Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 178589 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Akisa Gestantya
"Latar Belakang: Ekspresi emosi marah yang tidak dapat diregulasi dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak negatif khususnya pada remaja, termasuk juga terlibat dalam tindak kriminal kekerasan. Intervensi manajemen marah kelompok akan bermanfaat bagi remaja untuk menurunkan emosi marah.
Metode: Penelitian dilakukan secara quasi experimental. Tujuh remaja laki-laki berusia 17-19 tahun yang memiliki tingkat emosi marah dan perilaku kekerasan tinggi berdasarkan alat ukur Sikap Terhadap Kekerasan dan Buss-Perry Aggression Questionnaire subskala anger dan telah melakukan tindak kriminal kekerasan menjadi partisipan dalam penelitian ini. Mereka diberikan intervensi manajemen marah yang terdiri dari 5 sesi utama, dimana setiap pertemuan berkisar antara 60 hingga 90 menit yang dilakukan dengan jeda 3 sampai 7 hari setiap sesinya. Pada sesi terakhir dilakukan pengukuran post-test dan satu bulan kemudian dilakukan follow-up dengan menggunakan alat ukur yang sama.
Hasil: Berdasarkan pengukuran kuantitatif didapatkan hasil yang inkonklusif. Melalui hasil pengukuran kualitatif diketahui bahwa seluruh partisipan mengalami penurunan emosi marah.
Kesimpulan: Berdasarkan hasil pengukuran kualitatif, penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi manajemen marah kelompok berhasil mengatasi emosi marah pada remaja pelaku kekerasan di Lapas Anak Pria Tangerang.

Background: Anger that are failed to be expressed and regulated in a healthy way can often bring various negative consequences, including involvement in violent crime in adolescents. Group anger management is argued able to bring favorable outcomes, especially in reducing anger.
Methods: This study is a quasi experiment. Seven adolescents aged 17 to 19 years old who have committed serious violent crimes and now serving prison-time at Lapas Anak Pria Tangerang participated in this study. All of them scored high in Attitude Towards Violence and high in anger from the measures of Buss-Perry Aggression Questionnaire anger subscale. They were all given a 5-session group anger management program, with each session lasting for 60 to 90 minutes. Each session also has a 3 to 7 days interval. Post-test were given in the last session and also a follow-up test 1 month after the last session, using measurements that were used in the pre-test.
Result: The results from the quantitative measures are deemed to be inconclusive. However, qualitative measures showed that group anger management was effective in reducing anger for all participants.
Conclusion: According to the qualitative results, this study showed that group anger management is effective in reducing anger in juvenile delinquents serving prison-time at Lapas Anak Pria Tangerang.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
T42240
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fara
"Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran pekerja sosial dalam program rehabilitasi anak nakal di Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pemilihan informannya adalah purposive sampling dengan informannya adalah koordinator pekerja sosial, pekerja sosial, dan juga penerima manfaat sebagai klien lembaga. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dalam setiap tahapan program rehabilitasi PSMP handayani, terdapat banyak peranan pekerja sosial yang membantu rehabilitasi anak nakal. Namun pekerja sosial di dalamnya masih kurang memadai.

This study aimed to describe the role of social workers in rehabilitation programs in juvenile delinquents at Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani. The research approach used was qualitative descriptive research. Informant selection techniques is purposive sampling with the informant is the coordinator of social workers, social workers, and beneficiaries as well as the agency's clients. The results showed that in each phase of the rehabilitation program PSMP handayani, there are many roles of social workers who help rehabilitate juvenile delinquents. But social workers in it is still inadequate."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2013
S45082
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rafi
"Remaja yang berkonflik dengan hukum memiliki konsep diri yang negatif karena terjerat kriminalitas yang membuat mereka kehilangan keberfungsian sosial. Dalam situasi tersebut, pembentukan resiliensi menjadi aspek penting agar mereka mampu bangkit, beradaptasi, dan kembali berfungsi secara sosial. Sebagai bagian dari proses rehabilitasi sosial, bimbingan sosial hadir sebagai intervensi yang diarahkan untuk memperkuat aspek kognitif, emosional, dan sosial remaja. Penelitian ini dilakukan di Sentra Handayani, salah satu LPKS yang menyelenggarakan program rehabilitasi melalui prinsip restorative justice dengan program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI). Preliminary research menunjukkan bahwa mayoritas penerima manfaat berasal dari kalangan remaja dengan vonis rehabilitasi 3–6 bulan, terlibat dalam kasus seperti kekerasan fisik, kepemilikan senjata tajam, kekerasan seksual, dan pencurian. Sebanyak 90% dari mereka memiliki tingkat intelegensi rendah dan cenderung bersikap agresif serta kesulitan memahami norma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menjelaskan kegiatan bimbingan sosial di Sentra Handayani; dan 2) menjelaskan pembentukan resiliensi remaja yang berkonflik dengan hukum melalui kegiatan bimbingan sosial di Sentra Handayani. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Informan terdiri dari 5 orang remaja yang berkonflik dengan hukum, 3 fasilitator bimbingan sosial dari kalangan penyuluh sosial, dan 2 orang pekerja sosial pendamping. Data yang didapatkan dianalisis menggunakan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan bimbingan sosial dilaksanakan secara rutin dan sistematis dengan materi berbasis penguatan karakter dan sosial, serta metode yang bervariasi seperti pemaparan teori, refleksi diri, dan permainan edukatif. Kegiatan ini sejalan dengan terapi Cognitive Behavioral yang diaplikasikan melalui penguatan kognitif, pengelolaan emosi, dan pembentukan perilaku positif. Kegiatan ini berkontribusi terhadap pembentukan resiliensi remaja melalui penguatan tiga sumber resiliensi menurut Grotberg (1995), dukungan eksternal (I Have), kekuatan dalam diri (I Am), dan kemampuan interpersonal (I Can). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kegiatan bimbingan sosial berperan dalam mendukung proses rehabilitasi remaja agar mampu membentuk kemampuan resiliensi. Rekomendasi diberikan kepada Sentra Handayani untuk meningkatkan variasi metode dan menyusun modul yang terstruktur. Penelitian selanjutnya disarankan menelusuri keberlanjutan resiliensi pasca-rehabilitasi dan menganalisis jenis pelanggaran hukum dengan resiliensi remaja yang berkonflik dengan hukum.

Juvenile in conflict with the law often develop negative self-concepts due to their involvement in criminal behavior, leading to a loss of social functioning. In such situations, resilience becomes a crucial aspect that enables them to recover, adapt, and regain their social roles. As part of the social rehabilitation process, social guidance serves as an intervention aimed at strengthening adolescents’ cognitive, emotional, and social aspects. This research was conducted at Sentra Handayani, one of the social welfare institutions that implement rehabilitation programs based on restorative justice through the Social Rehabilitation Assistance (ATENSI) program. Preliminary research showed that most beneficiaries were adolescents sentenced to 3–6 months of rehabilitation, involved in cases such as physical assault, possession of sharp weapons, sexual violence, and theft. Approximately 90% of them had low intellectual abilities, exhibited aggressive behavior, and struggled to understand social norms. This study aims to: (1) describe the implementation of social guidance activities at Sentra Handayani; and (2) explain the formation of resilience among juveniles in conflict with the law through these activities. The method are qualitative-descriptive study using in-depth interviews, observations, and document analysis. Informants included 5 juveniles in conflict with the law, 3 social guidance facilitators from social counselors, and 2 social workers. The data analyzed with open coding, axial coding, and selective coding method. The findings show that social guidance activities are carried out regularly and systematically, with materials focused on character and social development, delivered through various methods such as theoretical presentations, self-reflection, and educational games. These activities align with the principles of Cognitive Behavioral Therapy by reinforcing cognitive restructuring, emotional regulation, and positive behavior development. The program contributes to building adolescents’ resilience through the development of three sources as proposed by Grotberg (1995): external support (I Have), internal strengths (I Am), and interpersonal skills (I Can). This study concludes that social guidance plays a significant role in supporting the rehabilitation process by fostering adolescents' resilience. Recommendations are directed to Sentra Handayani to enhance method variation and develop a structured module. Future research is suggested to explore the sustainability of resilience after rehabilitation and examine the relationship between types of offenses and adolescents’ resilience levels."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Sulistijaningsih
"The delinquent who are in the prison have right to get education and training according to their talents and competence.
In connection with the case above and to gat how far the guidence has an impact on change of delinquent behavior as long as they are doingtime in prison. ln this research, the researcher use qualitative method with social control paradigm especially social bounding theory by Travis Hirschi.
From the research we can conclude the connection between implementation guidance and wich is given tothe delinquent at bandung prison can change the children behavior as long as they are doing time in prison."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2006
T 22297
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Winda Maharani
"Coping stress merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi remaja untuk melakukan kekerasan seksual. Beberapa penelitian menemukan bahwa pelaku kekerasan seksual memiliki coping stress yang tidak efektif dalam menghadapi stres yang dialaminya, sehingga
cenderung memilih untuk melakukan kekerasan seksual sebagai salah satu bentuk coping stress. Kemampuan coping stress yang tidak efektif ini dapat memperbesar kemungkinan seseorang melakukan residivisme di masa depan, sehingga dibutuhkan suatu pendekatan yang mampu
memperbaiki kemampuan coping stress yang dimiliki remaja pelaku kekerasan seksual.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan intervensi berbasis Good Lives Model (GLM) yang menekankan pada kekuatan atau faktor protektif yang dimiliki oleh individu. Intervensi ini akan dilakukan dalam bentuk kelompok yang bertujuan untuk mengubah coping stress remaja pelaku kekerasan seksual yang tidak efektif (emotion-focused dan avoidance-focused) menjadi lebih efektif (task-focused). Hal ini kemudian diharapkan dapat mengurangi kemungkinan remaja pelaku kekerasan seksual akan melakukan re-offending di masa depan.
Desain penelitian ini adalah quasi experimental yang dilakukan pada 6 partisipan remaja laki-laki pelaku kekerasan seksual berusia 17-19 tahun. Intervensi dilakukan sebanyak 5 sesi dalam jangka waktu 1 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh partisipan mengalami perubahan coping stress yang dimilikinya, terutama secara kognitif dalam evaluasi kualitatif. Penelitian ini juga menemukan bahwa intervensi dalam bentuk kelompok memberikan efek keterbukaan dan kebersamaan yang dirasakan oleh seluruh partisipan.

Coping stress is considered as one of the factor that contributes in juvenile sex offending. Several studies have found that juvenile sex offender have ineffective coping stress in dealing with stress they experienced. They tend to commit sexual violence as a form of coping with stress. One of the approach intervention that quite successful to change coping stress is Good Lives Model (GLM). This approach emphasizes the strengths or protective factors that are owned by individuals. Studies found that sex offender in strength-based intervention have lower rate of re-offending compared to sex offender in general risk-based intervention.
In this study, the GLM approach (Good Lives Model) will be conducted in the form of group intervention aimed to change ineffective juvenile sex offender’s coping stress (emotion focused and avoidance-focused) to be more effective (task-focused). It is then expected to reduce the likelihood of juvenile sex offenders will re-offending in the future.
This study design is quasi-experimental. Participants involves were six male prisoners aged 17-19. Interventions conducted in 5 sessions in a period of 1 month. Results in qualitative evaluation showed that all participants experienced a change in the coping stress, especially cognitively. This study also found that group intervention have therapeutic effect such as openness and togetherness that felt by all participants.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2015
T44023
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Atealira Kansa Adiba
"Kenakalan remaja merupakan masalah yang masih marak terjadi di Indonesia dengan 1.235 remaja telah terlibat dalam beberapa kasus kejahatan di awal tahun 2025 (Pusiknas, 2025). Masalah ini juga lebih rentan terjadi pada anak tanpa pengasuhan yang stabil, seperti anak di panti sosial asuhan anak dan berisiko pada munculnya kriminalitas, perilaku bermasalah, hingga sanksi sosial bagi mereka. Pekerja sosial di panti pun menjadi pihak yang bertanggung jawab untuk memastikan mereka tidak lagi melakukan kenakalan remaja dan dapat menjalani masa remajanya dengan optimal. Dalam penangananya, penting juga bagi pekerja sosial untuk mengaplikasikan nilai dan prinsip pekerjaan sosial agar pelayanan yang diberikan lebih efektif dan berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bentuk pengaplikasian nilai dan prinsip pekerjaan sosial oleh pekerja sosial dalam menangani masalah kenakalan remaja pada anak asuh di Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 2 serta dilema etis yang hadir di dalamnya berdasarkan konsep nilai pekerjaan sosial berdasarkan kode etik pekerja sosial di Indonesia, yaitu perilaku dan integritas pribadi, kewajiban pekerja sosial profesional terhadap klien, rekan sejawat, lembaga yang mempekerjakannya, profesi pekerjaan sosial, dan masyarakat, konsep prinsip pekerjaan sosial berupa penerimaan, komunikasi, individualisasi, partisipasi, kerahasiaan, dan kesadaran diri petugas, serta konsep dilema etis pekerja sosial untuk menganalisis pengaplikasian nilai dan prinsip pada suatu studi kasus mengenai kenakalan remaja di panti sosial asuhan anak. Penelitian kualitatif deskriptif ini mengumpulkan data melalui wawancara semi-terstruktur pada 3 pekerja sosial dan 4 anak asuh. Pekerja sosial diminta untuk menjelaskan aplikasi nilai dan prinsip dalam merespon kasus kenakalan remaja yang disajikan oleh peneliti. Penelitian ini menemukan bahwa pekerja sosial telah mengaplikasikan hampir seluruh nilai dan prinsip pekerjaan sosial. Aplikasi nilai dan prinsip ini berimplikasi pada proses intervensi yang selalu memprioritaskan anak, terstruktur, profesional, dan berkelanjutan, tetapi masih terdapat dilema etis yang harus dihadapi. Disimpulkan bahwa pekerja sosial memiliki pemahaman dan kesadaran yang tinggi mengenai pentingnya mengaplikasikan nilai dan prinsip pekerjaan sosial dalam penanganan masalah klien, walaupun dilema etis masih belum dapat dihindari. Saran diberikan kepada pekerja sosial dan pihak panti untuk mengaplikasikan aspek nilai keilmuan dan penelitian yang belum teraplikasikan dan melakukan berbagai upaya advokasi kebijakan dan anggaran untuk mengatasi dilema etis, serta kepada penelitian selanjutnya untuk memperluas cakupan fokus mengenai pengaplikasian nilai dan prinsip pekerjaan sosial pada masalah sosial lainnya, serta memperdalam penelitian mengenai dilema etis bagi pekerja sosial.

Juvenile delinquency is a problem that is still widespread in Indonesia, with 1,235 teenagers involved in several criminal cases in early 2025 (Pusiknas, 2025). This issue is also more likely to occur among children without stable care, such as those in child care institutions, and puts them at risk of criminal behavior, problematic conduct, and social sanctions. Social workers in child care institutions are the ones responsible for ensuring that they are no longer commit juvenile delinquency and can live their teenage years optimally. In handling it, it is also important for social workers to apply the values and principles of social work so that the services provided are more effective and have a better quality. This study aims to describe the form of application of social work values and principles by social workers in handling the problem of juvenile delinquency in foster children at the Putra Utama 2 child care institution and the the ethical dilemmas that arise in the process based on the concept of social work values based on the code of ethics of social workers in Indonesia, namely personal behavior and integrity, the obligations of professional social workers to clients, colleagues, institutions that employ them, the social work profession, and society, the concept of principles of social work in the form of acceptance, communication, individualization, participation, confidentiality, and worker self-awareness, and also the concept of ethical dilemmas in social work to analyze the application of values and principles in a case study of juvenile delinquency in a child care institution. This descriptive qualitative research collected data through semi-structured interviews with 3 social workers and 4 foster children, and social workers were asked to explain the application of values and principles in responding to cases of juvenile delinquency presented by researchers. This study found that social workers have applied almost all social work values and principles in responding to the cases presented. The application of these values and principles has implications for the intervention process that always prioritizes children, is structured, professional, and sustainable, but there are still ethical dilemmas that must be faced. It is concluded that social workers have a high understanding and awareness of the importance of applying social work values and principles in handling client problems, although ethical dilemmas cannot be avoided. Suggestions are given to social workers and the institutions to apply scientific knowledge and research values that have not been applied and to make various policy and budget advocacy efforts to overcome ethical dilemmas, as well as to further research to expand the scope of focus on the application of social work values and principles to other social problems, and to deepen research on ethical dilemmas faced by social workers."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tiky Nindita
"Tesis ini membahas mengenai efektivitas dari Cognitive Behavior Therapy (CBT) ketika diterapkan untuk menangani masalah pengelolaan rasa marah (anger management) pada anak. Penelitian ini merupakan penelitian dengan subjek tunggal. Subjek merupakan anak laki-laki berusia 9 tahun yang memiliki kesulitan dalam mengelola rasa marah. Sebelum intervensi, subjek mengekspresikan rasa marah dengan sering menampilkan perilaku seperti berteriak, menangis dan berdiam diri di dalam kamar. Tingkat marah subjek juga tergolong sangat tinggi jika diukur menggunakan anger meter, sementara berdasarkan CBCL tampak bahwa ranah aggressive behavior yang berada pada area klinis. Subjek memiliki false belief bahwa lingkungan tidak menyayanginya ketika keinginannya tidak terpenuhi atau ketika ia tidak dilayani kebutuhannya.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa CBT efektif dalam mengelola rasa marah dan perubahan kesalahan berpikir pada anak. Hal tersebut terlihat dari menurunnya tingkat marah saat diukur menggunakan anger meter dan nilai CBCL yang menurun, terutama ranah aggressive behavior yang berada pada area normal.

This study focuses on the effectivity of Cognitive Behavior Therapy (CBT) in anger management for the child. This study is single-case study. Subject of this study is a nine years old boy who has difficulty in managing anger, often yelling, crying and withdraw to stay in his room. He has 10 level of anger based on anger meter and clinical range for aggressive behavior based on Child Behavior Checklist (CBCL). His false belief is whenever his needs and wishes are not fulfilled or granted then no one cares for him or he is not loved.
The result of this study showed that CBT is effective in managing anger and changing client's cognitive distortion. This showed by the reduction of anger meter level and also the range of aggressive behavior that become normal.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
T30393
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Galih Ismoyo Y.
Jakarta : Nisata Mitra Sejati, 2019
344.032 76 GAL b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Yulia Kusuma
"Penelitian ini bertujuan melihat gambaran prasangka diantara siswa yang terlibat tawuran, pada dua sekolah yang dikelola oleh organisasi keagamaan yang berbeda. Menurut Baron & Byrne (1994), prasangka merupakan sikap negatif yang ditujukan pada anggota-anggota suatu kelompok tertentu, dikarenakan keanggotaannya pada kelompok tersebut. Hogg dan Abrams (1988) menyatakan bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk membagi dunia sosialnya menjadi dua kategori Us ^n Them, dan memandang orang-orang di sekitamya sebagai bagian dari kelompoknya {in-group) atau kelompok lain {out-group) dan inilah yang menjadi awal timbulnya sikap prasangka terhadap kelompok out-group. Selanjutnya menurut Myers (1988) prasangka memiliki tiga komponen yaitu kognitif, terdiri dari keyakinan stereotip tentang kelompok outgroup-^ afektif, dimana perasaan emosional negatif mengikuti reaksi kognitif; dan behaviour tendency, yaitu adanya kecenderungan untuk bertingkah laku negatif terhadap target prasangkanya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif untuk memahami prasangka-prasangka yang ada secara lebih mendalam serta lebih terperinci sebagaimana subyek mengalaminya di dalam konteks mereka. Subyek penelitian ini adalah 17 orang siswa dari dua sekolah yang dikelola organisasi keagamaan yang berbeda, berlokasi berdekatan dan yang saling bermusuhan serta sering terlibat tawuran. Metode pengambilan data yang utama menggunakan wawancara mendalam, serta observasi sebagai metode penunjang.
Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa dalam permusuhan ini para siswa dari masing-masing sekolah memiliki prasangka terhadap kelompok siswa dari sekolah musuhnya yang berkembang melalui proses kategoii sosial berdasarkan agama yaitu kelompok siswa dan sekolah-sekolah beragama Islam dan beragama Kristen/Katolik, serta accentuation effect dan in-groupfavouritism seperti misainya pembedaan antara kelompoknya yang berkeinginan imtuk damai sedan^an kelompok musuh tidak ingin berdamai dan kelompoknya tidak pemah membawa senjata tajam sedangkan pihak musuh selalu membawa senjata tajam.
Prasangka-prasangka siswa SMU X adalah bahwa: siswa musuh membenci dan melakukan penghinaan terhadap agama Islam, siswa musuh mayoritas bersuku Ambon, sekolah musuh memaksakan agamanya terhadap siswa non-Kristen, siswa musuh menggunakan julukan Israel karena menyamakan keberadaannya dengan negara Israel, membawa senjata tajam dalam tawuran, menggunakan susuk agar kebal jika dilukai, berperilaku sadis terhadap lawan tawurannya, dibantu pihak lain dalam tawuran (alumni, siswa beberapa sekolah musuh, anak asrama di depan SMK Y.'orang kampung' beberapa daerah, siswa SMP Y), didukung pihak polisi dan media koran, serta siswa musuh tidak berkeinginan berdamai.
Prasangka-prasangka siswa SMK Y adalah bahwa: siswa musuh membenci agama Kristen/Katolik dan suku Ambon, melakukan penghinaan terhadap agama Kristen/Katolik, menggunakan julukan Doski berkaitan dengan agamanya, mempunyai reputasi buruk di perusahaan tempatnya praktek kerja lapangan atau bekeija, melakukan tekanan terhadap siswa baru yang berasal dari SMP Y, menuduh SMK Y membakar A1 Quran, sengaja mencari musuh untuk lawan tawurannya, hanya berani memulai tawuran jika bequmlah banyak, membawa senjata tajam dalam tawuran, berperilaku sadis (sampai membunuh) terhapda lawan tawurannya, guru di sekolah musuh menjadi provokator dalam tawuran, siswa musuh dibantu pihak lain dalam tawuran ('orang kampung' beberapa daerah, siswa SMP musuh, siswa beberapa sekolah musuh), didukung pihak polisi, serta siswa musuh tidak berkeinginan untuk berdamai."
Depok: Universitas Indonesia, 2000
S2840
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: BKN-KKA, 1972
364.36 BAD p
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>