Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 101 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Martinette Susan Christie Prabowo Notosaputro
"ABSTRAK
Penelitian ini berfokus pada upaya menjelaskan gambaran mengenai maskulinitas otokoyaku dengan menggunakan analisis karakteristik pada tokoh-tokoh yang terdapat dalam drama The Rose of Versailles. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Analisis karakteristik dalam penelitian ini menggunakan konsep stereotipe karakteristik gender Baron. Penggambaran gender merupakan konstruksi sosial. Ideologi yang terkandung dalam drama The Rose of Versailles. Selain itu, penelitian ini juga membahas mengenai kostum, penampilan dan gerak gerik dari otokoyaku. Sumber data yang digunakan adalah video yang dibuat oleh Takarazuka Creative Art yang berjudul The Rose of Versailles pada tahun 2006. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam pertunjukkan Takarazuka Revue terdapat ideologi gender yang dimanfaatkan oleh perempuan sebagai “alat” untuk menunjukkan eksistensinya dalam panggung seni pertunjukan di Jepang.

ABSTRACT
This study focuses on efforts to clarify the picture of masculinity otokoyaku by using analysis of the characteristics of the figures contained in the drama The Rose of Versailles. This study is a qualitative research. Analysis of the characteristics in this study uses the concept of gender stereotypes Baron characteristics. The depiction of gender is a social construction. Ideology contained in the drama The Rose of Versailles. Furthermore, this study also discusses the costume, appearance and gestures of otokoyaku. Source of data used is a video with title The Rose of Versailles made by Takarazuka Creative Art's in 2006. Results of this study indicate that in the Takarazuka Revue performances are gender ideology used by women as a "tool" to demonstrate their existence in the performing arts stage in Japan."
Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Wahyu Tini Astuti
"Penelitian ini mencoba mengkaji keterkaitan antara fenomena penjual atau pelayan minuman dengan praktek perdagangan perempuan untuk tujuan pelacuran. Mengingat bahwa fenomena penjual/pelayanan minuman ringan merupakan suatu praktek pelacuran terselubung. Fokus utama dari penelitian ini adalah perempuan penjual minuman ringan di sepanjang rel kereta api Manggarai Jatinegara, Jakarta.
Hasil penelitian memperoleh temuan bahwa ada keterkaitan antara praktek pelacuran terselubung dengan modus perempuan penjual minuman ringan dengan praktek perdagangan perempuan dan ada empat perempuan penjual minuman ringan yang menjadi korban perdagangan perempuan. Artinya mereka mengalami tiga unsur penting dalam praktek perdagangan perempuan yaitu proses, cara dan tujuan. Pada kegiatan proses, korban melewati proses perekrutan dengan cara iming-iming dan janji palsu untuk tujuan eksploitasi seksual.
Temuan lain dalam penelitian ini adalah adanya faktor pendorong dan penarik yang menyebabkan korban terjerat dalam praktek perdagangan. Faktor-faktor pendorong lain adalah marjinalisasi perempuan dalam ekonomi, tingkat pendidikan yang rendah, konflik dalam keluarga, pernikahan dini yang berakhir dengan perceraian, dan stigma sosial negatif terhadap perempuan yang berstatus janda, dan budaya konsumerisme masyarakat. Sedangkan faktor penarik adalah maraknya bisni seks itu sendiri yang memberikan banyak keuntungan bagi berbagai pihak kecuali perempuan penjual minuman. Temuan akhir yang saya peroleh adalah kondisi kerja anak perempuan penjual/pelayan minuman. Mereka mengalami kekerasan phisik dan psikis dari mucikari. Korban juga mengalami kekerasan phisik, psikis dan seksual dari tamu laki-laki, aparat yang sering merazia mereka. Mereka juga mendapatkan stigma yang negatif dari masyarakat sekitar dan masyarakat dari daerah korban berasal. Kondisi kerja para perempuan penjual minuman sangat memprihatinkan. Mereka harus bekerja selama 10 jam setiap hari dari jam 7 hingga 5 dini hari. Mereka juga terjebak oleh lilitan hutang yang tidak ada habisnnya.

The main focus of this research is the phenomenon of drinks seller girls along the rail way in Jakarta. This research explores the relation between drinks seller girls with the phenomenon of human trafficking, because the drinks seller girls phenomenon is a form of hidden prostitution. Based on the finding of this research, there is a relation between drinks seller girls with human trafficking and four respondents are the victims of human trafficking for sexual exploitation. This is because there the three main things to indicate the human trafficking. There are process, methods and purpose.
The next finding is there are pull and push factors in human trafficking. The pull factor is the sex business itself that can profit a lot of people who are in the network. The push factors are poverty, education, family conflicts, early marriage, social stigma, and consumerism.
The last finding is the condition of drinks seller girls. They have experienced physical violence, psychology violence, and sex abuse from the pimps, customers, and the officers. They also have to work 10 hours a day. Debt bondage is a way to keep the victims working for the pimps."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2008
T25540
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Zakaria Ramadhan
"Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa kepulihan kedua subyek dari gangguan skizofrenia ditandai dengan hilangnya atau berkurangnya intensitas kemunculan gejala-gejala utama gangguan skizofrenia yang dialami sebelumnya, munculnya pemahaman terhadap gangguan skizofrenia yang dialami, munculnya penghargaan terhadap aktivitas kerja sehari-hari, dan munculnya kepuasan dari relasi yang dijalin dengan lingkungan. Pada subyek kedua (Tyas) juga ditandai dengan munculnya kesadaran akan perawatan diri. Penghayatan kedua subyek terhadap pengalaman kepulihan tersebut membuat keduanya merasakan hidup yang lebih berarti dan memiliki tujuan, merasakan adanya keberdayaan diri, serta merasa lebih memahami dirinya sendiri. Sehingga keduanya pun menunjukkan kepatuhan terhadap pengobatan yang dijalani. Kedua subyek juga merasa telah pulih. Namun, subyek pertama merasa tidak terlalu puas dengan keadaan dirinya sedangkan subyek kedua merasa cukup puas.
Selain itu, ditemukan juga bahwa faktor-faktor lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam mendukung kepulihan kedua. Bentuk dukungan yang diberikan oleh lingkungan keluarga subyek pertama adalah penerimaan dan pemahaman akan kondisi subyek. Sedangkan subyek kedua mendapatkan dukungan motivasional, penerimaan, dan pemahaman dari keluarga dan lingkungan tempat kerjanya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepulihan dari gangguan skizofrenia bagi kedua subyek meliputi seluruh aspek diri dalam bentuk perubahan sikap, cara pandang, pikiran, perasaan, dan perubahan cara bertindak. Walaupun penelitian ini belum dapat memberikan gambaran yang relatif utuh mengenai penghayatan terhadap kepulihan dari gangguan skizofrenia, data-data yang didapatkan telah cukup memberikan informasi yang mendalam mengenai penghayatan kedua subyek penelitian.

The results of this case study show that the two subject?s subjectiveexperience of recovery from schizophrenia is characterized by the disappearance or the low-level intensity of appearance of the subject?s primary symptoms of schizophrenia, gain some awareness of schizophrenia, feel appreciate about the day-to-day work activities and gain satisfaction from relationship with the environment. The second subject has also aware of the importance of self-care activities. The two subjects experience the worth and purposive life and also have more understand about them self than before. Those all subjective-experience make them realize about the need of medication. So they choose to comply to have medication now. Both of them believe that they have recovered. But the first subject, contrary to the second subject, is not very satisfied with her own self.
The result of this study also shows that supports from the social environment have an important role to the two subject?s achievement of recovery. The family has giving acceptance and understanding to the first subject. On the one hand, the second subject has motivational support, acceptance, and understanding from her family and her work environment.
The findings of the research show that the two subject?s recovery from schizophrenia involve the entire aspects of self in form of change of attitude, the way of thinking, thoughts, feelings, and change of the way of action. Although can not give a holistic picture about subjective-experience of recovery from schizophrenia, the research has shows quite deep information about the subjective-experience of the two subjects."
Depok: Universitas Indonesia, 2007
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Listya Muhairina, auhtor
"ABSTRAK
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menguji apakah identifikasi peran gender bepengaruh terhadap emotional disclosure di dalam konteks hubungan perkawinan. Partisipan penelitian ini adalah 121 orang pria dan wanita yang telah menikah. Berdasarkan skor dari Bern Sex Role Inventory, partisipan diklasifikasikan ke dalam empat kelompok: maskulin, feminin, androgin, dan tak tergolongkan. Skala Emotional Disclosure digunakan untuk mengukur kesediaan individu dalam mengungkapkan pengalaman emosi (positif dan negatit) dengan pasangan mereka. Hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh identifikasi peran gender terhadap kesediaan individu untuk mengungkapkan pengalaman emosi kepada pasangannya."
2008
T38444
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eri Arfiyani
"Salah satu penyebab meningkatnya prevalensi pecandu narkotika adalah proses rehabilitasi yang tidak selesai dan tingkat kekambuhan. Keluarga merupakan salah satu risk factor penyebabnya. Family Support Group FSG merupakan program kegiatan dukungan yang dilaksanakan oleh Balai Besar Rehabilitasi BNN untuk mengaktifkan kembali peran, pengembalian sistem dan relasi dalam keluarga melalui Family Education, Family Sharing, dan Family Therapy dengan harapan keluarga dapat memahami, menerima, dan mengakui permasalahan yang dihadapi residen dan keluarga, sehingga dapat memberikan motivasi sekaligus sebagai pencegah kekambuhan pecandu. Penelitian kualitatif dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan program FSG, kendala yang ditemukan, serta upaya mengefektifkan program ini. Temuan penelitian, pelaksanaan FSG kurang efektif. Kendala-kendala yang muncul diantaranya pemahaman dan rasionalitas program yang tidak jelas. Balai Besar juga belum memberikan dukungan instrumental dan advokasi. Ini menjadi masukan bagi perubahan kebijakan penyelenggaraan program FSG agar sesuai antara harapan BNN dengan keluarga terhadap program FSG.

One of the causes increasing prevalence of narcotic addicts is the process of uncomplete rehabilitation and relapse rates. The family is one of the risk factors causing it. Family Support Group FSG is a support program implemented by BNN Rehabilitation Center to reactivate the role, return of family relationships and systems through Family Education, Family Sharing and Family Therapy with hoped that families can understand, accept and acknowledge the problems faced resident and family, so it can provide motivation as well as prevention of relapse addicts. Qualitative research is conducted to find out the implementation of the FSG program, the constraints found, as well as efforts to streamline the program. The research findings, the implementation of FSG less effective. Constraints that arise include the understanding and rationality of the program is not clear. Balai Besar also has not provided instrumental support and advocacy. This is an input for the change of FSG program implementation policy to fit between BNN 39 s expectations with family towards FSG program."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2017
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Christina Josefien Hutubessy
"ABSTRAK
Fokus penelitian kualitatif berperspektif feminis ini adalah menjelaskan hegemoni gereja terhadap konstruksi tubuh dan seksualitas perempuan yang menyebabkan terjadinya stigma dan diskriminasi terhadap perempuan. Saya mendapatkan empat temuan dengan menggunakan teori Hegemoni Antonio Gramsci dan teori konstruksi tubuh dan seksualitas Simone de Beauvoir serta teologi feminis. Pertama, hegemoni agama terkait tubuh dan seksualitas perempuan menyebabkan perempuan yang hamil dari hubungan seks pranikah dituduh telah melakukan dosa perzinaan. Kedua, respons pemimpin atau pelayan terbagi dua yakni melakukan pastoral care-penggembalaan untuk menguatkan dan membangun kesadaran dan disiplin gerejawi yang menerapkan hukuman atas dosa. Ketiga, perempuan yang hamil dari hubungan seks pranikah mengalami stigma dan diskriminasi secara informal oleh hukuman sosial dan institutional. Perempuan kehilangan kesempatan mengikuti ritus agama karena hukuman disiplin gereja. Mahasiswa teologi yang melakukan seks pranikah dengan bukti kehamilan juga kehilangan hak pengembangan hidup pada pendidikan tinggi teologi. Keempat, pemimpin/ pelayan gereja yang berempati kepada perempuan tidak menerapkan disiplin sekalipun diatur oleh aturan gereja. De Beauvoir menawarkan strategi transendensi yakni perempuan tidak menginternalisasi konstruksi kelompok dominan yang me-Liyan-kan tubuh perempuan. Kate Millet dan Teologi Feminis menawarkan rekonstruksi tubuh dan seksualitas yang bebas dari tatanan patriarki. Teologi feminis merekonstruksi konsep dosa dan epistemologi perempuan.

ABSTRACT
The focus of this qualitative feminist study is to explicate the hegemony of the church in the construction of women rsquo s body and sexuality that lead to stigma and discrimination against women. I gained four findings using Antonio Gramsci 39 s theory of hegemony and the theory of the construction of the body and sexuality Simone de Beauvoir and feminist theology. Firstly, religious hegemony related to women rsquo s body and sexuality causes women with premarital sex pregnancy was accused of the sin of adultery. Secondly, servants leaders rsquo response divided into two, doing pastoral care to strengthening and raising counsiousness and ecclesiastical discipline that applies the punishment for sin. Thirdly, women with premarital sex pregnancy experience stigma and discrimination informally by social and institutional penalties. Women lose the opportunity to follow the religious rites for church discipline punishment. Theology students with premarital sex pregnancy also lose the right to the development of life on higher education theology. Fourthly, the servants leaders of the church who have emphaty to women situation not applies discipline though governed by the rules of the church. De Beauvoir offers transcendence strategies that women do not internalize the construction of the dominant group that women as the Other. Kate Millet and feminist theology offers a reconstruction of the body and sexuality free of patriarchal order. Feminist theology reconstructs the concept of sin and women rsquo s epistemology."
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Disa Nisrina Listiani
"ABSTRACT
Penggunaan situs jejaring sosial SJS kini semakin marak di dunia dan bahkan sudah menjadi bagian integral dari kehidupan kita. Instagram merupakan salah satu SJS yang paling banyak digunakan saat ini sehingga terbentuklah urgensi untuk meneliti mengenai Instagram. Penelitian terdahulu mengenai Instagram menghasilkan bahwa Instagram memberikan efek negatif terutama terhadap subjective well-being seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa Instagram tidak hanya memberikan dampak negatif bagi penggunanya melainkan juga dampak positif, tergantung pada cara penggunaannya. Penulis menguji sebuah model yang mencakup self-disclosure, social support, online social well-being, dan continuance intention pada Instagram, mereplikasi penelitian Huang 2016 yang dilakukan pada konteks Facebook. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 429 orang. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa model yang diajukan berhasil teruji kualitasnya. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pada Instagram, self-disclosure yang dilakukan oleh individu memberikan dampak positif terhadap online social well-being -nya baik secara langsung maupun tidak langsung melalui social support, yang kemudian memberikan dampak positif pula terhadap continuance intention-nya untuk menggunakan SJS tersebut.
ABSTRACT
The usage of social network sites SNSs increased in the past few years and it is now an integral part of our lives. There is an urgency to do a research on Instagram, because it is one of the most used SNSs. Past researches on Instagram found that Instagram has a negative effect on an individual rsquo s subjective well being. The aim of this research is to prove that Instagram doesn rsquo t only affect its users negatively but also positively, depending on how it rsquo s being used. This research tested a model with self disclosure, social support, online social well being, and continuance intention as the variables on an Instagram context, replicating Huangs 2016 research on a Facebook context. There are 429 participants in this research. The result of this research is that the model is qualified and this indicates that on Instagram, an individuals self disclosure has a positive effect on their online social well being both directly and nondirectly through social support, where then the individuals online social well being will also have a positive effect on their continuance intention to use the SNS. "
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Clara Alverina Jovita
"ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran pengungkapan diri dan status identitas pada perempuan penyintas pemerkosaan di Jabodetabek. Penelitian ini dilatarbelakangi dengan keprihatinan akan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan, salah satunya kasus pemerkosaan. Pengukuran status identitas menggunakan Extended Objective Measure of Ego Identity Status II EOM-EIS II dan pengukuran proses pengungkapan diri menggunakan wawancara semi terstruktur dengan mengembangkan tinjauan pustaka terkait pengungkapan diri menjadi pertanyaan-pertanyaan wawancara. Pengolahan statistik deskriptif menunjukan bahwa frekuensi tertinggi status identitas partisipan berada pada status Diffusion f=10. Dari hasil olah data kualitatif ditemukan bahwa pengungkapan diri berdampak positif terhadap pemulihan identitas seseorang jika diikuti dengan reaksi sosial positif. Usia ketika pemerkosaan terjadi dan stabilitas keluarga menjadi dua variabel penting yang mempengaruhi pengaruh pengungkapan diri.

ABSTRACT
The objective of this research is to describe the identity status and self disclosure process among rape survivors in Jabodetabek. This research was based on the increasing number of violence against women, especially rape. To measure identity statuses, we used Extended Objective Measure of Ego Identity Status II EOM EIS II and self disclosure was measured using semi structured interview in which the questions were developed from literature study on the matter. Descriptive statistics analysis shows that identity Diffusion is the most frequent identity status among all the participants f 10. Qualitative analysis found that self disclosure has big impact on survivors rsquo identity healing process if it is followed with positive social reactions. Individuals age and family stability are two important variables that affect the impact self disclosure. "
2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwiki Hendraputra
"ABSTRAK
Pernikahan antarbudaya di Indonesia dinilai sebagai pernikahan yang cukup rentan konflik karena adanya perbedaan pandangan dan kebiasaan diantara individu yang menjalaninya. Perbedaan pandangan tersebut membuat tekanan dalam pernikahan yang dapat menurunkan kepuasan pernikahan. Tekanan pada pernikahan beda budaya tersebut dapat ditangani dengan melakukan pengorbanan terutama dengan approach motive. Approach motive dikaitkan dengan peningkatan kepuasan hubungan setiap hari dan dari waktu ke waktu. Sebanyak 45 pasang suami dan istri yang menikah beda suku selama minimal satu tahun berpartisipasi dalam penelitian dengan mengisi kuesioner luring mengenai motif berkorban dan kepuasan pernikahan. Melalui model APIM, hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan approach motive yang tinggi memiliki kepuasan pernikahan yang tinggi pula (p suami .210, p istri >.001), namun tidak ditemukan adanya pengaruh dari pasangannya.

ABSTRACT
Intercultural marriage in Indonesia is considered a marriage that is quite vulnerable to conflict because of differences in views and habits among individuals who live it. These different views make pressure in marriage that can reduce marital satisfaction. Conflicts and problems on intercultural marriage can be handled by making sacrifices, especially with approach motive. Approach motive is associated with increasing relationship satisfaction everyday and from time to time. 45 intercultural married couples from different ethnicities that have been married for at least one year participated in the study by filling in an offline questionnaire regarding the motives for sacrifice and marital satisfaction. Through the APIM model, the results showed that individuals with high approach motives had high marital satisfaction (p husband .210, wife >.001), but there was no significant effect found from their partners."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>