Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Glenn Alexander
"Komunikasi pemasaran terpadu merupakan paradigma baru dunia pemasaran yang berorientasi pada apa yang dibutuhkan konsumen serta memanfaatkan segala bentuk saluran komunikasi yang dianggap memiliki potensi untuk menjangkau konsumen termasuk melihat kemungkinan kemungkinan dimanfaatkannya media baru. Satah satu media baru yang memiliki perkembangan sangat pesat adalah Internet, suatu jaringan interaktif infonnasi global yang mampu menghubungkan pemakainya tanpa mengenal batas wilayah dan waktu. Pengguna Internet merupakan khalayak aktif di mana ia dapat berperan sebagai komunikator sekaligus komunikan dan mampu menentukan sendiri jenis informasi yang ingin diperolehnya. Dengan semakin banyaknya orang yang menggunakan Internet, diam waktu yang tidak lama lagi Internet diramalkan akan mampu menjadi salah satu media informasi terdepan. Hal ini tentunya harus diantisipasi oleh produsen mengingat jumlah pengguna yang semakin banyak tersebut membuka peluang untuk memanfaatkannya sebagai media komunikasi pemasaran. Namun sesuai dengan kecenderungan kegiatan komunikasi pemasaran di era 90'an, produsen harus mengetahui apakah produk yang hendak ditawarkan cocok apabila hendak ditawarkan melalui Internet dan apakah sesuai dengan kebutuhan khalayak yang menjadi pengguna Internet. Ini artinya produsen harus mengetahui siapa sajakah orang yang menggunakan Internet. Fokus penelitian ini adalah berusaha mencari kesesuaian antara produk yang cocok untuk ditawarkan melalui Internet dengan karakteristik khalayak. Mengingat dari sifat khalayaknya yang aktif untuk memperoleh informasi maka harus dilihat pula kecenderungan bagaimana mereka memanfaatkan media ini dalam memperoleh informasi atau sering disebut poa navigasi. Untuk itu maka diadakan suatu penelitian lapangan dengan menggunakan sampel sebanyak 100 responden. Para responden adalah pelanggan lndosatnet, salah satu penyedia jasa Internet terbesar di Indonesia. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna Internet adalah laki-laki berusia dewasa dengan pendidikan tinggi dan sudah bekerja. Selain itu mereka memiliki orientasi yang kuat terhadap aspek sosial dan hiburan dari Internet. Sedangkan Kecenderungan pola navigasi responden adalah searching di mana mereka sudah merencanakan terlebih dahulu informasi apa yang hendak dicari atau sudah mengetahui situs-situs yang akan dituju. Mereka menilai Web sebagai sumber informasi yang panting dan berharga karena mampu memberikan informasi secara lebih mendalam. Adapun produkproduk yang dicari oleh pengguna web tergolong dalam jenis high involvement product. Berdasarkan karakteristik khalayak dan kecenderungan pola navigasinya maka dapat disimpulkan bahwa produk yang paling cocok untuk dipromosikan melalui web adalah produk dengan tingkat keterlibatan tinggi (high involvement product) yang terutama ditujukan kepada khalayak laki-laki dewasa, berpendidikan tinggi dan sudah bekerja."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1999
S4216
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ardhya Santika
"Krisis sosial, ekonomi, dan politik sejak pertengahan Juli 1997 mengakibatkan terpuruknya industri rokok Indonesia. Situasi ini justru dimanfaatkan para produsen rokok besar untuk menancapkan dominansi mereknya. Salah satu caranya dengan melakukan kampanye periklanan masif di berbagai media untuk menciptakan brand image yang positif di benak target konsumen, untuk mendorong keinginan membeli Salah satu strategi pembentukan image positif adalah seperti yang dilakukan oleh PT. HM Sampoerna Tbk melalui kampanye iklan bersama (Umbrellla Campaign) merek A Mild dan A International dalam 9 seri iklan Sampoerna Versi Bukan Basa Basi (BBB) di media luar ruang. Strategi ini bertujuan untuk memperkuat preferensi merek dan keinginan untuk membeli dengan cara mengasosiasikannya pada salah satu merek yang sudah dikenal luas. Hal ini didasari oleh pemikiran John Philip Jones bahwa nilai tambah (added values) suatu merek terletak pada namanya, dan nilai tambah tersebut dapat dialihkan atau ditransfer pada produk lain dengan menggunakan nama merek yang lebih kuat sebagai milik bersama (common property). Umbrella campaign Sampoerna Versi Bukan Basa Basi mengabungkan merek A Mild dan A International yang berbeda positioning dan brand image. A Mild diposisikan sebagai merek rendah tar dan nikotin dengan muda dan blak-blakan. Sementara A International diposisikan sebagai satu-satunya rokok kretek yang berpenampilan mewah seperti rokok putih impor, dengan image eksklusif dan elegan. Keduanya digabungkan dalam satu kreatif payung iklan yang menyampaikan pesan tentang sikap hidup bukan basa basi, sebagai refleksi karakter "A"family. Studi ini ingin melihat sikap khalayak sasaran A Mild dan A International terhadap atribut-atribut iklan dan merek yang diiklankan tersebut melalui tahapan DAGMAR yaitu awareness, comprehension, image, attitude, dan desired behavior, akan diperoleh gambaran evaluatif sejauh mana iklan tersebut dapat membentuk citra positif A Mild dan A International di benak khalayak. Penelitian ini bersifat deskriptif yang menggunakan teknik semantik diferensial sebagai alat pengukur sikap. Meliputi pengukuran sikap responclen pada image slogan, gambar, copy dan warna sebagai atribut melalui 3 ajektif, dan image merek A Mild dan A International melalui 6 ajektif. Ajektif-ajektif tersebut berupa pernyataan bipolar (dua kutub) dengan skala 1-6, yang dapat menggambarkan apakah responden memiliki kecenderungan sikap positif atau negatif terhadap ajektif yang bersangkutan. Sampel yang dipilih mewakili khalayak sasaran A Mild dan A International dengan karakteristik laki-laki, pendidikan terakhir SMU, dan dari kelas sosial A,B,C,D,E. yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian terhadap 100 responden yang dijadikan sampel dalam studi ini memperlihatkan bahwa iklan umbrella campaign Sampoerna versi Bukan Basa Basi cukup berhasil menciptakan citra positif merek A Mild terhadap khalayaknya, namun kurang berhasil membangun citra positif pada merek A International. Pada tahap awareness dalam model DAGMAR, slogan Bukan Basa Basi adalah atribut iklan yang paling diingat responden. Merek A Mild adalah merek yang paling disadari responden sabagai merek yang diiklankan oleh umbrella campaign ketimbang A International. Pada tahap comprehension, pesan iklan yang ingin menyampaikan gaya hidup dan sikap diri bukan basa basi ternyata kurang dapat dipahami oleh responden. Sedangkan hanya 32% responden yang paham pada karakter A Mild, dan hanya 16% responden yang paham karakter A International. Khusus pada tahap image, penulis membagi responden dalam 5 kategori berdasarkan jenis rokoknya. Yaitu perokok rokok kretek non A Mild dan A International, perokok rokok putih non A Mild dan A International, perokok A Mild, perokok A Iniernational, dan kelompok non perokok. Kelima kategori kelompok responden itu ratarata menjawab warna iklan sebagai atribut yang paling merepresentasikan merek A Mild dan A International. Selain itu, iklan ini berhasil membentuk image positif merek A Mild karena rata-rata jawaban lima kategori responden tersebut cenderung positif (4,225) atau berada di atas nilai tengah pada skala semantik diferensial. Bertolak belakang dengan yang terjadi bagi pembentukan image positif A International. Umbrella campaign ini terbukti kurang dapat membangun image positif A International, karena rata-rata jawaban dari 5 kategori responden cenderung negatif (3,36) atau berada di bawah nilai netral. Pada tahap attitude, dapat diketahui bahwa responden suka dengan keseluruhan iklan ini, dan memiliki preferensi lebih kuat terhadap merek A Mild daripada A Internatioanal. Pada tahap action atau desired behavior, jumlah responden yang tertarik membeli A Mild lebih banyak daripada mereka yang tertarik membeli A International. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa citra positif merek A Mild di benak responden lebih berhasil terbentuk daripada citra positif A International. Sehingga dapat dikatakan bahwa iklan Sampoerna versi Bukan Basa Basi yang menggunakan strategi umbrella campaign untuk memperkuat kedua citra merek yang diiklankan dalam eksekusinya kurang berhasil. Saran peneliti terhadap pemakaian strategi umbrella campaign yaitu agar lebih memperhatikan pemilihan atribut-atribut iklan yang benar-benar dapat merepresentasikan image dan karakter masing-masing produk yang diiklankan."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1999
S4224
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Glenn Alexander
"Komunikasi pemasaran terpadu merupakan paradigma baru dunia pemasaran yang berorientasi pada apa yang dibutuhkan konsumen serta memanfaatkan segala bentuk saluran komunikasi yang dianggap memiliki potensi untuk menjangkau konsumen termasuk melihat kemungkinan kemungkinan dimanfaatkannya media baru. Salah satu media baru yang memiliki perkembangan sangat pesat adalah Internet, suatu jaringan interaktif informasi global yang mampu menghubungkan pemakainya tanpa mengenal batas wilayah dan waktu. Pengguna Internet merupakan khalayak aktif di mana is dapat berperan sebagai komunikator sekaligus komunikan dan mampu menentukan sendiri jenis informasi yang ingin diperolehnya. Dengan semakin banyaknya orang yang menggunakan Internet, diem waktu yang tidak lama lagi Internet diramalkan akan mampu menjadi salah satu media informasi terdepan. Hal ini tentunya harus diantisipasi oleh produsen mengingat jumlah pengguna yang semakin banyak tersebut membuka peluang untuk memanfaatkannya sebagai media komunikasi pemasaran. Namun sesuai dengan kecenderungan kegiatan komunikasi pemasaran di era 90'an, produsen harus mengetahui apakah produk yang hendak ditawarkan cocok apabila hendak ditawarkan melalui Internet dan apakah sesuai dengan kebutuhan khalayak yang menjadi pengguna Internet. lni artinya produsen harus mengetahui siapa sajakah orang yang menggunakan Internet. Fokus penelitian ini adalah berusaha mencari kesesuaian antara produk yang cocok untuk ditawarkan melalui Internet dengan karakteristik khalayak. Mengingat dari sifat khalayaknya yang aktif untuk memperoleh informasi maka harus dilihat pula kecenderungan bagaimana mereka memanfaatkan media ini dalam memperoleh informasi atau sering disebut poa navigasi. Untuk itu maka diadakan suatu penelitian lapangan dengan menggunakan sampel sebanyak 100 responden. Para responden adalah pelanggan Indosatnet, salah satu penyedia jasa Internet terbesar di Indonesia. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna Internet adalah laki-laki berusia dewasa dengan pendidikan tinggi dan sudah bekerja. Selain itu mereka memiliki orientasi yang kuat terhadap aspek sosial dan hiburan dari Internet. Sedangkan Kecenderungan pola navigasi responden adalah searching di mana mereka sudah merencanakan terlebih dahulu informasi apa yang hendak dicari atau sudah mengetahui situs-situs yang akan dituju. Mereka menilai Web sebagai sumber informasi yang penting dan berharga karena mampu memberikan informasi secara lebih mendaiam. Adapun produkproduk yang dicari oleh pengguna web tergolong dalam jenis high involvement product. Berdasarkan karakteristik khalayak dan kecenderungan pola navigasinya maka dapat disimpulkan bahwa produk yang paling cocok untuk dipromosikan melalui web adalah produk dengan tingkat keterlibatan tinggi (high involvement product) yang terutama ditujukan kepada khalayak dewasa, berpendidikan tinggi dan sudah bekerja."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 1999
S4225
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sylvi Johana
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2010
S5349
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library