Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 24033 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Totok Subiyakto
"Pabrik Batang kawat PT KS yang berkapasitas produksi 250,000 ton per tahun dengan produk berdiameter 5,5 - 20 mm. Kualitas batang kawat yang dihasilkan adalah mulai dari grade Low Carbon, Medium Carbon yang dikelompokkan sebagai grade komersial dan grade High Carbon dan kawat las dikelompokkan sebagai grade spesial, dibuat dan bahan baku billet berukuran 120 mm sq.
Investasi yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan daya saing, yaitu fleksibilitas pembuatan produk dari diameter batang kawat 5,5 sampai 20 mm mengalami kenaikan yield. Peningkatan yield disumbang oleh penurunan tingkat kegagalan cobble, masukan/input bahan baku mengalami penambahan berat dan billet ukuran 120 mmsq menjadi 150 mmsq dan pemasangan C - Hook yang bertujuan untuk meminimalkan cacat pada akhir produk pada saat handling.
Berdasarkan analisa keuangan, dengan dasar penjualan berdasarkan skenario pertumbuhan industri pengolahan optimis, moderat dan pesimis, bahwa dengan kandungan spesial grade 23 %; 24 % dan 26 %terhadap total produksi, memberikan nilai IRR lebih besar (>) 15 % (MARK dalam USD), perioda pengembalian lebih kecil dari 15 tahun, yang berarti proyek tersebut ekonomis.
Masalah lain adalah biaya variabel produksi yang masih tinggi atau biaya bahan baku yang tinggi harganya ( kontribusi biaya bahan baku dalam biaya variabel poduksi adalah 94 %). Juga terhadap ketergantungan impor yang cukup tinggi (kandungan impor untuk produk batang kawat adalah G4 %) Untuk itu sebaiknya disamping memperbaiki proses internal, peningkatan delivery time adalah melakukan aliansi strategic dengan pemasok bahan baku agar dapat mengendalikan harga bahan baku di pasar."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dahrijoso Soejakti
"ABSTRAK
PT. X yang memiliki karakteristik sistem manufaktur job order dengan variasi produk dan lingkup pekerjaannya yang dimulai dari proses desain, sering menghadapi masalah yang berupa keterlambatan dan kenaikan biaya material. Karena proses pengadaan material di suatu perusahaan dilaksanakan berdasarkan suatu sistem-prosedur operasi, maka dilakukan review dan analisa pada sistem prosedur tersebut. Dalam suatu analisa, bagaimanapun juga, diperlukan suatu tolok ukur untuk mengkuant sir performance dari suatu sistem. Untuk itu dalam menganalisa sistem-prosedur tersebut, dilakukan pendekatan dengan metode PERT (Program Evaluation and Review Technique). Yaitu dengan menterjemahkan sistem-prosedur yang ada ke dalam suatu jaringan aktivitas, untuk kemudian dicari aktivitas-aktivitas yang kritis dengan metode CPM (Critical Path Method). Aktivitas-aktivitas yang termasuk dalam lintasan kritis tersebut diidentifikasi sebagai aktivitas yang mendapat prioritas dalam pengendaliannya.
Langkah awal yang dilakukan dalam menganalisa adalah mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang ada dalam sistem-prosedur. Mulai dari proses desain sampai dengan proses pengadaan material, serta prosedur prosedur ekstern yang harus dipertimbangkan. Aktivitas-aktivitas tersebut dibuat dalam sequence aktivitas, untuk kemudian direview dan dianalisa apakah ada kemungkinan untuk memperbaiki performance sistem-prosedur dari segi waktu. Sebagai dasar analisa, dilakukan pengambilan data waktu durasi dari masing-masing aktivitas pada proyek masa lalu yang pernah dikerjakan oleh PT X.
Dari data durasi tersebut akan diperoleh waktu optimis, most likely dan pesimis, sehingga dapat dihitung waktu yang dapat diharapkan (te) dan variansinya (6te2) yang menunjukkan performance dari suatu aktivitas.
Setelah dilakukan analisa CPM pada sequence operasi proses pengadaan material tersebut dan dibandingkan dengan jadwal delivery kebutuhan material yang harus dipenuhi (yang diperoleh dari analisa CPM proses fabrikasi), maka akan didapaikan kemungkinan reduksi waktu delivery material yang dapat diharapkan dan probabilitasnya.
Dari metode analisa yang digunakan diatas, juga menunjukkan bahwa sequence operasi/aktivitas dari proses desain dan pengadaan material harus dipertimbangkan dalam setiap penjadwalan suatu proyek Kemudian, dari hasil pembahasan, juga diperlukan langkah pengendalian dalam proses issuing material, seperti penentuan personil yang setara dalam hal tanggung jawab atas pengendalian inventory, dan perlunya penyediaan fasilitas mesin potong di gudang, baik yang ada di pabrik maupun di site. Dan juga diperlukan suatu sistem pengkodean dan informasi material yang merupakan sarana agar langkah pengendalian material dapat dilakukan secara maksimal.

ABSTRACT
The system of manufacture of PT. X with job order characteristic and product variation, wherein scopes of supply include design process, have the problem about material delivery and loosing in cost of material.The system of manufacture of PT. X with job order characteristic and product variation, wherein scopes of supply include design process, have the problem about material delivery and loosing in cost of material.
Because process of material procurement to be done based on the procedure operation system, so review and analyze of the procedure are required. In the analysis, however, it is necessary to use the measure for quantifying performance of the system. Therefore, the analysis to be done with approach to PERT (Program Evaluation and Review Technique) method. By this method, activities which are included in the all procedure system (and the extern procedure relating to) were translated in the activity sequence, thereafter can be found the critical activities by the Critical Path Method (CPM). All critical activities will be identified as the priority activities in the control of material delivery.
In the analysis, identification of activities of operation procedure is the first steps have to do. Beginning from design process to material procurement process, include the extern procedure which has to be considered. Thereafter, all activities to be transferred in the activity sequence to be reviewed and analyzed. As the basis of analyst, duration times of every activity are taken form previous projects had to be executed by PT. X.
Three time estimates such as optimistic, most likely, and pessimistic times will be obtained from those data, so can be calculated the expected elapsed time (te) and variance (te2) to indicate performance of an activity.
By the CPM analysis of the operation sequence of material procurement process, and comparing to delivery schedule of material requirement (to be found from CPM analysis of fabrication process), then can be obtained the result which make possible to reduce expected elapsed times of material delivery and their probabilities.
On the basis of the above analyze method, also shows that operation or activity sequence from design stage to material procurement process have to be considered in the scheduling of the project. In addition, discussion of issuing material process declares that it is necessary to control their implementation, such as assignment of appropriate personnel connection with responsible of inventory control, and it is important to provide cutting machine facility at warehouse, as well as both at factory and project site. And, in order to material control can be done in maximal manner, PT. 'X should applicate the material coding and information system.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1994
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alen Septanto
"Antara tahun 1997 sampai 1998, Indonesia dan sebagian negara lainnya di kawasan Asia mengalami krisis moneter yang dipicu oleh jatuh tempo utang luar negeri yang dimiliki oleh negara-negara tersebut. Hal ini mengakibatkan kondisi perekonomian Indonesia mengalami goncangan yang hebat sehingga banyak perusahaan dalam negeri yang mengalami kebangkrutan.
Pada tahun 2005 yang lalu, perusahaan-perusahaan dalam negeri kembali mengalami cobaan yang hebat dengan adanya keputusan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik, harga BBM, (dua kali dalam tahun 2005), dan peningkatan nilai inflasi dalam negeri yang mencapai 18 %.
PT. Wijaya Karya Intrade sebagai salah salah satu perusahaan manufaktur yang bergantung pada konsumen mereka, terutama perusahaan pembuatan kendaraan bermotor, juga menerima dampak ketidak stabilan ekonomi tersebut. Dampak dari kenaikan BBM dan nilai inflasi adalah berkurangnya kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan bermotor menyebabkan PT. Wijaya Karya Intrade sebagai salah satu perusahaan pemasok suku cadang kendaraan bermotor mengalami kesulitan karena berkurangnya permintaan pembuatan suku cadang tersebut dari para perusahaan pembuat kendaraan bermotor sehingga PT. Wijaya Karya Intrade terpaksa harus bekerja dalam kondisi di bawah kondisi efisien.
Untuk mengatasi kondisi bekerja di bawah kondisi efisien ini maka PT. Wijaya Karya Intrade berusaha untuk meningkatkan kinerja setiap bagian yang ada dalam kerangka supply chain. Kaya akhir ini berusaha untuk menganaiisis sejauh mana PT. WKI, terutama unit bisnis P3, telah melakukan peningkatan dalam kegiatan usahanya yang dapat meningkatkan kualitas dan nilai produk yang dibuat di pabrik P3.
Dari hasil analisis yang dilakukan, penulis menemukan ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki agar unit bisnis P3 dapat memberikan hasil yang maksimal bagi para konsumennya. Beberapa hal tersebut antara lain adalah belum diterapkannya teknologi informasi yang tepat, perencanaan tingkat inventori yang belum tepat, defisiensi dalam proses produksi, dan SCM yang belum terintegrasi.
Dari hal-hal yang telah disebutkan diatas maka penulis dapat mengusulkan beberapa hal sebagai solusi dari masalah yang ada. Solusi-solusi yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan penerapan teknologi informasi yang sebaiknya dimulai dalarn waktu yang dekat sebagai tindakan pencegahan untuk menanggulangi peningkatan perrnintaan yang kemungkinan akan terjadi.
2. Peningkatan efisiensi proses produksi dengan perencanaan yang lebih diperhitungkan dengan lebih seksama dan proses desain cetakan yang lebih akurat sehingga mengurangi delay dalam produksi.
3. Perencanaan tingkat inventori dengan manual reorder point method sehingga diharapkan tidak akan terjadi lagi kekurangan bahan bake di tengah-tengah proses produksi yang akan menambah biaya lembur maupun sub kontrak.
4. SCM yang terintegrasi akan terwujud pada unit bisnis P3 apabila ada komunikasi yang lebih mendalam antara unit bisnis P3 baik dengan para suppliernya maupun dengan para konsumennya.

Between 1997 and 1998, Indonesia and some other countries in the Asian region had a monetary crisis which was caused by the due date of their foreign debt. This had caused Indonesian economic condition to be at great disaster and eventually many companies had to declare it bankrupt.
In the year 2005, domestic companies again were shocked by government decision to increase the price of electricity and fuel and gas. This had caused the inflation rate in Indonesia became uncontrollable and rose to 18%.
PT. Wijaya Karya Intrade as one of the manufacturer companies that depends to their customers, especially the automotive producer, also hit by this economical unstability. Price rise of fuel and gas and the increased inflation rate had caused the decrease of peoples need for automobiles and that caused PT. Wijaya Karya Intrade as one of the companies that manufacture spare parts for automotive had difficulties and had to work under inefficient condition.
To deal with this condition, PT. Wijaya Karya Intrade tries to level up the performance of every section in the supply chain framework. This final paper try to analyze how far PT. Wijaya Karya Intrade, especially business unit PPP, have did that can increase the quality and value of their product.
After the analysis process, the writer has found several things that have to be fixed in order to business unit PPP can give maximum outcome for their customers. That several things are the right information technology has not been implemented yet, imperfection in inventory level planning, deficiency in production process, and non-integrated SCM.
After the analysis had been done, the writer has come up with several solutions to help business unit PPP to deal with their problems. The solutions are:
1. The development of the information technology which better to start immediately as a precaution act to deal with the increasing demand that going to happen in the short term.
2. Efficiency enhancement of the production process with extra caution planning and careful design process so it can decrease delay in production.
3. Inventory level planning with the use of manual reorder point method so that material emptiness will no longer happen in the middle of the production process that can increase the cost for subcontract and overtime.
4. Integrated SCM will be accomplished as long as business unit PPP can build an inner communication bridge between themselves with suppliers and customers.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2006
T18504
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kiswanto
"Industri maritim/perkapalan yang maju, yang mampu mendukung dan meningkatkan armada lautnya perlu dimiliki oleh Indonesia guna mewujudkan Wawasan Nusantara. dan pembanguian Nasional sejalan dengan perkembangan perekonomian Indonesia untuk menghadapi kawasan perdagangan bebas ASEAN (AFTA - 2003). Kapal laut sebagai salah satu produk industri maritim merupakan prasarana perhubungan laut, baik dari jenis kapal niaga untuk mengangkut barang - barang perdagangan maupun kapal perang untuk mengamankan wilayah dan hasil-hasil pembangunan. Dengan demikian bagi Indonesia industri maritim merupakan kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi, mengingat letak geografis yang terdiri dari pulau-pulau, sehingga perlu untuk dikembangkan. Pengembangan industri maritim selain mencakup kualitas, kuantitas dan SDM juga pengembangan teknologi canggih untuk keperluan komunikasi, pendeteksian (Radar) dan operasionalnya.
Untuk mewujudkan maksud tersebut Pemerintah menunjuk PT.XYZ Indonesia Persero (Perusahaan manufacturing-BUMNIS) sebagai wahana pengemban misi Nasional dengan tetap mempertahankan aspek bisnis. Tetapi dengan perekonomian dunia yang semakin global, mampukah PT. XYZ Indonesia bersaing dengan Negara lain?. Berdasar ulasan ini, penelitian kesiapan PT. XYZ Indonesia mengemban misi dikaitkan dengan kawasan perdagangan bebas ASEAN-2003, menjadi inti penulisan Tesis ini.
Pendekatan teoritis dengan matriks SWOT dan strategi bersaingnya "Michael E. Porter" . merupakan kunci utama dalam analisis ini. Sedang posisi strategi PT. XYZ Indonesia - ditentukan dari hasil analisis kekuatan/peluang dan kelemahan/ancaman baik yang berada didalam maupun diluar perusahan, yang secara matriks SWOT posisinya berada pada kwadran III (Survival). Sehingga untuk menghadapi perdagangan bebas Internasional dapat ditentukan perkembangannya.
Strategi pengembangan tersebut sangat mempengaruhi keberhasilan perusahaan dalam menghadapi era globalisasi, namun demikian kebijakan Pemerintah yang menitipkan misinya di BUMNIS ini sangat menentukan kelangsungan hidup dan pengembangannya."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mudjiardjo
"Strategi merupakan suatu sarana untuk mencapai tujuan perusahaan. Dalam era persaingan usaha semakin ketat, tiap perusahaan dituntut dapat menentukan strategi yang tepat, agar dapat memenangkan persaingan tersebut, minimal dapat bertahan sehingga perusahaan tidak ditutup.
PT. Patra Dok Dumai adalah salah satu perusahaan yang dituntut untuk dapat bertahan, bahkan apabila mungkin dapat berkembang, di dalam bersaing dengan perusahan galangan kapal lainnya, terlebih lagi perusahaan ini dituntut untuk betul-betul dapat mandiri.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui posisi strategis PT. Patra Dok Dumai pada saat ini, dan kemudian mengkaji serta menentukan strategi-strategi yang tepat sebagai dasar menuju kemandirian perusahaan.
Acuan yang digunakan dalam kajian tersebut adalah pertumbuhan dan relative market share dari teori BCG Growth Share Matrix, serta analisa SWOT sebagai dasar untuk menentukan strategy alternative. Didalam penelitian ini, data didapat dari PT. Patra Dok Dumai, perusahaan sejenis lainnya, serta dari lembaga atau departemen terkait. Selain itu agar didapatkan data yang lebih objektif, juga diedarkan kuesioner.
Dari penelitian diperoleh kesesuaian antara kondisi yang dialami perusahaan saat ini dengan hasil penelitian, dimana pada saat ini perusahaan masih mengalami large negative cash flow. Disamping itu, ada kesamaan antara beberapa strategi yang sedang dijalankan dengan strategi yang dihasilkan dari penelitian misalnya dalam hal perusahaan berusaha mempertahankan captive market, meningkatkan pemasaran dan diversifikasi usaha dibidang pekerjaan non kapal."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2001
T4369
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Godam Pariyanto
"Perusahaan di dalam mengambil keputusan untuk bisnis, harus melihat kepada aspek keuangan, marketing dan kemampuan sarana fasilitas yang tersedia. Seperti halnya Depot Solo sebagai salah satu profit centre Pertamina Unit PPDN N Semarang, saat ini dirasakan belum diberdayakan dan dimanfaatkan sesuai kemampuannya.
Berdasarkan perhitungan dan analisa SWOT Pertamina Depot Solo terhadap aspek biaya operasi distribusi, ragam produk dan sarana fasilitas yang tersedia, memperlihatkan bahwa :
1. Sarana fasilitas Depot Solo untuk mengelola BBM (Premium) sudah sangat terbatas, sehingga harus lembur rata-rata setiap hari 2 jam.
2. Harus ada restrukturisasi pola suplai dan distribusi BBM/NBBM :
- Praduk BBM Premium dialihkan dari Depot Solo ke Depot Rewulu.
- Produk NBBM Elpiji disuplai dari SPPBE Restugas Aji dan Depot Solo.
3. Memberdayakan dan memanfaatkan Depot Solo sesuai dengan kemampuan bisnisnya :
- Memanfaatkan SDM yang ada untuk mengelola NBBM, dengan penghematan per tahun biaya operasi distribusi BBM Rp. 417.750.900,- dan biaya operasi distribusi NBBM (Elpiji) Rp. 50.882.708,
- Memanfaatkan peluang pasar elpiji tabung isi 12 kg sebesar 920 buah per hari untuk dikelola Depot Solo.
4. Merumuskan manajemen strategi Depot Solo:
- Strategi Korporat, fokus pada produk Non BBM (Single Line of Business).
- Strategi Bisnis, fokus efisiensi biaya operasi distribusi.
- Strategi Fungsional, mengoptimalkan sarana fasilitas, menggarap dan memanfaatkan peluang pasar elpiji, meminimalkan biaya pemeliharaan dan pegawai, memanfaatkan karyawan yang ada dengan optimal.
Posisi Depot Solo secara internal masih cukup kuat dan harus memanfaatkan peluang tersebut secara optimal, dengan fakus pada bisnis produk Non BBM Pelumas dan Elpiji.

If the Firm to take decision for business, must see for finance, marketing and facility of capability aspect. Like as Depot Solo is one of profit Centre Company from Pertamina Semarang Domestic Marketing and Distribution Business Unit, now it isn't used and exerted to fit of its potency.
For the basic account and SWOT analysis from Pertamina Depot Solo with respect to distribution operation cost, kind of product and facility aspect, it seems that:
1. Facility of Depot Solo is limited for Gasoline management, for that it must have to pay over time two hours per day.
2. It must have structural change for Gasoline/Non Gasoline supply and distribution :
- Gasoline product is moved from Depot Solo to Depot Rewulu.
- Elpiji product is supplied by SPPBE Restugas Aji and Depot Solo.
3. Depot Solo must use and exert to fit of its business potency :
- To use Human Resources for non gasoline management, it can save per year for gasoline distribution operation cost 417,750,900.00 rupiahs and elptll distribution cost 50, 882, 708.00 rupiahs.
- To use elpiji market opportunity for 12 kg tube about 920 unit per day.
4. Depot Solo formulates management strategy :
- Corporate Strategy, focus for Non Gasoline (Single Line of Business).
- Business Strategy, focus for distribution operation cost efficiency.
- Functional Strategy, optimal facility, to work and to use elpiji market opportunity, to minimize maintenance and employee cost, to use optimal employee.
Internal position of Depot Solo is enough still strong and it must use optimal opportunity with the focus for non gasoline Pelumas and Elpiji product business.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2000
T5854
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wasis Pramono
"Masalah yang dihadapi oleh bagian perencanaan dan pengendalian produksi pada Departemen Sepatu Canvas PT Sepatu X adalah membuat perencanaan produksi yang sesuai dengan kondisi perusahaan saat ini dalam memenuhi permintaan pasar.
Dengan adanya masalah tersebut, maka tujuan dari studi ini adalah menyusun perencanaan produksi sebagai upaya memperbaiki sistem yang ada.
Setelah melakukan perhitungan dan analisa, maka diusulkan pendekatan Strategi Perencanaan Produksi Agregat (Aggregate Production Planning) sebagai alternatif pemecahan masalah. Pendekatan Strategi Agregate Planning antara lain:
1. Strategy Exact Production Vary Workforce
2. Strategy Constant Workforce, Vary Inventoryand Stockour
3. Strategy Constant Low Workforce, Subcontract
4. Strategy Constant Workforce, Overtime
Dari hasil perhitungan empat Strategi Perencanaan Agregat tersebut diatas, diharapkan akan diperoleh alternatif rencana biaya produksi yang paling ekonomis.

The problem faced by the Planning and Production Control Division at the Canvas Shoes Department of PT Sepatu X is to make an appropriate production planning program in accordance with the company's present condition to fulfill market demand. In view of the above problem, the purpose of this study is to make a production planning system in order to improve the existing system.
After carrying out some calculation and analyses, it is suggested that the Aggregate Production Planning is one of the alternatives to solve the problem. The approaches of Aggregate Planning Strategy are:
1) Strategy Exact Production Vary Workforce
2) Strategy Constant Workforce, Vary Inventory and Stockout
3) Strategy Constant Low Workforce, Subcontract
4) Strategy Constant Workforce, Overtime
From the above four strategies, the most economic and visible strategy will be chosen."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2000
T5917
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hutapea, Evyria Mauline Natiur
"Teori Nilai Perusahaan yaitu Struktur Modal menggunakan beberapa pendekatan dalam pemodelan yang dipakai. SaIah satu pendekatan yang digunakan dalam menentukan nilai perusahaan adalah dengan pendekatan Price Earnings Ratio (PER), yang pada awalnya diambil dari pemodelan yang diteliti oleh Whitbeck dan Kisor, dengan memasukkan variabel bebas seperti : dividers pay-out ratio, growth, dan beta perusahaan.
Penelitian ini didasarkan pada pendekatan tersebut di atas, dengan menggantikan variabel diuiden pay-out ratio dengan variabel return on assets (ROA) dan debt to equity ratio (DER), agar diperoleh faktor apa yang mempengaruhi nilai perusahaan dengan pemodelan pendekatan earnings.
Untuk hasil yang diharapkan, dilakukan uji statistik dengan menggunakan model analisis regress linear berganda, dengan variabel PER sebagai variabel dependen dan variabel GROWTH, BETA, ROA dan DER sebagai variabel-variabel independennya.
Populasi yang digunakan dalam penelitian adalah 32 (tiga puluh dua) perusahaan yang tercatat di BEJ selama periode 2002 - 2004, dan merupakan perusahaan dengan transaksi aktif tertinggi.
Dari penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa makin banyak variabel dari faktor financial ratio dimasukkan dalam pemodelan, makin terlihat positif pemodelan yang diperoleh. Dengan demikian untuk melihat nilai perusahaan, faktor-faktor bisnis dan faktor financial berpengaruh positif terhadap pendekatan earnings yang diujikan.

Value of the firm theory i.e. Capital Structure, used several approach for models. That is Price Earnings Ratio which determined the value of the firm theory. First, the model of this research was taken from Whitbeck and Kisor 's mode, that used price earnings ratio as an dependent variable, and some independent variables like : dividend pay-out ratio (DPC), growth (g) and beta of the firm.
This research was develope based on that theory, which removed the dividend pay-out ratio variable then change with return on assets's variable (ROA) and added debt to equity ratio 's varable (DER), in order to get the significant factors that influenced the earnings's model.
As a result, to be examined some stas/itical test which used the multiple linear regression, that used PER 's variable as a dependent variable and get growth (g), beta of the firm, return on assets (ROA) and debt to equity ratio (DER) as independent variables.
Population for sample was taken from 32 firms which listed on Bursa Efek Jakarta (BE]), for 2002 - 2004.
These research was getting some results if that was some variables from financial ratio being enterred to the model, that seem more positive model. Thus, the business factors and the financial factors significant positive to influence the earnings's model.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2006
T17060
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Melania Eka Widia Dewi
"Peningkatan produksi suatu produk dilakukan bila terdapat peningkatan permintaan dari pasar. Seiring dengan meningkatnya produksi, kapasitas produksi tentunya juga harus ditingkatkan, antara lain dengan melakukan penambahan tenaga kerja, mesin, area kerja, dll. Sebelum melakukan penambahan tersebut, terlebih dahulu dilakukan studi kelayakan untuk mengetahui seberapa besar penambahan yang harus dilakukan dan kelayakannya dari segi finansial.
Pada penulisan ini dilakukan studi kelayakan penambahan mesin injeksi dalam rangka pemenuhan kebutuhan pesanan produksi part kamera pada perusahaan yang bergerak di bidang moulding dan injeksi. Diharapkan dari hasil penelitian studi kelayakan ini dapat diketahui kelayakan secara finansial dan pasar dari penambahan mesin yang dilakukan.
Dari hasil studi kelayakan yang dilakukan terlihat bahwa akan terdapat peningkatan permintaan yang cukup signifikan sehingga dibutuhkan penambahan mesin injeksi. Dari segi finansial dan pasar, penambahan mesin injeksi ini dapat dikatakan layak.

As the demand increase, production capacity might also be improved; either adding the labors, machines, activity area, etc, or combinations of those production factors. In case a production factor should be added, a study must be done to analyze whether this addition is feasible in terms of financial and market condition.
This study analyzes the feasibility study of the addition of injection machine in order to accomplish the requirement orders of part camera production in moldings and Injection Company.
The result of this study shows that the addition of machine injection is feasible based on financial and market condition.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
T14683
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmat Nuryono
"PT Kawasan Industri Jababeka, Tbk (PT KIJ, Tbk), is an industrial estate management company. The company also includes the supporting facilities of the industrial estate in its business operation. The supporting facilities that are included are the apartments/residence, store, and office construction, clean water construction and management, industrial waste management, telecommunication facilities, telephone and electricity; and other supporting facilities.
Along with the change in macro environment, from 1998 until 2001 the Indonesian industrial estate management companies suffered a great decrease. It was marked by the decrease of investment realization and followed by the deflation of Rupiah and the upsurge of the inflation rate. Even though since 2003 Indonesian economic growth has reached 4,1%, to boost up the industrial estate management requires the reevaluation and adjustment of its strategic business to the environmental change so that the company can keep its sustainability and growth.
To know the preparation of PT KIJ, Tbk in anticipating every external environmental change and preparing its internal resources, the appropriate business strategic analysis is required. The research method applied in this research is descriptive - qualitative method. It is conducted by giving questionnaire and interviewing the respondents who know and understand the industrial estate management. The respondents given the questionnaire and interviewed for the research are the manager of PT KIJ, Tbk, the and interviewed for the research are the manager of PT KIJ, Tbk, the boarding staff of Himpunan Kawasan Industri (HKI) commissariat Bekasi, the officials of Sub Dinas Penanaman Modal Daerah (PMD) Dinas Perindagpar and PMD Bekasi Regency, and the directors of tenant companies in Jababeka.
The research is initiated by analyzing the condition of internal and external factors of the company and also by analyzing the importance level of those factors. The result of the assessment is used to determine the competitive position of PT KIJ, Tbk by applying General Electric (GE) Matrix. The competitive position obtained from GE matrix analysis exist in growth and build business area or Quadrant ll which recommends some alternative strategies suitable for its development. By examining the competitive position, strength, weakness, opportunity, threat and business goal of the companies, market penetration strategy and market development strategy are corroborated. After the strategies have been corroborated, the functional strategy proposal; the strategy to strengthen each function of the company, is given to arrange the program or to arrange the more detail description of the strategies."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T14239
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>