Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 190348 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fatma Afira
"Latar Belakang: Luka bakar merupakan suatu cedera berat yang memerlukan tata laksana khusus multidisiplin. Untuk mengukur kinerja dari pelayanan luka bakar dibutuhkan luaran yang terstandardisasi untuk memungkinkan perbandingan dan penentuan efek dari tata laksana tersebut. Penulis ingin mengevaluasi efek dari eksisi dini sebagai tata laksana awal pada kondisi sumber daya yang terbatas menggunakan LA50 sebagai luaran.
Metode: Sebuah studi kohort retrospektif terhadap pasien luka bakar akut dilakukan dari bulan Januari 2013 hingga Desember 2018 untuk menentukan luaran dari pelayanan luka bakar yang mencakup mortalitas dan LA50 serta untuk membandingkan luaran dari eksisi dini (EEWG) sebagai tata laksana awal dibandingkan dengan eksisi dini dan tandur kulit (EESG) atau eksisi tertunda dan tandur kulit (DESG).
Hasil: Terdapat 256 pasien yang memenuhi kriteria penelitian, mayoritas berada dalam kelompok usia 15-44 tahun dengan lebih dari setengah pasien memiliki luas luka bakar 20-50% TBSA dan median TBSA 26%. Angka mortalitas keseluruhan adalah 17.9% dengan peningkatan seiring usia dan TBSA. Peningkatan mortalitas yang signifikan didapatkan pada kelompok TBSA 40.5-50.0%, yang terus meningkat dan mencapai puncaknya pada TBSA 70% ke atas. Akibat keterbatasan sampel dan jumlah kematian, hanya kelompok usia 15-44 tahun dan 45-64 tahun yang dapat memberikan LA50, masing-masing sebesar 43% dan 45%. Angka LA50 keseluruhan adalah 49% terlepas dari adanya penurunan angka mortalitas. Data awal menunjukkan bahwa persentase tertinggi kematian didapatkan pada kelompok tanpa perlakuan, dengan tidak adanya pasien yang meninggal pada kelompok EESG dan DESG. Rasio odds pada kelompok EEWG adalah 2.11 (p-value 0.201, CI95% = 0.65-6.80) dibanding kelompok DEWG.
Simpulan: Penggunaan luaran yang terstandardisasi berupa LA50 memberikan masukan yang lebih objektif dibanding angka mortalitas dan memungkinkan perbandingan internal dan eksternal di masa mendatang. Pembedahan pada pasien dengan TBSA 40- 50% perlu diprioritaskan untuk meningkatkan kesintasan. Pengembangan dari sumber daya untuk menutup defek perlu ditingkatkan untuk memungkinkan eksisi dini secara total. Sedikitnya jumlah pasien tindakan eksisi dini dan tandur kulit menunjukkan perlunya skrining dan triase yang lebih cermat untuk pasien yang membutuhkan tindakan tersebut. Diperlukan studi lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar untuk menentukan efek dari eksisi dini tanpa tandur kulit sebagai tata laksana awal pada pusat pelayanan dengan sumber daya terbatas.

Background: Burn is a highly debilitating injury requiring a specialized and multidisciplinary care. Measuring the outcome of burn care demands a standardized outcome to enable comparison and determine impact of treatment. In a limited resource setting, the author sought to evaluate the effect of early excision as a preliminary treatment using LA50 as an outcome measurement.
Methods: A retrospective cohort study of acute burn patients was conducted from January 2013 to December 2018 to establish outcomes of burn care including mortality and LA50 and to compare the outcomes between treatment groups undergoing early excision without skin graft (EEWG), early excision and skin graft (EESG), and delayed excision and skin graft (DESG).
Results: Out of 390 patients available for screening, 256 were eligible for further study. Most patients were within age group 15-44 years and almost half were within 20-50% TBSA with median TBSA percentage of 26%. The overall mortality was 17.9% with an increase linear with age and TBSA. A significant mortality increase was observed from 40.5-50.0% TBSA group, which reached a plateau from TBSA 70% and up. Due to limited sample size and patient deaths, only age groups 15-44 years and 45-64 years could provide individual LA50 at 43% and 45%, respectively. The overall LA50 was identified at 49% despite lower mortality compared to a previously published number. Preliminary data showed that the highest percentage of deaths was seen in no treatment group, with no deaths seen in treatment groups EESG and DESG. The odds ratio for mortality in EEWG group was 2.11 (p-value 0.201, CI95% = 0.65-6.80) compared to DEWG group.
Conclusion: The use of a standardized outcome in the form of LA50 provides a more objective insight compared to crude mortality and enables future internal and external comparison. Surgery for patient with 40-50% TBSA should be prioritized to increase survival, and development of resources for defect closure should be encouraged to enable total early excision. The small number of patients undergoing early excision and skin grafting calls for a more attentive screening to triage and select candidates who may benefit from this procedure. Further study with bigger sample size is required to examine the effect of early excision without skin grafting as a preliminary procedure in a limited resource setting.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Budhi Arifin Noor
"[ABSTRAK
Luka bakar menyebabkan terbentuknya eskar. Endotoksin bakteri pada eskar dan mediator inflamasi yang terbentuk saat lisis eskar menyebabkan sepsis. Eksisi tangensial dini merupakan upaya menurunkan risiko sepsis melalui pembuangan eskar. Prokalsitonin (PCT) adalah penanda inflamasi yang baik pada sepsis yang akan menurun kadarnya dengan tatalaksana yang adekuat.
Sampai saat ini belum ada penelitian yang menghubungkan eksisi dini dengan PCT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tindakan eksisi tangensial dini terhadap kadar PCT serum pasien luka bakar berat. Desain penelitian ini adalah analitik observasional pre and post intervention study. Besar sampel yang digunakan adalah empat puluh. Data PCT diambil dari data sekunder yaitu dari rekam medis kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Didapati perbedaan bermakna antara PCT sebelum operasi dengan PCT sesudah operasi (2,78 (0,09-50,62) vs 1,31 (0,02-83,14), p < 0,005).
ABSTRACT Burn trauma caused cell death with the formation of eschar. Bacteria endotoxins and inflammation mediators that are formed when eskar was lysis cause sepsis. Early tangential excision is the efforts to decrease the risk of sepsis by disposing the eschar. Procalcitonin (PCT) is a good biomarker of sepsis that will decreased with the proper treatment. Until now, there hasn?t been any research linked early excision with PCT. The aim of this research is to know the influence of early tangential excision to the level of PCT serum on severe burn patients. The study design was observational analytic pre and post interventional study. The sample size was forty. PCT data were taken from medical records then analyzed using the Wilcoxon test. There were significant differences between preoperative PCT to postoperative PCT (2.78 (0.09 to 50.62) vs 1.31 (0.02 to 83.14), respectively, p<0.005).;Burn trauma caused cell death with the formation of eschar. Bacteria endotoxins and inflammation mediators that are formed when eskar was lysis cause sepsis. Early tangential excision is the efforts to decrease the risk of sepsis by disposing the eschar. Procalcitonin (PCT) is a good biomarker of sepsis that will decreased with the proper treatment. Until now, there hasn?t been any research linked early excision with PCT. The aim of this research is to know the influence of early tangential excision to the level of PCT serum on severe burn patients. The study design was observational analytic pre and post interventional study. The sample size was forty. PCT data were taken from medical records then analyzed using the Wilcoxon test. There were significant differences between preoperative PCT to postoperative PCT (2.78 (0.09 to 50.62) vs 1.31 (0.02 to 83.14), respectively, p<0.005)., Burn trauma caused cell death with the formation of eschar. Bacteria endotoxins and inflammation mediators that are formed when eskar was lysis cause sepsis. Early tangential excision is the efforts to decrease the risk of sepsis by disposing the eschar. Procalcitonin (PCT) is a good biomarker of sepsis that will decreased with the proper treatment. Until now, there hasn’t been any research linked early excision with PCT. The aim of this research is to know the influence of early tangential excision to the level of PCT serum on severe burn patients. The study design was observational analytic pre and post interventional study. The sample size was forty. PCT data were taken from medical records then analyzed using the Wilcoxon test. There were significant differences between preoperative PCT to postoperative PCT (2.78 (0.09 to 50.62) vs 1.31 (0.02 to 83.14), respectively, p<0.005).]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Dwi Laksono Abdhillah
"ABSTRAK
Karya ilmiah akhir ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan keperawatan pada bayi dengan teratoma sakrokoksigeal paska operasi eksisi, dengan aplikasi terapi sentuhan untuk mengurangi nyeri. Teratoma sakrokoksigeal merupakan kelainan bawaan (kongenital), berupa terdapatnya benjolan atau massa di daerah tulang sakrokoksigeus.
Perawatan paska oeprasi eksisi massa teratoma sakrokoksigeal seringkali menimbulkan rasa nyeri pada bayi. Salah satu intervensi yang dapat digunakan untuk meminimalkan nyeri tersebut adalah dengan menggunakan terapi sentuhan. Terapi sentuhan merupakan salah satu penatalaksanaan nyeri non-farmakologis. Nyeri paska operasi dan nyeri yang diakibatkan tindakan invasif perlu ditangani dengan baik untuk meminimalkan rasa sakit yang dirasakan bayi. Hasil dari penerapan intervensi terapi sentuhan yang telah dilakukan pada bayi paska operasi eksisi massa teratoma. Terapi sentuhan tersebut dilakukan selama 3 hari dan menunjukan hasil yang terbukti efektif dalam menurunkan nyeri klien. Hal tersebut ditunjukan dengan penurunan skala nyeri dari 4 menjadi 2 diukur menggunakan skala nyeri pada bayi (NIPS).

ABSTRACT
This final scientific work aims to provide an overview of nursing care in children with post operative sacrococcygeal teratoma excision, with the application of gentle touch to reduce pain. Sacrococcygeal teratoma is a congenital disorder, the disorder marks with the presence of mass on bone sacrococcygeus area. Post operative care after the excision of sacrococcygeal teratoma often cause pain in infant. One of the interventions to minimize the pain is by using gentle touch. Gentle touch is one of the non-pharmacological pain management. Post operative pain and acute pain caused by invasive procedure is necessary to be treated well in order to minimize the pain felt by the infant. The results of the application of gentle touch interventions have been done in infant after surgical excision of the mass of teratoma. This method head for reduce pain and has been demonstrated for 3 days and showed that it effectively lower the pain from 4 to 2, measured by neonatal infant pain scale (NIPS);"
2016
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Samuel Oetoro
"Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian nutrisi enteral dini (NED) terhadap stres metabolisme pada penderita luka bakar, dalam rangka mencari alternafif penatalaksanaan nutrisi pada penderita luka bakar.
Tempat: Unit Luka Bakar RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Bahan dan cara: Penelitian ini merupakan uji klinik pada penderita luka bakar berusia 18 - 60 tahun dengan luka bakar derajat dua seluas 20 - 60% luas permukaan tubuh (LPT). Sepuluh subyek perlakuan diberi Nutrisi Enteral Dini/NED mulai ≤8 jam pasca trauma, sedangkan 10 subyek kontrol diberi nutsisi enteral/oral 24 jam pasca trauma. Stres metabolisme dideteksi dengan pemeriksaan kadar hormon kortisol serum, glukosa darah dan nitrogen urea urin (NUU). Sampel darah untuk pemeriksaan kortisol dan glukosa diambil pada hari ke 1, 7 dan 12. Urin untuk pemeriksaan NUU di kumpulkan selama 24 jam pada hari ke 3, 7 dan 12. Uji statistik yang digunakan adalah uji Mann Whitney U untuk kadar kortisol, NUU dan glukosa darah. Batas kemaknaan yang digunakan 0,05.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada kadar kotisol dan NUU, namun demikian pada hari ke 12 tampak penurunan kadar NUU lebih tajam pada kelompok perlakuan. Pada kelompok kontrol justru meningkat Kadar glukosa darah pada hari 12 menunjukkan perbedaan bermakna (p = 0, 04).
Kesimpulan: Pemberian NED berhasil menekan stres metabolisme yang terjadi pada penderita luka bakar derajat dua berdasarkan parameter glukosa darah.

Objective: To investigate the effect of early enteral nutrition (EEN) on the metabolic stress in burned patients, in respect to looking for the alternative of nutrition management in burned patients.
Place: Burn Unit RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Materials and methods: This study was randomized clinical trial was conducted on 18 - 60 years subjects with 20 - 60% total body surface area (FBSA) of second degree burned. Ten subjects were given enteral nutrition started g 8 hours post burn, while 10 control subjects were given enteral/oral nutrition 24 hours post burn. Metabolic stress was detected by measuring of serum cortisol, blood glucose level, and urinary urea nitrogen (UUN) level. Blood samples for cortisol and glucose level were taken on day 1, 7 and 12 Twenty four hours collected urine for UUN level were taken on day 3, 7 and 12. Statistical analysis was performed with Mann Whitney U test for cortisol level, NUU and glucose level. The level of significance was 0, 05.
Results: There were no significant differences between the two groups based on serum cortisol and UUN levels, however, the level o UUN of the day 12 decreased in the study group, while it increased in the control group. A significant difference was found of blood glucose between these two groups (p = 0, 04) on day 12.
Conclusion: The administration of EEN reduced the metabolic stress of second degree burned patients express by blood glucose parameter.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2001
T5321
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adia Triyarintana
"Latar Belakang: Prolaps organ panggul (POP) merupakan suatu penonjolan atau penurunan dinding vagina berserta organ-organ pelvis (uterus, kandung kemih, usus dan rektum) kedalam liang vagina atau keluar dari introitus vagina. Terdapat beberapa teknik operasi rekonstruksi POP dengan berbagai luaran operasi, salah satu teknik operasi rekonstruksi yang sering digunakan adalah Sacrospinosus Fixation (SSF). Sampai saat ini belum ada penelitian tentang gambaran luaran anatomis operasi Sacrospinosus Fixation (SSF) pada pasien prolaps organ panggul ataupun angka rekurensi prolaps organ panggul pascaoperasi. Tujuan: Untuk mengetahui luaran anatomis operasi teknik Sacrospinous Fixation
(SSF) Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif, archival study. Data diambil dari data sekunder rekam medis untuk evaluasi luaran operasi berupa titik C (POP-Q) pascaoperasi Sacrospinosus Fixation (SSF). Sebanyak 34 pasien yang masuk ke kriteria inklusi dilakukan analisis terhadap titik C praoperasi dan pascaoperasi. Analisis menggunakan Uji T berpasangan pada variabel dengan distribusi normal, dan Uji Wilcoxon-Sign Rank pada variabel distribusi tidak normal. Hasil: Dari 34 pasien yang dilakukan analisis, usia rerata pasien adalah 55,1 tahun, serta memiliki median IMT 25.2 kg/m2, derajat prolaps praoperasi 3-4 (67.6%), multiparitas 67.6%, dan riwayat histerektomi 17.6%. Pengukuran skor POP-Q dilakukan sebelum dan sesudah operasi, dengan rerata titik C praoperasi sebesar 3,62 ±1,12, sedangkan median 3,0 dengan nilai minimum -1 dan maksimum +9. Pada pengukuran pascaoperasi didapatkan rerata -4,56 ±0,82, sedangkan median sebesar -5,0 dengan nilai minimum -8 dan nilai maksimum +4. Analisis perbedaan nilai titik C praoperasi dan pascaoperasi didapatkan perbedaan yang bermakna (p<0,001). Kesimpulan: Teknik Sacrospinous Fixation (SSF) memiliki luaran yang cukup baik dan bermanfaat dalam memperbaiki kasus prolaps organ panggul, terutama kompartemen apikal dengan angka keberhasilan 14/16 (87.5%).

Background: Pelvic organ prolapse (POP) is a protrusion or the fall of vaginal wall along with the pelvic organs (uterus, bladder, intestine and rectum) into the vagina or out of vaginal introitus. There are several reconstructive surgery with various operating outcomes, but the most often used is Sacrospinosus Fixation (SSF). To this day, there is a lack of study regarding the anatomical outcome of Sacrospinosus Fixation (SSF) surgery or the recurrence of pelvic organ prolapse after SSF, especially in Indonesia. Objective: To determine the anatomical outcome of Sacrospinous Fixation (SSF) technique.
Method: This study uses a retrospective cohort design with archival study. Data was taken from secondary medical record for evaluation of operating outcomes of Sacrospinosus Fixation, in the form of POP-Q scores of pre and post-operative. 34 patients who have gone through inclusion and exclusion criteria were analyzed by their C-point position pre and post-operatively. Paired T-test was used for normally distributed variable while Wilcoxon-Sign Rank test was used for abnormally distributed variable. Result: From 34 patients, we found that the average age is 55,1 years old, with median BMI of 25.2 kg/m2, multiparity 66.7%, prolapse stage III-IV (67.6%), previous Hysterectomy(17.6). The measurement of POP-Q Score were conducted before and after the operative procedure, with average C-point score of 3,62 ±1,12, median 3,0, minimum score -1 and maximum score of +9. In measurement postprocedure, we found average C-point score of -4,56 ±0,82, with median -5,0, minimum score -8, and maximum score +4. From comparative analysis of pre and post-operative procedure it is found to be statistically significant (p<0,001). Conclusion: The Sacrospinous Fixation (SSF) has a good operating outcome especially for the improvement of the apical compartment with succesfull rate
14/16 (87.5%).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sianipar, Harry Jonathan
"Pendahuluan: Ekstrofi buli merupakan suatu kelainan kongenital yang ditandai dengan tidak menutupnya dinding anterior dari rongga abdomen disertai kandung kemih yang membuka dengan manifestasi pada sistem traktus urinarius dan muskuloskeletal. Meskipun tatalaksana ekstrofi berkembang pesat, studi mengenai luaran klinis pasien ekstrofi buli masih jarang dilakukan. Di Indonesia, belum ada penelitian yang membahas mengenai luaran anatomis dan fungsional pasien ekstrofi buli pada tahun 2011-2017.
Metode: Studi penelitian ini adalah studi kohor retrospektif melalui penulusuran data rekam medis dari tahun 2011 hingga 2017 dan dilakukan di bulan Januari 2017. Seluruh pasien diperiksa untuk luaran klinis di poliklinik orthopaedi. Luaran anatomis dinilai dengan mengukur presentasi aproksimasi pubis pada foto pelvis. Sementara itu, luaran fungsional dinilai dengan menggunakan kuesioner Pediatric Quality of Life Inventory (PedsQL 4.0).
Hasil: 19 pasien ekstrofi buli dengan rerata usia 4,8±2,4 tahun kontrol rutin ke poli orthopaedi. Data yang dikumpulkan terdiri dari jenis kelamin laki-laki 11 (57,9%); perempuan 8 (42,1%), tipe ekstrofi buli (17 (89,5%); ekstrofi kloaka (2 (10,5%), anomali organ terkait yaitu epispadia 2 (10,5%); hipospadia 1 (5,3%); sisanya tidak kelainan tambahan 16 (84,2%), metode fiksasi gips 10 (52,6%); eksternal fiksasi 9 (47,4%), periode pasca operasi ≤36 bulan 10 (52,6%); >36 bulan 9 (47,4%), median usia operasi 6 bulan dengan kisaran 1-71 bulan, median nilai presentase aproksimasi 78,5% dengan kisaran 65-98,1%, rerata skor PedsQL setelah operasi 97,2±1,6. Terdapat hubungan bermakna antara usia operasi dan diastasis setelah operasi terhadap presentase aproksimasi dan skor PedsQL setelah operasi (p<0,05).
Diskusi: Luaran anatomis dan fungsional pada pasien ekstrofi buli menunjukkan hasil yang baik. Faktor usia operasi dan diastasis setelah operasi mempengaruhi nilai presentase aproksimasi dan kualitas hidup pasien ekstrofi buli.

Introduction: Bladder extrophy is an embryologic malformation that results in complex deficiency of the anterior midline, with urogenital and skeletal manifestations. Despite advances in management of bladder extrophy, the study of the patient outcome is rarely done. In Indonesia, there are no studies concerning about the anatomical and functional outcome of bladder extrophy patients in 2011-2017.
Method: A cohort retrospective study of the hospital medical records from 2011 to 2017 was performed in January 2017. The patients were assesed for the clinical outcome in orthopaedic outpatient clinic. Data of patients with bladder exstrophy managed by anterior and posterior innominate osteotomy were analysed. The anatomical outcome was assessed by calculating the percentage pubic approximation and the functional outcome was assessed by using Pediatric Quality of Life Inventory (PedsQL 4.0) and compared with those of typical peers.
Result: Nineteen children age 4,6±2,3 years presented to outpatient clinic for a routine control. Data was collected for gender man 11 (57,9%); woman 8 (42,1%), bladder extrophy 17 (89,5%); cloacal extrophy 2 (10,5%), epispadia 2 (10,5%); hipospadia 1 (5,3%); not having other congenital organ anomaly 16 (84,2%), fixation method slabs 10 (52,6%); external fixation 9 (47,4%), post operation period ≤36 months 10 (52,6%); >36 months9 (47,4%), the median of age at operation 6 months old with range from 1-71 m, the median of aproximation percentage 78,5% with range 65-98,1%, the mean of PedsQL score post operation 97,2±1,6. There was a significant correlation between age at operation and diastasis post operation to aproximation percentage and PedsQL score (p<0,05).
Discussion: The clinical outcome of the bladder extrophy patients shows good result that's measured by percentage pubic approximation and PedsQL score. Age at operation and diastasis post operation affect aproximation percentage and quality of life of bladder extrophy patient."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hemastia Manuhara H.
"Pendahuluan: Salah satu konsentrat faktor pertumbuhan autologus terbaru yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka dan meningkatan bioaviabilitas adalah platelet rich fibrin (PRF). Belum ada penelitian aplikasi PRF di luka pasca panen tandur kulit dapat mempercepat proses epitelisasi.
Metode: Studi multipel measure dengan general linear model adalah untuk mengevaluasi luka pasca panen tandur kulit, luka pasca panen tandur kulit dibagi menjadi dua kelompok dengan atau tanpa aplikasi PRF pada area tersebut. Untuk mengevaluasi epitelisasi luka di lokasi donor, kami memberikan perawatan luka yang sama pada kedua sisi dan evaluasi foto analisis pada hari ke 1,3, 7, 14 dan 30 menggunakan perangkat lunak ImageJ. Data yang diperoleh dianalisis dengan SPSS 20.0. Nilai P lebih rendah dari 0,05 dianggap signifikan.
Hasil: Penggunaan PRF telah membuktikan kemampuannya untuk mempercepat proses epitelialisasi proses penyembuhan situs donor p 0,000. Reaksi inflamasi kelompok PRF (hiperemik, nyeri, hipertermia, dan edema) di situs donor berkurang.
Kesimpulan: Aplikasi PRF akan memperbaiki kondisi luka, khususnya dengan menyediakan faktor pertumbuhan di lingkungan luka yang membantu mempercepat proses epitelisasi dan menghasilkan manajemen luka yang efektif.

Introduction: One of the newest concentrate autologous growth factors for wound healing process is platelet rich fibrin (PRF), used to accelerating wound healing process. PRF application on donor site after skin grafting would accelerated epithelialization process.
Methods: This multiple measure with general linear model study is to evaluate after harvesting, donor site defect was divided into two groups with or without PRF application. To evaluate of epithelialization of donor site wound, we give same treatment of wound care of both side and evaluated at day 1,3, 7, 14 and 30 using ImageJ software. Data obtained were analyzed with SPSS 20.0. The P-values lower than 0.05 considered as significant.
Result: The use of PRF has proven its ability to accelerate the epithelialization process of donor site healing process p 0,000. Inflammation reaction of PRF group (hyperemic, pain, hyperthermia, and edema) on donor site wound less.
Conclusion: PRF application would improve the condition of the wound, in particular by providing growth factor in the wound environment that help accelerate the epithelialization process and resulting in cost effective wound management.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T58613
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Aniza Winanda
"Pendahuluan: Luka bakar adalah cedera berat akibat kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh kontak dengan sumber panas serta berpengaruh pada seluruh fungsi sistem tubuh. Pada luka bakar, cedera mengakibatkan kerusakan pada penampilan seseorang dan citra tubuhnya sehingga perasaan negatif yang dialami juga dapat diikuti masalah lainnya yang menyebabkan psikopatologi atau gejala masalah kejiwaan.
Metode: Studi potong lintang dengan metode pengambilan sampel secara konsekutif yang melibatkan pasien luka bakar di poliklinik Bedah Plastik serta Unit Luka Bakar RSCM, Jakarta dilakukan antara April-Mei 2017. Responden mengisi kuesioner self-report berupa Kuesioner Biodata untuk mendapat profil demografi, SRQ-20 titik potong ge;6 untuk melihat gejala psikopatologi, Kuesioner WHOQoL-BREF untuk melihat skor kualitas yang meliputi domain fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. Data yang didapat diolah menggunakan analisis korelasi Spearman.
Hasil: 56 pasien luka bakar berpartisipasi dalam penelitian ini. 30.4 pasien tidak bekerja serta 48.2 memiliki penghasilan sangat rendah per bulannya. 67.9 pasien mengalami luka bakar akibat api dengan 44.6 mengalami luas luka bakar 10-30 TBSA dan mayoritas individu 80.4 mengalami luka bakar kombinasi derajat 2 3. Berdasarkan analisis yang dilakukan, 57.1 pasien mengalami psikopatologi dan rerata penilaian kualitas hidup yang rendah domain fisik 48.1, domain psikologis 51.5 . Didapatkan korelasi negatif yang bermakna p le; 0.05 antara domain psikologis dengan gejala depresi, cemas, dan penurunan energi; domain fisik dengan gejala penurunan energi, serta domain sosial dengan gejala cemas.
Pembahasan: Penelitian yang dilakukan mendapatkan berbagai hasil yang bermakna untuk membuktikan adanya korelasi antara psikopatologi dengan berbagai domain kualitas hidup yang terpengaruh.

Introduction: Burns result in severe injuries that cause damage or loss of tissue due to contact with sources of heat resulting in injuries to all body systems. Injuries of the skin, which functions as a barrier to protect internal organs, may cause patients to experience damage to one's physical appearance and body image causing negative feelings that may lead to other problems such as psychopathology and symptoms of mental illness.
Method: A cross sectional study with consecutive sampling method of burn patients who were treated at the Plastic Surgery Outpatient Clinic and Burn Unit of RSCM was conducted between April May 2017. Subjects were asked to fill in self report questionnaires including patient identity form, SRQ 20 cutoff point ge 6 for presence of psychopathology, and WHOQoL BREF to obtain mean scores of quality of life that include four domains of physical, psychological, social, and environment assessment. Data collected was analyzed using correlation analysis.
Result: 56 burn patients were included in the study. 30.4 did not work and 48.2 had very low income per month. 67.9 patients experienced burns due to fire and 44,6 had burns 10 30 of the TBSA with a majority of patients 80.4 experiencing a combination of second third degree burns. Based on the analysis, 57.1 of patients had a form of psychopathology and low mean scores of quality life physical domain 48.1, psychological domain 51.5. Significant negative correlations p le 0.05 were obtained between the psychological domain and symptoms of depression, anxiety, low energy physical domain and low energy and social domain with anxiety.
Discussion: This study obtained significant results to identify the correlation between psychopathology and various domains of quality of life affected.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Her Bayu Widyasmara
"Objektif: Mengusulkan teknik bedah alternatif sederhana untuk mengkoreksi mega prepusium kongenital yang berfokus pada eksisi dartos sebagai bagian penting dari prinsip dasar prosedur operasi tersebut.Metode: Tiga pasien yang didiagnosis dengan mega prepusium kongenital menjalani rekonstruksi dengan teknik ini antara Januari dan Mei 2016. Awalnya dilakukan insisi longitudinal pada sisi ventral penis untuk memotong cincin stenotik dan mengekspos glans dan prepusium bagian dalam yang berlebihan. Prepusium bagian dalam yang berlebihan dieksisi, tunika dartos di bawah kulit dan prepusium dalam juga dieksisi, Kemudian sisa prepusium bagian dalam dibentangkan dan disambungkan dengan kulit penis pada dasar batang penis untuk menutupi batang penis. Kepuasan orang tua diukur menggunakan modified-Pediatric Penile Perception Score-Questionnaire Parent. Tinjauan pustaka dan teknik bedah lainnya yang telah ada sebelumnya dijelaskan juga.Hasil Penelitian: Sebelum operasi, semua pasien mengalami gangguan berkemih dan penampilan penis yang abnormal. Hasil akhir secara kosmetik dan fungsional semua pasien memuaskan baik untuk ahli bedah maupun orang tua. Kulit penis dalam proporsi baik dan tidak terlalu besar. Tidak ada komplikasi yang diamati pada follow up 3 bulan.Kesimpulan: Deteksi dini dan pembedahan wajib pada anak-anak dengan mega prepusium kongenital. Teknik yang dijelaskan di sini memberikan pendekatan yang mudah dan aman dengan hasil akhir kosmetik yang baik.

Objective To propose a simple and reproducible alternative surgical technique for correction of congenital megaprepuce that focus on dartos excision as a part of basic surgical procedure principlesMethods Three consecutive patients were diagnosed with congenital megaprepuce and underwent this reconstruction between January and May 2016. Initial longitudinal incision on the ventral side was performed to cut the stenotic ring and expose both glans and excessive inner prepuce. The excessive inner prepuce was excised, dartos beneath skin and inner prepuce was excised also, and then anchored the penile skin base and unfurled the inner prepuce to cover the shaft. Parents satisfaction was measured using modified Pediatric Penile Perception Score Questionnaire Parent. A review of existing literature and previously reported techniques are explained.Results All patients presented with micturition trouble and abnormal penile appearance before surgery. The final cosmetic and functional result was satisfying in all patients for both surgeons and parents. The penile skin was in good proportion and not over bulky. No complications were observed at 3 months follow up.Conclusions Early recognition and surgery are mandatory in children with congenital megaprepuce. This technique described here provides an easy and safe approach applicable to this condition with good cosmetic result. "
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>