Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 29 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Arman Yurisaldi Saleh
"ABSTRAK
Latar belakang: selama ini serebelum hanya dikenal scbagai organ yang
mengatur keseimbangan tubuh saja. Pendapat ini berubah dalam 2 dekade
terakhir, didasarkan peranan serebelum memodulasi kognitif. Fungsi kognitif
serebelum termasuk motor learning, didasarkan jaras kortikoserebelar yang telah dibuktikan dengan studi PET Sken. Berdasarkan PET Sken diketahui bahwa seseorang yang mahir di bidang eksakta memiliki hubungan jaras interkortikal yang lebih kompleks dibandingkan non eksakta. Belum ada baku emas untuk menilai kemampuan motor learning jenis adaptation.
Tajuan: Membandingkan skor awal, skor akhir, kenaikan skor permainan
Tetris pada hari pertama dibandingkan hari kelima serta mengetahui ada / tidak perbedaan kemampuan motor learning pada kelompok berdasarkan jurusan
eksakta dan non eksakta.
Metode: seratus sembilan puluh mahasiswa Universitas Negeri Jakarta,
terdiri dari 95 orang mahasiswa eksakta (jurusan matematika) dan non eksakta (jurusan bimbingan konseling) dengan jumlah yang sama dengan status generalis serta neurologi dalam batas nommal. Setelah dilakukan tes penyaringan spasial navigasi (Zig Zag Tuckling Task) dan termasuk kriteria naive player, bermain Tetris setiap hari selama 5 hari berturutan dinilai skor Tetris awal, akhir, dan perubahan skor.
Hasil: terdapat perbedaan bermakna antara skor Tetris awal dibandingkan
akhir p<0,001, demikian juga kelompok eksakta dibanding non eksakta dalam hal skor Tetris awal, akhir dan perubahan skor p<0,001.
Kesimpulan: kemampuan motor learning jenis adaptarion dipengaruhi
kemampuan dasar dan latihan. Terdapat hubungan kortikoserebelar yang lebih
baik pada kelompok eksakta dibandingkan non eksakta dengan alat ukur
permainan Tetris."
2007
T21329
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Izati Rahmi
"Latar belakang. Depresi merupakan salah satu gangguan psikiatri yang sering terjadi pada pasien epilepsi. Prevalensinya adalah 20-80%. Depresi bukan merupakan suatu pemeriksaan yang rutin dilakukan di poliklinik neurologi karena membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga banyak pasien yang tidak terdiagnosis dan akhirnya tidak terobati, untuk itu diperlukan pemeriksaan yang singkat. The Neurological Disorders Depression Inventory for-Epilepsi (NDDI-E) merupakan pemeriksaan skrining depresi yang terdiri dari 6-aitem.
Tujuan. Menentukan akurasi dan titik potong NDDI-E versi Indonesia sebagai skrining depresi pada pasien epilepsi dewasa.
Metode. Penelitian uji diagnostik yang dilakukan di poliklinik epilepsi RSCM. Pemeriksaan dilakukan pada semua pasien epilepsi yang memenuhi kriteria inklusi. Pasien mengisi sendiri formulir NDDI-E tanpa bantuan orang lain. Kemudian dilakukan pemeriksaan the International Neuropsychiatric Interview Mini ICD-10 (MINI-ICD10) sebagai standar baku.
Hasil. Dari 105 orang subyek penelitian terdapat 23 orang mengalami gangguan depresi mayor berdasarkan MINI-ICD 10. Didapatkan kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) yang mendekati 100%, titik potong 11, dengan Sensitifitas 91,3% Spesifisitas 89% PPV 70% dan NPV 97,3%. Secara statistik NDDI-E versi Indonesia masuk dalam klasifikasi yang kuat, karena nilai Area Under the Curve (AUC) 97,5% dengan interval kepercayaan (95%CI 95%-99%).
Kesimpulan. NDDI-E versi Indonesia memiliki nilai akurasi yang tinggi untuk menentukan gangguan depresi mayor pada pasien epilepsi dewasa pada titik potong 11.

Background. Depression is a common psychiatric disorder in epilepsy. The prevalence is 20-80%. The depression is not a routinely assessed in neurology clinics, because the assestment takes a long time. So, many patients are under diagnosed and untreated. The Neurological Disorders Depression Inventory for-Epilepsy (NDDI-E) is a depression screening examination consist of only 6-aitem.
Purpose. To determine the accuracy and cut-off point of NDDI-E Indonesian version as a screening depression examination for adult epilepsy patients.
Method. Diagnostic test study was conducted at epilepsy clinic on RSCM. All the epilepsy patient who met the inclusion criteria was examined. The patient took the NDDI-E Indonesian version as a self assesment. Then there were assest with used the International Neuropsychiatric Interview Mini ICD-10 (MINI-ICD10) as a gold standar.
Results. From the 105 subjects, there were 23 people suffered from major depression by MINI-ICD10. Receiver Operating Characteristic (ROC) curve obtained which is close to 100%, cut-off point at 11, with Sensitivity 91.3% Specificity 89% PPV 70% and NPV of 97.3%. It was statistically classified as strong because the value of Area Under the Curve (AUC) is 97.5% with a confidence interval (95% CI 95% -99%).
Conclusion. NDDI-E Indonesian version has a high accuracy to determine major depressive disorder in adult epilepsy patients with the cut-off point at 11.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T58561
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Azzahra
"Latar Belakang. Prevalensi gangguan kognitif pada pasien artritis reumatoid (AR) berpotensi menurunkan kapasitas fungsional, kualitas hidup, dan kepatuhan berobat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi gangguan kognitif pada pasien AR di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan faktor-faktor yang memengaruhinya.
Metode. Penelitian dengan desain potong-lintang ini mengikutsertakan pasien AR berusia ≥18 tahun yang berobat di Poliklinik Reumatologi RSCM pada periode Oktober-Desember 2021. Data demografik, klinis, terapi, dan laboratorium dikumpulkan. Status fungsi kognitif dinilai dengan kuesioner MoCA-INA. Analisis bivariat dan multivariat regresi logistik dilakukan untuk mengidentifikasi faktor prediktif terjadinya gangguan kognitif pada pasien AR: usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, durasi penyakit, aktivitas penyakit, skor faktor risiko penyakit kardiovaskular, depresi, terapi kortikosteroid, dan methotrexate.
Hasil. Dari total 141 subjek yang dianalisis, 91,5% adalah perempuan, dengan rerata usia 49,89±11,73 tahun, sebagian besar tingkat pendidikan menengah (47,5%), median durasi penyakit 3 tahun (0,17-34 tahun), memiliki aktivitas penyakit ringan (median DAS-28 LED 3,16 (0,80-6,32)), dan skor faktor risiko penyakit kardiovaskular rendah (median 4,5% (0,2-30 %)). Sebanyak 50,4% subjek diklasifikasikan mengalami gangguan kognitif, dengan domain kognitif yang terganggu adalah visuospasial/eksekutif, atensi, memori, abstraksi, dan bahasa. Analisis regresi logistik menunjukkan usia tua (OR 1,032 [IK95% 1,001–1,064]; p=0,046) dan tingkat pendidikan rendah (pendidikan dasar) (OR 2,660 [IK95% 1,008–7,016]; p=0,048) berhubungan dengan gangguan kognitif pada pasien AR.
Kesimpulan. Prevalensi gangguan kognitif pada pasien AR di RSCM sebesar 50,4%, dengan faktor prediktif terjadinya gangguan kognitif tersebut adalah usia tua dan tingkat pendidikan yang rendah.

Background. Cognitive impairment in rheumatoid arthritis (RA) patients could decrease functional capacity, quality of life, and medication adherence. The objective of this study was to explore the prevalence and possible predictors of cognitive impairment in RA patients in Dr. Cipto Mangunkusumo National Referral Hospital, Jakarta.
Method. This cross-sectional study included Indonesian RA patients aged ≥18 years old, who visited rheumatology clinic at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, on October to December 2021. Demographic, clinical, therapeutic, and laboratory data were collected. Cognitive function was assessed using MoCA-INA questionnaire. Bivariate and multivariate logistic regression analysis were performed to identify predictive factors of cognitive impairment in RA patients: age, gender, education level, disease duration, disease activity, cardiovascular disease (CVD) risk factor scores, depression, corticosteroid, and methotrexate therapy.
Results. Of the total 141 subjects analysed, 91.5% were women, mean age 49.89±11.73 years old, mostly had intermediate education level (47.5%), median disease duration 3 (0.17-34) years. They had mild disease activity (median DAS-28 ESR 3.16 (0.80-6.32)), and low CVD risk factor score (median 4.5 (0.2-30) %). In this study, 50.4% of the subjects were classified as having cognitive impairment. The cognitive domains impaired were visuospatial/executive, attention, memory, abstraction, and language. In logistic regression analysis, old age (OR 1.032 [95%CI 1.001–1.064]; p=0.046) and low education level (OR 2.660 [95%CI 1.008–7.016]; p=0.048) were associated with cognitive impairment.
Conclusion. The prevalence of cognitive impairment in RA patients in Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital was 50.4%, with the its predictive factors were older age and lower education level.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Riwanti Estiasari
"Latar Belakang: Lupus Eritematosus Sistemik (LES) dapat melibatkan berbagai sistem organ termasuk sistem saraf dengan manifestasi klinis terbanyak berupa gangguan kognitif. Rana kognitif yang terganggu dapat bervariasi. Gangguan fungsi kognitif ini dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita LES. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran gangguan kognitif pada penderita LES.
Metode: Studi potong lintang dengan populasi target semua penderita LES yang terdaftar sebagai anggota Yayasan Lupus Indonesia. Pemeriksaan fungsi kognitif yang dilakukan adalah Mini Menrai Sfaius Examination (MMSE), Forward Digit Span, Backward Digit Span, Rey Auditory Verbal Learning Test, Rey Osterrieth Complex Figure, Trail Making part A dan B serta Finger Tapping Test.
Hasil: Dari 66 subyek gangguan kognitif ditemukan sebanyak 71.2%. Gangguan kognitif Iebih banyak ditemukan pada kelompok umur < 40 tahun (76.6%) dengan aktivitas penyakit yang tidak terkontrol (51.1%). Rana kognitif yang terganggu adalah fungsi eksekutif (80.9%), visuospasial 59.6%, memori 21.3% dan atensi 8.5%. Gangguan rana tunggal ditemukan sebanyak 53.2%, 2 rana 27.7% dan kurang lebih 3 rana 19.2%. Didapatkan hubungan yang bermakna antara gangguan kognitif dengan aktifitas penyakit (p=0.013; OR 5.68 IK95% l.43;22.53).
Kesimpulan: Prevalensi gangguan kognitif pada penderita LES adalah 71.2%. Rana kognitif yang sering terganggu adalah fungsi eksekutif. Penderita LES dengan usia < 40 tahun dan aktivitas penyakit tidak terkontrol mempunyai kecenderungan mengalami gangguan kognitif."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007
T21319
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmi Ulfah
"ABSTRAK
Gangguan kognitif ringan merupakan gejala awal dari perkembangan penyakit demensia yang dapat dicegah dan diperbaiki. Deteksi MCI menggunakan bantuan informan memiliki kelebihan dibandingkan pemeriksaan langsung ke lansia. Salah satu pemeriksaan berdasarkan informan adalah IQCODE-S. Tujuan dari penelitian ini untuk melakukan adaptasi lintas budaya, uji validitas dan reliabilitas IQCODE-S Bahasa Indonesia.Metode Penelitian. Penelitian dibagi menjadi 2 tahap. Tahap pertama meliputi adaptasi lintas budaya berdasarkan ketentuan World Health Organization WHO , dilanjutkan uji validitas interna, reliabilitas interna dan reliabilitas test-retest pada 30 pasien epilepsi yang memenuhi kriteria inklusi. Tahap kedua adalah uji diagnostik. Hasil IQCODE-S dengan titik potong ge;3,19 dibandingkan dengan pemeriksaan neuropsikologi sebagai baku emas.Hasil. Kuesioner IQCODE-S versi bahasa Indonesia didapatkan melalui proses adaptasi lintas budaya menurut WHO. Hasil uji validitas interna dengan korelasi Spearman didapatkan koefisien korelasi 0,382 hingga 0,778. Uji reliabilitas konsistensi interna dengan Cronbach rsquo;s Alpha 0,854. Perbedaan nilai koefisien korelasi dan Cronbach rsquo;s Alpha antara pemeriksaan pertama dan retest menunjukkan reliabilitas test-retest yang baik. Dari 63 subyek uji diagnostik, proporsi MCI hasil pemeriksaan neuropsikologi sebanyak 87,3 . Dengan titik potong ge;3,19, IQCODE-S memiliki sensitivitas 76,4 dan spesifisitas 87,5 . Kesimpulan. Kuesioner IQCODE-S versi Indonesia terbukti valid dan reliabel sehingga dapat digunakan untuk menapis MCI. Dengan titik potong ge;3,19, IQCODE-S memiliki nilai akurasi yang tinggi tapi belum dapat menjadi alat skrining MCI di komunitas.Kata Kunci. MCI, IQCODE-S versi Indonesia, uji validitas dan reliabilitas, uji diagnostik.

ABSTRACT
Mild cognitive impairment MCI is the most early clinical symptom from the progression stage of dementia which this stage can be prevented or fixed. Detection of MCI by using informant based report has many advantages compared with objective screening test. One of informant based tools is Informant Questionnaire on Cognitive Decline in the Elderly short version IQCODE S . The aim of this study is to develop transcultural adaptation, validity and reliability test and diagnostic test with neuropsychological test of the IQCODE S.Method. The study was conducted in two phases. The first phase included transcultural adaptation based on World Health Organization WHO standards, followed by internal validity test, internal reliability test and test retest in 30 elderly patients within their informants who fulfill the inclusion criteria. The second phase was diagnostic test, in which, IQCODE S, with cut off point ge 3,19,will be compared with Neuropsychological test as the gold standard examination for diagnosing MCI.Results. The Indonesian version of IQCODE S was obtained by transcultural adaptation based on WHO standards. Internal validity test with Spearman correlation obtained the correlation coefficient 0.38 to 0.778 Internal consistency reliability test with Cronbach rsquo s Alpha was 0.854. The difference of correlation coefficient and Cronbach rsquo s Alpha between the first and the retest showed good test retest reliability. Out of 63 of subjects of diagnostic test, the proportion of MCI using neuropsychological test was 87.3 . With cut off point 3,19, IQCODE S had sensitivity rate of 76,4 and specificity 87,5 .Conclusion. The Indonesian version of the the IQCODE S was proven to be valid and reliable, also was found to be accurate but there should be cut off point determination as screening test so sensitivity could be higher than specificity. Keywords. MCI, IQCODE S Indonesian version, validity and reliability test, diagnostic test. "
2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anidiah Novy Hasdi
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran gangguan mental serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya gangguan mental pada pasien dengan stroke di Poliklinik Saraf RSCM pada tahun 2016. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan desain penelitian studi potong lintang. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa, 46.8 subyek dengan stroke di poliklinik Saraf RSCM mengalami gangguan mental. Gangguan mental terbanyak adalah episode depresif sebesar 19 dan distimia sebesar 16.2 . Jenis mekanisme koping yang terbanyak digunakan subyek adalah emotion focused coping dengan subskala mekanisme koping terbanyak yaitu religion. Tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, riwayat gangguan mental di keluarga, lokasi lesi, waktu pasca stroke, jenis stroke dan mekanisme koping dengan terjadinya gangguan mental pada pasien stroke. Hubungan yang bermakna didapatkan dari disabilitas fisik, yaitu ketergantungan ringan dan ketergantungan sedang yang berhubungan dengan terjadinya gangguan mental pada pasien stroke.

ABSTRACT
This study aimed to get an overview of mental disorders and the factors that influence the occurrence of mental disorders in patients with stroke in Neurology clinic RSCM in 2016. The study was a descriptive analytic research using cross sectional study design study. The result showed that, 46.8 of subjects with stroke in Neurology clinic RSCM had a mental disorder. Most mental disorders are major depressive episode was 19 and 16.2 dysthymia. Most types of coping mechanisms subject used is emotion focused coping with subscale most coping mechanism that is religion. There is no significant relationship between gender, history of mental illness in the family, lesion location, time of post stroke, stroke and coping mechanisms with the onset of mental disorders in stroke patients. A significant association was obtained from a physical disability, mild and moderate dependence was associated with the occurrence of mental disorders in stroke patients."
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuhyi Fajrina
"Latar Belakang. Gangguan kognitif dapat terjadi pada multipel sklerosis MS dan berdampak menurunnya kualitas hidup. Brief International Cognitive Assessment for MS BICAMS merupakan instrumen untuk mendeteksi gangguan kognitif penyandang MS. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi instrumen BICAMS versi bahasa Indonesia BICAMS-INA .Metode. Penelitian potong lintang ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo Jakarta periode Mei-Juni 2018 pada kelompok MS dan kontrol. Pemeriksaan BICAMS yang terdiri dari; Symbol Digit Modalities Test SDMT , California Verbal Learning Test-II CVLT-II , dan Brief Visuospatial Memory Test Revised BVMTR dilakukan pada 23 kelompok MS dan 66 kelompok kontrol. Kemudian dilakukan retest pada 13 kelompok MS dan 23 kelompok kontrol.Hasil. Rerata SD hasil pemeriksaan BICAMS pada kelompok MS dan kontrol sebagai berikut: SDMT kelompok MS 41,4 15,1; kelompok kontrol 64,9 16,2 p

Background. Cognitive impairment can occur in multiple sclerosis MS and impact on decreased quality of life. Brief International Cognitive Assessment for MS BICAMS is an instrument to detect cognitive impairment in MS. This study aimed to validate the Indonesian version of BICAMS BICAMS INA .Methods. This cross sectional study was performed in Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, from May to June 2018 on MS and control group. Consisted of Symbol Digit Modalities Test SDMT , California Verbal Learning Test II CVLT II , and Brief Visuospatial Memory Test Revised BVMTR , this instrument was administered to 23 patients with MS and 66 healthy controls. Retest was performed on 13 patients with MS and 23 healthy controls.Result. The mean SD score of BICAMS in MS and control groups were as follows SDMT in MS vs control group 41.4 15.1 vs 64.9 16.2 p"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fitria Chandra Nugraheni
"Latar belakang: Pasien NMOSD cenderung menunjukkan progresifitas/perburukan defisit neurologis pada setiap relaps. Pemberian terapi rumatan pada NMOSD bisa mencegah relaps dan mempertahankan remisi. Hingga saat ini belum ada studi yang meneliti mengenai kepatuhan pengobatan pasien NMOSD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai tingkat kepatuhan pengobatan pasien NMOSD, mengetahui karakteristik serta faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan pengobatan.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong-lintang dengan populasi seluruh pasien NMOSD yang berobat di RSCM sejak tahun 2019 hingga Mei 2023. Sampel diambil dengan cara consecutive sampling. Kriteria inklusi yaitu pasien dengan diagnosis NMOSD sesuai kriteria diagnosis IPND tahun 2015, usia ≥ 18 tahun, konsumsi obat untuk NMOSD minimal selama 1 bulan. Kriteria eksklusi yaitu tidak bersedia ikut serta dalam penelitian. Kepatuhan berobat dinilai dengan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale 8 versi Bahasa Indonesia (MMAS-8), depresi dinilai dengan kuesioner Beck Depression Inventory versi Bahasa Indonesia (BDI-II), kognitif dinilai dengan kuesioner Montreal Cognitive Assesmenet versi Bahasa Indonesia (Moca-INA), dan persepsi terhadap penyakit dinilai dengan kuesioner Beck Depression Inventory versi Bahasa Indonesia (B-IPQ. Data karakteristik demografi, pengobatan, dan klinis didapatkan dari rekam medis/anamnesis. 
Hasil: Subjek penelitian ini sebanyak 42 orang dengan rasio pria:wanita= 1: 13. Pasien yang terkategori patuh berobat sebesar 57,1%. Kepatuhan berobat berhubungan dengan status pernikahan (p=0,037), jenis obat saat ini (p=0,033), nilai EDSS (p=0,035), depresi (p=0,018), dan gangguan kognitif (p=0,029). Hasil analisis multivariat mendapatkan bahwa subjek yang tidak depresi 4,60 kali (IK 95% 1,03-20,4) lebih patuh dibandingkan depresi dan setiap kenaikan 1 poin EDSS (perburukan klinis) dapat 1,33 kali meningkatkan kepatuhan pengobatan (IK95% 1,02-1,76). 
Simpulan: Pada penelitian ini, sebagian besar pasien NMOSD patuh pengobatan. Faktor independen yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan pasien NMOSD di RSCM adalah depresi dan derajat disabilitas.

Background: NMOSD patients tend to show progressive/worsening neurologic deficits in each relapse. Maintenance therapy for NMOSD can prevent relapse and maintain remission. Until now there have been no studies that examined the medication adherence of NMOSD patients. The aim of this study was to assess the level of medication adherence of NMOSD patients, to find out the characteristics and factors that influence treatment adherence.
Methods: We conducted a cross sectional study on NMOSD patients who came to RSCM from 2019 to May 2023. Samples were taken by consecutive sampling. The inclusion criteria were patients with a diagnosis of NMOSD according to the 2015 IPND diagnosis criteria, age ≥ 18 years, consumption of drugs for NMOSD for at least 1 month. Exclusion criteria were not willing to participate in the study. Medication adherence was assessed by the Indonesian version of the Morisky Medication Adherence Scale 8 questionnaire (MMAS-8), depression was assessed by the Indonesian version of the Beck Depression Inventory questionnaire (BDI-II), cognitive was assessed by the Indonesian version of the Montreal Cognitive Assessment questionnaire (Moca-INA), and perceptions of illness were assessed by the questionnaire Beck Depression Inventory Indonesian version (B-IPQ). Data on demographic, treatment, and clinical characteristics were obtained from medical records/anamnesis.
Results: There were 42 subjects in this study with a male:female ratio = 1: 13. Patients who were categorized as adherent to medication were 57.1%. Medication adherence was related to marital status (p=0.037), current type of medication (p=0.033), EDSS score (p=0.035), depression (p=0.018), and cognitive impairment (p=0.029). The results of multivariate analysis found that subjects who were not depressed were 4.60 times (95% CI 1.03-20.4) more adherent than depressed subjects and for every 1 point increase in EDSS (clinical worsening) could be 1.33 times increased medication adherence (95% CI). 1.02-1.76).
Conclusion: In this study, the majority of NMOSD patients adhered to treatment. Independent factors that influence NMOSD patient medication adherence at RSCM are depression and the degree of disorder.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Bayu Suryo Aji
"Latar Belakang: Pengaruh sering kontak dengan white spirit di lingkungan kerja menjadi salah satu hal yang dicurigai sebagai pencetus penurunan atensi/konsentrasi/ingatan para mekanik sehingga terjadinya kecelakaan. Dari toxicological profilenya zat tersebut memiliki efek terhadap susunan saraf pusat yang kronis salah satunya adalah gangguan memori jangka pendek.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Subjek penelitian para mekanik kontraktor pertambangan batubara PT.A di Kalimantan Selatan, berjumlah 80 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, pemberian kuesioner serta pemeriksaan fungsi memori dengan RAVL dan ROCF test.
Hasil: Dari 80 sampel 57 (71,3%) mengalami gangguan memori jangka pendek. Tingkat pajanan ≥2,64 memiliki risiko 3,1 kali terjadi gangguan memori jangka pendek dibanding tingkat pajanan <2,64 (nilai p=0,048; OR=3,109; CI=1,012-9,551). Secara statistik faktor risiko yang bermakna adalah status gizi (nilai p=0,026; OR=0,276; CI=0,089-0,858) dan usia (nilai p=0,045; OR=0,310; CI=0,099-0,972)
Kesimpulan: Prevalensi gangguan memori jangka pendek para mekanik kontaktor PT.A sebesar 71,3%. Tingkat pajanan ≥2,64 memiliki risiko gangguan memori jangka pendek 3,1 kali lebih besar dari tingkat pajanan <2,64. Secara statisitik status gizi dan usia bermakna dalam risiko gangguan memori jangka pendek.
Kata kunci: gangguan memori jangka pendek, white spirit, tingkat pajanan.

Background: The effect of white spirit chemicals suspected as the cause of
attention/concentration/memories decreasses of mechanics. It can occurs the accidents. Having known of the toxicological profile that these chemicals have chronical effects on the central nervous system. Then one of the disorders examined is something related to the function of the central nervous system is impaired of short-term memory. Methods: This study used a cross-sectional design. The subjects are PT.A coal contractor mechanics in South Borneo, totaling 80 people. Data collected through interviews, physical examinations, questionnaires and examination administration with memory function RAVL and ROCF test.
Results: There are 80 samples of 57 (71.3%) experiencing short-term memory impairment. The white spirit exposure level ≥2,64 has risk 3,1 times bigger than white spirit exposure level <2,64 become a short term memory loss (p value=0,048; OR=3,109; CI=1,012-9,551). Statistically the factors that has a significant association are nutritional status (p value=0,026; OR=0,276;
CI=0,089-0,858) and age (p value=0,045; OR=0,310; CI=0,099-0,972)
Conclusion: 57 (71.3%) from 80 people experiencing short-term memory impairment. White spirit exposure level ≥2,64 has risk 3,1 times bigger than white exposure level <2,64 become a short term memory loss There are statistics relations between age dan nutritional status with short term memory loss.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anastasia Melissa Ayu L. Witjaksono
"Latar Belakang: Post-stroke fatigue merupakan invisible handicap dengan prevalensi global 23% - 85%. Faktor yang berkaitan multidimensional, dan berdampak negatif terhadap angka rawat, luaran fungsional, kualitas hidup, dan kesintasan. Prevalensi dan faktor-fakor yang berkaitan dengan late PSF pada populasi stroke iskemik di Indonesia belum ada.
Metode: Penelitian potong-lintang ini menggunakan teknik pengambilan sampel berurutan pada seluruh pasien stroke iskemik yang kontrol ke Poli Saraf RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Data primer didapatkan menggunakan kuisioner Fatigue Severity Scale, Skala Kecemasan dan Depresi Rumah Sakit, Montreal Cognitive Assessment, dan Pittsburgh Sleep Quality Index versi Indonesia. Data sekunder didapatkan dari rekam medis. Analisis dilakukan untuk menilai prevalensi, hubungan PSF dengan faktor-faktor yang memengaruhi, dan korelasi item FSS dengan PSF.
Hasil: Dari 248 pasien, 100 pasien pertama yang memenuhi kriteria penelitian diambil sebagai subjek penelitian. Prevalensi PSF didapatkan sebanyak 49%. Pada analisis multivariate, pekerjaan sebelum stroke (aOR 0,34; IK95% (0,11-0,99); p=0,047), jumlah komorbid (aOR 3,07; IK95% (1,17-8,10); p=0,023), dan talamus (aOR 0,17; IK95% (0,03-0,89); p=0,036) menentukan kejadian PSF. Pada uji korelasi, item FSS yang berkorelasi tertinggi adalah item 8 dan 5.
Simpulan: Pada penelitian ini, hampir setengah pasien stroke iskemik mengalami late PSF. Faktor-faktor yang berkaitan perlu diinterpretasi secara hati-hati. Fatigue bersifat subjektif sehingga faktor psikososial dan budaya perlu dipertimbangkan.

Background: Post-stroke fatigue is an invisible handicap with a global prevalence of 23%-85%. The factors associated is multidimensional, and has negatif impact on hospitalization, functional outcome, quality of life, and survival. The prevalence and factors associated with late PSF among the Indonesian population with ischemic stroke has not been published.
Methods: This is a cross-sectional study using consecutive sampling techniques on stroke ischemic patients who visits the Neurolgy clinic at Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital. Primary data is obtained by questionnaires consisting of the Indonesian version of the Fatigue Severity Scale, Hospital Anxiety and Depression Scale, Montreal Cognitive Assessment, dan Pittsburgh Sleep Quality Index. Secondary data is obtained through medical records. Analysis are performed to obtain the prevalence, relationship between PSF and associated factors, and correlation between FSS items with PSF.
Results: From 248 patients, the first 100 patients meeting the study criteria were taken as study subjects. The prevalence of PSF is 49%. In multivariate analysis, employment before stroke (aOR 0.34; 95%CI (0.11-0.99); p=0.047), number of comorbid (aOR 3.07; 95%CI (1.17-8.10); p=0.023), and thalamus (aOR 0.17; 95%CI (0.03-0.89); p=0.036) are associated with PSF. In the correlation test, the items from FSS that have the highest correlation to PSF are items 8 and 5.
Conclusion: In this study, nearly half of ischemic stroke patients experienced late PSF. Related factors need to be interpreted carefully. Fatigue is a subjective symptom so cultural and psychosocial factors needs to be considered.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>