Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 160 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Samadi
"
ABSTRAK
Pesisir merupakan kawasan paling produktif dan relatif pesat
perkembangannya, dimana tingkat kebutuhan dan pemakaian
air bersih dalam jumlah besar dan kontinyu baik dari pasokan
air PAM maupun air tanah penting diperhatikan. Karenanya,
apabila dilakukan pengambilan air tanah secara berlebihan,
akan menyebabkan muka air tanah turun hingga terjadinya
kemungkinan penurunan permukaan tanah serta memberi
kesempatan bagi masuknya air permukaan termasuk air laut
ke dalam lingkungan air tanah.
Masalah di atas terjadi karena belum tercukupinya
pemenuhan kebutuhan publik akan air bersih selain karena
beragamnya latar belakang masyarakat khususnya konsumen -
air PAM, keinginan serta kemampuan membayar harga air,
kebocoran, dan atau pencurian air maupun tindakan skala
prioritas perusahaan air dalam melayani konsumen. Sub
masalah ini akhirnya berdampak terhadap kesungguhan
perusahaan air PAM untuk memperhatikan aspek-aspek
kualitas, kuantitas, dan kontinuitas distribusi air bersih
kepada penduduk termasuk kelompok rumah tangga
(domestik) di DKI Jakarta.
Perhatian terhadap aspek kualitas air tanah terutama
kandungan klorida (Chloride atau Cl-) dalam tiap liter air
yang dikonsumsi menjadi bagian penting untuk diketahui
.seberapa besar nisbah pemakaian air PAM pada lokasi yang
sama. Unsur klorida biasanya akan berhubungan dengan rasa
atau taste masyarakat pengguna air. Tentunya akan berbeda
rasa yang dialami warga masyarakat yang bermukim di
wilayah pantai dengan masyarakat yang tinggalnya jauh dari
pantai terhadap kandungan klorida dalam air yang
dikonsumsinya. Bisa jadi, tingginya kadar klorida dalam air
yang dikonsumsi masyarakat yang tinggal di dekat pantai
bukanlah masalah. Namun, akan berbeda masalahnya jika ini
terjadi pada lingkungan permukiman penduduk yang tinggal
jauh dari pantai dan sudah terbiasa dengan konsumsi air yang
relatif tawar dan segar.
Berdasarkan permasalahan yang dijumpai di lokasi penelitian,perumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) aspek aspek kuantitas, kualitas, dan kontinuitas distribusi aliran air PAM tidak sebanding dengan tingkat permintaannya, dan (2) mutu pelayanan air PAM masih jauh dari harapan pelanggan.
Hipotesis kerja dalam penelitian ini adalah (1) aspek-aspek kuantitas, kualitas, dan kontinuitas distribusi aliran air PAM
masih rendah, dan (2) mutu pelayanan air PAM masih rendah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) kuantitas,kualitas, dan kontinuitas distribusi aliran air PAM, dan (2)persepsi dan harapan penduduk pelanggan air PAM terhadap
mutu pelayanan perusahaan.
Dengan melakukan pendekatan survei dan pengambilan data
secara purpossive sampling, proses analisis data
menggunakan analisis Korelasi Matriks terhadap sampel
terpilih yang seluruhnya adalah rumah tangga pelanggan air
PAM (konsumen domestik) serta masih memiliki dan
menggunakan air tanah di rumah tangganya; penelitian ini
menyimpulkan (1) sebagian besar responden rumah tangga
(domestik) cukup puas terhadap jumlah meter kubik air yang
diperoleh disamping terdapat hubungan yang relatif lemah
negatif antara kandungan klorida dalam air tanah dengan
tingkat pemakaian air PAM, serta adanya keyakinan
responden terhadap jaminan ketersediaan dan -
keberlangsungan distribusi aliran air PAM, dan (2) tingkat
pelayanan air bersih dari perusahaan air PAM masih rendah.
"
2002
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
El Khobar Muhaemin Nazech
"Di kota berkembang seperti Depok, pengelolaan kualitas lingkungan hidup seperti kualitas udara merupakan hal yang penting. Manajemen kualitas udara diperlukan untuk mengantisipasi pencemaran yang akan terjadi dan menurunkan tingkat pencemaran udara saat ini. berdasarkan data kualitas udara ambien tiap tahun, dilakukan suatu analisa kuantitatif deskriptif terhadap dua parameter polutan yang melewati ambang batas baku mutu yang telah ditentukan, yaitu parameter debu (> 230 μg/m 3) dan parameter kebisingan (> 70 dB), di dua lokasi Cimanggis dan Terminal Depok. Analisa kemudian dilanjutkan dengan uji validasi terhadap data pengukuran langsung terhadap umber polutan di kedua lokasi pada hari kerja dan non kerja. Pengolahan data selanjutnya dilakukan dengan menggunakan persamaan regresi linier untuk melihat korelasi antara beban kendaraan terhadap polutan, apakah jumlah beban kendaraan akan mempengaruhi jumlah polutan. Hasil analisis data menunjukkan adanya hubungan linier pada lokasi pengukuran Cimanggis, sedangkan hubungan berkebalikan terlihat pada lokasi pengukuran Terminal. Berdasarkan identifikasi sumber polutan, langkah pengendalian dan pengelolaan kualitas udara yang dapat disarankan adalah perbaikan manajemen transportasi. Pengurangan sumber polutan debu diarahkan pada kendaraan roda 4/lebih berbahan bakar diesel, sedangkan untuk sumber kebisingan diarahkan pada kendaraan roda 4 berbahan bakar bensin.

In a developing city like Depok, environmental management is import antly needed, air quality management is one of them. Air quality management is needed to prevent further pollution and to decrease the existing air pollution. Based on the annual data of air quality in Depok, a quantitative analysis has been done on two pollutant parameters that above its regulated standard, dust (above 230 μg/m3) and noise (above 70 dB), in two locations Cimanggis and Terminal Depok. The analysis is then continued with validating primer data obtained on pollutant source in both locations on weekday and weekend. Data analysis is done using linear regression equation to observe the correlation between pollutant and pollutant sources, whet her the amount of vehicles will affect the level of pollutant. Data analyisis showed there is linear relationship in Cimanggis and inverse relationship in Terminal. Based on identification of source pollution, it is suggested that air quality monitoring and management can be done by improving the transportation management. Reduction of dust pollution source is focuses on 4 or more wheels diesel vehicles, while for noise pollution source focuses on 4 wheels gasoline vehicles."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2007
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Lubis, Indrian Tagor
"Penyusutan luas lahan hutan bakau di Angke Kapuk dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan. Tahun 1960 luas hutan Angke Kapuk 1.333.62 ha tahun 1977 tinggal 1.144.08 ha dan menurut data dari Rencana induk Pengembangan Pantai Indah Kapuk tahun 1984, luas hutan Angke Kapuk tinggal 162.07 ha yang terdiri dari hutan Lindung 49.25 ha Cagar Alam 21.48 ha dan hutan Wisata 91.37 ha. Hutan bakau yang terdapat di Angke Kapuk adalah salah satu daerah penyangga (Buffer Zone) yang panting bagi Jakarta. Dari sejak zaman Belanda, kawasan hutan Angke Kapuk telah dilindungi dan dijaganya. Tetapi akibat wilayah tersebut semakin menyusut luasnya karena ada pembangunan pemukiman, industri, tambak-tambak dan lain-lain. Pembangunan tambak atau yang sering disebut hutan mina adalah salah satu aspek penting yang berpengaruh mengurangi luas lahan hutan bakau. Hal ini cukup dilematis karena konservasi hutan bakau dan pembangunan tambak untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah bagaikan dua sisi mata uang. Apalagi dengan dibangunnya daerah pemukiman mewah, seperti Pantai lndah Kapuk yang sangat membutuhkan nfrastruktur yang lengkap dan lahan yang cukup luas, yang jelas mengakibatkan degradasi lingkungan yang cukup tajam. Pengelolaan lingkungan yang komprehensif untuk mengantisipasi kerusakan lingkungan yang semakin hari semakin parah di hutan Angke Kapuk menjadi sebuah problem yang kompleks. Opsi atau alternatif terbaik untuk melakukan pilihan pengelolaan (management option) lingkungan adalah merupakan kebutuhan yang mendesak. Penelitian ini berlangsung dari bulan Mei 2000 sampai dengan Januari 2001 dengan lokasi hutan Angke Kapuk dan sekitarnya. Pilihan pengelolaan (management-option) yang diambil pada studi ini adalah konservasi hutan bakau dan hutan mina. Dua pola pilihan pengelolaan tersebut menjadi dasar bagi studi ini. Dua pola pengelolaan pilihan tersebut dihitung dengan menggunakan metode analisis biaya dan Manfaat yang diperluas (Extended Cost-Benefit Analysis.) Masing-masing pola pengelolaan dideskripsikan secara detail baik dari segi biaya maupun segi manfaatnya yang komponennya memiliki asumsiasumsi sendiri sesuai dengan kondisi obyektif yang ada. Sebagai contoh untuk estimasi biaya dan manfaat dari pilihan pengelolaan hutan mina terdiri dari komponen manfaatraa berupa; hutan mina, cadangan tegakan hutan, perikanan, satwaliar biodiversiti, fisik dan eksistensi, kemudian kompormon biayanya berupa; investasi, hutan mina, cadangan tegakan hutan, perikanan, satwaliar dan eksternalitas. Untuk estimasi biaya dan manfaat pengelolaan hutan bakau yang berkelanjutan, komponen manfaatnya adalah cadangan tegakan hutan, perikanan, satwa liar, biodiversiti, nilai fisik dan nilai eksistensi, kemudian komponen biayanya berupa; investasi; cadangan tegakan hutan, perikanan dan satwa liar. Dari tiap komponen pilihan pengelolaan yang ada dihiktung Net Present Value (NPV) dan Benefit Cost (BC) rasionya sehingga didapat hasilnya. Kemudian hasilnya dibandingkan untuk dilihat pengelolaan mana yang paling menguntungkan. Hasil penghitungan yang didapat dari studi ini adalah bahwa pilihan pengelolaan hutan bakau adalah yang paling menguntungkan, di mana didapat harga NPV sebesar 5.120, 9271 US $/ha dengan B-C ratio= 7.7893. Sedangkan yang kedua adalah hutan mina (Udang) NPV= 4.890,7039 US$/ha dengan B-C ratio=1.9746. yang ketiga adalah hutan mina (ikan Bandeng dan Udang) dengan NPV= 1.668,8734 US$/ha dengan B-C ration = 1.3850 dan yang keempat atau yang terakhir adalah ikan bandeng yaitu NPV= 1.514,0099 US $/ha dengan B-C ratio= 1.3646... Sehingga dapat disimpulkan bahwa hutan bakau juga memiliki potensi ekonomi lingkungan yang cukup tinggi, baik manfaat langsung, manfaat tidak langsung, manfaat pilihan dan manfaat keberadaan.

The area lost in Angke Kapuk every year is a major concern. In 1960 Angke Kapuk was 1,33362 hectares while in 1977 it has decreased to 1,144.08 hectares. According to data from Planning and Development at "Pantai Indah Kapuk" Jakarta , in 1984 only 162.07 hectares of he area was lost, consisting of 49.25 hectares protected forest, 21.45 hectares nature reserves and 91.37 hectares tourist-designated forest. Comprehensive environmental management to anticipate environmental degradation that gets worsened everyday in Angke Kapuk forest has become a complex problem. Choosing the best alternative for management option has become an urgent need. Management options adopted for this study was mangrove and Mina forest conservation. These two management options were the base for this study. The research was undertaken from May 2000 to January 2001 in Angke Kapuk forest area. The mangrove forest in Angke Kapuk is one of the important buffer zones of Jakarta. It has been protected right since colonial time. The area has been continuously decreasing in width, however, due to development of housing, industry, fish and shrimp ponds, etc. The development of ponds, or mina forest as it is commonly called, is one of the important factors influencing the decrease in -mangrove forest areas. This is actually dilemma as both mangrove forest conservation and ponds development as a means to fulfill living needs of the community are like two sides of a coin. The environmental degradation has been worsened by the development of luxury housing complex like the Pantai Indah Kapuk, which need complete infrastructure, and hectares of land. One way to solve the problem is by meticulously evaluating the holistic taken are a sustainable mangrove forest conservation and mina forest. This choice of two management patterns is the basis of this study. The two patterns are calculated by using the cast and benefit, analysis method. Each pattern of management is described in detail, both in terms of cost and benefit, the components of which -have their own assumptions in accordance with the existing objective condition. As an example, take the estimates of cost and benefit of mina fort management. Its benefit component would be: the mina forests, forest stand reserve, fishery, wild animal, biodiversity, and physical and existence values. Its cost component would be: investment, mina forests, forest stand reserve, fishery, wild animal and externality. For the mangrove forest management, its benefit component would be: forest stand reserve, fishery, wild animal, biodiversity, and physical and existence values. And its cost component would be: investment, forest stand reserve, fishery and wild animal. From each component of the management choice, the ratio of the Net Present Value (NPV) and the Benefit-Cost (B-C) is calculated. The results of the calculation are to be compared in order to see which is the most profitable. The result of calculation from this study is that the choice of a sustainable Mangrove forest management is the most profitable, in which the NPV is US $ 5,120.9271 per hectare with B-C ratio = 7.7893, whereas the NPV of the Mina forest with Shrimp management: US$ 4,890.7039 per hectare with B-C ratio = 1.9745, Milkfish: US$ 1,514.0099-per hectare with B-C ratio = 1.3646 and Shrimp &Milkfish: US$ 1,668.8734 per hectare with-BC ratio = 1.3850. It is therefore concluded that mangrove forests has a considerably high economic potential, in terms of direct, indirect, chosen as well as existence benefit. For in order to invest in a project, we need not only to calculate its economic and technical -benefits but also its long term benefit which takes into account the environmental interests and needs of the future generation."
Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2001
T4012
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sitanggang, Ka`Bah D. Yanti
"Tesis ini mengungkapkan besarnya pengaruh masing-masing faktor lingkungan dan faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh paling besar pada perilaku konsumsi sagu, serta meninjau dampak perilaku konsumsi sagu pada lingkungan. Metode yang dilakukan adalah metode survei melalui kuesioner dan interview dengan pendekatan deskriptif kuantiatif. Variabel yang diamati adalah pengetahuan (X1), sikap (X2), keterbatasan bahan pangan (X3), harga bahan pangan (X4), nilai gizi pangan (Xs), dan Dukungan Pemerintah (X6), pada variabel perilaku konsumsi individu (Y). Hasil penelitian memperlihatkan untuk wilayah Jakarta besarnya pengaruhuh masing-masing faktor lingkungan adalah pengetahuan (X1) sebesar 52,9%, sikap individu (X2) sebesar 12,4%, keterbatasan bahan pangan (X3) sebesar 5%, harga bahan pangan (X4) sebesar 17,9%, nilai gizi bahan pangan (Xs) sebesar 7,2%, dan dukungan pemerintah (X6) sebesar 9,9%. Faktor lingkungan yang dominan pada wilayah Jakarta adalah faktor pengetahuan individu. Pada wilayah Papua, pengaruh pengetahuan (X1) sebesar 31,8%, sikap (X2) sebesar 6,2%, keterbatasan bahan pangan (X3) sebesar 66,1%, harga bahan pangan (X4) sebesar 19,1%, nilai gizi bahan pangan (Xs) sebesar 37,8%, dan dukungan pemerintah (X6) sebesar 23,7%. Faktor lingkungan yang dominan pada wilayah Papua adalah faktor keterbatasan bahan pangan. Berdasarkan kajian teori, perilaku konsumsi sagu dapat menjaga kestabilan ketahanan pangan dan menjaga ekosistem lingkungan. Karena tanaman sagu adalah tanaman asli hutan Indonesia yang tersedia cukup melimpah dan dapat tumbuh dilahan marginal basah dan kering. Membudidayakan tanaman sagu berarti menjaga keberlanjutan ekosistem hutan dan lingkungan, sebab tanaman sagu bukan merupakan monokultur. Sagu dapat tumbuh dengan baik bersama tanaman hutan lainnya
This thesis reveals the magnitude of the influence of each environmental factor and the environmental factor that has the greatest influence on sago consumption behavior, and examines the impact of sago consumption behavior on the environment. The method used is a survey method through questionnaires and interviews with a quantitative descriptive approach. The variables observed were knowledge (X1), attitudes (X2), limited food ingredients (X3), food prices (X4), nutritional value of food (Xs), and Government Support (X6), on individual consumption behavior variables (Y) . The results show that for the Jakarta area, the magnitude of the influence of each environmental factor is knowledge (X1) of 52.9%, individual attitudes (X2) of 12.4%, food limitations (X3) of 5%, food prices (X4 ) of 17.9%, the nutritional value of food (Xs) of 7.2%, and government support (X6) of 9.9%. The dominant environmental factor in the Jakarta area is the individual knowledge factor. In the Papua region, the effect of knowledge (X1) is 31.8%, attitude (X2) is 6.2%, limited food ingredients (X3) is 66.1%, food prices (X4) is 19.1%, the value of food nutrition (Xs) of 37.8%, and government support (X6) of 23.7%. The dominant environmental factor in the Papua region is the factor of food shortages. Based on theoretical studies, sago consumption behavior can maintain food security stability and protect environmental ecosystems. Because sago plants are native to Indonesian forests, they are abundantly available and can grow in wet and dry marginal lands. Cultivating sago plants means maintaining the sustainability of forest ecosystems and the environment, because sago palms are not a monoculture. Sago can grow well with other forest plants."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2008
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Astrid Marzia D.
"Dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum, perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dengan memperhatikan kebutuhan generasi masa kini dan masa depan. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan pengelokaan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup yang serasi, selaras dan seimbang.
Aktivitas yang dilakukan oleh manusia telah banyak mengakibatkan perubahan pada lingkungan hidup. Perubahan yang tidak dapat ditoleransi oleh Iingkungan dapat menyebabkan turunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, bahkan dapat pula menimbulkan kerusakan lingkungan hidup yang mengakibatkan lingkungan tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, setiap usaha dan latar kegiatan manusia yang dapat menyebabkan perubahan lingkungan hidup atau yang berdampak besar dan penting pada lingkungan hidup perlu dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL).
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomori 17 tahun 2001, proyek konstruksi Underpass Ciputat - Ps. Jumat ini tidak wajib dilengkapi dengan AMDAL Berdasarkan Keputusan Guwmur Propinsi DKI Jakarta Nomar: 189 tahun 2002, proyek ini juga tidak wajib dilengkapi dengan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) dan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL).
Melalui Studi kasus yang dilakukan, akan diketahui apakah proyek penelitian ini memang benar tidak memerlukan dokumen AMDAL, atau dolcumen UPL/UKL, dilihat dari besarnya intensitas dampak yang dihasilkan oleh proyek tersebut, yang dapat mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan hidup.

In order to exploiting natural resources to move forward prosperity of public, require to be executed sustainable development which with vision of environment by paying attention requirement of present day generation and future. Therefore, require to be executed management of environment in order to sustainable development which with vision of compatible environment, harmony and is well-balanced.
Activity conducted by human being have resulting many change at environment. Change which cannot tolerant by environment can cause to go down energy environment support and energy accommodate environment, even earn also generate damage of environment resulting environment do not function again in sustainable supportin.
Therefore, every effort and/or activity of human being able to cause change of environment or affecting big and important at environment require to provide with analysis concerning environment impact ( AMDAL).
Pursuant to Decree Of The State's Minister Environment November: 17 year 2001, This Underpass Ciputat - Ps.Jumat construction project do not obliged to provide with AMDAL. Pursuant to Decision Of Govemor Province of DK1 Jakarta Number: 189 year 2002, this project nor obliged to provide with Environmental Effort Monitoring ( UPL) and Effort Management of Environment ( UKL).
Through conducted case study, will know that project of this research is true correctness do not need document of AMDAL, or document of UPL / UKL, seen from level of impact intensity yielded by project, which can decline the quality of environment.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
S34716
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Vidya Fauzianti
"Di kota yang sedang berkembang seperti Depok, perlu dilakukan suatu pengelolaan kualitas lingkungan hidup, salah satunya adalah kualitas udara, sebagai suatu langkah antisipasi maupun menurunkan tingkat pencemaran udara yang ada. Melalui data kualitas udara ambien tiap tahunnya, dilakukan suatu analisa kuantitatif deskriptif terhadap parameter mana saja yang melewati ambang batas baku mutu yang telah ditentukan, yaitu debu yang melebihi 230 _g/m³ dan kebisingan yang melebihi 70 dB di Cimanggis dan Terminal Depok. Analisa dilanjutkan dengan uji validasi melalui pengukuran langsung di Cimanggis dan Terminal pada hari kerja dan non kerja, dimulai pada pukul 07.00-09.00, 12.00-13.00 dan 16.00-18.00, yang dikaitkan dengan sumbernya, yaitu beban kendaraan bermotor. Pengolahan data selanjutnya menggunakan persamaan regresi linier darab, dimana jumlah kendaraan sebagai variable bebas dan polutan sebagai variable terikat. Persamaan regresi yang didapatkan memperlihatkan bahwa terdapat hubungan positif maupun negatif untuk beban kendaraan terhadap polutannya, yang berarti jumlah beban kendaraan mempengaruhi tingkat pencemarnya. Hubungan linier terlihat pada lokasi pengukuran Cimanggis, sedangkan hubungan berkebalikan terlihat pada lokasi pengukuran Terminal.Melalui identifikasi sumber, dapat disarankan suatu langkah pengendalian dan pengelolaan kualitas udara, dimana pengendalian lebih diarahkan pada perbaikan manajemen transportasi, yaitu pada debu lebih diarahkan pada kendaraan roda 4/lebih berbahan bakar diesel, sedangkan untuk kebisingan lebih diarahkan pada kendaraan roda 4 berbahan bakar bensin.

In a developing city like Depok, environmental management is needed, which air quality is one of them. Air quality management is needed both for prevention as well as an effort to decrease the existing air pollution. Based on the existing data of air quality for each year, the quantitative analysis was using parameter that is above the standard, which are dust that is above 230 _g/m³ and noise above 70 dB in Cimanggis and Terminal Depok. Analysis continued with validation by doing road side monitoring in Cimanggis and Terminal Depok on work days and week days, started in 07.00-09.00, 12.00-13.00 and 16.00-18.00, connected with their sources, which is vehicles load. Data analysis was made using linear regression equation with vehicles load as independent variable, and pollutant as dependent variable. Regression equation shows that there are positive and negative relationships between pollutant and its sources, which means that the quantity of vehicles influence the level of pollutant. Linear relationship showed in Cimanggis, and invers relationship showed in Terminal.Through identification of source pollution, it is suggested that air quality monitoring and management step by transportation management improvement, with dust pollution, need more attention in 4 or more wheel vehicles with solar fuel, and for noise pollution need more attention in 4 wheel vehicles with gas fuel."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
S35291
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andrew Alexander Lamba
"PDAM Tirta Kahuripan cabang pelayanan 2 mengalami kehilangan air sebesar 15,39% pada bulan oktober 2014. Untuk meningkatkan pelayanan distribusi air bersih, diperlukan sebuah langkah pengoptimalan kinerja jaringan distribusi berupa pemeriksaan kecepatan aliran air dalam pipa dan tekanan pada setiap junction pada jaringan distribusi. Adapun kriteria desain yang menjadi acuan dalam mengoptimalkan kinerja jaringan distribusi yaitu kecepatan dalam pipa tidak boleh kurang dari 0,15 m/dt dan tidak boleh lebih dari 1,5 m/dt serta tekanan air yang ideal adalah tidak kurang dari 10 m dan tidak lebih dari 80 m. Hasil evaluasi dari penelitian ini menemukan permasalahan kecepatan aliran air dalam pipa, yaitu terdapat kecepatan aliran air yang nilainya dibawah 0,15 m/dt dan diatas 1,5 m/dt. Sedangkan nilai tekanan pada setiap junction telah memenuhi kriteria desain, dengan nilai tekanan yang terendah sebesar 26,55 m dan nilai tekanan yang tertinggi sebesar 61,84 m. Hasil evaluasi ini menjadi bahan pertimbangan dalam mengoptimalkan kinerja jaringan distribusi air bersih dengan menggunakan aplikasi EPANET 2.0 dan WaterGEMS. Pengoptimalan kinerja jaringan distribusi dilakukan dengan cara mengganti diameter dan material pipa. Setelah dilakukan 4 penggantian pipa yang diameternya diperbesar dan 9 penggantian pipa yang diameternya diperkecil.

PDAM Tirta Kahuripan service branch 2 experienced water loss by 15.39% in October 2014. In order to improve the water distribution services, needed a distribution network performance optimization step of the examination of water in the pipe flow velocity and pressure at every junction in the distribution network. The criteria for the reference design in optimizing the performance of the distribution network that the speed in the pipe should not be less than 0.15 m / s and should not be more than 1.5 m / s and the ideal water pressure is not less than 10 m and not more of 80 m. Results of the evaluation of the study found the problem of water flow velocity in the pipe, which contained water flow velocity value is less than 0.15 m / s and above 1.5 m / s. While the value of pressure at each junction has met the design criteria, the lowest pressure value amounted 26.55 m and the highest pressure value amounted to 61.84 m. The results of this evaluation into consideration in optimizing the performance of water distribution networks using EPANET 2.0 and WaterGEMS application. Distribution network performance optimization is done by replacing the pipe diameter and material. After 4 replacement pipe whose diameter is enlarged and 9 replacement pipe whose diameter is reduced."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
S60313
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
William Koven
"[ABSTRAK
Penggunaan antibiotik secara sembarangan telah menyebabkan berkembangnya bakteri resisten antibiotik. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dicurigai sebagai pusat penyebaran bakteri resisten antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh IPAL Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo terhadap resistensi E. coli pada antibiotik Meropenem, Ciprofloxacin, dan Cefixime dengan menggunakan metode Kirby Bauer. IPAL menggunakan lumpur aktif, filtrasi dengan media polistiren, dan klorinasi untuk mengolah air limbah rumah sakit tersebut.
Persen resistensi E. coli terhadap Meropenem, Ciprofloxacin, dan Cefixime adalah 6,25%; 62,13%; dan 62,87%. Di influen IPAL terdapat sebanyak 4.6x104 CFU E. coli, dengan persen resistensi Meropenem 3,8%; Ciprofloxacin 53,8%; dan Cefixime 56,3%; sementara efluen IPAL terdapat sebanyak 1.3x103 CFU E. coli dengan persen resistensi Meropenem 20%; Ciprofloxacin 60%; dan Cefixime 80%. Disimpulkan bahwa proses di IPAL RSCM meningkatkan jumlah bakteri resisten E. coli. Resisten terhadap Meropenem, yaitu antibiotik kelas Carbapenem yang biasa digunakan untuk melawan bakteri resisten, telah mulai berkembang.
ABSTRACT
The abasement uses of antibiotic have encouraged antibiotic resistant bacteria to develop. Wastewater treatment plant (WWTP) is believed to be the hotspot for the dissemination of antibiotic resistant bacteria. This research is conducted to know the effect of WWTP in Dr. Cipto Mangunkusumo hospital to the resistance profile of E. coli toward three antibiotics, Meropenem, Ciprofloxacin, and Cefixime using Kirby Bauer method. The WWTP apply activated sludge, polystyrene filtration, and chlorination treatment process to treat the hospital wastewater.
Overall, E. coli resistance against Meropenem, Ciprofloxacin, and Cefixime are 6,25%; 62,13%; dan 62,87%. respectively. Raw wastewater has 4.6x104 CFU E. coli, with resistance profile Meropenem 3.8%; Ciprofloxacin 53.8%; and Cefixime 56.3%; while treated wastewater has resistance profile Meropenem 20%; Ciprofloxacin 60%; and Cefixime 80% respectively for 1.3x103 CFU E. coli. WWTP in Dr. Cipto Mangunkusumo hospital has found to increase the percentage of antibiotic resistant E. coli. E. coli begins to resist Meropenem, the Carbapenem class antibiotic known for its effectiveness in dealing resistant antibiotic.
, The abasement uses of antibiotic have encouraged antibiotic resistant bacteria to develop. Wastewater treatment plant (WWTP) is believed to be the hotspot for the dissemination of antibiotic resistant bacteria. This research is conducted to know the effect of WWTP in Dr. Cipto Mangunkusumo hospital to the resistance profile of E. coli toward three antibiotics, Meropenem, Ciprofloxacin, and Cefixime using Kirby Bauer method. The WWTP apply activated sludge, polystyrene filtration, and chlorination treatment process to treat the hospital wastewater.
Overall, E. coli resistance against Meropenem, Ciprofloxacin, and Cefixime are 6,25%; 62,13%; dan 62,87%. respectively. Raw wastewater has 4.6x104 CFU E. coli, with resistance profile Meropenem 3.8%; Ciprofloxacin 53.8%; and Cefixime 56.3%; while treated wastewater has resistance profile Meropenem 20%; Ciprofloxacin 60%; and Cefixime 80% respectively for 1.3x103 CFU E. coli. WWTP in Dr. Cipto Mangunkusumo hospital has found to increase the percentage of antibiotic resistant E. coli. E. coli begins to resist Meropenem, the Carbapenem class antibiotic known for its effectiveness in dealing resistant antibiotic.
]"
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2015
S61626
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azzahrani Gusgitasari
"Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Kota Tangerang, PDAM Tirta Benteng bekerjasama dengan PT. Moya ingin meningkatkan kapasitas produksi air IPA PT. Moya dari 500 L/detik menjadi 700 L/detik. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder dari instansi-instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas menjadi sebesar 700 L/detik mampu melayani kebutuhan air Kota Tangerang hingga tahun 2021. Untuk analisis kualitas air baku, parameter mangan dan fecal coliform belum memenuhi baku mutu air baku berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001, yaitu >0,1 mg/L mangan dan >2.000 MPN/100mL fecal coliform . Sedangkan semua parameter kualitas air produksi IPA telah memenuhi baku mutu air minum berdasarkan PERMENKES No. 492 Tahun 2010.
Hasil evaluasi IPA menunjukkan bahwa unit sedimentasi tidak memenuhi kriteria desain yaitu pada parameter waktu detensi 46 menit. Hal ini disebabkan oleh adanya penggunaan plate settler pada unit sedimentasi. Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa untuk peningkatan kapasitas produksi IPA PT. Moya menjadi 700 L/detik perlu diimbangi dengan adanyaa penambahan unit-unit pengolahan, diantaranya 1 unit pompa dengan kapasitas 150 L/detik; 1 unit flokulasi dengan debit 200 L/detik; 1 unit sedimentasi dan pengubahan debit tiap unit menjadi 235 L/detik; serta 1 unit reservoir dengan kapasitas 5.000 m3.

Along with the increasing number of residents in Tangerang City, PDAM Tirta Benteng together with PT. Moya want to increase the production capacity of PT. Moya's water treatment plant from 500 L s to 700 L s. The data used in this research is secondary data from the related institutes. Results of the research shows that the increased capacity 700 L s is able to serve the water needs of Tangerang City until 2021. Raw water analysis shows that the manganese and fecal coliform parameters not met the water quality standards based on PP No. 82 Tahun 2001, ie 0.1 mg L manganese and 2,000 MPN 100mL fecal coliform . Analysis of produced water shows that the water has met drinking water quality standards based on PERMENKES No. 492 Tahun 2010.
The results of water treatment plant evaluation showed that the sedimentation unit did not meet the design criteria such as detention time parameter 46 minutes . It caused by the use of plate settler in the sedimentation unit. Evaluation results also show that to increase the production capacity of PT. Moya's water treatment plant to 700 L s, they need to add a few processing units such as 1 unit of pump with a capacity of 150 L s 1 flocculation unit with flow rate of 200 L s 1 sedimentation unit and changes of flow rate to 235 L s for each unit and 1 unit of reservoir with capacity of 5,000 m3.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S68703
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eki Noerfitriyani
"Pengoperasian TPA dapat menimbulkan permasalahan lingkungan akibat dekomposisi sampah berupa produksi lindi.TPA Cipayung memiliki instalasi pengolahan lindi menggunakan kolam stabilisasi denganSungai Pesanggrahan sebagai badan air penerima. Pemeriksaan kualitas lindi dan air sungai diperlukan untuk memastikan pembuangan lindi ke badan air telah memenuhi baku mutu.Karakteristik lindi bersifat fluktuatif dengan temperatur antara 33,8oC ndash; 36,4oC, konsentrasi TSS sebesar 70mg/L- 75mg/L, nilai pH 7,8 ndash; 7,9, BOD 2.874,0mg/L - 4.826mg/L, COD 4.586,4mg/L- 8.937,6mg/L, Total Nitrogen280mg/L- 466,7mg/L, dan logam berat Merkuri0,0008mg/L- 0,0032mg/L, sertaKadmiumdi bawah 0,001mg/L. Efluen Instalasi Pengolahan Lindi belum memenuhi baku mutu lindi sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap unit pengolahan. Hasil evaluasi desain unit Instalasi Pengolahan Lindi TPA Cipayung menunjukan bahwa desain kolam anaerobik, kolam fakultatif, dan kolam maturasi tidak memenuhi kriteria desain sehingga diperlukan desain perbaikan. Efluen lindi IPL TPA Cipayung mempengaruhi kualitas Sungai Pesanggrahan berdasarkan kenaikan konsentrasi parameter BOD, COD, dan Total Nitrogen, serta penurunan konsentrasi DO. Analisis statistik Korelasi Pearson menunjukan keterkaitan antara parameter kualitas lindi COD dan TN r=-0,997, p.

Operation of landfill caused environmental problems by waste decomposition in the form of leachate production. CipayungLandfill has leachate treatment plantusing stabilization pond with Pesanggrahan River as recipient water body. Examination of leachate and water quality of Pesanggrahan River is needed to ensure that leachate discharge to water bodies does not excessed the standard limit. The characteristics of leachate are fluctuated with temperatureranged from 33,8oC ndash 36,4oC, concentration of TSS 70mg L 75mg L, pH 7,8 to 7,9, BOD 2.874mg L 4.826mg L,COD 4.586,4mg L 8.937,6mg L, Total Nitrogen 280mg L 466,7mg L, and heavy metals Mercury 0,0008mg L 0,0032mg L, while Cadmium below 0,001mg L. Effluent of leachate excessedthe leachate standard limit, and need to be evaluated. The result of design evaluation shows that the anaerobic pond, facultative pond, and maturation ponddesign do not meet design criteria, and design improvement is needed. Leachate effluent of Cipayung Landfill affect the quality of Pesanggrahan River based on the increased of BOD, COD, and Total Nitrogen concentration, and decreased of DO. Statistical analysis Pearson Correlation showed correlation between leachate quality parameter COD and TN r 0,997, p"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S67317
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>