Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 26 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Achmad Faik Falaivi
"ABSTRAK
Latar Belakang : Salah satu faktor resiko timbulnya kolonisasi jamur di saluran napas bawah adalah asma. Kolonisasi jamur merupakan faktor predisposisi timbulnya proses sensitisasi atau mikosis paru dan dapat memperberat derajat berat asma, status kontrol asma dan fungsi paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kolonisasi jamur di saluran napas pada pasien asma persisten di Indonesia khususnya di RSUP Persahabatan dan hubungannya dengan asma, status komtrol asma dan fungsi paruMetode : Penelitian ini berdesain potong lintang dengan subjek penelitian adalah pasien asma persisten yang berobat di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan. Pasienakanmenjalanipemeriksaan asthma control test, foto toraks dan uji spirometri serta induksi dahak untuk diperiksakan biakan jamur di bagian Parasitologi Rumah Sakit Cipto Mangukusumo RSCM . Hasil biakan jamur dianalisa untuk mengetahui hubungannya dengan asma, satus kontrol asma dan fungsi paru.Hasil : Total pasien yang menjalani seluruh prosedur penelitiaan adalah 45pasien. Biakan jamur positif pada 39 pasien 86,7 dan biakan jamur negatif pada 6 pasien 13,3 . Jumlah isolat jamur yang tumbuh ge; 2 spesies sebanyak 20 pasien 44,5 dan jamur berbentuk filamen tumbuh pada 21 pasien 46,8 .Isolat jamur yang paling banyak tumbuh adalah Candida albicans,Miceliasterilla dan Aspergillus fumigatus.Terdapat hubungan bermakna antara jamur berbentuk filamen dengan lama penggunaan kortikosteroid inhalasi.Kesimpulan: Sebagian besar pasien asma persisten mempunyai kolonisasi jamur di saluran napas. Isolat yang paling banyak tumbuh pada pada pasien asma adalah Candida albicans, Micelia sterile dan Aspergillus fumigatus. Lama penggunaan kortikosteroid inhalasi berhubungan dengan kolonisasi jamur di saluran napas. Kata kunci: kolonisasi jamur, asma, induksi dahak
ABSTRACT Background One of the risk factor for fungal colonization is asthma. Fungal colonization is predisposision factor for sensitization or lung mycosis and can aggravate the degree of asthma, asthma control status and lung function. The purpose of this study to get data about fungal colonization in the airways on persistent asthma patients in Indonesia especially Persahabatan Hospital and its related to asthma, asthma control status and lung function.Method This was a cross sectional study conducted on persistent asthma patients treated at the Persahabatan Hospital. Subjects underwent examination of asthma control test, chest X ray, spirometry test and sputum induction for examination of fungal cultures at Parasitology Department, Cipto Mangukusumo Hospital. The results fungal cultures was analyzed to find the correlation between fungal colonization with asthma, control asthma status dan lung function.Results Forty five subjects complete all procedure in this study. Positive fungal cultures was found in 39 subjects 86.7 and negative fungal culture was found in 6 subjects 13.3 . More than one species was found to be grown in the culture of 20 subjects 44.5 and filamentous fungal grown in the culture of 21 subjects 46,8 . The most widely found fungi were Candida albicans, Micelia sterilla and Aspergillus fumigatus. There was a significant association between filamentous fungi with prolonged use of inhaled corticosteroids.Conclusion Most of the persistent asthma subjects have fungal colonization in the airways. The most widely found fungi were Candida albicans, Micelia sterilla and Aspergillus fumigatus. Duration use of inhalation corticosteroid related to fungal infection. Keywords fungal colonization, asthma, sputum induction "
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sitti Mardiana
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui harapan dan tingkat kepuasan pasien terhadap mutu pelayanan dokter spesialis penyakit dalam pada poliklinik penyakit dalam instalasi rawat jalan RSUP Persahabatan di Jakarta, Indonesia.
Jenis penelitian berupa kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, sampel dipilih secara acak. Jumlah sampel sebanyak 198 pasien. Responden terdiri dari 63 kunjungan baru dan 135 kunjungan lama. Metode pengukuran kepuasan dengan menggunakan Importance Performance Analysis.
Tingkat kepuasan responden umur tua (>= 55 tahun) lebih puas dibandingkan responden dengan umur muda ( < 55 tahun). Responden yang belum menikah kurang puas dibandingkan responden yang telah menikah. Responden yang tidak bekerja / non karyawan contoh lebih puas dibandingkan karyawan. Responden berjenis kelamin perempuan lebih puas dibandingkan responden berjenis kelamin laki-laki. Tingkat pendidikan SMP paling puas dibandingkan tingkat pendidikan SMA kebawah maupun D3/Perguruan tinggi. Responden dengan cara bayar tunai kurang puas dibandingkan dengan resonden cara bayar jaminan. Responden yang merupakan pengunjung lama lebih puas dibandingkan pengunjung baru. Responden dengan waktu tunggu lama (>= 60 menit) sangat tidak puas dibandingkan responden dengan waktu tunggu singkat (< 60 menit).
Responden yang diperiksa dokter >= 15 mnt lebih puas dibandingkan responden yang diperiksa singkat < 15 menit. Untuk tingkat kesesuaian antara harapan dan kenyataan didapatkan hasil : untuk variabel kecepatan pelayanan kepuasan 38,4 %. Untuk variabel ketrampilan pelayanan kepuasan hanya 47,5 %. Untuk perhatian pelayanan, kepuasan hanya 44,4 %. Namun untuk penampilan pelayanan, kepuasan 58,6 %. Secara keseluruhan, tigkat kepuasan terhadap variabel pelayanan yang diteliti sebesar 37,4 %.
Karakteristik responden yang merasa puas dengan pelayanan dokter spesialis penyakit dalam di instalasi rawat jalan RSUP Persahabatan adalah responden yang berumur tua, berjenis kelamin perempuan, kawin, bukan karyawan, pendidikan SMA, pengunjung lama, cara bayar jaminan, waktu tunggu yang singkat dan diperiksa lama oleh dokter. Dari sisi mutu pelayanan, kepuasan responden pada penampilan pelayanan. Secara keseluruhan, tingkat kepuasan responden terhadap mutu pelayanan dokter spesialis penyakit dalam masih sangat rendah.

The purpose of this research was to discover expectations and satisfaction levels of internist service quality at Persahabatan out-patient department.
This is a cross sectional quantitative research in obtaining the instrument, through a random sampling, and involved 198 patients as samples. 63 patients were new patients and the rest of them were regular ones. The application of the Importance Performance Analysis, measurement of satisfaction is carried out.
Satisfaction level of more or less than 55 years old patients were higher than the younger patients (less than 55 years old). Unmarried respondents have lower satisfaction levels than the married ones. Unemployed respondents, have higher satisfaction level than employed respondents. Female respondents were more satisfied than male respondents. High school graduated respondent were the most satisfied respondents than junior high school graduated respondents and also diploma graduated respondents. Fee for service patients were less satisfied than insured patients.
Regular patient respondents have higher level of satisfaction than the new ones. Respondents with longer waiting period (more than 60 minutes) truly unsatisfied if they compared to respondents with shorter waiting period. Respondents with longer examination period (more or less than 15 minutes) were more satisfied than the shorter ones (less than 15 minutes). The result of suitability level between expectation and reality were: services skill variable was only 47.5%. For service attention was only 44.4% but for service packaging the satisfaction was reached 58.6%. Over all, satisfaction level against researched service variables was 37.4%.
characteristics of satisfied respondents on internist service at outpatient department of Persahabatan Hospital were geriatrics, females, married, unemployed, high school graduated, regular patients, insured patients, short waiting period, and longer examination period. Based on service quality, highest satisfaction level was on service packaging. Generally, respondent satisfaction level against internist service quality was very poor/low.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
T31236
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Haris Abdullah
"ABSTRAK
Latar belakang: Perkembangan kota metropolitan yang begitu pesatnya memacu perkembangan kota penyangga seperti kota Bogor. Perkembangan ini tentunya sangat dipengaruhi oleh perkembangan transportasi dan lalu lintas di kota tersebut. Namun sayangnyaa, polusi udara luar ruangan merupakan faktor yang mengganggu kesehatan manusia. Dalam konteks ini, polisi lalu lintas rentan mengalami gangguan kesehatan respirasi sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengevaluasi faal paru pada polisi lalu lintas.
Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan subyek penelitian merupakan polisi lalu lintas di Bogor. Subyek akan disingkirkan apabila mengalami penyakit paru. Semua subyek akan dilakukan wawacancara, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan status kesehatan. Semua subyek akan diminta untuk melakukan demonstrasi penggunaan alat pelindung diri dan dilakukan pemeriksaan kadar CO dengan CO analyzer dan faal paru dengan spirometri.
Hasil: Kami menemukan sebanyak 7.4% suyek mengalami restriksi ringan, 2.1% subyek mengalami obstruksi ringan dan 4.2% mengalami restriksi ringan dan obstruksi ringan. Korelasi antara faal paru dengan usia serta faal paru dengan Indeks Massa Tubuh ditemukan berhubungan bermakna secara statistik. Sementara itu faktor-faktor lain seperti riwayat merokok, Indeks Brinkman, penggunaan alat bantu pelindung diri dan lama bekerja ditemukan tidak bermakna.
Kesimpulan: Faal paru pada polisi lalu lintas terutama dipengaruhi oleh faktor usia dan indeks massa tubuh.

ABSTRACT
Background: The fast development of metropolitan enhances its sattelite cities such as Bogor. The tranportation becomes important factor for city development. However, its impacts especially outdoor pollution is primary detrimental effects to human health. Traffic police is vulnerable to have a declining respiratory health status. Therefore, a conduct research which focus to evaluate physiologic pulmonary status on traffic police is needed
Method: This research design is cross sectional with the subjects are traffic police in Bogor. The subjects will be excluded if they have any lung diseases. The subjects are interviewed and evaluated for physical examinatio, health status. The subjects are asked to demonstate their protection devices are usage. The subjects` CO concentration are measured using CO analyzer then their physiological respiratory status are measured using spirometry. Furthermore, the chest X rays and Fagerstrom questionairres are performed to all subjects.
Result: We found that 7.4% subjects are having mild restriction while 2.1% are having mild obstruction, and 4.2% subjects are having mild restriction and obstuction. The physiological respiratory status prevalence are revealed The correlation between physiological respiratory status with age and body mass index are revealed. Other factors such as smoking status, smoking history, protection device usage and working years are found nots significantly correlated.
Conclusion: The physiological respiratory status of traffic polices are coorelated to aging and body mass index."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diah Adhyaksanti
"Pneumonia komunitas adalah penyebab kematian terbesar di Indonesia. Sistem skor PSI dan CURB-65 telah digunakan dalam menentukan keparahan penyakit dan keputusan tempat rawat berdasarkan risiko kematian dalam 30 hari. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan sistem skor modifikasi PSI dan modifikasi CURB-65 pada pasien CAP sebagai prediktor mortalitas 30 hari di RS Persahabatan. Penelitian ini adalah kohort prospektif yang dilakukan pada pasien CAP yang dirawat di RS Persahabatan sejak bulan Oktober 2012-Maret 2013. Gejala klinis nilai laboratorium, foto toraks, penyakit penyerta skor PSI dan CURB-65 serta hasil akhir berupa kematian dicatat untuk dianalisis. Selama 30 hari subjek penelitian diikuti. Sebanyak 167 pasien CAP mengikuti penelitian ini didapatkan angka kematian sebesar 18,6%. Sensitivitas PSI sama dengan CURB-65 yaitu sebesar 77,4%. Spesifisitas PSI sedikit lebih tinggi dari pada CURB-65 (58,1% vs 53,7% p < 0,001). Risiko relatif mortalitas berdasarkan PSI pada kelompok risiko tinggi sebesar 3,64 kali dibandingkan kelompok risiko rendah, sedangkan risiko relatif mortalitas berdasarkan CURB-65 pada kelompok risiko tinggi sebesar 3,15 kali dibandingkan kelompok risiko rendah. Skor CURB-65 dapat dipertimbangkan sebagai prediktor mortalitas pada pasien CAP yang di rawat inap.

Community Acquired Pneumonia (CAP) is the first leading disease with the highest mortality in hospitalized patient in Indonesia. Pneumonia severity assessment systems such as the pneumonia severity index (PSI) and CURB-65 were designed to predict severity of illness and site of care base on 30-d mortality. The purpose of this study is to comparing the PSI with CURB-65 in patient admitted with CAP as predictor 30 days mortality in Persahabatan Hospital, Jakarta. This is a prospective cohort study in hospitalized community acquired pneumonia patients in Persahabatan Hospital since October 2012- Maret 2013. Clinical symptoms, laboratory findings, chest x-ray , comorbidities, score of PSI and CURB-65, 30 days mortality were recorded for analysis. Thirty days mortality outcome were recorded to analysis which score system as the best to predict 30 days mortality. One hundred and sixtty seven patients CAP were studied with an overall 30-d mortality of 18,6%. Sensitivity of PSI were simillar with CURB-65 for predicting patients who died within 30 d (77,4% ; p < 0.001). Specificity of PSI was slighty higher than CURB-65 (58,1% vs 53,7% p < 0,001). Score PSI have risk mortality 3,64 times in high risk group CAP than low risk group CAP. Score CURB-65 have risk mortality 3,15 times in high risk group CAP than low risk CAP. CURB-65 modification was considerable to predict mortality in CAP patients hospitalized.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
R. Mirsyam Ratri Wiratmoko
"Merokok dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas.World Health Organization (WHO) memprediksi pada tahun 2020 penyakit yang disebabkan oleh rokok akan menyebabkan kematian sebanyak 8.4 juta orang di dunia dan setengahnya berasal dari Asia. Varenicline, sebagai agonis parsial reseptor α4β2 nikotin asetilkolin, memiliki potensi yang cukup baik pada program berhenti merokok dengan cara melepaskan withdrawal effect dari nikotin dan menurunkan kebutuhan akan nikotin.
METODE. Uji acak tersamar ganda antara bulan Juli 2012 sampai dengan Desember 2012 dengan 12 minggu waktu terapi dan 12 minggu waktu pengamatan status merokok. 80 laki-laki perokok yang bersedia mengikuti penelitian dibagi kedalam kelompok varenciline dan kelompok plasebo.Varenicline dititrasi hingga 2x1 mg (n=40) dan plasebo (n=40) ditambah konseling mingguan.
HASIL. Pada pengamatan 4 minggu (minggu 1-4) setelah 12 minggu terapi menunjukkan 55% peserta kelompok varenicline berhenti merokok dibandingkan kelompok plasebo sebesar 27,5%. (Prevalence Ratio [PR] 2,0). Pada pengamatan minggu ke 5-8, 52.5% peserta pada kelompok varenicline masih berhenti merokok dibandingkan dengan 20% pada kelompok plasebo (PR, 2,6). Pada pengamatan minggu 9-12, 47,5% peserta pada kelompok varenicline masih berhenti merokok dibandingkan 17,5% pada kelompok plasebo (PR, 2,7). Rerata hari pertama bebas rokok pada kelompok varenicline adalah 40,63 hari, sedangkan pada kelompok plasebo 56,43 hari. Efek samping yang paling banyak pada penggunaan varenicline adalah mual yang terdapat pada 9 peseerta (22,5%). Rerata kadar CO awal adalah 18,46 ppm, rerata Fagerstrom test untuk ketergantungan nikotin adalah 6,4 dan rerata indeks Binkman adalah 317,9.
KESIMPULAN. Varenicline memiliki efikasi yang baik, aman dan dapat ditoleransi baik sebagai farmakoterapi program berhenti merokok.

Smoking has increased risk of morbidity and mortality. World Health Organization predicts that by 2020, disease caused by smoking will result in the deaths of around 8.4 million people in the world and half of these deaths from Asia. Varenicline, a partial agonist at the α4β2 nicotinic acetylcholine receptor, has the potential to aid smoking cessation by relieving nicotine withdrawal symptoms and reducing the rewarding properties of nicotine.
METHOD. A randomized, single-blind, placebo controlled trial conducted between July 2012 and December 2012 with a 12 week treatment period and 12 week follow-up of smoking status. 80 male adult smokers who volunteered for the study divide into varenicline and placebo group. Varenicline titrated to 1 mg twice daily (n=40) or placebo (n=40) for 12 weeks, plus weekly smoking cessation counseling.
RESULT. During 4 weeks (weeks 1-4) after 12 weeks of treatment, 55% of participants in the varenicline group were continuously abstinent from smoking compared with 27.5% in the placebo group (Prevalence Ratio [PR] 2,0). For weeks 5 through 8, 52.5% of participants in the varenicline group were continuously abstinent compared with 20% in the placebo group (PR, 2,6). For weeks 9-12, 47.5% of participants in the varenicline group were continuously abstinent compared with 17.5% in the placebo group (PR, 2,7). Mean of first day free of smoking used Varenicline for smoking cessation was 40,63 days and mean of first day free of smoking used placebo was 56.43 days. The most adverse event with varenicline was nausea, which occurred in 9 Participants (22,5%). Mean of CO level was 18,46 ppm, mean of Fagerstrom score for nicotine dependence was 6,4, and mean of Brinkman index was 317,9.
CONCLUSION. Varenicline is an efficacious, safe, and well-tolerated smoking cessation pharmacotherapy.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diana Septiyanti
"Data mengenai luluh paru LP sangat terbatas mencakup karakteristik demografi, status hipertensi pulmoner HP , fungsi paru, kapasitas latihan, akivitas fisis dan kejadian rawat inap berulang. Penelitian ini memiliki desain potong lintang dengan 54 subjek. Echokardiografi dilakukan untuk menyingkirkan terdapatnya kelainan jantung dan menentukan status HP. Subjek kemudian akan menjalani serangkaian prosedur antara lain wawancara, pemeriksaan fisis, uji jalan 6 menit 6MWT , uji fungsi paru dan pemeriksaan darah. Hipertensi pulmoner ditemukan pada 63 subjek dengan mPAP 29,13 13,07 sedangkan 55,9 diantaranya mengalami PH yang berat. Rawat inap berulang terjadi pada 44,4 , sesak napas mMRC >1 , aktivitas fisis, rawat inap berulang, luas lesi, CRP dan tekanan oksigen arteri memiliki hubungan bermakna terhadap status HP. Kadar CRP dan 6MWT merupakan variabel yang paling berhubungan dengan kejadian rawat inap berulang pada LP-HP yang dianalisis dengan analisis multivariat. Echokardiografi sebaiknya dilakukan pada pasien LP. Pasien LP-HP mengalami sesak yang lebih berat, rawat inap berulang, lesi yang lebih luas, kadar CRP lebih tinggi, aktivitas fisis, uji fungsi paru, PaO2 dan indeks massa tubuh yang lebih rendah. Hasil spirometri dan kadar CRPmerupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian rawat inap berulang pada pasien LP-HP melalui analisis multivariat.

We investigated and provided datas about demographyc and clinical characteristics. We also found out the influencing factors of re hospitalization in destroyed lung with pulmonary hypertension patients. This is a cross sectional study involving 54 DL subjects. Echocardiography was performed to rule out cardiac abnormality and to establish their PH status. Subjects performed several procedures such as interview, physical examination, 6 minutes walking test 6MWT , lung function test, and blood tests to obtain all the neede data. Pulmonary hypertension was found in 63 of subjects with mPAP was 29,13 13,07 while 55,9 of DL PH subjects had severe PH. Re hospitalization occured in 44,44 subjects. We analyzed using chi square for categorical data and student t test and found a significant association of PH status in DL subjects with breathlessness by mMRC scale 1, physical activity, re hospitalization, body mass index, FVC, FEV1, FEV1 FVC, spirometry result, extend of lesion, CRP and arterial oxygen pressure. Level of CRP, VEP1 dan 6MWT had the strongest association for DL having PH and rehospitalization by multivariate analysis. Echocardiography should be performed among DL patients. Patients DL who got PH have more breathlessness, re hospitalization and extend of lesion, higher CRP level, lower physical activity, worse lung function test, lower PaO2 and lower BMI. Spirometri result, and CRP level had the strongest association for DL having PH and rehospitalization by multivariate analysis."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T57629
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hasneta Ismail
"ABSTRAK
Latar Belakang: Efusi pleura merupakan masalah yang sering dijumpai oleh dokter paru. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai diagnostik biopsi pleura tertutup dan pleuroskopi pada efusi pleura eksudat serta hubungan karakteristik subjek dan karakteristik penyakit dengan hasil diagnostik.Metode : Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada pasien efusi pleura eksudat yang dilakukan tindakan biopsi pleura tertutup atau pleuroskopi. Data diambil dari catatan medis pasien RSUP Persahabatan Jakarta 2013-2015.Hasil : Total 100 subjek yang dibagi menjadi 50 subjek dilakukan biopsi pleura tertutup dan 50 subjek yang dilakukan pleuroskopi. Karakteristik subjek kelompok biopsi pleura tertutup didapatkan 60 laki- laki, rerata usia 48,22 tahun, perokok 58 sedangkan pada kelompok pleuroskopi 52 perempuan, rerata usia 50,66 tahun dan 46 perokok. Nilai diagnostik biopsi pleura tertutup pada efusi pleura eksudat adalah 50 sedangkan nilai diagnostik pleuroskopi lebih tinggi yaitu 82 . Pada kelompok biopsi pleura tertutup secara statistik terdapat perbedaan bermakna antara usia p=0,020 , kadar protein cairan pleura p=0,026 dan karakteristik penyakit p=0,047 terhadap hasil diagnostik.Kesimpulan : Nilai diagnostik pleuroskopi lebih tinggi dibandingkan biopsi pleura tertutup pada pasien efusi pleura eksudat. Usia, kadar protein cairan pleura dan karakteistik penyakit berhubungan dengan hasil diagnostik biopsi pleura tertutup

ABSTRACT
Background Pleural effusion is a common diagnostic dilemma for the pulmonologist. The aim is to obtain the diagnostic value of closed pleural biopsy and pleuroscopy in exudative pleural effusion and the association of subjects characteristic and the characteristic of the disease with the diagnostic yield.Method This is a cross sectional study in patients with exudative pleural effusion which performed closed pleural biopsy and pleuroscopy. Data retrieved from the medical records of Persahabatan hospital from 2013 ndash 2015.Results A total of 100 subjects were divided into 50 subjects that performed closed pleural biopsy and 50 subjects performed pleuroscopy. Characteristics of closed pleural biopsy subjects were 60 male, mean age was 48,22 years and smokers were 58 while characteristics of pleuroscopy subjects, 52 female, mean age 50,66 years and 46 smokers. Closed pleural biopsy has a diagnostic value of 50 and pleuroscopy at 82 . There was a statistically significant relationship between age p 0,020 , pleural fluid protein level and disease characteristic with diagnostic yield of closed pleural biopsy.Conclusion Pleuroscopy has higher diagnostic value than closed pleural biopsy in patients with exudative pleural effusion. Age, pleural fluid protein levels and disease characteristic are associated with diagnostic yield of closed pleural biopsy."
2016
T55657
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ferry Dwi Kurniawan
"ABSTRAK
Pendahuluan: Jalur gen Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) berperan
dalam regulasi proliferasi sel, ketahanan hidup, diferensiasi, dan progresi tumor.
Gen EGFR dengan domain tirosin kinase dalam ekson 18-21 yang mengalami
mutasi berkorelasi secara respons klinik dengan pemberian Tyrosine Kinase
Inhibitor (TKI). Hal tersebut menyebabkan status mutasi gen EGFR menjadi
faktor prediktif dalam pemberian TKI pada Kanker Paru Karsinoma Bukan Sel
Kecil (KPKBSK). Namun pemeriksaan baku emas dalam mendeteksi mutasi gen
EGFR adalah menggunakan direct sequencing yang membutuhkan jumlah sampel
dengan sel kanker yang banyak, dengan sensitifitas yang rendah dan teknik yang
tidak seragam.
Metode penelitian: Metode PNA-LNA PCR Clamp mampu mendeteksi mutasi
gen EGFR dengan rasio 1:1000 pada latar wild type. Metode ini menggunakan
mekanisme imhibisi oleh Peptide Nucleic Acid (PNA) dan Locked Nucleic Acid
(LNA) dalam urutan yang hampir sama ketika diamplifikasi menggunakan mesin
real time PCR. Alel wild type a.kan dihambat oleh PNA sementara itu alel mutan
akan berikatan dengan LNA dan ketika terjadi proses amplifikasi oleh DNA
polimerase maka akan menyebabkan probe fluorogenik akan terpisah dan
berpendar seiring dengan semakin meningkatnya siklus yang akan dideteksi oleh
mesin SmartCycler. Hasil analisis dapat dijalankan selama 2 jam setelah
dilakukan isolasi DNA. Sampel yang digunakan adalah PC9 (adenokarsinoma),
PC3 (kanker prostate), H1975 (KPKBSK), dan H1299 H1975 (KPKBSK),
Masing-masing sampel yang dibutuhkan adalah 15 μl dengan konsentrasi DNA 10
ng/μl.
Hasil Penelitian: Metode PNA-LNA PCR Clamp mampu mendeteksi jenis
mutasi E746-A750del-1p (tipe 1) pada sampel PC9 , delesi ekson 19 pada sampel
PC3, T790M dan L858R pada sampel H1975, sementara itu tidak ditemukan
mutasi pada sampel H1299.
Kesimpulan: Metode PNA-LNA PCR Clamp dapat digunakan sebagai
pemeriksaan alternatif dalam mendeteksi mutasi gen EGFR.

ABSTRACT
Introduction: Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) signaling pathway
play a role in regulation of cell proliferation, survival, differentiation and tumor
progression. Tyrosin kinase domain within exon 18-21 of EGFR gene had
mutation significantly correlated with clinical response to Tyrosine Kinase
Inhibitor (TKI). Thus, EGFR gene mutation become a biomarker predictor to Non
Small Cell Lung Cancer (NSCLC) treatment. However, the gold standar in
detecting EGFR gene mutation is direct sequencing method which requires mostly
cancer cells, low sensitivity and ununiformly technical handling..
Methods: A novel method which could allow detect EGFR gene mutation in
1:1000 wild type background has developed. It needs only a small amount of
citology or histopatology samples in one day processing. It works based on
inhibitory mechanism between Peptide Nucleic Acid (PNA) and Locked Nucleic
Acid (LNA) in the nearly same sequences when it is amplified by PCR machine.
PNA will attach to wild type allele so further amplification would be inhibited
while LNA will attach to mutant allele then it would be flourecence when it is
separated from sequencer during amplification by Taqman enzyme. Finally, Real
time PCR machine will detect the signal from the mutant sequence thus mutant
determination would be analyzed after 2 hours running. The samples are PC9
(adenocarcinoma), PC3 (prostate cancer), H1975 (non small cell lung cancer), and
H1299 (non small cell lung cancer). Total amount of each sample is 15 μl with
DNA concentration is 10 ng/μl.
Results: This method reveals the mutations which are E746-A750del-1p (type 1)
in PC9, exon 19 deletion in PC3, T790M and L858R in H1975 while no mutation
in H1299.
Conclusion The PNA-LNA PCR Clamp could be an alternative method in
detecting EGFR gene mutation."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rita Rogayah
"Telah dilakukan penelitian mutu pelalyanan Programatic Management Drug Resistance Tuberculosis (PMDT) di RSUP Persahabatan.
Tujuan umum: mengetahui mutu pelayanan strategi PMDT di RSUP Persahabatan. Penelitian ini dilakukan dengan disain penelitian dengan metode kualitatif yaitu menggali informan dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Sampel adalah pasien TB-MDR September 2009 sampai 31 Desember 2011.
Hasil penelitian: pasien yang berobat di poli DOTS Plus berjumlah 814 pasien didapatkan 319 (39,2%) pasien TB-MDR, pasien melakukan pengobatan sebanyak 231 (72,4%) pasien dan tidak kembali ke rumah sebanyak 88 (27.6%). Pada penelitian ini dokter dan perawat sudah memenuhi syarat, dana pengobatan masih mendapat bantuan, kebijakan RS sudah dilaksanakan, sarana dan prasarana sesuai PPI TB, laboratorium sudah tersetifikasi WHO hanya masih terjadi kendala hasil pemeriksaan uji resisitensi dengan media padat (Ogawa/LJ), MGIT lebih dari 45 hari pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2011, hal ini menyebabkan salah satu keterlambatan pengobatan. Pasien yang telah didiagnosis TB MDR masih didapatkan yang menunda pengobatan (delayed treatment) sebesar 156 pasien (67,5%), dengan lama penundaan 2 minggu - >12 bulan. Penangan pasien mangkir masih belum tercatat dengan baik, Angka keberhasilan pengobatan pasien sembuh/komplit didapatkan 60,2%, putus berobat 15,2%, meninggal 16 %, gagal 1,3% serta on treatment 6,9%. Pasien sembuh/komplit merasakan pengobatan di rumah sakit terjadi kemudahan dalam mengambil obat karena dapat diluar jam kerja dan dapat saling bertukar pengalaman dengan sesama penderita. Pasien penundaan pengobatan karena perlu kesiapan diri dan dukungan keluarga untuk pengobatan selama 2 tahun. Pasien putus berobat merasakan pengobatan menganggu aktivitas, perlu biaya, dan tidak mendapat dukungan dari keluarga. Pelayanan satelit belum maksimal, masih didapatkan memberikan pelayanan pengobatan lanjutan. Edukasi yang masih dirasakan kurang untuk pasien dan keluarga.

A research about the service quality of Programatic Management Drug Resistance Tuberculosis (PMDT) in Persahabatan General Hospital has been conducted.
Primary objective: To determine the quality of service of the PMDT strategic in Persahabatan General Hospital. This is a qualitative study, by acquiring information with in-depth interview and literature review. The samples were MDR-TB patients from September 2009 until December 2011.
Result: The number of patients seeking treatment in Persahabatan Hospital were 814 patients that consists of 319 patients (39,2%) with positive MDR, treated patients were 231 people (72,4%), and untreated patients were 88 people (27,6%). In this study, the doctor and nurse were qualified, treatment fund still received aid, the policy had been implemented, the laboratory had been certified by WHO, the only constraint was with the result of the resistance test with solid media, MGIT result took more than 45 days from 2009 until 2011, this had caused delay in treatment. There were 156 (67,5%) patients who have already been diagnosed as a MDR TB but was delayed in getting treatment for two weeks until twelve months. The management of default patients was not well-documented. The treatment success rate of cured patients were 60.2%, dropped out treatment were 15.2%, while 16% died, 1.3% failed, and 6.9% were still in on-going treatment. Cured patients felt that during treatment in the hospital, acquiring medicine was easy because it could be done outside working hours and patients were able to exchange experiences with fellow patients. Patients delay treatment because they required time for preparations and needed family support for treatment for 2 years. Treated patients dropped out of treatment felt that the process disrupt their activities, required expenses, and they did not have the support of their family. Satellite service is not maximized, it is found that they provide advanced medical care. Education is still lacking for patients and families.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
T38916
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amir Luthfi
"Latar belakang penelitian: Polisi lalu lintas merupakan profesi yang mempunyai risiko sangat besar untuk terpajan zat-zat polutan yang berasal dari asap kendaraan bermotor. Jenis polutan utama pada polusi udara di luar ruangan yaitu karbon monoksida, karbon dioksida, sulfur oksida, nitrogen oksida, volatile organic compounds (VOC) seperti hidrokarbon, particulate matter dan ozon yang akan memberikan efek berupa penurunan fungsi paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi faal paru polisi lalu lintas yang bekerja di wilayah Jakarta Timur.
Metode penelitian : Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian besar Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (JABODETABEK). Penelitian dilakukan di wilayah Jakarta Timur bulan Oktober-Nopember 2012 dengan desain uji potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan total sampling melalui kuesioner Pneumobile Project Indonesia, pemeriksaan spirometri, foto toraks PA dan pengukuran kadar CO ekspirasi dan semua subyek akan diminta untuk melakukan demonstrasi penggunaan alat pelindung diri.
Hasil : Seratus tujuh puluh subjek ikut dalam penelitian ini, menunjukkan 83 orang (48,2%) berumur 41 ? 50 tahun dengan status gizi berat badan lebih 90 orang (52,9 %) , perokok aktif 91 orang (53,5 %) dan IB ringan 53 orang (31,2%). Dari Seratus tujuh puluh subjek, dengan masa tugas lebih dari 10 tahun tercatat sebanyak 132 orang (77,5%) dan 111 orang (65,3%) mempunyai kebiasaan pemakaian masker buruk, dengan photo torax normal sebanyak 163 orang (95,9%). Hasil statistk menunjukkan, penurunan nilai faal paru meliputi restriksi ringan sebesar 9,45% atau 16 orang dan obstruksi ringan sebanyak 8 orang (4,7%), serta campuran tercatat 2 orang (1,2%). Selain itu, dari keseseluruhan data yang didapat, 7 orang yang berumur 51-60 tahun dan 7 orang dengan status gizi berat lebih memiliki restriksi ringan. Dari hasil penelitian, didapatkan 11 orang dengan pemakaian masker buruk dan 12 orang subjek yang memiliki masa kerja lebih dari 10 tahun juga memiliki restriksi ringan, secara statistik ditemukan hubungan yang bermakna antara umur, indeks brikman terhadap faal paru (p<0.05). tapi tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi, masa tugas, lama tugas, foto thoraks dan kebiasaan merokok serta pemakaian APD terhadap faal paru polisi lalu lintas (p>0.05).
Kesimpulan : Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara faal paru dengan seluruh faktor yang diteliti.

Background: Air pollution due to road traffic is a serious health hazard and thus the traffic policemen who are continuously exposed to pollutant, may be at an increased risk. Types of main pollutants in the outdoor air pollution will significantly influence lung function. This study determined the factors that affect pulmonary function of traffic policemen working in the area of East Jakarta.
Method: This study is a part of the major research in the areas of Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang and Bekasi (JABODETABEK). A cross sectional study was conducted among traffic policemen of East Jakarta Region in the period of October-November 2012. This study has assessed respiratory clinical symptoms using questionnaires of Pneumobile Project Indonesia, examined spirometry lung function, chest x-ray, and expiratory CO measurement.
Results: A total of 170 subjects were included in this study. Most of them aged 41 to 50 years (48.2%), were over weight (52.9%), active smokers (53.5%), had low Brinkman Index (31.2%), have worked more than 10 years (77.5%), did not use masker (65.3%), and had normal chest x ray (95.9%). Results of Spirometry examination showed mild restriction in 16 subjects (9.4%), mild obstruction in 8 subjects (4.7%) and mixed problems in 2 subjects (1.2%). This study showed that 11 policemen who did not use masker and 12 policemen with history of work more than 10 year had mild lung restriction. There are significant association between age, Brinkman Index with lung function (p<0.05), but no significant association was found between nutritional status, smoking history, working history, chest x-ray, use a masker with pulmonary function of traffic policemen (p>0.05).
Conclusion: This study showed that age and Brinkman Index significantly affected lung function, but there was no significant association found between lung function with nutritional status, history of smoking, working history, chest x-ray abnormalities, and use of masker among traffic policemen.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>