Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 111820 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sondang, Irene Erisandy
"ABSTRAK
Efisiensi penggunaan lahan yang serba terbatas di perkotaan mendorong
timbulnya kebijakan membangun sistem hunian ke atas. Pembangunan rumah susun
dianggap sebagai pemecahan masalah perumahan yang tepat untuk Jakarta.
Banyak yang pro dan kontra sehubungan dengan pembangunan rumah susun.
Ada pendapat bahwa sehubungan dengan karakteristik fisik bangunan, pembangunan
tempat tinggal secara vertikal kurang mendukung hubungan sosial penghuninya maupun
aktivitas keluarga yang biasa dilakukan, menciptakan suasana tidak akrab, individualistis
dan sebagainya.
Di Indonesia, kehadiran rumah susun sebagai pemukiman baru menuntut adanya
sejumlah perubahan sosial budaya dari penghuninya. Perubahan pola hidup tidak begitu
saja tercipta, jadi mereka harus melakukan adaptasi dengan lingkungan baru mereka.
Masalah-masalah yang muncul sehubungan dengan tinggal di rumah susun bila
tidak segera diatasi akan menimbulkan keadaaan yang tidak menyenangkan atau
ketidaknyamanan bagi penghuninya, yang selanjutnya menyebabkan ketidakpuasan
terhadap tempat tinggalnya. Keadaan ini dapat membuat orang menjadi enggan tinggal di
rumah susun. Oleh sebab itu, dalam pembangunan rumah susun perlu diperhatikan
kepuasan warga penghuni rumah susun, agar orang senang tinggal di rumah susun dan
rumah susun menjadi lebih memasyarakat.
Kepuasan terhadap tempat tinggal dipengaruhi oleh adanya defisit normatif yang
muncul akibat adanya kesenjangan/perbedaan antara kondisi aktual (kenyataan) dari
tempat tinggal dengan norma yang berlaku mengenai tempat tinggal (kondisi yang
dianggap ideal). Sehubungan dengan faktor demografis dan sosial ekonomi keluarga
sebagai penghuni rumah susun, ada dugaan terdapat variasi psikologis dalam atau persepsi terhadap adanya defisit yang akan menghasilkan variasi pada kepuasan
terhadap tempat tinggal. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka
masalah dari penelitian ini adalah bagaimana gambaran kepuasan terhadap tempat tinggal
pada penghuni rumah susun Kebon Kacang? Aspek manakah yang paling berpengaruh
terhadap kepuasan? Bagaimanakah pandangan penghuni rumah susun Kebon Kacang
mengenai suatu tempat tinggal yang ideal? Bagaimanakah persepsi penghuni rumah
susun Kebon Kacang mengenai kondisi aktual tempat tinggalnya? Bagaimanakah
pandangan penghuni rumah susun Kebon Kacang mengenai hal-hal yang dianggap
penting di rumah susun?
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pengetahuan yang Iebih
mendalam mengenai kepuasan terhadap tempat tinggal, khususnya rumah susun sebagai
tempat tinggal dan memberikan gambaran mengenai kepuasan terhadap tempat tinggal
dari para penghuni rumah susun.
Penelitian ini menggunakan disain penelitian survai deskriptif dengan ibu rumah
tangga sebagai unit analisanya. Penelitian ini mengambil Iokasi di rumah susun Kebon
Kacang Jakarta Pusat, dengan 80 orang responden yang diambil dengan teknik purposive
sampling.
Dari penelitian ini disimpulkan bahwa secara umum penghuni rumah susun
Kebon Kacang puas dengan tempat tinggalnya dengan golongan kepuasan sedang yang
mempunyai persentase terbesar di dalam sampel penelitian ini. Aspek lingkungan, aspek
space/ruang, dan aspek kualitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan
penghuni rumah susun. Sedangkan aspek status kepemilikan dan aspek lain-lain bukan
merupakan penentu yang balk dalam pengaruhnya pda kepuasan terhadap tempat tinggal
di rumah susun. Secara umum dapat dikatakan bahwa perbedaan karakteristik demografi
dan sosial ekonomi tidak diikuti oleh perbedaan tingkat kepuasan.
Dari penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa aspek lingkungan adalah aspek
yang cukup dominan dalam menggambarkan rumah susun yang ideal, berikutnya aspek
space/ruang adalah aspek kedua yang cukup dominan mempunyai pengaruh terhadap
tingkat kepuasan. Sedangkan berdasarkan persepsi warga terhadap kondisi aktual tempat
tinggalnya secara umum sudah memenuhi pandangan normatif mengenai rumah susun
yang ideal meskipun dapat dikatakan kesesuaian itu tidak terlalu besar."
1998
S2522
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Menik Idayu Ambarsari
"ABSTRAK
Efisiensi penggunaan lahan yang serba terbatas di perkotaan mendorong
timbulnya kebijakan membangun sistem hunian ke atas. Pembangunan rumah
susun murah dipandang sebagai pemecahan masalah perumahan yang tepat untuk
Jakarta, khususnya untuk masyarakat kelompok ekonomi menengah-bawah.
Banyak muncul pro dan kontra sehubungan dengan pembangunan rumah
susun. Ada pendapat bahwa sehubungan dengan karakteristik fisik bangunan,
pembangunan tempat tinggal secara vertikal kurang mendukung hubungan sosial
penghuninya maupun aktivitas keluarga yang biasa dilakukan, menciptakan suasana
tidak akrab dan individualistis dan sebagainya.
Di Indonesia, kehadiran rumah susun sebagai pemukiman baru menuntut
adanya sejumlah perubahan sosial budaya dari penghuninya. Perubahan pola hidup
tidak begitu saja tercipta, karena sebagaimana diketahui sebagian besar masyarakat
kita masih terbiasa tinggal di rumah-rumah horisontal (rumah datar). Jadi, mereka
harus melakukan adaptasi dengan lingkungan baru mereka.
Masalah-masalah yang muncul sehubungan dengan tinggal di rumah susun
bila tidak segera diatasi akan menimbulkan keadaan yang tidak menyenangkan atau
ketidaknyamanan bagi penghuninya, yang selanjutnya menyebabkan ketidakpuasan
terhadap tempat tinggalnya. Keadaan ini dapat membuat orang menjadi enggan
tinggal di rumah susun. Oleh sebab itu, dalam pembangunan rumah susun perlu diperhatikan kepuasan warga penghuni rumah susun, agar orang senang tinggal di
rumah susun dan rumah susun menjadi lebih memasyarakat.
Kepuasan terhadap tempat tinggal dipengaruhi oleh adanya defisit normatif
yang muncul sebagaj akibat adanya kesenjangan/perbedaan antara kondisi aktual
(kenyataan) dari tempat tinggal dengan norma yang berlaku mengenai tempat
tinggal (kondisi yang dianggap ideal). Sehubungan dengan faktor demografi dan
sosial ekonomi keluarga sebagai penghuni rumah susun, ada dugaan terdapat variasi
psikologis dalam toleransi atau persepsi terhadap adanya defisit yang akan
menghasilkan variasi pada kepuasan terhadap tempat tinggal. Berdasarkan latar
belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah dari penelitian ini adalah
bagaimana gambaran kepuasan terhadap tempat tinggal pada penghuni rumah
susun?
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pengetahuan yang lebih
mendalam mengenai kepuasan terhadap tempat tinggal, khususnya rumah susun
sebagai tempat tinggal dan memberikan gambaran mengenai kepuasan terhadap
tempat tinggal dari para penghuni rumah susun.
Penelitian ini merupakan penelitian awal yang menggunakan disain
penelitian survai deskriptif dengan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Sampel
penelitian ini adalah keluarga penghuni rumah susun dengan kepala keluarga
sebagai unit analisanya. Penelitian ini mengambil lokasi di sebuah rumah susun di
Jakarta, dengan 70 orang responden yang diambil dengan teknik purposive
sampling.
Dari penelitian ini disimpulkan bahwa secara umum penghuni rumah susun
X merasa puas dengan tempat tinggalnya. Masing-masing aspek, yaitu aspek tipe
struktur, space/ruang, kualitas tempat tinggal dan lingkungan tempat tinggal
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan penghuni rumah susun.
Secara umum dapat dikatakan bahwa perbedaan karakteristik demografi daan sosial
ekonomi tidak diikuti eleh perbedaan tingkat kepuasan. Dari penelitian ini juga
dapat ditarik kesimpulan bahwa pandangan mengenai rumah susun yang ideal lebih
menekankan pada aspek lingkungan sebagai aspek yang harus memenuhi syarat
ideal suatu unit hunian, seperti fasilitas sarana dan prasarana. Selain aspek
lingkungan, aspek lain yang cukup dominan dalam menggambarkan rumah susun yang ideal adalah aspek kualitas, dimana rumah susun harus memberikan rasa aman
bagi penghuninya. Tidak tampilnya aspek space/ruang dalam menggambarkan
rumah susun yang ideal dapat disimpulkan bahwa aspek space/ruang rumah susun
dianggap tidak harus memenuhi syarat ideal suatu hunian. Sedangkan berdasarkan
persepsi warga terhadap kondisi aktual tempat tinggalnya, ternyata karakteristik yang
dipandang sesuai dengan kondisi aktual ttempat tinggal mereka secara umum sudah
memenuhi pandangan normatif mengenai rumah susun yang ideal."
1997
S2293
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mardi Dwi Lestari
"Rumah susun merupakan alternatif untuk mengatasi masalah perumahan di Jakarta. Sayangnya, masyarakat masih belum menyukai tinggal di rumah susun, karena bentuk rumah susun sering diasosiasikan dengan bilangnya privacy dan timbulnya crowding pada penghuninya. Menurut Tognoli dan Bell, privacy, place atachment, territoriality dan disain mempengaruhi kepuasan seseorang terhadap tempal tinggalnya. Penelitian ini bertujuan membandingkan kepuasan tempat tinggal pada. penghuni rumah susun Bidara Cina dan Bendungan Hilir yang mempunyai disain berbeda. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode observasi dan penggunaan kuesioner. Kueaioner terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pertama untuk mengukur aspek privacy, territoriority dan place atachment, bagian kedua mengukur kepuasan ruang; bagian tiga mengukur kepuasan secara umum. Hasil yang didapat adalah tidak ada perbedaan dalam hal place atachment, territoriality dan kepuasan secara umum pada kedua kelompok subyek akan tetapi terdapat perbedaan dalam hal kepuasan terhadapan ruangan. Jika dilihat dari aspek privacy, terdapat perbedaan antara dua kelompok subyek. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan dalam hal kepuasan umum diantara subyek Bidara Cina dan Bendungan Hilir, dan tidak ada perbedaan dalam hal territoriality dan place attachment pada subyek yang secara umum merasa puas terhadap tempat tinggalnya. Sementara itu, subyek yang kurang terpenuhi kebutuhan privacynya teryata juga merasa puas dengan tempat tinggalnya, tidak berbeda dangan subyek yang terpenuhi kebutuhan privacynya. Kesimpulan lainnya adalah subyek yang secara umum merasa puas terhadap tempat tinggalnya juga merasa puas dangan kondisi ruangan yang ada."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1998
S2003
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Permasalahan permukiman terutama di kota-kota di Indonesia semakin kompleks. Kebutuhan perumahan yang tinggi tidak diimbangi ketersediaan lahan yang cukup. Sebagian alternatif pemecahannya dengan dibangunnya rumah susun. Penelitian ini bertujuan : 1) mengetahui cara penghuni untuk mendapatkan hunian rumah susun; 2) mengetahui dan menganalisis penyesuaian diri penghuni rumah susun terhadap lingkungan tempat tinggal; dan 3) mengetahui dan menganalisis motivasi penghuni untuk memperoleh tempat tinggal setelah selesai jangka waktu tinggal di rumah susun. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan gabungan antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Teknik analisis yang digunakan adalah deskripsi kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghuni yang sejak awal menghuni menyatakan mudah mendapatkan hunian di rumah susun. Hal ini tidak lepas dari peran Tim Penyeleksi yang sebagian berasal dari warga setempat. Bentuk penyesuaian diri yang terdapat di hunian rumah susun Cokrodirjan adalah adaptasi by adjustment dan reaction. Adaptasi by adjustment yang terjadi yaitu; tidak membuat sekat ruangan, menjemur pakaian di tempat yang tersedia, dan minum air dari sumber yang telah tersedia. Adaptasi by reaction yang terjadi adalah; membuat sekat ruangan, menjemur pakaian di teras rumah, mengambil air minum dari sumur tetangga di luar lingkungan rumah susun, memelihara ayam di tempat parkir, dan meletakkan sepeda di dekat ruang hunian. Motivasi sebagian besar penghuni rumah susun untuk pindah sangat rendah karena ketidakmampuan secara finansial. Hal ini ditunjukkan, bahwa dari seluruh penghuni hanya 20 orang atau 33,9% mampu menabung, dan hanya 8 orang dari penghuni yang mampu menabung menyatakan siap pindah. Di samping hal tersebut di atas, faktor letak strategis, harga sewa yang murah dan fasilitas cukup memadai semakin menguatkan penghuni tidak mau pindah."
JNANA 18:2 (2013)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Farah Wulan Febrianto
"Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia tetapi kebutuhan akan rumah tinggal tidak sebanding dengan kemampuan masyarakat untuk mendapatkan rumah layak huni sehingga menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan peningkatan kawasan kumuh khususnya di kota-kota besar. Untuk memeratakan pemenuhan kebutuhan pokok akan perumahan yang layak dengan harga terjangkau oleh daya beli masyarakat sekaligus meremajakan permukiman, pemerintah mendorong pembangunan rumah susun-rumah susun murah.
Pemindahan penghuni, dari rumah horizontal yang lebih individu ke rumah susun tentu diikuti permasalahan baru sehingga penghuni harus melakukan penanggulangan (coping) terhadap kondisi baru tersebut. Dalam disiplin ilmu Psikologi Lingkungan dikenal dua jenis coping, yaitu adaptasi (penyesuaian diri terhadap lingkungan) dan adjustment (penyesuaian keadaan lingkungan terhadap kondisi individu). Adjusment perlu dilakukan oleh penghuni terhadap keterbatasan ruang hunian karena melalui adaptasi saja tidak mungkin dapat menyelaraskan keterbatasan dimensi satuan rumah susun (unit) dengan kebutuhan ideal penghuninya, berupa tuntutan privacy, ruang pribadi dan teritorialitas. Tetapi ternyata adjustment yang dilakukan penghuni, membuat lingkungan menjadi tidak teratur dan kumuh kembali. Karena dilakukan dengan mengambil ruang publik, yang mengakibatkan rusak dan hilangnya ruang-ruang hijau permukiman dan ruang publik lainnya sehingga tidak dapat diakses oleh publik. Karena itu perlu diketahui karakteristik penghuni dan karakteristik hunian yang ada hubungannya dengan adjustment penghuni terhadap ruang publik. Karakteristik penghuni yang dimaksud adalah jumlah penghuni, usia penghuni. struktur keluarga, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengeluaran keluarga. Sedangkan yang dimaksud dengan karakteristik hunian adaiah tipe unit, posisi lantai dan posisi unit pada bangunan. Selain itu juga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola adjustment terhadap ruang publik yang berlangsung.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data, dan metode kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi untuk melengkapi data-data tersebut. Desain penelitian adalah deskriptif, dengan teknik pengambilan sampel Stratified Random Sampling. Populasi penelitian adaiah penghuni yang bukan penyewa sehingga jumlah sampel seluruhnya adalah 70 responden atau 20% dari populasi, dan disebarkan pada seluruh blok yang ada di RSKK (8 blok).
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, didapat hasil penelitian berupa karakteristik penghuni yang ada hubungannya dengan adjustment penghuni terhadap ruang publik adalah jumlah penghuni dan struktur keluarga. Sedangkan karakteristik hunian, seluruh sub variabelnya ada hubungan dengan adjustment terhadap ruang publik, yaitu tipe unit, posisi lantai dan posisi unit pada bangunan. Jadi adjustment terhadap ruang publik lebih didorong oleh kesempatan dan potensi tata letak hunian terhadap blok RSKK.
Penelitian ini juga menghasilkan gambaran pola adjustment yang ada terentang antara bentuk melakukan adjustment terhadap ruang publik dan mampu beradaptasi (maladjustment -- well adaptive), tidak melakukan adjustment tetapi mampu beradaptasi (well adjustment - well adaptive), dan melakukan adjustment terhadap ruang publik tetapi tidak beradaptasi (maladjustment-maladaptive).
Jika adjustment tidak diredam dapat mendorong terjadinya konflik sosial berupa perebutan lahan dan terjadinya kekumuhan kembali di wilayah tersebut karena itu perlu diatur mengenai jumlah anggota keluarga dan struktur keluarga yang disesuaikan dengan luas unit, penegakan peraturan mengenai pemanfaatan ruang publik untuk kepentingan bersama jika perlu meremajakan kembali RSKK. Usulan bagi pihak yang terkait dengan rumah susun adalah, sebaiknya unit rumah susun tidak diperjualbelikan melainkan disewakan, sosialisasi kepada para calon penghuni mengenai seluk beluk kehidupan di rumah susun. Usulan dalam mendesain rumah susun selanjutnya adalah, sirkulasi vertikal (tangga) sebaiknya diletakkan di ujung bangunan, hal ini untuk mencegah pengambilan ruang publik di area tersebut, dan lantai dasar digunakan seluruhnya untuk kepentingan umum.
Sebagai bahan diskusi, perlu adanya penelitian lanjutan mengenai persepsi penghuni terhadap ruang publik yang dikaitkan dengan kondisi hunian mereka sebelum tinggal di rumah susun. Hal ini untuk mempelajari lebih dalam lagi hal-hal yang mendorong mereka mengambil ruang publik. Sehingga diperoleh gambaran yang lebih akurat tentang pengalaman ruang penghuni sebelum menghuni rumah susun.

Housing is the very basic need of people's living necessity; although such need does not necessarily on the same wavelength with their purchasing power, and because of this reason, there has been diminishing quality on public space an ever-increasing worrying growth of slums on almost every corner of the city. To provide and accommodate this particular need of affordable housing and to rejuvenate public residences, the government has set in motion the concept of vertical housing.
The allocation of tenants from a more individual horizontal housing will probably generate new problems as well, which requires new tenants to perform coping to new living conditions. Environmental Psychology recognize 2 categories of coping, which is adapting (individual to environment); and adjustment (modification of environment to individual condition). Adjustment is required to be acted upon by the tenants towards their living space, since adapting alone will not be suffice to harmonize the space limitation in the architectural design of the Vertical Housing Unit to match their ideal living space (such as privacy and territory). The physical alterations done by the tenants prove to have significant consequence to the disorganizing of the environment mentioned above. This occurred due to the adapting and adjusting process usually claims the public space. Therefore, this has cause the loss and diminishing of green area and makes some public space inaccessible.
Therefore, the characters of tenant and housing play major role in the tenants' adjustment on public space. Tenant's characters comprises: the number of family member, age, family structure, genders, education level, expenses. In contrast, housing characters are: unit type, floor position and unit position in the building. The research is conducted to explore the pattern of ongoing adjustment on public space.
The method used in this research is: the quantitative and qualitative method, and also descriptive research design. Data collection is acquired from the utilization of 70 questionnaires, interviews and observation. In which the data obtained is processed using the SPSS 14 analysis program for windows.
Base on analysis results and discussions, the research provide evidence that the number of family members and family structure are the tenant's characters which have direct correlation to tenant's adjustment on public space. While the housing character with all its sub variables that provide direct correlation to the adjustment on public space are: unit type, floor position and unit position in the building. Accordingly, adjustment on public space is driven by the opportunity on the housing design potentials on RSKK block.
This research also provide a clear picture on adjustment pattern that stretched into form of maladjustment - well adaptive, well adjustment - well adaptive, and maladjustment maladaptive. If these adjustments are not restrained, it will generate social conflict such as space dispute and the forming of slums on the area. Therefore, reorganization on the number of family members and family structure is required, which will adjust to the unit size and regulation enforcement on the utilization of public space based on common interest, and also to rejuvenate RSKK. The application of this idea is: to rent the unit instead of selling it. Impose the living rules and customs to new tenants. Next is the proposed ideas on design are: vertical circulation (stairs) are better to be positioned on every corner of the building, hopefully this will help prevent public space invasion on the area, and that ground floor are to be put to better use for public affairs.
For discussion matters, it is necessary to have further research on tenant's perception on public space relevantly to their pre-living conditions. This way, we will be able to delve deep on the things that encourage them to invade public spaces. Therefore, we will have clearer understanding and more accurate picture on the tenant's space experience before living in RSKK.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2006
T18139
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tanjung, Adrianus
"Dengan makin terbatasnya tanah di perkotaan, maka pemerintah sejak Pelita III mulai menerapkan pembangunan rumah susun dalam rangka penyediaan perumahan bagi Golongan masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah sekaligus pembangunan rumah susun dilaksanakan dalam rangka program peremajaan kota (urban renewal).
Studi ini mencoba menggambarkan karakteristik penghuni rumah susun Kebon Kacang serta tingkat penerimaan penghuni terhadap rumah susun sebagai tempat tinggal dalam pada itu dillhat pula hubungan antara tingkat penerimaan ini dengan kepadatan penghunian di rumah tangga. Kepadatan di sini terbagi 2 yaitu kepadatan Obyektif yang di ukur dari rasio orang terhadap kamar dan Kepadatan Subyektif yang diukur dari 1) Ada atau tidak adanya tempat untuk melakukan hal-hal pribadi (privacy) 2) Perasaan terganggu oleh orang lain di dalam rumah dan 3) Pendapat tentang luas ruangan. Dari hasil studi ini dapat disimpulkan bahwa umumnya penghuni dapat menerima rumah susun sebagai tempat tinggal, baik pria maupun wanita. Alasan penerimaan mereka pada umumnya karena faktor-faktor lokasi yang strategis, fasilitas yang baik dan kebutuhan akan rumah. Dari hasil studi ini dapat dikatakan bahwa dari ke 3 ukuran kepadatan subyektif tersebut, hanya pendapat mengenai ada atau tidak adanya "privacy" mempunyai hubungan dengan tingkat penerimaan penghuni terhadap rumah susun Kemudian diketahui, secara umum Kepadatan Obyektif dan Kepadatan Subyektif tidak mempunyai hubungan yang berarti dengan tingkat penerimaan penghuni terhadap rumah susun. Tingkat penerimaan ini lebih ditentukan oleh faktor-faktor seperti yang telah disebutkan di atas."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1987
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1991
S6676
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Triandari Tuning P>W
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1991
S6666
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Listyowati Sumanto
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1992
TA3964
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lucia Purbarini Soepardi
"Penelitian ini berfokus pada pola mobilitas yang dialami penghuni Rusunawa, seperti: tinggal dimana sebelum tinggal di rumah susun sewa, apakah memiliki rencana pindah dari rumah susun sewa atau cenderung menetap, kemana rencana tujuan pindahnya, faktor-faktor apa yang mempengaruhi keputusan penghuni rumah susun sewa untuk melakukan mobilitas tempat tinggal ditinjau dari aspek demografi, sosial ekonomi, lokasi, fisik bangunan, pengelolaan serta perbedaan karakteristik antara penghuni yang memiliki rencana pindah dengan yang cenderung menetap. Metode penelitian menggunakan analisis kuantitatif dengan bantuan software statistik SPSS (Statistical Program for Social Science) dengan analisis statistik deskriptif tabulasi silang (crosstabs). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan dilengkapi dengan analisis kualitatif atas dasar pengamatan lapangan dan hasil wawancara. Analisis dilakukan dengan merujuk pada pendapat para peneliti tentang mobilitas tempat tinggal dan pendapat beberapa peneliti tentang ekonomi perkotaan, serta pengelolaan aset. Dari analisis terhadap data yang terkumpul dan hasil wawancara disimpulkan bahwa: 1) Secara umum, mobilitas penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa tidak memiliki pola baik ditinjau dari lokasi daerah asal maupun kecenderungan lokasi tujuan pindah; 2) faktor yang berhubungan dengan keputusan penghuni untuk melakukan mobilitas tempat tinggal, meliputi: status perkawinan, persepsi penghuni tentang hunian sebagai komoditi, ketersediaan fasilitas jalan, harga sewa, keamanan dari tindakan kriminalitas, penanganan terhadap gangguan atau kerusakan unit hunian, dan penanganan terhadap gangguan atau kerusakan benda bersama; 3) perbedaan karakteristik antara penghuni yang cenderung memutuskan pindah dengan yang menetap relatif tidak ada. Perbedaan karakteristik yang menonjol hanya pada persepsi tentang hunian sebagai komoditi. Kendala-kendala yang saya dihadapi adalah: 1) penelitian ini dilakukan di Rusunawa yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan biaya operasional yang masih disubsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Secara tidak langsung kondisi ini berpengaruh pada psikologis penghuni dalam memberikan informasi yang diperlukan dalam penelitian, sehingga informasi yang diperoleh tidak optimal; 2) mengingat nilai-nilai budaya umumnya masih melekat erat dalam masyarakat Indonesia, maka jika penelitian ini dilengkapi dengan variabel faktor budaya, maka hasilnya akan lebih tajam dalam memberikan komplimasi pada kebijakan pembangunan rusunawa di masa mendatang. Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka saya menyarankan bahwa sudah saatnya Pemerintah Provinsi Provinsi DKI Jakarta menyediakan perumahan yang bersifat ?transisi? bagi kelompok masyarakat yang berbeda sesuai keterjangkauan, didukung dengan kontrol pengelolaan sesuai aturan yang berlaku. Pengelolaan rumah susun memerlukan mekanisme anggaran yang sesuai dengan kebutuhan misalnya Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD) memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan untuk memenuhi kebutuhan operasional, sehingga diharapkan tidak ada lagi stagnasi pembiayaan yang dapat berdampak pada penurunan nilai fisik Rumah Susun Sederhana Sewa sebagai aset Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

This study is focused on mobility pattern of tenant, such as: their prior resident before living in rental low-income housing, their plans to move or to stay permanently, their destination to move, factors affected their mobility from the point of view of demographical aspect, socio-economy, location, building, management and different characteristics between tenants who have plan to move and who tend to stay permanently. This research use quantitative analysis methods and supported by SPSS (Statistical Program for Social Science) statistical software with crosstabs descriptive statistical analysis. The data is obtained by questionnaire and equipped by qualitative analysis based on field observation and interview result. The analysis is applied by referring to the researchers? opinion about the residential mobility and the researchers? opinion about the urban economy and asset management. Based the analysis to the obtained data and interview result it is concluded that: 1) generally, no have pattern tenants? mobility, based on their original location and their movement tendency location; 2) factors affected to tenants? mobility decisions are marital status, tenant perception about the resident as commodity, road facility, rental price, security toward criminality, handling toward disturbance or damage of flat units, and handling toward disturbance or damage of the public facilities; 3) the different characteristics between tenants who tend to move and the ones who stay permanently on each research location is relatively none. The prominent different characteristic is only on perception about the resident as commodity. The obstacles I have are: 1) this study is observed in rental low-income housing that is managed by Province Government of DKI Jakarta where the operational cost is subsided by Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). This condition eventually affects to tenant phsycologically in giving information needed for the study, hence the obtained information is not optimum; 2) Considering that their cultural values are generally strictly stuck in Indonesian society, so if this study is complemented by variable of cultural factor, then the result would be accurate in giving the complement to the development policy of rental low-income housing in the future. Based on the study I have, I suggest that it is time for the Province Government of DKI Jakarta to provide resident with ?transitional? characteristic for different society according to their affordable, supported by management control according to the regulation prevailed. Furthermore, rental low-income housing management needs budget mecanism appropriate to necessity, for example Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Pola Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD) give flexibility budget managemet to fulfill their operational needs, so the expectation is no more expense stagnation that can impact to the decrease of rental low-income housing?s physical value as asset of the Government Province of DKI Jakarta."
Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2008
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>