Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 25 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Gita Gayatri
"ABSTRAK
Semakin membaiknya kondisi perekonoman paska krisis moneter 1997, besarnya
prediksi pertumbuhan penumpang, dan keluarnya deregulasi mengenai kemudahan syarat
pendirian usaha menberi dampak pada bermunculankembalinya maskapai-maskapai
penerbangan lokal (rute domestik) yang semakin meramaikan dirgantara Indonesia dan sering
disebut-sebut sebagai ?Euphoria kedua? setelah tahun 1968.
Nama-nama maskapai penerbangan baru tersebut antara lain: ?Pelita Air Service, Lion
Mentari Airlines, Bayu Indonesian Air, Air Wagon Inlernasional, Airmark Indonesia Aviation,
dan Jatayu Gelang Samudra; Empat maskapai lain masih didalam proses perkenalan dan empat
maskapai penerbangan lainnya masih dalam proses perijinan.
Ketatnya persaingan di industri penerbangan Nusantara telah mengakibatkan sulitnya
mendiferensiasikan produk, sehingga untuk bisa dìpilih, peran merek kemudïan menjadi
dominan, artinya jika sebagian besar calon pengguna jasa penerbangan mengingat merek Merpati
sebagai nama yang pertama kali terlintas (top of mind) maka besar kemungkinan dengan
dukungan asosiasi dan perceived quality yang positif, maka Merpati akan menjadi pilihan mereka
dalam transportasi udara. Hal-hal yang masuk dalam kategori ?Brand Equity/ekuitas merek?
menurut Aaker tersebut (awareness, association, perceived quality, loyally & other propretary
assets) perlu diketahui nilainya sehingga pihak manajemen perusahaan yang besangkutan dapat
meniperoleh gambaran untuk mengambil langkah kedepan guna mengatasì atau mengantisipasi
posisi.
Ada banyak cara mengukur dan menganalisa ekuitas merek, salah satunya adalah bentuk
analisa berdasarkan persepsi customer, yang dapat diterapkan pada perusahaan penyedia jasa
seperti Merpati. Walaupun tidak diperoleh suatu angka/nilai ekuitas merek seperti jika dilakukan
perhitungan matematis berdasarkan Iaporan keuangan atau nilai saham, namun paling tidak hasil
penelitian ini dapat memberikan masukan posisi ekuitas merek dan Merpati dimata customernya
relatif terhadap pesaingnya.
Penelitian dilakukan dengan melibatkan 100 responden user/non user Merpati yang
masing-masing diberikan pertanyaan dalam bentuk kelompok utama ekuitas merek (berdasarkan
Aaker), yaitu: Brand Awareness/kesadaran akan merek, Brand Associalion/asosiasi apa yang
melekat pada Merpati, Perceived Quality/persepsi mengenai kualitas. diukur dengan menanyakan
tingkat kepentingan (importance) dan kinerja (peijormance) dari Merpati, serta Brand Loyalty/pengkajian tingkat loyalitas customer Merpati.
Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan;
Pertama bahwa walaupun tingkat awareness tethadap Merpati tidaklah buruk, namun Merpati
hanya menduduki urutan kedua setelah Garuda yang menempati top of mind target customernya..
Hal ini disebabkan karena alasan historis, disamping memang Garuda lebib baik kualitasnya
dibanding Merpati sesuai dengan persepsi responden dan juga alasan gencarnya promosi dan
Garuda yang mengangkat slogan?Kini Lebih Baik?, sementaia Merpati dirasa masih kurang
?greget: promosìnya kepada target customer. Mandala dan Bouraq memiliki brand awareness
dari responden yang juga cukup baik, sebingga dapat dijadikan patokan untuk mulai
memperlakukan mereka sebagai pesaing bukan lagi pengikut (follower).
Kedua, Dari 19 (sembilan belas) asosiasi yang dikaitkan dengan Merpati, hanya 5 (lima) asosiasi
yang temyata berkaitan erat dengan Merpati, yaitu: ?harga tiket murah?, ?milik BUMN?,
?jaringan domestik yang luas?, serta ?mencakup seluruh nusantara?. Lima sub brand Merpati
yang diharapkan berasosiasi kuat justu tidak ada yang masuk kedalam bagan asosiasi tersebut.
Namun demikian pada pertanyaan mengenai perusahaan diperoleh beberapa pernyataan yang
potensial untuk kembali ditanyakan melalui penelitian lebih lanjut apakah itu berkaitan dengan
Merpati, antara lain: Ukuran perusahaan, kepedulian kepada customer, popularitas, profesional
dan lain-lain.
Ketiga, Dari analisa Perceiveq QuaIity, atribut layanan yang paling perlu mendapat perhatian
karena posisinya dalam matrik performance-importance ada pada kuadran IV (Importance tinggi
sementara performance rendah) adalah: kecepatan pengantaran bagasi ke ban berjalan, kecepatan
dan ketepatan konekdi ke penerbangan selanjutnya, penanganan komplain bagasi, On Time
Performance secta staff bandara yang tanggap. Sedangkan berdasarkan analisa regresi antara
kepuasan dengan masing-masing atribut pada titik pelayanan menunjukan hasil sebagal berikut:
pada pre-flight secara keselurulian dengan signifikan berturut-turut dan yang pengaruhnya
terbesar ke yang terkecil adalah: Kemudahan booking tiket, keramahan petugas bagian reservasi
bandara, Jumlah frekwensi penerbangan, dan ketanggapan karyawan bandara. Pada In-flight
berturut-turut adalah tersedianya sarana hiburan, Ketanggapan awak kabin , Jarak yang lebar
antara kursi penumpang Pramugari/a cekatan, On time performance. Dan untuk post-flight atribut
yang berpengaruh adalah: Penanganan keluhan/komplain, Ketepatan koneksi untuk penerbangan
lanjutan, Kecepatan pengantaran bagasi ke ban berjalan, penerimaan bagasi Iengkap. Setelah
dilakukan pemisahan bagi pengguna dan non pengguna Merpati, hasilnya tidak begitu jauh
berbeda kecuali pada pre-flight. Titik pelayanan post-flight adalah titik yang nilal
Performancenya paling tinggi dibanding titik lain, dan jika dikelompokkan berdasarkan dimensi,
atribut-atrobut yang hampir seluruhnya sama dengan titik post flIght tersebut masuk kedalam
dimensi layanan reliability/ keterandalan. Kedua hasil menunjukkan intepretasi yang relatif sama
dengan analisa matriks performance importance.
Keempat atau bagian terakhir dari analisa Ekuitas merck adalah ?loyalitas merek?, terbagi
didalam lima kategori. Pada tingkatan pertama, yaitu switcher/customer yang suka berpindah
karena harga, terdapat sejumlah 27%customer yang rata-rata berpindah jika ditawarkan kurang
lebih 23% potongan harga oleh maskapai lain Tingkat kedua, habitual menjaring sejumlah
48,64% dari customer dengan makna ganda apakah mereka menggunakan Merpati karena
memang kebiasaan (baik) atau keterpaksaan (buruk). Selanjutnya 24% merasa puas
menggunakan Merpati, namun pada matriks perpindahan terlihat cukup jelas sebesar 46% dan
customer Merpati yang tidak loyal menggunakan Merpati. Angka ini cukup besar untuk sebuah
perusahaan, terutama yang bergerak dibidang jasa, sebab jika dihitung dari jumlah penumpang,
nilai teisebut cukup besar. Dalam jangka panjang akan mungkin terjadi pengikisan pasar
Merpati, sebab walaupun masih terdapat 31% customer yang merasa puas akan layanan Merpati,
namun hanya sebesar 7% yang commited/berkomitmen untuk terus menggunakan jasa
penerbangan Merpati bagi perjalanan domestik mereka.
Dari keseluruhan analisa dapat disimpulkan bahwa Merpalti perlu berbenah diri untuk
meningkatkan citranya dimata pelanggan, sebab bukan tidak mungkin kondisi persaingan akan
semakin menajam, bukan surut seperti yang diprediksikan sebelumnya oleh manajemen Merpati,
antisipasi dini dan tindakan preventif perlu dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak
diinginkan terjadi. Ekuitas merek merpati dapat dikatakan masih dibawah Garuda berdasarkan
persepsi target customernya, padahal masih berasai dari satu negara dan dìbawah naungan
kementrian yang sama, maka bagaimana kondisj jika pesaing asing bebas masuk dan beroperasi
di wilayah Indonesia.
Beberapa saran/masukan untuk merpati adalah: Meningkatkan program promosi
Perusahaan untuk menggalang kesadaran customer target lebih besar, Mengembangkan asosiasi
yang berkaitan dengan Merpati agar tercipta satu image perusahaan yang baik; menanamkan
filosofi ?total customer services? pada setiap lini organisasi sehingga peningkatan perceived
quality konsumen bisa meningkat, dan akan berdampak pada loyalitas customer terhadap
Merpati Asosiasi yang berkait cukup kuat dapat dijadikan sebagai point of dfference antara
Merpati dengan pesaingnya. Dan sebagai Iangkah awal perbaikan, berbagai atribut yang penting
untuk diperhalikan sebaiknya segera dijalankan untuk memperbaiki dan memenuhi keinginan
customer yang merupakan aset terbesar sumber penghasilan dan sebuah perusahaan layananhjasa
seperti Merpati.
"
2002
T2016
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Patria Adiguna
"Kepuasan pelanggan merupakan hasil yang dirasakan pelanggan atau pembeli dari kinerja perusahaan yang memenuhi harapan mereka. Pelanggan akan puas apabila harapan mereka dipenuhi dan bahagia bila harapan mereka dilebihi. Pelanggan yang puas akan setia lcbih lama, membeli lcbih banyak, kurang sensitif pada harga dan memberikan komentar baik tentang pemsahaan. Untuk menciptakan kepuasan pelanggan, Lion Air mengclola rantai nilai mereka dan sistem pengantaran nilai dengan cara yang berpusat pada pclanggan (customer ccnfer way). Tujuan Lion Air tidak hanya mendapatkan pelanggan tetapi lcbih peming lagi mempertahankan pelanggan (Kotler et all ;2002). Apabila Lion Air menetapkan harga terlalu rendah, Lion Air mungkin akan memuaskan pelanggan yang membeli/ memesan tiketnya tetapi gagal menarik konsumen dalam jumlah besar. Sebaiknya apabila Lion Air menaikkan harapan atau harga terlalu tinggi, kemungkinan pembeli merasa tidak puas (Kotler and Amsmmg ; 1996).
Dengan meningkatnya intensitas persaingan di industri penerbangan domestik, maka tak ada pilihan lain bagi pcrusahaan penerbangan selain menciptakan kepuasan pelanggan yang tinggi untuk mempertahankan eksistensinya. Agar hal ini dapat direalisasikan, maka perusahaan penerbangan pcrlu mcngctahui aspck - aspck yang rclevan dengan kepuasan pclanggan. Dalam industn penerbangan, layanan rnencalcup tiga kategori, yaitu layanan sebelum, selama, dan sesudah penerbangan. Oleh sebab itu dalam penelitian ini penulis akan rnengkaji atribut - atribut dalam ketiga kategori layanan tersebut yang menurul pelanggan penling dan bcrpcngaruh dalam pemilihan altematif perusahaan domestik.
Berdasarkan lalar bclakang permasalahan diatas penulis akan mencliti mengenai apakah kepuasan pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan oleh perusahaan penerbangan, dengan mengamati melalui lima dimensi kualitas jasa yaitu : bukti tisik Qrcmgibies), kehandalan (reliahiliry), daya tanggap (responsiver1e::s),jaminan (cwszn-ance`), dan empati (errrplrary). Unit analisis adalah pengguna jasa Lion Air yang dikelompokkan dalam lzecngv user, yaitu responden/penumpang yang terbang lebih dari 3 kali, dan light user yailu penumpang yang tcrbang dengan Lion Air kurang dari 3 kali, dengan jumlah responden sebanyak 142 orang responden dari 200 orangresponden yang direncanakan.
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1) Untuk mengelahui apakah pelayanan yang dibcrikan Lion Air dapal memenuhi keinginan dari pelanggan atau pelanggan merasa puas dengan pelayanan yang diterima.
2) Mcngkaji kcpuasan kualitas pclayanan yang dibcrikan olch Lion Air kepada pelanggan heavy user dan Iigh! user.
3) Mempelaiari apakah para pelanggan (dari segmen bisnis, Iiburan, mengunjungi sahabat/'kerabat dan relasi) memiliki ekspresi yang berbeda dalam kepuasan atau ketidakpuasan masing - masing.
Penelinan dibatasi pada pelanggan atau responden yang menggxmakan Lion Air, yang dilaksanakan dengan mcnyebarkan kuesioner kepada calon penumpang Lion Air di bandara, di kantor - kantor pemenntahan depanemen dan BUMN, dan untuk ibu - ibu rumah tangga di kompleks perumahan. Pengumpulan data dilakukan dengan alat penelitian berupa kuesioner yang mengacu pada penelitian Parasuraman and Berry (1997). Pengukuran variabel penelitian dengan kuesioner dilakukan dengan skala likert (metrik) dan kategori (non metrik) Pada penelitian ini, pengolahan data menggunakan analisis Uji Chi - Square untuk mcngetahui nilai statistik secara signitikan dalam pengumpulan data pada tabulasi silang (Malhothra 1 1999). Selain itu Uji Chi - Square digunakan untuk membahas membahas apakah ada hubungan antara dua variabcl atau tidak serta mengukur seberapa jauh hubungan terscbut (Santoso dan Ciptono : 220). Hasil pcnelitian menunjuklcan bahwa sebagian besar pcnumpang Lion Air menyatakan puas atas pelayanan yang diberikan dan menilai baik kualitas jasa Lion Air tersebut karena responden puas dengan harga tiket yang terjangkau selain itu ada pu1a konsumen atau penumpang yang tidak puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Lion Air disebabkan karena ada beberapa harga likct pesawat yang tidak standard sehingga sebagian ada beberapa penumpang yang beralih ke perusahaan penerbangan lain yang harganya re\atif lebih murah. Beralihnya pelanggan yang disertai rasa tidak puas terhadap pekayanan yang diberikan kepada Lion Air akan bcrdampak buruk pada pclanggan lainnya. Oleh karena itu Lion Air tidak perlu menghambat peianggan yang akan pindah ke pemsahaan penerbangan lain, namun Lion Air perlu menggali informasi untuk mengatahui alasan yang sebenarnya serta mengevaluasi kelebihan dan kekurangan pada perusahaan penerbangan tersebut.

Competitive intensity have been increasing at domestic airline industiy. So that, there is no choice for domestic airline except to create best or invent customer satisfaction, to preserve existence. To realize its above mentioned, the airlines must to knowing relevan aspects in relation with the customer satisfaction (Kotler and Amstrong ; 1996).
Customer satisfaction has resulting that customer was felt or buyer from company?s performance that its expectation was fuliilled. Customer have will be satisfy if their expectation was fulfilled and feel happy if they have talking more than expectation. Customer satisfied will be loyal for a long time, to buy more, insensitive with price and gave goods comment about company, to creating customer satisfaction- The airline much be manage their value chain and value of delivery system, with customer central way.The aim of airline not just get the customer, but more of important thing preserve the customer (Kotler et all ; 2002), If the airline have defined the price too low. Its possnnle to satisfied customer that bought or reserve the ticket, but failed took customer for the greater part. ln the airline industry, services have to snactch at three category, such as ;pre flight, in flight, and post flight. That?s way in this research I will examine atributs of three service category. 'l`hat accompanied with customer opinion have been important and influenced at alternative choice ofdomcstic airlines- Based on the background problem above mentioned, l will examineabout what customer satisfaction against services that that gave by airline, with have notice to under go tive dimention of service quality, such as : tangibles, reslibility, responsiveness, assurance, and emphaty. The analysis unit is that grouping the users Lion Air into heavy user, that the passenger/respondent who are uscdflly more than three timcs, and light user that the passenger/respondent who used less than three times, with the total 142 respondent from 200 respondent targeted.
Objectives of these research, are 2
l) To know about the services of Lion Air how can fullilled of customers wants or customer can will feel satisfy with the accepted services.
2) To examine service quality satisfaction hom Lion Air especially to heavy user and light user.
3) To study the customer (from business segment, vacation, to visit a friend/family and relation), have ditlerent expression in satisfaction or each nnsatisfaction
The research have limited by thc customer or respondent used the Lion Air, to accomplish by spreading the quetionaire to applicant passengers of Lion Air in airports, government offices or department, state company, and for wifehouses at resident complex. Gathering data to with research requirements such as quetionaire to refer a research by Parasuraman and Berry (1997). To measure research variable with questionaire to do with l0"
Depok: Universitas Indonesia, 2005
T15814
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fery Syahrudin
"Internet Banking adalah salah satu hasil pengembangan teknologi di bidang perbankan. Dalam proses pengembangannya, internet banking sebagai produk yang berbasiskan teknologi tinggi mengalami dua tahap yaitu : proses difusi dimana internet banking di sebarkan dari penyedia produk ke konsumen akhir melalui media komunikasi tertentu dan proses adopsi yaitu proses dimana konsumen akan mengambil keputusan untuk menggunakan dalam memenuhi kebutuhannya atau menundanya pada masa akan datang atau tidak sama sekali. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kedua proses tersebut di atas.
Sejauh pengamatan penulis, pengembangan internet banking di Indonesia masih difokuskan dalam pengembangan fitur produk/pelayanan yang ditawarkan. Namun pada kenyataannya, berdasarkan survei terdahulu diindikasikan bahwa fitur produk/pelayanan yang ditawarkan belum dapat meningkatkan preferensi konsumen untuk mengadopsi intemet banking. Oleh karena itu menjadi penting untuk dapat mengetahui faktor-faktor apa yang sebenarnya mempengaruhi preferensi konsumen dalam mengadopsi internet banking. Sehingga apa yang akan dilakukan perbankan dalam strategi pengembangan internet banking dapat dilakukan lebih efektif dan efisien.
Dalam proses pengembangan internet banking di Indonesia, faktor keamanan diduga menjadi faktor yang dapat mempengaruhi proses adopsi internet banking mengingat selain karakteristik sosial masyarakat itu sendiri dengan tingkat kepercayaan yang rendah juga telah terjadi distorsi informasi tentang keamanan internet banking melalui informasi yang cenderung memberikan nilai negatif terhadap keamanan internet banking di persepsi konsumen. Oleh karena itu penting kiranya untuk dapat mengetahui apa sebenamya persepsi konsumen terhadap keamanan internet banking dan siapakah sebenarnya yang dapat mempengaruhi persepsi keamanan internet banking tersebut. Sehingga baik dalam hal perbankan sistem dan teknologi yang digunakan dalam mendukung keamanan internet banking juga komunikasi yang disampaikan dapat lebih mengarah kepada kebutuhan keamanan yang diinginkan konsumen.
Penelitian ini didasari pada teori-teori yang dapat mendasari tujuan penelitian yaitu : teori-teori mengenai proses difusi dan adopsi sebuah inovasi, kualitas pelayanan internet, ekuitas sebuah web site (web equity) dan teori tentang persepsi konsumen terhadap keamanan internet. Dari teori-teori tersebut didapatkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses adopsi inetemet banking yaitu : pengetahuan (awareness) produk/pelayanan yang ditawarkan, persepsi keamanan, kecepatan akses/transaksi, kemudahan penggunaan, dan fitur produk/pelayanan yang ditawarkan. Juga didapatkan bahwa terdapat 14 dimensi yang membentuk persepsi konsumen terhadap keamanan internet banking. Adapun pihak-pihak yang diduga dapat mempengaruhi persepsi kansumen terhadap keamanan internet banking adalah : teman terdekat, keluarga terdekat, bank/staf bank, pemerintah, dan pakar teknologi infomasi.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat tiga faktor yang dapat mempengaruhi proses adopsi intemet banking yaitu : pengetahuan (awareness) produk/pelayanan yang ditawarkan, kemudahan penggunaan, dan persepsi keamanan internet banking. Adapun penelitian tentang persepsi konsumen terhadap keamanan intemet banking menyimpulkan terdapat dua persepsi keamanan yaitu Pertama, kehandalan sistem dan teknologi yang digunakan yang meliputi adanya mekanisme/prosedur yang baik dan teknologi yang handal untuk mendukung dan menjamin bahwa internet banking itu aman. Kedua, keamanan transaksi yang meliputi tidak adanya pihak ketiga yang tidak berhak dapat melakukan transaksi, keamanan data pribadi dan password saat melakukan transaksi, informasi status transaksi yang jelas, dan adanya bukti transaksi hitam diatas putih. Adapun pihak yang paling berpengaruh terhadap persepsi keamanan internet banking adalah pakar teknologi informasi. Disimpulkan pula bahwa pengetahuan konsumen terhadap sistem dan teknologi yang dipakai perbankan untuk mengamankan transaksi intemet banking masih cukup rendah.
Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan perbankan Indonesia dapat melakukan langkah-langkah yang efektif dan efisien dalam mengembangkan internet banking. Adapun langkah-langkah pengembangan internet banking yang disarankan adalah memperbaiki sistem dan teknologi yang dapat mendukung keamanan internet banking, merancang desain intemet banking sehingga memudahkan konsumen dalam menggunakannya, serta mengkomunikasikan produk/pelayanan yang ditawarkan, kemudahan penggunaan, dan keamanan internet banking sesuai apa yang dipersepsikan konsumen."
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T20022
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Deni Adha Akbari
"Adanya beberapa produk kartu GSM yang sejenis atau beberapa perusahaan penyedia layanan telepon selular yang sejenis akan mengakibatkan timbulnya persaingan di antara produk atau perusahaan tersebut. Penelitian ini dilakukan pads pihak konsumen dan produsen. Hasil penelitian pads pihak konsumen untuk mengetahui keinginan dan kebutuhannya terhadap produk kartu GSM. Sedangkan penelitian terhadap produsen, bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang terdapat dalam perusahaan. Dari kedua penelitian tersebut, hasilnya dianalisis untuk memberikan masukan pada perusahaan dalam penyusunan strategi pemasaran yang diharapkan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan, dengan cara memanfaatkan peluang yang dimiliki perusahaan dan berusaha memperkecil ancaman yang dihadapi perusahaan.
Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran persepsi yang diberikan konsumen terhadap produk TELKOMSEL yaitu kartuHALO dan simPATI Nusantara dan terhadap produk pesaingnya: (1) Satelindo dengan produk Satelindo Card dan Mentari, (2) Excelcomindo dengan produk Excelcom dan Pro-XL. Pengukuran persepsi dilakukan dengan cara menggunakan factor analysis dengan angka skala liked, selanjutnya diolah dengan menggunakan cluster analysis, untuk mengetahui posisi bersaing dalam bentuk dendogram. Sedangkan posisi map persepsinya diolah dengan multidimensional Scalling Analysis. Hasil penilaian persepsi dari pars pengguna kartu GSM, dianalisis menggunakan gabungan AHP (analytic hierarchy process) dan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity dan threat), guna mengetahui faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan strategi pemasaran dan menentukan pilihan alternatif strategi pemasaran kartuHALO dan simPAT! Nusantara."
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T20095
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tetty Rimenda
"Didalam memutuskan untuk membeli suatu barang, banyak pertimbanganpertimbangan yang harus difikirkan oleh konsumen. Salah satunya adalah faktor harga_ Harga mahal cendrung dipersepsikan dengan kualitas tinggi, sedangkan harga murah biasanya dipersepsikan berkualitas rendah .
Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat apakah format harga dan order diskon mempengaruhi persepsi pengorbanan, persepsi kualitas dan persepsi nilai konsumen. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Surf et al (2000) yang menyatakan bahwa dalam mengevaluasi suasana diskon, konsumen lebih menyukai format harga fixed dibandingkan dengan format harga discounted Selain itu konsumen juga lebih memilih order diskon 15 % - 25 % dibandingkan dengan order diskon 25 % - 15 %. Sedangkan penelitian Mobley et al (1988) menyimpulkan bahwa persepsi kualitas menurun bila harga dipresentasikan dalan format discounted dan order diskon besar (> 50 %).
Penelitian yang memilih Batik Danar Hadi sebagai objek penelitian ini, dilakukan dengan melaksanakan eksperimen. Responden dibagi kedalam 4 kelompok kemudian kepada masing-masing kelompok ditunjukkan gambar Batik Danar Hadi yang dipresentasikan dalam format fixed dan format discounted dengan order diskon 15 % dan 25 %. Penelitian ini diolah dengan SPSS per 10.0 Manova. Hasilnya menunjukkan bahwa format harga dan order diskon mempengaruhi persepsi pengorbanan konsumen. Konsumen Iebih memilih bila harga di presentasikan dengan format harga fixed dan order diskon 15 %. Selanjutnya penelitian ini menyimpulkan bahwa format harga dan order diskon tidak mempengaruhi persepsi kualitas konsumen. Penulis menduga hal ini karena adanya pengaruh prior knowledge, yaitu pengetahuan dan pengalaman konsumen tentang Batik Danar Hadi yang cukup baik, sehingga konsumen tidak terpengaruh kepada format harga serta order diskon.

In buying decision, consumers consider many factors, and one of it, is price. High price is usually viewed as a reflection of higher quality goods but lower price is considers as the opposite.
The purpose of this research is to analyze the influence of price and discount order on sacrifice perception, quality perception and customer value perception. Previous research done by Suri et al (2000) said that in evaluating discount format, most costumer prefer a fixed price rather than discounted price. Furthermore they also choose 15 % - 25 % discount order rather than 25 % - 15 %. Research done by Mobley et al (1988) conclude that quality perception will diminish when the price is presented in discounted format, and the discount order is more than 50 %.
Batik Danar Hadi is selected as an object of this experimental research. Respondents are divided into four groups. Each groups was shown many photos of Danar Hadi's collections, which is presented in fixed price format and discounted price format, with different order discount (15 % and 25 %). Data collected from the research were analyzed by SPSS version 10.0 Manova, concluded that price format and discount order influence customer's sacrifice perception. Customer prefer to choose price which is presented in fixed price format and discount order 15 %. Furthermore this research found price format and discount order did not influence customer's quality perception. From the point of view researcher its caused by consumer's prior knowledge of Danar Hadi is very good."
Depok: Universitas Indonesia, 2004
T20117
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rishanty Masruri
"Sebagai pemasar saat ini, kian menyadari pentingnya peran iklan dalam membangun citra (image) baik citra merek (brand image) maupun citra diri (self-image), sehingga dibutuhkan suatu penelitian mengenai hubungan derajat kesamaan (similarity/congruence degree) antara citra merek dan citra diri melalui tipe iklan dan pengaruh derajat kesamaan tersebut terhadap sikap konsumen. Di masa Iampau, peneliti pemasaran sering kali menggunakan teori personality untuk menjelaskan perilaku konsumen, yang sering kali diaplikasikan oleh pemasar adalah bahwa setiap individu memiliki konsep diri (self-concept) secara aktual yang didasarkan pada pola pikir, bagaimana mereka memandang tentang dirinya (who they think they are) dan konsep diri secara ideal yang didasarkan pada pola pikir, mereka ingin menjadi siapa (who they think they would like to be).
Penelitian ini mencoba untuk melihat sejauh mana tipe iklan (advertising type) dapat memperkuat atau memperlemah hubungan kesamaan antara citra merek (brand image) dan citra diri (self-image), dan pengaruhnya terhadap sikap (attitude) konsumen dengan hanya mengambil satu merek pada satu kategori produk yaitu handphone yang paling populer di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia setelah melakukan penelitian pendahuluan secara tidak terstruktur dengan jumlah responden sebanyak 50 orang. Tujuan penelitian ini meliputi :
1. Untuk mengetahui hubungan antara kesamaan/kongruensi citra (antara citra merek dan citra diri) dengan sikap (attitude) berdasarkan tipe iklan (type of advertisement).
2. Untuk mengetahui sejauhmana pemikiran yang terbentuk pada saat membaca ikian (kualitas produk, pemakaian produk, dan citra diri) dapat memprediksi sikap konsumen terhadap merek dan ikian berdasarkan tipe iklan (type of advertisement).
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian sebelumnya yang ditulis oleh Timothy R. Graeff (1996). Namun untuk penelitian ini, penulis hanya memfokuskan pada penggunaan pesan fiktif sebuah iklan (advertising massage) khususnya iklan media cetak untuk mengelola hubungan kesamaan antara citra merek (brand image) dan citra diri (self-image), serta pengaruhnya terhadap sikap (attitude).
Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan program SPSS versi 10.0.1, dimana untuk menguji masing-masing hipotesa dalam penelitian ini dilakukan analisis dengan menggunakan alat analisa sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kesamaan citra (antara citra merek dan diri) dengan sikap berdasarkan tipe iklan maka digunakanlah alat analisa Korelasi.
b. Untuk menguji hipotesa kedua digunakan alat analisa Regresi Berganda. Pada kasus regresi berganda, terdapat satu variabel dependen (sikap) dan lebih dari saku variabel independen (kualitas produk, pemakaian produk, dan citra).
Dari hasil korelasi diperoleh bahwa korelasi negatif antara jarak skor dan sikap, mengindikasikan adanya hubungan yang positif antara kesamaan/kongruensi citra dan sikap. Begitupula sebaliknya dari hasil korelasi diperoleh bahwa korelasi positif antara jarak skor dan sikap, mengindikasikan adanya hubungan yang negatif antara kesamaan/kongruensi citra dan sikap. Dampak kesamaan/kongruensi citra (antara citra merek dan citra diri) pada sikap konsumen balk terhadap merek maupun iklan adalah signifikan hanya kepada responden yang diberikan iklan citra diri.
Sedangkan dari hasil analisis regresi berganda diperoleh bahwa tipe pemikiran yang terbentuk pada saat membaca iklan citra diri merupakan prediktor yang signifikan bagi sikap konsumen terhadap merek maupun iklan. Hal ini sesuai dengan apa yang ditemukan Timothy R. Graeff yang menyatakan bahwa tipe pemikiran merupakan prediktor signifikan dari sikap. Berdasarkan analisis penulis hal ini disebabkan oleh: pertama, keterbatasan informasi yang disebabkan oleh pesan iklan fiktif yang sangat generik, kedua, mayoritas responden dimana seluruhnya mahasiswa lebih mementingkan kegunaan dan ketiga harga relatif mengingat mayoritas responden berpenghasilan sekitar Rp 500.000,-sampai Rp 1.000.000,-"
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T20196
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yohannes Bosco Andre Marvianta
"Tujuan penelitian ini adalah menganalisis sejauh mana dampak hubungan antara kualitas interaksi, kualitas lingkungan fisik, dan kualitas hasil terhadap kualitas jasa secara keseluruhan. Data dikumpulkan antara Mei sampai Juni 2003 dengan kuesioner. Kuesioner disebarkan dan terkumpul 150 sampel. Kuesioner berisi 29 item pernyataan tentang konstruk kualitas interaksi, kualitas lingkungan fisik, kualitas hasil dan kualitas jasa. Data yang diperoleh diolah dengan analisis faktor dan analisis regresi.
Hasilnya menunjukkan bahwa sikap dan perilaku berpengaruh pada kualitas interaksi jasa. Kondisi suasana, desain fasilitas dan faktor sosial berpengaruh pada kualitas lingkungan fisik. Tangible/nyata kelihatan dan valence berpengaruh pada kualitas hasil. Berdasarkan jenis kelamin, perilaku dan suasana memiliki pengaruh dalam penilaian kualitas jasa. Berdasarkan angkatan kuliah mahasiswa, subdimensi perilaku, keahlian, faktor sosial dan valence memiliki perbedaan dalam penilaian tentang kualitas jasa. Berdasarkan mean/rata-rata, terdapat perbedaan mean di kesembilan subdimensi terhadap dimensi kualitas jasa.
Hal ini berarti sub-subdimensi tersebut harus diperhatikan oleh penyelenggara jasa agar konsumen memiliki penilaian yang positif terhadap organisasi. Sekalipun penilaian disetiap subdimensi memiliki penilaian positif, namun ternyata tidak selalu konsisten dengan penilaian secara keseluruhan. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan antara subdimensi-subdimensi terhadap dimensi kualitas jasa. Penelitian ini mencoba mengungkapkan dimensi kualitas jasa dengan model yang ditawarkan oleh Brady dan Cronin (2001), namun memiliki hasil yang jauh dari yang diduga dan diharapkan. Hal ini berarti penelitian-penelitian berikutnya dapat mencoba kembali model yang ditawarkan oleh Brady dan Cronin tersebut dalam situasi yang berbeda untuk menguji kesahihan dan konsistensinya model penelitian yang ditawarkan mereka.

The objective of this research analyze the impact of the relationship between the interaction quality, the physical environmental quality, and the outcome quality to the service quality overall. The data tobe collected between Mei until June 2003 with question sire among 150 samples. The data to be analyze with factor analysis and multiple regression.
The result shows that the attitude and the behavior influence the service interaction quality. The environment, the facility design and the social factor influence the physical environment quality. The tangible and the valence influence the outcome quality. Basic on sex, the behavioer and the environment influence the service quality. Basic on degree of students, the behavior sub-dimension, the skill, the social factor and the valence make different on the service quality. Basic on means, there is a different between nine sub-dimensions means with the service quality dimension.
It means the subdimensions should be attention by the service organization. It can give opportunity for the organization in the future. Though the value on every sub-dimension doesn't positive point, the value for all dimensions doesn't consistent It can be showed by the value between sub-dimensions with the service quality dimension overall.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2006
T20275
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eulis Eliyati
"Di tahun 1998 industri asuransi jiwa memperkenalkan produk terbaru yaitu Unit Link. Pada tahun 2000 produk ini mulai menggeser pamor produk asuransi jiwa tradisional, karena produk ini memberikan beberapa keistimewaan bagi para calon nasabahnya. Unit link merupakan campuran antara produk asuransi tradisional dan investasi yang dikelola oleh pihak asset management. Nasabah unit link akan memperoleh dua keuntungan sekaligus, yaitu
? Perlindungan asuransi
? Tingkat investasi yang lebih menguntungkan
Permasalahan yang muncul adalah :
1. karakteristik produk unit link yang tidak menjamin nilai investasi, jika kondisi investasi baik, maka nilainya akan meningkat, akan tetapi jika iklim investasi sedang menurun, maka nilai investasi di unit link ini juga ikut turun, bahkan sampai habis.
2. Adanya pendapat bahwa produk ini bukan produk perusahaan asuransi jiwa, pada kenyataannya di negara lainnya produk ini adalah bagian dari perusahaan asuransi jiwa.
3. karakteristik produk yang cukup kompleks yang melibatkan instrumen investasi yang fleksibel, yang dapat dipilih oleh nasabah, maka kesulitan menjual jugs ada pada para agen yang memasarkan unit link. Diperlukan keandalan agen dalam menguasai dengan baik pengetahuan mengenai produk ini.
Penelitian ini memfokuskan bagaimana terbentuknya rasa percaya nasabah dan calon nasabah kepada perusahaan asuransi jiwa, perusahaan asset manajemen, agen, dan kepada produk unit link. Penelitian ini secara khusus juga adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara rasa percaya dengan keputusan pembelian.
Usia responden yang pernah ditawarkan asuransi jiwa antara usia 30-50 tahun mencerminkan pasar unit link dan juga asuransi jiwa dari segi usia. Unit link lebih mudah ditawarkan kepada mereka yang sudah memiliki produk asuransi jiwa tradisional. Karena tingkat awareness dan pengetahuan mereka akan asuransi jiwa sudah cukup baik. Hampir semua pihak yang pemah ditawarkan produk unit link ini selalu mencari informasi lebih lanjut. Hal tersebut dikarenakan produk ini unik, kompleks dan perlu pemahaman serta "assurance" dari sumber-sumber lainnya.
Ekspertise agen memegang peranan penting dalam pembentukan rasa percaya nasabah terhadap unit link. Untuk itu penguasaan dan pengetahuan akan asuransi dan unit link haruslah sangat bagus, nasabah diberikan penjelasan yang lengkap, disertai perilaku yang menunjukkan dapat dipercaya (trustworthy) seperti kejujuran, dan tidak akan merugikan nasabah. Sertifikasi agen akan diperlukan untuk menghindari kurang kompetennya agen dalam menjelaskan unit link kepada calon nasabah.
Dari hasil analisa faktor terlihat bahwa untuk para nasabah, rasa percaya sangat dipengaruhi oleh ekspertise agen dan juga fitur produk, sedangkan rasa percaya non nasabah adalah kepada perusahaan asurasni jiwa, dan agen."
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T20581
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Savitrie
"Penelitian ini ingin menjawab bagaimana pola perilaku pembelian konsumen wanita terhadap produk fashion. Antusiasme wanita terhadap produk fashion sangat tinggi dan menimbulkan perilaku tersendiri dalam proses pembeliannya. Penelitian ini terlebih dahulu meneliti karakteristik konsumen produk fashion dan bagaimana proses pengambilan keputusannya. Hasil dari proses tersebut terlihat dari jawaban-jawaban pembeli yang memberikan pemahaman mengenai perilaku belanja (lokasi belanja, pilihan merek, pilihan produk) dan pola belanja produk fashion (waktu pembelian dan frekwensi pembelian) yang dilakukan konsumen. Penelitian ini juga meneliti piihan metode pembayaran dan bagaimana tanggapan konsumen mengenai display, startegi harga, dan salesperson. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap 30 orang responden wanita. Penelitian mengambil tempat di Butik N.y.l.a Pondok Indah Mall dan Kampus FE UI Depok. Metode ini diharapkan mampu memberi jawaban beserta alasan dibaliknya demi mendapatkan analisa lebih dalam. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa perilaku pembelian produk fashion mengarah pada pembelian impulsif (impulse buying) yang terjadi secara spontan ketika konsumen sangat menyukai suatu produk. Lokasi belanja yang digemari adalah mall dan ITC. Waktu pembelian tidak menentu dan konsumen lebih suka membeli dalam jumlah kecil tapi frekwensinya sering. Metode pembayaran yang disukai adalah non-tunai (kartu kredit dan debit). Konsumen menganggap windows display lebih efektif ketimbang interior display, mereka juga lebih menyukai sale (diskon) dan menganggap keberadaan salesperson tidak mempengaruhi pembelian secara signifikan. Peneliti menyarankan agar pada penelitian selanjutnya dapat mengkaitkan faktor-faktor lain yang dapat memperkaya pemahaman kita mengenai konsumen produk fashion. Masih banyak fenomena lain yang terjadi dalam proses pembelian produk fashion yang menarik untuk diteliti seperti motivasi belanja produk fashion apakah fungsional atau emosional, perilaku pada segmen konsumen lain atau perilaku belanja online. Keterbatasan dalam penelitian ini juga membuat penelitian ini belum bisa digeneralisasikan dan diimplikasikan hasilnya pada produk fashion secara umum."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2008
S6027
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Gita Gayatri
"Industri Pariwisata di Indonesia mengalami kendala yang cukup serius belakangan ini, menyusul terjadinya krisis ekonomi dan krisis moneter yang berkepanjangan di Indonesia, maka tak pelak lagi, penurunan pendapatan yang berakibat menurunnya daya beli masyarakat secara otomatis menyurutkan keinginan konsumen untuk mengunjungi tempat rekreasi. Berbeda dengan perusahaan lain yang berusaha mengencangkan ikat pinggang dengan memotong anggaran-anggaran tidak tetap, seperti anggaran Promosi, untuk mempertahankan kelangsungan perusahaannya, pihak pengelola Dufan justru melihat adanya peluang untuk mendatangkan pengunjung lebih banyak dengan tidak mengurangi program promosi yang telah dilangsungkan, dan justru menambah program-program promosi yang inovatif dengan tujuan menarik pengunjung. Untuk itu penelitian dilakukan dengan menggunakan analisa regresi - korelasi antara biaya promosi yang dikeluarkan dengan pendapatan yang diperoleh Unit Dunia Fantasi dalam lima tahun terakhir, dan analisa perilaku konsumen melalui penyebaran kuisioner kepada 50 responden dari populasi pengunjung Dufan. Hasil analisa menunjukkan bahwa kenaikan biaya promosi yang dilakukan Dufan, ternyata mempengaruhi kenaikan pendapatan yang diperoleh Dufan, selain itu, dari sisi konsumen juga merasakan bahwa beberapa program promosi yang dilakukan Dunia Fantasi sejak krisis bergulir cukup menarik bagi mereka sehingga mereka datang mengunjungi Dufan. Oleh karena itu, kegiatan bauran promosi di Dufan hams ditingkatkan agar dapat meningkatkan jumlah pengunjung yang berarti pula meningkatkan jumlah pendapatan Dufan, serta dapat memberikan pelayanan yang baik bagi pengunjung Dunia Fantasi."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2000
S19214
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3   >>