Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 120889 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sumartini
"Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang sering mengalami konplikasi Retinopati. Bagaimana pengaruh ketidak patuhan pada program pengobatan terhadap kejadian Retinopati ?. Hal ini perlu agar klien dan keluarga sadar akan pentingnya program pengobatan lanjutan, dan bagi profesi perawatan perlu untuk pengembangan asuhan keperawatran. Usia, tingkat pendidikan, pengetahuan, ekonomi, motivasi dan suport system sangat mempengaruhi hal tersebut DM terjadi oleh karena gangguan pada kadar insulin, Gejala klinis biasanya Polidipsi, Poliuri dan Polipagi, usia diatas 40 tahun adalah resiko terkena DM.
Desain penelitian ini Deskriptif perbandingan, yajtu membandingkan yang teratur dan yang tidak teratur berobat terhadap kejadian retinopati, jumlah sampling 69 oiang dengan metode acak sederhana, dengan menggunakan kuesioner Serta nilai tengah dan uji Chi kuadrat dalam menganalisa data. Usia responden 56,74 tahun dengan SD 9,28 tahun, pendidikan SMU 47,8 % dan ekonomi menengah kebawah.
34,78 % menderita retinopati, 73,1 % tidak menjalani pengobatan secara teratur dengan alpha a 0,05, p=l dan p value > 0,10 > p> 0,05 tidak ada hubungan yang bermakna antara keteraturan pengobatan dengan kejadian retinopati. Teori mengatakan retinopati tezjadi pada orang yang menderita DM antara 25-40 tahun. Agar klien berobat secra teratur perlu pembekalan leaflet pada klien sebelum pulang dari perawatan, agar penelitian ini kedepan Iebih sempurna perlu spesitikasi sample yang baik."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2004
LP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rubita Rahmarianti
"Salah satu komplikasi mikroangiopati dari penyakit DM dan merupakan penyebab kematian terpenting pada penderita DM adalah Nefropati Diabetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kejadian Gangguan Ginjal pada penderita DM serta faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian tersebut di RSCM tahun 2012. Penelitian ini dilakukan pada penderita DM yang berobat baik di rawat jalan (Poli DM) maupun rawat inap dengan menggunakan desain cross sectional. Sampel penelitian terdiri dari 255 pasien DM yang terpilih seara random sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 34,9% sampel mengalami Gangguan Ginjal. Hasil dari analisis chi square menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin dan lama menderita DM dengan kejadian Gangguan Ginjal.

One of the microangiopathic complications and the most important cause of death in people with diabetes is Diabetic Nephropathy. The purpose of this study was to describe the incidence of renal disorders in patients with diabetes and the factors that influence the event at the RSCM in 2012. The study was conducted in patients with DM were treated well in the outpatient (Poly DM) and hospitalizations using cross-sectional design. The research sample consisted of 255 patients who elected seara DM random sampling. The results showed that as many as 34.9% of the sample had Kidney Disorders. Results of chi-square analysis showed that there is a relationship between sex and the incidence of long- suffering DM Kidney Disorders."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
S44912
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Agil Bredly Musa
"Hingga saat ini, belum ada penanda biologis yang menggambarkan kondisi penyakit ginjal kronik (PGK) akibat diabetes melitus (DM) sejak dini. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara rasio albumin kreatinin urin (Urine Albumin Creatinine Ratio, UACR) dengan laju filtrasi glomerulus yang diestimasi (estimated Glomerular Filtration Rate, eGFR) sebagai penanda gangguan fungsi ginjal pada pasien DM tipe 2 RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Sampel urin dan serum diambil dari 18 subjek sehat dan 10 pasien DM tipe 2. Metode spektrofotometri digunakan untuk mengukur kadar albumin urin, kreatinin urin dan kreatinin serum. Data lain diperoleh dari kuesioner.
Hasilnya, nilai eGFR pasien DM (68,85 ± 15,36 (Cockroft); 73,94 ± 16,30 (CKD-EPI)) lebih rendah dibandingkan dengan subjek sehat (90,51 ± 15,69, p < 0,01 (Cockcroft); 91,13 ± 21,21, p < 0,05 (CKD-EPI)), sedangkan nilai UACR pasien DM (314,99 ± 494,92) lebih tinggi dibandingkan dengan subjek sehat (0,48 ± 0,75, p < 0,01). Namun, tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara UACR dengan eGFR pasien DM.

Until now, no biological marker that describes the condition of chronic kidney disease (CKD) due to diabetes mellitus (DM) from the outset. This study aimed to determine the relationship between urine albumin creatinine ratio (UACR) with estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) as a marker of renal dysfunction at type 2 diabetes mellitus patients at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Urine and serum samples taken from 18 healthy subjects and 10 type 2 diabetic patients. Spectrophotometric methods used to measure levels of urinary albumin, urinary creatinine and serum creatinine. Other data obtained from questionnaires.
Results, eGFR values were lower in DM patients (68.85 ± 15.36 (Cockroft); 73.94 ± 16.30 (CKD-EPI)) compared with healthy subjects (90.51 ± 15.69, p < 0.01 (Cockcroft); 91,13 ± 21,21, p < 0,05 (CKD-EPI)), while the value of UACR in DM patients (314.99 ± 494.92) was higher than healthy subjects (0.48 ± 0.75, p < 0.01). However, there was no significant correlation between UACR with eGFR of DM patients.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S42858
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Jumlah penderita Diabetes Mellitus di Indonesia akan meneapai 12 juta pada tahun 2025. Sebagai salah satu komplikasinya penderita diabetes mengalami disfungsi ereksi yang cukup tinggi yaitu 27-82 % menurut beberapa kepustakaan di negara-negara barat dan 42-52% di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi klien Diabetes Mellitus terhadap gangguan aktifitas seksual. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif sederhana. Responden diambil di Poliklinik Endokrin RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dengan kriteria klien yang sudah didiagnosis DM tanpa membedakan tipe I dan tipe II, serta laki-laki yang sudah menikah. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner yang dibagi datum 2 bagian, data 1 tentang demografi yang berisi 4 pertanyaan dan data II tentang persepsi sebanyak 10 pertanyaan. Dan kuesioner yang dirancang peneliti didapatkan hasil persepsi responden yang setuju bahwa klien DM ada gangguan terhadap aktifitas seksual sebesar 80 % dan yang tidak setuju sebesar 20 %. Persepsi responden yang setuju bahwa klien DM tidak ada gangguan terhadap aktifitas seksual sebesar 46 % dan yang tidak setuju 54 %. Responden yang setuju terhadap aktifitas pendukung untuk melakukan aktifitas seksual sebesar 77% dan yang tidak setuju 23%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa persepsi klien DM terhadap gangguan seksual cukup tinggi tetapi motivasi untuk melakukan aktifitas pendukung yang mendukung terhadap aktifitas seksual juga cukup kuat. Selanjutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi peneliti Iainnya."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5219
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Debbie Nomiko
"Diabetes Mellitus (DM) rnerupakan suatu penyakit yang ditandai dengan adanya kenaikan kadar gula darah (hiperglikenia). Prevalansi DM saat ini berkisar antara 1,4 % sampai dengan 1,6 %. Menurut WHO pada tahun 2020 diperkirakan jumlah pasienDM di Indonesia sebesar 86 %- 138 % dibandingkan kenaikan penduduk Indonesia Pada Periode Yang sama Yang hanya 40 %. Pemberian diet masih merupakan salah satu cara untuk menjaga agar kadar gula tetap normal. Oleh karena itu ketidakdisiplinan dan ketidakpatuhan klien DM terhadap prinsip gizi dan perencanaan makan (program diet) merupakan Salah satu kendala pada pelayanan diabetes.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor apa saja yang akan mempengaruhi tingkat kepatuhan klien DM dalam penatalaksanaan diet yang dialami. Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat Inap B lantai IV kanan dan V kanan RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo pada tanggal 14 Mei 2001 sampai dengan 2 Juni 2001.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif sederhana. Sampel yang digunakan berjumlah 28 sampel, sampel adalah klien DM dengan kriteria bisa baca tulis dan bersedia mengisi kuisioner, mendapat terapi diet dan sedang mengalami rawat inap di RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta. Penelitian ini mendapatkan kesimpulan bahwa sebagian besar sampel berusia lebih dari 60 tahun (35,71 %), berpendidikan SD (32,l4 %), berpenghasilan kurang dari Rp 500.000 (42,815 %).
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan klien DM ferhadap penalalaksanaan diet didapatkan bahwa faktor pengetahuan sangat mempengaruhi tingkat kepatuhan klien DM dengan rata-rata skor 12,5 dan Standar Deviasi 0,67. Faktor sosial budaya mempengaruhi kepatuhan klien DM dengan rata-rata skor 12,2 dengan SD 0,64. Faktor dukungan keluarga sangat mempengaruhi tingkat kepatuhan dengan rata-rata skor 13,2 dan SD 0,84 serta faktor motivasi mempengaruhi tingkat kepatuhan klien DM dengan rata-rata skor 12,6 dan SD 1,47.
Hasil penelitian merekomendasikan untuk penelitian Iebih Ianjut agar dapat dikembangkan lagi penelitian korelatif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan menjalani diet yang dibatasi."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2001
TA5061
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Ratna Mutu Manikam
"Ketoasidosis diabetik (KAD) merupakan komplikasi akut dari diabetes melitus (DM) tak terkontrol, ditandai dengan hiperglikemia, ketosis, dan asidosis metabolik. Pemberian nutrisi sering menjadi masalah, namun menunda pemberian nutrisi dini menyebabkan peningkatan kadar keton darah dan morbiditas pasien. Tujuan penulisan serial kasus ini adalah memulihkan ketosidosis dan memenuhi kebutuhan makro- dan mikronutrien. Pasien berusia antara 18?65 tahun, mengalami KAD dengan DM, dirawat 5?12 hari di Rumah Sakit Umum Tangerang. Pencetus KAD adalah infeksi, ketidakpatuhan pengobatan, dan diet yang tidak tepat. Keempat orang pasien menderita DM dengan penyakit penyerta yang berbeda. Terapi nutrisi diberikan berdasarkan kondisi klinis pasien. Energi diberikan mulai dari kebutuhan basal yang dihitung dengan persamaan Harris-Benedict, atau dimulai dari 20?25 kkal/ kg BB pada kondisi sakit kritis. Makronutrien diberikan sesuai rekomendasi American Diabetes Association dan mikronutrien sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Pemantauan yang dilakukan meliputi toleransi asupan, imbang cairan, antropometri, dan laboratorium (kadar glukosa darah, keton darah, dan elektrolit). Edukasi dan konsultasi nutrisi diberikan setiap hari. Selama pemantauan semua pasien menunjukkan perbaikan klinis dan penurunan kadar keton darah. Semua pasien dapat mencapai kebutuhan energi total dan kadar glukosa darah mendekati normal. Sebelum pulang pasien diberikan edukasi tentang cara mengetahui faktor yang dapat mencetuskan KAD dan mengatasinya, serta edukasi nutrisi untuk mencapai kontrol glikemik optimal dan mencegah KAD.

Diabetic ketoacidosis (DKA) is an acute complication of uncontrolled diabetes, characterized by hyperglycemia, ketosis, and metabolic acidosis. Nutrition intervention may often cause some problems, unfortunately, withholding early nutrition may increase blood ketones concentration and patient morbidity. Aims of this case series are resolve ketoacidosis dan meet macro and micronutrient requirement. Patients aged between 18 to 65 years old, presented DKA with diabetes mellitus, and hospitalized from 5 to 12 days at Tangerang General Hospital. Precipitating factors of DKA include infection, noncompliance to medication, and inproper diet. All patients suffered from DM with different comorbidities. Nutritional therapy was given according to patients clinical condition. The energy was given begin with basal requirement, which calculated using Harris-Benedict equation, or begin with 20?25 kcal/kg body weight (BW) in critically ill condition. Macronutrients were given according to American Diabetes Association recommendation and micronutrients based on patients? condition and requirement. Monitoring includes food intake tolerance, fluid balance, anthropometric, and laboratory results (blood glucose levels, blood ketone, and electrolytes). Education and nutrition consultation were given everyday. During monitoring all patients showed clinical improvements in general condition and blood ketone concentration?s reduction. All patients can meet total energy requirement with blood glucose levels close to normal. Before discharge, patients received education to identify and manage risk factors that may precipitate DKA. Nutrition education was also given to achieve optimal glycemic control and prevent DKA."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hendria Putra
"Endurance exercise merupakan aktifitas fisik aerobic yang dapat meningkatkan denyut jantung dan pernafasan bila dilakukan dalam waktu yang direkomendasikan pada pasien Diabetes Mellitus. Ketidaktahuan perawat tentang bentuk, intensitas, durasi, dan frekuensi latihan fisik yang diperbolehkan pada pasien tersebut akan menyebabkan tidak terlaksananya manajemen asuhan keperawatan yang baik dan benar pada pasien Diabetes Mellitus.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristlk, nilai HDL darah, nilai HDL darah sebelum dan sesudah endurance execise, nilai HDL darah antara kelompok kontrol dan intervensi sesudah endurance exercise serta variabel yang paling berpengaruh terhadap nilai HDL sesudah endurance exercise.
Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperirnen dengan pendekatan the untreated control group design with pretest and positest. Populasi penelitian sebanyak 388 orang. Sampel penelitian adalah 47 responden (23 responden pada kelompok kontrol dan 24 responden kelompok intervensi) dengan menggunakan teknik random sampling.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan nilai HDL darah sebelum dan sesudah endurance exercise (p=0.000), adanya perbedaan signifikan nilai HDL darah sesudah endurance exercise antara kelompok kontrol dan intervensi (p=0.042), serta keteraturan kontrol merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap nilai HDL darah sesudah endurance exercise (Beta=0.370).
Kesimpulan penelitian ini adalah endurance exercise dapat meningkatkan nilai HDL darah pasien Diabetes Mellitus. Dari hasil penelitian ini disarankan endurance exercise dapat menjadi salah satu intervensi dalam asuhan keperawatan pasien Diabetes Mellitus."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2007
T22879
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
N. Yune Yohana, auhtor
"ABSTRAK
Latar belakang : Penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke merupakan penyebab
kematian utama baik di negara Barat maupun di Indonesia terutama di daerah
perkotaan. Setiap tahun lebih banyak orang meninggal karena penyakit
kardiovaskular dibandingkan penyakit lain. Diabetes melitus merupakan faktor
risiko independen untuk penyakit kardiovaskular. Gangguan aliran darah yang
mengakibatkan PJK maupun stroke disebabkan oleh trombosis arteri. Aktivasi
trombosit diduga terjadi pada pasien diabetes melitus. Ketika trombosit teraktivasi
akanterjadi beberapa perubahan diantaranya pelepasan kandungan granula dan
pembentukan tromboksan A2. Pengukuran tromboksan A2 sulit dilakukan karena
sifatnya yang tidak stabil, maka dilakukan pengukuran terhadap metabolitnya 11-
dehidro tromboksan B2. tujuan penelitian ini adalah menukur kadar 11 dehidro
TxB2 di urin pada pasien diabetes melitus sebagai suatu petanda dini aktivasi
trombosit dan mengkorelasikannya dengan hemoglobin A1c (HbA1c).
Metoda : Empat puluh lima pasien diabetes melitus tipe 2 dan 30 non diabetes
sebagai kontrol diambil pada penelitian ini. Pengukuran kadar 11 dehidro TxB2 di
urin dengan tehnik competitive EIA menggunakan reagen dari Cayman Chemical.
Kadar 11-dehidro tromboksan B2 urin disajikan dalam bentuk rasio dengan
kreatinin urin. Pengukuran HbA1c dilakukan dengan metode akfinitas boronik
menggunakan NycocardR.
Hasil : Pada kelompok diabetes melitus median kadar 11 dehidro TxB2 di urin
1216,56 pg/mg kreatinin (70,53 – 12167,72 pg/mg kreatinin). Terdapat perbedaan
bermakna dibanding kelompok non diabetes dengan median 200,55pg/mg kreatinin
(57,19-602,46 pg/mg kreatinin). Terdapat korelasi yang kuat antara kadar 11
dehidro TxB2 pada kelompok diabetik dengan indeks glikemik (HbA1c).
Kesimpulan : 11 dehidro TxB2 di urin dapat dipakai sebagai petanda dini aktivasi
trombosit pada pasien diabetes melitus dan mempunyai korelasi yang kuat dengan
HbA1c.

ABSTRACT
Background: It is widely known that heart disease and stroke are the main cause of
death in Western countries. This issue found in Indosesia especially in the urbam ares.
Diabetes mellitus is one of the independentbrisk faktor for cardiovaskular. Cirulatory
disorder that result in coronary heart disease and stroke is arterial thrombosis. Platelet
play an important role in the pathogenesis of arterial thrombosis. Some report stated
that platelet activation occurred in diabetes mellitus. When platelet are activated, some
change happened, i.e : released of granule content and thromboxane A2 (TxA2)
formation. Measurement of TxA2 as a marker for platelet activation was hampered by
the instability of this substance. Therefore it is preferred to measure their stable
metabolite 11-dehydro thromboxane B2 in urine. The aim of this study is to measure
urine 11-dehydro thromboxane B2 in diabetes mellitus as an early of platelet activation
and to correlate this value with hemoglobin A1c.
Methode: Forty five patients with type 2 diabetes mellitus and 30 non diabetic as
control group were enrolled in this study. Measurement of urine 11 dehidro TxB2 was
done by competitive EIA using reagent from Cayman Chemical. The level of urine 11-
dehydro TxB2 was expressed as ratio with urine creatinine. Measurement of HbA1c
was performed by boronic affinity method using NycocardR.
Result : In diabetics group the median rate for urine 11 dehydro TxB2 was 1216,56
pg/mg creatinine ( 70,53 - 12167,72 pg/mg creatinine). It was significantly higher than
that of non diabetic group, which median was 200,55 pg/mg creatinine ( 57,19 -
602,46 pg/ mg creatinine). the level of urine 11-dehydro TxB2 in diabetics group
showed a strong correlation with HbA1c as glycemic index.
Conclusion: Urine 11-dehydro TxB2 can be used as an early marker of platelet
activation in diabetes mellitus patients and there was a strong correlation with HbA1c."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ismail Fahmi
"Diabetes melitus merupakan kelompok penyakit yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin atau kerja insulin. Masalah psikososial seperti stres dan kecemasan pada klien dengan yang mengalami diabetes melitus sangat mempengaruhi status kesehatan dan perkembangan kesembuhan klien karena mempengaruhi kadar gula darah.
Karya ilmiah akhir ners ini dilakukan untuk menganalisis implementasi asuhan keperawatan relaksasi otot progresif berdasarkan evidence based practice dalam mengatasi ketidakstabilan kadar gula darah pada klien dengan masalah diabetes melitus di ruang IPD lantai 7 zona A RSUP Cipto Mangunkusumo Jakarta Evaluasi tindakan diperoleh tehnik relaksasi otot progresif dapat menurunkan tingkat stres pada klien diabetes sehingga mampu menurunkan kadar gula darah.

Diabetes mellitus is caused by secretory the impairment of insulin or function of insulin. Psychological problems such as stress and anxiety in patients with diabetes mellitus might influence health status and healing process due to high blood glucose.
This final clinical nursing paper aimed to analyze nursing care intervention of progressive muscle relaxation based on evidence based practice to overcome instability of blood glucose level in patient with diabetes mellitus at medical ward, 7th Floor Zone A, Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. Results shown that Progressive Muscle Relaxation can reduce stress in patient with diabetes mellitus and high blood glucose level.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Delis Amaliah Zam
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010
S26660
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>