Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 8 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sunhadji Rubangi
"BAB I PENDAHULUAN
Pemakaian listrik yang makin meningkat dan meluas meningkatkan kecelakaan akibat listrik, baik di rumah maupun di daerah industri. Luka bakar yang ditimbulkannya mulai dari derajat ringan sampai derajat berat dan fatal. Dengan adanya listrik masuk desa, tentunya meningkatkan pula kemungkinan akan trauma listrik, lebih-lebih masyarakat belum banyak mengenal usaha pengamanannya. Tidak jarang tegangan tinggi 20.000 Volt masuk ke pemukiman penduduk yang padat Penghuninya.
Dalam makalah ini akan dibahas 20 kasus trauma listrik dan ha1ilintar yang dirawat di RSCM Januari 1983 sampai dengan September 1986 dengan tujuan:
- Mengingatkan kembali morbiditas dan mortalitas serta sequeale akibat trauma oleh tegangan medium (rumah tangga) dari tegangan tinggi.
- Meninjau dan mengevaluasi hasil pemeriksaan dan penatalaksanaan.
Untuk itu akan dibahas pathogenesa, akibat, diagnosa, penatalaksanaan dan tindakan trauma listrik sehingga penanganan selanjutnya bisa lebih terarah dan rasional.
Trauma listrik dan halilintar memberikan efek spesifik yang tidak sama dengan luka bakar biasa yaitu hisa menimbulkan luka bakar dalam dan kerusakan alat-alat dalam yang sering kali diabaikan sehingga pengobatan hanya ditujukan pada jejas luar yang nampak. Dengan menemukan jejas masuk dan jejas keluar lebih mudah untuk kita memperkirakan dan menemukan kerusakan endogen tersebut. Pemeriksaan pembantu tentang adanya haemoglobine dan myoglobine urine serta kadar kuantitatifnya saat ini akan dikembangkan lebih baik oleh Bagian Pathologi Klinik RSCM/FKUI Jakarta. Adanya myoglobine dalam urine menggambarkan adanya kerusakan otot akibat luka bakar endogen (Joule burn)?
"
1990
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aditya Wardhana
"Tujuan : Mengetahui apakah HTA Indonesia 2003 sudah berjalan di departemen bedah RSCM dan mengetahui pengeluaran pemeriksaan rutin yang mungkin bisa ditekan. Meningkatkan kemampuan pemeriksaan fisik dan memilih pemeriksaan prabedah lebih selektif dan efisien.
Tempat : Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Metodologi : Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dan data disajikan dalam bentuk deskripif. Sebanyak 106 pasien diambil datanya dari status pasien yang masih dirawat (44 orang) dan dari status pasien rawat jalan (62 orang). Pengambilan subjek dengan consecutive sampling untuk yang masih dirawat dan acak sederhana pada pasien rawat jalan. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, sebaran penyakit/kelainan sitemik, sebaran pasien pra dan pascabedah, komplikasi pascabedah, permintaan foto toraks sesuai HTA dan rutin berikut biaya, penyakit sistemik yang mendasari pemeriksaan fate toraks, pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan BTICT sesuai HTA dan rutin berikut biaya, pemeriksaan kimia darah sesuai HTA dan rutin berikut biaya, pemeriksaan foto torak dan darah sesuai HTA dan rutin.
Hasil : Berdasarkan karakteristik pasien kelompok yang sehat lebih banyak dari pasien dengan kelainan sistemik. Penyakitlkelainan sistemik terbanyak adalah kardiopulmonal diikuti tuberculosis dan anemia. Prabedah dalam kondisi baik dan tidak ada komplikasi pasca bedah. Terdapat perbedaan foto toraks HTA dan rutin ( 21 dan 85 dengan biaya Rp.1.050.000 dan Rp.4.250.000). Terdapat perbedaan pemeriksaan BTICT HTA dan rutin (2 dan 104 dengan biaya Rp.30.000 dan Rp.1.560.000). Terdapat perbedaan pemeriksaan kimia darah HTA dan rutin dengan biaya Rp.2.175.000 dan Rp.6.993.500 dan pemeriksaan kimia darah dan foto toraks menurut HTA dan rutin: 7 dan 99 dengan biaya Rp 2.525.000 dan Rp 12.803.500.
Kesimpulan : Pemeriksaan prabedah sesuai HTA belum berjalan.pemeriksaan rutin masih dominan dengan selisih biaya tiga sampai enam kali lebih mahal dari pemeriksaan sesuai HTA dan juga tidak efisien karena tidak terdapat komplikasi pascabedah.

Objective: The aim of this study was to know whether HTA Indonesia 2003 had been performed in the department of surgery RSCM and to know how much its cost for the preoperative routine examination. To improve physical examination and selective choosing preoperative examination based on physical findings.
Place: Cipto Mangunkusumo Hospital
Method: The design was descriptive and cross-sectional retrospective study. There was 44 patients in the ward room and 62 patients at out patience clinics all taken from the status. The sample was taken with consecutive sampling for patients who still in the ward and simple random for patients at out patients clinics. Data collected were characteristics of the patients, systemic diseases, preoperative and postoperative, complications, chest x-ray according HTA and routine with its cost, chest x-ray with systemic diseases, routine blood test, coagulation test, blood chemistry test routine and HTA, blood test and chest x-ray routine and HTA.
Results: Most patients were in good conditions. Sistemic disesase were cardiopulmonal, tuberculosis, and anemia_ Preoperative were in good conditions and there were no complications. There were differences between HTA and routine chest x-ray (21 and 85 with the cost Rp 1.050.000 and Rp 4.250.000), HTA and routine coagulation test were 2 and 104 with the cost Rp 30.000 and Rp 1.560.000, HTA and routine blood chemistry test were Rp.2.175.000 and Rp.6.993.000, HTA and routine chest x-ray and blood chemistry test were 7 and 99 with cost Rp 2.525.000 and Rp 12.803.500.
Conclusions: HTA preoperative examination had not been performed yet, routine preoperative test were dominant and were cost three and six times more expensive than HTA. There were no complications postoperatively, so routine preoperative test should be considered.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18155
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Parintosa Atmodiwirjo
"Pendahuluan: Operasi penutupan sumbing langit-langit merupakan bagian dari proses tatalaksana penderita sumbing bibir dan langit-langit. Proses palatoplasti biasanya menurunkan kadar hemoglobin karena perdarahan yang terjadi. Dengan diketahuinya rerata penurunan kadar hemoglobin diharapkan operator dapat melakukan seleksi pasien dengan kadar hemoglobin yang tidak adekuat, sehingga penyulit pascabedah dapat dihindari terutama pada kegiatan bakti sosial di daerah yang kondisi umum pasien sulit diprediksi.
Metode: Dilakukan penelitian untuk mengetahui berkurangnya kadar hemoglobin pada pasien yang menjalani operasi palatoplasti. Diambil data kadar hemoglobin sebelum dan segera setelah palatoplasti serta dicatat data operator, lama operasi serta evaluasi keadaan luka operasi satu minggu pascaoperasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.
Hasil: Dari 14 sampel yang diteliti didapat hasil 8 pasien mengalami penurunan kadar hemoglobin rata rata sebesar 0,5 ± 0,36 gr/dl. Lima pasien mengalami peningkatan kadar hemoglobin pascaoperasi rata rata sebesar 0,32 ± 0,28 gr/dl. Satu pasien tidak mengalami penibahan. Hanya satu pasien mengalami dehisensi seminggu pascaoperasi, walaupun kadar hemoglobin baik.
Simpulan: Agaknya pasien yang direncanakan operasi palatoplasti sebaiknya memiliki kadar hemoglobin yang lebih atau sama dengan 8,5 gr/dl untuk memenuhi keadaan yang optimal pascaoperasi."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T18157
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Guntoro
"Surgical delay is a manuever that designed to improving survival of skin flap. The basic mechanism of the delay procedure is vascular reorientation that produced by the stimulus of ischemia. This study introduces a new method of surgical delay with ligation suture. This ligation interrupt blood flow to the planned skin flap and thereby producing ischemic condition. We investigated wether this method will improve flap survival, compared with survival in "conventional" surgical delay and non-delay group.
Fifty-one McFarlane flaps on rat model were divided in three groups. After 7 days of delay (in the delay group) the flap was elevated. Then, 7 days post elevation, the survival length of the flaps in all groups was measured. Flap survival ii the ligation suture delay group (72,83% ± 3,84%, n=17) was not different from "conventional" surgical delay group (73,34% ± 9,73%, n=17), and significantly greater than in the non-delay group (47,92%± 6,62%, n=17).
This study suggest that, in rat model, this ligation suture delay procedure was effective to produces ischemic condition that stimulus changes of blood patterns and thus increasing the flap survival."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Donna Savitry
"Tumor sekitar mata dan struktur yang berdekatan sering memerlukan pembuangan bulbus okuli (enukleasi) atau seluruh isi orbita (eksenterasi). Pembedahan dan radioterapi juga memiliki konsekuensi mutilasi pada orbits. Tidak adanya mata dan disharmoni wajah merupakan kecacatan psikis dan fisik bagi pasien. Tujuan mendasar semua prosedur rekonstruksi daerah periorbita adalah untuk memperbaiki hubungan fungsional antara orbita, bulbus okuli dan palpebra, serta untuk meyakinkan proteksi mata dan preservasi penglihatan. Penghargaan struktur anatomi dan fungsi palpebra sangat membantu dalam sebuah rekonstruksi.
Kemampuan untuk rekonstruksi defek yang kompleks pascaablasi kanker kepala dan leher telah berubah secara signifikan sejak kemajuan tehnik bedah mikro. Flap bebas memberi kesempatan pada ahli bedah untuk memindahkan berbagai jaringan yang berbeda pada semua lokasi di wajah dengan angka kesuksesan yang sangat tinggi.
Usaha-usaha untuk merekonstruksi palpebra yang berfungsi dengan dimasukkannya prostesis telah memerlihatkan hasil yang buruk sehingga dianjurkan menggunakan patch, kacamata hitam dan prostesis eksternal yang direkatkan (cosmetic patch) daripada melakukan rekonstruksi.
Rekonstruksi anophialmic orbit merupakan sesuatu yang kompleks, memerlukan pengetahuan yang menyeluruh tentang anatomi orbita, dikombinasi dengan tehnik bedah khusus. Rencana penatalaksanaannya menggambarkan ruang dan waktu, dan secara berhati-hati diadaptasikan pada pasien anophtalmic yang memiliki kondisi psikis yang
rapuh dan berubah-ubah. Rekonstruksi anophtalmic orbit mengikuti sekuens yang mengharuskan pasien berkonsultasi ke ahli-ahli onkologi, radiologi, ophtalmologi dan psikologi. Rencana pembedahan yang akan dilakukan didisain dengan computed tomography scans serta foto premorbid dan saat ini, dan keinginan pasien dipertimbangkan secara hati-hati oleh tim multidisipliner.
Di subbagian Bedah Plastik RSUPN Cipto Mangunkusumo sendiri belum terbentuk suatu tim multidisipliner yang menangani masalah rekonstruksi periorbita yang kompleks Pasien-pasiennyapun tidak terjaring banyak (dalam pengamatan selama satu setengah tahun didapatkan 4 orang pasien). Selain itu penggunaan prostesis belum menjadi salah satu pertimangan seperti di luar negeri.
Tulisan ini bertujuan memberikan gambaran masalah yang dihadapi pasien-pasien di subbagian Bedah Plastik RSUPN Cipto Mangunkusumo dalam kurun waktu tersebut dan bagaimana pasien-pasien tersebut mendapatkan terapi rekonstruksinya. Selain itu tulisan ini juga merupakan tulisan akhir dalam menyelesaikan program studi bedah plastik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2004
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riewpassa, Leonardo Ch. M.
"Sampai saat ini di Indonesia belum ada penelitian tentang bentuk anatomi dan fungsi bibir setelah dilakukan tindakan labioplasti terutama hasil dari satu tehnik operasi. Komplikasi yang sering terjadi berupa jebolnya jahitan dan terjadinya kelainan pertumbuhan maksila akibat terlalu tegangnya otot yang dihubungkan sehingga dicoba tehnik modifikasi Millard dimana kedua otot dijahitkan diprolabium dengan tujuan rnengurangi tegangan yang terjadi.
Metode yang digunakan dimana semua penderita labioschizis bilateral yang dioperasi dengan memakai tehnik ini dinilai komplikasi yang terjadi, bentuk penampilan -dan fungsi bibir atas dengan memakai modified William's form dan formulir penilaian fungsi bibir selama bulan Agustus sampai September 2006. Hasilnya diuji dengan memakai Mann Whitney dan hubungan keduanya dengan regresi tinier.
Hasil yang didapatkan adalah : penderita berjumlali 27 orang sebanyak 24 orang laki-laki ( 88.88 %) dan 3 orang perempuan. ( 11.12 % ). Ditemukan I orang (3.7 % ) penderita dengan komplikasi berupa dehisensi. Terdapat 5 orang ( 18.52% ) dengan delayed speech. HasiI dinilai oleh 6 orang penilai. Pada penelitian ini digunakan nilai toleransi. Tehnik ini dapat dipakai jika dibandingkan dengan nilai toleransi (p = 0.193 ), tidak dapat dipakai jika dibandingkan dengan nilai normal (p = 0.000 ). Fungsi bibir tidak didapatkan perbedaan bermakna ( p = 0.153 ) dan terdapat hubungan antara bentuk penampilan dan fungsi bibi atas."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18156
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Benny Raymond
"ABSTRAK
Latar belakang : Beberapa tahun belakangan, penanganan luka dengan madu
telah banyak diterapkan oleh para praktisi klinis diseluruh dunia. Namun sampai
sekarang, belum ada prosedur standar tentang bagaimana aplikasi madu pada luka.
Di divisi Bedah Plastik RSCM, madu diaplikasikan pada luka dengan frekuensi
satu kali perhari, dan secara observasional hasilnya memuaskan. Namun
bagaimana jika madu diaplikasikan setiap dua hari? Apakah hasilnya akan lebih
memuaskan? Kami ingin mencari metode mana yang akan memberikan hasil yang
paling memuaskan dan nantinya akan dijadikan standar aplikasi madu di divisi
kami.
Metodologi: Penelitian ini bersifat prospektif eksperimental, dilakukan di RSCM
pada bulan Juli – September 2012. Melibatkan 14 pasien dengan luka partial
thickness akut yang akan diwakili oleh luka donor STSG. Jumlah sampel ini
diyakini cukup untuk keakuratan penelitian ini. Pasien dibagi dalam 2 kelompok,
kelompok kontrol akan diberikan aplikasi madu pada luka tiap hari dan kelompok
perlakuan akan diberikan aplikasi madu tiap dua hari. Laju penyembuhan luka
akan dinilai sebagai persentase reduksi area yang belum terjadi epitelialisasi pada
hari ketujuh. Area yang telah epitelialisasi dan yang belum akan ditentukan
menggunakan program AnalyzingDigitalImages®. Data yang didapatkan akan
dianalisa secara statistik menggunakan SPSS versi 17. Data akan dibandingkan
menggunakan Wilcoxon signed rank test dimana p<0,05 secara statistik akan
dianggap terdapat perbedaan yang bermakna.
Hasil : Rerata persentase reduksi area non epitelialisasi pada kelompok perlakuan
adalah 86,76%, sedangkan rerata persentase reduksi area non epitelialisasi pada
kelompok kontrol adalah 97,97%. Dari analisa statistik didapatkan perbedaan
persentase reduksi yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok
kontrol (p 0,00)
Kesimpulan: Rerata persentase reduksi area non epitelialisasi pada luka dengan
penggantian balutan madu tiap hari dan tiap 2 hari, berdasarkan uji statistik
didapatkan berbeda secara bermakna. Namun dalam 2 hari, meskipun efektifitas
madu sudah berkurang, madu masih dapat memberikan hasil yang baik.
Penemuan ini akan berguna untuk pasien dengan luka partial thickness dimana
penggantian balutan madu tiap hari tidak dapat/sukar dilakukan.

ABSTRACT
Backgrounds: In the past few years, clinicians worldwide have been using honey
for wound treatment. But until now, there was no such standard on method of
honey application on wound. In our center, honey was applied on wound by once
a day application and the result was observationally satisfactory. What if
application of honey were done once every two days? Would the result become
more satisfactory? This study aims to search honey application method, which
gives the best result on wound treatment.
Methods: This is a single-blinded non-randomized clinical trial, which was
conducted in Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta from July until September
2012. 14 patients with acute partial thickness wound resulted from STSG
harvesting were involved in this study. Patients were divided into 2 groups:
control (once a day application of honey) and treatment (once every two days
application of honey) and the rate of wound healing were evaluated. Rate of
wound healing will be assessed as number of percentage of reduced nonepithelialized
areas on the seventh day of application.
Results: The mean percentage of non-epithelialized area reduction on treatment
group was 86.76%, and 97,97% on control group. There was significant
difference on percentage of reduced area between control and treatment group (p<
0,00).
Conclusion: There was statistically significant difference between once a day and
once every two days application of honey. However, changing of honey dressing
once a day is still a preferable method in wound treatment"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irena Sakura Rini
"PENDAHLUAN : Terapi tekanan negatif pada luka adalah suatu metode memanfaatkan tekanan subatmosferik untuk menangani luka sulit sembuh. Berdasakan sistem yang ditemukan oleh pasangan Argenta dan Morykwas, kami mencoba membuat modifilcasi sederhana Sistem Vacuum-Assisted Closure (sistem VAC). Alat ini tidak menggunakan tenaga listrik untuk membentuk tekanan negatif sebagaimana pada VAC ash, tetapi spuit 50 cc yang dipasangi katup secara terbalik. Penelitian ini terdiri dari studi pendahuluan untuk memastikan alat modifikasi ini aman, dan penelitian experimental utnuk membandingkan efektifitas penggunaan alat ini dengan pemasangan balutan konvensional (tie-over) untuk mengamankan split- thickness skin graft (STSG) pada Iuka sulit sembuh.
METODE : 18 luka esudatif yang terkontaminasi staphylococcus aureus pada 3 babi yorkshire dilakukan penutupan luka dengan STSG. Setiap luka pada kelompok acak diberi perlakuan berupa pemasangan alat modifikasi VAC dan balutan konvensional (tie-over), pada hari kedua, kelima dan ketujuh pasca skingraft dihitung juga yang takedengna Auto CAD Map.
HASIL : Terdapat pengaruh yang sangat bermakna (p 0.000) antara perlakuan pemakaian alat modifilcasi sederhana sistem VAC dan pemasangan tie-over terhadap pengamanan STSG pada luka sulit sembuh. Berarti bahwa antara luka yang menggunakan that dengan yang tidak menggunakan alat terdapat perbedaan yang sangat bermakna (p =0.000).
DISKUSI : Luas graft yang take serta kualitas graft pada pemakaian alat cukup signifikan. Setiap bagian dad alai ini dapat diperoleh dalam kehidupan sehari-hari disekitar kita Semua komponen disusun secara konsisten sesuai standar mekanis dan memperoleh manfaat yang sama dengan prinsip pada sistem VAC berlisensi.
KESIMPULAN : Modifikasi sederhana sistem VAC dapat meningkatkan keberhasilan skin graft pada luka yang eksudatif. Aplikasi sederhana, pemakaian lebih mudah, biaya murah dan dapat dibawa kemana-mana. Masih membutuhkan penelitian lebih lanjut ditingkat klinis.

INTRODUCTION : A Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) is well known method for using subatmospheric pressure to promote difficult wound healing. On the basis of the system by Argenta and Morykwas, we try to create a simple modified Vacuum Assisted Closure (VAC) system. The major difference between the original closure device is no power supply. A controlled reverse valve over a 50 cc disposable syringe, instead of the vacuum suction pump was used to apply negative pressure. This study consist of a preliminary study to elaborate whether this modified system is a safe device, and an experimental study to compare the effectiveness of a simple modified VAC system to conventional tie-over dressing for securing split- thickness skin graft (STSG)I difficult wound.
METIIODE : 18 exudative burn wound contaminated of staphylococcus aureus in 3 yorkshire pig underwent STSG placement. Each wound randomized in group to receive either a conventional dressing or negative pressure dressing, then graft outcome assessed at second, fifth and seventh day postgrafting using AutoCAD Version Software.
RESULT : There was significant differences in split-thickness skin graft (STSG) survival between a simple modified VAC system to convensional tie-over dressing method (p),0000).
DISCUSSION :. The quantitative graft take in wound using negative pressure was significant and quality was subjectively determined to be better in all sample. Each part of device using readily available materials as easy to find in our daily live. All part of this device is consistent to standard mechanical action property with respect to encouraging result obtained with original device.
CONCLUSION : This animal study have shown a good result in using negative pressure to improving skin graft survival. However a simple modified VAC system gives a promising result The application is simple, low cost, no technical difficulties, less skill needed. The device is small in size so that suitable for ambulatory candidate. Further research using randomized clinical trials is needed prospectively.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library