Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Prawira Kusumah
"ABSTRAK
Ruang lingkup dan Cara penelitian : Perubahan waktu reaksi sebagai manifestasi kecepatan reaksi pengemudi didasarkan pada semakin meningkatnya peranan bis mikro sebagai salah satu sarana pengangkutan umum di DKI, juga karena angka kecelakaan lalu-lintas bis mikro yang cukup tinggi yang diperkirakan akibat cepat lelahnya pengemudi karena keadaan ruang kemudi. Penelitian dilakukan dengan melakukan wawancara, pemeriksaan fisik diagnostik lengkap, pengukuran waktu reaksi, pengukuran antropometri pengemudi, pengukuran rancang bangun ruang kemudi, dan juga diukur kebisingan, vibrasi, kelembaban dan temperatur ruang kemudi.
Hasil dan kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang kemudi tidak ergonomis, ruang kemudi tidak memenuhi syarat untuk kenyamanan kerja, dan perubahan waktu reaksi sampai dengan jam 13.00 secara statistik tidak bermakna menunjukkan bahwa segala aspek ruang kemudi, termasuk rancang bangun, kebisingan, vibrasi, kelembaban dan temperatur dalam batas yang dapat diterima oleh pengemudi.

ABSTRACT
Scope and methods of research : Evaluation of reaction time as manifestation of neurological response of drivers is based on the increasing small buses" role as a means of public transportation vehicle in Jakarta, as well as due to small buses" relatively high traffic accident rate which has been predicted as the result of the quick fatigue onset in drivers due to driver cabin condition. Research was brought about by interview, complete physical examinations, reaction time measurements, drivers" antropometry measurements, driver cabin design measurements, also measurements of noise, vibration, humidity and temperature of driver cabin.
Result and conclusion : Research result shows that driver cabin design not ergonomic, lack of work comfort condition in driver cabin environment, and reaction time values alterations until 13.00 hours statistically not significant shows that until 13.00 hours all aspects of driver cabin Including design, noise, vibration, humidity and temperature within tolerable limit.
"
Depok: Universitas Indonesia, 1992
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amanda Listiyani
"ABSTRAK
Apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh Apoteker. Sebagai tenaga kefarmasian, profesi Apoteker dituntut berperan dan bertanggung jawab dalam kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dan kegiatan pelayanan farmasi klinik sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Tujuan dilaksanakan praktik kerja profesi di Apotek agar profesi apoteker memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta memahami tugas dan tanggung jawab dalam praktik pelayanan kefarmasian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Praktik Kerja Profesi ini dilakukan di Apotek Kimia Farma No. 254 Pos Pengumben, Jakarta Barat. Setelah melakukan praktik kerja profesi, Apoteker mengetahui tugas dan tanggung jawab Apoteker di bidang profesi, maupun bidang managerial, dan juga sebagai retailer. Selain itu, mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam praktik kefarmasian di Apotek antara lain melakukan pelayanan resep dan pelayanan swamedikasi.
ABSTRACT
Pharmacy is pharmaceutical services fasilities for doing pharmaceutical practices by the Apothecary. As a pharmaceutical personnel, the Pharmacist is in charge to play the role and responsible for managerial activities like management of pharmaceuticals, medical device and medical consumable, also clinical pharmacy activities regarding the operational standart. The aim of the internship at Pharmacy was to gaining knowledge and skills, also understand pharmacist rsquo s duties and responsibilities regarding the goverment legislation. This internship was done for one month at Kimia Farma 254 Pos Pengumben Pharmacy, West Jakarta. After the internship, the Pharmacist knew their duties and responsibilities in managerial, and also as a retailer. Having knowledge and skills such as prescription and self medication services. "
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2017
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Gracia J. M. T. Winaktu
"ABSTRAK
Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan yang berupa karbohidrat serta cairan dan elektrolit terhadap perubahan kemampuan fisik atlet.
Tempat Pelatnas Dayung, Jatiluhur, Purwakarta
Ruang Lingkup dan Cara Penelitian : Perahu tradisional/perahu naga merupakan salah satu jenis olahraga yang sudah membawa harum nama bangsa Indonesia. Kemampuan fisik atlet yang prima dapat menunjang peningkatan prestasi, tetapi jika pertandingan dilakukan berulang-ulang dan dalam waktu yang relatif singkat maka prestasi tersebut akan menurun, oleh sebab itu dianjurkan memberikan makanan tambahan untuk mengurangi penurunan prestasi tersebut. Olahraga dayung (perahu tradisional/perahu naga) merupakan olahraga kombinasi antara ketahanan fisik (endurance) dan kekuatan serta kecepatan (power), maka sangat membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi utama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan yang berupa karbohidrat, cairan dan elektrolit terhadap perubahan kemampuan fisik. Penelitian ini merupakan suatu studi eksperimental pre- dan pasca- tes dengan menggunakan subjek yang sama sebagai kontrol dan perlakuan. Tes kemampuan fisik dilakukan di darat (tes dragon eigotneter dan tes lari metode Balke) dan di air (tes louring), pada saat perlakuan diberikan makanan tambahan (apel dan atau pisang) serta minuman karbohidrat dan elektrolit dengan jumlah asupan energi antara 404,18 - 415,19 Kkal sedangkan asupan karbohidrat antara 97,13 - 103,65 g.
Hasil : Asupan karbohidrat sebelum perlakuan 59,7 % sedangkan sesudah perlakuan 61,4 %. Kadar ureum darah sesudah perlakuan (27,96 mgldL) lebih rendah daripada sebelum perlakuan (36,91 mg/dL), hingga juga kadar CK darah sesudah perlakuan (55,55 mg/L) lebih rendah daripada sebelum perlakuan (64,23 mg/L). Kadar hematokrit sesudah perlakuan (45,32 vol %) lebih rendah daripada sebelum perlakuan (46,50 vol %), begitu juga kadar Na darah sesudah perlakuan (142,23 mg/L) lebih rendah daripada sebelum perlakuan (145.50 mg/L), sedangkan kadar K darah sesudah perlakuan (4,35 mg/L) lebih tinggi daripada sebelum perlakuan (3,93 mg/L). Perubahan berat badan sesudah perlakuan (0,02 kg), lebih sedikit daripada sebelumnya (0,50 kg) dan dengan uji staristik didapatkan perbedaan yang bermakna (p = 0,013). Dari hasil tes kemampuan fisik di darat maupun di air ternyata dengan pemberian makanan tambahan kecepatan awal dan akhir sesudah perlakuan lebih cepat daripada sebelum perlakuan, begitu juga waktu tempuh awal dan akhir sesudah perlakuan sesudah perlakuan lebih singkat daripada sebelum perlakuan.
Kesimpulan : Pengaruh pemberian makanan tambahan dalam bentuk karbohidrat serta cairan dan elektrolit sangat berpengaruh terhadap simpanan karbohidrat mot, pencegahan dehidrasi. pencegahan penurunan prestasi pada pertandingan yang dilakukan berulang-ulang dan dalam waktu singkat serta dapat memenuhi kebumhan nutrisi makanan utama.

ABSTRACT
objective
To identify the effects of carbohydrate, fluid and electrolyte of supplementary feeding on the performance of athletes. Jatiluhur National Training Center for Dragon boat, Purwakata.
Methods Dragon boat is one of the branches of sport, which has brought fame to Indonesia internationally. Athletes' physical performance very much enhances their sport performance. Taking part in races repeatedly, particularly in a short span of time will decrease their performance. However. Supplementary food can tackle this problem. Dragon boat is a sport which requires the combination of endurance and power. Therefore it demands carbohydrate as the main source of energy. The purpose of this research is to identify the effects of supplementary foods, either food or drink, such as carbohydrate, fluid and electrolyte on the physical changes of the athletes. It is a pre- and post-experimental test, using the control group as the same subjects as the treatment group. The physical performance test was conducted in land (dragon ergometer and running test of Balke Method), and on water (touring test). During those tests. administration of apples and 1 or bananas as supplementary food and sports drink containing carbohydrate, fluid and electrolyte were given
The energy intake ranged from 404,18 to 415,19 Kcal. The intake for carbohydrate was between 97.13 to 103,65 g.
Results : Carbohydrate intake before treatment was 59,7 % and after treatment was 61,4 %. Blood ureum level after treatment (27,96 mg/dL) was lower than before treatment (36,91 mg/dL). Blood creatine kinase level after treatment (55,55 mg/dL) was lower than before treatment (64,23 mg/dL). Hematocrite after treatment (45,32 vol %) was lower than before treatment (46,50 vol %). Sodium level after treatment (142,23 mg/L) was lower than before treatment (145,50 mg/L.). Potassium level after treatment (4,35 mg/L) was higher than before treatment (3,93 mg/dL). Changes of weight also accrued after treatment (0,02 kg), a little lower than before treatment (0,50 kg). By means of statistical test was found that the statistical significance was p = 0,013. The results of the physical performance test in land and on water have shown that supplementary feeding enhances the speed at the beginning and end of treatment than before the treatment. Also, the time distance needed at the beginning and the end of the races was shorter than before treatment.
Conclusions : Supplementary feeding in the form of carbohydrate, fluid and electrolyte has great influences on the storage of muscle carbohydrates, dehydration prevention, in the races which are carried out repeatedly in a short span of time. It can meet the nutrient requirement adequacy of main dish as well.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kuni Purwani
"Latar belakang: Aged garlic exlraci adalah bawang putih yang telah direndam didalam ethanol 15-20% selama 20 bulan pada suhu kamar sehingga zat aktif didalam bawang putih mentah berubah menjadi komponen sulfiu' yang mudah larut dalam air, yaitu S-allylcysteine (SAC), dan S-allylmercaptocysteine Aged garlic extract dapat meningkatkan produksi nitric oxide, karena S-ajlilcysteine dapat memicu masuknya kalsium kedalam sel endotel, selanjutnya merangsang endoiheliol nitric oxide .synihase memproduksi nitric oxide. Nitric oxide yang telah dibcntuk akan segera berdiiiisi kedalam sel otot polos yang berdekatan serta mengalctifkan beberapa mekanisme yang akan menyebabkan otot polos relaksasi dan tonus pembuluh darah menurun. Cold Pressor Test adalah suatu standar tes untuk memprediksi orang yang normotensi kelak akan mengidap hipenensi jika hasil tesnya masuk kedalam kategori hiper-reaktor, karena orang hiper-reaktor teljadi hipersesitivitas pada sistem saraf simpatisnya dan gangguan pada pembentukan nitirc oxide sebagai vasodilator di pembuluh darah. Bila aged garlic extract dapat meningkatkan kadar nitric oxide maka tonus pcmbuluh darah pada orang hiper-realctor dapat dijaga agar tidak meningkat ketika teriadi vasokonstfiksi.
Tujuan: Mengetahui efek aged garlic extract pada proses peningkatan kadar nitric oxide dalam darah subyek laki-laki hiper realctor usia 20-30 tahun Metode: Mendapatkan sampcl hiper-realctor dengan melakukan uji cold pressor tes! pada subyek laki-laki yang bemmur 20 - 30 tahun. 10 Subyek dibcri aged garlic exiraci 1200 mg per oral, 10 subyek diberi plasebo, kemudian dilakukan pcrncriksaan kadar niiric oxide sebelum perlakuan, sesudah 60` perlakuan dan 90` perlalcuan menggunakan Mtratedilitrite Colorimezric Assay yang dikeluarkan Oleh Cayman Chemical Company.
Hasil: Kadar nitric oxide sesudah pemberian aged garlic exrraci terlihat lebih tinggi daripada sebelumnyzg namun sccara statistik tidak bcrbcda bcrmakna (p > 0,05). Demikian juga nilai nitric oxide sebelum dan sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok antara dua kclompok, tidak bcrbeda bcrmakna untuk A 60` (p > 0,05) dan A 90` (p > 0,05). Selanjutnya dilakukan uji untuk melihat apakah nilai nitric oxide dad waktu ke waktu tersebut berbeda antara kelompok perlakuan dengan kelompok plasebo, didapatkan hasil (p> 0.0S), dan nilai niiric oxide dari waictu ke waktu tersebut tidak ada kaitannya dengan beda perlakuan (p >o,o5).
Kesimpulan: Sediaan aged garlic extract sebanyak 1200 mg yang diberikan per oral kepada manusia cenderung meningkatkan kadar nitric oxide, namun secara sratistik tidak berbeda bermakna.

Introduction: Aged gmlic extract derives from garlic that has been remained in 15-20% ethanol for 20 months at room temperature so that the active substance in garlic changes into sulfur component that is water-soluble, S-allylcysteine (SAC), and S-allylmercaptocysteine_ Aged garlic extract increase the production of Nitric Oxide (NO), this is happen because SAC stimulate the entry of calcium into endothelial cell, furthermore stimulate endothelial nitric oxide synthase to produce NO. Nitric Oxide that has been formed diftitses immediately into neighboring smooth muscle and activates several mechanisms that cause smooth muscle relaxation and decrease vascular tone. Cold Pressure Test is a standard test to predict whether a person with normotension is at risk to become hypertension if the test results fallen into hyper-reactor category. Hyper-reactor people have sympathetic nerves hypersensitivity and alteration in the production of NO as vasodilator. IfAged garlic extract is able to increase NO level, then vascular tone in a hyper-reactor person can be maintained not to increase when vasoconstriction occur.
Objective: Knowing the effects of aged garlic extract to the increase level of Nitric Oxide within blood of hyper-reactor men aged between 20 -30 years. Method: Acquiring the sample by performing cold pressure test to men subject aged between 20-30 years old. Ten subjects were given 1200 mg of aged garlic extract per oral and ten other subjects were given the placebo. Then, an examination been done to check the value ofN0 level before treatment, 60’ atier treatment, and 90’ after treatment using Nitrate/Nitrile Colorimetric Assay produced by Cayman Chemical Compatnt.
Result: The value of nitric oxide (NO) level aiter aged garlic extract were given is higher than before, hut statistically does not shown significant difference (p > 0.05). Both does the value of NO level before and atter treatment in each group, between two groups shows no significant difference at A60` (p > 0.05) and A90` (p > 0.05). Furthermore, a test been done to observe whether the value of NO level from time to time were different between the treatment and the placebo group, the result is p > 0.05. In addition, the value of N0 level fiom time to time had nothing to do with the different treatment (p > 0.05).
Conclusion: The preparation of 1200 mg aged garlic extract that was given orally to human tends to increase the level of NO, although statistically the increase is not significantly different.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010
T34570
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Tria Firza Kumala
"Green tea ( Camellia sinensis ) merupakan suatu jenis minuman teh yang banyak dikonsumsi orang dalam kesehariannya. Green tea memiliki khasiat dalam menghambat kerja dari reseptor reseptor - reseptor trombosit khususnya reseptor TxA2 untuk proses aggregasi. Didalam kandungan green tea terdapat komposisi flavonoid sebanyak 300/0 yang ternYata memiliki khasiat. Sehingga dapat mencegah terjadinya komp1ikasi, yaitu penyakit pada system kardiovaskularmisalnya MCI, pengentalan pembuluh darah, dan stroke. Peningkatan aktifitas trombosit ini juga dipengaruhi oieh beberapa faktor kebiasaan seseorang> terutama merokok, dapat menyebabkan kompJikasi seperti tersebut diatas. Rokok mengandung nikotin yang dapat meningkatan k.atekolamin didalam darah sehingga dapat meningkatkan lipoJisis dan peningkatan sintesis asam arakidonat sampai ke pembentukkan TxA2 dan sebagai hasii metabolitnya berupa TxB2. Mengetahui peran pemberian ekstrak green tea ( camellia sinensis )terhadap kadar TxB2 urin pada perokok. Duapuluh empal orang laki-laki yang memiliki kebiasaan merokok selama 2 tahun terakhir dengan jumlah konsumsi rokok antara 12- 24 batang tiap harinya.Total jumlah sampel di bagi 2 kelompok, yaitu kelompok l diberikan perlakuan konsumsi green tea sebanyak 3 x 20 gr tiap harinya seiama 7 hari, dan kefornpok II diberikan plasebo 3 x 2 gr tiap harinya selama 7 hari. Sebelum dan sesudah pemberian green tea dan plasebo sampel di periksa kadar TxB2 dalam urin yang sudah ditampung 24 jam sebeiumnya, pemeriksaan kadar TxB2 dalam urin yang sudah ditampung 24 jam sebelumnya, pemeriksaan kadar TxB2 ini menggunakan tehnik ELISA Green tea (camellia sinensis) yang di berikan kepada kadar TxB2 urin pada perokok.

Green tea which is commonly consumed by the people has been thought to have the activity to inhibit the thrombocyte receptors particularly TxA2 receptor. The green tea contains 30% of flavoring which may prevent people from cardiovascular diseases such as MCI or stroke. This can be valuable for smokers with increased Tx:A2 due to nicotine-indeuxed catecholamine release in the blood. To examine the effect of green tea extract on thromboxane B2 production in the urine of smokers. Twenty four men of 20- 32 years old who had smoking habit for the last 2 years with average of 12-24 cigarettes every day were divided into two groups; one group was given 20 gram of green tea three times daily for 7 days while another group was given placebo containing green tea essence oil only. The respondents were checked for their levels ofTxB2 in the urine which were collected for 24 hours using ELISA technique before and after the treatment. The green tea treated group receiving the tea extract 3 times daily for 7 days shows a decrease ofTxB2 in the urine as compared to the placebo group (p= 0.028). Green tea (camellia sinensis) decreases the level of urinary TxB2."
Depok: Universitas Indonesia, 2010
T29140
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
William
"Latar Belakang: Latihan fisik aerobik telah lama diketahui memberikan pengaruh yang baik kepada tubuh dan rutin, latihan fisik aerobik yang rutin dan dalam jangka waktu lama dapat membuat jantung mengalami remodeling. Proses remodeling ini bukan hanya terjadi pada struktur tetapi juga pada kelistrikan jantung, beberapa studi menunjukkan remodeling listrik jantung yang terjadi mengakibatkan berbagai bentuk aritmia, dan belum banyak yang diketahui tentang remodeling listrik jantung setelah henti latih.
Metode: Pemeriksaan EKG dilakukan pada tikus Wistar jantan yang telah menjalani latihan fisik aerobik 4 minggu,12 minggu, 4 minggu latihan fisik aerobik serta 4 minggu henti latih dan 12 minggu latihan fisik aerobik serta 4 minggu henti latih. Kecepatan lari pada tikus 20 m/menit durasi latihan 20 menit dengan interval istirahat 90 detik setiap 5 menit berlari.
Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna untuk voltase dan durasi gelombang P pada semua kelompok perlakuan. Terjadi peningkatan voltase gelombang R pada kelompok latihan fisik aerobik 4 minggu dan 12 minggu (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna untuk voltase gelombang R pada kelompok henti latih. Terdapat pemanjangan durasi segmen dan interval PR pada kelompok latihan fisik aerobik 4 minggu, 12 minggu (terutama pada kelompok latihan fisik aerobik 4 minggu dengan p<0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada kelompok henti latih untuk durasi segmen dan interval PR. Terjadi pemanjangan durasi repolarisasi ventrikel (durasi gelombang T, interval QT) pada kelompok latihan fisik aerobik 4, 12 minggu (terutama pada kelompok latihan fisik aerobik 4 minggu, p<0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna untuk durasi gelombang T, interval QT pada kelompok henti latih. Terjadi penurunan frekuensi denyut jantung istirahat pada kelompok latihan fisik aerobik 4,12 minggu (terutama pada kelompok latihan fisik 4 minggu, p<0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna untuk frekuensi denyut jantung istirahat pada kelompok henti latih.
Kesimpulan: Terjadi perubahan aktivitas listrik jantung (interval QT, interval PR, durasi gelombang T dan voltase gelombang R) , perubahan frekuensi denyut jantung istirahat tikus Wistar jantan setelah latihan fisik aerobik 4 minggu dan 12 minggu. Henti latih mengembalikan perubahan aktivitas listrik jantung dan perubahan frekuensi denyut jantung istirahat tersebut.

Introduction: Aerobic training have long been known to give a good impact to body, aerobic training if been done routinely and with long period of time will make remodeling process to the heart. This remodeling process is not only occur in structure but also in heart electrical activity, several study reveal that this electrical activity cause many form of aritmia, there also evidence that structural remodeling that also cause electrical changes is a persistent process, if structural remodeling persistent process, what about electrical activity of this persistent structural remodeling, the answer to this question is less known.
Methods: ECG is conducted in male Wistar rat that have completed 4 weeks, 12 weeks aerobic training, 4 weeks aerobic training with 4 weeks detraining, and 12 weeks aerobic training with 4 weeks detraining. The speed that been use is 20 m/minute with 20 minute training duration and 90 second intermitten resting interval for every 5 minute training.
Results: There is no differences for P wave voltage and duration in all group. R wave voltage is increase in 4, 12 weeks aerobic training group (p<0.05). There is no significant differences for R wave voltage in detraining group. PR segment and interval is prolonged in 4, 12 weeks aerobic training group (especially in 4 weeks aerobic training group, p<0.05). There is no significant differences for PR segment and interval in detraining group. Ventricular repolarization time (T wave duration, QT interval) is prolonged in 4, 12 weeks aerobic training group (especially in 4 weeks aerobic training group, p<0.05). There is no significant differences for T wave duration dan QT interval in detraining group. Resting heart rate is lower in 4, 12 weeks aerobic training group (especially in 4 weeks aerobic training group, p<0.05). There is no significant differences for resting heart rate in detraining group.
Conclusion: Male Wistar rat heart electrical activity (QT interval, PR interval, T wave duration time and R wave voltage) and resting heart rate change after 4 weeks and 12 weeks aerobic training. Detraining restore that changes.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library