Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 9181 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Latar belakang: Penelitian ini bertujuan menilai peran berbagai adiponektin dan indeks leptin bebas terhadap dislipidemia aterogenik pada pria obesitas sentral non diabetes.
Metode: Desain penelitian ini adalah potong lintang pada 120 pria obesitas sentral non-diabetes yang dilakukan di Jakarta. Parameter yang diukur adalah adiponektin total, adiponektin berat molekul tinggi, adiponektin berat molekul sedang, adiponektin berat molekul rendah, leptin, soluble leptin receptor, trigliserida, kolesterol HDL, kolesterol LDL dan apolipoprotein B (Apo B). Kriteria dislipidemia aterogenik adalah rendahnya kadar kolesterol HDL, disertai trigliserida dan small dense LDL (sdLDL) yang tinggi. Kadar sdLDL didapat dari rasio kolesterol LDL / Apo B. Indeks leptin bebas adalah rasio leptin dengan soluble leptin receptor dengan menggunakan median sebagai titik dikotomi. Dilakukan krostabulasi untuk data kategorial. Hubungan antara adiponektin multimerik, indeks leptin bebas dengan lipid aterogenik dianalisis dengan uji Spearman, selanjutnya hasil interaksi keseluruhan parameter terhadap dislipidemia aterogenik dianalisis dengan regresi logistik ganda.
Hasil: Adiponektin berat molekul tinggi berkorelasi negatif secara bermakna dengan dislipidemia aterogenik (p< 0,05), sedangkan adiponektin berat molekul sedang dan adiponektin berat molekul rendah tidak berkorelasi (p> 0,05) dengan dislipidemia aterogenik. Indeks leptin bebas berkorelasi positif secara bermakna dengan dislipidemia aterogenik (p< 0,05). Odds Rasio (OR) adiponektin berat molekul tinggi terhadap kejadian dislipidemia aterogenik adalah 3,62 (p< 0,05), sedangkan risiko dislipidemia aterogenik pada subyek dengan indeks leptin bebas rendah adalah 4,57 (p< 0,05).
Kesimpulan: Adiponektin berat molekul tinggi dan indeks leptin bebas berperan dalam meningkatkan risiko dislipidemia aterogenik. (Med J Indones 2011; 20:119-24).

Abstract
Background: To analyze the role of various adiponectin and free leptin index on the occurrence of atherogenic dislipidemia in non-diabetic central obese men
Methods: This is a cross-sectional study on 120 non-diabetic central obese men that was done in Jakarta. The measured indicators were total adiponectin, high molecular weight adiponectin (HMW adiponectin), medium molecular weight adiponectin (MMW adiponectin), low molecular weight adiponectin (LMW adiponectin), leptin, soluble leptin receptor, triglycerides, high-density lipoprotein cholesterol (HDL cholesterol), low density lipoprotein cholesterol (LDL cholesterol) and apolipoprotein B (Apo B). Atherogenic dyslipidemia was characterized by reduced level of HDL cholesterol, and high levels of triglyceride and small dense LDL (sdLDL). Ratio of LDL cholesterol and Apo B were calculated to get sdLDL. Free Leptin Index (FLI) was the ratio between total leptin and soluble leptin receptor (sOB-R), and median values were used as cut off to defi ne high and low values of each parameter. Cross tabulation were done on categorical data. Relationships between multimeric adiponectin and free leptin index with atherogenic lipids were analyzed by using Spearman analysis. Further, the interaction of all indicators with the occurence of atherogenic dyslipidemia was analyzed using binary logistic regression.
Results: A negative correlation of HMW adiponectin with atherogenic dyslipidemia (p< 0.05), whereas there were no correlation between MMW adiponectin and LMW adiponectin with atherogenic dyslipidemia (p> 0.05). Free Leptin Index was associated positively with atherogenic dyslipidemia (p< 0.05). Odds Ratio (OR) of HMW adiponectin for the occurrence of atherogenic dyslipidemia was 3.62 (p< 0.05), where as OR of FLI with atherogenic dyslipidemia was 4.57 (p< 0.05).
Conclusion: HMW Adiponectin and FLI might contribute to atherogenic dyslipidemia in central obese non-diabetic males. (Med J Indones 2011; 20:119-24)."
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin. Fakultas Kedokteran], 2011
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
"Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menilai korelasi antara rasio retinol/RBP4 dan resistin dengan inflamasi (diwakili oleh hsCRP) pada pria obese non-diabetes di Indonesia. Metode Penelitian dilakukan secara potong lintang pada 125 subjek. Parameter yang diukur adalah retinol, RBP4, resistin, dan hsCRP. Uji korelasi dilakukan antara retinol, RBP4, resistin, hsCRP dan rasio Retinol/RBP4. Rasio retinol/RBP4 dibagi menjadi dua kelompok yaitu rasio tinggi (>0,9) dan rasio rendah (≤0,9). Cut off hsCRP ditentukan: <1 mg/l menandakan risiko inflamasi rendah, 1-3 mg/l risiko inflamasi sedang, dan 3-10 mg/l risiko inflamasi tinggi (terkait dengan risiko PJK). Kemudian dilakukan uji tabulasi silang untuk melihat kecenderungan tingkat inflamasi pada subjek yang dapat digambarkan oleh rasio retinol/RBP4 dan resistin. Hasil Retinol ditemukan berkorelasi kuat dengan RBP4 (r=0,53; p<0,01) dan resistin. Ditemukan korelasi positif tidak bermakna antara resistin dan rasio retinol/RBP4 terhadap hsCRP, Pada kelompok rasio tinggi, ditemukan 17,6% subjek dengan risiko inflamasi rendah, 26,4% risiko inflamasi sedang dan 20,8% risiko inflamasi tinggi. Pada kelompok dengan rasio rendah ditemukan 8% subjek dengan risiko inflamasi rendah, 20% risiko inflamasi sedang dan 7,2% risiko inflamasi tinggi. Kombinasi antara rasio retinol/RBP4 dan resistin menunjukkan 12% dari jumlah subjek kelompok ?rasio tinggi dan resistin rendah? memiliki risiko inflamasi rendah, dan 8% memiliki risiko inflamasi tinggi, sementara pada kelompok ?rasio rendah resistin tinggi? ditemukan 3,2% subjek memiliki risiko inflamasi rendah dan 13,6% subjek memiliki risiko inflamasi tinggi. Kesimpulan Kombinasi parameter rasio retinol/RBP4 dengan resistin memberikan gambaran yang lebih baik mengenai risiko inflamasi pada subjek obese non-diabetes dibandingkan dengan parameter rasio saja.

Abstract
Aim To verify the correlation between Retinol/RBP4 Ratio, and resistin with inflammation (represented by hsCRP) in non-diabetic obese Indonesian men Methods This was a cross sectional study using 125 subjects. Measured parameters were retinol, RBP4, resistin, and hsCRP. Correlation between retinol, RBP4, resistin, hsCRP and Retinol/RBP4 Ratio was calculated. Cut off point of hsCRP were classiied as follows: <1 mg/l for low risk of inflammation, 1-3 mg/l for moderate risk, and 3-10 mg/l for high risk (according to CVD risk). The Retinol/RBP4 ratio was dichotomized into high (>0.9) and low ratio (≤0.9). The cross tabulation test was performed to predict the inflammation trends described by Retinol/RBP4 Ratio and resistin. Results Retinol was found strongly correlated with RBP4 and resistin (r=0.53; p<0.01). A positive but not significant correlation was found between resistin and Retinol/RBP4 Ratio with hsCRP. In high ratio group, 17.6% subjects were found with low risk inflammation, 26.4% with moderate risk, and 20.8% with high risk, in low ratio group, 8% subjects were low risk inflammation, 20% moderate risk, and 7.2% high risk. Combination between ratio and resistin showed that in ?high ratio and low resistin? group, 12% subjects have low risk of inflammation and 8% have high risk. Meanwhile in ?low ratio and high resistin? group, 3.2% subjects were found having low risk and 13.6% high risk of inflammation. Conclusions Combination between Retinol/RBP4 Ratio and resistin showed better description about the inflammation risk in non-diabetic obese subjects compare to the ratio itself."
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin. Fakultas Kedokteran], 2010
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
RR. Ajeng Arumsari Yayi Pramesti
"ABSTRAK
Prevalensi Diabetes Mellitus di Provinsi DKI Jakarta mengalami peningkatan dan
Kepulauan Seribu menempati peringkat ke 3 tertinggi setelah Jakarta Selatan dan
Jakarta Timur dengan proporsi 2,7% dengan jumlah kasus yang meningkat dari
tahun 2012 - 2015 di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara faktor pengetahuan, riwayat diabetes mellitus
keluarga, pola kebiasaan makan, aktivitas fisik dan perilaku merokok dengan
kejadian diabetes mellitus tipe 2 dan faktor mana yang paling dominan yang
berhubungan dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2. Penelitian dilaksanakan pada
bulan Februari 2016. Desain penelitian menggunakan case control dengan jumlah
sampel penelitian sebanyak 80 kasus dan 80 kontrol. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa riwayat diabetes mellitus keluarga, faktor pengetahuan tentang diabetes
mellitus, pola kebiasaan makan berisiko dan pola kebiasaan makan serat
berhubungan signifikan dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2. Hasil multivariat
menunjukkan bahwa penduduk dengan riwayat diabetes keluarga berisiko 6,2 kali
lebih besar menderita diabetes mellitus dibandingkan dengan penduduk yang tidak
memiliki riwayat diabetes mellitus keluarga setelah dikontrol variabel pengetahuan,
pola kebiasaan makan berisiko dan pola kebiasaan makan serat, aktifitas fisik, dan
perilaku merokok (95% CI: 2,810 ? 13,553). Dari penelitian ini disarankan untuk
melakukan upaya preventif dan promotif yaitu dengan upaya perubahan perilaku
untuk menjadi lebih sehat dengan meningkatkan asupan serat, mengurangi
kebiasaan makan berisiko, dan meningkatkan pengetahuan tentang DM.

ABSTRACT
Prevalence of Diabetes Mellitus in Jakarta increased and prevalence in Thousand
Islands District Administration was ranked the third highest after South Jakarta and
East Jakarta with a proportion of 2.7%. The number of cases increased from year
2012 to 2015 in the SubDistrict of Kepulauan Seribu Utara. This study aims to
determine the relationship between knowledge, family history of diabetes mellitus,
the pattern of eating habits, physical activity and smoking behavior with diabetes
mellitus type 2 and the most dominant factors that associated with the occurrence
of diabetes mellitus type 2. The research was conducted in February 2016. The
study design using the case control study with a sample size of 80 cases and 80
controls. Results showed that a family history of diabetes mellitus, diabetes mellitus
knowledge, the pattern of risky eating habits and patterns of fiber eating habits
significantly associated with diabetes mellitus type 2. Multivariate results showed
that the population with a family history of diabetes 6.2 times greater risk of
suffering from diabetes mellitus compared with people who do not have a family
history of diabetes mellitus after controlled variable of knowledge, the pattern of
risky eating habits and patterns of fiber eating habits (95% CI: 2.810 ? 13.553).
From this research, it is advisable to carry out preventive and promotive efforts to
attempt behavioral changes become healthier by increasing fiber intake, reducing
the risk of eating habits, and increase knowledge about diabetes.
"
2016
T46002
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Pada 28 kasus diabetes melitus ( DM ) tipe 2 tanpa kelainan kardiovaskular yang diperiksa di Bagian Metabolik Endokrin, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, mulai Oktober 2001 sampai Desember 2001, dilakukan pemeriksaan ekokardiografi untuk melihat fungsi diastolik ventrikel kiri dan dilakukan pemeriksaan urin mikroalbuminuria. Disfungsi diastolik ditemukan pada 73,7 % pasien DM tipe 2 tanpa mikroalbuminuria dan 66,7% pada DM tipe 2 dengan mikroalbuminuria. Tidak terdapat hubungan bermakna kejadian disfungsi diastolik pada kelompok DM tipe 2 dengan mikroalbuminuria maupun DM tipe 2 tanpa mikroalbuminuria. (Med J Indones 2005; 14: 169-72)

Twenty-eight cases of type 2 diabetes mellitus (DM) without any cardiovascular disease were recruited from the Department of Metabolic-Endocrine, Faculty of Medicine, University of Indonesia / Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta. Recruitment of the study began in October 2001 and was completed by December 2001. Participants were examined for echocardiography and microalbuminuria urinary examination. Diastolic dysfunction was found in 73.7% of type 2 diabetic patients without microalbuminuria and 66.7% in type 2 diabetic patients with microalbuminuria. Neither type 2 diabetic groups with nor without microalbuminuria indicated any significant association to the occurrence of diastolic dysfunction. (Med J Indones 2005; 14: 169-72)"
Medical Journal of Indonesia, 14 (3) July September 2005: 169-172, 2005
MJIN-14-3-JulSep2005-169
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Frida Soesanti
"ABSTRAK
Latar belakang: Vitamin D dianggap berperan dalam patogenesis diabetes melitus tipe 1 (DMT1), memperbaiki kontrol metabolik dan menurunkan risiko terjadinya komplikasi mikrovaskuler.
Tujuan: Mengetahui profil kadar vitamin D remaja DMT1 dan hubungan kadar vitamin D dengan retinopati dan nefropati diabetik.
Metode: Penelitian potong lintang pada remaja DMT1 usia 11-21 tahun dengan lama sakit minimal satu tahun. Semua subjek dilakukan wawancara menggunakan kuesioner, pemeriksaan fisis lengkap, kadar 25(OH)D, HbA1c, rasio albumin/kreatinin urin, dan fotografi fundus.
Hasil: Terdapat 49 subjek, 34 (69,4%) perempuan dan 15 (30,6%) lelaki dengan median lama sakit lima tahun (1-16 tahun). Sebanyak 96% subjek menggunakan insulin basal bolus. Median HbA1c adalah 9,5% (6,3% - 18%). Tidak ada subjek dengan kadar 25(OH)D ≥ 30 ng/mL, 6 subjek (12,2%) dengan kadar 25(OH)D 21-19 ng/mL dan 87,8% memiliki kadar 25(OH)D ≤ 20 ng/mL. Rerata kadar 25(OH)D adalah 12,6 ng/mL (SD ±5,4 ng/mL). Faktor yang berhubungan dengan kadar vitamin D adalah lama pajanan matahari (RP 13,3; 95%IK = 1,8-96, p= 0,019). Jenis pakaian, penggunaan sunblock, IMT, lama sakit, konsumsi susu tidak berhubungan dengan kadar vitamin D. Prevalens retinopati pada penelitian ini adalah 8,2%, mikroalbuminuria 28,5%, dan nefropati 16,3%. Tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar vitamin D dengan retinopati, mikroalbuminuria, dan nefropati diabetik.
Kesimpulan: Tidak ada remaja DMT1 dengan kadar vitamin D yang cukup dan tidak ada hubungan antara kadar vitamin D dengan retinopati, mikroalbuminuria, dan nefropati diabetik.;Background: Many studies showed that vitamin D involved in the pathogenesis of type 1 diabetes mellitus (T1DM), metabolic control and decreased the risk of microvascular complication.

ABSTRACT
Objective: To find out the vitamin D profile in adolescence with T1DM and its association with retinopathy and nephropathy diabetic.
Methods: This was a cross sectional study performed during April to May 2015 involving T1DM adolescence aged 11-21 years old with duration of illness ≥ 1 year. We used questionnaire to know factors associated with vitamin D level. We performed physical examinations, tests for level of 25(OH)D serum, HbA1c, urine albumin/creatinine ratio and fundal photographic.
Results: There were 49 subjects, 34 female (69.4%) and 15 male (30.6%) with median duration of illness was five years (1-16 years). Most of the subjects (96%) were on basal bolus regimen. Median of HbA1c level was 9.5% (range 6.3%-18%). None of the subject had 25(OH)D level ≥ 30 ng/mL, 12.2% with 25(OH)D level of 21-19 ng/mL and 87,8% was ≤ 20 ng/mL. Mean of 25(OH)D level was 12.6 ng/mL (SD ±5.4 ng/mL). Duration of sun exposure was associated with 25(OH)D level (prevalent ratio of 13.3; 95%CI = 1.8-96, p= 0.019); While type of clothing, sunblock, body mass index, milk and juice intake were not associated with 25(OH)D level. Diabetic retinopathy was found in 4 subjects (8.2%), microalbuminuria in 14 subjects (28.5%), and nephropathy in 8 subjects (16.3%). All the subjects who suffered from microvascular complication had 25(OH)D level ≤ 20 ng/mL. None of the subjects with 25 (OH)D > 20 ng/mL suffered had microvascular complication. There was no significant association between vitamin D level with diabetic retinopathy, microalbuminuria, or diabetic nephropathy.
Conclusion: None of the adolescent with type 1 DM had sufficient vitamin D level, and 87.8% had vitamin D deficiency. There was no association between vitamin D level with diabetic retinopathy, microalbuminuria, or diabetic nephropathy.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Monika Nanda Ginagustin Wiseno
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang berhubungan dengan kejadian pre-diabetes di PT. X pada tahun 2015. Penelitian pada pekerja penting untuk dilakukan mengingat masih sedikitnya penelitian terkait gizi kerja sementara kesehatan pekerja akan berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Rancangan penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kuantitatif dengan desain kasus kontrol. Perbandingan yang digunakan antara kasus dan kontrol adalah 1: 3. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei ? Juli 2015 kepada 80 (20 kasus : 60 kontrol) orang pekerja pabrik. Pengolahan data menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna antara usia, riwayat keluarga dengan diabetes mellitus, dislipidemia, indeks masa tubuh, asupan energi, dan asupan lemak dengan kejadian pre-diabetes. Pre-diabetes sebaiknya ditangani sebelum berkembang lebih lanjut menjadi diabetes mellitus. Pencegahan dapat dilakukan dengan membiasakan pola hidup sehat, menjaga berat badan ideal, aktif secara fisik, dan mengatur pola makan sesuai dengan gizi seimbang.

The purpose of this study is to determine association between pre-diabetes risk factors with pre-diabetes in factory workers. Since worker?s health status has a strong correlation with work productivity, as one of health aspect, more research regarding nutrition in workers need to be done. Design of this study is quantitative with case control method. Comparison between case and control is 1 : 3 with 20 cases and 60 controls. This research was held between May ? July 2015. Chi square was used to analyze association between dependent and independent variables. The result of bivariate analysis found an association between age, body mass index, family history with type-2 diabetes, dyslipidemia, energy intake, and fat intake with pre-diabetes in factory workers. As an early state of diabetes mellitus type 2, pre-diabetes should be taking more seriously to prevent its developing into type 2 diabetes. Being physically active and applying balanced nutrition concept on daily basis could be the best way to prevent pre-diabetes."
Depok: Universitas Indonesia, 2015
S59080
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arief Munandar Rusman
"Penelitian ini membahas mengenai hubungan motivasi dengan kepatuhan melakukan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus dengan menggunakan instrumen Behavioral Regulation in Exercise Questionnaire-2 (BREQ-2) untuk mengukur tipe motivasi dan Exercise Adherence Rating Scale (EARS) untuk mengukur kepatuhan melakukukan senam kaki. Penelitian ini bersifat cross-sectional dengan 128 responden yang berasal dari Poliklinik Penyakit Dalam di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati dan didapatkan hasil gambaran motivasi penderita DM melakukan senam kaki menunjukkan rerata skor elemen teridentifikasi (10,47) dan intrinsik (11,49) lebih tinggi dibandingkan rerata skor elemen amotivasi (5,29), external 6,83), dan terinterojeksi (3,27). Rerata skor Relative Autonomy Index (RAI) yaitu 22,62. Gambaran kepatuhan penderita DM melakukan senam kaki menunjukkan rerata skor yaitu 32,37 atau dalam persen yaitu 50%. Terdapat hubungan antara skor RAI motivasi, elemen amotivasi, elemen terinterojeksi dan elemen intrinsik dengan skor kepatuhan melakukan senam kaki pada penderita DM di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati. Rekomendasi dari hasil penelitian ini yaitu pentingnya meningkatkan motivasi berupa dukungan dari tenaga kesehatan terhadap pasien di Rumah Sakit dan membuat program senam kaki bagi penderita DM yang terjadwal baik di dalam lingkungan poliklinik maupun diluar lingkungan poliklinik sehingga penderita DM merasa didukung oleh lingkungannya baik. Selain itu, peneliti melihat perlu adanya suatu logbook atau buku harian bagi penderita DM yang berisi tatalaksana DM baik dari edukasi, perencanaan makan, farmakologi dan latihan fisik yang dapat diisi oleh penderita dan dapat dilihat kepatuhan dari tatalaksana DM di buku tersebut.

This study examines the relationship between motivation and adherence to foot exercises in patients with Diabetes Mellitus using the Behavioral Regulation in Exercise Questionnaire-2 (BREQ-2) to measure motivation types and the Exercise Adherence Rating Scale (EARS) to measure adherence to foot exercises. It is a cross-sectional study with 128 respondents from the Internal Medicine Clinic at Fatmawati General Hospital, and the results show that the motivation of DM patients to perform foot exercises indicated higher mean scores for identified and intrinsic elements compared to mean scores for amotivation, external, and introjected elements. The mean Relative Autonomy Index (RAI) score was 22.62. The description of adherence of DM patients to foot exercises showed a mean score of 32.37 or 50% in percentage. There is a relationship between RAI motivation scores, amotivation elements, introjected elements, and intrinsic elements with adherence scores to foot exercises in DM patients at Fatmawati General Hospital. Recommendations from this study emphasize the importance of increasing motivation through support from healthcare professionals for patients in the hospital and implementing a scheduled foot exercise program for DM patients both within and outside the clinic environment to make them feel supported by their surroundings. Additionally, researchers see the need for a logbook or daily book for DM patients containing DM management including education, meal planning, pharmacology, and physical exercise which can be filled out by patients and used to assess adherence to DM management in the book."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadhira Nuraini Afifa
"Diabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit dengan prevalensi yang terus meningkat setiap tahunnya. Indonesia terbukti sebagai negara keenam dengan prevalensi DM tipe 2 terbesar di dunia. Sebagai penyakit multifaktorial, salah satu faktor yang disebutkan berpengaruh dalam kejadian DM tipe 2 adalah aktivitas fisik, yang didefinisikan sebagai pergerakan badan yang diproduksi kontraksi otot rangka yang meningkatkan konsumsi energi di atas level basal. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan aktivitas fisik antara karyawan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia penderita DM tipe 2 dan tanpa DM tipe 2. Pengambilan data dilakukan dengan rekam data aktivitas fisik selama 2 hari kerja dan 1 hari libur melalui kuesioner Bouchard dan anamnesis. Hasil pengolahan data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna tingkat aktivitas fisik pada subjek DM tipe 2 dan tanpa DM tipe 2 (p = 0,988). Melalui penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa aktivitas fisik tidak menjadi variabel tunggal dalam menyebabkan DM tipe 2.

Diabetes mellitus type 2 is a disease whose prevalence is increasing every year. Indonesia is considered as the 6th country of highest prevalence of DM type 2. As a multifactorial disease, one of factors that believed to be involved in causing DM type 2 is physical activity, which defined as bodily movement produced by skeletal muscle which increases energy expenditure above basal level. This research aims to know whether there is different physical activity level between DM type 2 and non DM type 2 employees of Faculty of Medicine Universitas Indonesia. Collecting data is performed by recording of the physical activity in 2 weekdays and 1 weekend through Bouchard questionnaire and anamnesis. The result of data analysis using Kolmogorov-Smirnov test showed that there was no significant difference of physical activity level of the subjects (p = 0,988). According to this research, physical activity level is not the only contributing factor of DM type 2."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tyas Priyatini
"Tujuan : Mengetahui kadar gula darah, insulin dan leptin pada wanita hamil dan hubungan antara leptin dan kadar gula darah, insulin serta sensitivitas insulin pada wanita hamil.
Rancangan : Studi potong lintang, deskriptif analitik
Tempat : Poliklinik kebidanan RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
Bahan dan cara kerja : Selama bulan Agustus 2004 didapatkan 80 sampel yang memenuhi kriteria penerimaan. Dilakukan pemeriksaan kadar gula darah puasa dan UTGO, insulin puasa dan UTGO serta kadar hormon leptin. Dicari sebaran responden, rerata kadar gula darah, insulin, leptin, serta hubungan antara leptin dengan kadar gula darah, insulin, serta sensitivitas insulin pada kehamilan berdasarkan indeks sensitivitas QUICKI dan rasio gula darah terhadap insulin.
Hasil : Data yang diperoleh memiliki banyak nilai ekstrem sehingga pada pengolahannya nilai ekstrem dikeluarkan sehingga sampel berkurang menjadi 45. Didapatkan rerata kadar gula darah puasa 61,91 ± 6,81 mg/dl, gula darah UTGO 96,84 ± 14,63 mg/dl, rerata kadar insulin puasa 5,99 ± 4,45 insulin UTGO 60,83 ± 34,34 µU/ml, rerata kadar Leptin 20,95 ± 17,54 ng/ml. Didapatkan indeks QUICKI 0,41 ± 0,05, rasio glukosa terhadap insulin puasa 16,7 ± 11,48 serta rasio glukosa terhadap insulin UTGO 2,23 ± 1,75. Didapatkan hubungan bermakna antara leptin dan insulin puasa maupun UTGO, serta leptin dengan sensitivitas insulin (r = -0,459, p = 0,001).
Kesimpulan : Tidak didapat perbedaan bermakana rerata kadar gula darah, insulin, dan leptin wanita hamil di RSCM pada ketiga trimester. Terdapat hubungan bermakna antara leptin dengan insulin serta sensitivitas insulin dalam kehamilan."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Farastya Rahmawati
"ABSTRAK
Hingga saat ini diabetes melitus tipe 2 masih merupakan masalah kesehatan masyarakat, karena prevalensinya masih tinggi di beberapa negara termasuk Indonesia. Tingginya prevalensi diabetes melitus tipe 2 disebabkan oleh pola hidup masyarakat saat ini yang cenderung tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola perilaku dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 pada penduduk umur ≥15 tahun di Indonesia tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data Riskesdas 2013. Variabel perilaku yang diteliti dalam penelitian ini adalah aktivitas fisik, perilaku merokok, konsumsi buah dan/atau sayur, konsumsi makanan/minuman manis, konsumsi makanan berlemak, konsumsi minuman kopi, dan konsumsi minuman berkafein buatan bukan kopi. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor perilaku yang berhubungan dengan diabetes melitus tipe 2 adalah aktivitas fisik, perilaku merokok, konsumsi makanan/minuman manis, dan konsumsi minuman kopi. Sedangkan secara multivariat, ditemukan bahwa aktivitas fisik, perilaku merokok, dan konsumsi makanan/minuman manis berhubungan dengan diabetes melitus tipe 2.

ABSTRACT
Until these days type 2 diabetes melitus still become a problem in society, because of high degree prevalence in many countries including Indonesia. This is because unhealthy life style. The objects of this research is to know the correlation between behaviour and type 2 diabetes melitus cases for 15 years old or older Indonesian people in 2013, furthermore this research is use data Riskesdas 2013. The variable observes in this research are physical activity, smoking behaviour, consumption of fruit and/or vegetables, consumption of food or beverages contain sweetener, consumption of fatty food, consumption of coffe, and consumption of non-coffe artificial caffeinated. This research finds that behaviour factor related to type 2 diabetes melitus are physical activity, smoking behaviour, consumption of food or beverages contain sweetener, and consumption of coffe. Furthermore, in multivariate model found that physical activity, smoking behaviour, and consumption of food or beverages contain sweetener related to type 2 diabetes melitus.
"
2015
S60387
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>