Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 137517 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Urfianty
"Latar belakang: Epilepsi merupakan salah satu penyakit kronik dan memiliki risiko
tinggi untuk mengalami gangguan kognitif yang dapat mempengaruhi kualitas hidup.
Pemeriksaan Intelligence quotient (IQ) memerlukan waktu pemeriksaan yang lama dan
biaya yang mahal, diperlukan alat skrining untuk mendeteksi gangguan kognitif pada
pasien epilepsi anak yaitu School Years Screening Test For Evaluation Of Mental
Status-Revised (SYSTEMS-R)
Tujuan: Mengetahui seberapa besar nilai diagnostik dari School Years Screening Test
For Evaluation Of Mental Status-Revised (SYSTEMS-R) dalam mendeteksi gangguan
kognitif pada anak epilepsi usia 6-15 tahun.
Metode: Penelitian potong lintang dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
Jakarta terhadap subjek berusia 6-15 tahun dengan epilepsi. Pada sampel dilakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisik, dilanjutkan pemeriksaan fungsi kognitif dengan
School Years Screening Test For Evaluation Of Mental Status-Revised (SYSTEMS-R)
dan kemudian dilakukan pemeriksaan baku emas IQ oleh psikolog.
Hasil: Prevalensi gangguan kognitif pada pasien epilepsi usia 6-15 tahun sebesar
86,3%. School Years Screening Test For Evaluation Of Mental Status-Revised
(SYSTEMS-R) memiliki sensitivitas 84%, spesifisitas 91%, nilai prediksi positif 98%,
nilai prediksi negatif 47%, rasio kemungkinan positif 10,11, rasio kemungkinan negatif
0,17 dan akurasi 85%.
Simpulan: School Years Screening Test For Evaluation Of Mental Status-Revised
(SYSTEMS-R) memiliki nilai diagnostik yang baik dan dapat menjadi pilihan dalam
deteksi dini gangguan kognitif pada pasien epilepsi anak.

Background: Epilepsy is a chronic disease and children with epilepsy are at high risk
of cognitive disorders which can affect the quality of life. Intelligence Quotient (IQ)
examination requires a long examination time and expensive costs, a screening tool for
cognitive clearance is needed in pediatric epilepsy patients, which is School Years
Screening Test For Evaluation Of Mental Status-Revised (SYSTEMS-R)
Objective: To know the diagnostic value of School Years Screening Test For
Evaluation Of Mental Status-Revised (SYSTEMS-R) detecting cognitive impairment in
children aged 6-15 years with epilepsy.
Methods: This is a cross sectional study done in Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta
was conducted on subjects aged 6-15 years with epilepsy. We evaluated history of
illness, physical examination, and cognitive function using School Years Screening Test
For Evaluation Of Mental Status-Revised (SYSTEMS-R) and then a standard gold IQ
examination was carried out by a psychologist.
Results: The Prevalence of cognitive impairment in 6-15 years epilepsy patients is
86,3%. School Years Screening Test For Evaluation Of Mental Status-Revised
(SYSTEMS-R) has a sensitivity of 84%, specificity 91%, positive predictive value 98%,
negative predictive value 47%, positive likelihood ratio 10,11, negative likelihood 0,17
and accuracy 85%.
Conclusion: School Years Screening Test For Evaluation Of Mental Status-Revised
(SYSTEMS-R) has good diagnostic value and it can be an option in early detection of
cognitive impairment in paediatric epilepsy patients
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Niken Indah Hapsari
"Latar belakang: Perkembangan kognitif anak berkaitan erat dengan pertambahan usia dan tingkat pendidikan. Anak rentan dalam mengalami gangguan kognitif. Oleh karena itu, diperlukan suatu pemeriksaan fungsi kognitif pada anak yang dapat berfungsi sebagai alat skrining bagi tenaga medis. SYSTEMS-R merupakan salah satu intrumen skrining fungsi kognitif anak berusia 4 hingga 15 tahun di Australia. Sensitifitas dari instrumen ini adalah 83% dan 92% dengan nilai spesitifitas sebesar 76% dan 95%. Tujuan dari penelitian ini guna mendapatkan nilai normal fungsi kognitif anak menggunakan SYSTEMS-R di Indonesia.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan disain potong lintang menggunakan data primer dengan jumlah total 631 subjek penelitian dari 6 sekolah sejak Januari hingga April 2019. Penelitian dilakukan setelah mendapatkan izin etik dan diolah menggunakan SPSS 20.
Hasil: Subjek penelitian terdiri dari 298 anak laki-laki (47,2%) dan 333 anak perempuan (52,8%). Skor terendah ditemukan pada usia 4 (12; 5-22) dan tertinggi adalah usia 15 (35; 28-40). Berdasarkan tingkat pendidikan, skor terendah 14; 5-26 ditemukan di siswa TK dan tertinggi 35; 28-40 ditemukan di kelas 3 SMP. Waktu rata-rata dalam pelaksanaan membutuhkan 06,23 ± 01,32 menit. Skor SYSTEMS-R meningkat berdasarkan pertambahan usia dan tingkat pendidikan (p <0,05). Cut-off score untuk setiap kelompok umur dan tingkat pendidikan meningkat (p <0,05).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna secara klinis dan statistik antara skor SYSTEMS-R dengan pertambahan usia dan tingkat pendidikan (p < 0,05). Cut-off score yang rendah dapat mengindikasikan adanya gangguan kognitif sehingga diperlukan suatu pemeriksaan neurologis lebih lanjut.

Background: Cognitive development of children is closely related to age and education levels. Children has risk of cognitive impairment so that cognitive function screening tool will be needed. SYSTEMS-R is one of the cognitive function screening tools that used in children aged 4 to 15 years old in Australia. It has a sensitivity value of 83% and 92% and specificity of 76% and 95%. The purpose of the study is to get a normal value and cut off score based on age and education levels in Indonesia.
Methods: A cross-sectional design and observational study with primary data from 631 children from 6 schools in Jakarta had been performed from January to April 2019.
This research has been approved by an ethical committee and processed using SPSS 20.
Results: The subjects consisted of 298 boys (47.2%) and 333 girls (52.8%). The lowest score was found in age 4 (12;5-22) and the highest was in age 15 (35;28-40). Based on education levels, the lowest score of 14;5-26 was found in kindergartens and the highest ​​of 35;28-40 was found in 3rd grade of the junior high school. The average time in sampling requires 06.23±01.32 minutes. The SYSTEMS-R scores increase with age and education levels (p<0.05). The cut off score of each age group and education levels increases (p<0.05).
Conclusions: The relationship was statistically and clinically significant between SYSTEMS-R score with age and education levels (p<0.05). A lower score of cut off score can indicate a cognitive impairment that further neurological examination may be needed.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lita Patricia Lunanta
"Gambaran Hasil Wechsler Intelligence Scale for Children-
Revised (WISC-R) Anak dengan Keterbelakangan Mental Ringan.
Masa usia sekolah merupakan saat yang penting bagi perkembangan fisik,
kognitif dan psikososial Sebagian besar anak memiliki perkembangan
yang setara dengan rata-rata anak dalam kelompok usianya sehingga dapat memenuhi tuntutan dari tugas perkembangannya. Namun demikian
beberapa anak dapat memiliki perkembangan yang melebihi ataupun
kurang dari rata-rata, baik dalam satu maupun beberapa aspek
perkembangan. Keterbelakangan mental (mental retardation) adalah satu
fenomena yang terjadi pada masa perkembangan di mana perkembangan
aspek intelektual berada jauh di bawah rata-rata anak-anak yang seusia.
Diagnosis dan pengelompokan keterbelakangan mental diawali dengan
pengukuran taraf inteligensi di mana salah satu alat tes yang digunakan
adalah WISC-R. Berdasarkan hasil dari WISC-R dapat dilihat adanya
kekuatan dan kelemahan pada aspek-aspek inteligensi yang ditampakkan
oleh skor setiap subtest.
Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui bagaimana
gambaran basil WISC-R pada kelompok anak keterbelakangan mental
ringan. Dengan demikian dapat bermanfaat dalam penyusunan program
intervensi bagi anak keterbelakangan mental, baik yang berupa pendidikan, pendampingan, atau pelatihan. Hal ini dapat memaksimalkan potensi anak keterbelakangan mental sehingga diharapkan mereka dapat berfunggsi secara lebih optimal dalam masyarakat. Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis hasil tes inteligensi WISC-R dari sembilan anak dengan keterbelakangan mental ringan yang pemah menjadi klien di Klinik
Perkembangan Anak Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian memiliki IQ
Verbal dan IQ Performance yang setara dengan rata-rata skor yang
diperoleh berada dalam rentang 2, 67 (Picture Arrangement) hingga 6, 78 (Mazes). Pada Skala Verbal subtest yang memperoleh skor paling tinggi yang merupakan kekuatan adalah Comprehension dan subtest yang
memperoleh skor paling rendah yang merupakan kelemahan adalah
Vocabulary. Pada Skala Perfomance subtest yang memperoleh skor paling
tinggi yang merupakan kekuatan adalah Mazes dan subtest yang
memperoleh skor paling rendah yang merupakan kelemahan adalah Picture
Arrangement, Terdapat beberapa subtest yang saling berbeda secara
signifikan, antara lain pada subtest: Comprehension dan Information,
Similarities dan Vocabulary, Picture Completion dan Picture Arrangement,Comprehension dan Picture Arrangement, Serta Similarities dan Block Design
Dalam melakukan penelitian yang serupa sebaiknya digunakan
pendekatan kualitatif dan kuantitatif sehingga dapat diperoleh gambaran hasil WISC-R dari sampel yang lebih besar serta analisis yang lebih mendalam lagi mengenai kekuatan dan kelemahan anak keterbclakangan mental ringan Selain itu, pengumpulan data sebaiknya dilakukan secara langsung oleh peneliti (menggunakan data primer) sehingga hasil yang didapatkan menjadi Iebih luas dan lengkap."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004
T38045
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rosa Maria Gani
"Tujuan penelitian ini : 1) memeriksa nilai reliabilitas; 2) memeriksa urutan item berdasarkan tingkat kesukaran; 3) membandingkan data tingkat kesukaran pada saat mengadaptasi alat ukur dengan data yang digunakan sekarang; 4) meningkatkan validitas; 5) memeriksa Item Characteristic Curve (ICC) setiap item dan Test lnjbrmation Function (TIF) setiap subtes; 6) membandingkan tlngkat kesukaran (threshold) antara data politomos dan data politomos (Partial Credit Model) yang didikotomoskan; 7)memeriksa item-item yang tidak fit; 8) mcndctcksi DIF pada alat ukur Wecshler Intelligence Scale for Children Revised (WISC-R). Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis tes klasik dan analisis tes modem, serta dilengkapi dengan pengecekan asumsi-asumsi pada tes modem yaitu unidimensional (dengan analisis faktor), invarian pada parameter tingkat kesukatan.
Metodologi yang dlgunakan untuk pendeteksi DIF adalah metode Mantel-Hacnszei. Rasch Model dan Item Response Theory Likelihood Ratio (IRT LR). Hasil yang diperoleh : 1) nilai reliabilitas baik; 2) urutan tingkat kesukaran perlu dipcrbaiki;3) syarat unidimensional dan asumsi invarian terpenuhi; 4) ada beberapa itcm yang tidak lit dengan model; 5) perlu dilakukan perbaikan untuk item-item yang terdeteksi mengandung DIF yaitu berturut-turut 7, 5, 5, 11, dan 6 item dari subtes Information, Similarities, Arithmetic, Vocabuiary dan Comprehension. lmplikasi dan keterbatasan dalam pcnelitian ini dapat digunakan untuk penelititan di masa yang akan datang.

The current study highlights several components on Weschler's Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R), including : 1) its reliability scores; 2) its item-ordering based on diliiculty level; 3) comparing the level of item difficulty before and aner the adaptation; 4) improving its validity; 5) looking at Test Infomation Function (TIF) on each subtest; 6) comparing the threshold between the original polytomous data and the modified polytomous data into dichotomous data (Partial Credit Model); 7) whether each item is fit or not; and 8) detecting its Differential Item Functioning (DIF). The analyses were conducted using the classical and modem test approaches, along with each approach assumptions such as unidimensionality (factor analysis) and invariant on the parameter ofthe difliculty levels.
The methodologies used to detect DIP were Mantel-Haenszel, Rasch Model and ltem Response Theory Likelihood Ratio (IRT LR). The results were: 1) acceptable degree of reliability; 2) the item-ordering based on difficulty levels needs re-ordering; 3) assumptions on unidimcnsional and invariant were lil; 4) several individual items were not fit; 5) serious consideration needed to modify the items containing severe DIF, including 7, 5, 5, 11, 6 number of items on Information, Similarities, Arithmetic, Vocabulary, and Comprehension, respectively. Limitations and implications of the study are discussed along with recommendations for future research.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
T34084
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Danya Philanodia Dwi P
"

Latar belakang: Perkembangan kognitif anak dipengaruhi oleh status gizi yang merupakan masalah di Indonesia (17,7%). SYSTEMS-R adalah salah satu pemeriksaan fungsi kognitif dengan waktu pengerjaan singkat, serta sensitivitas (83%) dan spesifisitas (76%) tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan status gizi dengan fungsi kognitif anak usia 6-15 tahun dengan pemeriksaan SYSTEMS-R.

Metode: Penelitian ini memiliki desain kasus kontrol yang dilakukan pada anak usia 6-15 tahun di SDN dan SMPN dengan teknik consecutive sampling.

Hasil: Penelitian ini terdiri dari 105 subyek, yaitu 60 subyek kelompok kasus (kognitif kurang berdasarkan usia dan tingkat pendidikan) dan 45 subyek kelompok kontrol (kognitif baik). Subyek penelitian dengan pendapatan orang tua di bawah UMR berisiko 2,4 kali memiliki kognitif kurang (63,6%) dengan p <0,05. Penelitian ini tidak menunjukkan hubungan bermakna antara status gizi dan fungsi kognitif. Subyek dengan gizi baik dan tinggi badan normal cenderung memiliki kognitif baik berdasarkan usia dan tingkat pendidikan.

Kesimpulan: Pendapatan orang tua memiliki hubungan dengan fungsi kognitif. Penelitian ini tidak menunjukkan hubungan bermakna antara status gizi dan fungsi kognitif. Subyek penelitian dengan gizi baik dan tinggi badan normal cenderung memiliki kognitif baik.


Background: Children’s cognitive development is influenced by nutritional status which is a problem in Indonesia (17,7%). SYSTEMS-R is an cognitive examination with a short processing time, high sensitivity (83%) and specificity (76%). This study aims to see the relationship of nutritional status and cognitive function of 6-15 years old child with The School Years Screening Test For Evaluation Of Mental Status Revised (SYSTEMS-R).

Methods: This case control study was carried out in children aged 6-15 years at Elementary and Junior High School with consecutive sampling techniques.

Results: This study consists of 105 subjects, which is 60 subjects in case group (cognitive dysfunction) and 45 subjects in control group (normal cognitive function). Subject with low parental income had 2,4 times the risk of having cognitive dysfunction (63,6%) with p <0,05. This study did not show a significant relationship between nutritional status and cognitive function. Subjects with normal nutritional status and height tend to have normal cognitive function based on age and education level.

Conclusions: Parental income has a relationship with cognitive function. This study did not show a significant relationship between nutritional status and cognitive function. Subjects with normal nutritional status and height tend to have normal cognitive function.

"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Prima Heptayana
"Penderita epilepsi anak memiliki risiko tinggi mengalami gangguan kognitif yang mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi gangguan kognitif pada usia 8-11 tahun menggunakan Mini Mental State Examination MMSE modifikasi Ouvrier. Metode penelitian potong lintang dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo RSCM dan Pasar Rebo pada Mei-Juni 2018. Tiga puluh satu pasien diikutsertakan dalam penelitian ini. Jumlah laki-laki dan perempuan adalah 58,1 dan 41,9 . Sebagian besar subyek berasal dari RSCM 87,1 dengan kelompok usia terbanyak 10-11 tahun 48,4 . Prevalensi gangguan kognitif sebesar 74,2 . Sebanyak 87,5 subyek dengan obat anti epilepsi OAE politerapi mengalami gangguan kognitif. Terdapat perbedaan bermakna jumlah bangkitan 11-100 kali selama hidup dengan gangguan kognitif p

Children with epilepsy are at high risk of cognitive disorders. We performed cross sectional study to evaluate clinical characteristics and prevalence of cognitive disorders in children aged 8 ndash 11 years using Ouvrier rsquo s Modified Mini Mental State Examination MMSE . The study was done in Cipto Mangunkusumo RSCM and Pasar Rebo Hospital from May June 2018. Thirty one patients were enrolled. Male and female were 58,1 and 41,9 . The prevalence of cognitive disorder was 74,2 . There was 87,5 patients with AEDs polytherapy had cognitive disorders. It was significantly different between lifetime seizure frequency 11 100 with cognitive disorder p10 times had 59,5 higher risk, and AEDs polytherapy showed tendency of cognitive impairment risk."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T57603
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hariadi Edi Saputra
"Epilepsi yang muncul saat masa anak-anak dapat memengaruhi perkembangan anak termasuk fungsi kognitif. Prevalensi gangguan kognitif pada pasien epilepsi cukup tinggi. Pemeriksaan Intelligence quotient (IQ) memerlukan waktu pemeriksaan yang lama dan biaya yang mahal, diperlukan alat skrining untukmendeteksi gangguan kognitif pada pasien epilepsi anak yaitu MMSE modifikasi Ouvrier.Tujuan: Mengetahui seberapa besar nilai diagnostik dari MMSE modifikasi Ouvrier versi bahasa Indonesia dalam mendeteksi gangguan kognitif pada anak epilepsi usia 8-11 tahun. Metode:Studi potong lintang dilakukan terhadap subyek berusia 8-11tahundengan epilepsi. Pada subyek dilakukan pemeriksaanskrining MMSE modifikasi Ouvrier bahasa Indonesia dan kemudian dilakukan pemeriksaan baku emas IQ oleh psikolog. Hasil: Prevalensi gangguan kognitif pada pasien epilepsi usia 8-11 tahun sebesar 72,9%. MMSE modifikasi Ouvrier memiliki sensitifitas 83%, spesifisitas 85%, nilai prediksi positif 94%, nilai prediksi negatif 65% dan akurasi 83%. Simpulan: MMSE modifikasi Ouvrier versibahasa Indonesia memiliki nilai diagnostik yang baik dan dapat menjadi pilihan dalam deteksi dini gangguan kognitif pada pasien epilepsi anak.

Epilepsy that appears during childhood can affect children's development including cognitive function. The prevalence of cognitive impairment in epilepsy patients isquite high. Intelligence Quotient (IQ)examinationrequires a long examination time and expensive costs, a screening tool for cognitive clearance is needed in pediatric epilepsy patients, Which is Ouvrier modified MMSE. Objective:To knowthe diagnostic value of Ourvier modified MMSEdetecting cognitive impairment in children aged 8-11 yearswith epilepsy. Methods:A cross-sectional study was conducted on subjects aged 8-11 yearswith epilepsy. The subjects examined with Ouvier modified MMSE and then a standard gold IQ examination was carried out by a psychologist. Results:The Prevalence of cognitive impairment in 8-11 years epilepsy patients is 72,9%.Ouvrier modified MMSE has a sensitivity of 83%, specificity 85%, positive predictive value 94%, negative predictive value 65% and accuracy 83%Conclusion:Ouvrier modified MMSE has good diagnostic value and it can be an option in early detection of cognitive impairment in paediatric epilepsy patients"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Rita Damayanti
1987
S2090
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>