Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 142293 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yovi Efidori
"Permintaan akan menara pada Industri Telekomunikasi mengharuskan perusahaan penyedia penyewaan menara mengaplikasikan ilmu manajemen proyek dalam melakukan pembangunan menara yang baru dimana proses yang dibutuhkan selain rumit juga terdiri dari ratusan atau ribuan proses. Dengan pengaplikasian ilmu manajemen proyek maka perencanaan yang dilakukan dalam pembuatan menara menjadi lebih rapi dan detil sehingga jadwal pelaksanaan proyek menjadi sesuai dengan perencanaan proyek maka keterlambatan dalam waktu penyelesaian proyek dapat dihindari.
Untuk memenuhi kualitas proyek pembangunan menara maka diperlukan suatu manajemen kualitas proyek dan bisnis proses yang baik agar pembangunan menara bisa mencapai waktu pembangunan yang diinginkan, sehingga dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan seperti yang diharapkan, data yang di dapat anatara lain adalah data mengenai lokasi yang memiliki kekurangan material ukuran kecil maupun besar, kurang lubang, kualitas material galvanis yang buruk, spesifikasi vendor, pemesanan material, dan kapasitas produksi vendor.
Kesimpulannya adalah ketidak presisian material tower dan kurang lubang adalah karena 57% vendor masih melakukan pabrikasi secara manual, dan vendor menggunakan karung goni pada saat packaging material tower kecil, serta overload dari vendor yang mengakibatkan lamanya produksi material tower.

The demands of towers in Telecommunication Industry recently require a tower provider company to apply Project Management on their next project which process is going to be complicated and contains hundreds or thousands processes. With the implementation of project management, the process in erecting tower can be well-planned so the project schedule appropriate with the project plan and the delay of time in finishing a project can be avoided.
To fulfill the quality of tower erecting project, it requires a wellknowledged of project quality management and business process to reach the time that we wish to achieve customer satisfaction. The focus in this study includes some data such as: some locations that have a lack of amount in materials both in small size and big size, lack of hole, terrible galvanish quality material, vendor specification, material order, and vendor capacity production.
The conclusion is the unprecision of tower material and the lack of hole is because 57% of vendors still do the manufacturing manually, and vendors use gunny sack in packaging for the smaller material of tower, and they are also overload so that cause the production of tower material need more lenght of time.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S51909
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Munjida Fitri
"Penelitian ini dilakukan untuk analisis manajemen pengetahuan pada Divisi Project Management & Operation Maintenance dan Divisi Logistik pada sebuah perusahaan tower provider telekomunikasi. Digunakan metode SMARTVision sampai pada tahap konseptual model. Dilakukan identifikasi terhadap infrastruktur teknologi, strategi manajemen pengetahuan yang tepat, budaya knowledge sharing, dan audit pengetahuan. Dilakukan pengambilan data primer berupa kuisioner dan semi structured interview dengan responden pada level manajer dan middle up manajer dalam organisasi.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa sebagian besar pengetahuan pada kedua divisi tersebut masih berbentuk pengetahuan tacit. Penelitian juga menghasilkan 104 jenis pengetahuan dan taksonomi pengetahuan-pengetahuan tersebut untuk mengetahui knowledge flow dalam organisasi. selain itu, knowledge gap yang ada dalam organisasi juga diidentifikasi. Knowledge gap ini selanjutnya dijadikan dasar dalam membuat prioritas pengembangan pengetahuan.

This research was conducted to analyse knowledge management on Division of Project Management & Operation Maintenance and Division of Logitic at a company providing tower for telecommunication. This research used SMARTVision's methodology which limited to conceptual modeling's procedure. It identified the information technological infrastructure, knowledge management strategy which in line with the organization strategy, knowledge sharing culture, and knowledge audit. Several questionnaires and semi structured interview were used to perform data gathering. The respondents were those in manager and middle up level of manager in the organization.
The result showed that most of knowledge in those divisions were still in tacit knowledge. 104 knowledge was identified. Furthermore a knowledge taxonomy was established to know flow of knowledge. Finally, the existing of knowledge gap was identified and then used as a basis on establishing knowledge development priority.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S50387
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Maryono NB
"Setiap proyek adalah penting. Setiap proyek pasti mempunyai risiko. Oleh karena itu, kita perlu mengelola risiko proyek dengan baik. Manajemen risiko telah menjadi bagian utama dari sebuah manajemen proyek. Dalam setiap aktivitas proyek terdapat beberapa risiko yang mempunyai probabilitas dan dampak yang berbeda-beda terhadap pencapaian tujuan proyek. Tim proyek diharapkan dapat mengidentifikasi risiko secara teliti pada setiap aktivitas proyek tersebut.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi risiko proyek adalah dengan mengidentifikasi dan mengelompokkan risiko berdasarkan Work Breakdown Structure (WBS). Melalui metode ini kita akan mengetahui risikorisiko yang terdapat pada setiap aktivitas proyek. Kemudian risiko yang teridentifikasi ini perlu diurutkan berdasarkan prioritas penanganan yang diperoleh dari matriks probabilitas - dampak risiko.
Pada umumnya, aktivitas dalam proyek mempunyai urutan pengerjaan yang menghubungkan suatu aktivtas dengan aktivitas lainnya, demikian halnya dengan risiko suatu aktivitas dalam proyek juga mungkin mempunyai keterkaitan dengan risiko pada aktivitas yang lain. Adanya keterkaitan ini memungkinkan sebuah tindakan penanganan risiko dapat sekaligus menangani beberapa risiko atau mempengaruhi risiko yang lain, sebaliknya sebuah risiko memungkinkan untuk ditangani dengan oleh berbagai tindakan penanganan risiko. Oleh karena itu, untuk memperoleh tindakan penanganan risiko yang efektif maka perlu dicari sumber risiko serta hubungan antar risiko melalui analisis keterkaitan risiko atau menggunakan diagram keterkaitan risiko.
Pada akhirnya, melalui analisis jalur kritis proyek serta pendekatan House of Quality (HOQ) dimana risiko merepresentasikan kebutuhan pelanggan dan tindakan penanganan risiko merepresentasikan tanggapan teknis maka akan diperoleh total bobot dari setiap alternatif tindakan penanganan yang akan menentukan prioritas tindakan penanganan yang akan dilakukan. Berdasarkan hasil analisis jalur kritis proyek serta pendekatan HOQ ini maka diperoleh 11 tindakan penanganan utama yang diurutkan berdasarkan prioritas untuk dipilih dan dilakukan.

Every single project is important. Every project has their own risks. That is why we have to manage project risk with great concern. Risk management has become a central part of project management. In every project activity we will find number of risks, each with different probabilities and severity levels prior to the achievement of the project?s goal. Project team is expected to be able to identify carefully and thoroughly every project activity.
One of the methods applicable in identifying project risk is by identifying and grouping project risks using Work Breakdown Structure (WBS). By using this method we can identify existing risks in every single project activity. The identified risks then will be needed to be ranked based on treatment priority list from the probability - severity matrix.
In general, every activity in a project lines in a sequence. This sequence places every activity in a relation with another activity. The condition of interrelated activities in the project leads the research to the possibility of the interrelating risks within different activities. This interrelationship might allow a risk treatment activity to deal with the treatment of more than one existing risks in the project. In contrast, a single risk might be treated by several risk action activities. In order to find the most effective treatment activities to apply to the project risks, the source of the risks along with the risks? interrelationship will need to be defined by using risk interrelationship analysis or risks - risk treatment activity alternatives interrelationship diagram.
Finally we can get a total weight of every treatment activity alternatives from the analysis of the project?s critical path combined with House of Quality (HOQ) approach where the risk represents customer?s needs and risk treatment activities represents technical response. The result will be a priority list that can be used to decide which treatment activities to be realized. Based on the project critical path analysis and the HOQ approach, this research came to the finding of 11 major treatment activities sorted by the priority to be chosen and taken.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S50359
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Utomo Dhanu Saputra
"Penelitian ini bertujuan mencari metode yang paling tepat pada manajemen proyek pembangunan menara telekomunikasi untuk itu dilakukan komparasi antara metode critical chain dengan metode critical path. Dilakukan penelitian manajemen waktu proyek pada pembangunan menara telekomunikasi, dimana dibuat penjadwalan dengan dua metode berdasarkan Project Management Body of Knowledge dan hasilnya diperbandingkan dengan faktor pembanding triple constraint dan faktor umum.
Didapatkan hasil total durasi untuk metode critical chain adalah 197,75 hari sedangkan metode critical path mencapai 207 hari, dan disimpulkan bahwa metode critical chain lebih unggul pada faktor ruang lingkup, waktu dan output. Sedangkan metode critical path lebih unggul pada faktor input dan proses.

The purpose of this research is looking for appropriate method in Telecommunication Tower Construction Project Management by doing comparison between critical chain and critical path method. Researching in project time management of telecommunication tower construction which researcher made two scheduling, critical chain and critical path, base on Project Management Body of Knowledge and compare the result with triple constraint factor and general factor as comparator factors.
The result of this research are total of duration of critical chain method is 197,75 days and total of duration critical path method is 207 days. Conclusion of comparison is critical chain method is better in scope, time and output factors whereas critical path method is better in input and process factors.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S50383
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Miko Bayu aji
"Konsep nilai hasil adalah teknik pengukuran kinerja poyek yang merupakan salah satu bentuk pengendalian biaya dalam suatu sistem manajemen biaya proyek. Konsep ini perlu diterapkan pada pengendalian biaya PT IT mengingat banyaknya status overbudget untuk proyek-proyeknya. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan hasil evaluasi kinerja manajemen biaya proyek-proyek PT IT dan analisisnya sehingga dapat dijadikan input oleh PT IT dalam melakukan perbaikan pada proyek-proyek berikutnya.
Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan menara telekomunikasi bertipe greenfield new site yang dimulai pada tahun 2006 dan telah berakhir pada tanggal 30 April 2007. Tahan pengumpulan dan pengolahan data untuk penelitian ini dibagi ke dalam 3 tahap. Pada tahap pertama yaitu tahap pengestimasian biaya, penulis mengumpulkan data estimasi biaya-biaya proyek dari PT IT. Pada tahap kedua yaitu tahap penganggaran, penulis menyusun standar anggaran setiap proyek. Pada tahap ketiga yaitu tahap pengendalian biaya, penulis menggunakan tiga indikator konsep nilai hasil yaitu SPI, CPI, dan CR untuk mengevaluasi kinerja proyek.
Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa secara umum kinerja proyek dari sisi manajemen biaya masih buruk. Saat evaluasi dilakukan dengan mengelompokkan proyek menurut area pembangunannya, area Sumatera menjadi satu-satunya area yang memiliki kinerja baik. Saat evaluasi dilakukan dengan mengelompokkan proyek menurut ketinggian menaranya, tidak ada satu kelompok pun yang memiliki kinerja baik.
Dari analisis juga diketahui bahwa kegiatan sewa/beli lahan, penyambungan PLN, ME, serta pagar dan halaman secara umum menguasai lebih dari 80% penyimpangan yang terjadi. Rencana tindakan perbaikan yang sebaiknya dilakukan PT IT adalah melakukan updating data harga tanah secara periodik, melakukan updating data harga per unit material atau per volume pekerjaan untuk kegiatan konstruksi, serta meninjau kembali standar volume pekerjaan konstruksi yang selama ini digunakan.

Earned value technique is a project performance measurement method which is a form of cost control in a project cost management system. This technique is needed by PT IT because it has many projects in overbudget status. The objective of this research is to get the result and analysis of project cost management performance evaluation so that it can be used as PT IT's input to improve it next projects.
The research is implemented in greenfield new site projects which started in 2006 and had ended at April 30th 2007. There are 3 steps in data collecting and processing phase. In the first step, cost estimation, writer collected cost estimation data from PT IT. In the second step, cost budgeting, writer arranged budget for every project. In the last step, cost control, writer used 3 earned value technique's indicator, SPI, CPI, and CR to evaluate project performance.
The result of data processing indicates that in general projects have bad performance. When evaluation done by grouping data according to it development area, Sumatera become the only one that has good performance in CPI. When evaluation done by grouping data according to it tower's height all of the groups have bad performance.
Analysis phase also give information that more than 80% of total variance scattered only in 4 activities: land renting/buying, PLN connection, ME, and fence and yard. Corrective action planning that PT IT should do is periodically update land price, periodically update material price per unit or price per volume of work, and review standard volume of construction work that was used for arranging standard budget.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S50261
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Roihan Nugroho
"Tesis ini membahas tentang analisis risiko-risiko apa saja yang dihadapi oleh PT A Tbk. pada proses pembangunan menara, analisis dalam penyusunan manajemen risiko dalam implementasi ISO 9001:2015 yang dapat diterapkan pada PT A Tbk. serta analisis hasil dari penyusunan manajemen risiko dalam implementasi ISO 9001:2015 yang dapat diterapkan pada PT A Tbk. Ruang lingkup penelitian ini yaitu berfokus kepada proses pembangunan menara. PT A Tbk. merupakan Perusahaan yang bergerak dalam industri penyedia menara. Penelitian ini menggunakan pendekatan COSO Enterprise Risk Management dalam menyusun manajemen risiko pada PT A Tbk. dengan mempertimbangkan standar ISO 9001:2015. Penelitian ini melakukan observasi, diskusi kelompok dan analisis dokumen dalam melakukan penyusunan manajemen risiko.
Kesimpulan yang didapat sehubung dengan penelitian ini adalah PT A Tbk. menghadapi risiko-risiko, berikut: keterlambatan dalam pembangunan menara, biaya aktual pembangunan menara lebih besar dibandingkan yang telah dianggarkan, ketidakmampuan dalam pembangunan menara dan menara tidak sesuai dengan persyaratan yang telah disetujui. Hasil dari penelitian ini yaitu risk register yang menggambarkan menggambarkan risiko yang telah teridentifikasi, sumber risiko, penilaian risiko, risk respond, aktfitas pengendalian, target residual risk, mitigation plan, residual risk II dan person in-charge terkait dengan mitigation plan.

The focus of this study is to analyze the risks faced by PT A Tbk. especially, in the tower development process, the analysis in the design of risk management in the implementation of ISO 9001 2015 that can be applied to PT A Tbk. As well as analysis of the results of risk management in implementation of ISO 9001 2015 which can be applied to PT A Tbk.. The scope of this research is to focus on the tower construction process. PT A Tbk. is a company engaged in the tower provider industry. The researcher uses the COSO Enterprise Risk Management approach in design risk management at PT A Tbk. taking into account the ISO 9001 2015 standard. Researchers conducted observations, group discussions and document analysis in the design of risk management.
The conclusion reffering to research result is PT A Tbk. facing risks, the following the delay in tower construction, the actual cost of tower construction is greater than that already budgeted, the inability to build towers and towers does not comply with the agreed requirements. The results of this study are risk registers that describe the identified risks, risk sources, risk assessment, risk respond, control activity, residual risk target, mitigation plan, residual risk II and person in charge related to mitigation plan.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sigit Budi Jatmiko
"Ide dan teori manajemen kualitas dari W. Edward Deming telah diimplementasikan di dunia dalam industri manufacture dan jasa. Fokus penelitian ini adalah untuk menguji Deming Management Method dengan memasukan interfensi indikator pengukur dalam proyek telekomunikasi dengan studi kasus industri telekomunikasi di Indonesia. Dalam penelitian ini akan dianalisis pengaruh indikator pengukur yang diinterfensikan dan korelasi dari hubungan yang dihipotesiskan semuanya terkait secara positif, diawali dengan analisa hubungan antar variabel dengan menggunakan analisa PLS-SEM. Selanjutnya dianalisa apakah ada dukungan kuat untuk menerapkan ajaran dan gagasan W. Edwards Deming ke peningkatan manajemen kualitas proyek telekomunikasi. Dari rumusan masalah akan dianalisa apa saja yang perlu dievaluasi dari hubungan antara Deming Management Method dan peningkatan manajemen kualitas, dan strategi aplikasi yang dapat meningkatkan manajemen kualitas proyek telekomunikasi di Indonesia. Analisa pemetaan dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) dan strategi pengembangan yang didapat akan dilihat pengaruhnya dengan studi kasus Project Cloud Phase 2 (sebelum penerapan) dan Project Cloud Phase 3 (setelah penerapan) di PT. XYZ. Pengaruh sebelum dan sesudah diukur dengan angka kepuasan stakeholder dengan menggunakan metode Customer Satisfaction Index (CSI). Hasil penelitian menunjukan bahwa Penerapan Deming Management Method dapat memberikan pengaruh positif dan dapat meningkatkan kinerja manajemen kualitas dalam proyek telekomunikasi di Indonesia.

Quality management ideas and theories from W. Edward Deming have been implemented in the world, especially in the manufacturing and service industries. The focus of this research is to examine the Deming Management Method by including the intervening of the measuring indicators in the telecommunication project with the telecommunications industry case study in Indonesia. In this research, we will analyze the effect of the measured indicators and the correlations of the hypothesized relationships that are all positively related, begin with an analysis of the relationship between variables with the PLS-SEM approach. From the formulation of the problem will be analyzed what needs to be evaluated from the relationship between the Deming Management Method and improving quality management, and strategy that can improve the quality management of telecommunications projects in Indonesia. Mapping analysis use Importance Performance Analysis (IPA) method and development strategies obtained will be seen its influence with the Project Cloud Phase 2 (before application) and Project Cloud Phase 3 (after aplication) case studies at PT. XYZ. The influence before and after is measured by stakeholder satisfaction figures using the Customer Satisfaction Index (CSI) method. The results showed that the application of Deming Management Method can have a positive influence and can improve the performance of quality management in telecommunications projects in Indonesia."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Martina Ratna Uli
"Pemeliharaan merupakan aktivitas yang harus dilakukan untuk mempertahankan kondisi fasilitas seperti pada saat awal dan dapat terus berproduksi sesuai dengan kapasitas aslinya. Pemeliharaan secara berkala dan kunjungan pemeriksaan ke semua menara menjadi bagian dari pendekatan pemeliharaan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan. Pemeliharaan menara dan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) yang baik akan menjamin operasional BTS. Namun tetap saja, setiap kegiatan operasional dan pemeliharaan yang dilakukan oleh suatu perusahaan tidak akan pernah bisa lepas dari risiko yang mungkin terjadi. Manajemen risiko perlu dilakukan untuk mengidentifikasikan, mengukur, dan kemudian menyusun strategi penanganan risiko.
Penelitian ini dilakukan dalam ruang lingkup pelaksanaan pemeliharaan menara telekomunikasi pada PT X, dimana kegiatan pemeliharaan didefinisikan sebagai seluruh aktivitas yang dilakukan sejak site selesai dibangun. Item risiko akan dinilai berdasarkan survei lalu kemudian disusun mulai dari risiko yang termasuk kategori tinggi sampai dengan kategori rendah. Risiko yang termasuk dalam peringkat lima besar yang akan masuk dalam tahap analisis alokasi biaya dengan menggunakan OptQuest.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh usulan penanganan untuk setiap risiko dan memperoleh alokasi biaya yang optimal untuk lima risiko teratas. Hasil yang ingin didapatkan dari simulasi tersebut adalah optimasi alokasi biaya yang ada dengan beberapa asumsi dana yang tersedia untuk mengelola resiko.

Maintenance represents activity that company must do to get the facility condition as build and to get the facility original capacities. Periodical maintenance and control visit to all towers become the part of approach maintenance-focused that company done. Good maintenance of tower and Base Transceiver Station infrastructure can guarantee operational of BTS. But every process done by every companies can never be free from risks that may happen. Therefore a risk management need to be accomplished to identificate, measure and then prepare strategy to manage risks as base to build risk management intact.
This research is done in telecommunications tower maintenance at PT X, where maintenance activities defined as all activity conducted since site have been developed. Risk item will be assessed by survey; then compiled the risk from high category up to low category. Risk which include in five biggest enter in phase analyze cost allocation by using OptQuest.
The research`s objectives are to get response planning to each risk and do budget alocation analysis to mitigate the risks. The expected result from the simulation is optimation of budget allocation with several available budget assumptions to manage the risks."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
S50260
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hajar Prastyani Hapsari
"Penelitian ini bertujuan untuk meneliti kriteria-kriteria utama yang menjadi prioritas dalam implementasi Human Capital Management (HCM) dan menilai sejauh mana kesiapan perusahaan dalam rangka mengimplementasikan HCM berdasarkan Newbury Index Rating (NIR). Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan dalam penentuan prioritas dan pembuatan model rating. Sedangkan skala NIR digunakan untuk menilai kesiapan implementasi HCM. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi serta menggunakan data sekunder. Diperoleh hasil kriteria dan sub-kriteria yang menjadi prioritas dalam implementasi HCM adalah strategi human capital dan pemenuhan fungsi HR di perusahaan. Sedangkan persentase kesiapan perusahaan secara keseluruhan sebesar 40.37% atau berada pada rating B. Skor perusahaan dalam rangka implementasi HCM adalah 12.11 (dari skor maksimal 30) dimana rating criteria kedewasaan human capital adalah C+, rating strategi human capital adalah B+, dan rating kriteria pengukuran kinerja adalah B-.

The objectives of this research are determining criterion for implementing Human Capital Management (HCM) based on their importance, and assessing the readiness of a tower provider company in implementing HCM based on Newbury Index Rating (NIR) method. Analytic Hierarchy Process (AHP) was used in determining the priority of criteria, and developing rating model to measure the company readiness in implementing HCM. Moreover, NIR scale was used in detrermining the readiness for implementing HCM. The data was colected by deep interview, observation, and verification on secondary data. It turns out that human capital strategy was considered as the most important criteria, and the fulfillment of Human Resource Department function was considered as the most important sub-criteria. The overall percentage of company's readiness in implementing HCM was 40.37% or at level B. Company overall score was 12.11 (on the scale of 30), which was elaborated into the three perspectives of NIR giving the result of C+ for human capital maturity, B+ for human capital strategy, and B- for people measure."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
S50297
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Anindya Julianto
"ABSTRAK
Menentukan strategi yang tepat membuat perencanaan proyek penting berdasarkan perjanjian kerja, perjanjian itu dibuat untuk melindungi kedua belah pihak dalam melaksanakan pekerjaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kerangka kerja manajemen risiko dari sektor kontraktor telekomunikasi di Indonesia. Sebagian besar perusahaan telekomunikasi telah menerapkan sistem pembayaran ditunda berdasarkan kesepakatan. Proses penelitian ini mengembangkan kerangka kerja, evaluasi, dan mitigasi. Penelitian ini telah dilakukan dari penelitian sebelumnya terkait dengan risiko proyek dan manajemen risiko dalam perspektif kontraktor untuk mengembangkan kerangka kerja awal. Data dibangun dari penelitian sebelumnya dan sampel diambil dari beberapa perusahaan sejenis. Pendekatan kuantitatif yaitu survei dan wawancara ahli untuk mengkonfirmasi kerangka awal kemudian divalidasi dengan forum diskusi kelompok. penelitian ini diharapkan dapat mengetahui apa risiko dan mengurangi tingkat risiko tertinggi dengan mitigasi risiko. Penelitian ini mengusulkan kepada praktisi untuk mengelola rencana proyek dengan mempertimbangkan risiko proyek dan juga untuk para pemangku kepentingan atau investor untuk memutuskan investasi pada proyek ini.

ABSTRACT
Determine the right strategy of make project planning is important based on work agreement, the agreement was made to protect both parties in carrying out the work. The aim of this paper is to identify risk management framework for telecommunication contractor sector in Indonesia. Most of telecommunication companies have applied with postpone paymen system by agreement. The process of this paper is developing the framework, evaluate, and mitigation. This paper has been conducted from previous research related with project risk and risk management in contractor perspective to develop initial framework. Data was generated from previous research and sample was taken from some similar companies. The quantitative approach which are survey and expert interview to confirm the initial framework then validating by forum group discussion. This paper expected to find out what the risk and reduce the highest risk level with risk mitigation. This paper proposed to practitioners for manage the project plan by considering project risk and also for stakeholders or investor to decide investment on this project."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia , 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>