Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 42 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nur Halimah
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat dukungan sosial dengan tingkat ekspektasi pendidikan anak marjinal. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data survei yang dilakukan di Yayasan Bina Anak Pertiwi Jakarta. Total Sampel dalam penelitian ini berjumlah 34 responden dengan karakteristik anak binaan aktif yang berusia 7-17 tahun. Teknik penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling. Penelitian-penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa ekspektasi pendidikan anak lebih banyak dijelaskan melalui peran latar belakang keluarga inti. Untuk memperkaya studi sebelumnya dan ingin menyesuaikan dengan konteks pendidikan anak marjinal, peneliti menggunakan faktor lain untuk menjelaskan tingkat ekspektasi pendidikan anak marjinal melalui kontribusi dukungan sosial yang diberikan dari significant other mereka. Dukungan Sosial Significant other ini bersumber dari orangtua, guru dan teman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat dukungan sosial dari Orangtua, Guru dan teman secara bersama-sama memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat ekspektasi pendidikan anak marjinal. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa tingkat Dukungan sosial berdasarkan aktor dan dimensi tertentu memiliki hubungan signifikansi pada dimensi ekspektasi pendidikan tertentu pada anak.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sarani Pitor Pakan
"Skripsi ini membahas mengenai fenomena backpacking di Indonesia. Tren backpacking di Indonesia membuat banyak orang yang melakukan backpacking sebagai praktik kulturalnya. Hal tersebut membuat backpacking di Indonesia menjadi beragam dalam praktiknya, bahkan banyak yang bertentangan dengan konsepsi umum tentang backpacking. Skripsi ini memaparkan bagaimana backpacker memilih, menjalani, dan memaknai backpacking sebagai gaya hidup dan praktik kulturalnya. Selanjutnya, dengan pendekatan kritis skripsi ini melihat fenomena backpacking di Indonesia sebagai gejala budaya massa. Sebagai budaya massa, backpacking diciptakan oleh mekanisme industri budaya yang membuat backpacking dikonsumsi secara massal sebagai produk kultural yang penuh kesadaran yang palsu, dangkal, ilusif, dan manipulatif.

This paper discusses about backpacking phenomenon in Indonesia. Backpacking trend in Indonesia has made many people do backpacking as their cultural practice. Because of that trend, backpacking in Indonesia become diverse in practice, moreover contradict to general concept about backpacking. This paper explain how backpacker in Indonesia choose, perform, and interpret backpacking as their lifestyle and cultural practice. Furthermore, by critical approach, this paper sees backpacking phenomenon in Indonesia as mass culture phenomenon. As mass culture, backpacking produced by culture industry mechanism that makes backpacking consumed as cultural product which full of false consciousness, superficiality, illusion, and manipulation."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2013
S47722
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ambar Arbaatun
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bentuk program kemitraan bagi
mitra binaan, mengukur efektivitas program kemitraan bagi usaha kecil mitra
binaan. Serta menggambarkan faktor yang mendukung tercapainya efektivitas
program CSR PT. Jamsostek Kacab Depok melalui program kemitraan. Penelitian
ini merupakan penelitian kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
program kemitraan bersifat mandatory dan minim dalam segi pendampingan.
Dengan metode executing dalam pelaksanaan kemitran memberikan manfaat bagi
pihak perusahaan, koperasi dan mitra binaan. Diantaranya penilaian positif terkait
kinerja perusahaan, kemudahan mengontrol angsuran, kredibilitas koperasi dan
dana stimulan bagi usaha mitra binaan. Dari segi efektivitas program kemitraan,
dapat dikatakan efektif karena mitra binaan mengalami peningkatan usaha.
Sedangkan faktor yang mendukung tercapainya efektivitas program diantaranya
terdapat faktor pendidikan, lama menjalankan usaha, keterlibatan pada usaha
sejenis, jaringan sosial serta pengorganisasian program kemitraan.

ABSTRACT
This research aims to describe a form of partnership program for assisted partner,
to measure the effectiveness of partnership program for small businesses assisted
partner, and also to describe the factors that support the achievement of the
effectiveness of CSR program at PT. Jamsostek branch office Depok through
partnership programs. This research is qualitative research. The result of this
research indicates that partnership program is mandatory and scanty in terms of
mentoring. With executing method in the implementation of partnership program
give the benefit for companies, cooperatives and assisted partner. Such as positive
assessment regarding the company's performance, the ease of installment control,
the credibility of the cooperatives and funds to provide stimulation for assisted
business partners. In terms of the effectiveness of the partnership program, it can
be said to be effective because there is a business improvement of the assisted
business partner. Meanwhile, the supporting factors of program effectiveness are
education, the age of doing business, engagement in similar business, social
networks and organizing of the partnership program."
2014
S53230
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Priska Dewi Astarini
"Skripsi ini merupakan hasil penelitian kuantitatif dengan melakukan purposive sampling pada 109 responden yang merupakankaryawan, baik laki-laki atau perempuan di beberapa perusahaan yang prestisius. Karyawan-karyawan tersebut dipilih dengan kriteria yakni telah bekerja selama 1-5 tahun dan minimal pendidikan S1. Penelitian ini menggambarkan bagaimana pengaruh jaringan sosial terhadap mobilitas sosial individu. Dari hasil temuan, sebanyak 72.5% individu yang menggunakan usaha sendiri dalam mendapatkan pekerjaannya saat ini. Sedangkan, hanya 27.6% yang mempunyai kecenderungan menggunakan jaringan sosialnya untuk mendapatkan pekerjaannya saat ini. Jika melihat pada usaha sendiri, individu menggunakan media sosial sebagai sumber utama dalam mencari informasi lowongan pekerjaan. Juga kecenderungan yang muncul adalah tingginya self- actualization dan need of achievement dari individu untuk saling berkompetisi. Jika dibandingkan, mobilitas sosial individu yang menggunakan usaha sendiri dengan bantuan pihak lain, ternyata mobilitas sosial dengan usaha sendiri lebih tinggi. Pemilihan perusahaan yang prestisius membuat peningkatan status, mobilitas sosial yang berpengaruh pada life chances dan gaya hidup, dan kebanggan pribadi. Arus modernisasi membuat peran perempuan semakin terbuka dan penggunaan teknologi internet yang semakin tinggi dalam mencari pekerjaan.

This bachelor thesis is a quantitative research using purposive sampling to 109 employees in some of prestigious companies who have 1-5 years working experience. This research describes the impact of social networks towards individual social mobility. From the result, the tendency of using self- effort is higher (72.5%) than whom use the social networks in order to apply in employment. Only 27.6% respondents use their social networks in order to get in employment. Take a look from the self-effort, most of respondents use social media as the source of vacancy information. The rising tendency of self-actualization and need of achievement from person is the reason why using self-effort in order to get an occupation. Comparing social mobility using social networks and self-effort, self-effort has higher percentage than social networks. The choice of prestigious company is one way to achieve higher status, upward social mobility (takes effect on better life chances, better lifestyle) and self- pride. The modernization makes tendency of women to be more open and the using of internet is quite high in order to get employment."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
S55787
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indah Rahayu
"Skripsi ini melihat proses pembelajaran di SD Islam Ramah Anak serta melihat pengaruh dari proses pembelajaran terhadap siswa di SD Islam Ramah Anak. SD Islam Ramah Anak merupakan sekolah inklusi, sekolah inklusi secara singkat merupakan sekolah yang memberikan kesempatak kepada anak berkebutuhan khusus untuk dapat mengikuti pendidikan bersama dengan siswa regular. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara dan observasi serta data sekunder.
Hasil studi ini menunjukan bahwa proses pembelajaran di SD Islam Ramah Anak berdasar dari kebijakan affirmative action. Kebijakan affirmative action diberikan kepada anak berkebutuhan khusus agar dapat bersaing dengan siswa regular. Proses pembelajaran dilakukan melalui ability grouping dengan tipe streaming dan mixed ability. Proses pembelajaran yang dilakukan melalui pengelompokan memunculkan efek positif dan juga negatif bagi siswa regular maupun anak berkebutuhan khusus.

This thesis analyze?s learning process in Ramah Anak Islamic Elementary School, and its effects to the student. Ramah Anak Islamic Elementary School is an inclusive school that provides opportunities for children with special needs to learn along side regular students. This study uses a qualitative approach through interviews, observations, and secondary data.
The results of this study showes that learning process in Ramah Anak Islamic Elementary School is based on affirmative action policies. Affirmative action policies is given to children with special needs in order to compete with regular students. The learning process is applied through ability grouping and the type of ability grouping used in the learning process of Ramah Anak Islamic Elementary School is streaming and mixed ability. The learning process that is applied through grouping, give positive and negative effects for regular students as well as children with special needs."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
S55495
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rida Depriani
"Penelitian ini membahas tentang bagaimana siswa yang akan menyelesaikan studi di Sekolah Menengah Atas bersiap untuk menghadapi tantangan melanjutkan pendidikan ke PTN dengan melihat seberapa besar pengaruh dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga maupun peer group; kemudian akan dilihat pula bagaimana pengaruhnya jika variabel kontrol yaitu jenis sekolah diikutsertakan.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data survei yang dilakukan di SMAN 3 Cibinong dan SMA Dwiwarna Boarding School. Total sampel dalam penelitian ini sebesar 130 dengan masing-masing jumlah sampel di SMAN 3 Cibinong berjumlah 100 sedangkan jumlah sampel di SMA Dwiwarna berjumlah 30. Teknik penarikan sampel menggunakan stratified random sampling.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel dukungan sosial keluarga dan dukungan sosial peer group berpengaruh terhadap minat melanjutkan pendidikan ke PTN dengan kekuatan hubungan cukup kuat. Berdasarkan penghitungan analisa multivariat, menunjukkan bahwa variabel dukungan sosial keluarga dengan minat melanjutkan pendidikan ke PTN yang dikontrol dengan variabel jenis sekolah mengalami model elaborasi spesifikasi. Begitu pula dengan variabel dukungan sosial peer group dengan minat melanjutkan pendidikan ke PTN yang dikontrol dengan variabel jenis sekolah, juga mengalami model elaborasi spesifikasi.

This study discusses how students who will completed their study on Senior High School were prepared to face the challenges of continuing education to Higher Institution and for seeing how the big influences of social support were given from their family and their peer group; and also for seeing how they affect if control variable such as type of school was involved.
This study uses quantitative methods with survey techniques in grade XI classes at SMAN 3 Cibinong and SMA Dwiwarna Boarding School. The number of sample in this study is 130 which consists of number sample in SMAN 3 Cibinong is 100 and number of sample in SMA Dwiwarna is 30. Technique sampling using a stratified random sampling.
The result of this study indicate that the variable social support family and social support peer group influence the interest of continuing education in public college with the strength of strong enough ties. In addition, based on the results of the multivariate analysis calculation, indicate that the variable of social support family with the interest of continuing education in public college which is controlled by origin school variable, experienced in elaboration models specifications. Likewise with variable of social support peer group with the interest of continuing education in public college which is controlled by orgin school variable, experienced also in elaboration models specifications.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2015
S62627
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Yoga Petrisoma
"ABSTRAK
Penelitian ini membahas tentang fenomena Labelling dan Self-Fulfilling Prophecy dalam pengelompokan peserta didik di lembaga pendidikan non-formal. Dari segi pendidikan, pengelompokan tersebut sangat baik dilakukan karena menunjang proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Akan tetapi menurut beberapa penelitian di sekolah formal, dibalik pengelompokan peserta didik, muncul beberapa fenomena seperti adanya Label negatif terhadap kelompok peserta didik tertentu, serta menjadikan mereka memiliki prediksi konsep diri yang negatif sebagai akibat dari pengelompokan Peserta didik. Hal ini lah yang menyebabkan terjadinya pro dan kontra di kalangan akademisi terkait konsep pengelompokan peserta didik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ternyata, Labelling dan Self-Fulfilling Prophecy memang terdapat pada pengelompokan peserta didik di lembaga pendidikan non-formal. Namun hal tersebut tidak terlalu memiliki pengaruh negatif terhadap konsep diri peserta didik, seperti yang sudah di prediksi sebelumnya.
Hasil penelitian menunjukan terdapat beberapa dimensi lain yang mempengaruhi bekerjanya Label dan Self-fulfilling Prophecy dalam mempengaruhi motivasi belajar peserta didik. dimensi tersebut antara lain adalah kohesivitas kelompok, significant other dan motivasi diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data wawancara dan observasi. Penelitian ini akan mendeskripsikan seperti apa proses Labelling dan Self-Fulfilling Prophecy yang terjadi ketika peserta didik dikelompokan atas dasar kemampuan akademis di lembaga pendidikan non-formal.

ABSTRACT
This study discusses the phenomenon of Labelling and Self-Fulfilling Prophecy in the grouping of students in non-formal educational institutions. In terms of education, the grouping is very well done because support the learning process becomes more effective. However, according to some research in formal school, behind the grouping of learners, appeared some phenomena such as the presence of negative labels to specific groups of learners, as well as making them have a negative self-concept predicted as a result of the grouping Learners. This is what causes the pros and cons of academics related concept of grouping students.
The results showed that in fact, Labelling and Self-Fulfilling Prophecy are contained in the grouping learners in non-formal educational institutions. But it is not too have a negative influence on the concept of self-learners, as they had in previous predictions. The results showed there are several other dimensions that affect the operation of Label and Self-fulfilling Prophecy in influencing the motivation of learners. The dimensions include the cohesiveness of the group, significant other and self-motivation. This study used a qualitative approach and data collection methods interviews and observation. This study will describe what Labelling and Self-Fulfilling Prophecy process, which occurs when learners are grouped on the basis of academic skills in non-formal educational institutions.
"
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2015
S62127
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Prisilia Resolute
"Mengonsumsi daging anjing sudah menjadi sebuah kebiasaan umum dalam beberapa dekade terakhir dan telah menjadi simbol untuk beberapa kelompok etnis di seluruh dunia. Dogs Are Not Food (DANF) adalah sebuah gerakan sosial yang ditujukan untuk melarang konsumsi daging anjing. Gerakan ini diinisiasi oleh beberapa organisasi hak asasi satwa di Indonesia. Hal ini menjadi pertanyaan mengapa mereka melarang konsumsi daging anjing sementara mereka masih mengonsumsi satwa lain? Dengan menggunakan pendekatan kualitatif penelitian ini menggunakan konsep analisa framing, data diperoleh dengan observasi partisipatoris dan wawancara mendalam terhadap beberapa informan yang mengidentifikasi dirinya sebagai aktivis satwa atau pendukung gerakan DANF. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang cenderung mengkritik gerakan tersebut, penelitian ini mencoba untuk memberikan sebuah penjelasan sosiologis mengenai fungsi anjing di masyarakat dan menganalisa framing dari gerakan DANF di mana argumen utama dari tulisan ini terkait dengan framing yang digunakan oleh gerakan DANF yaitu untuk memanusiakan satwa. Sehingga melarang konsumsi daging anjing menjadi tujuan dari gerakan DANF.

Consuming dogs has been a common practice in the past few decades and has became a symbol for several ethnic groups all around the world. Dogs Are Not Food (DANF) is a new social movement aimed to ban the dog meat consumption, initiated by several animal rights organizations in Indonesia. Why do they ban the consuming of dogs whilst they still consuming the other animals? Drawing on qualitative research on framing analysis, this study uses participant observation and in-depth interview with some informants who identified themselves as either animal activists or the proponents of DANF. Differing with previous studies that are too critical, this article sought to give a sociological explanation about the functions of dogs in society and analysing the framing of DANF social movement in which I argue tries to humanize the non-human animal. Thus banning dog meat consumption became the goals of DANF social movement."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2016
11-22-91486622
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Amri Yuharoza
"Undang-Undang Narkotika no. 35 Tahun 2009 menyatakan ganja sebagai jenis narkotika golongan pertama atau golongan narkotika yang paling berbahaya bersama dengan kokain, ekstasi, heroin, dan shabu. Menurut Undang-Undang tersebut, kepemilikan dan pemakaian narkotika golongan pertama tersebut dikenakan tindak pidana minimal lima tahun penjara dan maksimal hukuman mati di Indonesia. Pengkategorian ganja sebagai narkotika golongan pertama rupanya bertentangan dengan budaya penggunaan ganja di Indonesia, sebagai contoh adalah penggunaan ganja di Aceh yang sudah ada sejak akhir abad ke-19 dipopulerkan oleh Belanda sebagai tanaman pelindung kopi di Aceh yang masih bertahan sampai sekarang. Berangkat dari pertentangan tersebut sebuah gerakan yang terbentuk tahun 2010 bernama Legalisasi Ganja Nasional berusaha untuk melegalkan ganja karena menganggap penggunaan ganja di Indonesia bukan hanya sekedar untuk penyalahgunaan tetapi lekat dengan budaya yang ada di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pendekatan kultural gerakan Legalisasi Ganja Nasional yang dijabarkan melalui elemen kognisi, emosi, dan moraliti dalam menjelaskan kaitan budaya penggunaan ganja di Indonesia yang membentur peraturan Undang-Undang Narkotika.

Regulation of Narcotics no. 35 of 2009 stated that marijuana is a type 1 narcotics, the type that is most harmful aside cocaine, ecstasy, heroin, and methamphetamine. According to said law, ownership and usage of that type 1 narcotics will be punished by five years of incarceration to death penalty in Indonesia. Categorization of marijuana as a type 1 narcotics, however, turned out to be contradictive to the culture of marijuana consumption in Indonesia, for example, was the use of marijuana in the province of Aceh which has been done since the end of the 19th century, introduced by the Dutch as a protective plant for coffee, and still maintained like so to this day. Starting from the debate, a movement was established in 2010, called themselves as Legalisasi Ganja Nasional or National Marijuana Legalization, which attempts to legalize marijuana based on the idea that marijuana has not always been abused but it also is related to the cultural heritage in Indonesia. This research aims to explain the cultural approach of the Legalisasi Ganja Nasional movement, elaborated through elements of cognition, emotions, and morality in explaining the culture of marijuana consumption in Indonesia and its clash with the Regulation of Narcotics."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2016
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Masrio Bima Andika
"Proses relokasi swadaya adalah sebuah pilihan yang sering diambil akibat adanya pembangunan infrastruktur. Pemerintah saat ini lebih cenderung berpatokan pada proses ganti rugi dan berasumsi bahwa mereka sudah melakukan tanggungjawabnya. Pada poin ini, pemerintah seringkali melupakan bagaimana masyarakat bisa beradaptasi. Proses adaptasi diasumsikan akan berjalan dengan baik selama ada pemenuhan finansial berupa ganti rugi. Hal tersebut seringkali memandang faktor sosial yang ada pada masyarakat sebagai hal yang bisa teratasi dengan ganti rugi. Padahal tantangan yang dihadapi oleh masyarakat justru lebih besar, mulai dari hilangnya pekerjaan, minimnya pendidikan, adanya ikatan sosial yang dimiliki oleh masyarakat hingga pengetahuan untuk adaptasi dalam proses relokasi. Penelitian ini menawarkan sebuah analisa yang lebih sosiologis dengan menunjukkan peran modal sosial dalam pemberdayaan masyarakat akibat dampak dari pembangunan infrastruktur. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan pendekatan kualitatif ini menghasilkan sebuah artikel yang menyimpulkan bahwa peranan modal sosial khususnya trust dari internal masyarakat bisa menjadi jalan keluar dari permasalahan adaptasi yang dihadapi oleh masyarakat.
The self-relocation process is an option that is often taken a consequence of infrastructure development. The government are prefers to the process of compensation and assume that they already perform its responsibilities. At this point, the government often forget how the societies can adapt. The adaptation process is assumed to be going well as long as there fulfillment of financial compensation. It often see the social factors that exist in society as a thing can be resolved with compensation. While the challenges facing by the society is larger than be thought, ranging from loss of employment, lack of education, the social bonds owned by the community and knowledge for adaptation in the process of relocation. This research offers a more sociological analysis to demonstrate the role of social capital in the community empowerment as a consequence of infrastructure development. The data were collected using a qualitative approach and produces an article that concluded the role of social capital, especially trust could be a solution of the problems faced by the community adaptation."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Indonesia, 2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5   >>