Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 20 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yetti Muthiah
"American Venous Forum Commitee dari tahun 2000 ndash; 2011 terus mengembangkan sistem skoring penilaian derajat keparahan penyakit vena yang praktis bernama Venous Clinical Severity Score VCSS , namun di Indonesia, instrument VCSS hingga saat ini belum pernah dilakukan validasi. Penelitian ini adalah uji diagnostik skoring VCSS dengan membandingkan pemeriksaan penyakit vena menggunakan skoring VCSS oleh dokter umum dibandingkan dengan pemeriksaan klinis CEAP oleh dokter spesalis vaskuler sebagai baku emasnya. Penelitian dilakukan di perusahaan garmen di Jakarta Utara pada bulan Oktober dengan nilai sensivitas 87,5 , spesifitas 96,3 , nilai duga positif 83,3 dan nilai duga negatif 97,3 . Dari Hasil analisis kurva ROC nilai Area Under the Curve AUC sebesar 94,9 sangat baik. Faktor risiko paling dominan terhadap kejadian IVK pada pekerja wanita dengan posisi kerja berdiri adalah masa kerja lebih dari 1 tahun dengan.

The American Venous Forum Commitee from 2000 2011 continues to develop a practice scoring system on the severity of venous disease called Venous Clinical Severity Score VCSS , but in Indonesia, this VCSS instrument, until now has never been validated. This study is a VCSS scoring diagnostic test which compere the examination CVI using VCSS by general practitioner and using clinical class of CEAP by vascular specialist as gold standard. Based on the research, the VVTB diagnostic test by using VCSS score was 87.5 sensitivity, 96.3 specificity, 83.3 positive predictive value and 97.3 negative predictive value. From ROC curve analysis, the value of Area Under the Curve AUC is 94.9 which means very good. The most dominant risk factors for the occurrence of CVI in female workers with standing positions were more than 1 year with p
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hardito Puspo Yugo
"Latar Belakang: Afasia merupakan sindroma klinis gangguan fungsi bahasa dimana terdapat gangguan pada pusat bahasa di hemisfer dominan.3 Tes Afasia untuk Diagnosis, Informasi dan Rehabilitasi (TADIR) hingga saat ini belum pernah dilakukan uji diagnostik, dan tidak jarang dari hasil pemeriksaan didapatkan ketidakcocokan hasil tipe afasia dengan memperhitungkan skor dalam TADIR dibandingkan dengan pemeriksaan langsung oleh ahli Neurobehavior. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perbedaan proporsi tipe afasia berdasarkan hasil pemeriksaan TADIR dibandingkan ekspertise ahli Neurobehavior.
Metode: Jenis penelitian retrospektif dengan populasi penelitian rekam medis dengan diagnosis afasia di Poliklinik Neurologi Fungsi Luhur RSUP Nasional Dr.Cipto Mangunkusumo, periode Januari 2019-Juni 2022. Metode yang digunakan consecutive sampling dan analisis data menggunakan SPSS.
Hasil: Sensitivitas dan spesifisitas TADIR subtes A yakni 97,6% dan 21%. NDP dan NDN TADIR subtes A yakni 88,9% dan 57,1%. Subtes B sensitivitas dan spesifisitas tertinggi 77,7% dan 100%. NDP dan NDN tertinggi subtes B 100% pada 12,5% subjek dan 98,2% pada 2 % subjek, aktualisasi nilai kurang baik.
Kesimpulan: TADIR dibutuhkan sebagai tujuan skrining afasia bukan bertujuan sebagai alat diagnostik. Diperlukan instrumen baru yang dapat menggantikan TADIR subtes B dengan hasil uji diagnostik, serta uraian tugas dan algoritma yang lebih baik sehingga dapat membantu klinisi dalam menegakkan diagnosis afasia dan khususnya tipe afasia.

ackground: Aphasia is a clinical syndrome of impaired language function with impairment of the language center in the dominant hemisphere.3 The Aphasia Test for Diagnosis, Information and Rehabilitation (TADIR) has not yet been carried out as a diagnostic test, and it is not uncommon for the examination results to show discrepancies in the results of the type of aphasia taking into account the score in TADIR compared to direct examination by a Neurobehavior expert. The purpose of this study was to determine the difference in the proportion of aphasia types based on the results of the TADIR examination compared to the expertise of neurobehavior experts.
Method: A retrospective with medical record research population with a diagnosis of aphasia at the Neurology Polyclinic of Superior Function Dr.Cipto Mangunkusumo National Hospital, period January 2019-June 2022. The method used was consecutive sampling and data analysis using SPSS. Result: The sensitivity and specificity of TADIR subtest A were 97.6% and 21%, respectively. PPV and NPV TADIR subtest A are 88.9% and 57.1%. Subtest B highest sensitivity and specificity 77.7% and 100%. The highest PPV and NPV in subtest B was 100% in 12.5% ​​of subjects and 98.2% in 2% of subjects, the actual score was not good.
Conclusion: TADIR is needed for aphasia screening purposes, not as a diagnostic tool. A new instrument is needed that can replace the TADIR subtest B with diagnostic test results, as well as better job descriptions and algorithms so that they can assist clinicians in establishing the diagnosis of aphasia and especially the type of aphasia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erna Swadesi
"Di negara berkembang termasuk Indonesia, setiap tahun lebih dari 11 juta anak memnggal sebelum mereka berusia lima tahun, dan terbanyak meninggal sebelum berusia satu tahun. Tujuh dari sepuluh kematian balita disebabkan diantaranya oleh (ISPA) terutama pnemonia. WHO dan UNICEF mengembangkan suatu strategi yang disebut Integrated Management of Childhood Illness (MCI) dan di Indonesia diadopsi menjadi Manajemen Terpadu Balita Sakit ( MTBS ). Pada tahun 2001 Propinsi Riau mulai melakukan uji coba penerapan MTBS di dua kabupatenl kota yaitu Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru Berdasarkan basil evaluasi pendekatan MTBS, di Puskesmas Rumbai pada tahun 2001, cakupan pnemonia meningkat sangat tinggi yaitu 15 kali lipat dari sebelumnya, artinya selama ini banyak kasus pnemonia di masyarakat yang tidak terdeteksi, dan dengan algoritma MTBS kasus pnemonia dapat ditemukan.
Tujuan dari penelitian ini untuk menilai validitas dan reliabilitas dari algoritma MTBS dalam mendiagnostik pnemonia dengan menghitung sensitifitas, spesifisitas, nilai duga positif, rasio kemungkinan, dan kesesuaian kappa Cohen.
Metodologi adalah penelitian diagnostik dengan rancangan penelitian krosseksionaI analitik . Subyek penelitian adalah balita sakit dengan batuk dan kesukaran bemafas, berumur 2 - 59 bulan yang datang berobat ke RSUD Pekanbaru, selama saw bulan yaitu Januari 2003. Setiap subyek diperiksa oleh lima pemeriksa yaitu perawatl,2, dokter 1,2, dan dokter spesialis anak sebagai gold standard, dan berdasarkan pemeriksaan dokter anak ditentukan apakah anak perlu dilakukan pemeriksaan foto thorak atau tidak.
Hasil : Dad 112 balita yang diperiksa terdapat laki-laki 59 ( 50,9 %) dan perempuan 53 ( 49,1 % ), umur rata-rata adalah 24 bulan, dirnana umur terendah adalah umur 2 bulan dan tertinggi adalah 59 bulan. Dan 1 12 balita yang diperiksa sebanyak 63 balita di foto thorak berdasarkan pennintaan dokter spesialis anak kemudian didiagnosis sebagai pnemonia 58 balita dan 5 batuk bukan pnemonia_Klasifikasi pnemonia berdacarkan algoritma MTBS yang dilakukan oleh perawat 1,2 dan dokter 1,2 yang dibandingkan dengan gold standard adalah sebagai berikut :
Sensitivitas : 78 % (CI 65,1 -- 86,4 %), 76 % (CI 63,5 - 85,0 %), 81 % (CI 69,1- 89,1 %) and 78 % (CI 65,3 - 86,4 %).
Spesifisitas: 89 % (CI 77,8 - 94,8 %), 89 % (CI 77,8 - 94,8 %), 91 % (CI 80,1 - 96,0 %) and 94 % (CI 84,9 - 98,1 %).
Nilai duga positif : 88 % (CI 76,6 - 94,5 %) 88 % (CI 76,2 - 94,4 %), 90 % (CI 79,4 - 95,8 %) and 94 % (CI 83,2 - 97,9 %).
Nilai dugs negatif : 79 % (Cl 66,9 -- 87,1 %), 77 % (CI 65,6 - 86,0 %), 82 % (Cl 70,1-89,4 % ) and 80 % (CI 68,3 - 87,7 %).
Rasio kemungkinan : 7,0 9 % (CI 3,2 - 15 %), 6,90 % (CI 3,1 - 14,7 %), 9 % (CI 3,7 --20,3) and 13 % (CI 4,6 -- 42,3).
Nilai Kappa Cohen : 0.66, 0,64, 0,72 dan 0,72 (p< 0.0001).
Kesimpulan algoritma MTBS dapat digunakan dengan cukup akurat untuk menjaring kasus pnemonia baik oleh perawat maupun dokter, sehingga pendekatan. MTBS valid dan reliabel dalam mendiagnosis pnemonia. Algoritma MTBS sangat bermanfaat bila digunakan pada daerah dengan sumber daya yang kurang.

Diagnostic Test of The Integrated Management of Childhood Illness (INICI) for Diagnosing Pneumonia in The General Hospital of Pekanbaru, 2003In the developing countries, every year more than 11 million children die before they reach their fifth birthday. Many of them die before the first year of life. Seven out of ten of these deaths are due to acute respiratory infections (mostly pneumonia), diarrhea, measles, malaria or malnutrition and the death is often clued to a combination of these conditions. Both WHO and UNICEF had developed the Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) approach, which was then adopted in Indonesia in 1997. In 2001, the Province of Riau started to implement the IMCI approach in two districts namely: Kampar and City of Pekanbaru.
Based on a monitoring of the IMCI approach in Puskesmas ( Public Health Centre) Rumbai Pekanbaru, pneumonia cases was found to be very high, i.e 15 times larger than that of the previous number. This data suggests that there are likely many pneumonia cases which are not detected in the community.
The objectives of study were to asses .the validity of the algorithm of the IMCI for diagnosing pneumonia by calculating its sensitivity, specificity, predictive values and likelihood ratio. In addition, it was also to asses the reliability of algorithm of the IMCI for diagnosing pneumonia by estimating the inter-observer agreement.
The method of the study was a diagnostic study using a cross-sectional design. The sample of the study were under-five children (aged 2-59 months) coming to General Hospital of Pekanbaru with complain of cough and difficult breathing. Data collection took place from January to February, 2001 Each subject was examined by 5 examiners: 2 nurses, 2 general physicians (GP) and 1 pediatrician. Based on pediatrician examination, the chest X-ray was then made. The result of the examination of the pediatrician was used as a gold standard. In addition, results of the x Ray was examined by a radiologist. This result is also considered for gold standard.
A total of 1 12 children were assessed 59 (50,9 %) boys and 53 (49,1 %) girls, with a median age of 24 months ( the age was range, 2 to 59 months ). A total of 63 children underwent a chest x - ray and the results showed 58 pneumonia and 5 No pneumonia. The classification of the pneumonia done by both the nurse 1,2 and General Physician 1,2 were compared with the gold standard.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T12668
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tammy Nurhardini
"ABSTRAK
Kanker kolorektal menempati urutan ketiga terbanyak dari kasus kanker pada laki-laki
dan menempati urutan kedua pada wanita di seluruh dunia. Karakteristik enzimatik
kanker kolorektal menunjukkan adanya peningkatan enzim M2PK tumor. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi pemeriksaan M2PK tumor pada feses pasien tersangka
keganasan kolorektal dibandingkan dengan pemeriksaan histopatologi sebagai baku
emas, menggunakan nilai titik potong baru dan nilai titik potong berdasarkan manufaktur.
Desain penelitian adalah desain potong lintang dengan penyajian data secara deskriptif
analitik. Subjek penelitian terdiri dari 86 pasien dewasa yang menjalankan kolonoskopi.
Pemeriksaan M2PK tumor pada feses dilakukan menggunakan kit ScheBo Tumor M2-
PK Stool Test dengan metode ELISA. Proporsi M2PK tumor pada feses pasien
tersangka kanker kolorektal pada penelitian ini didapatkan sebesar 72,09%. Nilai titik
potong baru untuk pemeriksaan M2PK tumor didapatkan sebesar 14,18 U/ml dengan
sensitivitas 59,26%, spesifisitas 59,32%, NPP 40,00% dan NPN 76,09%. Hasil uji
diagnostik menggunakan nilai titik potong M2PK berdasarkan manufaktur (≥4 U/ml)
didapatkan sensitivitas 92,59%, spesifisitas 37,29%, NPP 40,32%, dan NPN 91,67%.
Berdasarkan hasil tersebut, maka pemeriksaan M2PK tumor pada feses dengan nilai titik
potong 4 U/ml dapat digunakan, terutama sebagai uji penapisan (screening) kanker
kolorektal, sedangkan pemeriksaan M2PK sebagai uji diagnostik kanker kolorektal masih
membutuhkan penelitian lebih lanjut."
2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Retno Sawitri
"Pemeriksaan toksikologi forensik terdiri dari pemeriksaan kualitatif dan kuantitatif. Pemeriksaan menggunakan metode Biochip Array Technology merupakan metode baru dengan teknologi nano digunakan untuk pemeriksaan toksikologi forensik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai diagnostik pemeriksaan morfin dan benzodiazepin menggunakan metode tersebut. Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang (Cross sectional), dengan sampel penelitian adalah seorang laki-laki atau perempuan berusia diatas 18 tahun sejumlah 20 orang yang diambil dengan cara Consecutive sampling pada bulan September 2014 di Puskesmas Johar Baru, Jakarta Pusat. Dari sampel tersebut yang diperiksa dengan GC/MS, 4 sampel terdeteksi positif morfin, dan 3 sampel terdeteksi benzodiazepin. Pemeriksaan dengan metode Biochip Array Technology, 4 sampel positif morfin, dan 6 sampel terdeteksi positif benzodiazepin. Hasil analisa uji diagnostik menunjukkan bahwa pemeriksaan morfin menggunakan metode tersebut memiliki sensitivitas sebesar 100 %, spesifisitas 100 %, nilai duga positif 100 % dan nilai duga negatif 100 %. Hasil uji diagnostik pemeriksaan benzodiazepin menggunakan metode tersebut adalah sensitivitas 100 %, spesifisitas 82,35%, nilai duga positif 50 % dan nilai duga negatif 100 %. Dapat disimpulkan bahwa metode ini sangat baik digunakan untuk pemeriksaan morfin sedangkan untuk pemeriksaan benzodiazepine kurang baik.

Forensic toxicology examination consists of a qualitative and quantitative examination. Biochip Array Technology is a new method with nanotechnology used for Forensic toxicology examination. The aim is to know the identificcation value of Biochip Array Technology diagnostic test to forensic toxicology examination of Morphine and benzodiazepine in urine. Cross Sectional diagnostic study was applied to those who are male or female aged over 18 years old, 20 samples were taken consecutively in Agustus 2014 from primary health centres of Johar Baru, Jakarta Pusat. From these samples using the GC/MS, 4 samples are positive morphine, 3 samples are positive benzodiazepine. From Biochip Array Technology Examination, 4 samples are positive morphine, 6 samples are positive benzodiazepine. Diagnostic test analysis in morphine examination showed that Biochip Array Technology revealed 100 % sensitivity, 100 % specificity, 100 % positive predictive value, and 100 % negative predictive value. Diagnostic test analysis in benzodiazepine examination showed that Biochip Array Technology revealed 100 % sensitivity, 82,35 % specificity, 50 % positive predictive value and 100 % negative predictive value. It can be concluded that this method is reliable in morphine examination but only if the sample is controlled, while for benzodiazepine examination, this method is not reliable.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irma Suryati
"Latar belakang. Karsinoma nasofaring merupakan penyakit yang masih menempati urutan tertinggi di negara berkembang seperti Indonesia. Kasus baru karsinoma nasofaring di poli Onkologi THT RSUPN Cipto Mangunkusumo pada tahun 2014 sebanyak 164 kasus, dan pada tahun 2015 sekitar 142 kasus, namun sayangnya hampir seluruh kasus sudah datang pada stadium lanjut. Keberhasilan terapi karsinoma nasofaring sangat ditentukan oleh stadium saat pasien terdiagnosis, sehingga sangat penting mendiagnosis KNF sedini mungkin. Narrrow band imaging merupakan alat endoskopi dengan sistem pencahayan yang dapat meningkatkan visualisasi pembuluh darah tumor ganas yang mengenai epitel mukosa.
Tujuan. NBI diharapkan dapat membantu para klinisi untuk menilai lesi ganas atau tidak sehingga perlu diketahui nilai sensitifitas dan spesifisitas NBI.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang berupa uji diagnostik yang dilakukan di Unit Rawat Jalan Terpadu THT-KL RSUPN Cipto Mangunkusumo Januari-Juni 2016 dengan melibatkan 56 subjek. Subjek dengan kecurigaan karsinoma nasofaring dan ditemukan massa nasofaring berdasarkan pemeriksaan fisik atau pencitraan akan dimasukkan sebagai subjek dan dilakukan pemeriksaan NBI dan dilakukan biopsi lokal.
Hasil. Berdasarkan penelitian ini dapat dibuat kesimpulan bahwa NBI dapat digunakan sebagai alat penapisan karsinoma nasofaring dengan nilai sensitifitas yang tinggi (100%) walaupun nilai spesifisitasnya rendah (6,7%).

Background. Nasopharyngeal carcinoma is a disease with the highest rank in developing countries like Indonesia. New cases of nasopharyngeal carcinoma in ENT Oncology outpatient clinic Cipto Mangunkusumo hospital in 2014 was 164 cases, and in 2015 around 142 cases, but unfortunately almost all cases has come at an advanced stage. The success of nasopharyngeal carcinoma treatment is largely determined by the stage when patients are diagnosed, it is important to diagnose NPC as early as possible. Narrow band imaging (NBI) is an endoscopic instrument with a light system that can improve the visualization of blood vessels on the mucosal epithelium malignant tumors.
Aim. NBI is expected to help clinicians to assess whether a lesion is malignant or not, it is important to know the value of sensitivity and specificity.
Methode. This study is a cross-sectional form of a diagnostic test which was performed in the Outpatient Clinic ENT-Head and Neck Surgery Department Cipto Mangunkusumo Hospital from January to June 2016, where 56 subjects were involved. Subjects with nasopharyngeal mass discovered by physical examination or imaging and suspected nasopharyngeal carcinoma will be included as a subject and NBI examination and biopsy was performed locally.
Result. Based on this research, NBI could be used as a screening tool for nasopharyngeal carcinoma with high sensitivity (100%) though with low specificity result (6,7%).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Prima Intan Sari
"Suatu model kuesioner telah dikembangkan oleh Suarthana dkk. untuk membantu penetapan keputusan klinis terhadap individu dimana terjadinya asma kerja dan memiliki akurasi yang baik pada pengembangannya di Canada. Kuesioner tersebut belum pernah diujicobakan pada populasi pekerja di Indonesia.
Metode
Penelitian ini dilakukan pada industri kayu di daerah Depok. Rancangan penelitian melului 2 tahap yaitu studi transkultural berupa uji validasi dan uji reliabilitas kuesioner Suarthana dkk. kemudian tahap kedua berupa uji diagnostik. Sampel yang digunakan adalah total sampel berjumlah 168 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pengisian data umum, pengisian kuesioner Suathana dkk. pemeriksaan APE dan analisis data dengan Program SPSS.
Hasil
Didapatkan hasil uji validasi dengan nilai r > 0,861 dan uji reliabilitas dengan nilai koefisien Alpha Cronbach > 0,6 yang berarti kuesioner Suarthana dkk. valid dan reliable. Hasil uji diagnostik kuesioner Suarthana dkk. didapatkan sensitivitas 81,81%, spesifisitas 60,90%, nilai duga positif34,18%, nilai duga negatif 93,10%, rasio kemungkinan positif 2,10, rasio kemungkinan negatif 0,29.
Kesimpulan
Kuesioner Suarthana dkk. memiliki akurasi yang baik sebagai alat skrining asma kerja di Indonesia

Background
A model quetionnare has been developed by Suarthana et all to help clinical decision setting where the occurrence of occupational asthma and has been a high accuracy in Canada. The questionnaire has not been tested among Indonesian workers.
Method
The study was done on wood’s industrial an area depok. The research methods consists of two stages. The first is transkulrural study and the second is diagnostic test. The total sample is 168 workers. The data collection done with an interview, answer Suarthana questionnaire, peak flow expiratory and the data analysis with SPSS Program.
Results
The value of validation test is r > 0,861 and the reliability test have Alpha Cronbach > 0,6 wich means the Suarthana questionnaire is valid and reliable. The diagnostic test of Suarthana questionnaire acquired value of sensitivity 81,81%, specificity 60,60%, positive predictive value 34,18%, negative predictive value 93,10%, positive likelihood ratio 2,10, negative likelihood ratio 0,29.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fatih Anfasa
"Latar belakang: Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit infeksi terpenting di berbagai negara tropis dan subtropis. Kebocoran plasma merupakan salah satu penanda infeksi dengue berat. Namun, beberapa metode diagnostik kebocoran plasma yang direkomendasikan oleh WHO memiliki berbagai kekurangan untuk digunakan dalam praktik klinis sehari-hari. Endokan merupakan proteoglikan yang diproduksi oleh sel endotel yang teraktivasi. Studi pada pasien sepsis dan Coronavirus Disease-19 (COVID-19) memperlihatkan bahwa kadar protein ini dapat digunakan sebagai penanda disfungsi endotel dan faktor prognostik infeksi berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi endokan sebagai penanda kebocoran plasma pada infeksi DBD. Metode: Penelitian ini dilakukan secara kohort retrospektif menggunakan data sekunder dari penelitian International Study on Biomarkers and Gene Expression Patterns in Patients with Dengue Virus Infection (INVEST) yang diambil pada tahun 2010-2011 di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Endokan diperiksa menggunakan teknik ELISA. Uji diagnostik kebocoran plasma dilakukan menggunakan ultrasonografi (USG) sebagai baku emas. Nilai titik potong endokan sebagai penanda kebocoran plasma dilakukan menggunakan kurva Receiver Operating Characteristic (ROC). Uji korelasi dilakukan terhadap nilai hematokrit, delta hematokrit, dan albumin dengan endokan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan GraphPad Prism versi 5.0 untuk Windows dan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 28. Hasil: Terdapat 64 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan terdiri atas 31 pasien demam dengue (DD) dan 33 pasien demam berdarah dengue (DBD). Terdapat perbedaan bermakna untuk parameter endokan, albumin, trombosit dan nilai delta hematokrit antara kelompok DD dan DBD. Didapatkan area under the curve (AUC) 0,83 (95% interval kepercayaan: 0,73-0,93). Endokan dengan nilai titik potong 1,63 ng/mL dapat digunakan sebagai penanda kebocoran plasma, dengan angka sensitivitas 66,7%, spesifisitas 90,3%, nilai prediksi positif (NPP) 88%, dan nilai prediksi negatif (NPN) 71,8%. Terdapat korelasi negatif antara nilai endokan dan albumin pada fase kritis infeksi dengue (r: -0,4; p: 0,001). Tidak terdapat korelasi antara kadar endokan fase kritis dengan hematokrit (r: 0,12; P=0,36) dan delta hematokrit (r: 0,16; P=0,21). Kesimpulan: Endokan dengan nilai titik potong 1,63 ng/mL memberikan angka sensitivitas 66,7%, spesifisitas 90,3%, NPP 88%, dan NPN 71,8 sebagai penanda kebocoran plasma. Terdapat korelasi negatif antara nilai endokan dan albumin pada fase kritis infeksi dengue.

Background: Dengue is one of the most important infectious diseases in tropical and subtropical countries. This disease is caused by dengue virus (DENV). Plasma leakage is one of the most important clinical manifestations of severe dengue. However, there are shortcomings of various diagnostic methods that have been recommended by WHO to be used in daily clinical practice. Endocan is a proteoglycan produced by activated endothelial cells. Studies in patients with sepsis and Coronavirus Disease-19 (COVID-19) showed that endocan levels can be used as a marker of endothelial cell dysfunction and prognostic factors for severe disease. This study aims to evaluate endocan as a marker of plasma leakage in dengue infection. Methods: The design of this study was retrospective cohort. Secondary data from the International Study on Biomarkers and Gene Expression Patterns in Patients with Dengue Virus Infection (INVEST) that was performed from 2010-2011 at Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta were used. Endocan levels were determined with ELISA test. Plasma leakage diagnosis was performed with ultrasonography (USG) as the gold standard. Receiver Operating Characteristic (ROC) curve was performed to determine endocan cut-off level to detect plasma leakage. Correlation tests were performed on hematocrit, delta hematocrit, and albumin levels with endocan. Data analyses were performed with GraphPad Prism versi 5.0 for Windows and SPSS version 28. Results: 64 patients fulfilled the inclusion and exclusion criteria. There were 31 patients with dengue fever (DF) and 33 patients with dengue hemorrhagic fever (DHF). We observed significant differences of endocan, thrombocyte, hematocrit, delta hematocrit, and albumin levels between DF and DHF patients. The area under the curve (AUC) was 0.83 ((95% confidence interval (CI): 0.73-0.93). Endocan with a cut off value of 1.63 ng/mL can be used as a marker for plasma leakage with a sensitivity of 66.7%, a specificity of 90.3%, a positive predictive value (PPV) of 88%, and a negative predictive value (NPV) of 71.8%. There was a negative correlation between endocan and albumin levels in the critical phase of dengue (r: -0,4; p: 0,001). There was no significant correlation (r: 0.12; P=0.36) between the endocan and hematocrit values in the critical phase of dengue infection and the critical phase values of endocan with delta hematocrit (r: 0.16; P=0.21). Conclusion: Endocan with a cut point value of 1.63 ng/mL can be used as a marker for plasma leakage with a sensitivity value of 66.7%, a specificity of 90.3%, a PPV of 88%, and a NPV of 71.8%. There was a negative correlation between endocan and albumin values in the critical phase of dengue infection."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Witri Narhadi
"Perlakuan salah terhadap anak merupakan masalah serius yang berkaitan dengan konsekuensi yang Iuas baik secara organik maupun psikologis. Beberapa penelitian mengaitkan riwayat perlakuan salah terhadap anak dengan perilaku delinkuensi pada remaja dan kriminal pada dewasa. Dilakukan penelitian untuk mendapatkan instrumen yang dapat untuk mengetahui adanya perlakuan salah terhadap anak, di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang pada bulan April 2004 sampai dengan Juni 2004.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Childhood Trauma Questionnaire (CfQ) cukup sahih dan terpercaya untuk menentukan adanya riwayat perlakuan salah terhadap anak pada remaja pria.
Metode : Uji validitas dan reliabilitas CTQ dilakukan terhadap 100 remaja pria delinkuen penghuni Lembaga pemasyarakatan Anak Pria Tangerang, dan remaja pria bukan delinkuen pelajar SMP di daerah perkotaan padat di Jakarta. Validasi dilakukan dengan uji valitidas konstruksi dan uji validitas diskriminan. Sementara uji reliabilitas dilakukan dengan uji konsistensi internal dengan menilai cronbach's alpha, dan uji berpasangan untuk menilai reliabilitas intrarater. Penelitian juga menentukan nilai ambang batas terbaik, spesifisitas, dan sensitivitas CTQ.
Hasil: Hasil uji validitas konstruksi dengan analisis faktor terdapat 2 butir pertanyaan mempunyai korelasi lemah. Hasil uji validitas diskriminan menunjukkan seluruh komponen CTQ mampu membedakan antara 2 kelompok responden (p:0,001-0,046). Uji konsistensi internal menunjukkan menilai cronbath's alpha yang baik (0.722-0.907). Reliabilitas intrarater yang dilakukan dengan test retest dengan interval waktu 8 minggu menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna (p>0,05). Spesifisitas CTQ cukup memuaskan (76-92%), sementara sensitivitas CTQ kurang (40-49%).
Kesimpulan : Childhood Trauma Questionnaire sahih dan terpercaya untuk digunakan di lingkungan remaja pria. Hasil uji spesifisitas dan sensitivitas menunjukkan bahwa CTQ bukan merupakan alat diagnostik melainkan sebagai alat skrining terhadap adanya riwayat perlakuan salah terhadap anak, sehingga hasil positif perlu ditindaklanjuti dengan penilaian klinis. Pada instrumen ini masih terdapat beberapa pertanyaan yang memerlukan perbaikan agar lebih mencerminkan perlakuan salah terhadap anak Penggunaan pada remaja wanita perlu penelitian lanjut."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suriani Alimuddin
"Background: nowadays, specific IgE measurement has been conducted in Indonesia, however there is still lack of data regarding diagnostic test to detect inhalant allergen in patients with respiratory allergies.This study aimed to determine the accuracy of specific IgE test in diagnosing specific sensitization of inhalant allergen in patients with respiratory allergies.
Methods: this was a cross sectional study in patients with respiratory allergies and part of epidemiology study regarding to specific IgE sensitization in Allergy-Immunollogy Division, Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta within November-December 2016. Measurement of specific IgE sensitization using Immunoblot method (Euroline, Euroimmun AG, Germany). The tested allergen is house dust mites Dermatophagoides pteronyssinus (Der p), Dermatophagoides farinae (Der f), Blomia tropicalis (Blo t) and cockroach Blatella germanica (Bla g). The result is compared with gold standard, skin prick test. The diagnostic result includes sensitivity, specificity, positive predictive value (PPV), negative predictive value (NPV), positive likelihood ratio (LR+), and negative likelihood ratio (LR-).
Results: a total of 101 patients were enrolled; 77 (76.2%) were women. Patients mean age was 38.8 years old. Based on SPT, sensitization was highest for Blo t (76.2%), followed by Der p (70.3%), Der f (69.3%), and Bla g (41.6%). Specific IgE-sensitization was highest for Der f (52.9%), followed by Der p (38.2%), Blo t (33.3%) and Bla g (10.8%). Der p allergen had 50.7% sentivity, 90% specificity, 92.3% PPV, 43.5% NPV, 5.1 LR+ and 0.1LR-. Der f showed 71.4% sensitivity, 87.1% specificity, 82.6% PPV, 57.4% NPV, 5.5 LR+ and 0.3 LR-. Blo t allergen had 41.6% sensitivity, 91.7% specificity, 94.1% PPV, 32.8% NPV, 5.0 LR+, and 0.6 LR-. Bla g allergen had 23.8% sensitivity, 98.3% specificity, 90.9% PPV, 64.4% NPV, 14.5 LR+ and 0.8 LR-.
Conclusion: serum specific IgE testing to common inhalant allergen in patients with respiratory allergy showed only low-to-moderate sensitivity, but high specificity and PPV. This new assay can be used to diagnose allergen sensitization in the population with high prevalence of TDR and cockroach.
"
Jakarta: Faculty of Medicine University of Indonesia, 2018
610 UI-IJIM 50: 2 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>