symbol is related to the information and the stimulant from the environment that supports the fulfillment of the elderly psychology.
From the study case we could observe how far the elders houses act as a theraputic environment.The study case is done in two houses that is owned by an elder and their family. The house is not designed and built specially for elders. Some elements in the house does act as an essential for therapic facilities because the space and the facility supports the elderly conditions. But it needs some upgrades to maximize its role as an therapuetic environment. The role of the house as a therapeutic environment is also involved with other family members that is living together with the elders."
2008
S48439
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ika Soraya
"Masa lanjut usia (lansia) merupakan tahap terakhir dari tahapan perkembangan manusia yang sering diidentikan dengan masa penurunan dan ketidakberdayaan. Seiring menurunnya kemampuan fisik, lansia membutuhkan bantuan dalam kehidupannya sehari-hari. Living arrangements pengaturan mengenai dimana dan dengan siapa seseorang tinggal ? adalah salah satu perubahan yang dialami lansia berkaitan dengan aspek psikososial (Papalia, Olds, & Feldman, 2004). Penelitian Silverstein, Cong, dan Li (2006) mengindikasikan adanya pengaruh antara living arrangements dan psychological well-being. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran psychological well-being lansia yang tinggal bersama keluarga di rumah sendiri, lansia yang tinggal di rumah anak, dan lansia yang tinggal di panti werdha. Selanjutnya ingin diketahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan diantara ketiganya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara psychological well-being ketiga kelompok lansia.

Old age is the last phase of human development which often seen as a period of degradation. Since the physical abilities are getting weak, elderly require aid in their everyday life. Living arrangements ? the arrangements of where and with whom someone liveis one of change experienced by elderly related to psychosocial aspect ( Papalia, Olds & Feldman, 2004). Research by Silverstein, Cong, and Li (2006) indicated existence of influence between living arrangements and psychological well-being. By this research, the researchers are willing to find descriptions of psychological well-being of elderly who live in institution, adult children?s house, and own house. Besides, the researchers want to know whether there are difference which significant among the third groups. Result of the research found that there are significant differences among psychological well-being of the third groups of elderly."
Depok: Universitas Indonesia, 2007
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Latifa Habibah Haifa
"Isu lingkungan yang berkembang saat ini memicu perkembangan konsep green, tidak terkecuali dalam arsitektur interior. Konsep green dalam arsitektur interior mencakup penggunaan material yang ramah lingkungan dan bagaimana kualitas ruang dalam interior terbentuk. Salah satu jenis material yang sedang berkembang saat ini sebagai material dengan karakteristik mendekati kayu adalah bambu. Bambu dalam interior di Indonesia sangat identik dengan aplikasinya pada tempat-tempat komersil seperti restoran, resort, dan hotel. Sedangkan masyarakat Indonesia tentu lebih banyak berinteraksi dan menghabiskan waktu di rumah.
Penggunaan material bambu dalam interior rumah tinggal digunakan dalam kediaman Bapak Budi Faisal di Bandung. Material bambu dalam interior rumah tinggal tersebut dapat ditinjau berdasarkan teori green architecture yang berfokus pada analisis material dan kualitas ruang interior. Dengan melakukan analisis terhadap material bambu berdasarkan teori tersebut, berbagai kemungkinan penggunaan bambu dalam interior rumah tinggal dapat lebih di maksimalkan baik dalam segi pengolahan material hingga pembentukan kualitas ruang.

The environmental issue nowadays have triggering the development of green concept, includes in interior architecture. The green concept in interior architecture is including the use of eco-friendly materials and how to build the interior environment. One of the materials that have been developed nowadays with its similar characteristics to timber is bamboo. Bamboo application in Indonesia is still identical by its use in commercial areas such as restaurant, resort and hotels. Meanwhile, most of the Indonesian people spend their time at home to do some activities.
The use of bamboo in home interior can be found at Mr. Budi Faisal's House in Bandung. Bamboo at that home interior can be analyzed based on green architecture theory, that focusing on materials and interior environment quality. By analyzing the use of bamboo based on the theory, so many possibilities in term of bamboo using in home interior can be maximized in materials development until the making of interior environment quality.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S46325
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Waworuntu, Duska Henrike
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1997
S48202
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irza Nisrina Afifah
"ABSTRAK
Seiring dengan bertambahnya usia, terjadi perubahan pada lansia yang
menyebabkan kebutuhan mereka lebih spesifik, sehingga berimplikasi kepada
huniannya. Sementara itu, peningkatan jumlah lansia di Indonesia pada saat ini
mendorong berkembangnya hunian khusus lansia, baik berupa institusi (panti
werdha) yang bersifat pelayanan sosial, maupun hunian yang bersifat komersil.
Tulisan ini membahas bagaimana usia tua mempengaruhi kebutuhan lansia serta
melihat bagaimana kebutuhan tersebut dipenuhi di dalam huniannya. Disamping
melalui studi literatur, dalam tulisan ini juga dilakukan studi kasus pada dua jenis
hunian khusus lansia, yaitu PSTW Budhi Dharma dan Senior Living
D?Khayangan serta wawancara dengan tiga orang lansia yang menghuni kedua
hunian tersebut. Hasil menunjukkan bahwa kedua jenis hunian tersebut memiliki
kelebihan dan kekurangannya masing-masing dalam memenuhi kebutuhan
penghuninya. Walaupun begitu, ketiga responden tetap merasakan ketenangan dan
kebahagian seperti yang diinginkan selama menghuni hunian tersebut.

ABSTRACT
As get older, some changes occur in the elderly that cause to their needs become
more specific, also related to their house. Meanwhile, the increasing number of
elderly people in Indonesia nowadays affecting the development of specialized
housing for elderly, whether it be institutional (panti werdha) that are social
services based, as well as specialized housing for elderly that are commercial
based. This study discusses how old age affects the needs of elderly and to
observes how those needs met in their house. This study is not only based on
study of literature, but also case studies on two types of specialized housing for
elderly, PSTW Budhi Dharma and Senior Living D?Khayangan, and also
interviewed with three elderly people who inhabited those housing. Result showed
that each types of those housing have plus and minus points in order to meet the
needs of its inhabitants. However, the three respondents still feel serenity and
happiness as they desired during inhabited their house."
2015
S60613
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amanda Larissa M.S.P.
"Penulisan ini bertujuan untuk memahami bagaimana sebuah lingkungan interior dapat menghadirkan kualitas spasial yang menciptakan kontrol terhadap pergerakan (movement) dalam konsep continuous interior. Proses pemahaman ini ditelusuri melalui studi mengenai pembentukan sistem persepsi yang melibatkan fungsi sensori dan gerak tubuh.
Studi kasus dilakukan dengan melakukan penelusuran terhadap lingkungan interior melalui perspektif penyandang low vision. Ketidakoptimuman fungsi sensori visual terkait persepsi ruang, berdampak pada kesulitan berorientasi dan bernavigasi.
Studi terhadap penelusuran memberikan temuan bahwa beberapa perlakuan terhadap elemen-elemen ruang mampu menghasilkan kualitas spasial yang ditawarkan dalam konsep "continuous interior". Perlakuan terhadap elemen ruang yang repetitif menghasilkan kualitas kontinuitas (continuity).
Selain itu, perlakuan terhadap elemen ruang yang berfungsi sebagai landmark atau penanda menghadirkan kualitas keberagaman program (diversity of programme). Kedua kualitas spasial tersebut kemudian mampu mengarahkan alur pergerakan (directed flow) pernyandang low vision.

This undergraduate thesis focuses on understanding how an interior environment offers spatial qualities that could create control on movement, by looking at a theory called "continuous interior". The understanding process involves study on the construction of the perception system, which further involves comphrehension on sensory system and body movement.
Study cases for this thesis are done by interviewing and having a walk through an interior environment with people whom have low vision. The involvement of people with low vision is to understand the perspective of space from a low vision point of view, which leads to difficulties on orienting and navigating through space.
From the study case, it is found that several treatments towards spatial elements could create spatial qualities (continuity, diversed programme, directed flow) proposed by the theory of "continuous interior". Repetitive treatments on spatial elements create the spatial quality of continuity. Other than that, elements that are designed as landmarks create the spatial quality of diversed programmed. Both the spatial quality of continuity and diversed programme then creates another spatial quality of directing the movement (directed flow) of people with low vision.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2016
S65351
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayu Oktaviani
"Arsitektur mempengaruhi aspek kesembuhan dari pasien yang sakit. Perancangan lingkung bangun mengelola lingkungan fisik untuk memenuhi kebutuhan penyembuhan itu sendiri. Rumah rehabilitasi pengguna narkoba dengan metode Therapeutic Community (TC) memiliki kebutuhan khusus dalam proses penyembuhannya karena yang menjadi pasien adalah pengguna narkoba. TC adalah sebuah metode yang memiliki kekhasan hirarki dengan pendekatan perilaku. TC membutuhkan lingkungan fisik yang khusus untuk mendukung pemulihan dan mewadahi aktifitas komunal yang terjadi didalamnya karena TC mengedepankan aktivitas bersama dalam komunitas.
Skripsi ini akan membahas mengenai lingkungan fisik dari rumah rehabilitasi dengan metode TC murni. Sejauh mana ruang-ruang yang ada dapat mengakomodasi kebutuhan interaksi sosial dan membentuk organisasi ruang di dalamnya. Kemudian, bagaimana lingkungan tersebut dapat memberikan efek penyembuhan bagi residen didalamnya. Teori yang dipergunakan dalam skripsi ini antara lain teori mengenai interaksi sosial dan kebutuhan ruangnya, teori organisasi sosial dan pengolahan ruang dalam organisasi tersebut, kemudian teori mengenai lingkungan terapeutik dan teori mengenai TC itu sendiri sebagai pengetahuan dasarnya.
Skripsi ini mengambil studi kasus pada dua rumah rehabilitasi narkoba dengan metode TC murni yaitu UNITRA (Unit Terapi dan Rehabilitasi) Lido BNN (Badan Narkotika Nasional) dan FAN (For All Nations) Campus yang keduanya berada di wilayah Bogor.
Berdasarkan studi literatur dan pembahasan studi kasus, disimpulkan bahwa kebutuhan ruang secara fungsional dari kedua rumah rehabilitasi tersebut telah terpenuhi dan dapat mengakomodasi segala aktifitas yang ada di dalam TC dengan baik. Namun, ternyata pengaruh nilai kenyamanan dan privasi belum dipenuhi pada salah satu rumah rehabilitasi tersebut. Pengelolaan lingkungan sebagai media terapeutik belum dioptimalkan sebagai salah satu media penyembuhan yang lebih efektif.

Architecture may influence the recovery process of the patients. The design of physical environment must fulfill the needs of recovery. The rehabilitation house for the drag abuse patients with Therapeutic Community (TC) method has special needs for the recovery process. TC is one of the methods which have special approaching behavior with hierarchy. TC requires particular physical environment for supporting recovery and facilitating communal activities that occur inside because TC emphasize on communal's activities.
This writing discusses TC's physical environment. To what extent, in particular it examines existing spaces that can accommodate social interaction's needs and form of the space organization. It also examines what kind of physical environment can provide recovery effect for the residents within. The background theories include theories on social interaction and its built environment, theory of social organization and spacial organization, theory about therapeutic environment, and moreover theory about Therapeutic Community itself.
The case studies are consist two drug abuse rehabilitation houses with pure TC method. These are UNITRA (Unit Terapi dan Rehabilitasi) Lido BNN (Badan Narkotika Nasional) and FAN (For All Nations) Campus, both are located in Bogor.
Based on the theory and its application on case studies, it can be concluded that the needs of functional spaces for activities have been fulfilled and accommodated in both cases, but comfortability and privacy has not fulfilled. Thereapeutic environment has not been optimilized for recovery of the patients.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
S51569
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Belonia Prihandini Utami
"Hidup membuat anak penyandang autis kebingungan ketika tidak ada pola yang bisa dijadikan acuan. Lingkungan terprediksi perlu dihadirkan dalam rangka memberi pola acuan yang bisa dibaca dengan mudah oleh mereka. Rumah sebagai sebuah setting dimana derajat terprediksi ditemukan, dari segi ruang, waktu dan keberadaan keluarga menjadi penting untuk diungkap. Lingkungan terprediksi ternyata dicapai melalui penyediaan sebuah pola yang konsisten dan stabil lewat spatial sequencing of functions dan visual attributes. Kebutuhan khusus ruang ini mendukung tercapainya kebutuhan akan stimulasi, keamanan, dan identitas yang bersama koreografi spasial keluarga mengoptimalkan dan membantu anak penyandang autis mandiri dalam kesehariannya di rumah.

Life is bewildered when autistic child found no set pattern. The need for a predictable environment is a concern on autistic child life?s to provide them the set pattern, easy to read. Home as a setting where the predictability degree exists, on its space, time and family presence become important to be revealed. Predictable environment is achieved by providing a consistency and stability through spatial sequencing of functions and visual attributes. These special needs of space support the needs for spatial stimulation, security, and identity, moreover collaborate with family?s spatial choreography to optimize and support autistic child?s independence on their daily life at home."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S42664
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Anita Sari
"Masa lanjut usia, hampir selalu identik dengan berbagai macam perubahan yang mengarah pada kemunduran. Perubahan-perubahan yang dialami lansia pada aspek fisik, kognitif, sosial dan emosional sering berpengaruh terhadap kehidupan pribadi mereka. Keadaan kesehatan yang buruk, ingatan yang makin berkurang, kehilangan peran dalam pekerjaan; kehilangan pasangan hidup atau teman sejawat, merupakan contoh-contoh perubahan yang membuat mereka sering merasa tidak berharga, tidak berguna dan kurang menghargai diri sendiri. Lebih jauh lagi hal ini mempengaruhi keterlibatan dan pola interaksi mereka dengan lingkungan sekitarnya.
Selain itu masalah kesenjangan pengalaman antar generasi muda dan tua sekarang ini, tampaknya membuat kedudukan lansia yang pada masyarakat tradisional dulu merupakan sumber berkat dan restu, menjadi memudar. Menurut penelitian Berg dkk,1981 (dalam Schultz & Moore, 1982) keadaan ini sering menyebabkan lansia mengalami kehilangan 'kepercayaan diri serta lebih jauh lagi mengalami keterasingan dari teman-teman dan keluarga. Keadaan-keadaan tersebut diatas, menurut Schultz & Moore (1984) menimbulkan keterasingan sosial (social isolation) diantara para lansia sehingga mereka mengalami kesepian.
Dari poll pendapat yang dilakukan Haris dkk (dalam Schlutz & Moore, 1984) diperoleh hasil bahwa kesepian merupakan "masalah yang serius" menurut para lansia 65 tahun keatas. Demikian pula penelitian Schultz & Moore (1984) menunjukkan bahwa hampir seluruh subyek penelitian berusia 55-75 tahun mengalami kesepian (taraf sedang) dan hanya 10% yang mengatakan tidak pernah mengalami kesepian. Dengan berasumsi bahwa penelitian-penelitian tersebut dilakukan di Barat dengan kondisi budaya yang berbeda dengan di Indonesia, timbul keinginan penulis untuk meneliti keadaan tersebut di Indonesia, khususnya Jakarta. Adanya pergeseran pola keluarga (dari keluarga luas ke keluarga batih) yang banyak melanda kota-kota besar termasuk Jakarta, menimbulkan berbagai pilihan tempat tinggal bagi para lansia yang tinggal di kota-kota besar. Walaupun sebagian besar lansia di Indonesia tinggal bersama keluarga mereka dirumah, namun penyediaan sarana panti werdha yang memenuhi berbagai fasilitas memungkinkan lansia memilih tempat tinggal bagi mereka sendiri.
Dalam usaha mengetahui gambaran kesepian pada lansia di Jakarta, penulis akan membandingkan variabel tersebut pada kondisi lingkungan tempat tinggal lansia, yaitu lansia yang tinggal di rumah (dengan keluarga) dan lansia yang tinggal di panti werdha. Adapun subyek penelitian yang diambil berusia 60-80 tahun dan masih sehat, dalam arti belum mengalami senilitas, mengingat pengambilan data dilakukan dengan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedua kelompok tidak terdapat ?lansia yang mengalami kesepian tingkat tinggi (chronic loneliness). Sedangkan gambaran kesepian pada lansia yang tinggal di panti werdha menunjukkan sebagian besar mengalami kesepian tingkat sedang (situational loneliness) dan hanya sebagian kecil tergolong tingkat rendah (transient loneliness). Sementara lansia yang tinggal di rumah lebih banyak yang tergolong tingkat rendah (transient loneliness) dibandingkan tingkat sedang (situational loneliness).
Hasil ini menunjukkan bahwa pada kondisi masyarakat Indonesia, hubungan dan interaksi yang terjalin dalam keluarga masih belum dapat digantikan dengan hubungan sesama teman sebaya sehingga mereka yang tinggal di panti lebih merasa kesepian walaupun mereka berkumpul dengan teman seusia yang cenderung memiliki minat dan ide yang sama. Demikian juga tidak adanya lansia yang tergolong chronic loneliness menunjukkan bahwa rasa penghargaan dan penghormatan terhadap lansia yang dianggap "sesepuh" tampaknya masih berpengaruh sehinqqa dimanapun mereka berada kebutuhan akan hal-hal tersebut cukup terpenuhi."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1993
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Fauziyah
"Obat berpotensi tidak tepat (potentially inappropriate medications / PIMs) umumnya terjadi pada usia lanjut dengan multi morbiditas dan polifarmasi. PIMs menjadi salah faktor penyebab kejadian tidak diinginkan (KTD). Penelitian ini mengembangkan instrumen identifikator PIMs versi Bahasa Indonesia melalui adaptasi dari kriteria STOPP version 2, mengidentifikasi PIMs menggunakan instrumen STOPP versi Bahasa Indonesia, dan menilai hubungan PIMs dengan KTD. Adaptasi instrumen meliputi terjemahan kedepan, terjemahan balik, tinjauan pemegang otoritas, tinjauan tim ahli, dan pra uji. Tahap ini melibatkan penerjemah, pemegang otoritasi STOPP version 2, tim ahli, dan 34 apoteker rumah sakit umum (RSU). Tahap validasi diikuti 230 apoteker RSU di Indonesia dengan desain survei melalui post sampling. Tahap identifikasi PIMs dan menilai hubungan dengan KTD, melibatkan 63 pasien usia ≥ 60 tahun, multi morbiditas, dan menjalani hospitalisasi di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Data kategorikal dan dikotom dalam dalam jumlah (%), diskrit dalam mean ± SD. Analisis menggunakan Content validity ratio (CVR), content validity index (CVI), Pearson correlation, explanatory factor analysis (EFA) dan Cronbach alpha untuk validitas dan reliabilitas. Mann Whitney U Test untuk menilai perbedaan rata-rata (means) antara kelompok pasien dengan obat teridentifikasi PIMs dan tanpa PIMs. Analisis chi-square dan Kappa untuk menilai hubungan antara PIMs dengan KTD, pada α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan adaptasi instrumen STOPP version 2 ke Bahasa Indonesia dapat diterima. Setiap kriteria memberikan CVR > 0,75, r Pearson > 0,45 (p < 0,001), dan faktor loading > 0,4. Reliabilitas instrumen sebesar 0,978. Subyek penelitian pada tahap identifikasi PIMs melibatkan pasien usia 70 ± 7,7 tahun, komorbiditas 6,6 ± 2 CCI, terapi obat 9,9 ± 3,1 obat, dan lama hari rawat 16,3 ± 10,3 hari. Ada perbedaan rata-rata bermakna untuk variabel polifarmasi dan lama rawat antara dua kelompok subyek (p <0,001). Hubungan antara PIMs dengan KTD menunjukkan nilai kemaknaan, p < 0,001 dan nilai Kappa sebesar 0,72 (p < 0,001). Obat yang teridentifikasi PIMs dan menyebabkan KTD adalah golongan antihipertensi, obat dengan efek kolinergik, antikoagulan, dan OAINS. Mayoritas KTD yang diderita pasien, seperti hipotensi orthostatik (sesuai kriteria K3), hiponatremi (sesuai krietria A3 dan D4), perdarahan (sesuai kriteria C3 dan C5), dan penurunan LFG (sesuai kriteria E4). Penelitian menghasilkan instrumen STOPP versi Bahasa Indonesia yang valid dan reliabel dan hasil identifikasi PIMs memberikan pengukuran kesepakatan yang baik.

Potentially inappropriate medications (PIMs) commonly occur in the elderly with multiple morbidity and polypharmacy. PIMs are one of the factors causing adverse events (AEs). This study developed an Indonesian version of the PIMs identifier instrument through adaptation of the STOPP version 2 criteria, identifying PIMs using the Indonesian version of the STOPP instrument, and assessing the relationship between PIMs and AEs. Adaptations of the instrument include forward translation, reverse translation, authority review, expert team review, and pre-test. This stage involved the translator, the holder of STOPP version 2 authorization, a team of experts, and 34 general hospitals (GH) pharmacists. The validation phase was followed by 230 pharmacists at the RSU in Indonesia with a survey design through post sampling. The identification phase of PIMs and assessing the relationship with AEs involved 63 patients aged ≥ 60 years, multimorbidity, and underwent hospitalization at Cipto Mangunkusumo National Hospital. Data were categorical and dichotomous in numbers (%), discrete in mean ± SD. Data were analyzed with content validity ratio (CVR), content validity index (CVI), Pearson correlation, explanatory factor analysis (EFA) and Cronbach alpha for validity and reliability. Mann Whitney U test to assess the mean difference (means) between groups of patients with PIMs and without PIMs. Chi-square and Kappa analysis to assess the association between PIMs and AEs, at α = 0.05. The results showed that the adaptation of the STOPP version 2 instrument to Indonesian was acceptable. Each criterion gives a CVR> 0.75, Pearson's r> 0.45 (p <0.001), and a loading factor> 0.4. The reliability of the instrument was 0.978. Research subjects at the PIMs identification stage involved patients aged 70 ± 7.7 years, comorbidity 6.6 ± 2 CCI points, drug therapy 9.9 ± 3.1 drugs, and length of stay 16.3 ± 10.3 days. There was a significant mean difference for polypharmacy variables and length of stay between the two groups of subjects (p <0.001). The correlation between PIMs and AEs showed a chi-square value of p <0.001 and a Kappa value of 0.72 (p <0.001). Drugs identified as PIMs and causing AEs are antihypertensive, drugs with cholinergic effects, anticoagulants, and NSAIDs. The majority of adverse events suffered by patients, such as orthostatic hypotension (according to K3 criteria), hyponatremia (according to A3 and D4 criteria), bleeding (according to criteria C3 and C5), and decreased eGFR (according to criteria E4). The study produced a valid and reliable Indonesian version of the STOPP instrument and the results of the identification of PIMs provided a good measure of agreement to AEs."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2021
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>