Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 159496 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhammad Herdiono Erprakasya
"Latar Belakang: Prevalensi neuropati perifer setelah terapi vinkristin dilaporkan cukup tinggi. Beberapa penelitian menunjukkan manfaat vitamin E dalam mencegah neuropati perifer akibat agen kemoterapi, termasuk vinkristin, tetapi hingga saat ini belum ada studi yang meneliti efek tersebut pada pasien anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran vitamin E dalam pencegahan neuropati perifer akibat kemoterapi vinkristin pada anak dengan leukemia limfoblastik akut. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas vitamin E dalam mencegah neuropati pada anak dengan LLA yang mendapat terapi vinkristin. Metode: Studi uji klinis acak terkontrol di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo menggunakan subjek pasien anak usia 0-18 tahun yang terdiagnosis LLA pada bulan Januari 2025 hingga Mei 2025. Randomisasi tersamar ganda dilakukan untuk membagi ke dalam 2 kelompok yang mendapat terapi vitamin E dan plasebo. Subjek dilakukan pemeriksaan kecepatan hantar saraf (KHS) sebelum dan sesudah intervensi. Faktor yang dinilai meliputi penurunan fungsi saraf berdasarkan gejala dan pemeriksaan KHS. Hasil: Subyek penelitian sebanyak 13 pasien dengan rerata usia sampel 6,76 tahun, mayoritas subyek lelaki sebanyak 10 pasien (76,9%). Sebanyak 5 subjek penelitian (69,2 %) pasien memiliki status nutrisi gizi baik dan 4 subjek (30,8%) gizi kurang. Sebanyak satu (7,7%) subjek terklasifikasi LLA risiko standar dan 12 (92,3%) risiko tinggi. Sebanyak 7 (53,8%) subjek menjalani kemoterapi fase induksi 1A protokol LLA tahun 2024 dan 6 (46,2%) subjek lainnya menjalani kemoterapi fase reinduksi 2A protokol LLA 2024. Median dosis riil vinkristin adalah 4,05 mg dengan rerata dosis kumulatif 5,31 mg/m2. Sebanyak 10 subjek mendapat vitamin E dan 3 subjek mendapat plasebo. Terdapat 2 dari 10 (20%) subjek yang mendapat vitamin E mengalami neuropati pada pemeriksaan KHS. Tidak ada subjek yang mendapat plasebo yang mengalami neuropati (p=0,577). Analisis ad interim menunjukkan risiko relatif mengalami neuropati vinkristin adalah 0,8 (IK 95% 0,90 – 1,74), namun hal ini disebabkan besar sampel yang kurang. Simpulan: Efektivitas vitamin E belum dapat disimpulkan dalam mencegah neuropati perifer pada anak dengan leukemia limfoblastik akut yang mendapat terapi vinkristin. Studi ini perlu diteruskan sampai mencapai besar sampel yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan akhir/definitif.

Background: The prevalence of vincristine-induced peripheral neuropathy has been reported to be quite high. Several studies have demonstrated the benefits of vitamin E in preventing chemotherapy-induced peripheral neuropathy, including that caused by vincristine. However, to date, no studies have investigated this effect specifically in pediatric patients. This study aims to evaluate the role of vitamin E in the prevention of vincristine-induced peripheral neuropathy in children with acute lymphoblastic leukemia. Objective: To determine the effectiveness of vitamin E in preventing neuropathy in children with acute lymphoblastic leukemia (ALL) undergoing vincristine therapy. Methods: A randomized controlled clinical trial was conducted at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital involving pediatric patients aged 0–18 years diagnosed with ALL from January 2025 to May 2025. Double-blind randomization was performed to divide subjects into two groups receiving either vitamin E or placebo. Nerve conduction velocity (NCV) tests were conducted before and after the intervention. Evaluated factors included nerve function decline based on symptoms and NCV examination. Results: The study included 13 patients with a mean age of 6.76 years; the majority were male (10 patients, 76.9%). Most subjects (69.2%) had good nutritional status, while 30.8% were malnourished. One subject (7.7%) was classified as standard-risk ALL and 12 (92.3%) as high-risk. Seven (53.8%) subjects underwent induction phase 1A chemotherapy per the 2024 ALL protocol, and six (46.2%) underwent reinduction phase 2A chemotherapy. The median actual vincristine dose was 4.05 mg, with a mean cumulative dose of 5.31 mg/m². Ten subjects received vitamin E and three received placebo. Among those receiving vitamin E, 2 out of 10 (20%) developed neuropathy on NCV testing, while 8 (80%) did not. No subjects in the placebo group developed neuropathy (p=0.577). The interim analysis showed that the relative risk of developing vincristine-induced neuropathy was 0.8 (95% CI: 0.90–1.74); however, this is due to the small sample size. Conclusion: Effectiveness of vitamin E in preventing peripheral neuropathy in children with acute lymphoblastic leukemia receiving vincristine therapy cannot be concluded due small sample size. This study needs to be continued until the required sample size is reached in order to draw a final or definitive conclusion."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2025
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Neneng Arie Komariah
"Latar belakang: Peningkatan enzim transaminase sering ditemukan pada anak dengan leukemia limfoblastik akut LLA dalam kemoterapi fase pemeliharaan. Belum ada penelitian terkait pemberian vitamin E pada anak LLA dengan kondisi tersebut di Indonesia.
Tujuan: Mengetahui prevalens, karakteristik, dan pengaruh pemberian vitamin E terhadap perbaikan kadar enzim transaminase pada anak LLA dalam kemoterapi fase pemeliharaan.
Metode: Uji klinis acak tersamar tunggal, membandingkan vitamin E dosis antioksidan dengan plasebo pada anak LLA yang mengalami peningkatan enzim transaminase bulan Agustus-Desember 2017 di Poliklinik Hematologi dan Onkologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Enzim transaminase dievaluasi setelah 3 dan 5 minggu intervensi dan perbaikan didefinisikan bila menurun ge;20.
Hasil: Terdapat 33 kejadian peningkatan enzim transaminase, 17 vitamin E dan 16 plasebo. Prevalens 41,2, karakteristik pasien predominan laki-laki, usia 2,5-5x. Vitamin E dibandingkan plasebo setelah 3 minggu P=0,601; RR=0,93; IK 95 0,73-1,16 dan 5 minggu P= 0,103; RR= 0,81; IK 95 0,64-1,03.
Kesimpulan: Pemberian Vitamin E dibandingkan plasebo pada anak LLA dalam kemoterapi fase pemeliharaan setelah 3 dan 5 minggu tidak berbeda bermakna, namun kelompok vitamin E terdapat kecenderungan perbaikan kadar enzim transaminase.

Background: Aminotransferase enzyme's elevation is a common complication associated maintenance chemotherapy in pediatric acute lymphoblastic leukemia ALL. Vitamin E is used as therapy but none research has been done on this issue in Indonesia.
Objectives: To identify the prevalence, characteristics of patients and the effect of vitamin E on aminotransferase enzyme's improvement in pediatric ALL during maintenance chemotherapy.
Methods: A randomized single blind controlled trial of antioxidant dose vitamin E versus placebo in pediatric ALL during maintenance chemotherapy with aminotransferase enzyme's elevation was conducted on August December 2017 at Hematology and Oncology clinic Cipto Mangunkusumo hospital. Aminotransferase enzymes were evaluated after intervention for 3 and 5 weeks. Improvement was defined as a decrease ge 20 of baseline.
Results: There were 33 events, 17 vitamin E and 16 placebo. Prevalence was 41,2, characteristics were predominated boys, 2,5 5x. There were no statistical difference in aminotranferase enzyme's improvement after 3 weeks intervention P 0,601 RR 0,93 CI 95 0,73 1,16 and 5 weeks intervention P 0,103 RR 0,81 CI 95 0,64 1,03.
Conclusion Antioxidant dose of vitamin E tends to decrease aminotransferase enzyme but not statistically significant.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Anggraeni
"Latar belakang: Penderita leukemia limfoblastik akut (LLA) akan mengalami perubahan status oksidan dan antioksidan sejak awal diagnosis dan selama kemoterapi. Vitamin E merupakan antikarsinogenik kuat dan berperan besar mencegah kerusakan oksidatif pada struktur sel dan jaringan lewat reaksi pemecahan radikal bebas.
Tujuan: Mengetahui pengaruh vitamin E terhadap kadar oksidan, kadar enzim transaminase, dan insiden demam neutropenia pada LLA saat awal dan selesai kemoterapi fase induksi.
Metode: Uji klinis acak tersamar ganda yang membandingkan kelompok vitamin E dengan kelompok plasebo pada penderita LLA saat awal dan selesai kemoterapi fase induksi pada bulan Juni-November 2019 di poliklinik Hematologi Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM Kiara.
Hasil: Terdapat peningkatan kadar median MDA saat awal fase induksi dan terjadi penurunan MDA secara bermakna saat selesai fase induksi pada kelompok plasebo. Terdapat peningkatan median enzim transaminase (AST dan ALT) saat awal fase induksi dan terjadi penurunan delta median AST secara bermakna saat selesai fase induksi pada kelompok plasebo. Insiden demam neutropenia (episode) ditemukan hampir sama pada kelompok vitamin E dan kelompok plasebo.
Simpulan: Vitamin E tidak terbukti secara bermakna memperbaiki kadar MDA, enzim transaminase, dan insiden demam neutropenia pada penderita LLA fase induksi.

Background: Children undergoing treatment for acute lymphoblastic leukemia receive multiagent chemotherapy are associated with free radical production may affect the antioxidant status at diagnosis and during treatment. Vitamin E as an anticarcinogenenic agent play important role to prevent oxidative damage in cell by quenching free radicals.
Aim: To identify effects of vitamin E in oxidant level, serum levels of liver enzymes, and incidence of febrile neutropenia before and after induction phase chemotherapy of ALL.
Methods: A randomized double-blind controlled trial of vitamin E compared with placebo in ALL during induction phase chemotherapy between June-November 2019 at Hematology Oncology clinic, Department of Child Health, Faculty of Medicine, Cipto Mangunkusumo Hospital, Kiara.
Results: The median of MDA level was increase at early induction phase and significantly decrease after induction phase in placebo group. The median of serum levels of liver enzymes (AST and ALT) were increase at early induction phase and the delta median of AST level was significantly decrease after induction phase in placebo group. Incidence of febrile neutropenia (episode) was not much different in vitamin E and placebo group.
Conclusions: Vitamin E not significantly can improve MDA level, serum levels of liver enzymes, and incidence of febrile neutropenia in induction phase of ALL.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Indah Dina Maritha
"Leukemia limfoblastik akut (LLA) adalah keganasan yang paling sering terjadi pada anak-anak. Angka kesembuhan yang besar terjadi akibat terapi kanker saat ini, namun respon toksik yang terkait dan pembentukan radikal bebas meningkatkan angka kematian akibat pengobatan daripada kematian akibat penyakitnya itu sendiri. Komplikasi kemoterapi meningkatkan rasa ingin tahu dokter untuk mempelajari penggunaan antioksidan sebagai pengobatan tambahan pada kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran N-asetilsistein ​​(NAS) sebagai terapi antioksidan pada anak-anak dengan LLA SR (standard risk) selama fase induksi kemoterapi, dan kemungkinan peran mereka dalam pencegahan dan pengendalian komplikasi hati terkait dengan penggunaan agen kemoterapi. Sebuah uji klinis acak tersamar tunggal NAS dibandingkan dengan plasebo yang dilakukan pada pasien anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak Divisi Hematologi dan Onkologi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Penelitian ini dilakukan pada 11 pasien anak-anak usia mereka berkisar antara 2 dan 10 tahun dengan LLA SR yang menjalani kemoterapi fase induksi dan memenuhi kriteria inklusi. Pasien secara acak dialokasikan ke dalam dua kelompok, NAS atau kelompok plasebo. Mereka dievaluasi secara klinis untuk terjadinya komplikasi dan sampel darah dikumpulkan sebagai parameter laboratorium (plasma malondialdehid (MDA), enzim transaminase, dan bilirubin). Sebanyak 11 subjek dilakukan analisis yang terdiri dari 6 pada kelompok n-asetilsistein dan 5 pada kelompok plasebo. Karakteristik subjek didominasi oleh anak laki-laki dengan status gizi kurang. Kadar rerata MDA cenderung mengalami penurunan, sebanyak tiga subjek dari enam subjek pada kelompok perlakuan dan tiga subjek dari lima subjek pada kelompok plasebo. Insidens peningkatan kadar enzim transaminase sebesar 25%. Tidak terjadi kejadian kolestasis pada subjek penelitian. Pengobatan NAS ​​berdasarkan dosis antioksidan cenderung menurunkan kadar MDA, dan mencegah peningkatan enzim transaminase, dan bilirubin.

Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is the most commonly malignancy in children. Cancer therapies have experienced great success nowadays, yet the associated toxic response and free radicals formation have resulted in significant number of treatment-induced deaths rather than disease-induced fatalities. Complications of chemotherapy increases physicians curiosity to study antioxidant use as adjunctive treatment in cancer. This study aims to evaluate the role of N-acetylcysteine (NAC) as antioxidant therapy in children with ALL during the induction phases of chemotherapy, and their possible role in prevention and control of hepatic complications associated with the use of chemotherapic agents. A randomized single-blind clinical trial of NAC in comparison with placebo conducted in hematology and oncology pediatric patient of Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. The study was performed in 11 pediatric patients with ALL with their ages ranging between 2 and 10 years, undergoing induction phase chemotherapy that fulfilled the inclusion criteria consecutively. Patient were randomly allocated into of two groups, NAC or placebo group. They were evaluated clinically for the occurance of complications and blood samples were collected as the laboratory parameters (plasma malondyaldehide (MDA), transaminase enzyme, and bilirubin). A total 11 participants were included in analysis consisted of 6 in n-acetylcysteine group and 5 in placebo group. Characteristics of subject were predominated by boys and moderate malnourished. Mean MDA levels tended to decrease, as many as three subjects from six subjects in the NAC group and three subjects from five subjects in the placebo group. Incidence of increased levels of the transaminase enzyme by 25%. There was no cholestasis events in the study subjects. NAS treatment based on antioxidant doses tends to reduce MDA levels, and prevent the increase in the transaminase enzyme and bilirubin."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Andrye Fernandes
"Kemoterapi memiliki dampak terjadinya kelelahan pada anak yang menderita leukemia limfoblastik akut. Kelelahan pada anak dapat diperberat oleh masalah tidur yang dialami anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan masalah tidur dengan kelelahan pada anak dengan leukemia limfoblastik akut yang menjalani satu siklus kemoterapi fase induksi. Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pengukuran berulang masalah tidur dan kelelahan pada anak berumur 7-18 tahun (n=62). Pengambilan data dilakukan selama 7 hari yaitu, satu hari sebelum, lima hari selama, dan satu hari setelah kemoterapi.
Hasil analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat kemaknaan 95% menunjukkan hubungan yang signifikan (p<0,001) antara masalah tidur dengan kelelahan. Kesimpulannya masalah tidur menjadi penyebab beratnya kelelahan pada anak sehingga penting untuk dilakukan pengkajian dan memberikan intervensi mengatasi masalah tidur untuk mengurangi kelelahan pada anak. Pelatihan manajemen masalah tidur dan kelelahan menjadi penting untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan perawat dalam mengatasi kelelahan pada anak leukemia limfoblastik akut yang menjalani kemoterapi fase induksi.

Chemotherapy had an impact of disruption in sleep patterns and fatigue in children who suffer from acute lymphoblastic leukemia. Fatigue in children can be exacerbated by sleep problems experienced by children. This study aimed to analyze the relationship of sleep problems with fatigue in children with acute lymphoblastic leukemia who underwent a cycle of induction phase chemotherapy. The design of this research used descriptive analytic with repeated measurements of sleep problems and fatigue in children aged 7-18 years (n = 62). The data were taken for 7 days, consist of one day before, five days during, and one day after chemotherapy.
The result of data analysis using Pearson correlation test with significance level 95% showed significant relationship (p <0.001) between sleep problems with fatigue. The conclusion were sleep problems cause severe fatigue in children so it is important to do the assessment and provide intervention to overcome sleep problems to reduce fatigue in children. Training on sleep problems and fatigue management becomes important to improve knowledge and abilities of nurses in overcoming fatigue in children with acute lymphoblastic leukemia undergoing chemotherapy on induction phase.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2017
T48320
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indah Dina Maritha
"Leukemia limfoblastik akut (LLA) adalah keganasan yang paling sering terjadi pada anak-anak. Angka kesembuhan yang besar terjadi akibat terapi kanker saat ini, namun respon toksik yang terkait dan pembentukan radikal bebas meningkatkan angka kematian akibat pengobatan daripada kematian akibat penyakitnya itu sendiri. Komplikasi kemoterapi meningkatkan rasa ingin tahu dokter untuk mempelajari penggunaan antioksidan sebagai pengobatan tambahan pada kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran N-asetilsistein ​​(NAS) sebagai terapi antioksidan pada anak-anak dengan LLA SR (standard risk) selama fase induksi kemoterapi, dan kemungkinan peran mereka dalam pencegahan dan pengendalian komplikasi hati terkait dengan penggunaan agen kemoterapi. Sebuah uji klinis acak tersamar tunggal NAS dibandingkan dengan plasebo yang dilakukan pada pasien anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak Divisi Hematologi dan Onkologi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Penelitian ini dilakukan pada 11 pasien anak-anak usia mereka berkisar antara 2 dan 10 tahun dengan LLA SR yang menjalani kemoterapi fase induksi dan memenuhi kriteria inklusi. Pasien secara acak dialokasikan ke dalam dua kelompok, NAS atau kelompok plasebo. Mereka dievaluasi secara klinis untuk terjadinya komplikasi dan sampel darah dikumpulkan sebagai parameter laboratorium (plasma malondialdehid (MDA), enzim transaminase, dan bilirubin). Sebanyak 11 subjek dilakukan analisis yang terdiri dari 6 pada kelompok n-asetilsistein dan 5 pada kelompok plasebo. Karakteristik subjek didominasi oleh anak laki-laki dengan status gizi kurang. Kadar rerata MDA cenderung mengalami penurunan, sebanyak tiga subjek dari enam subjek pada kelompok perlakuan dan tiga subjek dari lima subjek pada kelompok plasebo. Insidens peningkatan kadar enzim transaminase sebesar 25%. Tidak terjadi kejadian kolestasis pada subjek penelitian. Pengobatan NAS ​​berdasarkan dosis antioksidan cenderung menurunkan kadar MDA, dan mencegah peningkatan enzim transaminase, dan bilirubin.

Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is the most commonly malignancy in children. Cancer therapies have experienced great success nowadays, yet the associated toxic response and free radicals formation have resulted in significant number of treatment-induced deaths rather than disease-induced fatalities. Complications of chemotherapy increases physicians curiosity to study antioxidant use as adjunctive treatment in cancer. This study aims to evaluate the role of N-acetylcysteine (NAC) as antioxidant therapy in children with ALL during the induction phases of chemotherapy, and their possible role in prevention and control of hepatic complications associated with the use of chemotherapic agents. A randomized single-blind clinical trial of NAC in comparison with placebo conducted in hematology and oncology pediatric patient of Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. The study was performed in 11 pediatric patients with ALL with their ages ranging between 2 and 10 years, undergoing induction phase chemotherapy that fulfilled the inclusion criteria consecutively. Patient were randomly allocated into of two groups, NAC or placebo group. They were evaluated clinically for the occurance of complications and blood samples were collected as the laboratory parameters (plasma malondyaldehide (MDA), transaminase enzyme, and bilirubin). A total 11 participants were included in analysis consisted of 6 in n-acetylcysteine group and 5 in placebo group. Characteristics of subject were predominated by boys and moderate malnourished. Mean MDA levels tended to decrease, as many as three subjects from six subjects in the NAC group and three subjects from five subjects in the placebo group. Incidence of increased levels of the transaminase enzyme by 25%. There was no cholestasis events in the study subjects. NAS treatment based on antioxidant doses tends to reduce MDA levels, and prevent the increase in the transaminase enzyme and bilirubin."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T57623
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sari Nartiana
"Latar Belakang: Acute lymphoblastic leukemia (ALL) adalah jenis kanker yang paling umum pada anak-anak dan sering menjadi penyebab kematian. Pneumonia adalah salah satu infeksi serius yang mempengaruhi prognosis dan kelangsungan hidup anak dengan ALL. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keparahan pneumonia pada anak dengan ALL.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan consecutive sampling pada 103 responden. Data retrospektif diambil dari rekam medis anak dengan ALL yang terdiagnosis pneumonia di RSAB Harapan Kita dari tahun 2018 hingga 2023. Analisis statistik menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik ganda.
Hasil: Dari 103 anak dengan ALL, 61,2% mengalami pneumonia berat. Mayoritas responden adalah bayi dan balita (53,4%), 56,3% berjenis kelamin laki-laki, 55,7% memiliki status gizi tidak normal, 53,4% berada pada fase pengobatan induksi, 61,2% menggunakan terapi kortikosteroid 3-5 hari sebelum dan saat terdiagnosis, 58,3% pernah menerima transfusi darah, 90,3% tipe ALL B, 57,3% mengalami neutropenia, 80,6% anemia dan 83,5% memiliki kadar CRP tidak normal. Analisis bivariat menunjukkan status gizi, fase pengobatan, terapi kortikosteroid dan kadar CRP berhubungan dengan tingkat keparahan pneumonia pada anak anak dengan ALL. Analisis multivariat menunjukkan variabel status gizi (OR 3.024, 95% CI: 1.216-7.522) dan kadar CRP (OR 8.337, 95% CI: 2.29-30.348) berhubungan dengan tingkat keparahan pneumonia setelah dikontrol oleh variabel fase pengobatan (OR 1.588, 95% CI: 0.433-5.826) dan terapi kortikosteroid ( OR 1.855, 95% CI: 0.493-6.978)
Kesimpulan: Anak dengan ALL yang menjalani kemoterapi berisiko tinggi mengalami pneumonia berat. Sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap infeksi ketika anak dengan ALL berada dalam fase induksi, terutama jika mereka telah menggunakan terapi kortikosteroid selama 3-5 hari sebelumnya dan memiliki status gizi yang tidak normal (gizi kurang atau gizi lebih).

Background: Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is the most common type of cancer in children and a leading cause of mortality. Pneumonia is one of infection that significantly affects the prognosis and survival of children with ALL. This study aims to analyze the factors associated with the severity of pneumonia in children with ALL.
Methods: This cross-sectional study used consecutive sampling of 103 respondents. Retrospective data were collected from the medical records of children with ALL diagnosed with pneumonia at RSAB Harapan Kita from 2018 to 2023, using the SMART System. Statistical analysis was performed using the Chi-square test and multiple logistic regression.
Results: Among 103 children with ALL, 61.2% experienced severe pneumonia. The majority of respondents were infants and toddlers (53.4%), 56.3% were male, and 55.7% had abnormal nutritional status. Additionally, 53.4% were in the induction treatment phase, and 61.2% had received corticosteroid therapy 3-5 days before and at the time of diagnosis. Furthermore, 58.3% had received blood transfusions, 90.3% had ALL type B, 57.3% experienced neutropenia, 80.6% had anemia, and 83.5% had abnormal CRP levels. Bivariate analysis indicated that nutritional status, treatment phase, corticosteroid therapy, and CRP levels were associated with the severity of pneumonia in children with ALL. Multivariate analysis showed that nutritional status (OR 3.024, 95% CI: 1.216- 7.522) and CRP levels (OR 8.337, 95% CI: 2.29-30.348) were associated with pneumonia severity after controlling for treatment phase (OR 1.588, 95% CI: 0.433-5.826) and corticosteroid therapy (OR 1.855, 95% CI: 0.493-6.978).
Conclusion: Children with ALL undergoing chemotherapy are at high risk of severe pneumonia. It is crucial to increase vigilance against infections when children with ALL are in the induction phase, especially if they have received corticosteroid therapy in the preceding 3-5 days and have abnormal nutritional status (undernutrition or overnutrition).
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amirah Zatil Izzah
"Latar belakang: Leukemia limfoblastik akut (LLA) merupakan kanker tersering pada anak. Berbagai studi mendapatkan bahwa vitamin D berperan dalam pencegahan beberapa jenis kanker. Belum ada studi yang menilai hubungan status vitamin D dengan penyakit LLA pada anak di Indonesia.
Tujuan: Untukmengetahui hubungan antara status vitamin D dengan penyakit LLA pada anak.
Metode: Studi potong lintang pada 40 anak LLA yang baru terdiagnosis dan 40 anak sehat yang sesuai umur dan jenis kelamin. Pasien LLA diambil secara consecutive sampling di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dan RSUP Dr. M. Djamil Padang. Status vitamin D diklasifikasikan berdasarkan rekomendasi Institute of Medicine yaitu defisiensi bila kadar < 12 ng/mL, insufisiensi 12 - <20 ng/mL, dan normal 20-100 ng/mL. Data dianalisa menggunakan uji Chi-Squaredan independent sample t-test, dengan kemaknaan p <0,05.
Hasil: Terdapat 22 (55%) anak laki-laki pada masing-masing kelompok dan kelompok usia 1-4 tahun merupakan kelompok terbanyak (48%). Mayoritas anak LLA memiliki status vitamin D normal (78%), demikian juga kelompok kontrol (63%). Terdapat 3(7%) dan 6(15%) anak LLA serta 1(2%) dan 14(35%) anak sehat memiliki status defisiensi dan insufisiensi berturut-turut dengan p =0,14. Rerata kadar vitamin D anak LLA adalah 25,1(7,6) ng/mL dan anak sehat 21,9(5,67) ng/mL, dengan perbedaan rerata 3,14 (IK95% 0,15-6,13) dan p =0,04.
Simpulan:Mayoritas anak LLA yang baru terdiagnosis memiliki status vitamin D normal. Rerata kadar vitamin D anak LLA lebih tinggi bermakna dari anak sehat, namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status vitamin D dan penyakit LLA pada anak.

Background:Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is the most common cancer in children. Various studies have found that vitamin D plays a role in the prevention of several types of cancer. Currently, there is no study in Indonesia that assess association between vitamin D status and pediatric ALL
Objective:To determine association between vitamin D status and pediatric ALL.
Methods:A cross-sectional study of 40 newly diagnosed ALL children and 40 age-and sex-matched healthy children. ALL patients were taken by consecutive sampling at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta and Dr. M. Djamil Hospital Padang. Vitamin D status is classified based on Institute of Medicine recommendations; deficiency <12 ng/mL, insufficiency 12 - <20 ng/mL, and normal 20-100 ng/mL. Data were analyzed using Chi-square test and independent sample t-test. A p-value <0.05 is considered to be statistically significant.
Results: There were 22 (55%) boys in each group and the group 1-4 years was the most age group (48%). Majority of ALL children had normal vitamin D status (78%) and also in healthy children (63%). There were 3(7%) and 6(15%) ALL children as well as 1(2%) and 14(35%) healthy children had deficiency and insufficiency status consecutively, with p value =0.14. The mean vitamin D level of ALL children and healthy children were 25.1 (7.6) ng/mL and was 21.9 (5.67) ng/mL consecutively, with mean difference of 3.14 (95% CI 0.15-6.13) and p value =0.04..
Conclusion:The majority of newly diagnosed ALL children have normal vitamin D status. The mean vitamin D levels of ALL children was significantly higher than healthy children, however there was no significant association between vitamin D status and ALL in children.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58542
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rafah Ramadhani Susanto
"Latar Belakang
Leukemia limfoblastik akut (LLA) adalah jenis leukemia agresif, ditandai tingginya jumlah limfoblas/limfosit di darah dan sumsum tulang. IL-6, sitokin inflamasi yang diproduksi oleh berbagai sel, berperan dalam perkembangan LLA dengan memengaruhi progresi sel leukemia. Kemoterapi fase pemeliharaan bertujuan mencegah penyebaran dan kekambuhan LLA, tidak jarang menyebabkan efek samping hematologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kadar IL-6 pada anak dengan LLA yang sedang mendapatkan fase pemeliharaan kemoterapi dan hubungannya dengan karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, status gizi, stratifikasi risiko) serta data hematologi (hemoglobin, leukosit, trombosit).
Metode
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan 74 sampel plasma darah tersimpan dari penelitian sebelumnya. Kadar IL-6 diukur menggunakan kit ELISA dan alat spektrofotometer. Dianalisis menggunakan SPSS dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk normalitas dan untuk melihat perbedaan menggunakan uji Mann-Whitney U, dengan nilai p yang dianggap bermakna <0,05.
Hasil
Kadar IL-6 pada anak dengan LLA yang sedang mendapatkan fase pemeliharaan kemoterapi antara <2,185–884,830 pg/ml serta tidak terdapat perbedaan kadar IL-6 berdasarkan jenis kelamin, status gizi, stratifikasi risiko, dan data hematologi pasien LLA anak yang sedang mendapatkan fase pemeliharaan kemoterapi. Namun, terdapat perbedaan kadar IL-6 berdasarkan usia pasien (p = 0,006).
Kesimpulan
Terdapat perbedaan kadar IL-6 berdasarkan usia pasien yang sedang mendapatkan fase pemeliharaan kemoterapi.

Introduction
Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is an aggressive leukemia characterized by high counts of lymphoblasts/lymphocytes in the blood and bone marrow. IL-6, an inflammatory cytokine produced by various cells, influences leukemia cell progression. Maintenance phase chemotherapy aims to prevent the spread and recurrence of ALL but often results in hematological side effects. This study evaluates IL-6 concentrations in children with ALL undergoing maintenance chemotherapy and examines their relationship with patient characteristics (age, gender, nutritional status, risk stratification) and hematological data (hemoglobin, leukocytes, platelets).
Method
This study used a cross-sectional design with 74 stored plasma blood samples from previous research. IL-6 concentration was measured with an ELISA kit and spectrophotometer. Data were analyzed with SPSS using the Kolmogorov-Smirnov test for normality and the Mann-Whitney U test for differences, with p < 0.05 considered significant.
Results
IL-6 levels in children with ALL undergoing maintenance chemotherapy ranged from <2.185 to 884.830 pg/ml, with no differences observed based on sex, nutritional status, risk stratification, or hematological data. However, there was a significant difference in IL-6 levels based on patient age (p = 0.006).
Conclusion
There was a difference in IL-6 levels based on the age of patients undergoing maintenance chemotherapy.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizki Dwi Darmayanti
"Leukemia limfoblastik akut (ALL) adalah jenis kanker yang paling umum pada anak-anak. Nyeri dan kelelahan berhubungan dengan faktor-faktor kanker dan perawatannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan hubungan antara kualitas nyeri dan kelelahan pada anak-anak dengan ALL 1-3 hari setelah kemoterapi. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan menggunakan teknik consequtive sampling. Total sampel adalah 44 anak-anak dengan ALL (7-18 tahun) di Jakarta. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Simple Pain Inventory (BPI) untuk mengukur kualitas nyeri dan Kelelahan Onkologi Anak-Allen (FOA-A) untuk mengukur kelelahan. Nilai rata-rata kualitas nyeri adalah 1,63932 dan nilai rata-rata kelelahan adalah 9,25.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kualitas nyeri dan kelelahan (p = 0,006), status kambuh dan kelelahan (p = 0,058), dan antara seseorang yang menemani anak-anak dan kelelahan (p = 0,016). Hasil penelitian ini merekomendasikan pentingnya penilaian nyeri lebih lanjut dan pengobatan kombinasi antara farmakologi dan nyeri non-farmakologi setelah kemoterapi untuk mengurangi kelelahan pada anak-anak dengan kanker.

Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is the most common type of cancer in children. Pain and fatigue are related to cancer factors and their treatments. The aim of this study was to find an association between pain quality and fatigue in children with ALL 1-3 days after chemotherapy. This research uses cross sectional design and uses consequtive sampling technique. The total sample was 44 children with ALL (7-18 years) in Jakarta. The measuring instrument used in this study was a Simple Pain Inventory (BPI) questionnaire to measure the quality of pain and Fatigue Oncology of Children-Allen (FOA-A) to measure fatigue. The average value of pain quality is 1.63932 and the average value of fatigue is 9.25.
The results of this study indicate that there is a significant relationship between quality of pain and fatigue (p = 0.006), relapse and fatigue status (p = 0.058), and between someone who accompanies children and fatigue (p = 0.016). The results of this study recommend the importance of further pain assessment and combination treatment between pharmacology and non-pharmacological pain after chemotherapy to reduce fatigue in children with cancer.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>