Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Simamora, Sontang
"Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan masalah kesehatan di Indonesia. GGT (Gagal Ginjal Terminal) merupakan bentuk lanjut dari GGK GGT ditetapkan berdasarkan bersihan kreatinin dibawah 5 mL/menit. Salah satu gejala pada GGT adalah terjadinya osteodistrofi renal yang dihubungkan dengan masalah penurunan kadar Ca dan peningkatan kadar fosfat darah. Sehubungan dengan hal ini GGK pada umumnya diberikan terapi kalsitriol, diet rendah fosfat dan pengikat fosfat. GGT memerlukan terapi pengganti, seperti dialisis.
Pengaturan homeostasis Ca dan fosfat darah dilakukan oleh hormon kalsitriol dan hormon paratiroid. Pada pasien GGK homeostasis tersebut terganggu oleh karena berkurangnya sintesis kalsitriol dan timbulnya retensi fosfat. Penurunan kadar kalsitriol menyebabkan penurunan absorbsi Ca dari usus. Retensi fosfat menimbulkan peningkatan kadar fosfat yang akan mengikat Ca. Kedua hal diatas menyebabkan terjadinya penurunan kadar Ca darah. Pada penderita GGT kerusakan masa gnjal menyebabkan penurunan kadar kalsitriol sehingga tetjadi gangguan homeostasis Ca darah terutama kadar ion Ca. Hal iru menyebabkan terjadinya peningkatan kadar hormon paratiroid. Pada penelitian ini akan dibuktikan bahwa pemberian kalsitriol secara oral dapat menurunkan kadar hormon paratiroid (PTH) dan menormalkan kadar ion Ca darah.
Dilakukan studi experimental pada pasien GGT yang mengikuti dialisis. Pasien yang diteliti adalah pasien yang tidal( mendapat pengobatan kalsitriol, tapi mengikuti diit rendah fosfat. Pasien GGT dengan hiperparatiroid sekunder diberikan kalsitriol 0,25 ug oral, tiap hari selama 2 minggu. Pada akhir pemberian kalsitriol diperiksa ulang kadar PTH, Ca, fosfat dan alkali fosfatase.
Hasil dan Kesimpulan: Setelah perlakuan terdapat penurunan kadar PTH secara bermakna p<0,015 dari 397 menjadi 149 pg/mL. Peningkatan kadar ion Ca secara bermakna p<0,020, dari 1,08 menjadi 1,16 mMoVL yang dihitung berdasarkan rumus. Penurunan fosfat bermakna dengan p<0,024, dari 4,18 mg/di, menjadi 3,65 mgldL serta penurunan alkali fosfatase bermakna dengan p<0,002, dari 250 menjadi 173 UIL."
2001
T8250
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harahap, Alida Roswita
"Penyakit ginjal dengan berbagai manifestasinya memerlukan berbagai pemeriksaan penunjang untuk melengkapi data penderita. Pada umumnya pemeriksaan penunjang ini digunakan sebagai alat bantu diagnostik, untuk melihat hasil penanggulangan/pengobatan penderita, dan untuk mengikuti perjalanan penyakit. Salah satu pemeriksaan penunjang untuk membedakan kelainan ginjal glomeruler dan tubular adalah analisa protein urin menggunakan tehnik sodium dodecyl sulfate polyacrylamid gel electrophoresis (SDS-PAGE). Dengan pemeriksaan ini dapat dibedakan pola ekskresi protein pada kelainan ginjal glomeruler, tubuler, atau campuran keduanya. β-N-acetylglucosaminidase (β-NAG) adalah enzim yang dibentuk oleh lisosom sel tubulus proksimal dan dilepaskan ke dalam urin. Karena itu dianggap lebih spesifik untuk menentukan adanya kelainan tubulus dibandingkan dengan tes lainnya seperti β2-mikroglobulin.
Pada penelitian ini kami mencari hubungan antara pola ekskresi protein dan aktivitas β-NAG dalam urin penderita dengan berbagai kelainan ginjal. Hasil menunjukkan adanya peningkatan β-NAG pada kasus-kasus dengan pola ekskresi protein tubuler dan campuran. Dua kasus (4,17%) dengan pola glomeruler memberikan hasil aktivitas β-NAG yang meningkat; kasus ini adalah sindroma nefrotik dan hipertensi. Pada sindroma nefrotik dengan proteinuria glomeruler non-selektif memang pernah dilaporkan adanya peningkatan β-NAG yang diduga berasal dari serum. Peningkatan β-NAG pads kasus hipertensi pada penelitian ini, tidak diketahui mekanismenya.

Protein Pattern And Β-Nag Activity In The Urine From Patients With Several Different Kidney AbnormalitiesKidney disease and its manifestation require different kind of laboratory tests to complete the data of the patients. In general, these tests are used as a diagnostic aid, and also in monitoring the therapy and the progress of the disease. It is important to differentiate between glomerular and tubular disorders. Sodium dodecyl sulfate polyacrylanude gel electrophoresis (SDS-PAGE) is one of the techniques that can be used to differentiate these abnormalities by looking at the protein excretion pattern in the urine. For renal tubular disorder, the determination of β-N-acetylglucosaminidase (β-NAG) is a useful test to detect the alteration of the tubular apparatus. This test is more specific than the others, such as β2-microglobulin, because β-NAG is produced by the lysosomes of the cells of proximal tubules.
The aims of our study is to find a correlation between urine protein excretion pattern and β-NAG activity, and the abnormalities of the kidney. We found that β-NAG activity was increased in patients with tubular and mixed type pattern of proteinuria. The increased activity of this enzyme was also seen in 2 patients (4.7%) with glomerular pattern; one with nephrotic syndrome and the other with hypertension. In nephrotic syndrome with non-selective proteinuria, it is conceivable that some of the urine β-NAG was plasma origin. In hypertension, the mechanisme of the increasing of β-NAG activity in the urine is still unknown."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1994
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Soetardhio
"ABSTRAK
Perdarahan merupakan salah satu penyulit dan penyebab kematian yang sering dijumpai pada penderita gagal ginjal akut maupun kronik. Angka kematian yang disebabkan karena perdarahan pada penderita gagal ginjal sekitar 10 %.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis gangguan hemostasis pada penderita gagal ginjal terminal sehingga usaha untuk mengatasinya lebih terarah. Selain itu juga untuk mengetahui pengaruh hemodialisis terhadap gangguan hemostasis tersebut.
Penelitian dilakukan terhadap 30 penderita gagal ginjal terminal yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam Subdivisi Ginjal dan Hipertensi FKUI-RSCM Jakarta, yang terdiri dari 21 pria dan 9 wanita, berusia antara 33 sampai 62 tahun. Kelompok kontrol terdiri atas 30 orang sehat yang tidak termasuk kriteria tolakan.
Pemeriksaan yang dilakukan pada penelitian ini ialah masa perdarahan, hitung trombosit, masa protrombin plasma, masa tromboplastin parsial teraktivasi, masa trombin, EDP, PF3 dan agregasi trombosit terhadap ADP 10uH, 5uM dan luM. Pengambilan bahan penelitian untuk penderita ialah sesaat sebelum dilakukan hemodialisis dan segera sesudah hemodialisis, untuk kontrol, pengambilan bahan penelitian segera setelah memenuhi kriteria.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan yang bermakna antara kelompok GGX sebelum HD dengan kelompok kontrol dijumpai pada masa perdarahan, hitung trombosit faktor trombosit 3, MT dan FDP, sedangkan MP, MTPT dan agregasi trombosit tidak berbeda bermakna. Karena rata-rata hitung trombosit pada kelompok GGK masih dalam batas normal, maka disimpulkan penyebab masa perdarahan yang memanjang adalah gangguan fungsi trombosit yaitu aktivitas faktor trombosit 3, MT yang memanjang mungkin disebabkan fungsi atau kadar fibrinogen yang menurun atau mungkin karena adanya inhibitor.
Dari penelitian ini ternyata efek HD tidak terlihat pada masa perdarahan maupun hitung trombosit, sedangkan terhadap tes koagulasi dan faktor trombosit 3 efek HD adalah memperburuk, mungkin ini karena efek heparin.
Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai gangguan hemostasis pada gagal ginjal terminal, untuk mengetahui penyebab MT memanjang, perlu diperiksa fibrinogen baik kadar, fungsi maupun adanya inhibitor. FDP dilanjutkan dengan D. diner. Faktor von Willebrand dan adhesi trombosit untuk mengetahui fungsi trombosit.
Efek heparin sebaiknya dinetralkan dengan menambah protamin sebelum pengambilan sample sesudah HD.
"
1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Bianca Rosa Tanihatu
"Penyakit ginjal merupakan masalah yang besar di seluruh dunia. Permasalahan yang timbul di negara maju berbeda dengan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Jumlah penderita gagal ginjal kronik (GGK) di Indonesia khususnya Jakarta,
cukup banyak dan mempunyai banyak faktor penyebab. Tindakan hemodialisis (HD) merupakan Salah satu pengobatan untuk penderita GGK disamping transplantasi ginjal. Tetapi tindakan ini dapat menimbulkan beberapa komplikasi antara lain penurunan kadar asam folat dengan segala akibatnya.
Tujuan penelitian ini untuk menentukan prevalensi defisiensi Serta perubahan kadar asam folat dan vitamin B12 pada kelompok GGK dan GGK pasca HD dengan pemberian asam folat 20 mg/bari. Selain itu juga menentukan klasifikasi anemia pada GGK
berdasarkan morfologi eritrosit dan melihat efektivitas pemberian aaam folat sebanyak 20 mg/hari pada penderita GGK pasca HD.
Penelitian ini dilakukan terhadap 50 penderita GGK tanpa tindakan HD, 20 penderita GGK pasoa HD dengan suplementasi asam folat sebanyak 20 mg/hari dan vitamin B12 2 ug dalam tablet Unioap-M selama 24 - 36 minggu. Sebagai kelompok kontrol dipakai 20 penderita penyakit ginjal tampa gagal ginjal. Terhadap ketiga kelompok ini dilakukan pemeriksaan kadar asam folat eritrosit dan serum Serta vitamin B12 dengan cara CPB menggunakan kit Vitamin B12/falaf dual count Amersham CT_301_ Pemeriksaan parameter Hb, Ht, hitung eritrosit, VER, HER dan KHER dilakukan
dengan penghitung sel darah otomatis. Hitung Rt dilakukan dengan pulasan vital Brilliant cresyl blue, sedangkan sediaan hapus darah tepi dipulas dengan pewarnaan Wright.
Pada penelitian ini belum dapat dipastikan adanya defisiensi asam folat pada kedua kelompok GGK (dibandingkan kontrol). Kadar asam folat eritrosit kelompok GGK (nt= 208 ng/mL) lebib rendah dari pada kontrol (nt= 504 ng/mL)(p <0,05). Hal yang sama dijumpai pada kelompok GGK pasca HD (nt= 407 ng/mL). Kadar aaam folat serum kelompok GGK (nt = 4,2 ng/mL) sama dengan kadar asam folat serum GSK pasca HD. Kadar asam folat serum pada kelompok GGK tampa HD maupun GGK pasca HD,
lebih tinggi dari kelompok kontrol (nt = 2,9 ng/mL)(p > 0,05).
Kadar vitamin B12 serum pada kelompok GGK (865 pg/mL) dan GGK pasea HD (1043 pg/mL} lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (351 pg/mL).
Enam puluh persen penderita GGK, 65% GGK pasca HD- dengan suplementasi asam folat dan 90% kelompok kontrol memberikan gambaran anemia normositik normokrom. Pemeriksaan hematologi seperti Hb, Ht dan hitung eritrosit pada kedua kelompok yang
diteliti memberikan basil lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Hipersegmentasi pada kedua kelompok GGK tidak disebabkan defisiensi asam folat dan /vitamin B12, tetapi mungkin disebabkan proses degenerasi leukosit.
Kadar Hb, Ht dan hitung eritrosit pada kedua kelompok GGK lebih rendah dibandingkan kontrol (p < 0,05). Tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna pada pemeriksaan nilai eritrosit rata-rata, dan indeks produksi Rt antara kedua kelompok GGK
dibandingkan kontrol.
Hitung leukosit kelompok GGK tanpa HD lebih tinggi dibandingkan kontrol (p >0,05) dan GGK pasea HD (p <0,05). Hitung trombosit kelompok GGK tampa HD lebih rendah dibandingkan dengan kontrol (p > 0,05}, tetapi lebih tinggi dibandingkan kelompok GGK pasca HD (p <0,05).
Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan nilai rujukan asam folat eritrosit dan serum, Serta vitamin B12 serum untuk orang Indonesia."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Brundage, Dorothy J.
St. Louis: Mosby, 1980
616.61 BRU n
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Jones, Katherine R. Indoe
New York: Medical examination , 1982
616.61 JON n
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Endang Susalit
Jakarta: UI-Press, 1998
PGB 0231
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Raden Suhartono
"Untuk hemodialisis pasien Penyakit Ginjal Tahap Akhir (PGTA) akses vaskular terpilih adalah pembuatan fistula arteriovenosa (FAV) native, namun FAV memiliki angka kegagalan maturitas yang relatif tinggi. Primary balloon angioplasty (PBA) merupakan salah satu teknik dilatasi untuk membantu maturitas FAV. Teknik konstruksi FAV yang traumatik dan peregangan diameter lumen vena dengan balon dapat menyebabkan cedera fokal pada endotelium vena dan memberikan respons hiperplasia intima serta memengaruhi kadar NO, VEGF dan EMP yang dapat berdampak negatif pada maturitas FAV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek PBA terhadap hiperplasia intima, kadar NO, VEGF, EMP serta maturitas FAV pada pasien dengan PGTA.
Desain penelitian adalah uji klinis tersamar acak tunggal di RSUPN Cipto Mangunkusumo, RSUPN Fatmawati, RSUD Kabupaten Tangerang, dan RS Hermina Depok pada bulan Desember 2019 sampai Februari 2022; dengan subjek penelitian 112 pasien. Setelah randomisasi sampel terstratifikasi, 48 pasien menjalani konstruksi FAV dengan PBA (intervensi) dan 64 pasien menjalani konstruksi FAV tanpa PBA (kontrol). Pengukuran meliputi intimal medial thickness (IMT) jukstaanastomosis, VF dan PSV draining vein 1, 2 dan 6 minggu pascaoperasi; kadar NO, kadar VEGF, kadar EMP pascaoperasi dan 2 minggu pascaoperasi serta maturitas FAV yang dievaluasi 6 minggu pascaoperasi. Terkait pandemi COVID-19, 32 pasien lost to follow-up dan 5 pasien kontrol dieksklusi karena trombus pada FAV sehingga subjek yang dianalisis 36 pasien intervensi dan 39 pasien kontrol.
Terdapat perbedaan bermakna antara grup kontrol dan intervensi pada maturitas, VF dan PSV draining vein 6 minggu pascaoperasi; kadar EMP 2 minggu pascaoperasi pada pasien PGTA yang menjalani operasi konstruksi FAV (Uji Mann Whitney U, p < 0,05). Tidak didapatkan perbedaan bermakna IMT jukstaanastomosis serta kadar NO dan VEGF antara kelompok kontrol dan intervensi (Uji Mann Whitney U, p > 0,05).
Simpulan: PBA meningkatkan maturitas FAV pada pasien PGTA yang menjalani operasi konstruksi FAV yang ditandai dengan peningkatan VF dan PSV draining vein hingga 6 minggu pascaoperasi tanpa memengaruhi ketebalan intima pada daerah jukstaanastomosis, kadar NO dan kadar VEGF. Terdapat peningkatan kadar EMP 2 minggu pascaoperasi pada FAV dengan PBA.

The preferred vascular access for hemodialysis for patients with end-stage renal disease (ESRD) is through the creation of a native arteriovenous fistula (AVF). The weakness of AVF is the relatively high maturation failure rate. Primary balloon angioplasty (PBA) is a dilation technique to assist AVF maturation. Traumatic AVF construction technique and diameter stretching of the vein lumen with balloons can cause focal injury to the venous endothelium which will eventually affect intimal hyperplasia and NO, VEGF and EMP levels which can negatively impact AVF maturation. This study aimed to determine the effect of PBA on intimal hyperplasia, levels of NO, VEGF, EMP and AVF maturation in patients with ESRD who underwent AVF construction surgery.
This study used a single-blind randomized clinical trial design at RSUPN Cipto Mangunkusumo, RSUPN Fatmawati, RSUD Kabupaten Tangerang, dan RS Hermina Depok in December 2019 until February 2022 with 112 subjects. With stratified sample randomization method, 48 patients underwent AVF construction with PBA (intervention), 64 patients underwent AVF construction without PBA (control). Measurements included jukstaanastomosis intimal medial thickness (IMT), VF and peak systolic value (PSV) draining veins 1, 2 and 6 weeks postoperatively; NO, VEGF, EMP levels postoperative and 2 weeks postoperative; and AVF maturation evaluated 6 weeks postoperatively. Regarding the COVID-19 pandemic, 32 patients lost to follow-up and 5 control patients were excluded because of thrombus in the AVF so that analysis was carried out on 75 subjects (36 intervention patients and 39 control patients).
There were significant differences between control and intervention groups in maturity, VF and PSV draining vein 6 weeks postoperatively; EMP levels 2 weeks postoperatively in ESRD patients undergoing AVF construction (Mann Whitney U, p < 0,05). There were no significant differences in jukstaanastomosis IMT; NO and VEGF levels between control and intervention groups (Mann Whitney U, p > 0.05).
Conclusion: PBA increases the maturity of the arteriovenous fistula in ESRD patients undergoing AVF construction surgery which is characterized by an increase in VF and PSV draining veins up to 6 weeks postoperatively without affecting the IMT in jukstaanastomosis area, NO and VEGF levels. There was an increase in EMP levels 2 weeks postoperatively in AVF with PBA.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aulia Jihan Miranda
"ABSTRAK
Cedera ginjal akut (acute kidney injury/AKI) merupakan salah satu penyakit ginjal dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada manusia. Salah satu kondisi yang tergolong dalam AKI adalah ischaemia-reperfusion injury (IRI), ditandai dengan terjadinya iskemia dan diikuti dengan reperfusi. Penetapan hewan model IRI diperlukan sebagai suatu metodologi untuk mensimulasikan perubahan patofisiologi yang terjadi dan mengamati tercapainya kondisi klinis IRI yang paling representatif. Penelitian ini membahas metode bedah bilateral renal-pedicle clamping untuk menginduksi terjadinya iskemia pada hewan model IRI dengan galur tikus Sprague-Dawley. Sebanyak 24 ekor hewan uji dikelompokkan menjadi dua berdasarkan waktu reperfusinya terlebih dahulu, yaitu 24 jam dan 14 hari. Kedua kelompok tersebut masing-masing dibagi kembali menjadi empat kelompok (n=3). Kelompok normal tidak diberi perlakuan bilateral renal-pedicle clamping, namun kelompok I, II, dan III diberi perlakuan tersebut dengan durasi clamping 15, 30, dan 45 menit secara berurutan. Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap perubahan parameter struktural ginjal dengan pengamatan histopatologi menggunakan pewarnaan PAS (periodic acid-Schiff). Parameter yang dinilai adalah tingkat keparahan cedera tubular yang terjadi. Hewan uji dari kelompok I, II, dan III menunjukkan membaiknya kondisi cedera pada waktu reperfusi 14 hari dari kondisinya pada waktu reperfusi 24 jam, dengan kelompok II yang menunjukkan perbedaan paling signifikan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa durasi clamping selama 30 menit menyebabkan tercapainya kondisi klinis IRI yang paling representatif dan menunjukkan pemulihan kondisi cedera yang paling signifikan dalam jangka waktu reperfusi 14 hari pada hewan model IRI.

ABSTRACT
Acute kidney injury (AKI) is a kidney disease with high levels of morbidity and mortality in humans. One condition that is classified as AKI is ischaemia-reperfusion injury (IRI), characterized by the occurrence of ischaemia and followed by reperfusion. Establishment of IRI animal models is needed as a methodology to simulate pathophysiological changes that occur and observe the achievement of IRI's most representative clinical conditions. This study discusses bilateral renal-pedicle clamping surgical method to induce ischaemia in IRI model animals with the Sprague-Dawley mouse strain. A total of 24 animals were grouped into two based on their reperfusion time, 24 hours and 14 days. The two groups are each subdivided into four groups (n=3). Normal groups were not treated with bilateral renal-pedicle clamping but group I, II, and III were given the treatment with clamping duration of 15, 30, and 45 minutes respectively. Then, analysis of renal structural parameters changes was performed with histopathological observation using PAS (periodic acid-Schiff) staining. Parameter to be assessed is the severity of tubular injury. Animals from group I, II, and III showed an improvement in injury condition at the reperfusion time of 14 days from their condition at reperfusion time of 24 hours, with group II showing the most significant difference. It can be concluded that the clamping duration of 30 minutes leads to the achievement of the most representative clinical IRI conditions and shows the most significant recovery of injury conditions within the 14-day reperfusion period in IRI animal models."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>