Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 85 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ibrohim Hanifa
"ABSTRAK
Dalam penelitian ini telah dirancang instrumentasi yang diharapkan mampu mendeteksi keberadaan nyamuk kemudian mengusirnya secara otomatis. Rancangan yang dibuat terdiri dari tiga buah sub-rangkaian yang terdiri dari rangkaian receier, controller, dan transmitter. Rangkaian receiver yang dipergunakan untuk mendeteksi keberadaan nyamuk tersusun atas rangkaian microphone sebagai sensor suara, band pass filter sebagai penyaring frekuensi, dan amplifier sebagai penguat. Selanjutnya rangkain transmitter yang digunakan sebagai pengusir nyamuk terdiri dari rangkaian osilator kristal sebagai penghasil frekuensi osilasi yang stabil dan buzzer sebagai aktuator yang merubah besaran listrik menjadi besaran fisika berupa suara. Kemudian dibutuhkan rangkaian controller sebagai pengendali yang mengendalikan kerja alat agar dapat berfungsi secara otomatis, terdiri dari rangkaian komparator sebagai pembanding tegangan dan relay sebagai saklar listrik yang bertugas menjadi saklar osilator dengan catu daya. Alat ini akan bekerja menghasilkan frekuensi 39 kHz saat bagian receiver mendapatkan frekuensi pada rentang 300 ndash; 700 kHz. Alat ini diharapkan dapa menjadi solusi yang efektif dalam mengusir nyamuk di masa depan.

ABSTRAK
In this research has been designed instrumentation that is expected to detect the presence of mosquitoes and then drive it automatically. This designed instrumentation is consisted of three sub circuits with a series of each receivers, controllers, and transmitters. The series of receivers, that will be used to detect the presence of mosquitoes, composed of microphone series as sound sensors, band pass filters as frequency filters, and amplifiers as amplifiers. Furthermore, a series of transmitters, as mosquito repellent, consisted of crystal oscillator circuit as a stable oscillation frequency generator and buzzer as an actuator that converts electrical quantities into physical quantities of sound. Then, the controller circuit is needed to control the work of the tool in order to function automatically. it consisted of a comparator voltage circuit and relay as an electrical switch in charge of an oscillator switch with a power supply. This tool will work to generate frequency 39 kHz when the receiver gets frequency in the range 300 700 kHz. This tool is expected to be an effective solution in expelling mosquitoes in the future. "
2017
S67090
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"This article describes the role of Aplocheilus panchax fish towards the larva of culex quinquefasciatus mosquitos. Aplocheilus fish is known as larvivor - fish that eats larva..... "
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Syamsul Arifin
"Penebangan hutan bakau yang dilakukan di ^epanjang pantai kecamatan Padang Ceritiin Kabupaten Lampung Selatan telah mengubah ekosistem pantai. Keadaan tersebut telah banyak mempengaruhi keadaan fauna, termasuk nyamuk. Pbnelitian mengenai keberadaan spesies nyamuk yang hidup di daerah tersebut dengari kondisi sekarang ini perlu dilakukan kareha beberapa spesibs nyamuk mempunyai hubungan yang erat sekali dengan kesehatan penduduk setempat, yaitu sebagai vektor penyakit tertentu seperti malaria yang merupakan masalah di daerah tersebut. Dari penangkapan dengan umpan badan brang, perangkap lampu, dan pengumpulan jentik, diperoleh nyamuk sebanyak 33 spesies, yang terdiri dari Culex 12 spesies. Anopheles 9 spesies, Aedes 6 spesies, Armigeres 3 spesies, Coquillettidia l spesies, Mansohia 1 spdsies dan Tripteroides l spesies. Culex vishnui hampir selalu tertangkap dSngan ksiimpahan nisbi tinggi sedangkan nyamuk dari genus Anopheles tertangkap dengan kelimpahan nisbi yang rendah. Anopheles sundaicus, An. nigerrimus, An. subpictus dan. An. barbirostris adalah sebagian dari spesies nyamuk yang tertangkap dan dikonfirmasi sebagai vektor penular penyakit malaria di Indonesia."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1994
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurlila
"ABSTRAK
Demam berdarah adalah suatu penyakit menular yang ditandai dengan demam mendadak, perdarahan baik di kulit maupun bagian tubuh lainnya serta dapat menimbulkan shock dan kematian. Penyebab penyakit ini adalah virus Denggi (Dengue) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Penanggulangan nyamuk Aedes aegypti sebagi vektor utama demam berdarah dapat dilakukan dengan tiga metode yaitu sanitasi lingkungan yang bertujuan untuk mengurangi habitat jentik, penanggulangan nyamuk dengan adultisida dan penanggulangan jentik dengan larvisida. Satu-satunya larvisida yang digunakan untuk pengendalian vektor demam berdarah di Indonesia adalah temephos. Larvisida tersebut mulai digunakan pada tahun 1976 dan sejak tahun 1980 dipakai secara masal untuk program penaggulangan vektor demam berdarah. Dalam penelitian ini telah dilakukan pengujian untuk membandingkan status kerentanan populasi jentik Aedes aegypti terhadap temephos dari tiga kelurahan di Jakarta, yaitu kelurahan Johar Baru, kelurahan Cempaka Putih Timur, dan kelurahan Kampung Rawa. Penentuan status kerentanan dilakukan dengan cara menentukan LC-50 dan LC-90 temephos terhadap jentik Aedes aegypti dari tiga kelurahan tersebut. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kerentanan populasi jentik Aedes aegypti dari tiga kelurahan tersebut terhadap temephos dan populasi jentik Aedes aegypti dari tiga kelurahan tersebut masih rentan tehadap temephos."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1987
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Inda Torisia Hatang
"Sebaran kasus DBD di setiap wilayah kerja Puskesmas Bogor berbeda-beda, ada yang turun, stagnan, bahkan naik. Padahal kebijakan yang diberikan kepada setiap Puskesmas sama. Hal ini mengindikasikan adanya faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan pengelolaan program. Untuk itu, penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan gambaran pengelolaan Program P2DBD yang ideal antara Puskesmas ?X? yang trennya turun dan Puskesmas ?Y? yang trennya naik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan disain Rapid Assesment Procedure (RAP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan program yang ideal harus didukung oleh kepemimpinan yang memadai, pelibatan aktif masyarakat, dan kemitraan lintas sektor. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar faktor-faktor tersebut diperhatikan dalam pengelolaan program.

The spread of DBD cases is different on each sub districts, there are down, stagnant, or even ride. Beside, this policy is provided to all public health care together. This indicates the existence of other factors that influence the success of program management. Therefore, this study aimed to obtain the ideal form of P2DBD program management between the public health center "X" that have a down trend and the public health care "Y" that have a rise trend. This study uses a qualitative approach with a Rapid Assessment Procedure as the study design. The results showed that the ideal program management must be supported by adequate leadership, active community involvement, and partnerships in across sectors. Therefore, researchers suggest that these factors must be considered in program management."
Depok: Universitas Indonesia, 2010
T28489
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Anif Budiyanto
"Di dunia sebanyak 350-500 juta orang menderita malaria, dan lcbih dari 1 juta kematian teijadi setiap tahun, terutama di daerah tropis dan Ali-ika. Prcvalen malaria di Indonesia mencapai 2,85 %. Sebanyak 49,6 % penduduk Indonesia berisiko tertular malaria karena tinggal di daerah endemis malaria. Prevalensi malaria di Sumatem Selatan adalah 1,0l%. Kab.OKU merupakan salah satu kabupaten ende mis malaria di Sumatcra Selatan. AMI (Anuai Malaria Incidence) Kab. OKU tahun 2008 23,4%,,. Tujuan umum; mengetahui hubungan antara upaya mencegah gigitan nyamuk melalui pemakaian anti nyamuk clengan kejadian malaria di Puskesmas Pengandonan.
Tujuan khusus:
a. Mengetahui hubungan antara upaya mencegah gigitan nyamuk melalui pemakaian anti nyamuk dengan kejadian malaria.
b. Mengetahui dampak potensial antara pemakaian anti nyamulc dengan kejadian malaria di Kecamatnn Pengandcman Kab. OKU.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian epidemiologi observaslonal kasus-kontrol. Populasl target dalam penelitian ini adalah masyarakat Kab.OKU dl Kec. Pengandonan, sedangkan populasl aktual adalah masyarakat yang tinggal di Kec.Pengandonan yang ikut kegiatan MBS. Sampel adalah masyarakat yang mengikuti kegiatan survey MBS dan terpllih sebagai sarnpel studi.
Pemakaian anti nyamuk, mempunyai pengaruh yang signitikan dengan tezjadinya malaria dengan OR=0,3l2 dan p=0,000 (95% CI 0,19-0,056). Yang berarti orang yang memakai anti nyamuk hanya berisiko untuk terltena malaria sebesar 0,312 kali dibanding yang tidak pakai anti nyamuk. Konstruksi rumah temyata mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian malaria dengan OR=7,88 dan p=0,000 (95% CI 4,74-l3,l2).
Pengetahuan nesponden tentang malaria mempunyai hubungan yang bermakna dengan kasus malaria dengan 0R=0,49 dan p=0,003 (95% CI Q31-0,78). Variabel ‘ada ternak’ di sekitar mmah (p=0,5l9) dan variabel ‘jarak tempat perindukan nyamuk potcnsial’ (p=0,l35) tidak signiiikan dcngan kejadian malaria”.
Dari hasil analisis multivariate diketahui ada hubungan yang signifikan antara pemakaian anti nyamuk dengan kasus malatia di Kec.Pengandonan, OR=0,231 dan p = 0,0001 (95% CI 0,130-0,409). Interpnetasi adalah orang yang tidak memakai anti nyamuk akan berisilco untuk terkena malaria sebesar 4,3 kali dibanding dengan mereka yang memakai anti nyamuk sctelah dikontrol oleh variabel konstruksi. Dari hasil pcrhitungan dampak potensial diketahui, apabila dilakukan upaya kesehatan masyarakat dcngan pemakaian anti nyamuk memberikan dampak penunman kejadian malaria sebesar 53%.
Kesimpulan. Pemakaian anti nyamuk sccara statistic mempunyai hubungan yang bermakna dengan kasus malaria (Pv=0,000, CI 95%=0,l93-0,506), dimana mereka yang memakai anti nyamuk hanya akan terkena malaria sebesar 0,312 dibanding dengan mereka yang tidak memakai anti nyamuk. Intervensi kesehatan masyarakat berupa pemakaian anti nyamuk, akan memberikan dampak tethadap penurunan kasus malaria di masyarakat sebesar 53%.
Saran:
1. Orang yang tinggal di rumah yang berisiko untuk kemasukan nyamuk terutama yang ventilasi rumahnya tidak mernakai kassa nyamuk, disarankan untuk memakai obat anti nyamuk berupa obat nyamuk semprot, yang membeiikan nilai OR terkecil yaitu 0,l6.
2. Peningkatan pengetahuan masyarakat dengan upaya penyuluhan yang intensif agar pengetahuan masyarakat tentang penyakit malaria dapat lebih baik, sehingga mereka dapat secara sadar dengan kemauan sendiri mengupayakan berbagai kegiatan yang sifatnya tindakan pencegahan dari gigitau nyamuk.
3. Mengupayakan pembangunan mmah penduduk wrbuat dari tembok atau bahan lain yang dibuat serapat mungkin sehingga nyamuk tidak dapat masuk ke dalam mmah sehingga tidak terjadi kontak antala nyamuk dengan masyarakat.

The number of malaria cases in the world is 350 - 500 million and more than one million deaths occur every year, particularly in tropical area and Ah-ica. The prevalence of malaria in Indonesia is 2.85%. There are 49.6% Indonesian people which is risky to get infected with malaria because of living in an endemic malaria area- 'lhe prevalence of malaria in South Siunatera is 1.01 % and OKU District is the most endemic malaria area in South Sumatera with number of AMI (Annual Malaria Incidence) in 2008, of 23.4%.
In general, the objective of study was to assess the relation between the use of anti-mosquito lotion and incidence of malaria at Pengandonan, and the specific objectives are :
1. To assess the relation between the use of anti-mosquito lotion and incidence of malaria
2. To assess potential impact of the use of anti- mosquito lotion and incidence of malaria at Pengandonan, OKU District.
The study is an observational epidemiology in case control study design. The target population of the study was people of OKU District, while the actual population was people who live in Pengandonan and participated in MBS. The sample population was people who participated in MBS and recruited as sample study.
The use of anti-mosquito lotion has significant influence with malaria incidence of OR=0,3l2 p=0,000 (95% Cl 0,19-0,056), which means people who use anti-mosquito lotion is only 0.312 times more risky to get infected with malaria compare to people who don’t. The house construction has significant relation with malaria incidence of OR=7,88 p=0,000 (95% CI 4,74-l3,l2).
The knowledge of respondent about malaria has significant relation with malaria incidence of 0R=0,49 dan p=0,003 (95% CI 0,31-0,78). Variable of “have cattle around house” (p= 0.5l9) and variable of “distance of mosquito breeding" (p=0.l 35) has no significant relation with malaria incidence.
Multivariate analysis found significant relationship between the use of anti- mosquito lotion and incidence of malaria at Pengandonan, of OR=0,23l p = 0,0001 (95% CI 0,130-0,409), which is interpreted as people who don’t use anti-mosquito lotion will be 4.3 times more risky to get infected with malaria compare to those who use the anti-mosquito lotion controlled by variable of construction. The use of anti-mosquito lotion will give potential impact in decreasing malaria incidence as of 53%.
Conclusion: the use anti-of mosquito lotion is statistically has significant relation with malaria incidence (Pv=0,000, CI 95%=O,l93-0,506), which means people who use anti-mosquito lotion is only 0.312 times more risky to get infected with malaria compare to people who don’t. Public health intervention such as use of mosquito lotion will provide potential impact in decreasing malaria incidence in community of 53%.
Suggestions:
1. Efforts need to use anti-mosquito lotion that can be aifordable by the community, considering the use of anti-mosquito lotion to prevent mosquito bites when outside the home is very effective and efficient.
2. Increased knowledge of community with intensive counseiling efforts so the knowledge of community about the disease malaria can be better, so they can be aware of their own willingness to seek a variety of activities that are preventive to mosquito bites.
3. To build home so that mosquitoes can not enter the house and there is no contact between t11e mosquito and population.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2009
T33810
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Anif Budiyanto
"The number of malaria cases in the world is 350- 500 million and more than one minion deaths occur every year, particularly intropical area and Africa. The prevalence of malaria in Indonesia is 2.85%. There are 49.6% Indonesian people which is risky to get infected with malaria because of living in an endemic malaria area. The prevalence of malaria in South Sumatera is 1.01 % and OKU District is the most endemic malaria area in South Sumatera with number of AMI (Annual Malaria Incidence) in 2008. of23.4%.
In genera1t the objective of study was to assess the relation between the use of anti-mosquito lotion and incidence of malaria at Pengandonan, and the specific objectives are :
1. To assess the relation between the use of anti mosquito lotion and incidence of malaria
2. To assess porentiaJ impact of the use of anti­ mosquito lotion and incidence of malaria at Pengandorum. OKU District.
The study is an observational epidemiology in case control study design. The target population of the study was people of OKU District, while the actual population was people who live in Pengandonan and participated in MBS. The sample population was people who participated in MBS and recruited as sample study.
The use of anti-mosquito lotion has significant influence with malaria incidence ofOR=0,312 p=O,OOO (95% CI 0,19-0,056), which means people who use anti mosquito lotion is only 0.312 times more risky to get infected with malaria compare to people who don't. The house construction has significant relation with malaria incidence of0R=7,88 p=O,OOO (95% Cl4,74-13,12).
The knowledge of respondent about malaria has significant relation with malaria incidence of OR=0,49 dan p=O,OOJ (95% CI 0,31-0,78). Variable of "have acted around house» (IF 0.519) and variable of "diSstance of mosquito bedding"(p=O.l35) has no significant relation with malaria incidence. people who use anti-mosquito lotion is only 0.312 times more risky to get infected with malaria compare to people who don't. Public health intervention such as use of mosquito lotion will provide potential impact in decreasing malaria incidence in community of 53%.
Suggestions:
1. Efforts need to use anti-mosquito lotion that can be affordable by the community.considering the use of anti-mosquito lotion to prevent mosquito bites when outside the home is very effective and efficient.
2. Increased knowledge of community with intensive counselling efforts so the knowledge of community about the disease malaria can be better, so they can be aware of their own willingness to seek a variety of activities that are preventive to mosquito bites."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
T32379
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Buku ini berisi mengenai petunjuk pemberantasan sarang nyamuk DBD di sekolah melalui program UKS."
Jakarta: Tim Pembina UKS Pusat, 1996
614.432 3 PET
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"Buku ini berisi mengenai petunjuk pemberantasan sarang nyamuk DBD di sekolah melalui program UKS."
Jakarta: Tim Pembina UKS Pusat, 1996
R 614.432 3 PET
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
cover
"Buku ini berisi mengenai petunjuk pemberantasan sarang nyamuk DBD di sekolah melalui program UKS."
Jakarta: Tim Pembina UKS Pusat, 1996
R 614.432 3 PET
Buku Referensi  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9   >>