Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 186043 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Melati Lestari Negari
"Apotek merupakan salah satu sarana kegiatan pelayanan kefarmasian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pelayanan farmasi klinik di apotek mencakup pengkajian resep, dispensing, Pelayanan Informasi Obat (PIO), konseling, pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care), Pemantauan Terapi Obat (PTO), dan Monitoring Efek Samping Obat (MESO). Program Rujuk Balik (PRB) merupakan pelayanan kefarmasian yang diberikan oleh apotek Kimia Farma 007 Djuanda, dimana pemberian obat-obatan kepada pasien penyakit kronis dengan kondisi stabil. Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah melebihi normal, menjadi salah satu jenis penyakit kronik yang dilayani pada PRB. Tujuan dari observasi ini adalah untuk mengetahui kesesuaian pelayanan kefarmasian di Apotek Kimia Farma 007 Djuanda Bogor dengan standar pelayanan kefarmasian di Apotek, serta melakukan pengkajian resep pasien diabetes melitus Apotek Kimia Farma 007 Djuanda. Pengkajian resep dilakukan berdasarkan kelengkapan pada aspek administratif, farmasetik dan klinis, kemudian ditentukan apakah pemberian resep tersebut telah memenuhi persyaratan aspek atau belum. Berdasarkan hasil observasi dapat disimpulkan bahwa pelayanan kefarmasian yang diterapkan di Apotek Kimia Farma 007 Djuanda meliputi pengkajian resep, dispensing obat, PIO, konseling, pelayanan apotek digital sebagai pelayanan home pharmacy care, PTO, dan MESO serta hasil pengkajian resep terdapat belum memenuhi kelengkapan pada aspek administrasi dan aspek klinis berupa data diri pasien, alergi pasien, cara pemberian obat, duplikasi obat, dan interaksi obat.

Pharmacy is one of the pharmaceutical service activities that aim to improve the quality of life of patients. Clinical pharmacy services at pharmacies include prescription review, dispensing, Drug Information Services (PIO), counseling, home pharmacy care, Drug Therapy Monitoring (PTO), and Monitoring Drug Side Effects (MESO). The Reverse Referral Program (PRB) is a pharmaceutical service provided by Kimia Farma 007 Djuanda pharmacy, which provides medicines to patients with chronic diseases with stable conditions. Diabetes Mellitus is a metabolic disorder characterized by an increase in blood glucose levels beyond normal, being one type of chronic disease served in PRB. The purpose of this observation is to determine the suitability of pharmaceutical services at the Kimia Farma 007 Djuanda Pharmacy in Bogor with the pharmaceutical service standards at the Pharmacy, and to assess the prescriptions of patients with diabetes mellitus at the Kimia Farma 007 Djuanda Pharmacy. Prescription review is carried out based on completeness in administrative, pharmaceutical and clinical aspects, then it is determined whether the prescription has fulfilled the required aspects or not. Based on the results of observations, it can be concluded that the pharmaceutical services applied at the Kimia Farma 007 Djuanda Pharmacy include prescription review, drug dispensing, PIO, counseling, digital pharmacy services as home pharmacy care services, PTO, and MESO and the results of the prescription review do not yet complete of the administration and clinical aspects in the form of patient personal data, patient allergies, how to administer drugs, drug duplication, and drug interactions.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ria Artha Rani
"Standar yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 tahun 2016, dimana kegiatan pengkajian resep dimulai dari persyaratan administrasi, persyaratan farmasetika dan persyaratan klinis. Apotek Kimia Farma 202 Kejayaan adalah salah satu apotek yang melayani resep BPJS dan non BPJS, dengan jumlah resep masuk rata-rata 100 resep perhari. Banyaknya resep yang diterima memerlukan proses penanganan yang tepat dan cepat, termasuk resep-resep untuk terapi diabetes. Resep tersebut kemudian dianalisa kelengkapannya dan diidentifikasi, sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien untuk mendapatkan outcome terapi yang optimal serta mendukung pelaksanaan keamanan pada pasien di Apotek Kimia Farma 202 Kejayaan.

The standards used in this study are based on the Regulation of the Minister of Health no. 73 of 2016, where prescription review activities start from administrative requirements, pharmaceutical requirements and clinical requirements. Kimia Farma 202 Kejayaan Pharmacy is a pharmacy that serves BPJS and non-BPJS prescriptions, with an average number of incoming prescriptions of 100 prescriptions per day. The large number of prescriptions received requires a precise and fast handling process, including prescriptions for diabetes therapy. The prescription is then analyzed for completeness and identified, so that it is hoped that it can help improve the quality of service to patients to obtain optimal therapeutic outcomes and support the implementation of patient safety at the Kimia Farma 202 Kejayaan Pharmacy."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Vanessa Gozali
"Diabetes melitus (DM) telah menjadi ancaman bagi kesehatan global dengan prevalensi penderita DM baru di Indonesia mencapai 25% tahun 2018. Salah satu penanganan penyakit DM ini dapat dilakukan dengan pelayanan farmasi klinik langsung oleh apoteker di apotek untuk meningkatkan outcome terapi dan meminimalkan risiko terjadinya efek samping obat. Apoteker harus membangun hubungan dengan apotek dan fasilitas kesehatan lain untuk memudahkan komunikasi, kerjasama dan konfirmasi terkait pelayanan resep pasien. Pelayanan obat dari pasien Program Rujuk Balik dengan jaminan BPJS Kesehatan, terbatas pada jumlah dan lama pemakaian obat mengikuti pedoman Formularium Nasional sehingga peresepan obat rasional. Tujuan penyusunan tugas khusus ini adalah untuk mengkaji resep pasien rujuk balik BPJS penyakit diabetes melitus tipe 2 di apotek Kimia Farma 48 Matraman periode Oktober 2023 berdasarkan kajian administratif, kesesuaian farmasetik, dan pertimbangan klinis. Metode pelaksanaan tugas khusus ini menggunakan sampel berupa resep pasien rujuk balik BPJS dengan penyakit diabetes melitus tipe 2 di Apotek Kimia Farma 48 Matraman. Berdasarkan hasil pengkajian resep pasien rujuk balik BPJS penyakit diabetes melitus tipe 2 di Apotek Kimia Farma 48 Matraman, diperoleh bahwa sebagian besar resep pasien telah memenuhi kajian administratif, kesesuaian farmasetik, dan pertimbangan klinis namun masih terdapat beberapa data yang kurang lengkap khususnya dari aspek administratif seperti data jenis kelamin pasien, berat badan pasien, nomor telepon dan paraf dokter.

Diabetes mellitus (DM) has become a threat to global health, with the prevalence of new DM sufferers in Indonesia reaching 25% in 2018. One way to treat DM can be done with direct clinical pharmacy services by pharmacists in pharmacies to improve therapeutic outcomes and minimize the risk of side effects alongside medication. Pharmacists must build relationships with pharmacies and other health facilities to communicate, collaborate, and confirm patient prescription services. Drug services for Refer-Back Program patients with BPJS Health Insurance are limited to the quantity and duration of drug use following the National Formulary Guidelines, for which drug prescribing is rational. The purpose of this special assignment is to review prescriptions for BPJS referral patients for type 2 diabetes mellitus at Kimia Farma 48 Matraman pharmacy for the period October 2023 based on administrative studies, pharmaceutical suitability, and clinical considerations. The method for carrying out this special assignment uses samples in the form of prescriptions from BPJS referral patients with type 2 diabetes mellitus at Kimia Farma 48 Matraman Pharmacy. Based on the results of the review of BPJS referral patient prescriptions for type 2 diabetes mellitus at Kimia Farma 48 Matraman Pharmacy, it was found that the majority of patient prescriptions had met administrative review, pharmaceutical suitability, and clinical considerations, but there were still some incomplete data, especially from administrative aspects such as data on patient gender, patient weight, contact information, and doctor's initials.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hilmi Nuril Romadhoni
"Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolisme kronis yang ditandai yang dengan tingginya kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat defisiensi sekresi insulin atau resistensi insulin. Penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM di berbagai penjuru dunia. Peningkatan pesien DM mempengaruhi peningkatkan pola peresepan obat dan risiko terjadinya medication error (ME). ME merupakan setiap kejadian yang dapat merugikan keselamatan pasien akibat pemakaian obat selama dalam pengawasan tenaga kesehatan atau pasien yang sebetulnya dapat dicegah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahan ME adalah pengkajian resep yang meliputi aspek administrasi, farmasetik, dan klinis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengkajian 5 resep pada pasien DM di Apotek Kimia Farma Raya Bogor pada periode April 2023. Pelaksanaan pengakajian resep dilakukan berdasarkan studi literatur dari resep pasien DM pada bulan April 2023. Hasil kajian 5 resep penyakit DM di Apotek Kimia Farma Raya Bogor menunjukkan bahwa pada aspek farmasetik dan klinik telah terpenuhi dan sesuai dengan literatur. Sedangkan pada aspek administrasi belum sesuai persyaratan yaitu tidak ada informasi alamat dan berat badan pasien pada seluruh resep.

Diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder characterized by high blood glucose levels (hyperglycemia) due to insulin secretion deficiency or insulin resistance. Epidemiological research shows a trend of increasing incidence and prevalence of DM in various parts of the world. The increase in DM patients influences the increase in drug prescribing patterns and the risk of medication errors (ME). ME is any event that can harm patient safety due to the use of drugs while under the supervision of health workers or patients that can actually be prevented. One effort that can be made to prevent ME is reviewing prescriptions which includes administrative, pharmaceutical and clinical aspects. This study aims to conduct a review of 5 prescriptions for DM patients at Kimia Farma Raya Bogor Pharmacy in the period April 2023. The prescription assessment was carried out based on a literature study of DM patient prescriptions in April 2023. The results of the study of 5 DM prescriptions at Kimia Farma Raya Bogor Pharmacy shows that the pharmaceutical and clinical aspects have been fulfilled and are in accordance with the literature. Meanwhile, the administration aspect does not meet the requirements there is no information on the patient's address and weight on all prescriptions."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Juise Fennia Putri
"Salah satu standar pelayanan kefarmasian yang dilakukan di apotek adalah pengkajian resep. Pengkajian resep bertujuan untuk menganalisis adanya masalah yang terkait dengan peresepan obat. Masalah terkait obat yang mungkin terjadi akibat kesalahan penulisan resep diantaranya obat yang tidak tepat, dosis kurang atau berlebih, alergi obat, inkompatibilitas obat, interaksi obat, duplikasi pengobatan, serta penggunaan obat yang tidak tepat. Prevalensi diabetes mellitus di Indonesia mengalami peningkatan dari 1,5% pada tahun 2013 menjadi 2,0% pada tahun 2018 berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur ≥ 15 tahun. Penanganan penyakit diabetes dengan cara pendekatan pasien memerlukan kolaborasi tenaga kesehatan, dalam hal ini dokter sebagai penentu diagnosa, apoteker mendampingi khususnya dalam terapi obat merupakan salah satu tugas profesi kefarmasian. Proses pengkajian dilakukan dengan observasi dan studi literatur. Pengkajian resep secara administratif yang dilakukan terhadap resep terdapat beberapa aspek administratif yang tidak lengkap, seperti jenis kelamin, berat badan pasien, dan nomor telepon dokter tidak tercantum pada resep. Hal ini dapat diatasi dengan konfirmasi oleh petugas farmasi atau apoteker. Berdasarkan pengkajian aspek klinis terdapat adanya polifarmasi dan interaksi obat. Hal tersebut dapat diatasi dengan memberikan edukasi atau pemberian informasi obat kepada pasien.

One of the standard pharmaceutical services carried out in pharmacies is prescription review. The prescription review aims to analyze the existence of problems related to drug prescribing. Drug-related problems that may occur due to prescription errors include incorrect medication, insufficient or excessive dosage, drug allergies, drug incompatibility, drug interactions, duplication of medication, and inappropriate drug use. The prevalence of diabetes mellitus in Indonesia has increased from 1.5% in 2013 to 2.0% in 2018 based on doctor's diagnosis in residents aged ≥ 15 years. Handling diabetes using a patient approach requires collaboration between health workers, in this case the doctor as the determiner of the diagnosis, the pharmacist assisting, especially in drug therapy, is one of the duties of the pharmaceutical profession. The administrative review of prescriptions carried out on prescriptions contained several administrative aspects that were incomplete, such as the patient's gender, weight, and the doctor's telephone number not being listed on the prescription. This can be overcome by confirmation by a pharmacy officer or pharmacist. Based on the clinical aspect assessment, there is polypharmacy and drug interactions. This can be overcome by providing education or providing drug information to patient.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nasya Khaerunnisa
"Apotek merupakan salah satu fasilitas pelayanan kefarmasian bagi apoteker untuk melakukan pelayanan kefarmasian. Apotek juga merupakan tempat berjalannya bisnis yang komoditasnya terdiri dari perbekalan farmasi serta perbekalan kesehatan lainnya. Apoteker berperan dalam pengelolaan perbekalan farmasi, manajemen apotek serta pelayanan kefarmasian. Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di apotek harus menjamin ketersediaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang aman, bermutu, bermanfaat dan terjangkau. Kementerian Kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 menetapkan standar pelayanan kefarmasian di apotek dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, menjamin kepastian hukum tenaga kefarmasian serta melindungi pasien dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien.
Tujuan tugas khusus ini dilakukan untuk mengetahui peran apoteker dalam pengelolaan dan pelayanan kefarmasian di KFA 115 Pamulang serta mengetahui penerapan standar kefarmasian di KFA 115 Pamulang.
Berdasarkan hasil observasi yang diperoleh, peran apoteker di apotek yaitu meliputi aspek manajerial (melakukan pengawasan seluruh aspek pelayanan kefarmasian, pengelolaan perbekalan farmasi dan perbekalan kesehatan, melakukan pengelolaan dan administrasi mengenai keuangan apotek) dan aspek profesional (mengelola dan melakukan kegiatan operasional pelayanan kefarmasian di apotek, memberikan pelayanan resep, pelayanan informasi obat, home pharmacy care dan pelayanan swamedikasi kepada pasien). Secara garis besar, Apotek Kimia Farma 115 Pamulang telah mengimplementasikan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

Pharmacy is one of the pharmaceutical service facilities for pharmacists to perform pharmaceutical services. Pharmacy is also a place where business runs whose commodities consist of pharmaceutical supplies and other health supplies. Pharmacists play a role in the management of pharmaceutical supplies, pharmacy management and pharmaceutical services. The implementation of pharmaceutical services in pharmacy must ensure the availability of pharmaceutical preparations, medical devices and consumables that are safe, quality, useful and affordable. The Ministry of Health through the Minister of Health Regulation Number 73 of 2016 sets pharmaceutical service standards in pharmacy with the aim of improving the quality of pharmaceutical services, ensuring legal certainty of pharmaceutical personnel and protecting patients from irrational use of drugs in the context of patient safety.
The aim of this special task are to determine the role of pharmacists in pharmaceutical management and services at KFA 115 Pamulang and to know the application of pharmaceutical standards at KFA 115 Pamulang.
Based on the observations obtained, pharmacist operations in pharmacy include managerial aspects (supervising all aspects of pharmaceutical services, managing pharmaceutical supplies and health supplies, managing and administering pharmacy finances) and professional aspects (managing and carrying out operational activities of pharmaceutical services in pharmacies, providing prescription services, drug information services, home pharmacy care and self- medication services to patients). Broadly speaking, Apotek Kimia Farma 115 Pamulang has implemented Pharmaceutical Service Standards in Pharmacy.
"
Depok: 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Alvian Nathanael
"Tujuan dari tugas khusus ini adalah untuk mengkaji pelayanan kefarmasian di Apotek Kimia Farma Utama Raya 563 berdasarkan kelengkapan dan kerasionalan resep yang diterima serta kebutuhan pasien terhadap produk farmasi melalui analisis hasil kegiatan konseling, swamedikasi, dan telefarmasi, serta mengkaji kebutuhan perbekalan farmasi di apotek dengan metode Pareto ABC dalam kegiatan perencanaan sediaan farmasi. Pada tugas khusus ini, dalam mengkaji pelayanan kefarmasian di Apotek Kimia Farma Utama Raya 563 dilakukan pengkajian administratif, farmasetika, dan klinis terhadap 32 resep, konseling terhadap 71 pasien, pelayanan swamedikasi terhadap 90 pasien, dan pelayanan telefarmasi terhadap 43 pasien. Dalam mengkaji kebutuhan perbekalan farmasi, jumlah dan harga seluruh sediaan obat dianalisis dengan menghitung nilai investasi masing-masing sediaan dan diurutkan dari yang terbesar, kemudian dijumlahkan secara kumulatif baik harga maupun persentase untuk dikelompokkan menjadi Grade A (80%), B (15%), dan C (5%). Dari analisis Pareto ABC, diperoleh jumlah investasi kelompok A sebesar Rp719.953.455,00 dengan 3 item tertinggi, yaitu Rhinos SR Capsules, Forxiga Tablets 10 mg, dan Cataflam Tablets 50 mg. Berdasarkan hasil pengkajian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kesesuaian farmasetik dan klinis dari 32 resep sudah cukup baik, namun tidak dengan kesesuaian administratif. Pasien yang mendapatkan pelayanan konseling dan telefarmasi didominasi oleh pasien geriatrik dengan jenis pelayanan BPJS, sehingga membutuhkan pemantauan berkala dan konseling. Pada kegiatan konseling dan swamedikasi, ditemukan bahwa hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, batuk, flu, dan sakit tenggorokan adalah penyakit dengan prevalensi tinggi di area sekitar apotek.

The special assignment at Apotek Kimia Farma Utama Raya 563 aims to evaluate pharmaceutical services by assessing prescription completeness, rationality, and patient pharmaceutical needs through counseling, self-medication, and telepharmacy analysis. The evaluation also includes an assessment of pharmaceutical supply needs using the Pareto ABC method. Administrative, pharmaceutical, and clinical evaluations were conducted on 32 prescriptions, counseling for 71 patients, self-medication for 90 patients, and telepharmacy for 43 patients. The Pareto ABC analysis revealed a total investment of Rp719,953,455.00 for Group A, highlighting the top three items: Rhinos SR Capsules, Forxiga Tablets 10 mg, and Cataflam Tablets 50 mg. While the pharmaceutical and clinical appropriateness of prescriptions was deemed satisfactory, administrative aspects fell short. Patients benefiting from counseling and telepharmacy services were mainly geriatric with BPJS coverage, necessitating regular monitoring and counseling. Counseling and self-medication activities identified high prevalences of hypertension, diabetes mellitus, heart disease, cough, flu, and sore throat in the pharmacy's vicinity. Overall, the assessment provides insights into improving administrative aspects and tailoring pharmaceutical services to address prevalent health issues in the community."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Aufa Salsabila Imtisatami
"Pelayanan obat atas resep dokter merupakan salah satu dari pelayanan kefarmasian di Apotek. Resep yang sesuai harus memuat cukup informasi yang memungkinkan tenaga kefarmasian yang bersangkutan mengerti obat yang akan diberikan kepada pasiennya. Resep juga harus ditulis dengan jelas agar terhindar dari salah persepsi antara dokter dengan tenaga kefarmasian yang bersangkutan. Namun pada kenyataanya, masih ada beberapa permasalahan yang ditemui di dalam peresepan. Permasalahan dalam peresepan obat tersebut disebut juga Medication error. Medication error merupakan kejadian yang dapat merugikan pasien akibat pemakaian obat yang seharusnya dapat dicegah dalam pengobatan. Upaya dalam pencegahan terjadinya kesalahan pemberian obat (Medication error) adalah pengkajian resep pada resep yang diterima dari pasien. Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan laporan tugas khusus ini yaitu pengambilan data secara retrospektif dimana dilakukannya pengamatan dan mencatat terkait dengan aspek administrasi, aspek farmasetik, dan aspek klinis dari resep tersebut dan di ceklis pada form yang telah dibuat. Berdasarkan hasil Praktik Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma 352 Margonda yang telah dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa Ketepatan resep pada pasien gastritis berdasarkan aspek administrasi masih terdapat beberapa kekurangan sehingga diperlukan kelengkapan dalam resep pada aspek administrasi, Ketepatan resep pada pasien gastritis berdasarkan aspek farmasetik telah memenuhi persyaratan standar pelayanan kefarmasian, namun terdapat beberapa resep yang masih belum memenuhi persyaratan sehingga kelengkapannya perlu diperhatikan kembali, dan Ketepatan resep pada pasien gastritis berdasarkan aspek klinis telah memenuho persyaratan standar pelayanan kefarmasian seluruhnya sehingga harus dipertahankan seterusnya seperti ini.

Drug service on a doctor's prescription is one of the pharmaceutical services at the pharmacy. An appropriate prescription must contain sufficient information to enable the pharmacist concerned to understand the drug to be given to the patient. Prescriptions must also be written clearly to avoid misunderstandings between the doctor and the pharmacist concerned. But in fact, there are still some problems encountered in the prescription. Problems in prescribing these drugs are also called Medication errors. Medication error is an event that can harm the patient due to the use of drugs that should be prevented in treatment. Efforts to prevent medication errors from occurring are reviewing prescriptions on prescriptions received from patients. The research method used in the preparation of this special assignment report was retrospective data collection where observations and notes were made related to the administrative, pharmaceutical, and clinical aspects of the prescription and checked on the form that had been made. Based on the results of the Pharmacist Professional Work Practice at Kimia Farma 352 Margonda Pharmacy which has been carried out by researchers, it can be concluded that the accuracy of prescriptions for gastritis patients based on administrative aspects still has some deficiencies, so completeness of prescriptions is needed on administrative aspects. Accuracy of prescriptions for gastritis patients based on pharmaceutical aspects has been meet the standard requirements for pharmaceutical services, but there are several prescriptions that still do not meet the requirements so that their completeness needs to be considered again, and the accuracy of prescriptions for gastritis patients based on clinical aspects has fulfilled the standard requirements for pharmaceutical services in its entirety so it must be maintained onwards like this."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Saintica Luthfia Utama
"Apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh apoteker. Salah satu komponen penting dalam pelayanan kefarmasian di apotek adalah pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai. Pengelolaan sediaan farmasi di apotek harus diatur untuk menjamin ketersediaan produk dalam jumlah memadai. Pengelolaan persediaan farmasi dapat diatur melalui beberapa metode, salah satunya adalah metode pareto atau ABC. Metode ini memfokuskan pengelola apotek pada penentuan item-item yang penting terhadap keberlangsungan operasional apotek sehingga dapat diatur prioritas pengawasan dan pengendalian terhadap persediaan tersebut. Penelitian dilakukan terhadap resep yang diterima di PPO Kimia Farma no.382 dan dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode analisis pareto pemakaian dan pareto nilai investasi. Berdasarkan analisis pareto pemakaian, kelompok pareto A terdiri atas 13 item obat (14.77%), kelompok pareto B terdiri atas 13 item obat (14.77%), kelompok pareto C terdiri atas 12 item obat (70,45%) , sementara berfasartan analisis pareto nilai investasi, kelompok pareto A terdiri atas 12 item obat (13,63%) dengan nilai investasi 70,44% (Rp 88.851.753), kelompok pareto B terdiri atas 16 item obat (18,18%) dengan nilai investasi 19,49% (Rp 24.580.213) dan kelompok pareto C terdiri atas 12 item obat (68,18%) dengan nilai investasi 10,07% (Rp 12.701.220).

A pharmacy is a pharmaceutical service facility where pharmaceutical practice is carried out by pharmacists. One of the important components in pharmaceutical services in pharmacies is the management of pharmaceutical supplies, medical devices and consumable medical materials. Management of pharmaceutical preparations in pharmacies must be regulated to ensure the availability of products in adequate quantities. Pharmaceutical inventory management can be managed using several methods, one of which is the Pareto or ABC method. This method focuses pharmacy managers on determining items that are important to the continuity of pharmacy operations so that priorities for monitoring and controlling these supplies can be set. Research was carried out on recipes received at PPO Kimia Farma no. 382 and was carried out using a quantitative approach using the Pareto usage and Pareto investment value analysis methods. Based on Pareto analysis of usage, Pareto group A consists of 13 drug items (14.77%), Pareto group B consists of 13 drug items (14.77%), Pareto group C consists of 12 drug items (70.45%), while based on Pareto analysis investment value, Pareto group A consists of 12 drug items (13.63%) with an investment value of 70.44% (Rp. 88,851,753), Pareto group B consists of 16 drug items (18.18%) with an investment value of 19, 49% (Rp. 24,580,213) and Pareto group C consists of 12 drug items (68.18%) with an investment value of 10.07% (Rp. 12,701,220)."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Qinthara Alifya Pramatiara
"Pelayanan dan pengkajian resep merupakan salah satu pelayanan farmasi klinik di apotek. Resep harus selalu ditulis dengan benar karena resep memiliki peran yang besar dalam terapi pengobatan dan kesehatan pasien. Sebagai penyakit yang termasuk ke dalam lima besar penyebab kematian di dunia dengan prevalensi 17,4%, obat asma banyak diresepkan kepada pasien sehingga dalam penulisan resepnya perlu diperhatikan untuk menghindari pemberian obat yang tidak rasional akibat dari kesalahan penulisan resep. Oleh karena itu, tugas khusus ini bertujuan untuk melakukan pengkajian resep obat pada pasien asma agar dapat mengetahui kesesuaian dan kelengkapan resep serta mendeteksi adanya kesalahan pada peresepan seperti adanya interaksi obat. Tugas khusus ini disusun melalui pengkajian resep untuk pasien asma yang menggunakan layanan BPJS. Setiap resep yang diterima akan dilakukan skrining resep terkait dengan kelengkapan administrasinya. Setelahnya resep diserahkan kepada tim penyiapan resep untuk pengambilan obatnya dari rak, kemudian penulisan etiket, dan terakhir penulisan kelengkapan lainnya seperti copy resep (jika ada) dan Kartu Kendali untuk pasien BPJS. Setelahnya akan dilakukan pengkajian bagi resep yang mengandung obat-obatan asma sesuai persyaratan farmasetik dan klinisnya. Dua buah resep yang dikaji pada tugas khusus ini belum memenuhi seluruh aspek administrasi, farmasetik, dan klinis.

Prescription services and reviews are one of the clinical pharmacy services at the pharmacy. Recipes must always be written correctly because recipes play a big role in medical therapy and patient health. As a disease that is included in the top five causes of death in the world with a prevalence of 17.4%, asthma medication is widely prescribed to patients, so care needs to be taken when writing prescriptions to avoid irrational medication administration due to prescription errors. Therefore, this special task aims to assess drug prescriptions for asthma patients to determine the suitability and completeness of the prescription and detect errors in prescribing such as drug interactions. This special task is prepared by reviewing prescriptions for asthma patients who use BPJS services. Every prescription received will be screened regarding the completeness of its administration. After that, the prescription is handed over to the prescription preparation team to take the medicine from the shelf, then write the label, and finally write other equipment such as a copy of the prescription (if any) and a Control Card for BPJS patients. After that, a review will be carried out for prescriptions containing asthma medicines according to pharmaceutical and clinical requirements. The two prescriptions studied in this special assignment did not meet all administrative, pharmaceutical, and clinical aspects."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas ndonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>