Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 12 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Kezia Putri Andinta
"Social Media Influencers telah menjadi alat komunikasi pemasaran yang penting karena menawarkan keterlibatan dengan sejumlah besar pembeli potensial dalam waktu singkat dengan biaya lebih rendah daripada iklan tradisional (Evans dkk, 2017 dalam Weismueller dkk, 2020). Pada sisi lain, brand sebagai aset yang paling berharga bagi setiap perusahaan, menggunakan social media influencers untuk dapat menarik partisipasi dari konsumen brand itu sendiri sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dan keyakinan konsumen dalam memfasilitasi keputusan mereka dalam pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan social media influencers dalam membangun brand image dan brand awareness. Menggunakan pendekatan kualitatif, riset berbasis studi pustaka (literature review) ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa cara untuk membangun brand image dan brand awareness melalui social media influencers. Pertama melalui Influencer Identification dan Measurement. Dalam tahap ini, brand akan memilih social media influencers yang tidak hanya memiliki pengaruh yang kuat, melainkan sesuai dengan persona yang ingin brand tersebut tampilkan. Kedua, melalui interaksi Social Media Influencers dengan khalayak. Interaksi oleh social media influencer dilakukan dengan membuat konten yang dapat menarik minat publik dengan menyesuaikan konsep dengan gaya berkomunikasi dan juga keahlian social media influencer tersebut.

Social Media Influencers have become an important marketing communication tool because they offer engagement with many potential buyers in a short period at a lower cost than traditional advertising (Evans et al, 2017 in Weismueller et al, 2020). Apart from that,brand as the most valuable asset for every company, uses social media influencers to attract participation and engagement from consumers to increase consumer trust and confidence in facilitating their purchase decisions. This study aims to analyze the usage of social media influencers to build brand image and brand awareness. Using a qualitative approach, this literature review-based research reveals several ways to build brand image and brand awareness through social media influencers. Firstly, by Influencer Identification and Measurement. At this stage, the brand will choose the social media influencers that have a strong influence and fit with the persona that the brand wants to show. Secondly, by the interaction between social media influencers and their audience. Interaction with the audience will be attractive by adjusting the concept with the social media influencer’s communication expertise."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2021
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Sitohang, Grace Dumaria
"ABSTRAK
Internet memengaruhi cara para pelaku bisnis dalam mengomunikasikan brand secara luas karena hemat biaya, ramah pengguna, dan menyediakan banyak saluran digital untuk terhubung dengan konsumen. Salah satu saluran digital yang dapat digunakan adalah media sosial Instagram. Melalui Instagram, pemilik brand dapat melakukan promosi dan meningkatkan brand awareness. Cara promosi yang paling sering digunakan dalam beberapa tahun terakhir adalah dengan menggunakan influencers. Penelitian ini menganalisis bagaimana penggunaan influencers dapat meningkatkan brand awareness pada produk pocket wi-fi sewaan, IziRoam, berdasarkan 3 (tiga) dimensi dari source credibility model dan 3 (tiga) dimensi dari source attractiveness model. 116 influencers dikelompokkan berdasarkan dimensi tersebut. Dalam analisis ditemukan bahwa dengan menggunakan influencers dalam kategori attractive, brand IziRoam mendapatkan exposure yang cukup tinggi, namun ini belum efektif untuk mendorong khalayak agar mengetahui lebih lanjut tentang produknya. Sebaliknya, influencers dalam kategori credible lebih efektif digunakan untuk meningkatkan brand awareness IziRoam karena kontennya lebih fokus pada produknya dan bukan pada influencer-nya.

ABSTRACT
The internet influences the way business people communicate their brand widely because it is cost-effective, user-friendly, and provides many digital channels to connect with consumers. One of digital channels that can be used is Instagram. Through Instagram, brand owners can promote and increase brand awareness. The most common promotional method in recent years is the use of influencers. This study analyzes how the use of influencers can increase brand awareness of a pocket wi-fi rental product, IziRoam, based on 3 (three) dimensions of the source credibility model and 3 (three) dimensions of the source attractiveness model. 116 influencers were grouped according to these dimensions. In the analysis, it was found that by using influencers from attractive category, IziRoam generated a high exposure from the audience, but it was not effective in encouraging target audiences to find out more about their products. On the contrary, influencers from credible category are more effective to increase IziRoams brand awareness because the content were more focused on the products instead of the influencers."
2020
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Ariesa Putri Andini
"Industri fesyen adalah salah satu kontributor utama pada sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Produk domestik bruto (PDB) industri tekstil dan pakaian jadi mencapai Rp35,17 triliun pada kuartal II tahun 2022. Tren fesyen di Indonesia pada mulanya banyak mengadaptasi gaya busana masyarakat luar negeri. Namun tren ini mulai bergeser dengan munculnya banyak merek lokal yang mulai dikenal oleh masyarakat. Co-branding merupakan strategi pemasaran yang populer digunakan oleh para pemasar untuk mengenalkan produknya. Terdapat banyak merek fesyen lokal di Indonesia yang berkolaborasi dengan influencers media sosial untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor co-branding apa saja yang dapat memengaruhi pembelian konsumen terhadap produk kolaborasi merek fesyen lokal dengan social media influencers (SMI). Model penelitian dibangun menggunakan teori reasoned action dan teori co-branding untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi niat beli. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner secara online. Analisis sebanyak 206 data responden dilakukan dengan metode Partial Least Square (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor SMI expertise mempengaruhi perceived fit yang lebih lanjut memengaruhi attitude towards co-brand dan purchase intention. Sedangkan faktor brand coolness, self-brand connection with influencers dan product involvement tidak ditemukan mempengaruhi perceived fit.

The fashion industry is one of the main top contributors to the creative economy sector in Indonesia. The gross domestic product (GDP) of the textile and apparel industry reached IDR 35.17 trillion in the second quarter of 2022. At the beginning of its development, Indonesian fashion trends still adapted many foreign fashion styles. However, this trend began to shift with the emergence of many local brands that began to be recognized by the public. Co-branding is a popular marketing strategy used by marketers to introduce their products. There are many local fashion brands in Indonesia that collaborate with social media influencers to reach more consumers. This research was conducted to find out what co-branding factors can influence consumer purchases of local fashion brand collaboration products with social media influencers (SMI). The research model was built using reasoned action theory and co-branding theory to understand the factors that influence purchase intention. The research was conducted quantitatively by distributing questionnaires online. Analysis of 206 respondent data was carried out using the Partial Least Square (PLS-SEM) method. The results showed that the SMI expertise factor affects perceived fit which further affects attitude towards co-brand and purchase intention. While the factors of brand coolness, self-brand connection with influencers and product involvement were not found to affect perceived fit."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Satria Kenvaleriano Syahputra
"Maskulinitas Toksik adalah istilah yang mulai digunakan pada tahun 1980-an untuk menggambarkan sikap dan perilaku yang diharapkan dari pria yang dapat berdampak negatif pada diri mereka sendiri dan masyarakat. Di dunia media sosial saat ini, terdapat banyak pengaruh yang memiliki pandangan yang bervariasi, dengan beberapa yang mempromosikan maskulinitas beracun. Sifat dari pengaruh media sosial adalah ide-ide mereka dapat ditransmisikan kepada audiens yang luas dan mungkin mempengaruhi pandangan dunia dan pengambilan keputusan sejumlah orang dalam audiens tersebut. Salah satunya adalah Andrew Tate, seorang guru bimbingan diri, motivator, dan pengaruh yang mendapatkan ketenaran melalui TikTok dan YouTube. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pandangan Andrew Tate tentang maskulinitas dan bagaimana ia menyusun pesannya untuk mempengaruhi pengikutnya. Studi kasusnya adalah Andrew Tate, seorang pria yang mendapatkan ketenaran dari TikTok dan kemudian diundang ke sejumlah podcast yang penuh dengan pernyataan yang mengafirmasi maskulinitas beracun. Data yang akan dianalisis diambil dari podcast Standout.TV, PBD Podcast, dan Adin Ross yang mengundang Andrew Tate untuk berpartisipasi dalam segmen mereka. Temuan penelitian menunjukkan pandangan misoginis Andrew Tate tentang maskulinitas dan bagaimana ia menyusun pesannya untuk mendapatkan ketenaran dan keuntungan dari pengikutnya

Toxic masculinity is a phrase that started being used in the 1980’s to describe the attitudes and behaviors that are expected from men that could have a negative impact on men themselves and society. In today’s world of social media, there are a lot of influencers that have varying views, with some that promotes toxic masculinity. It is the nature of social media influencers that their ideas can be transmitted over a large audience and possibly influence the worldview and decision making of a number of people in that audience. One of whom is Andrew Tate, a self-help guru/ motivator/ influencer that reached fame through TikTok and YouTube. This article aims to examine Andrew Tate’s view on masculinity and how he constructs his message to influence his followers. The case study will be Andrew Tate, a man who found fame from TikTok and later was invited to a number of podcasts filled with statements that affirm toxic masculinity. The data that will be analyzed is taken from the podcast from Standout.TV, PBD Podcast, and Adin Ross that invited Andrew Tate to take part in their segment. Research findings show Andrew Tate’s misogynistic views on masculinity and how he constructs his message assertively, rationalizing his rebuttals and gaining fame and profit from his followers."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Azzahra Banilia Janata
"Artikel ini mengkaji tentang hubungan antara individu yang lahir setelah tahun 2000-an dan para selebriti yang mempengaruhi mereka dengan menelusuri tagar #ootd atau yang biasa disebut outfit of the day di media sosial Instagram. Pada masa ini, influencer memainkan peran penting dalam aliran pendapatan/revenue streams untuk merek lokal karena mereka dianggap sebagai sumber yang terpercaya di era digital ini. Peran influencer telah mengambil alih industri pemasaran, hal ini disebabkan oleh para influencer yang menghasilkan lebih banyak gerakan/dampak dibandingkan dengan iklan tradisional. Konsumen saat ini lebih mengandalkan ulasan yang terkesan jujur, testimoni, dan rekomendasi word-of-mouth dari influencer sosial favorit mereka (Henderson, 2017). Melalui teori pemasaran media sosial Chaffey (2012), tulisan ini akan menyelami lebih dalam mengenai konteks pemasaran influencer di Indonesia. Tidak sedikit orang yang menerapkan bentuk pemasaran ini untuk meningkatkan kesadaran merek, menarik pelanggan dengan potensial baru serta membantu meningkatkan pertumbuhan bisnis mereka (Garnes, 2021). Studi ini menguraikan dampak besar influencer bahwa pemasaran influencer telah mengambil alih industri pemasaran untuk merek fashion dengan mempromosikannya melalui tagar #OOTD di Instagram.

This article examines the relationship between those born after the 2000s and the celebrities who influence them by tracing the hashtag #ootd (outfit of the day) on social media Instagram. Influencers today play a significant role in ensuring revenue streams for local brands since they are considered credible sources in this digital era. Influencer marketing generates more online movements than other forms of traditional advertisement. Consumers today rely more on authentic reviews, testimonials, and word-of-mouth recommendations from their favorite social influencers (Henderson, 2017). Through Chaffey’s (2012) social media marketing theory, this paper will dive deeper into the context of influencer marketing in Indonesia. Many brands have enforced this form of marketing to increase brand awareness, attract new potential customers, and help boost their business growth (Garnes, 2021). This study elaborates on the current impact of influencers on fashion brands by promoting the #OOTD hashtag on Instagram.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Levana Theophilia Pattipeilohy
"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh kepercayaan pada social media influencers terhadap keputusan untuk melakukan kunjungan turisme ke Indonesia. Hubungan ini juga dimoderasi oleh budaya bangsa yang berfokus pada budaya individualistik dan kolektivistik. Penelitian ini menggunnakan metode eksperimental untuk menguji hipotesis-hipotesis, yang mengumpulkan 149 responden dari Indonesia dan Belanda untuk data makalah ini. Berdasarkan temuan makalah ini, penelitian ini menolak hipotesis-hipotesis tersebut, yang berarti kepercayaan pada pengaruh media sosial dan budaya bangsa tidak signifikan dan tidak dapat dibuktikan untuk memengaruhi keputusan untuk melakukan kunjungan turisme. Makalah ini menambah pengetahuan dalam literatur pemasaran digital dan media sosial, namun penelitian lebih lanjut masih diperlukan. Penelitian ini dapat membantu para manajer di Indonesia dalam mengiklankan destinasi pariwisata untuk mengumpulkan lebih banyak calon pelanggan. Masih ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, yang terutama terkait dengan survei, seperti responden sebagian besar berasal dari Indonesia yang menciptakan ketidakseimbangan dalam data.

The purpose of this study is to examine the effect of trust in social media influencers on the decision to travel to Indonesia. The relationship is also moderated by the nation’s culture which focuses on individualist and collectivist cultures. An experimental study was developed to test the hypotheses, which gathered 149 survey respondents from Indonesia and The Netherlands for the data. Based on the findings, the study rejects the hypotheses, which means trust in social media influencers and the nation’s culture are insignificant and does not affect the decision to travel. This paper adds knowledge to digital marketing and social media literature, however further research is still needed. This study could help managers in Indonesia advertise the tourist destination to gather more potential customers. There are still some limitations in this study, which are mainly related to the survey, such as the respondents are mostly from Indonesia which creates an imbalance in the data.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Nurresky Azzahra
"Media sosial kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Era digital tidak hanya membawa banyak peluang, tetapi juga tantangan dan pertanyaan tentang apa dan bagaimana cara terbaik untuk mempromosikan baik merek maupun produk di media sosial. Beberapa bisnis saat ini telah berinvestasi pada influencer marketing. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak influencer media sosial dalam minat terhadap program vaksinasi Covid-19 dan lebih memahami karakteristik mana yang memiliki pengaruh lebih tinggi terhadap program vaksinasi Covid-19. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability judgemental sampling. Survei online dilakukan pada masyarakat Indonesia pengguna Instagram dengan rentang usia 17 hingga 45 tahun yang mengikuti influencer yang pernah membuat konten atau postingan program vaksinasi Covid- 19 di Instagram. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa interactivity memiliki dampak yang lebih tinggi pada minat vaksinasi Covid-19 audiens daripada expertise, homophily, dan popularitas influencer. Selain itu, terbukti juga bahwa trustworthiness, likability, dan argument quality influencer media sosial tidak memiliki pengaruh terhadap minat vaksinasi Covid-19.

Social media has now become a part of people's daily lives. The digital era brings not only many opportunities, but also challenges and questions about what and how best to promote both brands and products on social media. Several businesses today have invested on influencer marketing. This study aims to evaluate the impact of social media influencers in the vaccine intention and better understand which characteristics have a higher influence on the vaccine intention. The sampling method used is non-probability judgmental sampling. The online survey was conducted on Indonesian Instagram users with an age range of 17 to 45 years who follow influencers who have created content or posted Covid-19 vaccination program content on Instagram. Data processing is done by using multiple linear regression analysis techniques. The results of the study revealed that interactivity had a higher impact on the audience's interest on vaccine intention than the expertise, homophily, and popularity of influencers. In addition, it is also proven that trustworthiness, likability, and argument quality of social media influencers have no influence on vaccine intention."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raina Safa Radhyana Rahmat
"Di zaman sekarang ini, banyak bisnis memanfaatkan dukungan publik figur untuk meningkatkan penjualan dan brand awareness mereka, bahkan juga untuk memperluas target market mereka. Dikarenakan banyak brand dari berbagai industri menyadari seberapa besar dampak dari endorse publik figur ini, mereka semakin bergantung kepada mereka karena publik figur ini mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang terhadap suatu produk atau servis. Hal ini mendorong pelaku bisnis untuk lebih banyak berkolaborasi dengan influencer dan hal ini terlihat dari kasus Tasya Farasya dan dampak endorsement di industri kecantikan. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk memahami bagaimana konsep teori AIDA model (Lewis, 1898) menjelaskan pengaruh publik figur dalam mempengaruhi perilaku pembelian masyarakat melalui endorsement Tasya Farasya di Instagram. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan metode pengumpulan data sekunder digunakan untuk menganalisis unsur AIDA dalam fenomena endorsement Tasya Farasya. Penelitian ini, kemudian, menunjukkan bahwa ada beberapa tahapan yang dilalui seseorang dalam proses pengambilan keputusan untuk membeli produk atau layanan, dan tingkat keefektifan model ini bergantung pada siapa yang di endorse.

In this day and age, a lot of business brands, make use of public figure endorsement to increase their brand awareness and sales and hopefully expand more potential target audience. As many brands coming from different industries have shown how impactful these endorsements are, they rely more on those public figures/influencers due to their power in shaping people’s desires on a product on service. This encourages businesses to collaborate more with influencers and this can be seen through the case of Tasya Farasya and the beauty industry endorsement impacts. Thus, this paper aims to understand how the AIDA model of communication theory (Lewis, 1898) explains the influence of public figure in influencing people’s buying behavior through Tasya Farasya’s endorsement on Instagram. In order to gain the data, qualitative method is applied in this research and secondary data collecting method is used to analyze the AIDA elements in Tasya Farasya’s endorsement phenomenon. The study later shows that there are some stages people gone through in their decision-making process to purchase a product or service and the effectiveness rate of this model is depending on who’s being endorsed. In this day and age, a lot of business brands, make use of public figure endorsement to increase their brand awareness and sales and hopefully expand more potential target audience. As many brands coming from different industries have shown how impactful these endorsements are, they rely more on those public figures/influencers due to their power in shaping people’s desires on a product on service. This encourages businesses to collaborate more with influencers and this can be seen through the case of Tasya Farasya and the beauty industry endorsement impacts. Thus, this paper aims to understand how the AIDA model of communication theory (Lewis, 1898) explains the influence of public figure in influencing people’s buying behavior through Tasya Farasya’s endorsement on Instagram. In order to gain the data, qualitative method is applied in this research and secondary data collecting method is used to analyze the AIDA elements in Tasya Farasya’s endorsement phenomenon. The study later shows that there are some stages people gone through in their decision-making process to purchase a product or service and the effectiveness rate of this model is depending on who’s being endorsed. "
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Qatrunnada Nadhifah
"ABSTRAK
Pada tahun 2016, Loreal Paris di United Kingdom membuat sebuah kampanye yakni YoursTruly yang berangkat dari isu sosial terkait keberagaman dan mengekspresikan diri sendiri, dengan melibatkan 23 social media influencers. Kampanye memiliki tujuan komunikasi yakni melakukan total brand reappraisal untuk meningkatkan hubungan emosional dengan khalayak atau konsumen sebagai bentuk pengembangan brand image. Kampanye berfokus pada penggunaan social media marketing, yang mana peran aplikasi media sosial dan influencers menjadi kunci utama. Namun perlu diketahui lebih lanjut terkait strategi komunikasi, pengaplikasian strategi tersebut dalam mengembangkan brand image, serta mengembangkan metriks brand image dengan social media marketing. Terdapat penggunaan teknik baru strategi komunikasi social media marketing yang digunakan yaitu social influence marketing, yang strategi turunannya dianalisis dalam makalah ini. Dalam pengaplikasiannya strategi social media marketing dibantu oleh social media marketing tools. Strategi Social Marketing juga dianalisis dengan elemen repositioning dan faktor pendukung terbentuknya brand image untuk mengetahui secara detil peran dalam mengembangkan dua metriks brand image yang ingin dicapai kampanye. Keberhasilan social media marketing dalam mengembangkan brand image pada kampanye dilihat dari keberhasilan peningkatan angka metriks 42% dan terjadinya perubahan positif pada industri kecantikan.

ABSTRACT
Loreal Paris is a beauty corporation that has made several campaign based on beauty issues. In 2016, Loreal Paris United Kingdom had made a public relations campaign called Yours Truly in order to introduce the new 23 True Match foundation shades that speak for diversity and self-love, with 23 social media influencers as the representation of each shade. The campaigns communication objective is having a total brand reappraisal to drive emotional connection, specifically shifting or developing brand image metrics. The campaign focuses on using social media marketing, with social media and social media influencers as the main keys. This paper will analyze the strategies using social influence marketing as the new social media marketing technique and the applications of the social media tools within strategies. The social media marketing strategies will be analyzed by the repositioning elements and brand image developing factors regarding its role for developing brand image metrics. This campaign was a total success, managed to get 42% increase on brand image metrics and gave a positive changes in beauty industries. "
2018
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Stefani Dewinatalia
"Tesis ini membahas pengaruh kredibilitas dari social media influencers sebagai endorser dan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) terhadap perilaku konsumen milenial dalam mengadopsi layanan penyewaan pakaian online. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan responden milenial yang berdomisili di Jabodetabek. Metode analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis jalur untuk membuktikan hipotesis pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruk pada kredibilitas endorser yang mencakup attractiveness dan expertise secara positif memengaruhi behavioural intentions yang pada akhirnya akan memengaruhi actual behaviour. Sebaliknya, trustworthiness tidak memengaruhi behavioural intention. Model UTAUT yang mencakup performace expectancy, effort expectancy, dan social influence secara positif memengaruhi behavioural intentions, sedangkan facilitating conditions memengaruhi actual behaviour pada konsumen dalam mengadopsi layanan penyewaann pakaian online.

This thesis examines the effect of social media influencers’ credibility as endorsers and the Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) model on millennial consumer behavior in adopting online clothing rental services. The approach used in this study is a quantitative approach with millennial respondents who live in Greater Jakarta. The method of data analysis was carried out using descriptive analysis and path analysis to prove the hypothesis in this study. The results of the study show that constructs on endorser credibility which include attractiveness and expertise positively influence behavioral intentions which will ultimately affect actual behavior. Conversely, trustworthiness does not affect behavioral intention. The UTAUT model which includes performance expectancy, effort expectancy, and social influence positively influences behavioral intentions, while facilitating conditions affect the actual behavior of consumers in adopting online clothing rental services."
Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>