Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 9 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Radinta Safa Maharani
"Autoclaved Aerated Concrete (AAC) merupakan bahan bangunan ramah lingkungan yang berfungsi sebagai alternatif bahan baku bangunan. AAC dibuat dengan memanfaatkan kembali limbah konstruksi untuk meminimalkan jumlah puing yang dihasilkan oleh industri konstruksi. Manufaktur AAC adalah salah satu perusahaan terkemuka dalam produksi produk baru ini. Untuk memastikan produksi yang stabil dan efisien dengan kegagalan minimal, diperlukan manajemen risiko yang efektif. House of Risk (HOR), metode yang diadaptasi dari Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan House of Quality (HOQ), adalah metode manajemen risiko yang berfokus pada identifikasi tindakan pencegahan. Penilaian risiko dilakukan dengan mengidentifikasi risiko yang terjadi dalam proses bisnis melalui pendekatan eksternal menggunakan analisis PESTLE dan pendekatan internal menggunakan Supply Chain Operational Reference (SCOR). Selanjutnya, dilakukan penilaian terhadap nilai keparahan dan tingkat kejadian. Hasil dari House of Risk 1 menunjukkan 28 kejadian risiko dengan 27 agen risiko. Dengan mengikuti aturan Pareto, diperoleh 10 agen risiko yang diprioritaskan. House of Risk 2 mengidentifikasi 14 strategi mitigasi risiko yang diusulkan untuk mengurangi agen risiko tersebut. Melalui perhitungan, ditemukan bahwa 3 tindakan mitigasi memiliki nilai efektivitas tertinggi. Ketiga strategi mitigasi risiko ini disarankan untuk memastikan efektivitas proses bisnis yang dicapai.

Autoclaved Aerated Concrete, an environmentally friendly brick that act as an alternative raw material for buildings. It is built by reusing construction waste to minimize the increasing number of debris generated by the construction industry. AAC Manufacturer is one of the leading enterprise in the production of the emerging product. To ensure the stable and efficient production with minimum failures, a risk management is needed. House of Risk (HOR), a method adopted from the Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) and House of Quality (HOQ) is a method of risk management focusing on identifying preventive actions. The risk assessment is conducted by identifying the risks occurring in the business process through external approach using PESTLE analysis and internal approach using Supply Chain Operational Reference (SCOR) approach. Then, an assessment of assessing the severity value and occurrences rate is carried out. The results of House of Risk 1 shows 28 risk events with 27 risk agents. By following the Pareto rule, 10 prioritized risk agents are obtained. The House of Risk 2 identified 14 proposed risk mitigation strategies to mitigate the risk agents. Through the calculation, it was found that 3 mitigation actions holds the highest value of effectiveness. These 3 risk mitigation strategies is suggested to ensure the achieved business process effectiveness."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Naufal Setiawan
"Manajemen Risiko adalah metode yang fungsional dalam rantai pasok untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengendalikan risiko guna meningkatkan resiliensi terhadap gangguan (disruption). Dalam penelitian ini, metode House of Risk (HOR), yang diadopsi dari Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Quality Function Deployment (QFD), digunakan untuk meningkatkan resiliensi rantai pasok perusahaan manufaktur elektronika, di Gudang Material Print Circuit Board (PCB). Langkah pertama adalah mengidentifikasi potensi risiko dengan HOR 1, yang melibatkan diskusi dengan ahli dan studi literatur. Hasilnya, 18 dari 43 potensi risiko relevan terjadi di gudang. Wawancara lebih lanjut menentukan nilai severity dari 18 kejadian risiko dan nilai occurrence dari 27 agen risiko. Analisis Pareto dari HOR 1 mengidentifikasi 13 agen risiko prioritas, dimana 2 terbesar ialah ketidaksesuaian kualitas material dari supplier dan kesalahan pekerja dalam menyortir barang. HOR 2 mengidentifikasi 8 dari 13 langkah preventif yang prioritas dengan Analisis Pareto. Kemudian, dirancangkan 3 aksi mitigasi final yang mencakup 8 aksi mitigasi prioritas, yaitu standarisasi prosedur penyimpanan dan program pelatihan pembacaan dokumen secara berkala, integrasi Warehouse Management System (WMS) dengan visualisasi data material dengan dashboard sistem informasi, dan pemeliharaan dan pemantauan keterbaruan dan sinkronisasi dari server dan WMS dengan aplikasi infrastruktur pendukung IT yang mencakup resiliensi internal, konsumen, dan supplier.

Risk Management is a crucial method in the supply chain to identify, analyze, and control risks, enhancing resilience in disruption threat. The House of Risk (HOR) method, adopted from Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) and Quality Function Deployment (QFD), is used to increase supply chain resilience for electronics manufacturing companies, particularly in Print Circuit Board (PCB) Material Warehouses. The process begins with identifying potential risks through HOR 1, involving expert discussions and literature reviews. This revealed that 18 out of 43 potential risks were relevant to the warehouse. Further interviews assessed the severity of these 18 risk events and the occurrence of 27 risk agents. Pareto analysis of HOR 1 identified 13 priority risk agents, with the largest being material quality discrepancies from suppliers and worker errors in sorting goods. HOR 2 then identified 8 of the 13 priority preventive steps. Finally, three main mitigation actions were designed: standardizing storage procedures and regular document training, integrating the Warehouse Management System (WMS) with material data visualization and information system dashboards, and maintaining and monitoring server and WMS updates and synchronization with IT infrastructure. These actions enhance internal, consumer, and supplier resilience."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Qanitah Salsabila
"Industri alat kesehatan di Indonesia memiliki potensi yang menjanjikan dengan perkembangannya yang meningkat cepat. Pertumbuhan produsen dan distributor pada industri ini menunjukkan bahwa persaingan semakin kompetitif sehingga mendorong perusahaan di dalamnya untuk bekerja lebih efektif. PT. XYZ merupakan salah satu perusahaan distributor alat kesehatan di Indonesia. Saat ini, terdapat beberapa risiko di dalam rantai pasok gudang sentral PT. XYZ. Oleh karena itu, diperlukan sebuah manajemen risiko rantai pasok menyeluruh dalam gudang sentral PT. XYZ sebagai tindak pencegahan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi agen risiko prioritas pada gudang sentral PT. XYZ serta menentukan rekomendasi mitigasi risiko prioritas untuk mengatasinya. Metode yang digunakan adalah House of Risk (HOR) yang terdiri dari dua fase. HOR fase 1 bertujuan untuk menentukan agen risiko prioritas dan HOR fase 2 untuk memilih aksi mitigasi prioritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 agen risiko prioritas pada gudang sentral PT. XYZ berdasarkan nilai aggregate risk potential (ARP) tertinggi dengan 9 aksi mitigasi prioritas berdasarkan nilai effectiveness to difficulty ratio (ETD) yang direkomendasikan agar diimplementasikan terlebih dahulu oleh perusahaan.

The medical device industry in Indonesia possesses promising potential with rapid development in recent years. The growth of manufacturers and distributors within this industry indicates increasing competition, meaning companies are demanded to operate more efficiently. PT. XYZ is one of the medical device distributors in Indonesia. Currently there are several risks associated with the supply chain of PT. XYZ’s central warehouse. Therefore, a comprehensive supply chain risk management within the central warehouse of PT. XYZ is needed as a preventive measure. This study aims to identify the priority risk agents in the central warehouse of PT. XYZ and determine the priority risk mitigation recommendations to address these risks. This study uses House of Risk method which consists of two phases. HOR phase 1 aims to identify the priority risk agents and HOR phase 2 focuses on selecting the priority mitigation actions. The results of the study show that there are 11 priority risk agents in PT. XYZ’s central warehouse based on the highest aggregate risk potential (ARP) values with 9 priority mitigation actions recommended based on the effectiveness to difficulty ratio (ETD) to be implemented by the company first."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Fawwaz Robbani
"Industri oleokimia mempunyai sistem rantai pasok yang kompleks sehingga menghadapi berbagai risiko dalam aktivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko dalam rantai pasok industri oleokimia menggunakan metode House of Risk (HOR). Hasil dari HOR tahap 1 adalah 9 agen risiko prioritas dari 22 agen risiko untuk dimitigasi. Setelah itu, dari pengolahan HOR 2 didapatkan 7 strategi mitigasi prioritas dari 15 strategi yang berhasil diidentifikasi. Setelah itu 7 rancangan strategi mitigasi tersebut juga dianalisis dengan lebih dalam sehingga menghasilkan rancangan strategi yang dapat diimplementasikan. Dengan demikian, perusahaan industri oleokimia dapat menggunakan strategi tersebut untuk memitigasi risiko yang terdapat pada rantai pasoknya

The oleochemical industry has a complex supply chain system that faces various risks in its activities. This study aims to identify and manage risks in the oleochemical industry supply chain using the House of Risk (HOR) method. The result of HOR stage 1 is 9 prioritized risk agents out of 22 risk agents to be mitigated. After that, from HOR 2 processing, 7 priority mitigation strategies were obtained from 15 strategies that were successfully identified. After that, the 7 draft mitigation strategies were also analyzed more deeply to produce a draft strategy that could be implemented. Thus, oleochemical industry companies can use these strategies to mitigate the risks contained in their supply chains."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anton Leonardi
"Pendapatan pada sektor logistik dunia diproyeksikan akan mengalami peningkatan pada beberapa tahun mendatang. Di Indonesia, diproyeksikan pendapatan pada sektor logistik dapat mencapai US$21,93 miliar di tahun 2024 dan akan terus bertumbuh hingga tahun 2028. Hal ini sejalan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada sektor transportasi dan pergudangan di tahun 2023 yang mencapai Rp1.231,2 triliun atau meningkat 13,96% dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, kinerja logistik Indonesia mengalami kemunduran, berdasarkan data Indeks Kinerja Logistik tahun 2023, Indonesia memperoleh skor 3,0 dan berada di peringkat 61 dari 139 negara. Menurunnya kinerja logistik Indonesia dipengaruhi oleh beberapa persoalan, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Inbound Logistics di tahun 2022, menyatakan terdapat 12 tantangan yang dihadapi oleh industri logistik, di mana tiga tantangan utama berkaitan dengan kapasitas, kualitas sumber daya manusia, dan meningkatnya biaya operasional. Tantangan yang dihadapi oleh pelaku usaha di bidang industri logistik juga merupakan bagian dari risiko dalam aktivitas operasional perusahaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi kejadian risiko dan menetapkan skala prioritas tindakan mitigasi yang dapat terjadi dalam aktivitas operasional gudang pada perusahaan logistik. Penelitian ini menggunakan model Warehouse Performance Analysis untuk mengidentifikasi kejadian risiko dan metode House of Risk untuk menganalisis agen risiko prioritas dalam perencanaan tindakan mitigasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 59 kejadian risiko dan 73 agen risiko yang teridentifikasi, termasuk di dalamnya 16 agen risiko yang diprioritaskan sebagai agen risiko kritis yang dapat mempengaruhi kinerja operasional gudang. Penelitian ini juga mengusulkan 28 tindakan mitigasi yang dapat diimplementasikan untuk memitigasi agen risiko kritis tersebut.

Revenues in the global logistics sector are projected to increase over the next few years. In Indonesia, the projected revenue in the logistics sector will reach US$21.93 billion in 2024 and is expected to grow until 2028. This is in line with Indonesia’s Gross Domestic Product (GDP) in the transportation and storage sector in 2023, which reached IDR 1,231.2 trillion, or an increase of 13.96% over the previous year. In contrast, Indonesia’s logistics performance has suffered a setback. According to the Logistics Performance Index (LPI) statistics for 2023, Indonesia scored 3.0 and ranked 61st out of 139 countries. The decline in Indonesia’s logistics performance is affected by several issues, based on a survey conducted by Inbound Logistics in 2022, which stated that there are 12 challenges facing the logistics industry, of which three are connected to capacity, retaining qualified labor, and high operational costs. The challenges faced by logistics industry players are also part of the risk in the company’s operational activities. Therefore, the study aims to analyze potential risk events and establish a priority scale for mitigation actions that may occur in warehouse operational activities in a logistics company. This study utilized the Warehouse Performance Analysis model to identify risk events and the House of Risk method to analyze priority risk agents in mitigation action planning. The results showed that there were 59 risk events and 73 risk agents identified, including 16 risk agents prioritized as critical risk agents that could affect warehouse operational performance. The study also proposes 28 mitigation actions that can be implemented to mitigate those critical risk agents."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maysa Yasmine
"Manajemen risiko adalah aktivitas mengidentifikasi, menilai, menganalisis, dan mengendalikan risiko dalam seluruh kegiatan perusahaan dengan tujuan memperoleh efektivitas dan efisiensi yang lebih tinggi. Metode yang digunakan dalam manajemen risiko salah satunya adalah House of Risk (HOR). Metode tersebut merupakan modifikasi antara Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dengan kerangka House of Quality (HOQ) dengan fokus utamanya merumuskan tindakan mitigasi terhadap sumber risiko prioritas yang merupakan penyebab kejadian risiko agregat. Pada penelitian ini, manajemen risiko dilakukan pada aktivitas aliran rantai pasok operasional produksi PT. XYZ. Analisis risiko pada HOR 1 diawali dengan identifikasi risiko melalui diskusi dengan expert dan studi literatur, kemudian dilakukan penilaian terhadap nilai severity dari risk events dan nilai occurrence dari risk agents. Hasil HOR tahap 1 menunjukkan terdapat 23 kejadian risiko dan 21 agen risiko. Berdasarkan perhitungan Pareto, terdapat 12 agen risiko yang mencakup 80% dari total Aggregate Risk Potential (ARP) dan dipilih sebagai prioritas untuk dilakukan mitigasi. Setelah itu, dari hasil HOR tahap 2, ditetapkan 11 tindakan pencegahan yang kemudian digabungkan menjadi 2 strategi mitigasi besar, yaitu menggunakan sistem Epicor Kinetic ERP dan inspeksi rutin.

Risk management is the activity of identifying, assessing, analysing and controlling risks in all company activities with the aim of achieving higher effectiveness and efficiency. One of the methods used in risk management is House of Risk (HOR). This method is a modification of Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) with the House of Quality (HOQ) framework with the main focus on formulating mitigation actions against priority risk sources which are the causes of aggregate risk events. In this research, risk management is carried out in production operational supply chain flow activities at PT. XYZ. Risk analysis in HOR 1 begins with risk identification through discussions with experts and literature studies, then an assessment of the severity value of risk events and the occurrence value of risk agents is carried out. The results of HOR stage 1 showed that there were 23 risk events and 21 risk agents. Based on Pareto calculations, there are 12 risk agents which cover 80% of the total Aggregate Risk Potential (ARP) and were selected as priorities for mitigation. After that, from the results of HOR stage 2, 11 preventive actions were determined which were then combined into 2 major mitigation strategies, namely using the Epicor Kinetic ERP system and routine inspections."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azka Tsaniya Munir
"Indonesia merupakan salah satu negara dengan industri otomotif sebagai salah satu industri andalan ekonomi nasional. Hal ini memacu para pelaku industri untuk terus bersaing dan meningkatkan performa bisnis mereka agar dapat menguasai pasar penjualan. Tidak terkecuali PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) sebagai salah satu perusahaan otomotif terbesar di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan PT. ADM dalam meningkatkan performa bisnis mereka adalah dengan melakukan relokasi pabrik utama yang sudah beroperasi selama lebih dari 25 tahun ke pabrik baru di daerah Karawang. Pabrik ini nantinya akan mengedepankan penggunaan teknologi modern, salah satunya adalah penggunaan teknologi Automated Guided Vehicle (AGV) pada assembly line mereka. AGV sebagai teknologi baru yang dapat meningkatkan efektivitas lini perakitan tentu memiliki sejumlah tantangan dalam penggunaannya, terutama dalam hal adaptasi perusahaan dalam menggunakan teknologi baru ini. Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi manajemen risiko yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam perencanaan otomasi assembly line pabrik. Metodologi yang digunakan adalah House of Risk (HOR) yang terbagi menjadi dua tahap, yaitu tahap 1 yang berfokus terhadap identifikasi agen risiko prioritas serta tahap 2 yang berfokus terhadap identifikasi aski preventif sebagai bentuk strategi mitigasi risiko. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan 12 agen risiko prioritas dari 26 agen risiko yang berhasil diidentifikasi, serta 5 aksi preventif terpilih dari 13 aksi preventif teridentifikasi yang menjadi prioritas untuk diusulkan sebagai bentuk strategi manajemen risiko bagi perusahaan.

Indonesia is a country that relies significantly on the automotive industry to support its economy. This encourages industry players to continue to compete and improve their business performance in order to dominate the sales market, including PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) as one of the largest automotive companies in Indonesia. As a way to improve their business performance, PT. ADM aims to relocate their main factory which has been operating for more than 25 years to a new factory in the Karawang area. This factory will prioritize the use of modern technology, including the use of Automated Guided Vehicle (AGV) on their assembly line. Despite its potential to enhance assembly line efficiency, AGV technology introduces several challenges, particularly regarding company adaptation. This study aims to design a risk management strategy for companies planning to automate their plant’s assembly lines. The methodology used is House of Risk (HOR), divided into two stages: stage 1 focuses on identifying priority risk agents, and stage 2 concentrates on identifying preventive actions as part of the risk mitigation strategy. The research identified 12 priority risk agents from 26 total risk agents and proposed 5 preventive actions from 13 identified actions as priorities for the company's risk management strategy."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Didik Supriyono
"Penyakit tuberkulosis paru di Kabupaten Bogor merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius dengan jumlah kasus TB Paru BTA (+) tentu meningkat dari 744 tahun 1999 menjadi 1410 tahun 2002. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko lingkungan fisik rumah, karakteristik individu dan kebiasaan kegiatan yang dilakukan penghuni di dalam rumah dengan kejadian penyakit TB Paru BTA (+).
Studi kasus kontrol telah dilaksanakan di Wilayah Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor dengan 125 kasus TB Paru BTA (+) dart 125 kasus TB Paru BTA (-). Untuk menentukan kasus dan kontrol dilakukan pengambilan data dari register TB 01, TB 03, TB 04 dan TB 06 yang berasal dari puskesmas. Data faktor risiko lingkungan fisik rumah dikumpulkan dengan cara observasi dan pengukuran meliputi sinar matahari masuk ke dalam ruangan rumah, sinar matahari masuk ke kamar tidur, luas ventilasi rumah, kelembaban rumah, kepadatan hunian, keadaan terbukanya jendela ruangan rumah, keadaan terbukanya jendela kamar tidur, jenis lantai dan jenis dinding rumah. Data karakteristik individu dikumpulkan dengan cara wawancara meliputi umur, jenis kelamin, dan status imunisasi. Data faktor risiko kebiasaan kegiatan yang dilakukan penghuni di dalam rumah dikumpulkan dengan cara observasi, meliputi kebiasaan merokok, penggunaan obat nyamuk bakar, penggunaan bahan bakar untuk memasak dan kebiasaan membersihkan lantai rumah. Seluruh data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara bivariat dan multivariat.
Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa ada 5 variabel faktor risiko lingkungan fisik rumah yang menunjukan hubungan bermakna dengan kejadian penyakit TB Part BTA (+) yaitu sinar matahari masuk ke dalam ruangan rumah (p = 0,000, OR = 5,525 & 95% CI = 3,155-9,674), sinar matahari masuk ke dalam kamar tidur (p = 0,000, OR = 7,098 & 95% CI = 4,045-I2,455), luas ventilasi rumah (p = 0,000, OR = 5,196 & 95% CI = 2,992-9,026), keadaan terbukanya jendela ruangan rumah (p = 0,000, OR - 3,218 & 95% CI = 1,875-5,521) dan keadaan terbukanya jendela kamar tidur (p = 0,000, OR = 6,780 & 95% CI = 3,887-12,140). Dari faktor risiko kebiasaan kegiatan yang dilakukan penghuni di dalam rumah hanya kebiasaan membersihkan lantai rumah yang bermakna (p = 0,003, OR = 4,319 & 95% CI = 1,188-15,701). Selanjutnya, analisis multivariat menunjukan bahwa variabel yang paling dominan dalam mempenganihi terjadinya penyakit TB Paru BTA (+) adalah luas ventilasi rumah. Model persamaan regresi logistik menunjukan bahwa seseorang dengan faktor risiko tinggal di rumah dengan tidak ada sinar matahari yang masuk ke kamar tidur, luas ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat dan tidak terbukanya jendela kamar tidur mempunyai probabilitas untuk menderita penyakit TB Pani sebesar 19 kali lebilh besar dibandingkan dengan seseorang yang tidak mempunyai faktor risiko tersebut. Dapat disimpulkan bahwa lingkungan fisik rumah merupakan faktor risiko yang terbesar dalam mempengaruhi kejadian penyakit TB Paru BTA (+) dibandingkan dengan faktor risiko karakteristik individu dan kebiasaan kegiatan yang dilakukan penghuni di dalam rumah.
Daftar bacaan ; 43 ( 1980 - 2002 )

Physical Environments of House as Risk Factors of Positive Acid Fast Bacilli (AFB+) TB at Ciampea Subdistrict, District of Bogor, 2002 In Bogor District Tuberculosis is a serious problem of public health with AFB+ cases increasing from 744 in 1999 to 1410 in 2002. Previous researches indicate that TB is associated with physical environments, individual characteristics and daily habit in the house. This research is intended to investigate the association of physical environments of house with AFB+ TB cases.
A case-control study has been carried out in Ciampea Subdistrict, District of Bogor, with 125 respondents of AFB+ as cases and 125 respondents of negative AFB as control. Register Form of TB 01, TB 03, TB 04, and TB 06 filled up by Health Center (Puskesmas) was used to determine the case and control. Data on sunlight into dining room, sunlight into bedroom, ventilation width, relative humidity, window opening of dining room, window opening of bedroom, type of wall, type of floor, and house density as physical environments were collected by direct observation and measurement, while data on age, sex and immunization status as individual characteristics were collected by interview. In addition, smoking, use of mosquito coil, use cooking fuels, and floor cleaning as daily habits were collected by observation. Bivariate and multivariate analysis were employed to all collected data.
Bivariate analysis shows that five physical environments of house are significantly associated with AFB+ TB cases, i.e. sunlight into dining room (p = 0.000, OR = 5.25, 95% CI = 3.155 - 9.674), sunlight into bedroom (p = 0.000, OR = 7.098, 95% CI = 4.045 - 12.455), width of house ventilation (p = 0.000, OR = 5.196, 95% CI = 2.992 - 9.026), window opening of dining room (p = 0.000, OR = 3218, 95% CI = 1.875 - 5.521), and window opening of bedroom (p = 0.000, OR = 6.780, 95% CI = 3.887 - 12140). In addition, of daily habit factors only floor cleaning is significantly associated (p = 0.003, OR = 4.319, 95% CI = 1.188 - 15.701). Further, multivariate analysis shows that the dominant risk factor associated with AFB+ TB is house ventilation. Meanwhile, logistic regression model indicates that probability of having AFB+ TB of those who reside in a house with no sunlight coming into bedroom, under standard ventilation width, and closed bedroom window is 19 fold higher than (hose with no such risk factors. It is concluded that physical environments of house are major risk factors compared with individual characteristics and daily habitual activities.
References: 43 (1980 2002)
"
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T11254
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Luthfiery Widiandito Martokoesoemo
"Manajemen risiko mencakup proses sistematis untuk mengenali, mengevaluasi, dan mengendalikan risiko dalam semua aktivitas perusahaan guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi secara keseluruhan dalam upaya meningkatkan ketahanan rantai pasok. Dalam studi ini, metode House of Risk (HOR) diterapkan. Metode ini diadaptasi dari Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan model korelasi Quality Function Deployment (QFD). Penelitian ini difokuskan pada proses rantai pasokan gudang perakitan di PT XYZ. Analisis risiko pada HOR 1 dimulai dengan mengidentifikasi risiko melalui diskusi dengan para ahli dan tinjauan literatur, diikuti dengan penilaian tingkat keparahan kejadian risiko dan nilai kejadian agen risiko. Temuan dari HOR 1 mengidentifikasi 18 kejadian risiko dan 27 agen risiko. Dengan menggunakan analisis Pareto, 13 agen risiko prioritas telah diidentifikasi, dengan agen risiko tertinggi adalah ketidaksesuaian kualitas material dari pemasok, yang memiliki nilai ARP sebesar 3216. HOR 2 merumuskan 13 tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko prioritas ini. Pemrosesan data pada HOR 2 mengungkapkan bahwa terdapat tiga kelompok tindakan pencegahan yang harus diimplementasikan yaitu tiga kelompok tindakan pencegahannya yaitu menyusun dan melaksanakan Standard Operating Procedure (SOP) yang komprehensif serta program pelatihan, mengevaluasi dan menerapkan sistem teknologi informasi terbaru, menerapkan Warehouse Management System (WMS) secara real-time.

Risk management includes a systematic process for identifying, evaluating, and controlling risks in all company activities to enhance overall effectiveness and efficiency in efforts to improve supply chain resilience. In this study, the House of Risk (HOR) methodology is applied. This method is adapted from the Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) and the Quality Function Deployment (QFD) correlation model. The research is focused on the assembly warehouse supply chain process at PT XYZ. The risk analysis in HOR 1 begins with identifying risks through expert discussions and literature review, followed by an assessment of the severity of risk events and the occurrence values of risk agents. The findings from HOR 1 indicate 18 risk events and 27 risk agents. Using Pareto analysis, 13 priority risk agents were identified, with the top risk agent being the unsuitability of material quality from suppliers, which has an ARP value of 3216. HOR 2 outlines 13 preventive measures to mitigate these priority risks. Data processing at HOR 2 revealed three groups of preventive measures to be implemented: developing and implementing comprehensive SOPs and training programs, evaluating and adopting the latest information technology systems, and implementing a real-time Warehouse Management System (WMS)."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library