Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 95265 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Diah Madubrangti
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
306.52 DIA u
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Diah Madubrangti
"ABSTRAK
Undoukai,, yang arti harafiahnya pesta olah raga adalah salah satu kegiatan wajib program pendidikan sekolah Jepang Pendidikan selalu berlangsung seiring dengan perkembangan masyarakatnya. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), pendidikan pun berjalan disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan anak pada zamannya.
Di dalam pendidikan formal, pengembangan kreativitas ada dan diperhatikan di dalam penyusunan kurikulum sebagai pemenuhan bukan hanya kebutuhan individual, tetapi juga kebutuhan sosial dan budayanya karena kreativitas mempunyai keteraturan. Aktivitas kreatif merupakan suatu bentuk pengejawantahan dari kermampuan berkomunikasi dengan orang lain, sekaligus aktualisasi diri dalam kehidupan bermasyarakat yang berpedoman pada aturan-aturan dan nilai-nilai sosial dan budaya yang didukung oleh masyarakatnya Pendidikan sebagai aktivitas kreatif mengarahkan anak pada penyampaian gagasan, yang terus-menerus dikembangkan karena adanya tanggapan yang mengarah pada pengembangan keterampilan fisik dan sosial
Pada suatu masa (tahun 1970-an), undoukai pemah menjadi kegiatan wajib sekolah yang menjenuhkan bagi bagi guru dan murid. Banyak sekolah yang tidak serius menangani penyelenggaraan undoukai. Tetapi undoukai sebagai salah satu bagian dari proses pendidikan yang diperlukan anak Jepang di dalam kehidupannya dirasakan perlu oleh pendidikan nasional Jepang sebagai kegiatan wajib sekolah yang sangat diperlukan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak menuju kehidupan masa yang akan datang. Kegiatan undoukai memeriukan kerja sama, karena anak belajar berinteraksi di dalam kehidupan kelompok. Dalam kesempatan ini anak belajar saling mendengarkan, memberikan pendapat dan belajar memberikan interpretasi.
"
2004
D542
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ria Mantiri
"Proses untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, tentu tidak mudah. Hal seperti ini ternyata melibatkan banyak pihak baik dari lingkungan (eksternal) maupun dari dalam diri subyek sendiri (internal). Jepang, salah satu negara industri, dikenal memiliki sumber daya manusia yang berpotensi dan berkualitas. `Kualitas' tersebut dapat berarti kemampuan tiap individu dalam menguasai bidang pekerjaannya dengan baik disertai dengan semangat kerja yang tinggi dan keinginan untuk terus maju. Disamping hal itu, yang diharapkan dari seorang manusia dewasa yang berkualitas adalah keberhasilannya dalam hidup bermasyarakat.
Keterlibatan anak dalam pendidikan prasekolah adalah salah satu upaya untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas tersebut. Pendidikan prasekolah menjadi alternatif bagi orang tua di Jepang untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat.
Kondisi seorang anak yang berusia 0 hingga menginjak usia 6 tahun merupakan masa yang penting. Pada masa itu dalam diri anak akan terbentuk suatu sikap untuk bersosialisasi dengan orang lain. Melalui pendidikan prasekolah inilah, ditanamkan nilai--nilai hidup dalam masyarakat. Dengan kurikulum yang lebih banyak menekankan kegiatan yang bersifat kelompok, secara tidak sadar, telah tertanam rasa kebersamaan dalam diri anak, yang juga merupakan bekal yang sangat berguna untuk kehidupannya kelak."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2001
S13810
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diah Madubrangti
"ABSTRAK
Nojuu Shinsaku, dari Pusat Penelitian Bimbingan Kehidupan Anak di Jepang mengatakan tentang apa yang disebut ijime sebagai berikut : ( 1989: 44 )
Penjelasannya:
"Yang disebut ijime berbeda dengan perkelahian, tetapi merupakan suatu perbuatan seseorang yang mempunyai kekuatan dalam beberapa bentuk untuk dapat melakukan penyerangan searah terhadap yang menjadi lawannya. Orang yang berada dalam posisi yang kuat menyerang orang yang berada dalam posisi yang lemah baik seoara fisik maupun mental, dan mempunyai ciri bahwa yang melakukan itu merasa senang apabila melihat lawannya menderita atau menjadi kesal. Ijime mempunyai ciri bukan dilakukan dengan berakhir dalam satu kali perbuatan seperti halnya dalam suatu perkelahian, tetapi dilakukan dalam masa yang panjang.
Ijime berbeda dengan apa yang disebut perkelahian, karena berkelahi di dalam suatu perkelahian biasanya dilakukan oleh satu lawan satu orang, tetapi ijime kelihatannya semacam perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok besar orang terhadap sekelompok kecil orang atau oleh beberapa orang terhadap satu orang. Selain itu, ijime tidak hanya dilakukan satu kali perbuatan, tetapi dilakukan berkali-kali dalam masa yang panjang.
Ijime sekarang menunjukkan bentuk tersendiri pada masyarakat anak sekolah di Jepang akhir-akhir ini dalam melakukan suatu perbuatan atau tindakan di lingkungan sekolahnya sendiri dalam bentuk gendai no ijime `ijime masa kini'. Di dalam gendai no ijime lebih menunjukkan adanya dochokeiko 'kebersamaan yang kolektif' dalam melakukan suatu perbuatan atau tindakan secara bersama yang disebut doohokodo 'perbuatan secara bersama-sama.
"
1993
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yeni Sopita
"ABSTRAK
Skripsi ini membahas tentang sistem student conduct management dalam mengurangi pelanggaran peraturan sekolah yang dilakukan oleh siswa SMA Sugar Group. Tujuan dari penelitian ini diantaranya untuk menggambarkan persepsi siswa terhadap pelanggaran peraturan di SMA Sugar Group, menerangkan beberapa alasan siswa masih melakukan pelanggaran peraturan sekolah, menjelaskan peran student conduct management dalam mengurangi pelanggaran peraturan oleh siswa, menggambarkan makna peraturan bagi siswa SMA Sugar Group, menggambarkan makna student conduct management bagi siswa SMA Sugar Group serta menggambarkan pemahaman guru-guru SMA Sugar Group mengenai peran student conduct management.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem student conduct management belum dianggap efektif dalam menjalankan perannya yakni menekan jumlah pelanggaran peraturan yang dilakukan oleh siswa. Dikatakan belum efektif karena masih terdapat pelanggaran peraturan yang dilakukan oleh siswa yakni khususnya siswa kelas 10 dan kelas 11, alasan kedua sistem tersebut belum dianggap efektif karena pelanggaran berulang masih terjadi, selanjutnya adalah karena konsekuensi yang diberikan tidak dapat merubah nilai negatif menjadi positif, serta peran guru sebagai model bagi para siswa kurang maksimal.

ABSTRACT
This thesis discusses the management system of student conduct in violation of school rules to reduce the high school students conducted by the Sugar Group. The purpose of this research to describe the perception among students of high school rule violations in the Sugar Group, explains some of the reasons students still violating school rules, clarify the role of management in reducing the student conduct policy violations by students, describing the meaning of the rules for high school students Sugar Group, describes the meaning of student conduct management for high school students understanding of the Sugar Group and describes the high school teachers Sugar Group on the role of student conduct management.
This research uses a qualitative method of data collection techniques through in-depth interviews and observation. These results indicate that the student conduct system management is not considered effective in carrying out its role the press that the number of violations committed by students. Is not yet effective because there are still violations committed by the students, especially students in grade 10 and grade 11, the second reason the system is not considered effective because of repeated violations still occur, because the consequences that followed was rendered unable to change the negative into a positive value, and the role teacher as a model for students less than the maximum.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Adisarizka Virgina
"Pelaksanaan pendidikan inklusif merupakan sebuah tantangan bagi guru karena guru harus dapat mengakomodasi kebutuhan belajar siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap terhadap pendidikan inklusif dan dukungan emosional guru, serta memeroleh gambaran dukungan emosional guru di SD Negeri inklusif Depok N = 40.
Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif menggunakan MATIES VI dan kuesioner dukungan emosional, sedangkan metode kualitatif dengan observasi melalui rekaman video.
Hasil penelitian menemukan adanya hubungan yang signifikan antara sikap guru terhadap pendidikan inklusif dan dukungan emosional guru. Diketahui pula bahwa perilaku dukungan emosional guru yang lebih sering muncul yaitu pada dimensi iklim positif.

The implementation of inclusive education creates challenges for teachers who have to be able to accommodate learning needs of students with and without special educational needs SEN . The aims of this study were to investigate the correlation between teachers rsquo attitudes towards inclusive education and their emotional supports and to obtain the overview of teachers rsquo emotional supports on public primary inclusive schools in Depok N 40.
This study were conducted by quantitative and qualitative methods. Quantitative method using the MATIES VI and the emotional supports scale, and qualitative method using observation with video recording.
This study revealed that teachers rsquo attitudes towards inclusive education were related to their emotional supports. It was also found that teachers more frequently provide emotional supports on positive climate dimension.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2016
T47523
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Clara R.P. Ajisuksmo
"Akibat kemiskinan orang tua, anak harus berada di jalan atau bekerja untuk ikut membantu menunjang ekonomi keluarga. Sebagai konsekuensi, anak harus meninggalkan bangku sekolah. Padahal, menurut pasal 28 dari Konvensi Hak Anak (KHA) pendidikan merupakan salah satu hak anak yang harus dipenuhi, dan negara wajib untuk memfasilitasi pemenuhan hak tersebut melalui penyelenggaraan program pendidikan dasar wajib bagi semua anak tanpa kecuali secara cuma cuma. Pendidikan luar sekolah merupakan program pendidikan alternatif, yang ditujukan agar anak jalanan dan pekerja anak tetap dapat memenuhi hak mereka akan pendidikan. Penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penting yang harus diperhatikan dalam merancang dan melaksanakan program pendidikan luar sekolah bagi anak yang putus sekolah, seperti anak jalanan dan pekerja anak. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan bagi para tutor yang mendampingi pekerja anak dan anak jalanan melalui program pendidikan luar sekolah yang dilaksanakan. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, dilakukan FGD dan wawancara mendalam kepada pendiri, staf dan pengurus LSM penyelenggara program pendidikan luar sekolah bagi anak jalanan dan pekerja anak, para tutor yang mendampingi kegiatan belajar anak, dan anak jalanan serta pekerja anak yang mendapat manfaat langsung dari program pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan oleh LSM.

Due to poverty, children have to be on the street or involve in child labour to support the families? economy to survive. As a consequence, children have to drop their school activities out. Refering to article 28 of the Convention of The Rights of The Children (CRC) children have the right to education and the states party recognizes to achieving this right by providing primary education compulsory and available free on the basis to equal opportunity. Non formal education is an alternative education for street children and working children, intended for them to fulfill their right to education. The aim of this study is to identify important factors that are essential for designing and implementing educational program for out-of school children, such as street children and working children. In addition, this study is intended to identify training needs for tutors who facilitate street children and working children in their non formal education program. In order to achieve the research objectives, series of FGDs and in depth interviews with staff of NGO working with out-of school children, tutors who facilitate children?s learning processes, and street children and working children as the beneficiaries of the non-formal education program implemented by the NGO."
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ayuana Lestari
"Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kualitas attachment anak pada ibu dan kompetensi sosial anak pra-sekolah. Pengukuran kualitas attachment menggunakan modifikasi dari alat ukur Parent/Child Reunion Inventory (P/CRI) yang dibuat oleh Marcus (2001) dengan menggunakan insecurity scale dan pengukuran kompetensi sosial menggunakan modifikasi dari alat ukur Social Skill Rating System (SSRS) yang dibuat oleh Gresham & Elliot (1990) yang diukur melalui keterampilan sosial dan perilaku bermasalah. Partisipan berjumlah 100 orang ibu yang memiliki anak berusia 3 - 5 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kualitas attachment dengan keterampilan sosial anak (pearson correlation = -0.446, p = 0.000, signifikan pada L.o.S 0.01), dan juga menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara kualitas attachment dengan perilaku bermasalah (pearson correlation = 0.374, p = 0.000, signifikan pada L.o.S 0.01). Karena menggunakan insecurity scale untuk mempermudah skoring, maka hasil yang didapat menunjukkan bahwa semakin tinggi kualitas insecure attachment anak pada ibu, maka akan semakin rendah keterampilan sosial yang dimiliki anak. sebaliknya semakin tinggi kualitas insecure attachment anak pada ibu, maka anak akan semakin sering menampilkan perilaku bermasalah.

This research was conducted to find the correlation between children to mother attachment quality and the children social competence in pre-school. The attachment quality was measured by modification of P/CRI tool (created by Marcus, 2001) using insecure scale method. The measurement of the social competence was measured by modification of SSRS tool (created by Gresham & Elliot, 1990) that measured through social skills and problem behavior. The participants of this research are 100 mothers whose having a child between 3 to 5 years old. The main results of this research show that the attachment quality negatively correlated significantly with and the children’s social competence (pearson correlation = -0.446, p = 0.000, significant at L.o.S 0.01). The attachment quality also positively correlated significantly with the problem behavior (pearson correlation = 0.374, p = 0.000, significant at L.o.S 0.01). Because of this study using insecurty scale to easier the skoring, this result show that the higher is children’s insecurity attachment to mother, the lower is the children’s social competence. In reverse, the higher is the children’s insecurity attachment to mother, children will more often showed problem behavior."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
S45034
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>