Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 186346 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rany Anggrainy
"Penelitian ini mengenai gambaran pola asuh orang tua dan hubungan persaudaraan yang dialami oleh pria gay yang sudah terbuka dan belum terbuka terhadap keluarga intinya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi mengapa seorang pria gay memutuskan untuk berterus terang atau tidak berterus terang mengenai orientasi seksualnya diantaranya adalah sikap keluarga setelah mereka mengetahui ada anggota keluarga yang menjadi gay. Sikap keluarga menjadi salah satu pertimbangan utama karena di Indonesia dengan budaya timurnya, keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Pentingnya peran keluarga di dalam kehidupan seseorang, membuat peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran pola asuh orang tua dan hubungan persaudaraan yang dimiliki oleh pria gay yang sudah terbuka dan belum terbuka terhadap keluarga intinya.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, di mana peneliti berusaha untuk mendeskripsikan fenomena kehidupan kaum gay dengan pendekatan kualitatif agar dapat memberikan informasi yang luas dan mendalam mengenai masalah yang ingin diteliti. Data penelitian diperoleh dengan cara: melakukan wawancara, observasi dan dokumen tertulis. Jumlah subyek dalam penelitian ini adalah empat orang: dua orang subyek sudah terbuka terhadap keluarga intinya dan dua orang subyek belum terbuka terhadap keluarga intinya.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan pola asuh yang signifikan antara pria gay yang sudah terbuka dan belum terbuka terhadap keluarga intinya, keempat subyek secara emosional lebih dekat dengan figur ibu daripada dengan figur ayah, dan mereka memiliki hubungan yang lebih dekat dengan saudara perempuan daripada dengan saudara laki-laki."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T18643
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Mundurnya usia pernikahan, mengakibatkan kesenjangan yang panjang antara
waktu dimulainya pubertas dengan usia pernikahan. Pria dewasa muda belum menikah,
yang berada di dalam kesenjangan itu, memiliki kemungkinan yang tinggi untuk
melakukan hubungan seks pra nikah. Namun dengan keadaan di Indonesia yang masih
berpegang kuat pada norma dan ajaran agama, pria dewasa muda yang berada di
dalam kesenjangan tersebut terbagi dalam dua kelompok, yaitu mereka yang tidak
melakukan hubungan seks pra nikah demi mengikuti norma dan ajaran agama, dan
mereka yang melanggar norma dan ajaran agama dan melakukan hubungan seks pra
nikah.
Tingginya kemungkinan pria dewasa muda melakukan hubungan seks pra nikah
perlu diwaspadai mengingat 90% penularan HIV/AIDS adalah melalui hubungan
seksual. Daiam hal ini, penggunaan kondom merupakan cara yang sangat penting dan
efektif dalam upaya pencegahan AIDS. Berbagai pendekatan telah dilakukan dalam
mencari cara-cara pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Namun ternyata sejauh
ini, teori planned behavior (TPB) merupakan teori yang paling baik dalam meramalkan
penurunan resiko AIDS.
Dikembangkan dari teori reasoned action, TPB terpusat pada intensi seseorang
untuk menampilkan suatu perilaku, yang ditentukan oleh tiga determinan, yaitu sikap
terhadap peniaku, norma subyektif, dan perceived behavioral control (PBC). Dalam
menentukan intensi, masing-masing determinan memiliki kekuatan yang berbeda-beda
dan perbedaan kekuatan ini dapat menjelaskan latar belakang timbulnya intensi yang
hendak diteliti.
Pengertian sikap daiam TPB tidak secara khusus membedakan antara aspek
afektif dan evaluatif (kognitif). Namun Richard, van der Pligt, dan de Vries (1996)
mengemukakan bahwa perbedaan tersebut dapat dibuktikan secara empiris dan
reliabel. DI sisi Iain, Ajzen (1991) membuktikan bahwa pengukuran terpisah terhadap
afek dan evaluasi tidak meningkatkan daya ramai terhadap intensi dan perilaku. Di
dalam penelitian ini, aspek afektif akan dibedakan dari sikap, dan dikhususkan pada
anticipated affective reactions karena penelitian ini berhubungan dengan perilaku yang
akan datang, sehingga reaksi afektif yang diukur adalah reaksi afektif yang
diantisipasikan (anticipated affective reaction/AAR). Pada penelitian ini, TPB dan teori
tentang AAR juga diterapkan pada pria dewasa muda yang sudah pernah berhubungan
seks dengan yang belum pernah berhubungan seks.
Pengambilan subyek dilakukan dengan teknik incidental sampling. Alat ukur
sikap terhadap penggunaan kondom, norma subyektif, dan PBC disusun berdasarkan
teori planned behavior, sedangkan alat ukur AAR dibuat berdasarkan teori tentang AAR.
Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi yang bersifat menguji hipotesa penelitian.
Untuk pengolahan data, ditakukan perhitungan korelasi Pearson, regresi berganda, t-
test, ANOVA serta scheffe test, dan persentase.
Lebih dan setengah subyek penelitian memiliki intensi yang kuat untuk
menggunakan kondom. Secara keseluruhan, hanya norma subyektif dan PBC yang
memberikan sumbangan yang signifikan terhadap intensi, dengan sumbangan terbesar
diberikan oleh PBC, dan penambahan AAR ke dalam TPB tidak secara signifikan
meningkatkan daya ramal terhadap intensi. Hanya intensi dan PBC yang berbeda
secara signifikan antara kelompok belum pernah berhubungan seks, dengan kelompok
sudah pemah berhubungan seks. Pada kelompok belum pernah berhubungan seks,
hanya norma subyektif yang memberi sumbangan yang signifikan terhadap peramalan
intensi. Sedangkan pada kelompok sudah pernah berhubungan seks, PBC dan norma
subyektif memberi sumbangan yang signifikan terhadap peramalan intensi, dimana
porsi sumbangan terbesar ada pada PBC. Intensi, norma subyektif, dan PBC berbeda
secara signifikan berdasarkan kekerapan subyek menggunakan kondom.
Beberapa saran yang dapat dikemukakan berdasarkan hasil penelitian ini adalah
bahwa sebaiknya teori planned behavior diterapkan pada subyek yang sudah memiliki
pengalaman tentang perilaku yang hendak diramalkan, dan teori reasoned action
sebaiknya diterapkan pada subyek yang belum memiliki pengalaman tentang perilaku
yang hendak diramalkan; strategi pencegahan HIV/AIDS sebaiknya difokuskan pada
PBC melalui pelatihan assertiveness. dan pada norma subyektif. melalui promosi
penggunaan kondom bagi mereka yang tidak dapat absen dari hubungan seks pra
nikah; bagi subyek yang sudah pernah berhubungan seks pencegahan HIV/AIDS akan
efektif bila difokuskan pada PBC dan norma subyektif, dan bagi subyek yang belum
pernah berhubungan seks pencegahan akan efektif bila difokuskan pada norma
subyektif; sebaiknya dilakukan penelitian mengenai intensi menggunakan kondom
dengan penelusuran Iebih lanjut ke perilaku; perlu diekspos informasi yang Iebih
mendalam tentang HIV/AIDS terutama mengenai adanya masa inkubasi dan window
period."
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1997
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Yulianti
"Hubungan sibling (antara saudara kandung) memberikan pengaruh yang penting pada kehidupan keluarga dan dalam perkembangan seseorang. Hal ini disebabkan karena hubungan antara saudara kandung merupakan hubungan yang paling lama (longest-fasting) dimiliki oleh individu (Papalia, 1998). Dalam hubungan dengan saudara kandung terdapat empat hal yang muncul, yaitu adanya kehangatan (warmth), status/kekuatan (relative power / status), ada konflik dan juga ada persaingan (rivalry) antara sesama saudara kandung Furman & Buhrmester (dalam Brody, 1996).
Hubungan saudara kandung yang dikatakan sibling rivalry, yaitu bila terdapat adanya persaingan, kecemburuan, kemarahan dan kebencian yang menyangkut pada banyak hal seperti dalam pendidikan, kasih sayang orang tua atau lainnya.
Hubungan antara saudara kandung dipengaruhi oleh beberapa hal. Furman, W. & Lanthier, (1996) antara lain variabel konstelasi keluarga dan juga peran orang tua. Beberapa variabel konstelasi keluarga yang mempengaruhi hubungan antara saudara kandung, antara lain jarak usia antara saudara kandung, persamaan / perbedaan jenis kelamin, besar kecilnya keluarga dan urutan kcluarga. Sedangkan peran orang tua yang mempengaruhi adalah pola asuh orang tua dan perlakuan / treatment dari orang tua.
Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk mengetahui bagaimanakan gambaran pola asuh orang tua, perlakuan orang tua dan variabel konstelasi keluarga pada anak yang mengalami sibling rivalry.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi kasus. Sampel pada penelitian ini adalah dua orang kakak adik yang mengalami sibling rivalry yang diambil dengan metode pengambilan sampel incidental purposif sampling. Penelitian ini mcnggunakan metode pengambilan data yaitu wawancara dengan pedoman wawancara, dan juga menggunakan alat bantu lainnya seperti alat perekam serta alat tes HTP, SSCT dan family drawing.
Hasil dari penelitian ini yaitu pola asuh orang tua pada anak yang mengalami sibling rivalry pada kedua pasang subyek yaitu pola asuh autoritarian dan pola asuh autoritatif. Perlakuan orang lua pada anak yang mrngalami sibling rivalry pada kedua pasang subyek yailu terdapat perlakuan / treatment khusus yang dilakukan oleh orang Lua pada salah salu saudara kandung mercka. Dua pasang subyek menyadari bahwa perlakuan yang berbeda / khusus pada Salah satu anak tersebut kemudian mempengaruhi pada penenluan anak favorit, pemberian perhatian, pembagian waktu yang diberikan oleh orang tua dan kedekatan antara anak dengan orang tua. Variabel konstelasi keluarga pada anak yang mengalami sibling rivalry pada kedua pasang subyek memiliki kesamaan pada jenis kelamin yang berbeda dan besar kecil keluarga; serta memiliki perbedaan pada variabel jarak usia dan urutan kelahiran."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T16827
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Widya Hapsari
"Menurut Erikson (1950 dalam Papalia. 2001), krisis intimacy versus isolation merupakan isu utama yang dialami oleh seorang dewasa muda. Individu yang berada pada masa ini memiliki tugas-tugas perkembangannya, yang salah satunya adalah membina hubungan intim. Namun, ternyata tidak semua individu yang memasuki usia dewasa muda telah mampu menjalin hubungan intim atau berpacaran.
Kenyataan ini dipengaruhi oleh perbedaan setiap individu dalam kemampuannya membina hubungan intim. Attachment style dengan orangtua dan self-esteem merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan tersebut. Secara teoretis, seseorang yang memiliki secure attachment style dan self-esteem yang tinggi akan berhasil membina hubungan intim. Di lain pihak, seseorang yang memiliki avoidant attachment style maupun amcious-ambivalent attachment style disertai dengan rendahnya self-esteem akan sulit membangun hubungan intim.
Oleh karena itu, penelitian. ini bertujuan untuk memperoleh gambaran attachment style dengan orangtua dan self-esteem pada pria dewasa muda yang belum pernah berpacaran. Penelitian ini mengkhususkan pria sebagai partisipan karena terdapat penelitian sebelumnya yang telah meneliti gambaran attachment style dan self- esteem pada wanita dewasa muda yang belum pernah berpacaran.
Selanjutnya, penelitian ini juga berusaha memperoleh pemahaman mengenai kebutuhan pria dewasa muda yang belum pernah berpacaran akan keintiman (intimacy). Hal ini dilatarbelakangi oleh keraguan beberapa peneliti terhadap asumsi yang mengatakan bahwa pria, bila dibandingkan dengan wanita, lebih sedikit membutuhkan intimacy ketika menjalin hubungan intim. Padahal, beberapa hasil studi menunjukkan persamaan tingkat intimacy pada pria dan wanita dalam hubungan interpersonal.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa individu dengan anxiousambivalenl dan avoidant attachment style disertai self-esteem yang rendah sulit membina hubungan intim hingga belum pernah berpacaran. Selain dipengaruhi oleh attachment style dan self-esteem. hal-hal yang mempengaruhi kegagalan individu tersebut dalam membina hubungan intim adalah belum siap untuk komitmen berpacaran, menetapkan standar yang terlalu tinggi dalam memilih pasangan, dan belum merasa mandiri secara finansial. Namun, di sisi lain, dimilikinya secure atlachment style dan self-esteem yang tinggi ternyata belum juga menjamin keberhasilan individu dalam membina hubungan intim. Adapun, faktor-faktor yang turut melatarbelakangi keadaan individu ini antara lain pengalaman masa lalu dengan wanita yang kurang menyenangkan, kesibukan dalam berkarir, dan target berpacaran dan menikah yang masih cukup jauh.
Walaupun belum berhasil membina hubungan intim, semua individu dalam penelitian ini ternyata tetap membutuhkan keintiman. Hal ini tergambar dengan pernyataan seorang individu bahwa ia membutuhkan kehadiran seorang pacar yang dengannya ia dapat saling berbagi pengalaman suka dan duka, sekaligus memiliki hubungan yang lebih dekat dan terbuka dengan orang lain selain keluarganya."
2003
S3201
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simon Sili Sabon
"Penelitian ini untuk mendapatkan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis perbandingan persepsi siswa tentang kompetensi guru antara: 1) guru SD negeri yang sudah dan belum disertifikasi, 2) guru SD swasta yang sudah dan belum disertifikasi, 3) guru SMP negeri yang sudah dan belum disertifikasi dan 4) guru SMP swasta yang sudah dan belum disertifikasi. Data yang digunakan dalam pengkajian ini adalah data primer persepsi siswa tentang kompetensi guru. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan statistik deskriptif kuantitatif dengan membandingkan proporsi setiap kelompok siswa dalam memberikan penilaian terhadap kompetensi gurunya. Hasil kajian: 1) kompetensi guru SD negeri yang sudah disertifikasi lebih baik daripada yang belum disertifikasi, 2) kompetensi guru SD swasta yang sudah disertifikasi lebih baik daripada yang belum disertifikasi, 3) kompetensi guru SMP negeri yang belum disertifikasi lebih baik daripada yang sudah disertifikasi, dan 4) kompetensi guru SMP swasta yang belum disertifikasi lebih baik daripada yang sudah disertifikasi. Kajian ini menyimpulkan persepsi siswa terhadap kompetensi gurunya sebagai berikut: 1) di SD (negeri dan swasta), kompetensi guru yang sudah disertifikasi lebih baik daripada guru yang belum disertifikasi bersertifikat, dan 2) di SMP (negeri dan swasta) kompetensi guru yang belum disertifikasi lebih baik daripada yang sudah disertifikasi."
Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017
370 JPK 2:1 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Fitri Wannahari
"ABSTRAK
Meningkatnya berbagai bentuk tingkah laku agresif yang dilakukan oleh remaja dalam bentuk tawuran, menodong, malak, membajak bus kota bahkan membunuh orang lain mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai tingkah laku agresif remaja tersebut.
Beberapa bentuk tingkah laku agresif yang dilakukan pada masa anak-anak, yang ditemukan dari berbagi literatur, menjadi acuan untuk melihat bagaimana perkembangan tingkah laku agresif dan pola asuh orangtua pada remaja pria yang melakukan tindak pembunuhan.
Sikap permisif dan otoriter yang sering ditampilkan oleh orangtua dalam menghadapi berbagai bentuk tingkah laku agresif yang dilakukan oleh anak mereka memancing keingintahuan penulis untuk melihat kontribusi sikap permisif atau sikap otoriter tersebut dalam berkembangnya tingkah laku agresif dalam diri anak. Selain pola asuh, faktor sosial belajar yang dilakukan oleh anak terhadap model tertentu serta frustasi yang dialami oleh anak diduga berhubungan erat dengan berkembangnya tingkah laku agresif anak lebih lanjut.
Penelitian ini akan menjawab dua pertanyaan; pertama, bagaimanakah perkembangan agresivitas yang terjadi pada diri remaja pria yang melakukan tindak pembunuhan?; dan yang kedua bagaimanakah bentuk pola asuh yang diterima oleh remaja pria yang melakukan tindak pembunuhan?
Skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengambil kasus terhadap subyek yang melakukan pembunuhan. Subyek, tiga orang, ditemui di LP Anak dan Remaja Pria Tangerang setelah menempuh prosedur sebagaimana yang telah ditentukan. Wawancara mendalam dan observasi peneliti lakukan kepada subyek dan orangtuanya untuk mendapatkan berbagai data guna menjawab pertanyaan penelitian.
Hasil penelitian ini menunjukan atau menginformasikan mengenai perkembangan tingkah laku agresif pada remaja pria yang melakukan tindak pembunuhan. Hasil penelitian ini juga memberikan informasi mengenai peranan pola asuh orangtua, dalam hal ini permisif dan otoriter, dalam perkembangan tingkah laku agresif anak.

"
2000
S2987
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anggraini Soemadi
"Remaja merupakan asset masa depan bangsa, artinya remaja harus menjadi manusia masa depan yang dapat memimpin bangsa, untuk itu remaja dituntut berkualitas. Tetapi pada kenyataannya seringkali remaja justru membuat keresahan di masyarakat salah satunya tawuran remaja.
Berbagai penyebab terjadinya tawuran, penelitian ini difokuskan pada Pola asuh keluarga dan pergaulan teman sebaya pada remaja yang melakukan tawuran dengan melihat pola asuh keluarga dan pergaulan dengan teman sebaya. Adapun bertujuan (1) mendapatkan gambaran pola asuh keluarga dalam kaitannya dengan remaja yang tawuran (2) mendapatkan gambaran lingkungan pertemanan berkaitan dengan remaja yang tawuran (3) menemukan faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi timbulnya tawuran remaja.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan studi literatur dan wawancara, serta observasi. Pengambilan sample dengan menggunakan tehnik Purposive Sampling. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Agustus 2003 di STM ?X" Jakarta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh keluarga yang dilakukan keluarga siswa antara lain ijin keluar rumah, pelaksanaan sholat, pelaksanaan puasa, tidak dilaksanakan secara rutin. Hal ini disebabkan karena orangtua yang sibuk sehingga tidak ada perhatian untuk anak, orangtua tidak mengajarkan sholat, dan tidak rutin mengikuti puasa. Orangtua tidak memberi sanksi apapun walaupun tahu perilaku anak tidak disiplin. Dalam hal pelaksanaan pekerjaan dalam rumah tangga, anak melakukan pekerjaan rumah tangga.
Pertemuan antar keluarga untuk berkomunikasi, tidak dimanfaatkan oleh sebagian besar anak untuk mengeluarkan pendapat karena situasi dalam keluarga yang tidak mendukung misalnya keributan dalam keluarga dan kelelahan orangtua dalam bekerja. Dari hal tersebut yang dilakukan adalah pola asuh permisif dimana orangtua membiarkan anak berbuat sesuatu tanpa bimbingan dan pengarahan.
Faktor lain yang memicu tawuran adalah pertemuan remaja, dimana sebagian besar waktunya berada dalam lingkungan teman, demikian halnya dengan para siswa. Sebagian besar siswa kegiatannya sehari hari sehabis pulang sekolah khususnya sering nongkrong, bergerombol dan pulang pada malam hari. Pembicaraan mereka umumnya berkisar tentang penyerangan, dan apabila ada kelompok lain yang menyerang, merekapun ikut menyerang. Teman-teman informan siswa kadang-kadang juga ikut dalam tawuran tersebut. Kedekatan tempat tinggal dan seringnya mereka bertemu membuat ikatan kuat antar mereka. Dan hal tersebut teman membawa pengaruh perilaku remaja.
Selain faktor pola asuh keluarga dan pergaulan dengan teman ada faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhi perilaku anak yaitu kemiskinan, sekolah dan pihak sekolah. Kemiskinan ditunjukkan dengan tempat tinggal keluarga siswa pada daerah bantaran kali dan pemukiman kumuh yang berdesak desakan. Dimana pada keluarga yang tinggal di bantaran kali dan rel kereta api, tempat tinggal dengan dinding yang beralaskan plastik dan dos bekas. Sementara itu 3 siswa dimana keluarga bertempat tinggal di daerah pemukiman padat. Kondisi lingkungan menyulitkan orangtua dan siswa untuk berinteraksi.
Faktor lain adalah sekolah, dimana sekolah kurang tegas dalam membuat aturan misalnya pengambilan report, dan pengiriman surat teguran kepada orangtua. Dalam pengambilan raport, sekolah tidak mewajibkan orangtua yang mengambil raport sehingga raport boleh diambil siapa saja, sehingga orangtua bisa mewakilkan siapa saja. Sistem administrasi sekolah dalam pengiriman surat ke orangtua tidak menggunakan staf sekolah tetapi diberikan kepada siswa sehingga surat tidak sampai dan komunikasi orangtua dengan sekolahpun tidak ada."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
T12042
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ariani Ni Putu
"Remaja dalam pertumbuhan dan perkembangan merupakan kelompok berisiko terjadi perubahan perilaku: merokok, agresif dan seksual. Perubahan tersebut berhubungan dengan karakteristik remaja dan keluarga, serta pola asuh keluarga. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik remaja, keluarga, pola asuh. dan hubungan antara karakteristik remaja, keluarga dan pola asuh keluarga dengan perilaku remaja: merokok, agresif dan seksual pada siswa SMA dan SMK di Kecamatan Bogor Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini 263 pasang responder, yaitu remaja dan orang tua.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, sebagian besar remaja jenis kelamin laki-laki, 60,1%, keaktifan organisasi 67,3% aktif, dan 46,8% remaja berperilaku merokok, agresif dan seksual yang tidak baik. Terdapat hubungan antara jenis kelamin remaja, keaktifan remaja dalam organisasi dan ekstra kurikuler dengan perilaku remaja: merokok, agresif dan seksual (p<0,005). Ditemukan hubungan antara pendidikan ibu, pendidikan bapak, pendapatan keluarga, dalam keluarga ada yang merokok, tipe keluarga dan pola asuh keluarga dengan perilaku remaja: merokok, Agresif, dan seksual (p<0,05).
Dari analisis multivariat terdapat 5 variabel berhubungan dengan perilaku remaja, yaitu: jenis kelamin, keaktifan remaja dalam organisasi dan ekstra kurikuler, pendidikan ibu, dalam keluarga ada yang merokok, dan pola asuh keluarga. Pendidikan ibu merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan perilaku remaja. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa karakteristik remaja dan keluarga serta pola asuh keluarga sangat berhubungan dengan perilaku remaja: merokok, agresif dan seksual. Saran yang dapat disampaikan adalah meningkatkan kegiatan UKS pada siswa SMA dan SMK dengan prioritas remaja laki-laki, meningkatkan asuhan keperawatan keluarga, dan melibatkan seluruh komponen masyarakat dalam menangulangi masalah merokok, agresif dan seksual di Kecamatan Bogor Barat.

Adolescence is the age group with the risk of changes in behaviors, such as: smoking, aggressiveness, and sexual. These changes are related with characteristics of adolescence and family, as well as parenting. The adolescence in this study is the students of High School in West Bogor Sub-District. This study is aimed to identify the relationship of adolescence's and family's characteristics, and parenting with adolescence's behaviors: smoking, aggressiveness and sexual of High School Students in West Bogor. This study is a quantitative study, using the cross sectional approach. The total samples in this study were 263 couples, consisted of students and their parents.
The results of the study showed that most of the students in the sample (60.1%) were male; about 67.3 percent of them active in organization, and 46.8 percent had a bad behaviors in terms of smoking, aggressiveness, and sexual. There were significant relationship of sex and organization activities of the students with their behaviors (p<0.005); parent's education, family income, the presence of smoking family members, family type, and parenting, with the behaviors of the adolescence (p<0.05).
The results of multivariate analysis showed that 5 variables were significantly related to the adolescence's behaviors. Those independent variables were sex, organization activities, mother's education, the presence of smoking family member, and parenting Thus, one can conclude that the adolescence's and family's characteristics as well as parenting were significantly related to adolescence's behaviors: smoking, aggressiveness, and sexual. Therefore, the author suggests some programs to be implemented, such as improvements of: School Health Program with emphasis on male students; family health care; and involvement of all community to control the problems of smoking, aggressiveness, and sexual abuse in West Bogor Sub-District.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2006
T17461
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erwin
"Kejadian infeksi di institusi kesehatan disebabkan berbagai faktor, salah satu penyebabnya adalah kebersihan tangan perawat, sebagai tenaga kesehatan yang bersentuhan langsung dengan pasien, perawat sangat beresiko dapat menularkan dan tertular penyakit. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif perbandingan bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kepatuhan kebersihan tangan pada perawat yang sudah dan belum mengikuti pelatihan pengendalian infeksi nosokomial.
Sampel penelitian ini berjumlah 94 orang, yangmerupakan perawat yang bekerja di RSJPDHK Jakarta, dengan rata-rata usia 20-30 tahun (59,6%) dan masa kerja antara 1-10 tahun (53%), sebagian besar wanita (89,4%), dengan pendidikan terakhir terbanyak adalah D3 Keperawatan (70,2%). Sebagian besar sampel sudah mengikuti pelatihan pengendalian infeksi nosokomial (74,5%).
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa angka kepatuhan kebersihan tangan cukup tinggi (88,6%) pada perawat yang sudah mcngikuti pelatihan dan 91,7% pada perawat yang belum mengikuti pelatihan, namun dari uji statistik tidak didapatkan adauya perbedaan yang bermakna dengan nilai p=1,000.
Peneliti merekomendasikan adanya penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan disain yang lebih baik sehingga hasilnya akan lebih signifikan. Selain itu pelatihan pengendalian infeksi nosokomial harus tetap diberikan sebagai dasar bagi perawat untuk Iebih patuh lagi dalam menjaga kebersihan tangan sehingga diharapkan nantinya angka kejadian infeksi nosokomial dapat lebih rendah.

Nosocomial infection found in health care services caused by many factors, ones of them is a hand hygiene of the health care provider, especially muses, in whom they were directly contact with the patient on 24 hours. Nurses has a high risk to get and spread the diseases in their activity. A descriptive comparative study was conducted to identify differences and correlation of the compliance for hand hygiene among nurses whose both joined or not in nosocomial infection control course.
Sample of this study was 94. All of them were nurses whose work in RSJPDHK Jakarta, with mean of age was 20-30 years old (:59,6%) and work time 1-10 years (53%), most of them were women (89,-4%), with the degree were Diploma Ill in Nursing (70,2%). Most of them had has followed nosocomial infection control course (74,5%).
Result of this study shows that compliance for hand hygiene was high (88,6%) for nurses whose followed the course compare with 91,7% for numes whose not followed the coume yet). However, from statistic test shows there was no significantly deferent, with p value 1,000.
Researcher recommended to conduct a further study with more sample size and best design to get a significantly result. Furthermore, the course of nosoeomial infection control should be keep running to give basic knowledge for nurses to be more compliance in hand hygiene so that the prevalence of nosocomial infection should be reduced.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2009
TA5772
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Shinta Wulansari
"Latar Belakang. Gangguan kognitif tanpa disadari dapat terjadi pada orang dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Insidens ganguan neurokognitif terkait HIV (HIV Associated Neurocognitive Disorders - HAND) pada era anti retroviral (ARV) mencapai 25-38%, dengan prevalensi 37%. Gejala klinis HAND yaitu kelainan kognitif, fungsi motor dan perilaku. Gangguan kognitif sering tidak terdiagnosis sehingga mengganggu aktivitas keseharian. Gangguan kognitif meningkat seiring dengan lamanya pasien HIV dapat bertahan hidup, dan pemakaian ARV jangka panjang berpotensi toksis yang mungkin dapat mempengaruhi tampilan neurokognitif itu sendiri. Perbaikan neurokognitif terkait HIV mulai tampak setelah pengobatan ARV 18 bulan.
Tujuan. Diketahuinya gambaran fungsi kognitif pasien HIV yang sudah dan belum mendapatkan ARV, berdasarkan sebaran umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, CD4, Hepatitis C, anemia dan depresi.
Metode. Merupakan studi potong lintang, melibatkan pasien HIV rawat jalan di Unit Pelayanan Terpadu (UPT) HIV RSCM yang memenuhi kriteria inklusi. Dilakukan pencatatan data dasar pasien, nilai CD4, hemoglobin, depresi berdasarkan skala depresi Hamilton. Dilakukan pemeriksaan fungsi kognitif dengan Trial Making Test A dan B (TMT A dan B), digit span forward dan backward, animal naming, Rey Auditory Verbal Learning Test (RAVLT) dan psikomotor Pegboard.
Hasil. Dari 100 subjek HIV, 50 sudah dan 50 belum ARV. Rata-rata usia subjek 32 tahun, pria sama banyak dengan wanita. Pendidikan terbanyak SMA. Subjek yang bekerja, rerata CD4, dan Hepatitis C reaktif lebih tinggi pada kelompok yang sudah ARV. Anemia lebih banyak pada kelompok subjek belum ARV. Depresi hanya didapat pada 3 subjek. Didapatkan perbedaan bermakna antara fungsi kognitif HIV dengan nilai CD4, pendidikan dan ARV. Gangguan kognitif ringan lebih tinggi pada kelompok belum ARV (48%) dibanding kelompok sudah ARV (18%) dengan perbedaan bermakna pada pemeriksaan bacward digit span, animal naming dan pegboard.
Kesimpulan. Gangguan kognitif ringan terkait HIV lebih tinggi pada kelompok belum ARV, meskipun belum dikeluhkan oleh pasien.

Background. Cognitive impairment can occure unnoticed in people with HIV. Incidence of HIV infection associated cognitive impairment reach 28-38% with 37% prevalence. HIV Associated Neurocogntive Disorders (HAND) with typicaly clinical symptoms is cognitive impairment, motor function and behavior. Cognitive impairment often under diagnosed and will affect daily activities. HAND as manifestattion of AIDS increased along with HIV patients survival. Long term in Antireroviral (ARV) treatment potentially toxic and may influence the appearance of neurocognitive impairment. After 18 months ARV treatment will make improvement in HIV related neurocognitive impairment.
Purpose. To meassure cognitive function of HIV patients after dan before ARV treatment acording to age, sex, education, employment, CD4, hepatitis C, anemia and depresion.
Method. Cross sectional study involving HIV outpatients in UPT HIV RSCM (Ciptomangunkusomo Hospital) that suitable with the inclusion criteria. Basic patients data, CD4 value, hemoglobin, hamilton depresion scale were collected. Cognitive function assesment with Trial making test (TMT A and B), digit span forward and backward, animal naming, RAVLT and psikomotor pegboard.
Result. From 100 subjects, 50 after and 50 before ARV treatment. The median age in all subject is 23 year old, man and woman in equal subjects. Majority education is senior high school. Employment subjects, CD4 mean, Hepatits C reactive are higher on before ARV group. Depresion only in 3 subjects. Significanly difference found in HIV cognitive fuction with CD4, education, and ARV treatment. Slight cognitive impairment is higher on before ARV group(48%) compare with after ARV group (18%) with significally difference in backward digit span, animal naming and pegboard test.
Conclusion. Slight HIV associated cognitive impairment is higher on before ARV grup, although the patients had no complaint.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>